scrapbook facebook

Menambahkan Buku Tempel Anak di Facebook – Pengganti Album dan Akun Anak

Beberapa waktu lalu pernah ada tawaran fitur Buku Tempel Anak dari Facebook. Sebelumnya ga ngerti itu apa, ternyata memang semacam fasilitas dari Facebook untuk membuat “akun” anak tanpa membuat “data palsu” (sebab aturannya kan ada usia minimum untuk gabung di Facebook).

Nah, ternyata Buku Tempel ini berguna sekali. Bagi saya pribadi, Buku Tempel bisa bikin album otomatis untuk setiap foto yang di-tag ke anak, dan bisa mention namanya di status.

Sayangnya, waktu itu ternyata yang berhasil dibuat Buku Tempel-nya cuma Danisy aja. Azam belum. Bingung kan gimana bikinnya karena dulu mah ditawarin, tinggal next-next aja.

Baru pagi ini iseng nyari tahu tentang membuat buku tempel Facebook ini. Dan ketemu tutorialnya di laman bantuan Facebook. Jadi jika mau bikin, silakan mampir Help Centre Facebook ya.

Tapi disini saya akan tuliskan juga cara menambahkan buku tempel anak di Facebook karena memang untuk itulah tulisan ini dibuat. Hehe. Cara berikut khusus untuk yang sudah punya daftar nama anak dulu ya, dan menggunakan aplikasi facebook (mobile). Karena ini kejadiannya di saya.

  1. Buka profil Facebook anda. Tap bagian “Perbarui Informasi”
    menambahkan buku tempel anak di facebook pengganti album dan akun anak
  2. Di bagian “Tentang” tap bagian “Lainnya”
    menambahkan buku tempel di facebook kita
  3. Cek daftar keluarga di bagian bawah, nanti ada daftar nama anak.
    daftar-nama-anak
  4. Tap segitiga ke bawah di bagian nama anak yang akan ditambahkan buku tempelnya. Nanti akan muncul opsi “Tambahkan Buku Tempel”
    tambahkan-buku-tempel
  5. Jika anda dan suami/pasangan sudah terhubung di Facebook, maka akan secara otomatis ada konfirmasi: apakah pasangan anda akan ditandai juga? Silahkan pilih on atau off.
    tandai-pasangan-di-buku-tempel
  6. Buku Tempel Azam sudah selesai ^_^
    buku-tempel-udah-jadi

Nah, bagaimana jika belum punya daftar nama anak? Tenang, ada cara gampang kok. Tapi kali ini gambarnya sedikit berbeda. Saya menggunakan facebook di laptop sehingga bukan tampilan mobile.

Bagaimana caranya? Ayok simak gambar-gambar berikut.

  1. Masuk ke Profil >> Tentang. Tap bagian “Keluarga dan Hubungan”. Saya langsung memilih “Putra” alias anak laki-laki, baru mengisikan nama anak. Anda akan diminta mengisi tanggal lahir anak dan bisa langsung centang kotak “Tambahkan Buku Tempel”. Jika selesai, tekan tombol “Simpan Perubahan”
    tambahkan-anak
  2. Anda lalu akan dibawa pada halaman Buku Tempel. Tekan tombol “Mulai”
    buku-tempel
  3. Karena di akun ini tidak ada akun terhubung sebagai pasangan, maka otomatis akan muncul bahwa hanya menandai diri sendiri. Tekan tombol “Buat Buku Tempel”.
    penanda-buku-tempel
  4. Buku tempel anak sudah jadiii. Tinggal tag-tag deh foto anak-anak
    buku-tempel-done
  5. Di bagian kanan atas gambar Buku Tempel Danisy, ada tombol “+Buat Buku Tempel”, ini berfungsi untuk menambahkan buku tempel jika anak anda lebih dari satu. Saya coba menambahkan untuk Azam.
    tambah-anak-dan-buku-tempel
  6. Isikan nama atau panggilan anak, lalu pilih hubungan
    azamSetelah itu, langkahnya akan sama seperti Buku Tempel pertama yang anda buat untuk anak pertama.

Fungsinya apa sih buku tempel ini?

  • Album per anak secara otomatis, cukup dengan upload 1 foto, tag ke anak-anak, mereka akan punya album foto sendiri.
  • Bisa mention nama anak di status, seolah mereka memiliki akun sendiri

Tanya jawab seputar Buku Tempel Anak di Facebook bisa dicek di laman bantuan Facebook disini. Dalam bahasa Inggris ini disebut scrapbook.

Selamat mencoba.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.
Membiasakan pelukan 20 detik dalam keseharian

Membiasakan Pelukan 20 Detik Dalam Keseharian

Pernah dengar istilah pelukan 20 detik? Saya sendiri pernah mendengarnya dari pak Ridwan Kamil tentang tips anti stres beliau. Tips yang juga diterapkan pada putra-putri beliau sehingga terbangun ikatan yang nyaman.

Saya merasa takjub lalu mencoba menerapkan metode pelukan dalam 20 detik itu dengan menghitungnya. Ya. Menghitung 1-20. Haha. Kalo inget kejadian itu rasanya lucu sendiri. Apalagi kalo anaknya udah ga mau dipeluk.

Danisy kala itu sudah mulai ga mau dipeluk, beda dengan Azam yang memang cenderung masih seneng manja-manjaan nempel sama ummi. Meskipun sebenarnya pada anak Sensing biasanya memang seneng manja-manjaan. Danisy masih manja dalam beberapa situasi. Tapi untuk dipeluk, kadang emang emaknya juga ga lihat-lihat sikon ­čśÇ

Beberapa waktu lalu saat Azam mulai terbiasa shalat berjamaah dengan ummi di rumah, ternyata menerapkan pelukan selama 20 detik itu nampaknya begitu mudah. Tanpa perlu berhitung sama sekali!

Bagaimana Melakukan Pelukan 20 Detik tanpa Berhitung Sama Sekali?

Seusai shalat berjamaah, saya menyodorkan tangan untuk memudahkan Azam mencium punggung tangan. Setelah itu lanjut saya tarik badannya dan peluk dia. Azam sih seneng dipeluk begitu. Kebiasaan yang tanpa direncanakan itu kemudian menular pula pada Danisy saat shalat berjamaah dengan ummi.

Maka hingga saat ini, setiap kali kami shalat bersama, mereka akan otomatis berbalik menghadap ummi, sun tangan lalu saling berpelukan. Beberapa saat kemudian, ummi ucapkan bisikan doa di telinga mereka seraya tetap saling berpelukan:
  • Rabbi habli minash-shalihin
  • Rabbij’alni muqimash shalati wa min dzurriyyati
  • Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama

Lalu mencium kening mereka dan dilanjutkan dengan mengucap: “Barakallahu fik”, seraya tetap berpelukan beberapa saat sebagai pelukan penutup.

Sepertinya sih ada 20 detik ya ­čśÇ (ga ngitung soalnya)
Membiasakan pelukan 20 detik dalam keseharian

Selain┬ápelukan rutin bada shalat, kami juga terbiasa berpelukan┬ádalam beberapa aktifitas yang membuat kami terpisah. Misal ketika akan sekolah, maka saya akan memeluk Danisy, mencium keningnya dan menitipkan doa “barakallah fik”. Jika waktu lebih luang, diperpanjang dengan reminder “jaga adab terhadap ilmu, terhadap guru dan┬áteman. Baik-baik ya di sekolah.”

Pun ketika berpamitan akan meninggalkan anak-anak karena beberapa kegiatan, saya akan memeluk mereka lalu pamit dan “baik-baik sama abah dan ambu ya” (panggilan untuk kakek nenek anak-anak), titip dede, dede baik-baik sama aa. Begitu seterusnya hingga anak-anak semoga selalu nyaman dengan pelukan yang insyaallah tetap dijaga sesuai umur dan syariat.

Apa manfaat pelukan 20 detik itu bagi kita?

Dari beberapa sumber yang saya baca mengenai manfaat berpelukan, ternyata pelukan 20 detik Ridwan Kamil ini memiliki banyak manfaat. Semacam terapi murah dan mudah dalam keseharian kita.

  1. Berpelukan dapat membantu mengubah suasana hati
  2. Hormon oksitosin si hormon cinta penyebab rileks dapat diproduksi saat berpelukan
  3. Berpelukan membantu menurunkan tekanan darah
  4. Keselarasan tubuh dan pikiran karena berpelukan
  5. Membangun hubungan yang hangat
  6. Menurunkan tingkat stres
  7. Membantu meningkatkan kesabaran
  8. Manfaat timbal balik
  9. Meningkatkan harga diri (menjadi lebih percaya diri)
  10. Memupuk perasaan aman dan nyaman
  11. Anak yang sering dipeluk dapat lebih baik dalam manajemen stres

Manfaat Pelukan 20 Detik Bagi Pertumbuhan Seorang Anak

Terutama pada anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, pelukan ini ibarat keajaiban yang tak bisa tergantikan. Anak setidaknya butuh 12 pelukan per hari agar kelak ia tumbuh menjadi seorang individu yang kokoh, percaya diri mengeluarkan gagasan, dan pribadi yang berani.

Sebuah pelukan secara tersirat mengatakan “ayah/ibu peduli padamu. Kamu adalah belahan hati kami, dan kami akan selalu ada di sampingmu sebagai orang yang dapat kau percayai.” Semakin sering pelukan dilakukan, semakin anak merasa percaya pada diri dan orang tuanya. Dan sebagai orang tua, tentu ini semakin mempermudah untuk kita tetap dekat dengan anak.

manfaat pelukan 20 detik

Di jaman peralihan saat ini kita seringkali lupa akan kebutuhan dan efek dari gerakan kecil. Meskipuns saya akui, sebagai orang tua terkadang lebih mudah mengekspresikan kemarahan daripada cinta itu sendiri. Dengan dalih “ummi marahin kamu karena sayang” kadang kita terjebak pada┬ákesalahan tindakan: fokus pada segala sesuatu kesalahan anak atau ketidaknyamanan yang diciptakan oleh sang anak lalu mengkoreksinya. Menegurnya karena berbagai tugas yang diminta (atau disuruh) tidak dilaksanakan dan lupa memberi apresiasi pada anak atas kebaikan (dan pemenuhan tugas) yang ia lakukan.

Maka pelukan adalah sebuah kegiatan “gerakan kecil” yang dapat berdampak sangat luar biasa. Sebab pelukan mengatakan bahwa kita mencintai mereka tanpa syarat dan dengan sepenuh hati.

Tidak terbiasa memeluk? Ini saatnya memulai! Saat mengawali hari dan menjelang tidur misalnya, kita jadikan rutinitas harian untuk meluangkan waktu hanya 20 detik untuk memeluk mereka. Sederhana bukan?

7 Alasan kenapa pelukan 20 detik itu penting!

  1. Semua orang suka pelukan. Meski tidak terbiasa dipeluk sekalipun.
    Pada anak (dan pasangan), pelukan dapat menambah bonding hubungan semakin erat. Tidak ada batas usia. Bahkan memeluk anak yang sudah menikah atau memeluk orang tua jika kita sudah menikah adalah sebuah kegiatan yang perlu dicanangkan.
  2. Berbagai studi membuktikan bahwa sentuhan manusia dapat menyembuhkan dan meningkatkan kualitas hidup seseorang.
  3. Sentuhan orang tua sangat penting dan mendasar untuk tumbuh kembang manusia secara menyeluruh. Bayi yang mendapatkan sentuhan baik misalnya berupa pijatan oleh orang tuanya adalah seseorang yang kelak akan lebih mampu beradaptasi pada situasi tak mengenakkan dan merasa aman.
  4. Berpelukan menyehatkan tubuh, pikiran dan jiwa. Pastikan berpelukan dengan yang mahram ya. Hehe
  5. Pelukan dapat meningkatkan rasa penghargaan terhadap diri dan membawa pesan yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.
  6. Alamiah. Kontak fisik membuat kita merasa dicintai, nyaman, menghilangkan rasa khawatir pada diri (karena munculnya hormon oksitosin tadi), dan menguatkan bonding.
  7. Atmosfer saat memeluk menjadi kebiasaan adalah bahwa anda merupakan orang tua yang mudah digapai (tidak berjarak dengan anak) dan memiliki empati.

Hal lain dalam pelukan 20 detik yang dapat orang tua lakukan

  1. Jika anda terbiasa menyapa anak di pagi hari, cobalah menambah aktifitas memeluk anak. Ucapkan selamat pagi lalu peluk sang anak dengan hangat.
  2. Menjelang tidur, peluk dan ciumi mereka lalu temani baca doa sebelum tidur.
  3. Ketika anak memperoleh prestasi atau melakukan kebaikan, peluk, doakan, dan katakan bahwa anda bangga padanya.
  4. Usai anak membantu anda, tidak ada salahnya jika mengucapkan terima kasih seraya memeluknya. Lalu doakan kebaikannya, minimal dengan ucapan “barakallah fik” agar kehidupannya senantiasa dipenuhi keberkahan.
  5. Saat anak tantrum, bete, menyulut sumbu amarah ibu atau ayah, peluklah ia dan ajak agar ia lebih tenang. Ajarkan agar ia mengutarakan kebutuhan atau ide dan hal lainnya dengan cara yang baik.
  6. Saat anak di-bully, down, atau dalam situasi sulit, pelukan dapat membuat dia bangkit secara perlahan.
  7. Ketika ia menyelesaikan kewajibannya, apresiasilah dengan memeluk dan ucapan bangga bahwa ia adalah anak yang baik dan shalih. Mungkin bisa ditambah ucapan: Semoga Allah ridha dan engkau pun ridha pada-Nya.
pelukan 20 detik
Kalo pendapat teman-teman bagaimana? Yuk bagikan tips dan masukannya. Siapa tau jadi inspirasi untuk para ibu yang lain ^_^
Salam hangat dari Bandung.
Esa Puspita
Edufamily Learner
Licensed STIFIn Promotor
#CatatanEsa #CatatanBersamaAnak #EsaMenyapaPagi
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.
kadang yang asli itu pahit

Kadang yang Asli itu Pahit!

Beberapa waktu lalu ada surprise kecil dari suami. Sepaket makanan yang pernah terbersit saja ingin menikmatinya tapi sudah lama tidak menyengajakan mampir sebab memang anak-anak tidak terlalu suka dengan menu yang ditawarkan.
Sampailah saya pada momen dimana minuman yang dibawa dibuka dan coba dinikmati. Begitu sampe mulut, waaaawww pahit ­čśÇ
Pengalaman pahit ini (jyaaa) kemudian saya bagi di grup. Ya istilah kerennya mah curhat. Wehehe.
Ditimpali sama temen-temen di grup. “Iya itu namanya Ocha teh”. Wah wah. Familiar sama nama itu? Saya sih familiar. Sebuah produk di dalam sebuah iklan 😂
kadang yang asli itu pahit
Kritikan ibarat teh hijau murni. Pahit tapi menyehatkan.
Saya sendiri pernah mencoba produk bernama belakang ocha itu. Cuma ya kan ga ngerti aslinya ocha itu apa. Ternyata sejenis teh hijau.
Akhirnya si air hijau yang menurut temanku itu adalah ocha, jadi terpikir. Kadang produk “modifikasi” itu memang enak di lidah. Tapi ternyata “produk asli”nya pahit, tidak nyaman di lidah tapi insyaallah cukup baik untuk badan.
Dalam kehidupan kita secara umum pun hal-hal seperti itu terjadi. Beberapa hal atau produk dimodifikasi agar sesuai selera dan sesuai kebutuhan. Sayangnya kemudian kita tidak siap akan pahitnya rasa asli.
Menghadapi kritik misalnya, mirip seperti menikmati ocha. Pahit meski disajikan dengan sangat menarik sekalipun. Lalu kita yang tidak terbiasa akan lebih memilih terbuai dengan modifikasi dan lebih senang menikmati pujian semu atau kritik yang disajikan dengan “gula” pemanis buatan penyebab manis sesaat. Manis di lidah tapi tak terlalu baik untuk dicerna.
Ocha asli harganya justru lebih mahal dibandingkan ocha modifikasi yang diproduksi secara massal. Tak semua orang siap dengan pahit dan harga yang harus dibayar. Padahal penyaji ocha profesional pun tidak bisa sembarangan menyajikan karena adanya cara khas penyajian dengan ocha terbaik pilihan agar rasa yang didapat adalah tepat.
Sehingga untuk mendapatkan kritik yang berbobot atas diri kita pun terkadang membutuhkan uang yang tak sedikit. Coaching, misalnya. Biaya yang dikeluarkan bisa membuat kita mengernyitkan dahi. Tapi memang kemudian dapat membuat kita memperoleh “rasa” yang “tepat” untuk berkembang dan semakin baik setiap harinya.
Maka, mari kita nikmati ocha yang sudah dibelikan oleh suami. Dan sesekali boleh lah menikmati ocha modifikasi 😁
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Inspirasi Sambal Oncom

Tiba-tiba saja terpikir judul inspirasi sambal oncom gara-gara obrolan ringan di sela sarapan pagi ini.

Sumber: google.co.id

Suami: “kenapa ya, oncom, tempe busuk yang rasanya pahit bisa jadi seenak ini. Ada pelajaran yang bisa diambil ga?”

Saya: “nggak tahu. Lagi ga bisa mikir. Eh lagi ga mau mikir tepatnya. Lagian tempe sama oncom kan dari ragi, ya wajar dong nunggu fermentasi. Bukan busuk. Dan bakteri yang dipakenya beda. Jadi oncom bukan tempe busuk.” jawab saya sekenanya. *note: oncom ternyata bukan pake bakteri ya manteman, tapi pake jamur. Ya jamur. Hehehe..

Suami: “iya tau. Tapi maksud Aa, di balik sambel oncom yang enak ini ada pelajaran apa?”

Saya: “biologi” aduh kalo inget jawabanku itu ya ampun rasanya 😂

Suami: “bukan itu. Itu mah jawaban anak sekolah”

Saya: “ya lagian udah dibilang lagi males mikir. Mau fokus makan dulu. Nanti aja atuh ngobrolinnya” cuma ya gitu deh orang Thinking mah kalo dapet inspirasi dicecer terus.

Suami: “pelajaran yang bisa diambil dalam kehidupan kita dari oncom. Meskipun dia pahit, tapi bisa seenak ini. Kayak nasi sudah jadi bubur. Menurut ade apa pelajarannya yang bisa diambil?”

Saya: “ya.. menurut Aa apa?” *kok ga kepikir dari tadi ya ngomong kayak gitu 😁

Suami lalu bercerita tentang hikmah kehidupan dari makanan bernama sambel oncom.

Sumber: bisikan.com

Oncom yang pahit itu ibarat takdir kita yang dirasa tak nyaman. Seringkali kita menganggap takdir itu membawa kita pada kondisi yang sama sekali tidak diharapkan. Yang perlu dilakukan agar kita dapat menerima bahkan menikmatinya adalah dengan mengolahnya. Begitu pula dengan emosi negatif, yang perlu kita laksanakan agar menjadi enak ya dengan mengolah emosi itu.

Nasihat ini dikhususkan untuk saya yang Feeling, orang yang kekuatannya di hati sekaligus menjadi kelemahan yang harus selalu diolah agar senantiasa kuat melewati terombang-ambingya perasaan. Tapi secara umum dapat diterapkan pada siapapun, terutama para ibu, perempuan, yang hatinya lebih sensitif jika dibandingkan lelaki.

Mengelola perasaan bukanlah hal mudah jika tidak tahu ilmunya. Sudah tahu ilmunya saja, seringkali kita kesulitan meredamnya saat memuncak kekesalan dan amarah.

Hal yang saya pribadi coba terapkan adalah berdoa selepas shubuh agar diberi hati yang ridho pada apapun ketentuan Allah dan memohon agar Ia pun ridho dan menemani sepanjang hari. Berharap dengan begitu, mudah untuk hati menerima setiap ketentuan takdir yang Ia tetapkan hari itu. Apakah itu hujan yang turun di kala baru saja selesai menjemur, pakaian yang tidak kering karena matahari tertutup awan mendung, atau sekadar bete karena suami ga sempat membawakan makanan kala di rumah tak ada apapun dan tak memegang uang sepeser pun.

Dan iya, itu berlaku. Signifikan. Setidaknya ketika ada rasa kesal menyelinap atas sesuatu yang terjadi hari itu, Allah ingatkan lagi kalo kita pernah meminta supaya diberikan kemampuan untuk ridho atas semua ketentuan.

Jelas kan. Ketika kita minta agar ridho, ada ujian untuk memastikan lulus di bab ridho. Setidaknya untuk hari itu. Selanjutnya, terus minta pada Allah agar ditemani. Supaya meskipun kita dapet oncom, bisa tetap diolah jadi makanan lezat ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mengajarkan Anak Makan Dengan Sumpit

Ketika sampai di rumah, kami mendapati bungkusan dari sebuah restoran fast food. Makanan yang tersaji dari resto yang khas menjual makanan Jepang ini langsung saya buka. Ada 2 bento untuk anak dan 1 porsi yang sepertinya diperuntukkan bagi saya #geer

Tumben nih suami bawain makanan macam itu. Karena kami sendiri belum pernah makan disana sekeluarga sebab anak-anak jarang memilih tempat tersebut. Sepertinya habis janjian dengan klien dan melihat bento kids-nya ada hadiah jam tangan kodok maka beliau tertarik memesan dan membawa pulang ke rumah.

Bagi anak yang terbiasa makan dengan menggunakan sendok, garpu atau tangan kosong ternyata agak sulit belajar makan pake sumpit. Hihi. Saat Danisy melihat saya asyik makan pake sumpit, dia takjub “ih ummi kok bisa?” Bisa dong, jawab saya pede.

Ternyata dia tertarik belajar. Alhasil saya coba ajarkan dia makan dengan sumpit. Sekali coba, ga bisa. 2x coba, bisa tapi sedikit yang bisa diambil. Sampai kemudian dia bisa makan agak banyak tapi berujung dengan sumpitnya dijadikan colokan macam makan bakso tusuk ­čśÇ

Saya mengajarkan dengan gaya yang saya tahu.

  1. Tahan sumpit dengan menggunakan telunjuk dan jempol (ibu jari)
  2. Gerakkan sumpit menggunakan telunjuk dengan tetap bertumpu pada telunjuk dan jempol 
  3. Jari tengah menahan salah satu sumpit 

Nah, setelah mencari di internet ada beberapa gambar yang bisa dicoba juga sebagai referensi baik untuk anak maupun dewasa yang belum bisa makan menggunakan sumpit.

Saya ga kayak gitu megangnya. Huhu. Tapi ada mirip-miripnya lah ­čśÇ

Mungkin semacam perbedaan madzhab. Cara megang pensil aja beda-beda, wajar dong kalo ada gaya megang sumpit yang berbeda juga antara satu dan lainnya. Hehe..

Kalau lihat gambar berikut, jadi inget gayanya Danisy. Setelah beberapa kali nyoba dia kemudian menggunakan caranya sendiri yang ya ternyata ada di gambar #eh

Coba bandingkan dengan foto ini:

Ish ish beda ding. Salah juga. Haha..

Tapi intinya, akan selalu ada awal untuk belajar sesuatu yang baru. Kesulitan beradaptasi dengan gaya yang berbeda adalah wajar selama masih ada keinginan dan kemauan untuk belajar. Jangan hakimi anak dan merendahkannya hanya karena ia belum bisa melakukan dengan baik sebab baru belajar. Tetap dampingi dengan damai dan santai. Kalau anak tidak mau melanjutkan, ya sudah. Woles aja. Kapan-kapan coba lagi.

Semoga gambarnya bermanfaat 😁

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Buanglah Sampah Pada Tempatnya. Familiar dengan kata-kata ini? Kayaknya banyaaaakkk banget kita temui ya. Meskipun tidak lantas masuk ke alam bawah sadar bahwa sampah musti dibuang ke tempat yang disediakan.

Ya, namanya manusia. Afirmasi lewat tulisan (yang jarang dibaca juga) pada akhirnya kalah oleh kebiasaan yang sudah “terbentuk” lebih dulu di alam bawah sadar selama bertahun-tahun. Betul? ­čśÇ

Tapi dalam tulisan ini saya tidak sedang akan membicarakan perihal kebersihan, atau semacamnya. Ada hal menarik lain terkait pernyataan tersebut. Apa itu? Cek gambar berikut:

Kalimat pada gambar adalah hasil foto dari isi sebuah buku yang sedang saya baca: Speak to Change, karya kek Jamil Azzaini. Menarik karena perumpamaannya kok ya makjleb banget.

Foto tersebut kemudian saya upload di Instagram dan dibagikan ke post Facebook pribadi. Beragam komentar masuk. Ya, karena saya juga baru sadar ternyata berbicara seenaknya kepada orang lain itu adalah bagian dari omongan “sampah”. Dan, sebagai pemeluk agama yang baik, sudah selayaknya kita memperhatikan ucapan.

Ceplas-ceplos oke, tapi berlatihlah agar tidak menyakiti orang lain. Ceplas-ceploslah hal yang positif dan membangun.

Dalam hal menulis status di Facebook, BBM, WhatsApp, Path dan lain sebagainya, perhatikan betul apa yang kita tulis dan bagikan.

Tahan untuk tidak menuliskan keluhan. Adapun jika tak tahan, maka tuliskanlah keluhan itu dalam bentuk “motivasi diri”, “nasihat untuk diri sendiri” atau semacamnya. Biasanya sih sering diberi tagar #NTMS alias note to myself. Karena apa? Karena hendaknya tulisan kita selalu mengacu pada kaidah yang diajarkan Socrates, 3-B: baik, benar, berguna. Dengan 3 filter tersebut, maka tulisan kita akan lebih ringan pertanggungjawaban di akhirat kelak. Jangan sampai tulisan kecil kita ternyata mendekatkan pada kemurkaan Allah karena isinya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ini juga kemudian berlaku bagi para penyebar BC sembarangan. Hehe. BC itu beberapa diantaranya memang bermanfaat. Tapi sebagian besar nampak seperti sampah. Dengan cara menulis alakadarnya, isi yang ga jelas hoax atau kebenaran, dan tidak jelas manfaatnya. Apalagi jika penyebar BC tersebut tidak bisa ditanyai mengenai sumber tulisan. Duh.

3-B sendiri cocok untuk menyaring informasi yang kita dapatkan. Supaya ga lebay, ga baperan dan ga terlampau berlebihan menyikapinya. Itu yang sedang saya pelajari dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kamu masih punya sampah? Buanglah sampah pada tempatnya. Bisa berupa tulis di kertas, lalu buang/bakar. Bisa berupa rekaman lalu dengarkan sendiri dan hapus kalo ga suka. Bisa juga dengan memohon pada Allah agar sampah-sampah tersebut dipertemukan dengan tempat sampah yang tepat. Akan sangat ciamik bila sampah dipilah lalu diolah. Pilihan ada pada diri anda sendiri.

So, masih buang sampah sembarangan? Jangan deket-deket saya ya. Takut ketularan bau #eh

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menuntun Bukan Menggusur

Malam ini berkesempatan menuntun Danisy dan tiba-tiba berkontemplasi di tengah sunyinya jalan yang kami lalui. Menuntunnya, adalah sebuah anugerah yang jarang sekali saya sadari.

Pikiran saya lalu terbang pada evaluasi pendidikan yang kami coba berikan. Dan mungkin dialami pula oleh sebagian orang tua lainnya.

Agama dan ilmu pendidikan anak mengajarkan bahwa orang tua sebaiknya mendidik dengan cara menuntun. Menuntun adalah sebuah “kegiatan” memegang tangan anak, membawanya ke tempat yang dituju. Dengan ringan dan penuh cinta.

Coba teman-teman bayangkan tentang aktivitas menuntun ini. Adakah kedua belah pihak keberatan dan kemudian menolak berjalan bersama?

Saya pikir kita sepakat menjawab: tidak.

Permasalahannya sekarang, seringkali dalam mendidik kita merasa kesulitan. Bahkan hingga keluar pernyataan “kenapa sih kamu baru nurut kalo ibu udah marah?” Familiar kah dengan kalimat tersebut? Saya pernah mengatakannya pada anak kedua kami. Semoga Allah berkenan mengampuni.

Teman-teman pernah mengalami gaya menuntun dengan cara memaksa? Saya kira semua sepakat, itu bukan menuntun tapi menggusur

Lihat saja dalam keseharian. Di kala yang menuntun memaksa yang dituntun, ada pemaksaan dan penolakan. Alhasil yang menuntun mengeluarkan emosi kemarahan sementara yang dituntun mengekspresikan emosi kekesalan. Maka yang menuntun sudah tidak lagi melaksanakan tindakan yang seharusnya: menuntun. Melainkan melakukan tindakan pemaksaan: menggusur.

Bagaimana dengan perjalanan mereka? Tidak nyaman di kedua belah pihak.

Lalu apa yang biasanya menjadi penyebab pemaksaan ini? Ada banyak hal. Setidaknya hal utama yang saya dapatkan adalah:

  1. Tempat yang dituju tidak disepakati di awal perjalanan. Bisa jadi salah satu pihak merasa tujuannya bagus, sementara pihak lain menganggap tempat yang dituju adalah ancaman.
  2. Tidak ada komunikasi antara kedua belah pihak mengenai tujuan dan cara mencapainya
  3. Tergoda pada “pemandangan” yang ditemui di tengah jalan, bisa berupa tempat main, warung, dsb.

Dalam aktivitas menuntun, kegiatan ini akan menyenangkan ketika kedua belah pihak berjalan untuk tujuan yang sama dan menyepakati segala sesuatunya di awal perjalanan (do and don’t). Sehingga yang menuntun cukup mengeluarkan efforts kecil untuk mencapai tujuan karena pihak yang dituntun akan dengan senang hati menyodorkan tangannya dan berjalan bersama.

Maka, dalam hal mendidik anak pun sebaiknya kita menuntun bukan menggusur. Memberikan pengertian pada anak, tempat yang dituju. Menggandengnya penuh cinta dan menikmati perjalanan dengan ceria. Kesepakatan yang dilakukan di awal akan membantu kita mengatasi segala godaan di perjalanan. Godaan yang tidak hanya akan menimpa anak tapi juga menimpa diri orang tua. Keduanya akan saling mengingatkan bahwa ada yang dituju dari perjalanan yang dilakukan.

Selamat belajar menuntun, bukan menggusur.

#CatatanEsa 

H-2 kopdar ngobrol santai Limes. 30 Oktober, jam 9-15 wib di RM Ayam Penyet Ria, Bandung.

Sampai jumpa disana ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.