Inspirasi Sambal Oncom

Tiba-tiba saja terpikir judul inspirasi sambal oncom gara-gara obrolan ringan di sela sarapan pagi ini.

Sumber: google.co.id

Suami: “kenapa ya, oncom, tempe busuk yang rasanya pahit bisa jadi seenak ini. Ada pelajaran yang bisa diambil ga?”

Saya: “nggak tahu. Lagi ga bisa mikir. Eh lagi ga mau mikir tepatnya. Lagian tempe sama oncom kan dari ragi, ya wajar dong nunggu fermentasi. Bukan busuk. Dan bakteri yang dipakenya beda. Jadi oncom bukan tempe busuk.” jawab saya sekenanya. *note: oncom ternyata bukan pake bakteri ya manteman, tapi pake jamur. Ya jamur. Hehehe..

Suami: “iya tau. Tapi maksud Aa, di balik sambel oncom yang enak ini ada pelajaran apa?”

Saya: “biologi” aduh kalo inget jawabanku itu ya ampun rasanya 😂

Suami: “bukan itu. Itu mah jawaban anak sekolah”

Saya: “ya lagian udah dibilang lagi males mikir. Mau fokus makan dulu. Nanti aja atuh ngobrolinnya” cuma ya gitu deh orang Thinking mah kalo dapet inspirasi dicecer terus.

Suami: “pelajaran yang bisa diambil dalam kehidupan kita dari oncom. Meskipun dia pahit, tapi bisa seenak ini. Kayak nasi sudah jadi bubur. Menurut ade apa pelajarannya yang bisa diambil?”

Saya: “ya.. menurut Aa apa?” *kok ga kepikir dari tadi ya ngomong kayak gitu 😁

Suami lalu bercerita tentang hikmah kehidupan dari makanan bernama sambel oncom.

Sumber: bisikan.com

Oncom yang pahit itu ibarat takdir kita yang dirasa tak nyaman. Seringkali kita menganggap takdir itu membawa kita pada kondisi yang sama sekali tidak diharapkan. Yang perlu dilakukan agar kita dapat menerima bahkan menikmatinya adalah dengan mengolahnya. Begitu pula dengan emosi negatif, yang perlu kita laksanakan agar menjadi enak ya dengan mengolah emosi itu.

Nasihat ini dikhususkan untuk saya yang Feeling, orang yang kekuatannya di hati sekaligus menjadi kelemahan yang harus selalu diolah agar senantiasa kuat melewati terombang-ambingya perasaan. Tapi secara umum dapat diterapkan pada siapapun, terutama para ibu, perempuan, yang hatinya lebih sensitif jika dibandingkan lelaki.

Mengelola perasaan bukanlah hal mudah jika tidak tahu ilmunya. Sudah tahu ilmunya saja, seringkali kita kesulitan meredamnya saat memuncak kekesalan dan amarah.

Hal yang saya pribadi coba terapkan adalah berdoa selepas shubuh agar diberi hati yang ridho pada apapun ketentuan Allah dan memohon agar Ia pun ridho dan menemani sepanjang hari. Berharap dengan begitu, mudah untuk hati menerima setiap ketentuan takdir yang Ia tetapkan hari itu. Apakah itu hujan yang turun di kala baru saja selesai menjemur, pakaian yang tidak kering karena matahari tertutup awan mendung, atau sekadar bete karena suami ga sempat membawakan makanan kala di rumah tak ada apapun dan tak memegang uang sepeser pun.

Dan iya, itu berlaku. Signifikan. Setidaknya ketika ada rasa kesal menyelinap atas sesuatu yang terjadi hari itu, Allah ingatkan lagi kalo kita pernah meminta supaya diberikan kemampuan untuk ridho atas semua ketentuan.

Jelas kan. Ketika kita minta agar ridho, ada ujian untuk memastikan lulus di bab ridho. Setidaknya untuk hari itu. Selanjutnya, terus minta pada Allah agar ditemani. Supaya meskipun kita dapet oncom, bisa tetap diolah jadi makanan lezat ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mengajarkan Anak Makan Dengan Sumpit

Ketika sampai di rumah, kami mendapati bungkusan dari sebuah restoran fast food. Makanan yang tersaji dari resto yang khas menjual makanan Jepang ini langsung saya buka. Ada 2 bento untuk anak dan 1 porsi yang sepertinya diperuntukkan bagi saya #geer

Tumben nih suami bawain makanan macam itu. Karena kami sendiri belum pernah makan disana sekeluarga sebab anak-anak jarang memilih tempat tersebut. Sepertinya habis janjian dengan klien dan melihat bento kids-nya ada hadiah jam tangan kodok maka beliau tertarik memesan dan membawa pulang ke rumah.

Bagi anak yang terbiasa makan dengan menggunakan sendok, garpu atau tangan kosong ternyata agak sulit belajar makan pake sumpit. Hihi. Saat Danisy melihat saya asyik makan pake sumpit, dia takjub “ih ummi kok bisa?” Bisa dong, jawab saya pede.

Ternyata dia tertarik belajar. Alhasil saya coba ajarkan dia makan dengan sumpit. Sekali coba, ga bisa. 2x coba, bisa tapi sedikit yang bisa diambil. Sampai kemudian dia bisa makan agak banyak tapi berujung dengan sumpitnya dijadikan colokan macam makan bakso tusuk 😀

Saya mengajarkan dengan gaya yang saya tahu.

  1. Tahan sumpit dengan menggunakan telunjuk dan jempol (ibu jari)
  2. Gerakkan sumpit menggunakan telunjuk dengan tetap bertumpu pada telunjuk dan jempol 
  3. Jari tengah menahan salah satu sumpit 

Nah, setelah mencari di internet ada beberapa gambar yang bisa dicoba juga sebagai referensi baik untuk anak maupun dewasa yang belum bisa makan menggunakan sumpit.

Saya ga kayak gitu megangnya. Huhu. Tapi ada mirip-miripnya lah 😀

Mungkin semacam perbedaan madzhab. Cara megang pensil aja beda-beda, wajar dong kalo ada gaya megang sumpit yang berbeda juga antara satu dan lainnya. Hehe..

Kalau lihat gambar berikut, jadi inget gayanya Danisy. Setelah beberapa kali nyoba dia kemudian menggunakan caranya sendiri yang ya ternyata ada di gambar #eh

Coba bandingkan dengan foto ini:

Ish ish beda ding. Salah juga. Haha..

Tapi intinya, akan selalu ada awal untuk belajar sesuatu yang baru. Kesulitan beradaptasi dengan gaya yang berbeda adalah wajar selama masih ada keinginan dan kemauan untuk belajar. Jangan hakimi anak dan merendahkannya hanya karena ia belum bisa melakukan dengan baik sebab baru belajar. Tetap dampingi dengan damai dan santai. Kalau anak tidak mau melanjutkan, ya sudah. Woles aja. Kapan-kapan coba lagi.

Semoga gambarnya bermanfaat 😁

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Buanglah Sampah Pada Tempatnya. Familiar dengan kata-kata ini? Kayaknya banyaaaakkk banget kita temui ya. Meskipun tidak lantas masuk ke alam bawah sadar bahwa sampah musti dibuang ke tempat yang disediakan.

Ya, namanya manusia. Afirmasi lewat tulisan (yang jarang dibaca juga) pada akhirnya kalah oleh kebiasaan yang sudah “terbentuk” lebih dulu di alam bawah sadar selama bertahun-tahun. Betul? 😀

Tapi dalam tulisan ini saya tidak sedang akan membicarakan perihal kebersihan, atau semacamnya. Ada hal menarik lain terkait pernyataan tersebut. Apa itu? Cek gambar berikut:

Kalimat pada gambar adalah hasil foto dari isi sebuah buku yang sedang saya baca: Speak to Change, karya kek Jamil Azzaini. Menarik karena perumpamaannya kok ya makjleb banget.

Foto tersebut kemudian saya upload di Instagram dan dibagikan ke post Facebook pribadi. Beragam komentar masuk. Ya, karena saya juga baru sadar ternyata berbicara seenaknya kepada orang lain itu adalah bagian dari omongan “sampah”. Dan, sebagai pemeluk agama yang baik, sudah selayaknya kita memperhatikan ucapan.

Ceplas-ceplos oke, tapi berlatihlah agar tidak menyakiti orang lain. Ceplas-ceploslah hal yang positif dan membangun.

Dalam hal menulis status di Facebook, BBM, WhatsApp, Path dan lain sebagainya, perhatikan betul apa yang kita tulis dan bagikan.

Tahan untuk tidak menuliskan keluhan. Adapun jika tak tahan, maka tuliskanlah keluhan itu dalam bentuk “motivasi diri”, “nasihat untuk diri sendiri” atau semacamnya. Biasanya sih sering diberi tagar #NTMS alias note to myself. Karena apa? Karena hendaknya tulisan kita selalu mengacu pada kaidah yang diajarkan Socrates, 3-B: baik, benar, berguna. Dengan 3 filter tersebut, maka tulisan kita akan lebih ringan pertanggungjawaban di akhirat kelak. Jangan sampai tulisan kecil kita ternyata mendekatkan pada kemurkaan Allah karena isinya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ini juga kemudian berlaku bagi para penyebar BC sembarangan. Hehe. BC itu beberapa diantaranya memang bermanfaat. Tapi sebagian besar nampak seperti sampah. Dengan cara menulis alakadarnya, isi yang ga jelas hoax atau kebenaran, dan tidak jelas manfaatnya. Apalagi jika penyebar BC tersebut tidak bisa ditanyai mengenai sumber tulisan. Duh.

3-B sendiri cocok untuk menyaring informasi yang kita dapatkan. Supaya ga lebay, ga baperan dan ga terlampau berlebihan menyikapinya. Itu yang sedang saya pelajari dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kamu masih punya sampah? Buanglah sampah pada tempatnya. Bisa berupa tulis di kertas, lalu buang/bakar. Bisa berupa rekaman lalu dengarkan sendiri dan hapus kalo ga suka. Bisa juga dengan memohon pada Allah agar sampah-sampah tersebut dipertemukan dengan tempat sampah yang tepat. Akan sangat ciamik bila sampah dipilah lalu diolah. Pilihan ada pada diri anda sendiri.

So, masih buang sampah sembarangan? Jangan deket-deket saya ya. Takut ketularan bau #eh

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menuntun Bukan Menggusur

Malam ini berkesempatan menuntun Danisy dan tiba-tiba berkontemplasi di tengah sunyinya jalan yang kami lalui. Menuntunnya, adalah sebuah anugerah yang jarang sekali saya sadari.

Pikiran saya lalu terbang pada evaluasi pendidikan yang kami coba berikan. Dan mungkin dialami pula oleh sebagian orang tua lainnya.

Agama dan ilmu pendidikan anak mengajarkan bahwa orang tua sebaiknya mendidik dengan cara menuntun. Menuntun adalah sebuah “kegiatan” memegang tangan anak, membawanya ke tempat yang dituju. Dengan ringan dan penuh cinta.

Coba teman-teman bayangkan tentang aktivitas menuntun ini. Adakah kedua belah pihak keberatan dan kemudian menolak berjalan bersama?

Saya pikir kita sepakat menjawab: tidak.

Permasalahannya sekarang, seringkali dalam mendidik kita merasa kesulitan. Bahkan hingga keluar pernyataan “kenapa sih kamu baru nurut kalo ibu udah marah?” Familiar kah dengan kalimat tersebut? Saya pernah mengatakannya pada anak kedua kami. Semoga Allah berkenan mengampuni.

Teman-teman pernah mengalami gaya menuntun dengan cara memaksa? Saya kira semua sepakat, itu bukan menuntun tapi menggusur

Lihat saja dalam keseharian. Di kala yang menuntun memaksa yang dituntun, ada pemaksaan dan penolakan. Alhasil yang menuntun mengeluarkan emosi kemarahan sementara yang dituntun mengekspresikan emosi kekesalan. Maka yang menuntun sudah tidak lagi melaksanakan tindakan yang seharusnya: menuntun. Melainkan melakukan tindakan pemaksaan: menggusur.

Bagaimana dengan perjalanan mereka? Tidak nyaman di kedua belah pihak.

Lalu apa yang biasanya menjadi penyebab pemaksaan ini? Ada banyak hal. Setidaknya hal utama yang saya dapatkan adalah:

  1. Tempat yang dituju tidak disepakati di awal perjalanan. Bisa jadi salah satu pihak merasa tujuannya bagus, sementara pihak lain menganggap tempat yang dituju adalah ancaman.
  2. Tidak ada komunikasi antara kedua belah pihak mengenai tujuan dan cara mencapainya
  3. Tergoda pada “pemandangan” yang ditemui di tengah jalan, bisa berupa tempat main, warung, dsb.

Dalam aktivitas menuntun, kegiatan ini akan menyenangkan ketika kedua belah pihak berjalan untuk tujuan yang sama dan menyepakati segala sesuatunya di awal perjalanan (do and don’t). Sehingga yang menuntun cukup mengeluarkan efforts kecil untuk mencapai tujuan karena pihak yang dituntun akan dengan senang hati menyodorkan tangannya dan berjalan bersama.

Maka, dalam hal mendidik anak pun sebaiknya kita menuntun bukan menggusur. Memberikan pengertian pada anak, tempat yang dituju. Menggandengnya penuh cinta dan menikmati perjalanan dengan ceria. Kesepakatan yang dilakukan di awal akan membantu kita mengatasi segala godaan di perjalanan. Godaan yang tidak hanya akan menimpa anak tapi juga menimpa diri orang tua. Keduanya akan saling mengingatkan bahwa ada yang dituju dari perjalanan yang dilakukan.

Selamat belajar menuntun, bukan menggusur.

#CatatanEsa 

H-2 kopdar ngobrol santai Limes. 30 Oktober, jam 9-15 wib di RM Ayam Penyet Ria, Bandung.

Sampai jumpa disana ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Karena Cinta Kadang Tak Disadari Adanya

Film Dear Love sepertinya menjadi film percintaan “remaja” pertama yang saya nonton. Di bioskop, sendirian dan justru setelah menikah. Heuheu. Eh ga sendirian juga sih, ada penonton lain disana 😀

Film bergenre romantik ini mendapat rating 8,6 di situs movie.co.id. Kisah cinta mengharukan besutan sutradara Dedy Syahputra ini berhasil membuat saya yang Feeling menangis di beberapa scene. Mm, ya terharu gimana gituh. Hehe.

Setidaknya ada beberapa tokoh yang saya garisbawahi. Anggap saja tokoh utama ya. Nico yang diperankan oleh Dimas Aditya, Mentari de Marelle sebagai Rayya dan Billy Davidson memainkan tokoh Addin.

dear-love-movie

Nico tinggal di seberang rumah Rayya. Pertemuan mereka “tidak disengaja” saat akhirnya keluarga keduanya menempati rumah di pemukiman yang sama. Bertemu ketika mereka masih anak-anak lalu bersahabat selama bertahun-tahun lamanya, bahkan belasan tahun.

Selama belasan tahun itu pula, Nico menjadi saksi atas setiap perjuangan Rayya dan sang ibu menghadapi penyakit yang diderita gadis kecil ini. Nico kemudian merasa harus melindungi Rayya. Sehingga ia akan menjadi orang pertama yang mendampingi Rayya dan ibunya jika terjadi sesuatu. Dan salah satu cara aneh yang dilakukannya adalah dengan “menjodohkan” Rayya.

Nico mencoba mempertemukan kembali Rayya dengan para mantannya. Berharap salah satu diantara para mantan itu dapat menjaga sang “adik”. Tindakan yang ternyata ada motif lain disana.

Setiap surat yang ditulis Rayya terhadap para mantan kekasihnya, tanpa diduga sampai di tangan masing-masing mantan. Mantan pertama yang terhubung kembali adalah Mike. Mike yang senang olahraga mengajak Rayya untuk jogging di pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Rayya yang menderita jantung lemah akhirnya pingsan dan dilarikan ke UGD. Dan ada tindakan Mike lainnya yang membuat Nico marah sehingga meminta Rayya untuk tidak lagi berhubungan dengan Mike.

Mantan kedua, Cello. Usai mendapati kenyataan bahwa Rayya menderita jantung lemah, ia bagai hilang ditelan bumi. Tak ada kabar dan tak pernah lagi mencoba menemui Rayya. Hal ini membuat Rayya sempat putus asa.

Hingga segalanya berubah saat Addin muncul di hadapan Rayya. Dan dari scene inilah bagi saya yang membuat skenario menarik mulai asyik diikuti.

film-dear-love-2016

Sejak semula, scenenya dibuat nampak menarik dan memperlihatkan bahwa baik Nico maupun Rayya sebetulnya saling menyayangi satu sama lain. Akan tetapi kemudian saya sendiri sempat ragu, benarkah memang Nico mencintai Rayya atau sekadar rasa sayang sebagai kakak kepada adik, mengingat Nico pernah kehilangan seorang adik perempuan. Meskipun menjelang scene akhir ada momen saat Nico koma, ia menangis ketika Rayya membacakan sebuah surat padanya. Surat apakah itu? Dan kenapa Nico sampai koma? Tonton aja deh.

Sayangnya saya kehilangan kesempatan bertemu langsung dengan para pemainnya di Festival Citylink Bandung kemarin. Tapi bisa me time nonton sendiri aja udah hiburan banget. Beberapa “puisi” dan kalimat di filmnya inspiring. Sayangnya kok ya ga inget ngerekam. Padahal lumayan buat quote atau bikin surat cinta 😛

Secara alur cerita, saya suka. Satu diantara scene yang membuat saya seketika nangis adalah saat menjelang akhir cerita. Asli kece. Meskipun saya melihat akting Ikang Fawzi (memerankan ayah Nico) serasa kurang greget. Pokoknya di scene keluarga itu rasanya kurang “klik” gituh. Atau mungkin karena kisah tentang keluarga hanya sedikit saja yang diceritakan sehingga nampak seperti “tempelan” saja.

Ciri khas film Indonesia adalah pemukiman yang mewah dengan alur yang mudah sekali ditebak. Eh, itu pendapat saya sih. Meskipun alur itu baru bener-bener dapat ditebak setelah menjelang akhir film. Ga terlalu greget yang bikin penasaran. Tapi beberapa scene romantisnya okeh untuk diikuti. Kalau kamu pecinta film romansa, perlu dicoba juga nih. Jika diminta beri rating 0-5, saya memilih angka 4.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Our Simple Time

Siang ini menjemput Danisy tanpa bawa Azam. Diajak beli eskrim, duduk berdua di emperan ruko untuk menghabiskan eskrim (ummi beli teh aja). Menikmati pemandangan jalanan yang macet.

Lalu mendadak memutuskan belok untuk makan bakso di tengah perjalanan.

Dan secara tiba-tiba, berujung dengan potong rambut.

Me and son time.

Tanpa gadget, lupakan sejenak pekerjaan. Hanya berdua saja.

wp-image-533650802jpeg.jpeg

Tiba-tiba ide berduaan itu melintas. Mengingat Danisy di usia 2,5 tahun sudah harus berbagi karena Azam lahir.

Rasanya, kami tidak sering-sering mengkhususkan waktu untuk dia seorang. Maka, ketika sesekali kami pergi bertiga: Danisy, abi dan ummi, ia nampak begitu manja. Seperti menikmati kebersamaan.

Ya, kadang perlu menyengajakan waktu untuk pergi hanya berdua. Tanpa yang lainnya. Just two of us.

Dulu saya pikir, setiap pergi kemana itu harus barengan agar setiap orang merasa adil diperlakukan. Tapi ternyata tidak selalu demikian. Ada kalanya kita perlu hanya berdua saja.

Istri dan suami.

Ibu dan anak pertama.

Ibu dan anak kedua.

Ayah dengan anak pertama.

Ayah dengan anak kedua.

Dst.

“Me time” 🙂

#CatatanEsa #CatatanBersamaAnak

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Persepsi Mata

Siang ini muncul postingan tentang sebuah gambar di timeline facebook. Gambar yang bagi saya kemudian menggambarkan tentang makna sebuah persepsi.

Apa yang teman-teman lihat dari gambar di atas? Yang pertama kali saya lihat adalah wajah seorang laki-laki dengan ekspresi datar dan cenderung seram. Apalagi bagian mata dan mulut 😀

Tapi apa yang terjadi? Setelah baca komentar-komentar yang masuk, ternyata ada jawaban bahwa disana terdapat gambar seorang perempuan yang tengah tersenyum. Bisa terlihat kah?

Jika belum terlihat, coba tutup mata sedikit secara perlahan lalu buka kembali, bisa juga dengan memicingkan mata. Cara lainnya dengan pelan-pelan gerakkan layar ke atas atau ke bawah. Akan nampak wajah perempuan tersenyum itu.

Sudah bisa melihatnya?

Dari satu gambar ini kita bisa belajar bahwa kadang mata awam kita tidak mampu menangkap “gambaran” lain dari sebuah objek, termasuk dalam kehidupan kita secara luas.

Dalam setiap takdir -seburuk apapun- akan selalu ada hikmah tersembunyi. Tapi seringkali kita kesulitan membaca “senyum di balik seram”. Mata tidak menyadari sampai seseorang membantu menyibak rahasianya. Atau sampai kita dipertemukan oleh Allah dengan hikmah di baliknya, beberapa saat kemudian.

Semakin sering kita menemui gambar serupa, semakin mudah kita sadar “pasti ada ‘gambar’ lain di balik gambar ini”. Selalu dibuat seperti itu polanya.

Jadi mulai saat ini, ayok kita belajar dari persepsi mata agar lebih jeli dalam menilai. Sesekali kita butuh menutup mata agar hati dapat berbicara, sisi lain diri kita yang melihat lebih dalam dan kadang perlu mengubah posisi pandangan entah dengan menggeser maupun membalikkannya. View with the other angle.

Ayo kita terus belajar ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.