Empati, Mempertahankan Diri dan Kemandirian

Setelah 4 tulisan sebelumnya, tulisan ini sepertinya akan jadi tulisan terakhir untuk diskusi sementara di grup emak-emak cantik. 4 tulisan lainnya bisa cek di satu, dua, tiga, empat.

Mempertahankan diri. Sebuah sikap ketika menghadapi ancaman atau sesuatu yang tidak nyaman.

Ada saat anak harus berempati tapi ada saat anak harus mempertahankan diri. Tindakan mempertahankan diri ini penting agar ketika ada temannya yang semena-mena padanya ia mampu membedakan kapan harus berempati dan kapan harus mempertahankan diri agar tidak terus-terusan disakiti orang lain yang jika dibiarkan akan jatuh pada kasus “bullying”.

Pun ketika anak marah pada kita dengan memukul misalnya, orang tua pertama mencoba berempati, “Aa marah sama ummi ya? Maaf sudah bikin Aa kesal.” dst hingga si anak merasa tenang, baru kemudian ke solusi (bin bin Solutions) “tapi umminya jangan dipukul, disayang aja. Kalau marah, bilang baik-baik ya anak shalih”. Jika orang tua tidak mempertahankan diri seperti ini, anak akan menganggap bahwa itu boleh dan lama kelamaan bisa tambah parah. Na’udzubillah min dzalik.

Dengan berempati lalu mempertahankan diri anak juga belajar lemah lembut tapi tegas menghadapi kemarahan orang lain. Empati hanyalah sebuah cara memahami orang lain, bukan cara menyelesaikan masalah. Tetap harus ada langkah selanjutnya untuk sampai pada solusi. Empati dulu baru kemudian problem solving.

Empati juga mengajarkan kita untuk bersabar dalam proses memahami kenapa dan bagaimana orang lain bertindak. Kelak sikap empati ini jadi bekal kita maupun anak ketika anak mulai belajar mandiri.

give empathy

Kan ada saatnya anak mulai ingin serba sendiri tapi belum sepenuhnya bisa. Jika kita tidak mampu berempati dan memaksa “sama ummi aja deh biar cepet” karena tak mau sabar dengan proses belajar anak, hal ini justru akan mematikan kemandirian anak. Dan takutnya nanti anak akan belajar cemen, cengeng, manja dan tidak mandiri.

Sering kali hal “sepele” semacam ini berujung anak jadi anak mami banget. Apa-apa harus sama ummi, hampir semua hal tergantung sama ibunya. Ujung-ujungnya yang rugi ya orang tua sendiri, ketika saatnya anak harus bisa mandiri, anak ga bisa. Sebenarnya bukan tak bisa tapi karena memang sudah tertanam bahwa “sama ibu lebih cepat dan aman”.

Iya kalau kita punya anak tunggal, kalau punya anak lebih dari satu? Kebayang repotnya semua harus serba dilayani. Maka empati membantu kita lebih tenang dalam mempercayai orang lain dan ketika kita menghadapi masalah.

Perhatikan pula pola komunikasi dengan anak saat berempati. Hal ini penting karena biasanya kesalahan cara komunikasi menjadi penyebab kenapa empati itu belum bisa menjadi awalan dari sebuah solusi yang baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Memuji Anak, Perlukah?

Bahasan random lainnya dari diskusi di grup emak-emak ini tentang pujian. Sebelumnya sudah ada 3 tulisan yang saya catatkan dari diskusi emak-emak cantik ini, tulisan pertama di sini, yang kedua di sini dan terakhir di sini.

Pujilah anak sekadarnya. Pujian itu penting, tapi harus tepat. Jika anak berbuat salah, ya katakanlah salah. Jika anak berbuat benar, maka pujilah dia.

pujian

Pujilah anak untuk hal yang tak biasa atau pencapaian pertama. Tapi untuk hal yang sifatnya rutinitas dan anak sudah terbiasa bisa, maka pujian tidak lagi menjadi urgensi, hal ini penting agar anak tidak pamrih. Berterima kasih saja mungkin sudah cukup ya.

Ketika anak mencapai sebuah prestasi, kita juga bisa tidak langsung memberikan pujian tapi menantang anak untuk lebih lagi. Misal ketika anak mampu membangun sebuah rumah dari brick mainannya, tantang untuk dia membuat menara. Anak puas ketika mampu mencapai, pujian pun menjadi trigger penyemangat agar anak selalu berusaha menjadi lebih baik.

Tapi bukan berarti tidak boleh memuji sama sekali ya. Anak yang tumbuh tanpa pujian akan menjadi seorang pengkritik menyebalkan.

Anak dengan pujian yang tepat akan tumbuh sebagai pribadi penyayang dan tahu cara menghargai orang lain. Sementara anak yang tuna pujian akan menjadi pengkritik tak berhati. Mengkritik atau bahkan memarahi orang lain di hadapan umum.

Berbicara tentang menghadapi kritikan, tugas orang tua adalah mendidik pribadi yang lebih baik. Tidak terpuruk oleh kritikan melainkan ia bangkit karena kritikan itu bukannya menjadi orang negatif setelah kritikan. Dan ini akan jadi pribadi anak jika ia sudah memiliki kematangan emosi seperti di tulisan sebelumnya.

Ketidaknyamanan ditindas biasanya akan membuat rantai setan karena yang ditindas kelak ketika memiliki kuasa akan memilih jadi penindas juga. Dan begitu terus regenerasi tak jelas.

Masing-masing kita terlahir dengan berbagai kecenderungan bawaan yang akan membentuk masa depannya. Namun, setiap kecenderungan memiliki banyak cabang, bisa baik atau buruk. Maka tugas setiap orang tua dan pendidik bukan ikut campur memaksa mengarahkannya melainkan memberi contoh kebiasaan yang nantinya terbawa hingga anak dewasa. Dengan demikian kita akan mampu melepaskan anak lebih bebas tanpa khawatir anak akan berbuat hal yang negatif karena pembiasaan positif yang dipupuk sedari awal akan bertunas dan tumbuh dalam pribadi anak. Hal inilah yang kelak menjadi bekal ketika anak dihadapkan pada sebuah pilihan, dia akan secara otomatis memilih yang positif baginya.

Pernah satu ketika ada kasus anak yang senang membunuh bahkan hingga menguliti binatang. Lalu oleh profesor Conny Semiawan yang menghadapi anak itu menyarankan agar si anak diarahkan ke hal positif. Kedua orang tua anak itu kemudian menyekolahkan anaknya ke Jerman khusus bagian tukang jagal Kwan potong untuk dimakan. Sepulangnya dari Jerman, si anak membuka toko daging sapi di Jakarta dan ia begitu paham daging mana yang enak tanpa pernah meleset.

Masih bahasan tentang EQ, anak yang cerdas secara IQ tapi belum matang secara EQ sebaiknya tetap diikutsertakan dalam sebuah sekolah yang sesuai dengan EQnya. Karena EQ ini berbicara soal pembiasaan dan kematangan, maka orang tua jangan tergesa mengikutkan anaknya ke kelas akselerasi agar anak dapat tumbuh seimbang secara optimal.

pujian2

Pujian dan kritikan adalah salah satu bagian penting dalam meningkatkan kemampuan emosi anak. Dengan pujian anak merasa dihargai, dengan kritikan anak belajar menerima bahwa dia juga hanya manusia dan harus terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Biarkan Anak Mengeluarkan Emosi Negatifnya

Masih sambungan dari diskusi di grup emak-emak (2 tulisan sebelumya bisa dilihat di sini dan di sini). Menurut Daniel Goleman, menghardik anak untuk tidak boleh mengeluarkan emosi negatifnya itu adalah tindakan berbahaya. Jangan lindungi anak dari emosi negatif semacam rasa kalah, rasa kecewa, rasa marah, putus asa dan lain sebagainya.

Jadi jika anak marah, biarkan saja mereka mengeluarkan emosi marah itu lalu kita beri nama untuk emosi itu agar nanti anak paham. Misal, ketika anak kalah lomba lari, anak pasti kecewa. Maka ajak anak untuk mengobrol, “temennya lari lebih cepat dari Aa ya. Aa kecewa? Ya sudah, ummi tunggu sampai kecewa Aa hilang. Terus habis itu, menurut Aa kita harus gimana?”

Bahkan ketika kita marah pun, kita harus bilang kalau kita marah. Bilang bahwa saya kecewa karena kami begini begitu. Jadi saat emosi negatif keluar, kita harus mengeluarkannya serta menamainya atau katarsis. Hal ini berguna juga agar anak mampu berempati terhadap emosi kita. Meski mengeluarkan emosi negatif bagi orang dewasa ga harus dengan uring-uringan ga jelas ya. Harus sudah lebih paham manajemennya.

Biarkan anak kecewa karena temannya tidak mau menemani dia main, tidak mendapatkan jatah pinjam mainan dari temannya, dan sebagainya. Kita harus mendampingi anak saat mereka mengeluarkan emosi negatif untuk kemudian memasukkan informasi mengenai emosi negatif ini.

Merayakan kekalahan adalah sebuah hal yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Tapi di random diskusi kemarin, ternyata merayakan kekalahan atau kekecewaan ini perlu, tapi ga sembarang merayakan. “wah, kita kalah. Ga apa, kita coba evaluasi kenapa kita kalah. Sekarang kita rayakan dulu yuk kekalahan kali ini”.

Emosi negatif yang tidak belajar untuk dikeluarkan, dapat menghancurkan di masa mendatang. Istilah sundanya mah mungkin ambek nu kapegung. Kemarahan atau kekecewaan yang terkungkung tidak boleh dikeluarkan, satu saat akan meledak seperti bom waktu.

emosi negatifJika anak belajar kecewa sedari kecil, ketika ia besar nanti ia sudah terbiasa menghadapi kekecewaan dan tahu harus bagaimana menyikapinya. Sementara anak yang selalu dilindungi dari kekecewaan, kelak setelah dewasa ia akan menjadi orang yang menyebalkan. Semua orang akan direpotkan untuk memenuhi keinginannya dengan berbagai cara sampai cara ekstrim dan tidak halal sekalipun. Na’udzubillah.

Orang tua tetap harus menjaga emosi ketika anak salah atau bertingkah. Agar anak tetap tahu bahwa ia salah tapi tidak mendapat perlakuan yang tidak tepat.

Empati bukan berarti menyetujui segala tindakan anak, tapi empati itu memahami dan menerima perasaannya untuk kemudian didiskusikan bersama. Jika salah ya diarahkan ke yang benar, jika benar ya dikasih tahu bahwa memang sebaiknya begitu

Anak yang mampu berempati akan paham mana orang yang berempati dan mana yang tidak. Kelak anak akan tetap berempati pada orang lain.

Biarkan anak tahu bahwa rasa marah, kecewa dan sedih itu wajar. Bukan aib. Hanya penyaluran emosi yang harus diarahkan ke penyaluran yang tepat. Membiarkan anak diam karena kesal hanya akan membuat anak agresif pasif.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kecerdasan Rasa

Di tulisan sebelumnya sudah sedikit dibahas mengenai empati. Empati berkaitan erat dengan Emotional Quotien (EQ) karena memang empati ini bagian dari EQ. Dalam ilmu Psikologi, Daniel Goleman menjelaskan bahwa jika kita tidak mampu mengelola dengan baik aspek perasaan atau emosi, maka kita tidak akan mampu menggunakan aspek kecerdasan konvensional/kognitif (IQ/Intellectual Quotient) dengan efektif. Penjelasan ini dibahas dalam buku Emotional Intelligence.

Goleman mengatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% sementara 80% sisanya ditentukan oleh berbagai faktor kecerdasan emosional. EQ ini berperan sangat penting dalam keberhasilan hidup seseorang dalam hampir semua aspek keseharian. –saya kemudian terpikir, itu kenapa Rasulullah ajarannya luar biasa ya, memperhatikan semua aspek kecerdasan-

Goleman memformulasikan gagasannya dalam sebuah kerangka kecakapan emosi yang mencakup kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Intrapersonal Intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan dalam diri kita sendiri, sementara Interpersonal Intelligence adalah kecakapan dalam bermuamalah dengan orang lain.

Interpersonal Intelligence terdiri dari:

  • -Kesadaran Diri (Self Awareness): memahami emosi diri, penilaian pribadi dan kepercayaan diri
  • -Pengaturan Diri (Self Regulation): pengendalian diri (emosi), dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif
  • -Motivasi Diri (Self Motivation): dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis

Orang-orang yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik akan mampu melewati masa-masa sulit seperti depresi, perasaan tidak berdaya (yang negatif), Moody, cemburu, penyesalan, dan hal yang membuatnya tidak bahagia. Bahasan ini di luar bahasan traumatik ya, karena beberapa depresi bisa jadi karena trauma di masa kecil baik disengaja atau tidak, disadari atau tidak.

Interpersonal Intelligence terdiri dari:

  • -Empati (empathy): memahami orang lain, melayani, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis.
  • -Kemampuan Sosial (Social Skill): pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi, dan kerja sama tim.

Orang-orang yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik akan lebih efektif dalam bermuamalah dan bekerja sama dengan orang lain meskipun melewati keadaan yang sulit. Mereka mampu lebih sukses dalam kehidupannya.

Orang yang memiliki EQ tinggi dapat hidup lebih bahagia. –dan teringat lagi, betapa Islam hadir dengan semua kesempurnaannya-

eq

Bahasan mengenai EQ di diskusi kemarin sampai di sini. Lalu berlanjut random chat yang kece banget. Masih membahas EQ juga sih tapi lebih ke aplikatif keseharian. Hehe. Nah, tulisan setelah ini akan mencatatkan apa saja isi chat random yang kece badai itu karena salah satu ember grup ternyata tesisnya bahas tentang EQ dan bahasan chat randomnya luar biasa!

Sampai ketemu di tulisan berikutnya ya ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pilih Logo

Menghantarkan para bintang..

Kalimat itu tiba-tiba muncul. Kemarin sore ketika tengah mengikuti acara Startex, keingetan bikin logo. Coba bikin di sebuah web penyedia logo gratisan, minta suami pilihkan dan tanpa sengaja kami memilih ikon yang sama. Setelah otak-atik sana-sini, coba download, eh ternyata berbayar. Hahaha..

Transpirasi dari logo yang kemarin sore dibuat, akhirnya coba download vector gratisan dengan dasar elemen yang sama seperti logo kemarin: tangan dan bintang. Dan karena inget pernah janji mau buatkan header buat beberapa temen, sekalian download vector gratisan dan font lucu-lucu juga berdasarkan permintaan mereka. Hasilnya? Entah mereka suka atau ngga 😀

Dari vector-vector itulah saya membuat logo esapuspita. Dan karena di tengah perjalanan setelah selesai export keingetan ide lain lagi, logonya diedit ulang. Begitu selesai, inget lagi ide lain, edit lagi. Dan jadilah setidaknya 3 jenis logo.

Filosofi elemen tangan dan bintang ini saya memetakan dengan pengertian saya sendiri. Tangan dengan bintang bagi saya seperti tangan saya sendiri, yang dari tangan ini kelak akan muncul para bintang. Semoga Allah senantiasa menjaga kami agar mampu mendidik dan menciptakan para bintang.

Sementara elemen hati muncul di akhir karena melihat salah satu vector terdiri dari tangan dan hati. Judul vector ini sendiri adalah “charity”. Tapi saya memaknai simbol ini lebih dari memberi. Ya karena charity juga sebenarnya bukan sekadar memberi tapi juga berbagi. Ini mengenai hati dan cinta. Mendidik dengan cinta, membesarkan dengan hati. Menghantarkan para bintang dengan cinta.

Mengenai pemilihan warna, sebenarnya tidak ada filosofi khusus. Saya memilih warna berdasarkan apa yang menurut saya menarik. Warna oren bagi saya memiliki kesan ceria, Pink memiliki kesan lembut, ungu memberikan kesan serius dan merah menitipkan kesan semangat yang membara. Dari ketiga warna itu saya berharap ia mampu menjadi pengingat bahwa dalam mendidik kita tetap harus ceria dan bahagia, semangat tapi serius menjalankannya dengan semangat membara dan tetap dibarengi cinta.

Oh iya, penambahan nama web di logo sekadar informasi tambahan aja untuk memperluas web ini agar dikenal banyak orang. Dan supaya ga diambil orang lain juga sih. Hehe..

logo esa all

 

Ketika suami menghampiri, saya menyodorkan semua logo yang saya buat tadi. Suami memberi masukan untuk logo hati, baiknya bintang dihilangkan saja. Tapi jika begitu, makna yang ingin saya buat akan kehilangan esensinya. Sehingga pilihan akhirnya jatuh pada logo pertama: tangan dan bintang.

Nah, kalau teman-teman sendiri, dari ketiga logo di atas mana yang lebih teman-teman suka?

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

aMAYzing, MEInakjubkan

Amayzing, meinakjubkan

Berbicara tentang bulan Mei, tahun ini menjadi bulan yang begitu menakjubkan. Itu kenapa saya memberi judul aMayZing, Meinakjubkan. Betapa Mei tahun ini menakjubkan dan membuat saya “amaze”.

Bukan karena ini adalah bulan dimana saya genap berusia 27 tahun atau karena anak kedua saya tepat berusia 2 tahun di bulan yang sama, tapi lebih dari itu. Mei ini saya dihadapkan pada banyak kejadian-kejadian tak terduga yang maSyaAllah benar-benar membuat saya bingung memberikan kata yang tepat untuk menceritakannya.

Permulaan Mei diawali dengan ikut sertanya saya dalam sebuah kelas public speaking yang dilaksanakan di hari Sabtu dan Ahad selama 2 pekan (8-9 Mei dan 16-17 Mei). 3 hari kelas (total 6 sesi pertemuan) dan 1 hari untuk final presentation (semacam ujiannya). Kelas yang tidak sengaja saya ikut serta. Kenapa tidak sengaja? Karena saya tidak mendaftar untuk kelas ini. Lho kok bisa sih? Ga daftar tapi ikut kelasnya? Ya bisa dong. Suami yang daftarkan.

Entah ya kenapa beliau daftarkan saya. Toh saya kan cuma ibu dua anak laki. Ga kerja cuma seluler Online. hoho.. Tapi ketika beliau memutuskan sesuatu biasanya karena ada hal di balik itu yang akan saya tahu nanti. Entah karena beliau sedang mempersiapkan saya jadi artis entah gimana (haha lebay deh gue). Ga ada yang dia-sia kan? Eh ada, yang sia-sia itu kalau udah didaftarin terus saya ga ikut kelasnya. Sia-sia kan? Uangnya hangus 😀

Apapun, semua ada hikmahnya dan ternyata saya enjoy di kelas public speaking itu. Ternyata secara tak disadari saya menyenangi dunia “bicara” seperti halnya saya menyenangi dunia “menulis”. Tapi ya begitulah, masih setengah-setengah.

Paling kaget itu ketika dapet respons dari temen-temen. Ada beberapa kejadian “mengharukan” terkait kelas ini. Pertama, ketika diminta menanyakan “minimal 5 kelebihan saya dari minimal 5 orang”, ada beberapa kelebihan yang –jujur- saya ga nyangka akan dapet jawaban semacam itu. Salah satu jawaban yang sangat mengagetkan adalah bahwa menurut beliau saya punya jiwa kepemimpinan alias leadership. Hah?!

Kemudian kejadian “mengharukan” lainnya ketika hari final presentation tiba, saya update status mengenai acara tersebut. Kemudian beberapa teman lama tiba-tiba mengirim pesan ke saya dan bilang, “Esa ngisi seminar? Wah, cocok” setidaknya itulah pernyataan inti yang serupa dari mereka. Apa? Cocok? Sejak kapan? Sejak mereka kenal saya, katanya. Lalu mencoba mengingat, Heri demang dulu saya ngapain aja sih? Kapan saya tampil depan kalian buat ngisi seminar selain buat presentasi mata kuliah dan sidang? Hahaha..

Ternyata benar adanya ya, sering kali kelebihan kita tidak dapat kita lihat. Maka kita butuh orang lain untuk melihat itu. Mereka mampu melihat lebih jernih. Coba saja.

Kemudian acara seru lainnya ketika saya memutuskan untuk ikut sebuah kelas yang mempelajari bagaimana cara pikiran bekerja dengan dasar NLP. Acara itu adalah Mind Technology Mastery (MTM). Jujur ini kelas termahal yang pernah saya ikuti dan secara sadar saya daftar sendiri. Uangnya darimana? Yang pasti suami angkat tangan karena tubrukan sama kebutuhan lain. Lalu darimana dong? Dari Allah. Allah yang kasih jalan. Alhamdulillah.

Kelas MTM sendiri baru akan diadakan tanggal 23-24 nanti. Eh, akhir pekan ini berarti ya? Semoga bisa mengamalkan ilmu dengan sebaik-baiknya.

Hal menarik lain di bulan Mei adalah seminar-seminar gratis. Saya dan suami ikut Juragan Forum dan pertama kalinya dapet voucher makan gratis. Haha. Ga apa deh dibilang lebay tapi ternyata bahagia juga ya dapet voucher gratisan itu. Ilmunya juga cakep.

meiDan hari ini, awalnya saya ga inget pernah daftar sebuah acara. Tapi ketika tengah nyantei nemenin bocah, tiba-tiba dapet SMS yang kurang lebih isinya himbauan agar segera hadir karena acara akan dimulai.

Hah? Acara apa? Coba inget-inget juga ga inget. Sampai kemudian saya bilang ke suami, suami yang inget. Untunglah pagi-pagi semua sudah selesai jadi tinggal siap-siap dan anak-anak dititipkan ke mamah lalu berangkat. Dan disinilah kami sekarang, di acara Startex Bandung Technopolis.

Bahasannya apa sih di Startex ini? (saya masih sering keceletot bilang star trek loh tiap nulis Startex). Bahas tentang tips memilih domain, internet marketing, dunia usaha Online dan iklan dari para sponsor. Iya lupa, dapet paket perdana gratis juga dari XL sebagai salah satu sponsor. Lumayan buat cadangan 😀

Mei ini, kongkow PeDeCafe mulai rutin 2 minggu sekali dan Monas (Motivakreatif Nongkrong Asyik) juga 2 minggu sekali. Jadi setiap Jumat sore itu full acara di Cafe The Panas Dalam.

Diskusi grup Online pun banyak memberikan input informasi yang luar biasa tentang dunia anak, dunia jualan dan kehidupan. Banyak ilmu dan kesempatan belajar.

Alhamdulillah.. Baiklah. Mari terus belajar.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Simpati dan Empati

Semalam tanpa disengaja terjadi diskusi yang luar biasa. Tentang sebuah rasa bernama empati dan simpati kaitannya dengan emosi anak.

Lalu apakah empati itu? Empati adalah sebuah keterampilan kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain yang terlihat melalui perilakunya. Empati membuat kita mencoba berada di posisinya dan memahami bagaimana situasi kondisi orang tersebut.

Berempati membuat kita mampu memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut. Dengan demikian, harapannya kita mampu bertindak tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan pada situasi dan kondisi saat itu.

Lalu apa bedanya dengan simpati? Bedanya terletak pada kedalaman perasaan, pada keterlibatan emosi yang sangat lekat.

Pada sikap simpati, kita seolah merasakan atau berada pada posisi orang lain, tak sekadar memahami. Pemahaman ini yang baru saya tahu karena sebelumnya saya menganggap empati lebih dalam dibanding simpati dalam hal keterlibatan emosi.

Ketika kita bersikap simpati, saat orang lain menangis, kita turut menangis dst. Malah terkadang emosi kita lebih jauh lagi.

Maka diantara simpati dan empati ini, mana yang lebih baik? Keduanya baik, tinggal disesuaikan dengan situasi kondisi saat itu. Kemampuan ini harus disertai dengan catatan kita harus tetap produktif dan sesuai syariat. Jangan sampai terlalu turut campur urusan orang lain di luar batas seharusnya atau terlalu larut memikirkan masalah orang lain sampai mengganggu rutinitas sehari-hari.

Dalam dunia psikologi, empati ini sangat penting bagi kehidupan kita. Kebanyakan di antara kita ketika dihadapkan pada sebuah hal atau masalah, kita mengutamakan kognitif yang serba logis tentang bagaimana agar masalah bisa segera selesai. Apa penyelesaian masalah yang tepat dan kalau bisa secepat mungkin. Bagaimana agar masalah ini tidak berulang, apa yang harus dilakukan. Dsb. Tanpa memperhatikan aspek afektif, perasaan.

Bagaimana perasaan orang lain ketika kita melakukan ini, ketika kita tidak melakukan itu. Bagaimana perasaan orang lain ketika kita mengatakan ini dan tidak mengatakan itu. Bagaimana pikiran mereka, dan sebagainya. Ini biasanya didasari oleh sikap kita yang cenderung logis dan egosentris, melihat sesuatu hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri.

Saat kita belajar berempati -memahami pikiran dan perasaan orang lain yang terlihat dari perilakunya- kita benar-benar belajar memahami, bukan menebak. Jika tak paham, maka kita harus mengambil langkah agar paham.

Pertama, tanya. Apa yang ditanyakan? Emosinya dulu, perasaannya, afektifnya. “kamu marah ya, nak?” jika ternyata salah, coba ditanyakan hal lain, anak in Sya Allah akan memberi tahu kita. “kesal sama ummi?” jika salah juga mungkin ditanyakan pertanyaan lain, “Sedih?” bisa jadi kali ini jawabannya ‘iya’ kemudian berlanjut anak menangis.

Jika emosi sudah sampai, gali pikirannya. Kenapa? Apa yang anak pikirkan? Apa yang bisa ummi bantu? Apa yang anak inginkan, dsb. Tunggu, biarkan anak memiliki jeda jika ia tak mau langsung bercerita. Jangan memaksanya langsung menjawab kalau memang ia butuh jeda. Ketika ia bercerita, tunggu dan dengarkan. Lalu ajukan perhatian, “mau dipeluk ummi?” atau “mau minum dulu?” dsb.

Setelah langkah kedua berhasil, setelah kita menenangkan hatinya dan paham situasinya baru masuk ke langkah berikutnya untuk penyelesaian masalah atau komunikasi/nasihat.

Jujur, ini saya baru tahu padahal usia sulung saya sudah 4,5 tahun. Huhu.. telat banget ya. Tapi ga apa, kita coba perbaiki.

Ini tambahan yang jadi tamparan banget buat saya.

Jadi lingkaran setan
Jadi lingkaran setan
baik
Sama-sama senang
Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.