Evaluasi: Saling Terkoneksi

Pada dasarnya semua urat syaraf di tubuh kita saling bersambung. Ketika ada bagian tubuh keseleo, bisa jadi tempat sakitnya hanya representasi “akhir” dari kumpulan urat lain yang juga bermasalah.

Itu setidaknya pelajaran yang saya ambil pagi ini saat tukang urut datang. Saya sebagai penderita hanya memberitahukan kepada emak tukang pijat titik sakit yang saya rasakan sekaligus ngobrol tentang awal mula sampe bisa separah ini padahal hanya 1 hari saja dan saya yakin ga kepeleset sedikit pun.

Tapi sebagai orang yang lebih mengerti dan berpengalaman, ibu tukang urut menjelaskan bahwa mungkin ada bagian lain yang terkena dan sebenarnya keseleo hanya saja saya baru sadar setelah beberapa waktu (saat rasa sakit itu datang). Saya? Masih dengan sok-tau meyakinkan si ibu bahwa saya ga kepeleset.

Oke, setelah diurut.. wooww.. selain sakit, omongan si ibu terbukti. Saat diurut di bagian yang sakit memang sakit banget tapi belum ada kemajuan. Jalan masih tertatih, bangkit dari satu posisi aja masih meringis kesakitan.

Akhirnya si ibu mengurut bagian-bagian yang menurut beliau sangat berkoneksi. Saya baru sadar, ternyata bagian-bagian yang sebelumnya ga berasa apa-apa itu baru kerasa “sambungan sakit”nya. Setelah selesai diurut di semua “bagian lain”, alhamdulillah sudah bisa jalan lagi. Meski masih tersisa sakitnya, tapi ga separah kemarin dan tadi pagi.

Alhamdulillah. Nikmat Allah itu memang sering lalai kita syukuri. Semua bagian tubuh bekerja dengan baik tanpa kita minta padaNya. Baru ketika sakit melanda kita sadar dengan keberadaan bagian-bagian kecil yang tak terperhatikan itu. Banyak hal yang alfa kita syukuri. Termasuk perhatian seorang ayah dan kasih sayang seorang ibu yang pasti semestinya tidak perlu kita ragukan.

Oke, sebelum saya makin ngalor ngidul, kembali ke tujuan tulisan ini. Dari kejadian ini saya belajar bahwa,
Ada banyak hal kecil yang tidak kita perhatikan sehingga abai saat evaluasi sesuatu. Kita fokus ke kesalahan yang terjadi tanpa mencoba ngecek, mungkin kesalahan terjadi di alur lain yang berkaitan dengan ujung kesalahan tersebut. Istilahnya, kesalahan di hilir bisa jadi hanya “ujung” dari kesalahan di hulu atau di perjalanan hulu ke hilir.

Maka sebagai pribadi maupun usaha, ketika sedang melakukan evaluasi diri dan evaluasi bisnis, belajarlah untuk lebih peka dan memperluas penglihatan. Dengan demikian kita mampu mengevaluasi secara menyeluruh dan insyaallah jauh lebih baik lagi.

Jika kemudian kita merasa masalah tak kunjung reda, mintalah bantuan pihak luar karena biasanya mereka lebih mampu melihat secara objektif tentang permasalahan kita sehingga solusinya bisa jadi sangat sederhana. Tentu tetap ingat untuk meminta bantuan sang Maha yang Ilmunya Melingkupi Segala Sesuatu ๐Ÿ™‚

image
Little Miss Trouble = Masalah Kecil yang Terlewat ๐Ÿ˜€ *maksa

Bandung, akhir Desember usai meringis akibat diurut ๐Ÿ˜€
So, ketika baru terasa sakit jangan tunggu parah..

Esa Puspita
A Lovely Team Builder

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Evaluasi: Bersyukur Dulu

Pertengahan pekan lalu tiba-tiba terlintas tentang sebuah perenungan ketika berpapasan dengan penjual keliling. Mereka nampak biasa saja sebenarnya, tapi bagi saya, dengan jualan sebanyak itu pastilah tidak ringan.

Ketika kecil dulu, saya pernah merasakan bagaimana lelahnya berjualan keliling. Menjajakan makanan yang bahkan bagi saya saat itu mahal. Herannya, ada saja yang beli. Dan demi mengumpulkan uang, saya ga berani nyomot satupun dagangan saya meskipun mupeng berat. Hanya suka berharap saja ada sisa supaya bisa makan itu. Hihi. Penjual yang aneh ya ๐Ÿ˜€

Back to topic. Setiap kali berpapasan dengan para penjual keliling itu, setiap itu pula sering diingatkan: “kamu mah masih beruntung sa. Pergi keluar rumah buat nganterin barang ke ekspedisi. Barang yang sudah jelas terjual dan uangnya pun sudah masuk rekening.
Malah kadang ga perlu keluar rumah sama sekali karena pengiriman ke ekspedisi sudah ditangani oleh asisten. Barang jualan pun tinggal nunggu di rumah, bakal ada yang nganterin. Keluar untuk beli barang hanya sesekali saja saat belanja di supplier dalam kota.”

image

Ketika kita berbicara tentang kepercayaan terhadap rejeki yang sudah Allah siapkan, nampaknya para penjual “offline” itu lebih tinggi level percayanya. Mereka berjalan keliling kota menjajakan barang yang mereka bawa dengan terus berdoa agar jualannya laku banyak dan tawakkal terhadap rejeki yang pasti sudah Allah siapkan.

Maka ketika evaluasi pencapaian Aim Desain beberapa waktu lalu, hal pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur terlebih dahulu. Sudah lah dapet ilmunya secara gratis, didamping untuk laporan progress, kemudian diberikan kemudahan oleh Allah dalam mencapai target. Ditambah dengan pencapaian yang sudah mulai dapat diukur.

Pendapatan kami mungkin belum sebanyak teman-teman lainnya. Tapi bagi kami, pencapaian Aim Desain saat itu sudah cukup baik.

Maklum, selama ini kami jarang mengukur dengan lebih teliti mengenai capaian usaha kami. Jadi ketika pertama kalinya serius merencanakan berikut evaluasinya, kami dibuat takjub. Masyaallah, ternyata bisa!

Bagaimanapun, pencapaian tersebut naik 2x lipat dari pekan sebelumnya. Pencapaian yang saya sempat ragu: “bisa ga ya?”. Karena seringkali kami menuliskan target itu yang sekiranya bisa dicapai. Padahal seharusnya target adalah sesuatu yang maksimal bisa dicapai. Bukan minimal alias tidak pe-de kalau Allah Mahabesar dan Mahakaya. Mudah bagiNya memberikan apapun pada yang Ia kehendaki.

Evaluasi berikutnya baru disandarkan pada target yang ditetapkan. Memang masih 80% capaian, belum 100%. Disini kami mengevaluasi apa lagi yang perlu kami maksimalkan untuk mencapai target. Bagaimana langkah berikutnya, dan sudah sejauh mana serius memperbaiki diri, ibadah dan sedekahnya.

Maka saya belajar bahwa evaluasi bagi sebuah usaha (maupun capaian seseorang) baiknya selalu diawali dengan rasa syukur terlebih dahulu. Agar kita mampu berterima kasih untuk segala jenis capaian, entah capaian kecil maupun capaian besar.

Mensyukuri capaian membuat kita mampu tersenyum dan tidak menjadi orang yang kufur. Bukankah janji Allah itu pasti? Bahwa setiap yang bersyukur, akan ditambah nikmatnya. Nikmat bukan sekadar materi saja, tapi ketenangan hati, kekuatan bergerak, kenyamanan usaha, kesehatan dan masih banyak lagi. Meskipun tidak dilarang kita mengharapkan pencapaian yang lebih tinggi lagi.

Baru setelah bersyukur, kita cek lagi dari langkah yang kita catat. Mana saja yang belum dimaksimalkan. Kemudian gali ide, apa lagi yang dapat kita laksanakan. Maksimalkan semua sumber daya dan siapkan tampungan besar untuk rejeki yang lebih besar.
Caranya?
Siapkan hati, belajar delegasi. Bangun tim agar kita mampu memproduksi lebih banyak, mendesain lebih baik dan cepat, menyiapkan segalanya lebih hebat. Jadikan usaha rumahan ini menjadi perantara rejeki bagi yang lain. Insyaallah akan semakin besar tampungan dan semakin bertambah doa yang dipanjatkan, bukan hanya doa kita dan orang tua tapi juga para pekerja.

Bismillahirrahmanirrahim. Rabbi.. Mampukan kami untuk terus memperbaiki diri dan kehidupan kami, serta mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk hari nanti. Aamiin

Bandung, 29 Desember 2015
Esa Puspita
– a team builder to be, insyaallah

image

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Fun with TDA Camp Bandung

Masih bahas TDA Camp. Moga ga bosen ya. Maklum masih seneng inget-inget acara kemarin ๐Ÿ˜€

So, setelah sebelumnya bahas soal hari pertama TDA Camp Bandung, hari ini kita bahas hari kedua yang aduhai tak terbayangkan. Heuheu..

Sejujurnya ini jadi event camp pertama saya jadi maap kalo bahas banyak tentang camp semacam ini. Hehe..

Usai acara seharian sesi bersama coach Fauzi, malamnya setelah makan malam, kami diperkenalkan dengan TDA itu sendiri. Kang Ade Wahyudi sang Orson Kersen pemilik Naylakidz bercerita mengenai sejarah awal mula TDA berdiri hingga pertumbuhannya selama kurang lebih 9 tahun. Komunitas Bisnis yang luar biasa menurut saya. Utamanya TDA Bandung yang memang saya kenal terlebih dahulu secara langsung.
(Duh maap kang, ngasih panggilan seenaknya gegara sering baca cerita minum orson di bawah pohon kersen. Moga ga kualat. Hihi)

Setelah mengikuti jejak perjalanan TDA, kami diminta panitia untuk menyiapkan perform. Hmm.. apa lagi ini..

Rupanya ada acara “malam keakraban”. Setiap kelompok tampil, dan ada acara bakar-bakar. Tenang, ini bukan bakar-bakar gedung kok. Cuma bakar api cinta #eaaa
Sori sori. Bakar makanan. Ada sosis, jagung, ulen (a.k.a ketan), dan marshmallow.

Sayangnya karena jadi kelompok kedua yang “turun” ke lokasi justru menjadikan saya sadar kalau tempat acaranya tinggi banget. Maka ketika saya merasakan “eundeur” alias getaran saat ada di atas lokasi, langsung lari nyari tempat di pinggir yang saya yakin itu aspal dan ga mau balik lagi. Maap ya manteman kelompok 2 jadi ga gabung bareng pas kalian tampil. Aslina gemeteran.
maaf juga buat suami tercinta yang ujungnya direpotin untuk menenangkan dan bakarin sosis. Hehe.

Oke, back to cerita.

Selesai malam yang seru dengan adanya penampilan dari 10 grup plus dari sang MC kocak Deden Delicious (dan sesekali ditemani sang partner, Wildan Halwa) membuat acara semakin dirasa seru. Saatnya menuju penginapan untuk persiapan hari esok.

***
Pagi menggeliat membawa pemandangan yang begitu indah di penginapan Madani. Subhanallah. Takjub pada langit hijau, tosca dan biru berjajar. Ditambah awan yang bersih putihnya, dilengkapi dengan hijaunya hamparan lahan dan udara yang demikian segar. Sempurna!

image

Ibu-ibu udah pada ngumpul di aula. Nunggu sarapan belum ada instruksi. Nunggu coffee break belum ada. Maka untuk mengalihkan rasa lapar, mereka pun memilih selfie, foto-foto dan ngobrol tentunya ๐Ÿ˜€
Asa banyak foto tapi di kamera siapa aja ya? Heboh lah ibu-ibu kalo udah foto mah. Ga usah diragukan ๐Ÿ˜›

Akhirnya yang ditunggu dateng juga. Apa sih? Outbond?
Bukan. Hehe.. Nunggu makanan. Minimal coffee break. Maklum laper. Langsung diserbu deh.

Beres coffee break lanjut outbond. Baiklah siap yaa..
Sesi 1: pancoran, ojeg, lampu lalu lintas, bunga matahari dan sampan berhasil mengeliminasi peserta menjadi hanya tersisa 4 pemenang.

image
Tereliminasi

Sesi 2 mengajarkan strategi dan kerjasama. Ga nyangka bisa mindahin orang dari ujung ke ujung. Hoho..

Sesi berikutnya nih yang paling bikin ngabisin suara. Pelajaran sesi ini di kemampuan koordinasi dan tentu saja kerjasama dan kesepakatan kode.

Kayak gimana sih permainan sesi terakhir yang dianggap seru karena heboh bin kocak? Susah dijelaskan. Yang pasti game-game di sesi outbond kemarin berhasil membuat kami (saya khususnya) merasakan pegal di otot pipi karena ketawa-ketawa, menurunkan berat badan (semoga) dan jangan lupa, keringat. Hehe

Cek sebagian keseruannya di foto yang terlampir. Pasti mupeng ikut TDA Camp Bandung.
Peserta pada bilang “masih betah”. Kalo ibu-ibu gatau ya. Beneran betah apa modus #ups hihi..

Oh iyaaa lupaaa..
Banyak doorprize lho. Dan itu dari peserta juga. Disini salah satu keeratan persaudaraan dirasakan. Setiap orang pengen kontribusi. Minimal kasih doorprize ๐Ÿ˜€

Banyak hal yang sebenarnya bisa diceritakan, dan foto yang memperlihatkan keseruannya. Tapi berhubung bocah bangun minta makan, jadi mau masak dulu ya. Sampai ketemu di TDA Bandung. Update info bisa donlot aplikasi: TDA Bandung ^_^

Now we are officially registered member. Semoga bisa terus tumbuh dan berkontribusi ๐Ÿ™‚

image
Registered
Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

TDA Camp, Kalibrasi Kami

F ketemu orang
T kembali ke alam
Itu sedikit catatan saya tentang kalibrasi berdasarkan Mesin Kecerdasan dalam konsep STIFIn.

Saya yang seorang Feeling memang sebaiknya bertemu dengan banyak orang untuk semakin mengasah sikap feeling saya yang selama ini tidak saya lakukan karena berbagai alasan.

Sementara suami yang Mesin Kecerdasannya Thinking, kembali ke alam adalah jalan kalibrasinya.

Maka ketika di perjalanan menuju tempat TDA Camp dilaksanakan, ini jadi obrolan kami berdua. Acara ini menjadi kalibrasi untuk kami sekaligus.

Trus, ngomong-ngomong, apa sih kalibrasi itu? Sederhananya, ia semacam kegiatan untuk refreshing yang maksimal. Cara paling baik untuk meningkatkan semangat dan kinerja. Meng-nol-kan kembali rasa yang berantakan semasa kerja sehingga siap menghadapi next episode #hyaaa

Ya, meskipun semua kemungkinan besar akan sangat senang disodori pemandangan menakjubkan alam di Lembang sana. Dengan berbagai rangkaian kegiatan yang saya belum bisa bayangkan sama sekali.

Begitu sampai ke lokasi TDA Camp, sambutan hangat panitia membuat atmosfer persaudaraan di TDA Bandung begitu terasa. Memang ini bukan pertama kali saya bertemu mereka (terutama para ibu-ibu WWC) tapi atmosfer itu begitu terasa. Bahkan ketika bertemu dengan panitia laki-laki yang dapat dikenali dari pakaian seragam Pesta Wirausaha-nya, mereka ramah menyapa kami yang baru bergabung ini.

Layaknya camping, acara ini dibuat dengan konsep sederhana yang fun. Dengan tagline Live, Love, Learn dan Legacy, panitia TDA Camp Bandung berhasil mentransfer nilai-nilai dari tagline tersebut pada peserta.

3 sesi prinsip Self Leadership mengisi hari pertama TDA Camp Bandung sedari pagi hingga Sore. Sesi pertama tentang sebuah kata bernama integritas. Penyajian yang bagi saya tidak biasa. Jika kebanyakan penyaji langsung to the point bahas kemudian penjelasan, coach FR melakukan pendekatan interaktif.

Ada kejutan di tengah coffee break pagi usai sesi pertama, yang ternyata kemudian menggali hal mendalam di sesi berikutnya. Apakah itu? Kendali Diri.

Seringkali kita abai terhadap kemampuan kendali diri ini. Bersandar pada pihak luar dan enggan mengevaluasi diri. Benarkah ketidakmampuan kita mencapai sebuah target, mengerjakan sebuah tugas, menunaikan sebuah janji adalah murni keterbatasan yang melingkupi?

Rupanya kita lupa bahwa diri ini sejatinya memiliki kendali atas situasi. Dalam “simulasi” yang diberikan di saat coffee break tersebut, peserta diajak merenung. Kenapa tak satupun kelompok yang selesai mengerjakan tugas sesuai instruksi?

Hasil mencengangkan usai pengumpulan “alasan” kenapa belum mengerjakan tugas, dari 10 kelompok, hanya ada 1 kelompok saja yang menuliskan alasan yang tergolong kendali diri internal. Itupun hanya 1 poin dari 5 alasan yang dituliskan. Bayangkan. 5 alasan dikali 10 kelompok = 50 alasan. Dan hanya 1 saja yang masuk kendali internal.

Selesai sesi ini, ada kejutan lagi. Apakah itu? Cek foto yuuu
image

Ouw ouw.. kendali diri juga kah ini? ๐Ÿ˜€
Ada apa ya di balik foto ini? Coba nanti cek di TDA Camp Batch 3 aja deh.

Lanjuutt..

Sesi ketiga membuat hampir seisi ruangan haru. Ada rasa bercampur di situ. Coach FR menuntun setiap peserta untuk menemukan Visi Diri.

Lho, ini kan komunitas bisnis. Apa hubungan bisnis dan semua sesi di hari pertama itu? Ikutan TDA Camp berikutnya aja ya. Biar lebih jelas. Dan biar saya ga usah ngetik lagi. Tinggal  lanjut ke cerita hari kedua ๐Ÿ˜€

image
Now we are registered member ^^

=====
Tambahan aja:
Selain 2 Mesin Kecerdasan (MK) di atas, untuk MK lain saya coba catatkan disini ya kalibrasinya..
Intuiting: tidur atau nonton film yang unik, bisa juga film detektif dsb
Sensing: bergerak, berkeringat
Insting: Silaturahmi

Eh, emang apa bedanya ketemu orang sama silaturahmi? Silaturahmi lebih pada mendatangi, menyambung ikatan dengan mereka yang sudah kita kenal, sementara ketemu orang bisa bebas siapapun.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Perbedaan Switch, Hub dan Router Switch | Copas dari blog lama

*ish dulu segala dicatet di blog ya ๐Ÿ˜€
Switch merupakan suatu device pada jaringan yang secara konseptual berada pada layer 2 (Datalink Layer). Switch pada saat pengirimkan data mengikuti MAC address pada NIC (Network Interface Card) sehingga switch mengetahui kepada siapa paket ini akan diterima. Jika ada collision yang terjadi merupakan collision pada port-port yang sedang saling berkirim paket data misalnya ketika ada pengiriman paket data dari port A ke port B dan pada saat yang sama ada pengiriman paket data dari port C ke port D, maka tidak akan terjadi tabrakan (collision) karena alamat yang dituju berbeda dan tidak menggunakan jalur yang sama. Semakin banyak port yang tersedia pada switch, tidak akan mempengaruhi bandwidth yang tersedia untuk setiap port.

Ketika paket data dikirimkan melalui salah satu port pada switch, maka pengiriman paket data tersebut tidak akan terlihat dan tidak terkirim ke setiap port lainnya sehingga masing-masing port mempunyai bandwidth yang penuh. Hal ini menyebabkan kecepatan pentransferan data lebih terjamin.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa switch lebih baik daripada hub baik secara perbandingan konseptual maupun secara prinsip kerjanya yang dapat membuat terjadinya collosion.

Hub
Hub adalah sebuah perangkat jaringan komputer yang berfungsi untuk menghubungkan peralatan-peralatan dengan ethernet 10BaseT atau serat optik sehingga menjadikannya dalam satu segmen jaringan. Hub bekerja pada lapisan fisik (layer 1) pada model OSI.
Jika jumlah port yang tersedia tidak cukup untuk menghubungkan semua komputer yang akan dihubungkan ke dalam satu jaringan dapat digunakan beberapa hub yang dihubungkan secara up-link. Port yang tersedia biasanya sampai 8, 16, 24 atau lebih banyak sesuai kebutuhan. Untuk kecepatan, dapat digunakan HUB 10 atau Switch 10/100. Sebaiknya menggunakan 10/100 karena dapat digunakan untuk jaringan berkecepatan maksimal 10 atau 100. Hub ada yang mendukung penggunaan kabel coax yang mendukung topologi BUS dan UTP yang mendukung topologi STAR. Namun tipe terbaru cenderung hanya menyediakan dukungan untuk penggunaan kabel UTP.

Router
Alat yang bertugas untuk mengantarkan paket data dalam jaringan. Router dapat digunakan jika tersambung paling tidak dengan dua jaringan yang berbeda sehingga pengaturan tersebut membutuhkan sebuah router. Router berada di sisi gateway sebuah tempat dimana dua jaringan LAN atau lebih disambungkan. Router menggunakan HEADERS dan daftar tabel pengantar (Forwarding Table) untuk menentukan posisi yang terbaik untuk mengantarkan sebuah paket jaringan dan juga menggunakan protokol seperti ICMP, HTTP untuk berkomunikasi dengan LAN lainnya dengan konfigurasi terbaik untuk jalur antar dua host manapun.
Switch, Hub dan Router pada Layer OSI
๏ƒผ Router bekerja pada layer 3 OSI (network)
๏ƒผ Switch bekerja pada layer 2 OSI (datalink)
๏ƒผ Hub bekerja pada layer 1 OSI (fisik)
Switch juga dapat bekerja pada layer 3 OSI tergantung pada referensi OSI Model yang dipergunakan.
Dilihat secara fungsi antara hub dan switch ada persamaan yaitu sama mengantarkan paket data dari sumber ke tujuan dalam jaringan komputer. Akan tetapi kalau dilihat secara konseptual masing-masing mempunyai kemampuan yang berbeda baik dari segi kecepatan maupun dari sisi sitem kerjanya.
Di dalam hub tidak ada proses apa-apa dalam menangani traffic jaringan. Hub hanya mengulang sinyal yang masuk ke seluruh port yang ada pada hub tersebut. Berbeda dengan switch, di dalam switch setiap port berfungsi juga sebagai suatu bridge. Jika suatu port terhubung dengan suatu device maka secara prinsipal setiap device akan bersifat independen terhadap device lainnya.
Hub mempunyai kelemahan yaitu akan terus mengulang-ulang sinyal yang berupa paket data ke semua arah (jalur yang ada) walaupun sebenarnya paket data tersebut sudah diterima oleh komputer tujuan. Hal ini akan menyebabkan frekwensi collision lebih sering terjadi.
Transfer data switch lebih cepat daripada hub karena switch langsung mengirim paket data ke komputer โ€จtujuan, tidak mengirim ke seluruh port yang ada (broadcast) sehingga bandwidth yang ada pada switch dapat digunakan secara penuh.
Perbedaan lainnya lagi adalah bahwa 10/100 ethernet hub hanya bekerja secara half-duplex, yang berarti sebuah device hanya dapat mengirim atau menerima data pada suatu waktu tertentu. Switch mampu bekerja secara full-duplex yang artinya mampu menerima dan mengirimkan data pada saat yang bersamaan.
Perbedaan mendasar antara switch versus router adalah router menggunakan metode โ€™store and forwardโ€™. Sedangkan switch bekerja dengan cara on the fly switching. Router mengambil seluruh paket sebelum paket tersebut diteruskan ke tujuan. Metode store and forward membawa seluruh frame data ke dalam peralatan, yang kemudian di-buffer untuk dalam sebuah satuan waktu. Akan lebih jelas jika kita memperhatikan TCP/IP layers, seluruh frame header akan melewati layer data link kemudian dibawa ke layer di atasnya yaitu network layer untuk diketahui tipe dari frame-nya. Baru kemudian diteruskan ke alamat network yang dituju melalui data link layer kemabli. Proses ini berlaku untuk seluruh frame yang melintas di router. Sedangkan switch hanya mengambil 20 byte pertama dari sebuah frame. Karena switch tidak mengambil seluruh frame, namun hanya pada alamat tujuan (destination address) sebelum meneruskan frame tersebut ke alamat tujuan, maka network latency atau jeda (delay) yang terjadi akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan router.

image

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

While dan Do While Pada Javascript | Rewrite dari blog lama

#EdisiNostalgia #BukabukaBlogLama

Javascript setelah belajar ternyata hampir sama struktur bahasanya dengan Pascal. Meski PHP dan bahasa lainnya juga pada dasarnya sama. Cuma dalam hal penulisan, JavaScript lebih memiliki kemiripan dengan Pascal. Jadi buat temen-temen yang pernah belajar Pascal trus mau belajar JavaScript, ga usah khawatir karena dasar-dasarnya hampir serupa dengan Pascal. Setelah ini, JavaScript sy singkat jadi JS ya.

Nah, kali ini tulisannya langsung membahas tentang looping alias perulangan, karena sa emang belajar baru sampe sana. Alhamdulillรขh sudah sampe looping. Menarik karena kalau di Pascal while itu cuma satu, klo di JS perulangan dengan while ini ada dua, pertama while aja yang kedua do while. Dari segi sintaks tak jauh beda, let’s take a look to the syntax below.

While: Outputnya adalah angka 0-10 secara berurutan ke bawah.

<html>
<body>
<script type="text/javascript">
var i=0
while (i<=10)
{
document.write("Angkanya adalah " + i)
document.write("<br />")
i=i+1
}
</script>
</body>
</html>

Do While

<html>
<body>
<script type="text/javascript">
var i=0
do
{
document.write("Angkanya adalah " + i)
document.write("<br />")
i=i+1
}
while (i<0)
</script>
</body>
</html>

Dalam sintaks di atas, while itu cukup keras dalam hal result. While hanya akan menghasilkan sebuah output alias dieksekusi kodenya ketika kondisinya TRUE. Sedangkan do while akan mengeksekusi kode meski hanya SEKALI meskipun kondisinya FALSE karena kondisi tersebut dieksekusi terlebih dahulu sebelum dites dengan “kode syarat”nya itu.

Coba aja tes kode pertama (yang While) dengan syarat i = 1 seperti pada Do While, kita coba tuliskan kembali disini,

<html>
<body>
<script type="text/javascript">
var i=0
while (i=0)
{
document.write("Angkanya adalah " + i)
document.write("<br />")
i=i+1
}
</script>
</body>
</html>

Nah, ketika dieksekusi maka layar di browser temen-temen ga akan ada yang ditampilkan alias blank (kosong). Berbeda dengan sintaks kedua yang menggunakan do while, maka akan muncul “Angkanya adalah 0” (tanpa tanda kutip).

ย 

image

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pendamping Mimpi

Belajar bisa kapanpun dimanapun melalui media apapun. Dengan adanya teknologi yang semakin berkembang, tak ada lagi batasan.

Kita bisa belajar hal-hal yang ingin kita pelajari. Kemudian membuat catatan mimpi, target dan rincian beserta segala pemandu pencapaian yang ingin kita gapai.

Tapi..

Terkadang karena tanpa batas itulah kita menjadi jumawa. Bahkan sesekali kehilangan makna dari sesuatu yang nyata. Menggeser peran menjadi buram.

Ketika sukses sulit dicapai. Ketika setiap pelajaran rasanya tak sampai di titik tertinggi yang diharapkan. Kita mungkin perlu melihat sisi yang sudah tak lagi kita perhatikan.

Benarkah?
Anda boleh tidak setuju.

Kita butuh kehadiran sosok yang bisa mengingatkan atau bahkan menceramahi kita. Menanyakan sudah sejauh mana progress yang kita jalani. Sudah sekuat apa upaya kita. Membantu mengarahkan langkah saat pikiran tak tentu arah.

Kehadiran guru yang menjadi mentor baik di bidang pendidikan maupun usaha adalah sebuah keharusan. Ini yang kemudian disadari, langkah inilah yang kurang setelah segala cara dicoba.

Bahkan Edmund Hillary pun ditemani Tenzing Norgay dalam upayanya menaklukkan Everest. Tenzing merupakan orang yang lebih paham medan dan menunjukkan jalur pendakian Edmund.

Maka untuk mencapai puncak sukses, kita pun butuh kehadiran sosok Tenzing yang menemani, mengingatkan, menunjukkan, membantu, dan ia lebih paham medan yang sedang kita coba taklukkan.

Hingga akhirnya kita bisa bersama menikmati puncak di ketinggian dengan tetap rendah hati ๐Ÿ™‚

=====
Esa Puspita
Fe
Team Builder
Lovely Mom of Danisy & Azam
http://esapuspita.com
IG: esapg
Founder http://telegram.me/KOBer

=================
Through the FUN WAY to BUILD YOUR SUCCESS with PeDeCafe Community.
Stay Tune terus update informasi kami di

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.