Siapa?

Duhai Allah..

Aku ingin bercerita menumpahkan rasa. Tapi pada siapa?

Aku ingin berkesah mengeluhkan asa yang hampir patah. Tapi pada siapa?

Aku ingin menangis, mencurahkan segala luka. Dalam dekapan siapa?

Duhai Rabb-ku, beban ini terasa berat. Haruskah aku berhenti melangkah dan berbalik arah?

hope

Pernahkah anda berada pada satu masa dimana perasaan anda begitu kacau, merasa beban masalah begitu berat, ingin cerita tapi ragu harus cerita pada siapa dan bagaimana memulai ceritanya, ingin mencari solusi tapi dimana dan pada siapa bantuan diminta. Keadaan yang begitu menguras pikiran sehingga anda bahkan tak bisa melakukan apapun.

Kawan, tahukah kalian bahwa masalah hadir dalam kehidupan kita adalah sebuah keniscayaan. Ya, hidup ini adalah lompatan dari satu masalah ke masalah lain yang merupakan rangkaian untuk menempa diri kita. Menjadi kita yang lebih hebat.

hope

Tapi, ingatlah satu hal. Kondisi dimana engkau jatuh dan terus terperosok bisa jadi adalah sebuah momen yang diperlukan agar kita sadar bahwa ada yang sedang merindukan kita untuk berkeluh kesah. Dalam konsep PPA (Pola Pertolongan Allah), masalah hadir bukan untuk dicari solusinya melainkan untuk dibaca pesan cinta-Nya. Sesederhana itu? Iya.

Luka yang terus bertambah, beban yang terus menumpuk lelah selayaknya menyadarkan bahwa diri ini lemah. Kelemahan itu hendaknya membawa kita pada kesadaran bahwa kita membutuhkan pertolongan-Nya. Ada pesan rindu dari Sang Maha agar kita kembali mengingat-Nya, melibatkan-Nya dalam setiap detik kehidupan, ikhtiar dan keputusan kita.

Ketika kamu tidak lagi tahu harus percaya pada siapa
Ketika kamu tidak lagi tahu harus bertanya pada siapa

Itu bisa jadi reminder dari Allah bahwa hanya Dia satu-satunya yang Maha Menjaga (dan dapat dipercaya), Dia satu-satunya yang Mahatahu Segalanya.

Dia ingin kamu kembali. Menjadikan Allah tempat bertanya di awal, di tengah dan di akhir. Menautkan hati padaNya setiap saat.

‪#‎CatatanEsa

Ketika masalah bertubi-tubi dan kita tak tahu harus bercerita pada siapa lagi, ada Allah yang Mahatahu meski kita tak memberitahu. Ketika perasaan campur aduk karena luka dan kecewa, ada Allah al-Jabbar yang siap mengembalikan posisimu. Ketika beban terasa berat, ada Allah yang selalu ada di samping hamba-Nya dan mengatakan “aku dekat” serta menegaskan “pertolongan Allah itu dekat”.

Maka ketika engkau berada dalam kondisi terpuruk, kembalilah pada-Nya. Mohon ampunan-Nya karena telah lalai melibatkan Dia dalam segala keadaan. Dan jangan menunggu kondisimu memburuk untuk disadarkan. Jangan menunggu kegelapan yang berlapis untuk mengenali cahaya Allah.

Jika kesempitan hidup dan sulitnya perjalanan membawamu pada kondisi mengenal Allah, bukankah yang kau sebut musibah itu adalah kado yang sangat indah?

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Merasa Berjasa

Seringkali kita merasa berjasa atas apa yang kita lakukan kepada orang lain. Saat kita membantu seseorang yang tengah kesulitan misalnya, lantas kita merasa sudah membantunya dengan harta atau tenaga kita. Atau ketika kita menanggung nafkah saudara kita yang seharusnya ditanggung oleh walinya, lalu menuntut mereka untuk membalas kebaikan.

Terima Kasih

Tidak salah, tapi juga kurang tepat. Sebab kebaikan yang dilakukan hendakknya tidak dibarengi dengan ingin dibalas oleh orang lain melainkan agar dibalas oleh Allah saja.

Kita mungkin tidak sadar bahwa justru bisa jadi mereka yang menolong kita. Bahkan ketika kita memberikan nafkah pada mereka yang berada di bawah perwalian kita (istri, anak, orang tua) sesungguhnya bukan kita yang berjasa. Melainkan sama-sama mendapat kebaikan dari tindakan itu.

Misal begini. Kita bekerja mendapatkan upah sesuai dengan yang ditetapkan. Lalu uang yang didapat itu kemudian digunakan oleh orang tua atau saudara kita untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka. Perlu kita sadari, kemudahan dalam mencari pekerjaan, dalam berjualan, dalam menjemput rejeki, bisa jadi karena ada dorongan doa dari mereka. Dan uang yang kita dapat merupakan “totalan” dari bagian rejeki diri kita sendiri, ditambah bagian orang tua dan bagian saudara kita yang dijumlahkan menjadi sekian rupiah lalu diberikan-Nya kepada kita melalui perusahaan tempat kita bekerja (atau usaha yang kita jalankan). Sehingga perusahaan tempat kita bekerja menjadi perantara hadirnya bagian rejeki kita dan kita yang bekerja ini adalah perantara hadirnya bagian rejeki saudara dan orang tua kita. Sumber rejekinya tetap satu, Allah saja.

Maka, bukan kita yang berjasa sebab menghadirkan uang untuk mereka melainkan mereka juga berjasa dikarenakan harta yang kita dapat sesungguhnya adalah memang ada bagian mereka. Jadi kita saling berterima kasih atas kerja sama ini. Berterima kasih tetap perlu sebab Allah menegaskan melalui lisan Rasul-Nya,

Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi logikanya adalah, ketika seorang lelaki menikah kemudian memiliki anak misalnya, maka rejeki yang didapatkan oleh seseorang adalah jumlah dari rejeki suami+rejeki istri+rejeki anak. Jadi tidak perlu merasa berjasa telah memenuhi kebutuhan istri dan anak melainkan berterimakasihlah kepada mereka dan jangan lupa berterima kasih kepada Allah dengan cara yang dianjurkan.

Karena Allah akan memenuhi kebutuhan semua makhluk-Nya, maka pemenuhan kita terhadap kebutuhan orang-orang sekitar mungkin bukan atas kekuatan dan usaha kita melainkan hanya sebagai perantara saja datangnya pemenuhan kebutuhan mereka. Maka tidak perlu khawatir dengan kehidupan selama kita masih memegang teguh keimanan, maka bertawakal kepada Allah akan menjadi sebab turunnya rejeki pemenuhan kebutuhan kita.

“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Tawakal sendiri bukan berdiam diri melainkan ada ikhtiar di dalamnya. Tawakal bermakna menyerahkan hasil pada Allah semata. Awali ikhtiar dengan doa, lalu usaha maksimal dan berserah mengenai hasil pada Yang Maha Berkehendak.

Jadi, jika masih ada rasa “aku ini sudah berjasa untukmu, bales dong” coba ditelusuri lagi. Mungkin kamu kurang piknik 😀

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Lemon Tea Sederhana

Yeaaayy akhirnya sempet juga eksekusi lemon tea buat nemenin berbuka.

Foto seadanya banget :D
Foto seadanya banget 😀

Bahan:
– Teh celup greentea (soalnya wangina enak dan kerasa lebih cocok dibanding teh celup biasa)
– Gula putih 1 sdm
– 1/2 butir lemon
Di pasar maupun dari mertua ukurannya sama, belum pernah megang lemon yang ukurannya gede. Mm sebenernya ga setengah butir juga sih, soalnya lemon dibagi 3 dipotong dari atas ke bawah kayak bunga (mirip kalo pas motong mangga utuh). Potongan pertama kurleb setengahnya, 2 potongan lainnya untuk anak-anak karena ukuran gelasnya lebih kecil.

Cara membuat:
1. Seduh teh celup dengan air panas sebanyak setengah gelas. Buat agak pekat.(jangan terlalu pekat supaya ga pahit)
2. Tambahkan gula putih, aduk rata
3. Tambahkan air suhu biasa (agar jadi teh hangat)
4. Tambahkan perasan jeruk lemon

Karena vitamin C dari jeruk katanya bisa menguap kalo kena air panas. Jadi dibuat air anget.

Ayam kremes, ditambah sambal balado, cah kangkung dan segelas lemon tea spesial buat berbukanya A Abdul Chalim.

Seneng lihat kalian lahap makan.
Sayangnya #AzamKN ga lanjut makan cah kangkung sebab pedes 😁

#UmDAKitchen #MenuBerbuka #ResepSederhana

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Perjalanan Iman

Disalin dari status 17 Juni

sky

Tentang Iman,
Kepada Allah
Terhadap malaikat
Mengakui para nabi dan rasul
Meyakini kitab-Nya
Menerima takdir
Membenarkan tentang hari akhir

Sungguh bukan perkara mudah dalam aplikasinya. Hal paling dekat saja, tentang takdir. Takdir yang termasuk di dalamnya yang baik maupun buruk (dalam keterbatasan ilmu kita).
Menerima takdir baik mungkin tidak sepenuhnya sulit. Akan tetapi ketika dihadapkan pada takdir buruk, adakah kita mudah menerimanya? Ikhlas dan berlapang dada seraya berujar “aku ridha pada takdirMu”. Terutama atas rasa yang berkecamuk di dada, bergemuruh hingga mendidih darah di urat nadi karena gejolaknya.

Ah, sungguh tidak mudah. Namun surga itu digapai dengan keimanan yang mesti diperjuangkan. Dan bahwasanya Allah menjanjikan segala kebaikan di surga-Nya, dalam keridhaan-Nya.

Rabbi, tuntun kami agar senantiasa ridha atas takdirMu. Meski sakit dirasa oleh nafsu, akan tetapi semua takdirMu pasti baik bagi kehidupan kami seluruhnya. Meski ia sebagai penggugur dosa maupun penguat hati dalam meyakini Engkau-lah tujuan hakiki.

‪#‎CatatanPagi‬ ‪#‎CatatanEsa‬ ‪#‎SelfTalk‬
Ishbir yaa nafsii. Laa yukallifu nafsan illaa wus’ahaa

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Rencana

Disalin dari status FB tanggal 19 Juni

rencana

Anak-anak udah dititip, semua sudah direncanakan dengan baik supaya ttp bisa ikut taklim gabungan di pagi hari tadi dan gathering alumni Ganesha Public Speaking (sekaligus bukber) sore ini.

Qadarullah taklim ga bisa ikut karena nemenin suami dulu urusi sesuatu dan baru selesai menjelang jam setengah sebelas. Lanjut pulang dan langsung menuju tempat taklim. Lokasina lumiyin jauh ternyata. Pake nyasar pula. Sampe sana udah sepi, jadi cuma jemput adek yang sudah disana duluan. Heuheu

Pulang ke rumah, rencana mau dianterin suami ke Tubagus buat ikut acara GPS, ga jadi karena motor dipake bapak dulu, begitu motor sampe udah mepet, beliau sendiri hampir kesiangan berangkat jam segitu. Kalo anterin aku dulu ntar dia telat banget sampe lokasi acara. Akhirnya diminta pake bis. Pas mau berangkat, si aku kambuh sakitnya. Jadi urung pergi.
*****
Ya, begitulah salah satu ciri lemahnya manusia. Kita hanya bisa berencana, izin Allah-lah yang menentukan terjadi atau tidaknya rencana kita.

Jadi rencana apapun, kuncinya bukan pada diri kita tapi pada izin Allah.

Adapun membuat rencana adalah sebuah ikhtiar sebagai perantara menjemput ridho Allah sekaligus menjadi ujian apakah kita bergantung pada rencana itu sehingga uring-uringan ketika tidak berjalan dengan baik, ataukah evaluasi untuk perbaikan di masa mendatang dengan tetap ikhlas menerima yang sudah menjadi ketetapan?

Dan bukti lemahnya manusia adalah, sakit satu bagian aja ternyata bisa bikin tubuh ada di kondisi yang ga enak.

Maka nikmat Allah yang mana hendak didustakan?

Segala yang menjadi kebutuhanmu akan dipenuhi. Dan Ia pasti akan memberikan semua yang engkau butuhkan, bukan yang engkau inginkan 🙂

*notifkerasdisuruhrehat*

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Meniti Takdir

*Disalin dari status tanggal 17 Juni*

faith

Bahwasanya mengimani takdir bermakna menerima dg ikhlas segala takdir yang hadir dan mengikhtiarkan secara maksimal untuk memperlihatkan kesungguhan kita pada Allah Yang Maha Mendengar segala isi hati dan pikiran.

Ketika kita merasa takut, Allah tau. Saat kita merasa bingung, Allah paham. Kemudian di tengah gelisah, Ia tetap mendengarkan.

Dalam hela nafas yang panjang dan berat, Ia membersamai. Dalam deru haru bergemuruh di kalbu, Ia tetap menemani.

Maka adukanlah segala resah dan keluh kesah. Ikhtiar iman maksimal.
Bukan hanya ikhtiar yang dimaksimalkan, tapi disertai keimanan yang semakin dimantapkan.

Ikhtiar kita seringkali bukanlah menjadi penyebab datangnya pemenuhan diri. Ikhtiar hanyalah bukti bahwa kita berusaha maksimal. Mengenai hasil yang kelak menjadi takdir, adalah murni atas izin Allah.

Tapi doa mampu menahan hujan turun, doa mampu membuat hati lebur, doa mampu membuat langit berguncang.

Maka ketika ketakutan yang belum terjadi itu muncul dalam sekelebat pikir, adukanlah kepada Sang Pemilik Hati.

Wahai Allah, hatiku tengah berkecamuk. Akan rasa yang tak biasa, ada pikir yang mungkin tak semestinya. Apatah lagi jika ia terkait syariatMu. Tuntun hamba agar mampu membaca pesan cintaMu dengan keimanan yang tetap di dalam dada. Agar ketika yang kutakutkan itu terjadi, aku mampu menghadapinya, bersama-Mu. Hingga andai ada luka yang tercipta, maka takkan menghentikan langkahku. Dan jika ada kecewa yang menimpa, aku tetap yakin bahwa Engkau tetap bersamaku. Menguatkan lemahnya diri, menuntun dalam kaburnya pandang yang terhijab dosa.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Semoga Tidak Merugi

Hari ini tiba-tiba kepikiran pengen bikin chicken katsu. Alhamdulillah akhirnya kesampean. Sudah berencana mau ngasih ke mamah sebagian. Ternyata masaknya terlalu sore karena memang kliyengan jadi rehat di kasur sedari pagi. Baru bisa bangun dan membaik menjelang ashar.

Uplek sana sini, beli bahan sampai chicken katsu-nya mateng, mendahulukan anak-anak yang sudah merengek nunggu ayamnya dari tadi.

“Mi, Aa mau ke ambu* ambil sepeda. Jadi sambil nunggu ayamnya, Aa sepedaan dulu ya” kata Danisy saat saya tengah memasak
*(panggilan Danisy ke neneknya)

“Jangan, nanti aja sekalian kalau sudah matang ayamnya. Biar sekalian kasih ayam ke ambu ya. Ayam Aa mah udah mau mateng sebentar lagi juga” jawab saya menahan Danisy untuk pergi.

Danisy setuju dengan permintaan umminya. Begitu semua matang, adzan maghrib berkumandang. Duh, kalau ga dianterin sekarang khawatir ga keburu dimakan. Akhirnya setelah buka, sebelum memutuskan makan saya minta izin suami untuk mengantarkan makanan ke rumah mamah. Jarak rumah saya dan mamah memang tidak terlampau jauh.

“Mau dianterin sekarang?” tanya suami memastikan

“Iya, kalau ga sekarang kapan lagi. Lagian ini ayam sama ikannya biar bisa dimakan” sambil menyiapkan yang akan dibawa ke rumah mamah.

Entah kenapa, biasanya saya menunda sampai diambil sama adek yang bungsu. Kali ini, saya ingin mengantarkannya langsung.

Love

Sesampainya di rumah mamah, ada ekspresi yang rasanya tak pernah saya lihat. Perasaan tidak pernah melihat mamah sedemikian menyambut saya. Ketika itu di rumah hanya ada mamah dan adek perempuan. Adik yang laki-laki ternyata belum pulang sedangkan bapak biasanya di masjid sebelum adzan maghrib dan pulang setelah selesai shalat maghrib.

Melihat saya membawa keresek berisi makanan, mamah langsung berbasa-basi sungkan, “padahal mah ga usah” (pake bahasa sunda sih aslinya mah)

“Gapapa, sedikit ini kok” jawab saya karena memang sedikit, cukup untuk sekali makan aja.

“Ini atuh mau bawa perkedel? Tahu? Buat anak-anak” mamah menawarkan apa yang dimasak. Tawaran itu sebetulnya mungkin bukan buat anak-anak tapi untuk anaknya. Masakan sederhana. Ah, mamah. Masakan sederhana yang kadang saya rindukan. Mamah memang ga jago masak, tapi masakan mamah yang menghiasi kehidupan saya sebelum menikah.

Raut muka itu, membuat saya menangis sepanjang perjalanan pulang. Raut muka kaget tapi ada rona bahagia ketika saya datang. Ekspresi yang membuat saya sekuat tenaga menahan tangis. Bersyukur mengantarkan sendiri ke rumah mamah, bersyukur masih bisa melihat mamah, masih bisa ketemu sama mamah dan adek, masih bisa ngasih ke mamah.

Ketika sore tadi bertemu bapak juga, ada siratan yang tak pernah saya lihat, rindu dan bahagia ketika melihat saya. Tapi kami segera terpisah. Saya ga mau bapak tahu kalau saya sedang sakit sehingga menghindar. Meskipun saya tetap tak beranjak demi memperhatikan bapak dari belakang berjalan kaki menuju rumah. Sekilas tadi melihat perban di tangan bapak. Kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu masih berbekas.

Kemudian ingatan saya terlempar pada kejadian kemarin sore ketika mamah mengantarkan anak-anak pulang. Saat itu ada klien undangan yang hendak pulang, karena jalan menuju jalan raya cukup jauh maka kami menawarkan untuk mengantarkannya ke jalan raya. Bersegera saya ambil motor dan mengantarkan perempuan muda itu.

Di jalan tiba-tiba terpikir, kenapa nanti ga sekalian anterin mamah pulang aja. Kemungkinan mamah belum pulang sebab Azam nangis pengen ikut, pasti nemenin dulu Azam. Benar saja, begitu masuk jalan dekat rumah, mamah masih disana. Sementara Azam digendong oleh adik ipar.

Tak menunggu lama, saya menawarkan diri untuk mengantar mamah pulang. “Ga usah, jalan kaki aja”

“Udah gapapa, ayok naik mah” jawab saya memastikan

Anak-anak melihat saya mau mengantarkan mamah, bergegas ingin ikut. Akhirnya naik motor berempat muter menuju rumah mamah.

Begitu sampai di gang rumah mamah, kami berhenti. “Sampai disini aja ya mah. Biar gampang muterin motornya” mamah pun turun. Tanpa sengaja mamah bilang kalau di rumah ga ada siapa-siapa. Adik bungsu lagi bantu tetangga antarkan takjil ke masjid, bapak sudah ke mesjid sedangkan adik yang laki-laki belum pulang.

“Padahal mah buka di rumah teteh weh atuh barengan”

“Ngga ah. Nanti kasihan bapak kalau pulang ga ada siapa-siapa. Bapa bawa kunci rumah sih, tapi kasihan kalau sendirian”

Meski rumah kami dekat, saya pikir kehadiran anak-anak saja sudah cukup mewakili. Karena mereka lebih sering bilang kangen sama anak-anak. Sampai suatu ketika, saat sedang berbicara pada calon istri adik saya di rumah ketika dia mengantarkan hadiah pakaian untuk anak-anak, ketika dia menceritakan tentang ibunya, mamah turut bicara. Mengatakan bahwa kadang mereka juga rindu didatangi oleh anaknya. Hanya saja memaklumi jika anak-anaknya sibuk.

Ketika itu saya tidak terlalu merespon secara ekspresi tapi memikirkannya dalam hati. Ya Allah, mamah sama bapak ternyata bisa kangen juga ya sama saya?

Allah, terima kasih sudah menghantarkan hatiku pada kejadian-kejadian ini. Tuntun hamba agar tidak menjadi orang yang merugi.

merugi

Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam mengatakan

 

عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِالْجَنَّةَ ».

 

“Dari Suhaili, dari ayahnya dan dari Abu Hurairah. Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda : ”Merugilah ia (sampai 3 kali). Para Shahabat bertanya : ”siapa ya Rasulullah? Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda: “Merugilah seseorang yang hidup bersama kedua orang tuanya atau salah satunya di saat mereka tua renta, namun ia tidak masuk surga” (HR. Muslim).

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.