Berlibur di Ubud Menikmati Bebek Tepi Sawah

Beberapa orang sudah bersiap menyambut libur panjang sekolah Desember nanti mulai dari sekarang. Ya tentu saja, agar nyaman dan mengasyikkan kita perlu bersiap jauh-jauh hari. Dari menyiapkan itinerary hingga segala kebutuhan perjalanannya nanti. Dan menikmati liburan bersama Traveloka merupakan hal yang seringkali menjadi pilihan menarik. Hanya berbekal aplikasi di gadget, kita bisa mempersiapkan itinerary dengan lebih mudah dengan harga terbaik.

Di grup kemarin ada tawaran untuk liburan bareng ke Bali. Mm, sebenarnya mungkin bukan liburan ya mengingat tanggal itu adalah tanggal anak-anak masih masuk sekolah. Tapi jika yang dimaksud adalah melakukan perjalanan refreshing berdua suami, kayaknya asyik juga 😀

Kali ini kita coba tuliskan deh apa saja kira-kira mau kemana saja kita selama berlibur ke Bali. Agar meski waktunya singkat, kita dapat mengefektifkan waktu sehingga tetap dapat berkunjung ke berbagai tempat yang direkomendasikan.

Tujuan kita kali ini adalah Ubud. Sebuah kawasan wisata yang sudah dikenal sejak tahun 1930an ini masuk ke dalam pemerintahan kabupaten Gianyar dimana terdapat banyak seniman berbakat. Bisa dibilang, Gianyar adalah pusat kesenian dan budaya di Bali terutama seni lukis, tari, patung, ukir dan seni musik tradisional Bali.

Source photo: Google - blacktomato.com
Source photo: Google – blacktomato.com

Lokasi Ubud masih sangat alami dengan kawasan hutan dan areal sawah yang diapit sungai dan jurang. Masyarakatnya yang masih kental dengan kesenian dan budaya Bali di keseharian mereka -karena memang menjadi sumber mata pencaharian-, membuat sebagian besar kawasan pinggir jalan Ubud banyak terdapat toko yang menjual hasil kerajinan lokal dan juga terdapat museum seni.

Di kawasan obyek wisata Ubud banyak terdapat hotel berbintang maupun penginapan dengan harga yang terjangkau. Bebek Tepi Sawah Villas and Spas salah satunya. Tempat yang asyik untuk menginap dan beristirahat dan strategis, dekat dengan berbagai lokasi wisata yang dapat dikunjungi. Dan selalu ada harga spesial dari Traveloka tentunya.

Ubud memiliki beragam obyek wisata yang wajib dinikmati. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Agung Rai Museum of Art
    Memulai wisata ke museum, kenapa tidak? Jaraknya dekat sekali dengan posisi Bebek Tepi Sawah Villas, hanya 1km atau sekitar 3 menit dengan menggunakan kendaraan, 13 menit berjalan kaki. Anggap saja sekadar jalan-jalan 😀
    Beberapa mengenal museum ini dengan sebutan Arma Ubud, dibandung di lahan yang berkontur tanah naik-turun. Desain kebunnya kental dengan nuansa budaya Bali. Tiket masuk dibandrol Rp. 80.000 per orang dan buka dari jam 09.00-18.00.
    Petunjuk arah bisa ikuti rute di google maps.
  2. Monkey Forest Ubud
    Berjarak sekitar 2,1km dari Bebek Tepi Sawah Villas dengan jarak tempuh sekitar 6 menit menggunakan kendaraan, atau 26 menit jika berjalan kaki. Anda dapat mengecek rute maps.
    Terletak di area hutan lindung nan asri, banyak kera yang tinggal disana. Meskipun kera-kera di Monkey Forest Ubud ini jinak, akan tetapi banyak petugas berjaga guna menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung. Cocok saat mengajak putra-putri berlibur.
    Tiket masuk dewasa Rp. 40.000, anak 3-12 tahun Rp. 30.000.
  3. Istana Ubud
    Terletak tidak jauh dari Monkey Forest atau sekitar 13 menit berkendara dari Villa (kurang lebih 4km), Istana Kerajaan Ubud menarik untuk anda kunjungi.
    Tempat ini merupakan tempat tinggal  Tjokorde Gede Agung Sukawati, raja Ubud. Letaknya yang berada di sentral kawasan objek wisata Ubud menjadikannya begitu strategis. Apalagi hampir setiap malam disini ada pentas seni tari.
    Anda tidak perlu membayar tiket masuk untuk berkunjung ke Istana Kerajaan Ubud. Namun jika ingin menonton pertunjukannya, ada biaya tiket pertunjukan.
  4. The Blanco Renaissance Museum
    Jika anda ngefans berat pada karya lukis unik, The Blanco Museum dapat menjadi tujuan wisata anda selanjutnya. Di museum ini terdapat hasil karya-karya Don Antonio Blanco. Perjalanan dari villa sekiatar 15 menit menggunakan kendaraan berdasar informasi di peta. Tiket masuk Rp. 30.000 per orang.
  5. Tegenungan Waterfall
    Lelah berjalan-jalan dan ingin kembali ke alam untuk merasakan segarnya? Air terjun Tegenungan Kemenuh cantik banget untuk dikunjungi. Dengan tinggi air terjun mencapai 16m dan debit air yang turun sangat besar dan deras membuat air terjun ini memiliki daya tarik tersendiri. Ditambah lokasinya dekat dengan pasar seni Sukawati. Bisa sekalian belanja 😀
    Jaraknya sekitar 7-8km dari Villa (tergantung rute yang diambil). Tiket masuk Rp. 10.000 dewasa, anak Rp. 5.000. Ih asyik banget kan.
  6. Tagalong Rice Terrace
    Masih belum puas main di alam? Lanjut ke sawah terasering Tagalong yang berjarak sekitar 11km dari Villa. Sawah terasering yang terbentang dengan kemiringan cukup curam menjadi pemandangan unik. Apalagi ada cafe-cafe di pinggir jalan tepi sawah, menikmati pemandangan sambil bersantai. Tiket masuk di harga Rp. 10.000 per orang.
  7. Start Point Sobek Ayung Rafting
    Terakhir untuk sementara waktu. Habiskan suara anda di acara rafting melintasi sungai Ayung. Buka mulai pukul 10.00 dengan bandrol harga Rp. 350.000-400.000 per orang (sudah termasuk antar jemput dan makan siang). Cek map-nya ya. Cuma setengah jam.

So, sudah menentukan tujuan liburan? Jangan lupa untuk mengecek traveloka di hp anda ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Teori 20:80

Teman-teman yang berteman dengan akun facebook saya mungkin pernah membaca mengenai teori 20:80. Entah itu hubungannya dengan konsep STIFIn maupun Pola Pertolongan Allah.

Atau teman-teman yang satu grup di beberapa tema personal development maupun STIFIn juga familiar ya dengan tulisan “sekilas” saya tentang teori 20:80. Teori lama sebetulnya. Hanya berbeda kemasan dan pendekatannya saja.

Dalam konsep STIFIn, teori 20:80 lebih fokus pada pemahaman bahwa seseorang (yang disebut fenotip, ingat kembali pelajaran biologi :D) adalah hasil perpaduan genotip + lingkungan. Dimana 20% gen dilengkapi dengan 80% pengaruh lingkungan.

Dalam dunia biologi, pengertian fenotip adalah sifat yang tampak pada suatu individu (secara umum), dapat diamati oleh indera (entah itu dilihat mata, disentuh, dsb). Fenotip sendiri merupakan perpaduan (atau interaksi) antara gen dan lingkungan.

Berikut saya kutip pengertian fenotip dari wikipedia:

Fenotipe adalah suatu karakteristik (baik struktural, biokimiawi, fisiologis, dan perilaku) yang dapat diamati dari suatu organisme yang diatur oleh genotipe dan lingkungan serta interaksi keduanya. Pengertian fenotipe mencakup berbagai tingkat dalam ekspresi gen dari suatu organisme.

Sedangkan genotip menurut wikipedia memiliki definisi:

Genotipe (harafiah berarti “tipe gen”) adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan keadaan genetik dari suatu individu atau sekumpulan individu populasi. Genotipe dapat merujuk pada keadaan genetik suatu lokus maupun keseluruhan bahan genetik yang dibawa oleh kromosom (genom).

Dari pengertian di atas, kita bisa memahami bahwa meski hanya 20%, genotip tetaplah sesuatu yang sifatnya tetap dan menjadi penentu sifat dasar suatu organisme (makhluk hidup). Sehingga wajar saja meski mendapatkan lingkungan yang mungkin tidak mendukungnya, namun sifat dasar (yang dalam konsep STIFIn dikenal dengan Mesin Kecerdasan dan Personality Genetic) itu akan tetap keluar di saat-saat tertentu terutama situasi genting maupun situasi penting dan strategis.

Maka dengan memperkenalkan teori 20:80 pada konsep STIFIn, kita belajar mengenai mengoptimalkan genetik dan memaksimalkan lingkungan. Agar setiap pribadi dapat tumbuh mendekati posisi 100%. Nyaman, efektif dan mengasyikkan.

Lalu bagaimana dengan teori 20:80 dalam konsep Pola Pertolongan Allah (PPA)? Sedikit berbeda pendekatan, PPA memperkenalkan teori ini sebagai teori ikhtiar dan sunnatullah.

Diibaratkan ketika kita memegang pensil lalu menjatuhkannya, maka setiap kita sudah bisa menerka bahwa pensil tersebut pasti akan jatuh ke bawah. Setuju?

Apakah kita cenayang yang bisa memprediksi masa depan? Tentu saja bukan. Beberapa diantara kita mungkin akan menjawab “yah, teh Esa.. yang kayak begitu mah semua orang juga tau. Anak kecil aja pasti tahu.”

Tahukah anda? Teori sederhana ini ternyata memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar “pensil jatuh”. Lebih dari itu kita belajar memahami tentang sunnatullah.

Setiap kita pasti paham bahwa pensil jatuh akibat adanya gaya gravitasi. Tapi pensil pun tak akan jatuh jika kita tidak melepaskannya dari tangan yang menggenggam.

Demikian permisalan ikhtiar dan sunnatullah. Kepastian jatuhnya pensil adalah sunnatullah karena adanya gaya gravitasi. Wajar jika nilainya kita beri angka 80% pasti jatuh. Dan melepaskan pensil adalah ikhtiar untuk membuat pensil itu jatuh dengan angka 20%. 

Maka sejatinya, rejeki dan seluruh kehidupan kita berjalan di atas sunnatullah. Tapi ikhtiar tetap Allah perintahkan sebagai sebuah upaya mendapatkan optimalisasi rejeki berbekal tauhid, atas pemahaman kita pada salah satu ilmuNya yakni sunnatullah.

Dan dari 2 pengertian teori 20:80 di atas, kita mendapat satu kesimpulan yang setara: ikhtiar iman maksimal.

Ikhtiar kita dalam rangka taat pada Allah guna mengikuti sunnatullah. Dan penggemblengan diri secara optimal sebagai ekspresi rasa syukur atas potensi terbaik yang diberikanNya.

Selamat menikmati perjalanan mengenal diri, menggembleng potensi dan focus on Allah.

Salam hangat dari Bandung.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Gadis Kecil Itu Natasya

​Namanya Natasya. Entah bagaimana ejaan seharusnya dari nama yang ia bisikkan. Bicaranya begitu pelan hampir tak terdengar. Malu, katanya.

Anak perempuan berkaos merah itu nampak ragu saat saya memintanya duduk usai ia memberikan sehelai amplop. Berulang kali mencoba meyakinkannya bahwa saya tidak bermaksud buruk, ia pun akhirnya duduk di pinggir luar kursi panjang yang saya duduki. Akhirnya memutuskan untuk menggeser tempat duduk mendekatinya.

Ia kini duduk di kelas 2 SD. Rumahnya seputar Babakan Ciamis, Cihampelas, Bandung.

Penasaran saya tanya, ia kesini dengan siapa? Mengingat Cihampelas bukanlah tempat yang cukup dekat untuk dijangkau meskipun mungkin saja ia berjalan kaki dengan menyebar amplop sepanjang jalan. Ternyata ia menaiki angkot bersama uwaknya.

Sang ibu bekerja sebagai pembantu, begitu pengakuan yang diberikan. Sementara sang uwak adalah perempuan yang tak memiliki pekerjaan (yang kemudian saya tahu bahwa uwaknya ada di sekitar ia meminta-minta).

Sambil terus melemparkan senyum untuk membuat anak perempuan berambut lurus ini nyaman, saya coba mendekatkan diri “Natasya sudah makan? Ayok makan.” Tapi ia menggeleng. “Atau mau jus? Ini ambil punya kakak” lagi-lagi ia menolak. Maka saya pun langsung beralih pada sebuah permintaan sederhana yang direncanakan, “Natasya muslim? Agamanya Islam?” Iya mengangguk.

“Hafal surah annas? Atau alfatihah? Kakak mau dengar ya.” Tapi ia diam seraya menampakkan rasa gugup yang begitu besar. “Tenang aja, amplopnya nanti kakak isi kok. Kita baca bareng ya” lagi-lagi ia diam. Ia masih menjawab “malu” tanpa suara, hanya pergerakan bibir saja.

Ya, saya tahu. Memang malu rasanya. Dulu ketika saya menawarkan dagangan dari pintu ke pintu pun, rasa malu menyelimuti sepanjang perjalanan. Apalagi dia, yang sepertinya tahu persis bahwa tindakannya adalah meminta-minta.

Permintaan sederhana itu akhirnya membuat saya mulai menemaninya membaca ta’awudz. Dia tak bersedia mengikuti. “Ini, lihat uangnya. Kakak masukkan sini ya” seraya memperlihatkan uang itu dimasukkan amplop. Setelah memastikan saya memasukkan uang ke dalam amplop yang ia serahkan, mulailah suaranya terdengar meski tetap pelan.

Ta’awudz, basmalah dan awal surah an-nas kami baca bersama. Setelah itu ia melanjutkan hingga ayat terakhir dengan cukup baik. Alhamdulillah, syukurlah. Setidaknya dia hafal surah alquran.

Lalu amplop itu kulipat dan kusodorkan padanya seraya bertanya, cita-citanya apa. Namun ia hanya menjawab dengan senyuman tersipu. “Semoga lancar ya sekolahnya. Ga usah malu, annas kan surat cinta dari Allah. Bisa hafal itu luar biasa. Semoga cita-citanya tercapai ya. Sukses!” Kemudian kuelus punggungnya.

Lalu ia pun beranjak, menerima amplop yang kuserahkan seraya menuju tempat lain. Ah, hidup ini sudah cukup berat untukmu ya, Natasya. Meski uang yang diberikan tidaklah besar, tapi semoga kisah kecil ini akan kau ingat sebagai menjadi penyemangat.

Bahwa ada Allah bersamamu 🙂

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.