Training Public Speaking Bareng GPS

Apa sih yang pertama kali anda pikirkan ketika mendengar “Public Speaking”? Jika anda menanyakan hal tersebut pada saya, maka saya akan menjawab dengan sederhana: ngomong depan umum.

Ya, meskipun “pengertian sebenarnya” tidak tepat seperti itu. Ketika suami menawarkan saya untuk ikut training public speaking, jawaban saya selalu sama: “tidak, terima kasih”. Karena ketika itu saya pikir “buat apa lah.. toh kan cuma ibu rumah tangga, ga kerja, ga perlu tampil depan umum juga.”

Ya sebenarnya bukan hanya itu alasan saya menolak. Diantara penyebabnya adalah karena lembaga yang ditawarkan suami adalah lembaga yang saya kenal. Di saat orang lain senang karena kalau kenal sama lembaganya berarti dapat dipercaya, saya malah sebaliknya. Bukan karena saya tidak percaya pada lembaganya tapi lebih pada rasa malu saya. Malu ah ketemu mereka, tim dari Ganesha Public Speaking (GPS) Bandung. Apalagi mereka teman-teman suami. Ih ngga banget deh.

Alasan lain yang sering saya kemukakan tentu sudah bisa ditebak. Urusan dana. Yang namanya training profesional begitu, tak mungkin gratis kan? Masuk akal ya alasan saya?

Hingga suatu hari, suami hanya mengatakan begini pada saya: “De, nanti tanggal 9-10 dan 16-17 Mei ikut pelatihan public speaking ya di Tubagus.” Eh, kok tiba-tiba. Menyebalkan sekali kalau sudah begini. Itu berarti suami sudah mendaftarkan saya ke training itu dan mau tidak mau harus mau dong. Kalau ngga, kan bisa hangus uangnya. Huhu..

Tiba saatnya pelatihan. Ada yang aneh? Ada. Mereka disana. Ya iya lah.. Tim GPS pasti disana. Aarrrggghhh.. pengen lari aja rasanya waktu itu. Tapi baiklah. Demi uang yang sudah dikeluarkan. Heuheu.

Ketika kelas dimulai, kaget karena banyak hal tak terduga yang saya dapatkan. Benar-benar di luar dugaan. Dan saya menikmati 3 hari kelas plus 1 hari final presentation yang mendebarkan.

Jadi ada apa aja sih di training Public Speaking Basic-nya GPS? Kok Esa sampai-sampai heboh sekali sepertinya. Mmm, begini ya. Ini saya catat berdasar pengamatan saya saja:

  • Pertama, peserta kelas dibatasi demi efektifitas. Waktu itu kami 6 orang saja.
  • Kedua, kelas diikuti tidak hanya oleh orang Bandung, tapi juga dari luar kota. Teman “sekelas” saya ada dari Jakarta, Tangerang dan Kebumen. Seru kan..
  • Ketiga, dominasi praktek. Ide prakteknya kreatif pula. Apa aja? Rahasia ah. Ikut aja deh trainingnya.
  • Keempat, ada yang namanya “Final Presentation” di dalam Graha Ganesha yang dihadiri oleh puluhan audiens karena setiap peserta diharuskan membawa minimal 3 orang. Kelas Basic Weekday dan Basic Weekend digabung untuk presentasi.
    Ngapain aja di Final Presentation? Nyanyi. Haha.. serius lho disana disuruh bernyanyi. Ditambah mempresentasikan apapun yang dapat disampaikan.
    Syarat ikut Final Presentation harus mengikuti keseluruhan sesi kelas. Bolong satu saja, harus mengulang di training berikutnya.
    FYI: 1 hari dibagi ke dalam 2 sesi. Jadi total 6 sesi pertemuan plus 1 sesi Final Presentation.
  • Kelima, tarif training yang kece menurut para peserta (testimoni langsung dari yang memilih training di GPS setelah membandingkan). Setelah mendengar testimoni teman-teman dari luar kota, rasanya jadi gimana gitu. Ternyata ya harga segitu bagi yang membutuhkan adalah harga yang paling menarik saat saya menganggap harga itu bagi saya mahal 😀
  • Keenam, karena salah satu pembuat kurikulumnya bergerak di dunia NLP, ada sesi “hipnosis”nya juga lho di akhir sesi pertemuan terakhir.
  • Ketujuh, bisa seat-in alias mengulang training di angkatan berikutnya dan angkatan berapapun, bebas. Asal harus komitmen untuk hadir full.
  • Kedelapan, Tempat training memang ruangan yang tidak terlalu luas. Tapi cukup kok sesuai kuota. Nyaman dan ber-AC. Letaknya di tengah kota (jalan Tubagus Ismail)
  • Kesembilan, Bisa dapet copy video penampilan kita. Jadi tahu perkembangan kita per sesi. Kadang malu sendiri dan kadang bangga sendiri. Hehe.
  • Kesepuluh, ada grup alumni
  • Kesebelas, ada gathering alumni bulanan lho. Sharing dan refresh. Bisa dapat ilmu baru, memantapkan ilmu yang sudah didapat, menambah koneksi bahkan dapat free Lele kriuk (hihi, ini sih “gift” saat gathering Ramadhan kemarin)
  • Keduabelas, ada grup per kelas
  • Ketigabelas Trainer yang ramah dan bisa diajak diskusi
  • Keempatbelas mendapatkan masukan dan pesan yang tak terduga di sesi awal. Apa itu? Ikut aja deh.
  • Kelimabelas, bisa dapet kesempatan “pengecekan” tulisan tangan dari direkturnya yang juga seorang trainer graphology.
  • Keenambelas, Ikut paket kelas Basic dan Advance sekaligus, ada harga spesial <3
  • Ketujuhbelas, bisa memilih ikut jadwal di hari kerja atau akhir pekan.

Ada 2 tingkatan kelas dalam training Public Speaking yang diadakan oleh GPS: Basic dan Advance. Di kelas Advance konon diajarkan tentang rahasia tips trik tampil yang kece badai. Kelas Basic khusus untuk yang ingin belajar tampil di khalayak ramai, sementara Advance untuk mereka yang ingin meningkatkan “performa” tampilan mereka seperti tips berpakaian, tips slide presentasi, dan hal lain yang lebih advance.

Itu yang saya rasakan sendiri. Untuk kelebihan dan info lengkap tentang training Public Speaking bisa langsung cek ke webnya saja www.gpssbandung.com dan untuk tanya-tanya, baiknya langsung ke kantor PT. Ganesha Sentra Perubahan/GSP (nama perusahaannya) di Jalan Tubagus Ismail no. 5D lantai 2 untuk mendapatkan presentasi lengkap mengenai training ini ^_^

-paragraf pembukanya panjang banget ya. Hehe. Tak apa lah. Saya masih senang bercerita jadi begitulah.

Begitu aja kesan saya terhadap training Public Speaking Basic yang diadakan oleh Ganesha Public Speaking. Jika teman-teman tertarik tahu lebih jauh, di atas sudah saya sebutkan kontaknya ya 😉

Ganesha Public Speaking Bandung

SStt.. Denger-denger ada GPS Cabang Cirebon juga lho.. Makin sukses deh buat GPS dan PT. GSP ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Hari Pertama Danisy Sekolah Sendiri

Hehe.. beberapa orang mungkin menganggap ini ga perlu. Tapi saya catat sebagai apresiasi saya terhadap anak sulung kami, Danisy.

Pertama kali Danisy sekolah sekitar 2 tahun lalu, sepulang mudik Agustus 2013 saat usianya belum genap 3 tahun. Keinginannya untuk masuk sekolah sangat kuat sehingga kami akhirnya mencarikan sekolah yang tidak terlalu terikat aturan ketat.

Alhamdulillah akhirnya memilih sekolah PAUD di daerah sekitaran sekolah SD saya dulu. Memilih daerah itu karena aktifitas saya dan suami banyak disana. Jadi saya pikir, biar sekalian.

Rupanya cukup sulit untuk bisa menyesuaikan waktu meski alhamdulillah semuanya lancar. Danisy sekolah dengan semangat meskipun lebih banyak main. Syukurlah gurunya mengerti bahwa usia Danisy memang masih masanya main. Paham dan tidak memaksa meski tetap dibujuk untuk ikut kegiatan sekolah.

Sekolahnya memang bukan sekolah favorit seperti sekolah anak teman-teman saya, tapi ketika itu memang hanya mencari sekolah dengan jadwal yang cukup fleksibel terhadap anak. Jaga-jaga jika sesekali Danisy tidak ingin sekolah.

Tahun pertama lancar hingga akhirnya saat prosesi wisuda tiba. Danisy ngamuk ga mau masuk kelas. Kenapa saya bilang ngamuk? Karena nangisnya beneran jerit-jerit mirip tantrum. Saya yang ketika itu sambil  menggendong Azam yang masih bayi agak kewalahan. Akhirnya minta mamah nyusul untuk bantu pegang Azam. Rupanya dia takut melihat fotografernya. Seorang bapak tua brewokan dan memang agak seram tapi cukup baik sih. Langganan sekolah.

Jadi tahun pertama yang seharusnya lulus, Danisy ga mau lanjut lagi. Minta pindah pas kebetulan pernah merasakan daycare yang menurut dia lebih menarik. Daycare yang ada di acara seminar ketika saya ikut seminar parenting. Ya, setelah itu kan daycare-nya ga ada lagi 😀

Tahun berikutnya mencari-cari sekolah karena ingin pindah sekolah. Sayangnya ketika itu saya sedang tidak bisa fokus menemani sekolah sehingga kami mengatakan pada Danisy, “Jangan sekolah dulu deh ya, A”. Danisy merengek ingin sekolah di playgroup yang cukup jauh dari rumah. Kami bujuk hingga akhirnya memilih “Sekolah di sekolah Aa yang lama aja” katanya. Itupun tidak sepenuhnya bisa ikut karena saya sedang -sok- sibuk kesana kemari.

Akhirnya tahun ini menguatkan kembali, oke Danisy mulai sekolah lagi. Tapi saya beri syarat: ga ditemani ya. Hanya diantar, nanti dijemput. Di sekolah hanya sama teman-teman dan guru, ga ditemeni ummi. Rupanya ia menjawab “Iya.”

Selasa adalah hari pertama Danisy sekolah lagi. Saya masih menemani. Rabu sepakat saya benar-benar hanya akan mengantar dan nanti dia dijemput.Saat saya diam sebentar, Danisy malah tanya “Ummi katanya mau anterin Aa aja?” akhirnya saya pulang deh.

Ketika dijemput saya ajak ngobrol, bagaimana perasaannya? Bagaimana pengalamannya selama sekolah?

Danisy menceritakan pengalaman hari pertama sekolah tanpa ditunggui ummi dengan semangat. “Alhamdulillah. Aa sudah bisa mandiri. Ummi seneng dan bangga.” dia menjawab dengan senyum bangga.

Tak terasa, sudah besar ya. Tahun depan insyaallah masuk TK. Bagi saya, Danisy bersedia sekolah sendiri, menjaga amanah yang saya titipkan, adalah sebuah kebahagiaan. Semoga Allah selalu menjaganya.

Pengalaman pertama saya membiarkan Danisy “bersama orang lain” sendiri. Melepaskan anak untuk tumbuh sesuai usianya. Belajar membiarkan ia tumbuh semakin mandiri, menjadi dirinya sendiri dan bersosialisasi dengan orang lain tanpa bayang-bayang orang tuanya. Tidak selamanya anak harus ada “di belakang orang tua”. Anak harus tumbuh sesuai usianya.

Kenapa ga HS? Saya dan suami sejauh ini sepertinya belum siap. Kreasi di rumah tetap ada, sebisa mungkin. Tapi untuk memutuskan HS, suami sendiri sudah angkat tangan. Saya tidak bisa memaksakan karena tidak bisa sendiri menjalankan HS.

Well, apapun itu mau sekolah di pendidikan formal atau home schooling, tetap harus kuat soal home-education-nya. Bismillah. Belajar lagi. Belajar terus. Semoga Allah menguatkan dan mengilhamkan segala kebaikan. Aamiin.

Barakallahu fik, Danisy. Semoga Allah senantiasa menjagamu selalu, agar senantiasa di jalan-Nya, tumbuh sesuai fitrah dari-Nya. Aamiin.

doa untuk anak

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Keyboard Dua Bahasa Pada Asus Zenfone 5

Selama pegang ASUS Zenfone 5, jujur baru kali ini saya otak-atik bagian keyboard dua bahasa. Pernah sih sebelumnya tapi ga ngeh kalau itu ternyata bisa digunakan sebagai input (ya iya lah. kan keyboard emang untuk input ya? sayangnya saat itu beneran ga kepikiran. Hehe).

Sebelumnya pas pegang ponsel suami, ASUS Zenfone 2, kok tombol kiri bawah itu bisa digunakan untuk nulis arab ya? Punya saya masa ga bisa? -tapi saat itu cuma baru berpikir begitu saja dan selesai. Nah, tadi pagi iseng coba otak-atik. Berikut hasilnya.

keyboard dua bahasa pada asus zenfone 5 Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Catatan Rahasia

Aku pernah berdoa untuk seseorang yang ku tak tahu siapa
Aku pernah meminta atas seseorang yang ku tak tahu sedang dimana

Doaku pada-Nya hanya sekadar titipan salam
Ada rindu yang ku tak tahu tumbuh karena apa
Ada asa yang ku tak tahu ditujukan pada siapa

Tapi Ia tahu pasti kepada siapa rindu ini kutujukan
Ia tahu pasti karena apa rasa ini ada
Ia tahu pasti nama yang kumaksudkan
Dan Ia tahu pasti sedang apa dia disana

Ketika aku berdoa, semua masih misteri
Ketika rasa rindu sudah begitu membumbung
Ia memintaku untuk tetap bersabar

Hingga tangis di setiap malam meredakan sesaknya
Hingga air mata menghapus rindu yang hadir tanpa diminta

Menanti kapan tabir misteri itu Ia buka
Berharap lelaki yang kusebut dalam doa itu hadir di hadapan

Seseorang yang kuminta dengan setulus asa
Seseorang yang kurindu dengan segenap cinta
Rasa yang hadir tanpa pernah diduga

Hingga saatnya kelak ia dihadirkan-Nya
Aku tetap berdoa..

Kebumen, pagi 10 Syawal
Di tengah senandung alam yang indah berirama.

image

*catatan untuk semua saudariku yang tengah menanti sang kekasih hati. Pasangan halal yang akan membawa pada penyempurnaan din.
Bersabarlah dengan sepenuh pasrah. Allah bahagia melihat engkau selalu membersamai-Nya.
Kelak Ia akan mengirimkannya.
Saat kita bahkan lupa pernah memintanya..

** teruntuk suamiku tercinta, rasa yang pernah ada bahkan sebelum kita berjumpa, kini ku tahu rasa itu untuk siapa..
bunch of love for u, my honey bee

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Jangan Biarkan Anakmu Mengalah

Egosentris adalah salah satu sifat yang lazim ada pada periode tumbuh kembang anak terutama di usia balita. Pada fase ini anak belajar mengenai sifat ke-aku-an, mengenal kepemilikan barang dan nantinya berujung pada sikap berbagi jika diapresiasi dengan benar pada fasenya.

belajar dari anak

Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ironi

Malam ini diingatkan tentang sebuah rasa bernama syukur. Sering kita melupakan nikmat yang Allah beri karena kita kurang bersyukur. Merasa hidup paling menderita “hanya” karena kehidupan tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan.

image

Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Balada Menantu, Mertua dan Ipar

Ramadhan kemarin dan menjelang lebaran, di beberapa grup curhat ibu-ibu rasanya banyak sekali curhatan mengenai mertua atau ipar. Meski di luar bulan Ramadhan ya ada juga curhatan tentang hal ini.

image

Curhatan yang jika diperhatikan sepertinya menduduki posisi pertama disusul curhatan tentang suami dan selanjutnya curhat mengenai anak. Herannya curhat tentang anak ini jika saya persentasekan sepertinya hanya  memiliki nilai 10% saja. Hoho.. Namanya juga curhat ibu-ibu ya 😀 Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.