PADI Yang Bermanfaat

Belajarlah pada ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk

Satu ketika saat berbincang tentang anak di obrolan ibu-ibu sebuah grup, tersirat pertanyaan “adakah buku islami yang lengkap membahas pendidikan anak dalam kacamata Islam?” Salah satu teman menjawab buku PADI.

PADI? Ih, becanda ya?

Beneran PADI. Pendidikan Anak Dalam Islam atau judul aslinya Tarbiyatul Aulad fil Islam. Subhanallah, bisa ya singkatannya pas banget.

buku Pendidikan Anak dalam Islam (Tarbiyatul Aulad fil Islam)

Buku Pendidikan Anak Dalam Islam ini sudah agak lama saya dengar. Tapi dulu rasanya sulit menemukan buku itu. Ternyata bukan sulit tapi memang ga niat. Pas temen nawarin pas ga bisa beli. Duh jaman dulu mah yaa. Qeqeqe. Masih sering mikir beli buku mahal. Sekarang alhamdulillah sudah diberi hidayah buat tobat 😀

Akhirnya setelah punya 2 anak dan tantangan semakin berat, diingatkan lagi tentang pendidikan yang dilakukan Rasulullah dan dipandu oleh Islam. Cari buku PADI, tanya teman yang dulu menawarkan, hasilnya tak jelas. Kemudian dapatlah buku PADI di sebuah toko online karena setiap kali mau ke toko buku ga bisa aja -_-

Setelah buka buku, baca daftar isi. Deg. Ya Allah, ini dulu aja deh tuntasin. Bismillah. Buat dasar pengetahuan sembari belajar.

Karena sudah dapat materi soal adab ilmu, maka mau tidak mau saya memaksa diri membaca mukaddimah dari penulis. Lampiran yang seringkali saya lewat

Jadi maklum ya kalo bacanya agak lama. 31 halaman buat pengantar doang.

Selain selesaikan mukaddimah, juga mencerna kalimatnya yang seperti sastra. Mungkin karena terjemahan. Tapi sebenarnya enak sih bahasanya.

Kembali ke bahasan buku. Yang ga biasa baca mukaddimah, ayo mulai dibiasakan. Mukaddimah buku PADI yang segambreng itu rupanya bukan sekadar “ucapan terima kasih penulis” tapi menjabarkan isi buku sekaligus mengobarkan semangat kenapa buku ini ada. Padahal baru mukaddimah lho.

Menarik karena buku ini membahas pendidikan jauh sebelum anak lahir, yakni sebelum sepasang suami istri menikah. Rasanya takjub terhadap perhatian Islam dalam membangun sebuah keluarga.

Beranjak ke daftar isi, ini adalah list-nya:

  1. Bagian Pertama terdiri dari 4 pasal
    1. Pernikahan yang Ideal dan Kaitannya dengan Pendidikan
    2. Perasaan Psikologis Terhadap Anak
    3. Hukum-hukum yang berkaitan dengan Kelahiran
    4. Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan pada Anak dan Penanggulangannya
  2. Bagian Kedua, Tanggung Jawab Para Pendidik terdiri dari 7 pasal
    1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman
    2. Tanggung Jawab Pendidikan Moral
    3. Tanggung Jawab Pendidikan Fisik
    4. Tanggung Jawab Pendidikan Akal
    5. Tanggung Jawab Pendidikan Kejiwaan
    6. Tanggung Jawab Pendidikan Sosial
    7. Tanggung Jawab Pendidikan Seks
  3. Bagian Ketiga (terakhir) terdiri dari 3 pasal
    1. Metode dan Sarana Pendidikan yang Berpengaruh pada Anak
    2. Kaidah-kaidah Asasi dalam Pendidikan
    3. Sarana Pendidikan

Subhanallah.  Cukup lengkap untuk dasar ilmu parenting ya. Tinggal dilanjut (atau bisa dibarengi) ilmu parenting lainnya sebagai pelengkap dan peluas khazanah ilmu parenting. Baca buku ini seperti tersambung dengan bahasan 3 ibu penggiat Homeschooling Muslim yakni teh Kiki Barkiah, teh Patra dan bu Ida di seminar yang diadakan oleh Sabumi beberapa waktu lalu. Referensi yang insyaallah terjamin sahih. Dan benar kata mereka, Islam itu pada dasarnya sudah meletakkan fondasi pendidikan yang fundamental bagi pendidikan dan tumbuh kembang anak.

Segitu dulu review saya terhadap buku ini. Bagi yang mau membeli secara Online bisa cari di Tokopedia. Sementara untuk area Bandung, saya sarankan beli di Gelap Nyawang aja. Saya berlangganan buku di Toko Buku Tazkia (pas belokan mau ke Salman). Kiosnya kecil, tapi harga bersaing karena biasanya ada diskon. Hehe. Ritel di Online sama dengan di TB, Cuma di TB ada diskon dan tanpa ongkos kirim.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Catatan Toilet Training Anak Lelaki

Sudah 5 hari ini Azam anak kedua kami menunjukkan kemajuan dalam hal proses toilet training (TT) atau dikenal dengan tatur. Usianya sekarang 2 tahun 5 bulan.

Sounding tentang tatur sudah dimulai sejak Azam bisa berdiri dan berjalan sendiri (sekitar usia 1 tahun). Lama ya? Tapi saya tidak mau men-judge bahwa saya atau Azam gagal. Telat atau apapun itu namanya. Saya hanya memastikan diri bahwa saya mencoba melakukan yang terbaik dan bersabar hingga saya dan Azam benar-benar siap.

Ada 3 target Azam yang dirancang beberapa bulan yang lalu. Pertama soal sapih dengan metode Weaning with Love (WWL) atau sering dikenal dengan menyapih dengan cinta. Lalu tentang pipis dan BAB di jamban. Ketiganya bagi saya adalah pertanda kesiapan anak dalam hal kemandirian.

Alhamdulillah Azam lulus WWL di usia 27 bulan. Berhenti sendiri tanpa ditakut-takuti, tanpa dibohongi. Maka saya bisa fokus ke target berikutnya: tatur.

image

Rupanya Azam termasuk anak yang harus tahu dulu secara “real” seperti apa sih pipis di jamban itu. Awalnya saya selalu beranggapan Azam belum siap. Tapi berhubung dia sudah ga pipis malam hari (ga pipis di kasur) saya pikir seharusnya dia juga sudah bisa diajak tatur.

Hingga saat itu ketika hendak mandi, dia baru pertama kalinya secara sadar mengalami pipis di jamban dan saya bersamanya saat itu. Seketika saya mengatakan padanya “nah, kayak gitu De pipis di jamban teh. Nanti mah kalau mau pipis ke jamban ya”. Azam masih nampak ragu. Tapi dia sepertinya mengerti.

Meskipun Azam belum bisa laporan ketika akan pipis padahal sudah bisa bilang “pipis” (ga kayak Danisy dulu), tapi dia sudah punya bayangan tentang pipis di jamban. Alhasil semenjak saat itu Azam dapat lebih mudah diarahkan untuk pipis di jamban. Bahkan sesekali menolak saat saya ajak ke jamban, pertanda dia ga sedang ingin pipis.

Proses TT ini pun tak luput dari bantuan Aa Danisy dan dukungan abi. Saya juga sangat terbantu dengan adanya training pants (TP) bekas TT kakaknya dulu.

Persiapan tatur:

  1. Mental ortu
  2. Menyiapkan anak dengan contoh atau sounding
  3. Kesabaran
  4. Ketelitian dan telaten
  5. Perlengkapan yang dirasa perlu.

Perlengkapan yang dirasa perlu:

  • Training pants
  • Clodi
  • Stok celana yang banyak untuk ganti
  • Stok celana dalam kesukaan anak
  • Lap pel khusus untuk ngelap jika pipisnya membasahi lantai (apalagi muslim, karena pipis itu najis)

Tips:

  1. Ajak ngobrol anak tentang tatur
  2. Beri gambaran, contoh atau semacamnya agar anak semakin paham bagaimana tatur itu
  3. Siapkan stok sabar yang banyak
  4. Siapkan keluarga besar agar mendukung proses ini (terutama jika masih 1 rumah dengan ortu. Kami sendiri sudah pisah rumah dari ortu jadi tidak terlalu fokus ke arah sana). Azam mengalami perbedaan sikap saat main di rumah kakek-nenek. Ortu saya masih setengah hati mendukung tatur Azam karena beberapa pertimbangan. Ga usah dipaksa untuk langsung nerima keputusan kita tatur. Dikomunikasikan saja terus.
  5. Cek saat malam. Saya pernah iseng suatu saat ga memakaikan Azam popok/clodi. Hanya celana dalam sesuai permintaan Azam (yang itu adalah CD kakaknya). Ternyata kering sampai pagi. Setidaknya disini saya mulai mengurangi penggunaan popok ataupun clodi di malam hari. Siangnya belum bisa fokus tatur karena alasan pekerjaan.
  6. Cek saat siang. Biasanya pipis sudah tidak terlalu sering alias sebenarnya jadwal pipis sudah mulai teratur. Saya pernah coba pakaikan clodi dan ganti hanya ketika sudah rembes. Ternyata bisa dari pagi sampai sore. Berarti sudah ga terlalu sering/banyak pipis.
  7. Telaten mengajak anak ke jamban setiap interval berapa jam sekali. Atau kenali ciri anak akan pipis. Minta anak laporan jika akan pipis.
  8. Selain pipis malem, salah satu hal mudah dalam tatur adalah BAB di jamban. Biasanya ciri anak mau BAB lebih mudah dikenali daripada ciri anak mau pipis.
  9. Doa dan mohon pertolongan Allah.

Ada baiknya memperkenalkan tatur dikaitkan dengan perkenalan tentang najis. Saya perhatikan, saat usia balita anak akan semakin tertarik dengan kegiatan orang tuanya dan mengikuti/meniru termasuk shalat. Nah, dengan cara ini selain mendapatkan keuntungan berupa terbebas dari popok, juga ada value tambahan bagi anak. Saya tidak melarang Azam ikut shalat, hanya saja saya mengatakan “kalau shalat ga boleh pake popok yang ada pipisnya, kan najis. Najis membatalkan wudhu dan shalatnya ga sah. Makanya kalo pipis di jamban aja ya.” Sekilas anak mungkin belum tentu mengerti, tapi lumayan mempan tuh 😀

Mengenai celana dalam kesukaan, hal ini cukup efektif di kedua anak saya. Karena mereka suka, jadi berusaha untuk ga mengotori CDnya dengan pipis atau BAB. Tapi tidak membuat mereka lantas melarang saya mencuci CD kotor.

Oiya, belakangan booming juga produk potty training. Jangan mudah tergiur ya. Maksud saya, jangan terlalu segala dibeli karena kunci utama tetap di ibu dan anak, alat seperti itu hanya membantu saja. Dan sejauh yang saya tahu, potty training itu cocok untuk yang toilet duduk.

Bagi yang toilet jongkok gimana? Apa ga repot? Kan anak ga bisa ngangkang se-lebar itu? Nggak tuh. Kami menggunakan toilet jongkok dan semuanya baik-baik saja.

Anak pertama karena sudah besar bisa lah posisi sesuai bentuk toilet. Anak kedua jongkok di pinggiran toilet (Bagian lebar untuk pijakan kaki).

Apa ga ngejengkang (jatuh karena tidak seimbang) pas jongkok di pinggiran toilet? Kalau anak sudah bisa jongkok sendiri sih, nggak. Tapi tergantung lebar pinggiran. Seandainya ragu dan khawatir, ibu bisa memberikan ember berisi air untuk pegangan anak (sehingga berat dan mampu menahan beban tanpa takut ember ga seimbang). Atau jika dekat dengan bak dan memungkinkan anak berpegangan dengan bak, bisa langsung ke bak.

Tidak memungkinkan untuk keduanya? Bisa dengan meminta anak memegang tangan kita sebagai penahan. Jika BAB anak lancar (termasuk pipis juga) biasanya ga lama kok. Disini kita juga bisa memperkenalkan value untuk mengikuti sunnah Rasulullah berupa tidak berlama-lama di jamban.

Itu diantara tips yang saya alami sendiri saat mendampingi kedua anak melewati fase tatur. Kalau teman-teman bagaimana?

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Happy Eid al-Adha

Idul Adha menjadi salah satu dari 2 hari raya umat Islam. Dan saya bersyukur setidaknya di tempat kami tinggal, takbir masih terdengar menggema dimana-mana. Shalat Id pun dapat dilakukan dengan tenang tanpa kekhawatiran atas ancaman pihak tak bertanggung jawab.

Masyarakat yang sadar akan esensi kurban dan berbagi pun masih cukup banyak. Ada 7 ekor sapi (dengan 7 nama pekurban tiap satu ekornya) dan 3 ekor kambing di mesjid tempat suami menjadi jamaahnya.

Idul Adha kali ini entah kenapa terasa berbeda. Ada bahagia membuncah tanpa diketahui penyebabnya.

Ketika anak-anak dengan semangat bangun menyambut hari raya bahkan beberapa hari ke belakang setelah hewan kurban mulai didatangkan dan cerita seputar kurban terdengar dimana-mana. Mereka antusias melaksanakan shalat Id dan bergegas ke masjid usai menyiapkan diri.

Mungkin bahagia itu karena ini kali pertama setelah menikah, saya melaksanakan shalat Id dan tanpa rengekan. Atau mungkin karena imam shalat yang suaranya begitu merdu dan tartil melafadzkan ayat al-Quran. Atau karena hal lain? Rasanya lega sekali usai menunaikan shalat Id kali ini. Seperti ada beban yang terlepas meski sedikit dan sekejap.

Membahas Idul Adha biasanya tak jauh dari cerita tentang kisah “asal mula” ibadah kurban ditetapkan. Kisah keluarga nabi Ibrahim a.s.

Cerita mengenai kisah Ibrahim dan Ismail menghiasi hari-hari menyambut Idul Adha di keluarga kami. Apalagi si sulung memiliki nama akhir Ismail. Maka ini saat yang dirasa tepat untuk menyampaikan harapan kami atas nama yang diberikan. Bagaimana kesabaran dan komunikasi seorang ayah bernama Ibrahim, kekuatan iman pemuda bernama Ismail, dan keteguhan seorang ibu bernama Hajar. Sungguh kisah teladan bagi keluarga muslim.

Saat bercerita, anak kedua kami bukan tidak dibahas. Tetap dibahas dalam pemaknaan nama Azam dan Nashrullah. Karena kisah kurban berkaitan erat dengan kebulatan tekad untuk taat pada Allah. Dan digantinya Ismail dengan domba adalah bukti pertolongan Allah pada hamba-Nya yang memiliki ketaatan dan kepasrahan yang luar biasa.

Semoga Idul Adha membuat kita semakin sadar bahwa ajaran Islam begitu indah. Bahwa berbagi itu bukan mengurangi tapi justru menambah. Menambah saudara, teman dan tentu saja tabungan pahala yang semoga dapat dikonversi menjadi penyebab hadirnya keridhaan Allah atas diri kita sehingga kita dimasukkan Allah ke dalam surga.

image

Selamat hari raya Idul Adha 1436H.
Tahun kelima sejak kelahiran Danisy zhuhur 10 Dzulhijjah 1431H dan 9 hari menuju tahun keenam pernikahan Chalim-Esa, dhuha 19 Dzulhijjah 1430H.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Belajar Sejarah Bandung dari Bandros

Kalau ke Bandung sekarang banyak tempat seru yang bisa dikunjungi secara gratisan. Nah, tapi beberapa orang luar Bandung ada yang lebih tertarik sama sebuah kendaraan unik yang sekarang jadi daya tarik juga. Apa itu? Jawabannya: Bandros.

Eh, bukannya Bandros itu nama makanan ya? Yang ada kelapa di dalamnya itu geuningan..

Hohoho.. Bandros yang ini beda. Singkatan dari Bandung Tour on The Bus. Sebuah bis wisata yang memperkenalkan Bandung, jadi tur singkat di Bandung.

Kenapa unik? Karena bentuk busnya 2 tingkat kayak bis di luar nagreg sana, eh luar negeri maksudnya. Program dari pemerintahan walikota Bandung yang terkenal seantero ibu-ibu #lhoo

Kalau turis rame ngomongin Bandros dan heboh naik bandros (termasuk temen-temen saya yang dari luar Bandung) apalagi pas awal launching, maka orang Bandung-nya sendiri belum tentu semua sudah naik Bandros. Saya salah satu yang belum pernah naik bandros waktu itu. Wkwkwk.

Kamis 17 September kemarin jadi hari pertama saya dan anak-anak naik Bandros. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga keinginan Danisy buat naik bis dua tingkat itu.

Lalu.. Apa sih yang menarik selain karena bisnya serasa bis keren? Selain merasakan sensasi baru naik bis tingkat dua, juga sekaligus merasakan naik bis terbuka. Tanpa jendela kaca sama sekali jadi seru.

Bermula dari rasa penasaran, malah jadi belajar banyak. Rupanya berkeliling dengan Bandros yang pool-nya di taman Cibeunying seperti melewati jalanan yang biasa saya lewati. Yap. Jalan-jalan yang sudah familiar sekali bagi saya. Tapi rupanya ada hal yang terlewat.

Hal terlewat itu adalah sejarah di balik tempat-tempat yang dilewati. Bahkan banyak yang “saya baru tahu”. Padahal setidaknya 3 tahun saya beraktifitas di sekitar area sana. Kuliah dan kerja ya seputaran taman Maluku. Mana jaman SMA dulu kalau olahraga, mesti di lapangan seberang aman sana.

Sedikit berbincang dengan pak Supir Bandros, -yang saya lupa namanya, padahal sudah kenalan. Heuheu-. Rute yang dilewati adalah rute yang memiliki sejarah. “Sok, neng. Dimana deui di Bandung nu seueur sejarahna salian ti daerah Dago?” iya juga ya. Jadi memang rekomen untuk teman-teman yang ingin tahu Bandung bukan sekadar F.O dan tempat wisata, tapi juga sejarahnya. Bandros yang kami naiki ini sebelumnya digunakan oleh turis asing dari Jepang. Hebat kan?

Rutenya (yang saya ingat): Taman Cibeunying-Gedung Sate-BIP-Tamblong-Masjid Agung (Alun-alun) terus belok kanan lewatin gedung POS-Braga-Jalan Sunda-Jalan Aceh-Jalan Banda-Balik lagi ke Cibeunying.

Fakta yang saya baru tahu itu:

  • Dago berasal dari “padagoa-dagoan” (saling menunggu) karena dulunya daerah Dago masih berupa leuweung (belantara) sementara pada pedagang yang akan ke pasar, ga berani berangkat sendiri sehingga dini hari mereka saling berjanji untuk berangkat bareng dan titik tunggunya ya di Dago itu.
  • Gereja depan Taman Vanda adalah gereja pertama di Bandung pas jaman VOC.
  • Ada mesin cetak pertama di kantor Pikiran Rakyat. Kirain itu cuma patung 😀
  • Di alun-alun, kantor OCBC sekarang dulunya ternyata adalah mol pertama di Bandung. Nama mol-nya masih tertera, mungkin sengaja ga diganti karena menjaga sejarah.
  • Gedung arsip itu yang seberang alun-alun
  • Bangunan mirip toko di seputar gedung POS dulunya adalah kandang kuda karena dulu kendaraan untuk mengirim surat masih menggunakan kuda.
  • Jalan Braga dari jaman dulu tempat jalan-jalannya orang VOC jadi memang sudah eksklusif dan bagus sejak lama.
  • Menuju daerah Embong-tamblong, disana tempat pembantaian tentara (TNI). Pokoknya yang berseragam, langsung tembak mati saat itu juga.
  • Di daerah seputar RSU Bungsu, dulunya adalah kandang kuda yang luaasss banget dan dimiliki oleh putra Betawi yang menjadi orang terkaya saat itu.
  • Ada rumah kentang
  • Ada 3 patung atlas di bagian atas gedung sebelah masjid Junudurrahman
  • Penjara Soekarno (yang masih dilestarikan hingga saat ini, tapi tempatnya memang nyempil)

Buat saya yang orang Bandung (dan ga gaul) itu sesuatu yang baru. Apalagi bagi para pengunjung dari luar kota ya. Kalau kami kemarin memang agak ekspres jadi beberapa tak sempat dengar, mungkin karena sudah sore ya. Kloter terakhir. Dan Tour Guide ada di atas, sementara saya di bawah dan speaker tidak terlalu terdengar jadi lebih seringnya ngobrol sama pak Supir aja 😀

Bea tiket kudu di-booking, ga bisa mendadak kecuali pas ada kursi kosong. Kemarin 25.000 per orang. Jadi pesan untuk 3: 1 saya, 2 bocah. Enaknya sih ada harga khusus untuk anak ya. Biar ga terlalu tinggi harganya. Heuheu..

Sejauh ini, Bandros recommended. Tinggal diperbaiki aja di bagian pengeras suara (karena sering ga terdengar jelas untuk penumpang di bawah. Ga tau kalau penumpang atas ya). Alhamdulillah pak Supirnya tahu betul sejarah Bandung, jadi teman perjalanan yang asyik ^_^

Segitu dulu ah catatannya.

Gedung Sate Bandung, diambil di atas Bandros. Pas lagi ada tamu :D
Gedung Sate Bandung, diambil di atas Bandros. Pas lagi ada tamu 😀
Bandros-bdg
Foto diambil dari http://tourbandung.com/
Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Coba-coba Beralih ke Menspad

Jaman semakin modern tapi gaya hidup dalam perhatian saya sedang kembali ke “alam”. Seperti kembali ke masa kehidupan jaman dahulu kala saat orang-orang tua kita serba memanfaatkan alam tanpa tergantung pada kebanyakan barang yang diproduksi. Termasuk dalam penggunaan popok kain yang kemudian merambat pada penggunaan pembalut dari kain.

Ingatan saya terlempar pada masa SMP. Kala itu teman perjalanan saya, saya menyebut demikian karena dia adalah teman yang selalu barengan saat berangkat dan pulang sekolah, dia bercerita bahwa dirinya tidak menggunakan pembalut sekali pakai. Alasan dia saat itu sederhana saja, karena tidak ada uang untuk membeli pembalut. Sehingga setiap kali haid, dia menggunakan sobekan kain sinjang (biasa digunakan untuk jarik atau gendongan) yang dilipat. Jika sudah sekian jam, ia ganti dan kain itu dicucinya.

Saya yang mendengar cerita itu sesaat merasa bingung. Musti rajin kalau begitu ya. Gimana kalau ga kering? Padahal kain sinjang sendiri mudah kering. Pernah juga dia bercerita tentang insiden yang cukup bikin saya nyengir. Ah, pikiran anak-anak sekali karena saat itu memang belum mengalami.

Teringat akan kisah itu, saat kemudian mengalami masa-masa haid, saya berpikir sebenarnya teman SMP saya –yang sekarang entah ada dimana- benar-benar rajin. Tak terbayang harus berganti sekian jam sekali, mencuci dan memakainya lagi. Sesaat saat berpikir, agak jijik juga.

Hingga saat saya memiliki anak, pertama kali saya berkenalan dengan popok kain modern (dikenal dengan clodi) di usia anak pertama menginjak 6 bulan. Meski anak pertama menggunakan popok tali tradisional di 3 bulan kelahirannya, tapi saat bepergian ia sudah mengenal popok sekali pakai (pospak). Alhamdulillah keluarga masih termasuk yang berpikiran “ga apa cucian popok banyak, kasihan kalau pakai pospak masih bayi”. Ya meskipun kemudian hukum itu tidak berlaku di anak kedua. Hehe

Orang yang tahu saya membeli clodi sebagian mengernyitkan dahi, “ih mahal banget”. Iya sih memang. Clodi saat itu mahal pake banget. Kalau sekarang mah sudah pada sering banting harga. Meskipun secara performa, harga tidak berbohong. Hoho..

Tapi selentingan macam itu ga terlalu saya pedulikan. Sama saja ketika saya memilih membeli pompa ASI, coolerbag dan botol kaca untuk stok ASI Perah si sulung agar tetap mendapat ASI kala saya tinggalkan untuk kuliah dan ketika saya harus ke luar kota untuk mengurusi sisa-sisa pekerjaan yang belum selesai.

Meski sudah mengenal clodi, tapi saya lupa kapan tepatnya pertama kali saya mendengar istilah pembalut kain (atau dikenal dengan menspad). Hanya saja seingat saya, menspad saya kenal ketika anak pertama berusia sekitar 1 tahun. Saat itu belum tertarik menggunakan menspad meski anak sudah menggunakan clodi dan merasakan sendiri hemat dan capek ber-clodi 😀 eh saya jujur lho. Capek karena kan cucian bertambah. Hehehe..

Ketika akan beralih dari pembalut sekali pakai ke menspad, saya ragu. Bagaimana kalau susah mencucinya? Kan itu noda darah. Ah nanti saja deh beralihnya. Dan qadarullah hamil anak kedua. Sayangnya saat nifas saya malah beralih pada pembalut herbal, memang nyaman juga.

Sampai akhirnya tahun ini memilih beralih setelah melirik produk jualan yang tidak pernah saya promokan karena belum difoto-foto. Hahaha.. Awalnya terpaksa, tapi setelah mencoba ternyata oke juga.

menspad anannda

Menspad Anannda menjadi menspad pertama yang saya pakai. Model menspad-nya sendiri beda dari menspad lain yang pernah saya temui. Jika menspad lain seperti pembalut dengan wing pada umumnya, maka menspad Anannda lebih mirip celana dalam dengan gesper karet di bagian pinggang.

Pun untuk segi ukuran, jika menspad lain ukuran reguler dan maxi disesuaikan dengan kemampuan menampung volume cairan, maka ukuran pada menspad Anannda lebih pada ukuran tubuh penggunanya. Sebenarnya ukuran ini disesuaikan dengan kemampuan menampung juga, tapi bagi saya akan lebih akurat jika disesuaikan dengan bobot tubuh pengguna.

Ribet? Iya banget ribet. Harus punya banyak menspad? Antara iya dan tidak. Tapi kalau punya banyak juga harga menspad tidak semahal clodi kok. Hehehe..

Ribet karena setelah ganti sebaiknya dicuci. Atau kalaupun tanggung, bisa direndam air saja lalu dicuci setelah menumpuk sekalian supaya memudahkan juga saat dikeringkan pada spinner mesin cuci. Jika tidak memiliki mesin cuci, memang lebih lama keringnya tapi dibanding insert clodi, menspad tetap lebih cepat kering.

Saya baru memegang bahan 2 merk menspad: Anannda dan GG. Dua-duanya memiliki bahan yang lembut dan hampir sama sehingga kemungkinan mencucinya pun sama mudah sehingga noda darah insyaallah bisa mudah hilang asal begitu ganti langsung direndam air. Jika noda sulit hilang, gunakan sabun batang atau sabun pencuci piring.

Hanya saja dari segi warna, GG lebih menarik. Bahan outer (yang menahan agar tak mudah tembus) memiliki warna-warna soft dan bagian dalam berwarna putih polos. Model mirip pembalut biasa tapi ada tambahan wing untuk dipasang pada celana dalam.

Menspad Anannda sendiri memiliki warna outer (dan ada yang motif) yang bisa dibilang agak norak. Tapi bagian dalamnya cenderung gelap sehingga noda darah tidak terlalu nampak.

menspad
Foto ini saya ambil dengan mode terbalik. Bagian inner yang berwarna merah, outer yang warna hitam. Karet elastisnya yg di atas itu, warna hitam

Bagi saya, ukuran maxi lebih enak digunakan sementara ukuran reguler jadinya ngepas banget. Jadi jika teman-teman ingin menggunakan menspad Anannda, saya sarankan konsul dulu sama penjualnya ya, bobot tubuh.

Saya sendiri owner Belanja Keluarga yang merupakan Agen produk Anannda. Hanya saja lebih sering menggunakan sistem PO produksi terutama untuk reseller. Antrian produksi biasanya 2 minggu setelah PO ditutup.

Sudah dulu ah catatannya. Yang pasti setelah berulang kali menggunakan menspad, masih nyaman dan sudah tidak mengeluarkan dana untuk membeli pembalut sekali pakai ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Selamatkan Kepiting dari Es!

#MDanisyFI memainkan penyelamatan kepiting dari es supaya ga kedinginan.

Dengan bantuan air garam, ulekan dan obeng, semua kepiting berhasil diselamatkan

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Berkreasi dengan Pasir Buatan

Pasir buatan..
Bisa belajar cetak-cetak sekaligus belajar percampuran warna.

pasir buatan

#MDanisyFI “meracik” pasir ini sendiri kecuali takaran tepung dan minyak. Anak-anak pasti suka

Dapet dari grup #Sabumi tapi takarannya ga ngikutin

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.