Resensi Buku Baby-led Weaning

Identitas Buku    : Baby-led Weaning

Penulis                 : Gill Rapley & Tracey Murkett

Alih Bahasa         : Adhya Utami Pramono Larasati

Penyunting          : Setyaningrum

Penerbit               : Pustaka Pelajar

Cetakan               : I, 2011

Tebal                    : xxiv+388 halaman (hardcover)

ISBN                     : 978-602-9033-53-3

buku blwUlasan buku

Buku Baby-led Weaning, Cara Baru melatih bayi menyapih dirinya sendiri, Membimbing bayi menyukai masakan sehat ini merupakan terjemahan dari buku berbahasa Inggris dengan judul Baby-led Weaning: Helping your baby to love good food, ISBN 9780091923808 terbutan Vermilion, London. Baby-led Weaning lebih dikenal singkatan BLW. Buku ini direkomendasikan untuk para orang tua yang ingin menerapkan BLW pada bayi mereka.

BLW sendiri merupakan sebuah metode MPASI yang belakangan booming di Indonesia. Meski demikian, praktek BLW ini sebenarnya sudah lama dilakukan hanya saja belum menggunakan istilah BLW. Lalu apa sih BLW itu? BLW jika diterjemahkan secara bebas adalah membiarkan anak makan sendiri dengan semua kesempatan dan kepercayaan yang diberikan padanya segera setelah anak memasuki usia MPASI. Metode ini membiarkan bayi menggunakan nalurinya untuk meniru orang tua dan saudaranya untuk membangun keterampilan makannya secara alami dan menyenangkan. Tidak menggunakan spoon-feeding (menyuapi) secara penuh.

Ketika mendengar kata BLW untuk memulai MPASI anak, banyak orang tua yang masih kontra karena menganggap metode ini berbahaya bagi bayi. Salah satu yang paling sering mencuat adalah bahaya tersedak yang mungkin terjadi jika anak dibiarkan makan sendiri. Buku ini membahas “mitos-mitos” terkait BLW tersebut.

Melalui buku ini, para orang tua juga dapat belajar secara menyeluruh mengenai BLW. Terdapat setidaknya 8 bab bahasan, dan bahasan utama mengenai bagaimana memulai BLW mulai dibahas di bab 3. Akan tetapi anda tetap harus membacanya dari halaman pertama agar pemahaman anda lengkap secara menyeluruh.

Di buku ini anda akan belajar tentang bagaimana mempersiapkan diri dan anak untuk BLW, kapan saatnya “makan”, bahasan finger Food berikut aturan mengenai finger food ini, sebanyak apa yang diberikan pada anak, bagaimana jika anak menolak makanan, perlengkapan yang dibutuhkan, dan bagaimana agar BLW sukses sesuai harapan. Di dalamnya juga dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar BLW, makanan yang boleh dan tidak boleh alias harus dihindari, mengecek apakah makanan yang disodori memicu alergi, bahasan mengenai kandungan gizi pada makanan termasuk bahasan lemak dan serat agar kebutuhan utama makanan anak tetap terpenuhi, makanan yang sesuai dengan usia anak, snack dan bekal ketika dibawa akan di luar.

Sebagai patokan apakah anak memiliki kemajuan atau tidak, buku ini pun membahas mengenai kemajuan kemampuan bayi, mengajarkan tentang langkah-langkah pemilihan tekstur makanan, kapan anak mulai belajar makanan encer, membedakan saat bayi lapar dan tidak, minuman yang disarankan dan salah satu yang menarik ada bahasan tentang mengurangi susu (termasuk ASI) di usia tertentu sehingga kelak diharapkan anak yang akan memutuskan menyapih dirinya sendiri. Tanpa memaksa anak berhenti ASI.

Buku BLW juga membahas mengenai jadwal makan, Table Management, peralatan makan dan saat anak dibawa ke luar. Dengan BLW kita dapat menyediakan makanan buatan rumah yang sehat dan tetap sesuai umur.

Selain membahas mengenai BLW, buku ini pun membahas tentang menu sehat keluarga. Sebuah nilai tambah yang cukup menarik mengingat ini adalah buku bahasan tentang cara makan bayi. Rupanya dengan menerapkan metode BLW ini, anak dibiasakan makan dengan cara dan bahan yang sehat. Pun pihak keluarga akan secara perlahan mengubah cara makannya menjadi cara yang lebih sehat karena jika keluarga tidak mengubah cara makannya, anak akan cenderung sulit diajak makan sehat. Anak akan cenderung lebih tertarik dengan makanan orang tuanya sehingga dengan menerapkan BLW, orang tua akan secara perlahan memilih untuk mengubah gaya makannya sendiri agar anak dapat sukses BLW dengan baik.

Di bab terakhir dibahas pula mengenai panduan dasar gizi anak dan keluarga secara umum. Juga terdapat cara mendapatkan yang terbaik dari makanan yang dibeli.

Sebagai gambaran tentang BLW, ada pula cerita-cerita mengenai BLW dan aturan dasar keamanan makanan. Jadi, apakah anda ragu menerapkan BLW karena keamanannya? Baca buku ini secara lengkap dan dapatkan sebuah ilmu baru yang menarik.

Kelengkapan bahasan mengenai BLW berikut semua “tanya-jawab” mengenai BLW dan mitos yang beredar menjadi kelebihan dari buku ini. Pun adanya bahasan panduan gizi anak dan keluarga berikut tips mengenai makanan menjadi nilai tambah yang menarik. Sayangnya semua dicetak dalam hitam putih sehingga gambar-gambar di dalamnya pun hitam putih dan edisi hardcover ini sudah tidak dicetak. Cetakan terbaru sudah beralih penerbit, diterbitkan oleh Gramedia dalam jilid softcover dengan ukuran buku yang lebih kecil tapi harga lebih terjangkau.

Demikian sedikit catatan tentang buku Baby-led Weaning. Semoga bermanfaat ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Hati-hati Pada Prasangka

“Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa”  (al-Hujuraat: 12)

“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka. Karena sesungguhnya prasangka adalah berita yang paling dusta.” HR Al-Bukhari (6066) dan Muslim (2563)

prasangka

Betapa berhati-hatinya Islam mengatur tentang prasangka, sebuah praduga yang sering kali menggelincirkan kita pada permusuhan terhadap saudara sesama muslim. Menjauhi sebagian prasangka (prasangka buruk) adalah bagian dari hak saudara kita sesama muslim, dimana hak orang lain tentu menjadi keharusan bagi kita untuk menunaikannya.

Dalam berinteraksi dengan sesama, kita sering kali terjebak pada prasangka terhadap orang lain entah itu prasangka baik maupun buruk. Keduanya ada sisi baik dan buruk. Ketika kita terlalu beranggapan seseorang baik, kita lupa bahwa kita belum sepenuhnya mengenal dia –meskipun berprasangka baik terhadap sesama muslim adalah sebuah anjuran. Dan ketika kita terlalu beranggapan seseorang buruk, kita lupa bahwa bisa jadi dia tak seburuk itu dan tidak berusaha mencari udzur (permakluman) terhadapnya.

Pembelajaran mengenai prasangka ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Termasuk di dalamnya berprasangka terhadap suami, anak dan keluarga kita yang tentu mereka juga adalah saudara sesama muslim.

Ketika pindahan rumah pekan lalu, beberapa tetangga yang selalu nampak cuek, beberapa yang selalu nampak jutek ternyata mereka pun memiliki kepedulian yang mungkin tak pernah dinampakkan sebelumnya karena memang belum bertemu dengan momen yang tepat. Saya melihat tetangga yang sering nampak menakutkan bagi saya, ternyata turun tangan membantu mengangkat barang.

Saya lebih memilih berhati-hati bergaul dengan tetangga tapi kemudian lupa dengan membiarkan prasangka buruk tetap ada dan abai terhadap prasangka baik. Padahal Imam Ibnul Mubarak pernah menyatakan Seorang mukmin adalah orang yang mencari udzur-udzur (bagi saudaranya). Maksud dari mencari udzur adalah mencari celah untuk kemungkinan prasangka baik berperan.

Hal yang serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mazin: “Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya”. Subhanallah.. Sebaik-baik mukmin adalah yang berhati-hati prasangka terhadap saudaranya.

Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi berkata -sebagaimana dinukil oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/285): “Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kau tidak sukai, maka berusahalah mencari udzur bagi saudaramu itu semampumu. Jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, ‘Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui’.”

Hamdun Al-Qashshar berkata: “Jika salah seorang dari saudaramu bersalah, maka carilah sembilan puluh udzur untuknya, dan jika saudaramu itu tidak bisa menerima satu udzur pun (jika engkau tidak menemukan udzur baginya) maka engkaulah yang tercela”

90 udzur lho.. Istilah yang sering kita bilang adalah “cari 1001 alasan untuk berprasangka baik”. Jika dibiasakan mungkin kita akan menemukan bahwa berprasangka buruk itu butuh effort lebih banyak jadi mending berprasangka baiklah.

Ya, berprasangka baik juga bukan berarti kita tidak waspada karena toh kita punya sebuah kemampuan bernama RAS, filter untuk Early Warning System. Tapi dasar keimanan seseorang akan membuat kita percaya bahwa ia pasti tidak menginginkan, tidak mengucapkan dan tidak bertindak kecuali sesuatu yang bermanfaat dan baik.

Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau bawakan pada (makna) yang baik.

Bahkan jika perkataan itu mutasyabih sekalipun. Mutasyabih adalah sebuah perkataan ambigu, samar dan rancu sehingga dapat memiliki makna yang lebih dari satu. Jika masih bisa ditemukan makna positifnya, maka lebih baik ambil saja makna positif tersebut. Akan lebih baik lagi jika kita mampu melaksanakan tabayyun terhadap saudara kita tersebut untuk memastikan makna sebenarnya yang ia maksud.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pakaianku, Pakaianmu, Pakaian Kita

هن لباس لکم وانتم لباس لهن

Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 187)

Ayat ini tentu sering kita dengar, bukan? Sebuah ayat yang mengumpamakan suami atau istri adalah ibarat pakaian bagi pasangannya.

Alhamdulillah Allah lagi-lagi memberikan ilmu baru, pemahaman baru tentang makna kata yang sudah lama saya kenal. Tentang kelengkapan fungsi dan makna pasangan adalah pakaian.

Ketika kita menikah, maka pasangan kita akan menjadi pakaian kita. Selama ini saya memaknai pasangan sebagai pelindung. Tapi kemudian saya belajar tentang makna pakaian yang lebih lengkap.

Pakaian adalah pelindung kita sekaligus penutup aurat. Dan ada hal yang sering kita lupa bahwa pakaian bukan sekadar yang menjaga kita, tapi kita juga diharuskan menjaga pakaian itu. Ada feedback.

Jika kita ingin pakaian kita tetap bersih, tetap indah dipandang dan nyaman dikenakan maka kita perlu merawatnya dengan baik. Kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang mungkin dapat merusak pakaia. Perhatikan bagaimana cara mencucinya, perhatikan bagaimana cara menghilangkan noda, perhatikan bagaimana cara menjemur, suhu seperti apa yang baik saat menyetrikanya dan hal lain yang terkadang kita abai.

Kita sering kali lebih berfokus pada “pakaian adalah pelindung kita” dan kemudian menuntut pakaian selalu indah dan menjaga kita dengan baik. Kemudian kita lupa bahwa pakaian juga butuh perawatan. Pakaian juga perlu dijaga. Jadi antara kita dan pasangan sudah selayaknya saling menjaga, bukan saling men-judge.

Dalam pernikahan, godaan untuk berbuat tidak baik tetap ada. Bahkan setan akan semakin gencar karena salah satu yang jadi target setan adalah berpisahnya suami dan istri. Maka kita benar-benar harus berhati-hati.

Maka saling menjaga menjadi sebuah kebutuhan yang begitu penting. Seperti apa saling menjaga itu? Bisa jadi akan berbeda antar tiap pasangan karena kondisi masing-masing pasangan belum tentu sama satu sama lain. Tapi mungkin kita akan sepakat bahwa saling menjaga keimanan, amar ma’ruf nahyi munkar antara suami dan istri sangat diperlukan.

Pikiran dan perasaan manusia begitu mudah berubah. Jutaan lintasan pikiran di kepala manusia bisa dimanfaatkan setan untuk menggoda.

Quu

Kecenderungan manusia untuk tertarik pada lawan jenis (terutama lelaki pada perempuan) yang “lebih”. Hal ini membuat perselingkuhan bisa jadi adalah sebuah yang mungkin meski “sekadar” tergelincir pada tindakan zina mata, zina hati atau hal yang dianggap ringan tapi sebenarnya tetap berat di hadapan Allah.

Disinilah peran menundukkan pandangan itu menjadi dimengerti kenapa begitu penting. Karena sering kali hal tak baik bermula dari liarnya mata memandang dan membiarkan bayangan jatuh ke hati hingga muncul pikiran-pikiran tak karuan. Ketika keimanan turun, maka mudah sekali untuk tergoda dan berpaling dari pasangan yang sah dan halal ke pemuasan nafsu semata. Na’udzubillah min dzalik.

Tugas memilih jodoh yang pemahaman agamanya baik tidak berhenti seketika setelah akad nikah diucapkan. Kewajiban kita selanjutnya untuk bersama menjalankan perintah Allah, salah satunya: quu anfusakum wa ahliikum naaran.. menjaga diri dan keluarga dari neraka.

Karena pakaian menjaga kita dan kita harus menjaga pakaian agak selalu layak. Sebab perjalanan pernikahan itu panjang dan penuh tantangan maka menjelmalah menjadi sebaik-baik pakaian dengan takwa.

Tidak mudah tapi bukan mustahil. Itu kenapa hadiahnya surga..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.