Puzzle Ilmu

Ilmu itu ibarat puzzle. Saling melengkapi satu sama lain hingga sempurna.

Setiap kali belajar mengenai sesuatu, pikiran biasanya selalu otomatis terkoneksi dengan data ilmu yang telah didapatkan sebelumnya. Itu mungkin kenapa sering kita dengar saat sebuah acara transfer ilmu berlangsung, diminta untuk mengosongkan gelas.

Meski saya tidak sepenuhnya setuju, tapi perkataan tersebut ada baiknya agar kita dapat lebih fokus menerima ilmu tersebut secara menyeluruh. Baru kemudian dibandingkan dengan ilmu yang telah kita miliki sebelumnya.

Satu ilmu pasti membutuhkan ilmu lain, ia selalu akan saling melengkapi dengan ilmu lainnya. Dari pengalaman saya, tidak ada satupun ilmu yang tidak berkaitan dengan ilmu lainnya. Silahkan diralat jika saya salah.

Maka dalam kehidupan ini pun, tak pantas rasanya jika kita jumawa atas secuil ilmu yang kita punya. Suatu saat pasti akan membutuhkan ilmu lain. Berkolaborasi menjadi semakin baik dan efektif.

image

Tak pantas bagi kita menyombongkan diri atas ilmu yang kita miliki. Apalagi jika kemudian kita merendahkan ilmu lain dan terlalu mengagung-agungkan ilmu yang kita kuasai.

Menjadi expert itu perlu. Tapi menjadi sombong karena ilmu, mending jauh-jauh..

Tak berlebihan jika saya mengatakan seperti itu bukan? Kita memang diharapkan memiliki sebuah keahlian yang dengan keahlian dalam bidang ilmu tertentu membuat kita bermanfaat bagi banyak orang. Tapi jika keahlian itu kemudian membuat kita sombong dan merendahkan orang lain serta keilmuan lain, sepertinya orang tersebut belum pernah main puzzle 😀

Puzzle dapat diibaratkan ke dalam kehidupan dan keilmuan. Setiap ilmu memiliki kelebihan yang dapat menutupi kekurangan ilmu lain dan tentu memiliki kekurangan yang akan ditutupi oleh keilmuan lain. Sehingga kemudian kolaborasi itu menjadi lengkap dan sempurna.

Dalam perjalanan kehidupan kita, perlu kiranya kita pandai dalam sebuah keilmuan, tapi barengilah kepandaian itu dengan attitude dan behave. Tidak merendahkan keilmuan lain. Kalaupun memang tidak sependapat, sampaikanlah dengan santun.

Jangan berlebihan memuja ilmu yang kita kuasai. Karena bisa jadi ia memiliki kelemahan yang dapat ditambal oleh ilmu yang lain. Atau hanya dapat digunakan dalam kondisi tertentu sementara di kondisi lain, butuh ilmu baru.

Terbukalah untuk ilmu. Terbuka bukan berarti kita menelan mentah-mentah dan menerima semua ilmu sehingga memenuhi seluruh ruang kepala. Tetap ada filtrasi dan pengelompokan sehingga hanya yang sesuai dengan value dan cocok dengan diri kita yang masuk ke dalam kepala. Efektif dan efisien.

Kita tidak harus mahir dalam segala bidang, tapi kita perlu tahu minimal sedikit tentang bidang lain agar menambah khazanah dan tidak dimanfaatkan 😀

Terbuka terhadap ilmu adalah kemampuan kita untuk bersedia menerima ilmu lain, menerima pendapat dan masukan. Barulah kemudian kita filter lagi apakah semakin memperjelas gambaran kehidupan atau justru mengacaukannya.

So, masih sombong sama keilmuannya?
Ngaca dulu deh sama para ulama salafush shalihin ^_^

Regards,
Esa Puspita
Feeling extrovert
Team builder
esapuspita.com

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Blender Minder

Entah kenapa, sedari kecil seringkali rasa minder muncul. Dan sikap itu terbawa hingga beranjak dewasa.

Ketika kemarin membuat status tentang minder di FB, ternyata banyak yang komen samaan. Wah, asyik nih banyak temennya #eh 😀

Malu dalam artian al-haya dalam Islam, tetap harus dipelihara karena sejatinya dengan rasa haya itulah seorang muslim berhati-hati, menjaga kehormatan dirinya dari berlaku yang tidak pantas. Lalu jika berbicara minder, ia biasanya justru memiliki makna negatif.

Minder identik dengan rasa rendah diri, merasa dirinya lebih rendah dari yang lain dan ga pantes bergaul bersama mereka. Minder dianggap wajar selama kadarnya masih dalam batas normal. Tapi jika berlebihan sampe membuat kita tidak bisa bergaul dengan orang lain, tentu harus dibabat.

Cara membabat rasa minder itu sendiri beragam. Tapi disini yang dituliskan adalah versi saya tentunya. Versi yang saya beri nama: Blender Minder. Apa itu blender minder?

image

Mengambil filosofi acak dari sebuah blender, kita bisa perhatikan dari gambar ilustrasi di atas. Ibaratkan minder sebagai objek yang akan kita haluskan. Maka untuk blender ini bekerja kita butuh: steker (colokan listrik), listrik, blender dan operator blender.

Dalam mengatasi rasa minder, pertama kita harus yakini bahwa pada dasarnya setiap orang sudah dibekali blender minder agar halus sesuai peruntukan 😀
Bahwa setiap diri sudah dibekali kemampuan untuk mengatasi minder agar tidak naik level menjadi sifat yang membuat kita menarik diri dari pergaulan. Kenali pula penyebab minder.

Operator blender adalah kita sendiri. Apakah kita bersedia menggunakan blender itu untuk menghaluskan si minder? Supaya kadarnya haluuusss sekali.

Blender memiliki kabel untuk dicolokkan pada steker. Inilah penghubung mesin blender kita ke sumber listrik yang dengan bantuan sumber listrik itulah blender kita bekerja.

Kemudian ada steker yang menjadi perantara terhubungnya aliran listrik dan mengalir melalui kabel lalu menggerakkan blender setelah operator menekan tombol on atau kecepatan.

Maka dari cerita itu kita kemudian belajar menghaluskan minder.

1. Diri kita sebagai operator sudah seharusnya mencari tahu dimana letak steker yang memiliki aliran listrik. Yap, steker tanpa aliran listrik tidak akan berguna karena tidak dapat menjalankan blender. Disinilah peran lingkungan. Carilah lingkungan yang dapat memberikan energi positif pada diri kita. Bisa berupa grup online, komunitas, pelatihan, seminar, kopdar, workshop dan masih banyak lagi.

2. Kemudian menyambungkan kabel blender adalah mempertemukan diri dengan lingkungan tersebut. Bergaul dan berkontribusi di lingkungan positif. Menyambungkan diri dengan lingkungan yang baik.

3. Setelah tersambung, saatnya menekan tombol on, mengatur kecepatan blender. Tekan tombol on (konsisten dan semangat untuk berubah) guna menggerakkan si blender agar dapat menghaluskan minder. Semakin kita belajar, semakin kita banyak bergaul dengan lingkungan positif, semakin kepercayaan diri kita meningkat dan minder kian tak kuat.

So, kamu masih minder? Coba diblender ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Raut Bangga Seorang Pendidik

Pernahkah teman-teman berpikir bahwa ada orang lain selain orang tua dan keluarga kita yang akan merasa bahagia dan bangga akan kesuksesan kita? Ya, mereka adalah guru kita, dosen kita dan pengajar kita di masa kecil hingga saat ini.

Semalam, entah kenapa tiba-tiba saya mendapat mimpi kehadiran salah satu dosen saya ketika masih kuliah di Teknik Informatika ST Inten. Beliau adalah pak Agus Nursikuwagus.

Dalam mimpi itu, beliau datang dan mengingatkan saya tentang berkas yang saya pegang, menyelesaikan amanah yang dititipkan pada saya dan meminta saya menandatangani berkas-berkas kuliah. Amanah dan berkas yang dalam mimpi itu dikatakan amanah penting dan hanya saya yang pegang. Sementara berkas kampus adalah penandatanganan bahwa saya mendapat hak istimewa untuk mendapatkan gelar sarjana tanpa perlu kembali ke kampus.
Aneh ya. (Meskipun bahagia juga sih. Secara saya keluar di semester 6. Heuheu)

Setelah bangun, saya memutar ingatan. Jangan-jangan memang ada amanah yang terlupakan. Harus ketemu beliau dan ke kampus sepertinya. Meski hingga tulisan ini rampung, saya ga menemukan titik terang.

Kembali ke bahasan awal, dalam mimpi itu saya tengah berada di hadapan beberapa orang dan beliau memasang raut bangga saat saya mengatakan “please introduce, my lecture”. Ini adalah salah satu yang paling berkesan dari mimpi itu yang sekaligus membuat saya teringat bahwa ketika kita sukses, guru-guru kita, mereka akan turut merasakan kebanggaan yang luar biasa saat muridnya mencapai kesuksesan.

Saya kemudian teringat dengan guru-gurunya suami. Di desa, ikatan guru-murid itu sepertinya kuat sekali ya. Atau karena saya tidak dekat dengan para guru mungkin.

Yang pasti, setiap kali mudik ke desanya suami selalu diajak datang ke rumah guru-guru beliau. Biasanya para guru suami mengirim pesan melalui saudara atau pesan singkat meminta sempatkan datang ke rumah jika kami sudah sampai di rumah mertua.

Raut bangga mereka masih saya ingat. Padahal suami saya termasuk yang biasa saja dibanding teman-temannya yang (menurut saya saat itu) lebih sukses. Rupanya kesuksesan bagi seorang guru pun berbeda. Cukup muridnya mendapatkan keluarga yang baik, memiliki pekerjaan yang halal dan tetap ingat pada mereka.
Bahkan tahun lalu ketika mudik lebaran, guru suami yang sengaja datang ke rumah karena memang sudah beberapa kali mudik kami tidak sempat silaturahim dengan mereka.
Sederhana tapi ternyata berkesan.

Sehingga.. Jika teman-teman sedang membuat visi, teman-teman perlu memperhatikan strong why berupa alasan emosional yang kuat sehingga membuat kita mampu bertahan dalam menggapai impian tersebut. Salah satunya adalah membuat guru kita bangga terhadap diri kita sebagai ucapan terima kasih atas pendidikan yang mereka berikan.

Strong why saya sendiri selain anak-anak, suami, dan orang tua kami berdua adalah para guru. Karena ketika dulu saya tidak bisa melanjutkan pendidikan, justru orang yang mendukung sekaligus mengusahakan jalan untuk pendidikan saya adalah para guru. Dan nama mereka lekat dalam ingatan..

Maka, teman.. ingatlah raut bangga para guru saat kalian lulus sekolah. Tidak ada sedikitpun permintaan imbalan jasa. Kelulusan kita sudah menjadi hadiah indah bagi mereka. Maka jika kita sukses, itu adalah bagian dari hadiah terbaik bagi mereka. Jangan sia-siakan hidupmu dengan hal yang biasa. Gapailah mimpi terbaik dan jadilah pribadi sukses mulia 🙂

image

***
Esa Puspita
Feeling extrovert
Team Builder
Learn to write
esapuspita.com

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kamu Punya Olshop? Nulis Yuk

Dear temans..

Menulis dapat menjadi salah satu alternatif cara branding kita entah melalui media apapun.

Berhubung kemarin kita bahas blog saat praktek IFTTT, maka silahkan buka kembali aplikasi wordpress/blogger teman-teman lalu perhatikan.

APA YANG AKAN ANDA TULIS.

Temans..
Blog jualan pun bisa ditambahkan artikel seputar olshop dsb. Hal ini akan semakin meningkatkan daya tarik thd pengunjung blog.

Terbiasa mengisi blog (yang saat kita nikmati secara gratis) akan membuat otot dan otak kita mampu beradaptasi saat harus selalu update web (yang notabene berbayar dan tetap harus menghasilkan bukan).

Jadi, sebelum memutuskan untuk membeli web (jika belum punya web sendiri) teman-teman dapat membiasakan diri (dan tim) untuk terlebih dahulu update blog secara berkala.
Lalu bagaimana jika isi blog jualan kita semuanya produk?

Sebenarnya tidak masalah. Hanya saja pastikan bahwa blog kita menarik untuk dikunjungi entah dengan data produk yang lengkap, lokasi kita (minimal menyebutkan kota), kontak dan tentu saja gambar yang dibutuhkan.
Hanya saja dengan adanya artikel dalam blog kita, akan menjadi pancingan tambahan saat orang mencari sesuatu berdasarkan keyword.
So, yuk latihan menulis.
Selain menyegarkan ide, juga mampu menjadi jalan datangnya rejeki berupa harta dsb.
Wah, kalo gitu harus diisi apa dong Teh?

Bisa diisi apapun.
1. Keterangan tentang produk
2. Informasi bahan (misal penjelasan bahan A-Z, yang sebenarnya terkait dengan produk kita juga)
3. Review
4. Testimoni
5. Proses distribusi
Dsb.

Banyak hal yang bisa ditulis.
Dan mungkin akan berbeda setiap orang.
Oke segitu dulu. Selamat belajar dan selamat menulis ^_^

image

Esa
Team Builder
Learn to write
esapuspita.com

*tulisan ini copasan dari tulisan saya pagi ini di channel Telegram Kelas Online Bermanfaat. Feel free to join 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

5D, Kenapa Tidak?

Ketika menyusun visi alias bintang terang beberapa waktu lalu, kami diingatkan tentang salah satu konsep visi yang diberitakan sebagai 3D. Dream, Decide dan Declare. 3 hal ini saya tuliskan menjadi status Facebook saya ketika itu. Meskipun di status ga saya jelaskan, apa sih Dream, Dare dan Declare.

Setelah mencari di google untuk bahan gambar tulisan, ada sedikit perbedaan rupanya. 3D dalam gambar yang saya temukan adalah Dream, Dare dan Do.

Maka saya tambahkan saja pada tulisan ini dari 3D menjadi 5D. Bukankah 5D lebih bagus dari 3D? USG juga pan gitu. Yang 4D katanya bisa tahu lebih banyak, apalagi kalo ada 5D nanti 😀

Oke, sekarang kita bahas tentang 5D itu yakni Dare, Decide, Dream, Declare, Do. Versi saya tentunya.

1. Dare
Kenapa saya menempatkan dare di poin pertama? Karena pengalaman saya, kudu kumpulin keberanian dulu untuk bermimpi. Ini mah murni dari pengalaman saya ya.

Beranilah bermimpi besar sebagai pertanda bahwa engkau meyakini bahwa Allah Mahabesar dan Maha Berkehendak. Mudah bagiNya membuatmu sampai pada pencapaian tertinggi dan terbaik.
Maka beranilah bermimpi besar dan memutuskannya.

Duh, malu takut diketawain orang.
Saya pernah dan sering mengalaminya. Sampai terakhir saya deklarasikan mimpi itu di tulisan saya sebelumnya: Evaluasi: Visi dan Resolusi, saya masih takut. Tapi saya yakinkan diri saya bahwa sebaiknya saya bisa.
Kemudian respon saat saya mengirimkan deklarasi itu sesuai instruksi founder, biasa aja ya. Mereka malah mengaminkan. Bukankah itu hal yang baik?

2. Decide
Putuskanlah, apa visi hidup yang menjadi capaian terbaik di ujung kehidupan terbaik kita. Inilah yang ditekankan oleh mentor kami tentang visi.
Visi Diri adalah visi jangka panjang yang titik terakhirnya adalah pencapaian tertinggi dan terbaik kita di sepanjang usia. Itulah kenapa mimpi yang dibuat harus se-tinggi mungkin. Agar selalu melakukan hal terbaik di setiap fase kehidupan yang kita lalui.

Adalah Rasulullah pernah menyampaikan sebuah visi yang luar biasa tentang penaklukkan Konstatinopel. Visi yang di-deliver dengan sangat baik hingga beratus tahun berikutnya, visi itu dicapai. Dengan semangat yang sama saat Rasulullah menyebutkannya.
Pun ketika Rasulullah mengatakan “pasukan pertama yang melakukan pertempuran di lautan, dijanjikan surga”. Visi yang penuh ghirah itu akhirnya terlaksana pada masa pemerintahan Utsman.
Itu 2 contoh visi kuat yang nilai-nilainya begitu kuat mengobarkan semangat. Maka, visi kita (yang kelak akan menjadi acuan visi keluarga, usaha dsb) selayaknya adalah visi yang kuat. Dimana visi ini mampu memaksa kita mengeluarkan potensi terbaik kita.

3. Dream
Mimpikanlah impian itu menjadi sesuatu yang selalu membayangi langkahmu bahkan ketika tidur. Dan bawalah mimpi itu ketika bersujud di hadapan Rabb-mu. Pastikan mimpi itu bukan hanya tentang diri kita, tapi tentang kebermanfaatan bagi sesama, dan nilai-nilai kebaikan yang ter-deliver dengan baik pada sekitar.

4. Declare
Ini nih bagian yang ga kalah menantang. Bagaimana tidak, ketika untuk bermimpi saja sudah butuh keberanian menuliskan dan memimpikannya, ini malah harus deklarasi. Makin keder deh..

5. Do
It’s a dream. Then wake up to make it true. Itu yang saya pikirkan ketika kata “dream” diucapkan.
Tak hanya cukup bermimpi. Tapi lakukanlah hal-hal yang membawamu sampai pada mimpi yang mewujud menjadi nyata.

Apalagi udah deklarasi. Malu dong kalo ga ada aksi nyata mencapainya.

Dengan visi yang tinggi, kita akan lebih mudah menyusun visi jangka pendek dan resolusi tahunan.
Itu yang saya alami ketika menyusun visi pekan lalu.

Jadi, apa visimu?

*****
5D adalah dimensi mimpi sekaligus akronim yang membantu menyusun langkah terbaik kita. Dengan visi yang kuat, kita akan lebih mudah mengobati rasa kecewa ketika ada hal yang hilang tapi tidak berimbas pada pencapaian mimpi itu sendiri.

image

So, meskipun masih ada rasa takut, minder, malu.. hayu dimulai saja. Nulis mimpi ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tali Kekang

Dalam menyikapi suatu hal, terutama kegagalan pencapaian, ada beragam sikap seseorang (atau sekelompok tim). Sikap itu kemudian dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis yang dipengaruhi oleh kontrol seseorang terhadap kejadian tersebut.

Di TDA Camp kemarin, inilah yang diperkenalkan dalam studi kasus “kejutan coffee break“. Kenapa saya bilang demikian? Begini.

Usai pembukaan dan sesi pembentukan kelompok, yel-yel dan sebagainya, kami diberikan kesempatan untuk menikmati hidangan coffee break. Tak ada instruksi apapun hingga terjadi desas-desus. Tentang apa? Woohooo rupanya ada tugas. Tak tanggung-tanggung, setiap kelompok diminta menuliskan 50 poin permasalahan bisnis, print di A4. Tugas itu sendiri saya ketahui saat menjelang sesi berikutnya.

Apa yang terjadi setelah itu? Tidak ada satupun yang berhasil menyelesaikan tugas sesuai dengan permintaan.

Lalu apa hubungannya dengan tali kekang aka yang kemarin diperkenalkan dengan konsep “kendali diri“? Jawabannya adalah dari “alasan” yang dikemukakan.

Jika teman-teman ada di posisi kami saat itu, akan memberikan alasan apa? Minimal 5 alasan.. Tuliskan di kolom komentar ya. Jika ada setidaknya 10 komentator, akan saya lanjutkan tulisannya 😀
Insyaallah.

image

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Evaluasi: Visi dan Resolusi

Tulisan ini sudah disiapkan sejak tanggal 1 tape apalah daya baru bisa publish hari ini 😀

Tahun baru identik dengan resolusi tahunan. Entah siapa yang memulai dan kenapa. Ya, kita ambil sisi positifnya saja.

Bagi saya, 2016 seperti sebuah tahun yang benar-benar baru. Setelah kurang lebih 1 tahun mengenal STIFIn, pertengahan tahun ikut kelas Public Speaking dilanjut kelas Grafologi, bertemu dengan teman-teman yang luar biasa (terkhusus Writer Rangers dan Tengilers), ditambah pendampingan usaha oleh beberapa pihak diantaranya kak Erita Zurahmi (owner Ukhti) kemudian terakhir mengikuti TDA Camp. Semuanya seperti jalan yang Allah tunjukkan setelah selama ini hidup saya selalu mengalir dengan target yang begitu pendek. Tanpa perencanaan. Ya, tanpa perencanaan sama sekali.

Everything’s fine, memang. Tapi jadi ga maksimal. Itu yang saya renungi. Bahwa ada hal hebat yang seharusnya bisa saya capai andai saya sudah punya sesuatu yang tinggi untuk digapai.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berubah bukan? Dan perubahan dahsyat itu tak lepas dari hadiah Allah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Seorang suami yang mendukung istrinya untuk terus tumbuh (bukan fisiknya ya. Hehe).

Dari dukungan suami lah semuanya bermula. Beliau yang ajak saya tes STIFIn (yang dalam perjalanan mengaplikasikannya pun ga mudah), kemudian beliau daftarkan saya untuk kelas Public Speaking (entah kenapa), mengikutsertakan saya dalam training bisnis dan seminar-seminar motivasi, memperkenalkan saya pada banyak hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.

Dan inilah saya tahun ini. Memberanikan diri membuat visi dengan arahan dari coach Fauzi Rachmanto (yang juga adalah trainer Kubik Training, sekaligus penasihat TDA Bandung dan mantan Presiden TDA 3.0).

Coach FR meminta untuk menuliskan capaian terhebat yang pernah saya rasakan. Dan capaian itu adalah di dunia menulis. Meskipun belum PeDe dengan kemampuan menulis, tapi tetap saja ia adalah hobi yang akan terus saya asah. Kemampuan untuk berkomunikasi dan skill menggembleng orang juga akan terus saya tingkatkan dalam mencapai visi diri saya sebagai seorang team builder sekaligus penulis untuk dunia pengembangan diri. Mencatatkan rencana kuliah kembali setelah sebelumnya kuliah saya tidak selesai.

Evaluasi berikutnya adalah tentang visi dan resolusi. Visi adalah capaian terbaik di ujung kehidupan terbaik kita, dan resolusi adalah bagian dari langkah kongkrit menuju visi itu.

Maka benar yang dituliskan kang Dewa Eka Prayoga tentang tuntutan menuliskan resolusi. Dan tuntunan coach FR dalam menentukan visi. Serta tuntunan STIFIn dalam memilih profesi. Selayaknya ia tak hanya fokus pada pendapatan diri tapi juga kebermanfaatan bagi yang lain. Ini yang dikenal sebagai Sukses Mulia ala kek Jamil Azzaini.

Jadi, yuk teman-teman. Mulailah membuat visi diri yang dari visi inilah kita bermula, menyebar ke visi usaha, visi keluarga dan seterusnya hingga visi terluas. Pegang teguh value yang ingin kita sebarkan. Kemudian buatlah resolusi yang menjadi awal perjalanan pencapaian visi kita.

image

*****
Saya, Esa Puspita, Fe
adalah Team Builder Terbaik di Indonesia tahun 2040.

Mendirikan perusahaan team building yang memegang teguh nilai keberanian, kerja keras dan curiousity.
Memiliki omzet 1.000 dinar per bulan, dengan total 10 cabang di seluruh Indonesia.

Saya adalah team builder yang hasil karyanya dijadikan acuan pembentukan tim dalam perusahaan maupun organisasi.

Mendirikan yayasan dan sekolah pendidikan yang memegang teguh nilai-nilai keislaman.

2016 ini menjadi titik awal saya memulai mimpi yang lebih tinggi. Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk bermimpi dan berikhtiar mencapainya.

Dan dalam pencapaian bintang terang itu, dimulai dengan resolusi 2016 diantaranya:
– Menjadikan Aim Desain sebagai perusahaan autopilot sehingga menjadi salah satu usaha pijakan saya dan suami serta anak dan keluarga
– Menjadikan PeDeCafe sebagai sarana belajar dan pengembangan diri. Khususnya di Bronis
– Menjadikan Ganesha Public Speaking sebagai salah satu pilar pijakan Personal Development sekaligus membawanya menjadi perusahaan Public Speaking nomor 1 di Indonesia tahun 2017 yang dimulai dari tim yang solid.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wa la quwwata illa billah.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.