Menjaga Amanah

Satu diantara bahasan dalam STIFIn Bisnis adalah tentang zero khianat. Hal ini lebih menegaskan bahwa bagi seorang muslim (dan bagi siapapun) amanah itu mutlak harus dijaga. Sekecil apapun.

Amanah pada Allah

Bagaimana seorang hamba, menjaga hak tuhannya dalam setiap lini. Ibadahnya, kelakuannya, doa, hati dan kepasrahannya. Serta iman.

Amanah pada keluarga 

Bagaimana seorang yang menjaga amanah tuhannya juga melanjutkan sikap itu pada garda terdekat dengan dirinya: keluarga. 

Amanah pada rekan kerja maupun partner bisnis 

Seorang yang menjaga dirinya agar senantiasa menjaga kepercayaan rekan kerja maupun partner bisnisnya adalah interpretasi sifat yang berkesinambungan dan selaras di semua sisi kehidupan.

Kadang kita menyepelekan amanah. Dari poin pertama tentang menjaga hak Allah, seringkali kita lalai dalam berdoa, tidak khusyu dalam beribadah, kurang tawakkal dalam ikhtiar, dan tipisnya iman di dalam dada. Maka dengan mudah kita meninggalkan Allah yang seharusnya senantiasa menjadi yang pertama “diajak ngobrol” dan demikian hingga akhir proses kegiatan kita. Just focus on Allah. Benar-benar mengimplementasikan la hawla wa la quwwata illa billah.

Pada poin amanah terhadap keluarga, ada 1 hal yang mudah sekali kita langgar tanpa merasa berdosa: janji pada anak/pasangan. Misal saat dalam perjalanan kita menjanjikan anak akan membeli sesuatu sehingga girang sekali ia saat itu. Lalu tiba-tiba telpon berdering. Dari klien bisnis mengajak kita untuk bertemu segera. Maka kita bersegera memenuhi panggilan itu dan men-drop anak ke rumah. Kita lupa. Dan saat anak mengingatkan, bukannya meminta maaf malah kadang kita membentaknya “ayah/ibu ada pertemuan penting. Kamu di rumah aja. Soal yang akan dibeli tadi, kan bisa nanti lagi.” Sekilas tidak ada yang salah ya. Tapi percayalah, secara perlahan kita melukai kepercayaan anak. Bahkan kita mengajarkan anak untuk tidak berkomitmen pada janjinya. Dan bahwa mereka “tidak lebih penting” dari klien bisnis. Bagaimana?

Poin berikutnya adalah amanah pada klien maupun rekan bisnis dan partner kerja. Biasanya sederhana: kita janji akan bertemu di tanggal sekian jam sekian. Lalu kita lupa dan merancang janji dengan pihak lain. Alih-alih mengkonfirmasi pada kedua belah pihak, kita malah akal-akalan dengan berbohong. Memilih yang paling “menguntungkan”. Salah? Mungkin tidak. Tapi jika itu yang dilakukan, mungkin dia tidak tahu dan menerima alasan yang dikemukakan, tapi Allah Mahatahu. Bisa jadi malah pertemuan yang “dianggap” paling menguntungkan itu malah gagal menghasilkan sesuatu. Pernah mengalaminya? Jika pernah, coba cek niat dan cara kita. Cek bagaimana kita “berkhianat”.

Maka dalam kasus poin 2 dan 3 kita harus benar-benar memperhatikan cara mengkomunikasikan keadaan. Jujur pada semua pihak, siap menerima konsekuensinya dan tentu saja meminta maaf. Kemampuan kita dalam mengaplikasikan crusial conversation sangat dibutuhkan. Bagaimana di tengah pembicaraan pelik, kita dapat menawarkan win win solution.

Semoga menjadi pembelajaran dan reminder untuk saya pribadi. Dan bermanfaat bagi teman-teman.

Salam hangat dari Bandung.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Gairah

​Gairah.

Bagi seseorang yang belum pernah memiliki mimpi lalu dianugerahkan mimpi, rasanya hidup seperti baru saja dilahirkan. Dengan semangat dan target baru, kehidupan yang semula “asal jalan asal makan” berubah menjadi sebuah gairah ghiroh perbaikan.

Mimpi. Tidak semua orang memiliki harapan tentang mimpi. Jika semasa kecil semua orang bebas bermimpi, maka jelang memasuki masa mudan, lingkungan sekitar mencoba menyadarkan tentang makna realistis dalam sebuah pencapaian. Hal itulah yang kemudian membuat para pemuda kehilangan asa terhadap mimpinya.

Terkadang, bahkan mimpi itu dimatikan sejak akal baru mengerti tentang sebuah kata bernama “kenyataan”. Tak jarang mimpi juga dibunuh segera setelah ia lahir dari pemikiran polos seorang anak.

Padahal, mimpi adalah sebuah amunisi. Amunisi guna menentukan pencapaian yang lebih baik lagi di masa mendatang. Bukan hanya untuk diri, tapi juga untuk manfaat bagi yang lain.

“Tuhan, berikan aku mimpi. Jadikan aku profesional di salah satu bidang dimana manfaat yang ditebar bisa sedemikian mengakar.” 

Pernahkah terlantun doa semacam itu? Saya pernah. Berulang kali ketika merasa kehidupan hampa jika ia berjalan apa adanya tanpa visi yang jelas.

Setelah melalui hari-hari gamang, Ia pun menganugerahkan sebuah keinginan yang disebut mimpi. Dan gairah itu muncul seketika dalam hati.

Ibarat berkendara mobil, selain harus pandai menyetir atau menemukan sopir yang handal, juga harus dipastikan ada tujuan yang ingin dicapai. Agar seluruh penumpang mobil tidak dibawa berputar-putar tanpa kejelasan yang akhirnya sopir lelah, penumpang gerah.

Mimpi, cita-cita, asa adalah bahan bakar gairah kehidupan. Menjadi cara mensyukuri potensi yang diberikan Sang Pencipta untuk memaksimalkan bekal pulang.

Sebab kehidupan seseorang sejatinya adalah untuk pertemuan dengan Rabb-nya. Maka bergairahlah menjalani kehidupan agar kita tahu kapan harus berjalan dan kapan harus berhenti sejenak.

Kawal setiap mimpi dengan doa berlapis. Kawal setiap asa dengan berbaik sangka pada Sang Maha. Kawal cita dengan semangat yang dicontohkan Rasulullah: melampaui jaman dengan didasarkan pada keimanan.

Selamat menikmati gairah kehidupan. Bermimpi dan bangunlah asa. Gapai cita dan raih sepenuh cinta.

Salam hangat dari Bandung.

Esa Puspita 

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Rejeki dan Keyakinan

Rejeki itu sudah diatur sedemikian rupa.
Jika kita sudah mengusahakan yang terbaik tapi yang memperolehnya adalah orang lain yang sempat kita kenalkan, maka itu rejekinya dia.
Bersyukurlah karena kita menjadi perantara kebaikan.
Dan mungkin karena memang kita belum pantas mendapatkannya.
Pasti Allah siapkan yang terbaik.
Seperti kala Salman alfarisi melamar seorang wanita bersama temannya Abu Darda, sang wanita justru memilih Abu Darda. Maka belajarlah dari respon Salman. Tentang lapang dada dan kuatnya keyakinan pada Allah.

Ketika rejeki yang sudah hampir menghampiri namun kemudian urung disebabkan Allah belum mengizinkannya untuk kita, maka itu adalah yang terbaik. Jika mengutip kata-kata yang banyak digunakan, “rejeki tidak akan bertukar“.

Tapi hati manusia kadang lemah sehingga mudah diombang-ambing nafsu dan bisikan setan. Iri dan dengki terhadap rejeki orang lain. Kemudian mengutuk ketika rejeki yang sejengkal lagi dimiliki ternyata malah beralih kesempatan.

Pernah mendengar kisah Salman Alfarisi? Seorang sahabat dari bangsa Persia.

Suatu ketika ia tertarik dengan seorang perempuan Anshar. Karena ia pendatang, ia pun meminta sahabatnya, Abu Darda’ untuk menenaninya. Bukan karena ia tak berani, tapi karena ia masih asing disana. Agar rencana melamar dapat disampaikan dengan tutur yang baik lagi ramah.

Sesampainya di rumah perempuan incaran Salman, Abu Darda lantas mengutarakan maksud kawannya untuk melamar putri sang tuan rumah. Sang tuan rumah tentu menerima dengan hangat kedatangan 2 sahabat dekat Rasulullah untuk mempersunting putrinya.

Setelah melalui diskusi dengan anak perempuannya, istri sang tuan rumah lantas mengatakan hal di luar dugaan. Bahwa mereka menolak pinangan Salman, akan tetapi jika Abu Darda memiliki niat yang sama, maka mereka bersiap dengan jawaban “iya”.

Bayangkan perasaan Salman kala itu. Tapi keimanan di atas segalanya. Ia sadar bahwa perempuan itu berhak menolak dan menerima siapapun. Maka ia segera menyerahkan seluruh mahar dan nafkah yang disiapkan untuk diberikan kepada Abu Darda. Masyaallah.

Seorang saudara tidaklah dengki pada rejeki yang didapatkan saudaranya. Justru ia turut berbahagia.

Dan di luar itu, posisi kita sebagai seorang awam, maka mengikhlaskan apa yang telah hilang adalah sebuah kebaikan bagi hati, diri dan kehidupan. Sudah lah rejeki itu seolah terlepas dari tangan kita, janganlah kemudian melepas hati sehingga ia tak di tempat yang seharusnya.

Bersyukurlah atas kesempatan menjadi perantara kebaikan. Rasa kecewa tetap wajar karena kita manusia. Akan tetapi segeralah bergerak menjemput takdir Allah lainnya.

Ditinggalkan sang kekasih karena dinikahi sahabat sendiri, ditinggalkan teman karena ia memilih hal yang lain, kehilangan kesempatan karena ia beralih. Allah pasti sedang siapkan takdir lain yang lebih baik.

Mungkin saat ini, kita belum pantas menerimanya. Tubuh dan hati kita belum dianggap pantas oleh Allah untuk mendapatkan hadiah yang diinginkan.

Seperti seorang anak kecil yang menginginkan kendaraan bermotor. Sebagai orang tua kita tidak akan memberikannya, sebab belum saatnya. Tapi kelak ketika saatnya tiba, Allah pasti akan berikan.

Doa kita tidak pernah ditolak. Allah hanya terlalu sayang pada kita sehingga Ia akan mengabulkan di saat yang lain, mengganti dengan yang lebih baik atau memang menundanya hingga di jannah.

Apapun yang terjadi, selalu berbaik sangka lah. Agar takdir yang menghampiri selalu nampak indah karena iman.

Allahumma shalli ‘ala muhammad.

Barakallahi fikum πŸ™‚

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Eksplorasi Dunia Orang Tua

Anak-anak itu polos. Dan sesungguhnya mereka tulus. Hanya bahasa cinta kita yang terkadang tak sama.

Tindakan manis Azam ahad sore kemarin (9/10), ia mendekat lalu mencium kening dan pipi ketika nampak ummi marah dan membelakangi dirinya. Ia tahu persis bahwa saya sangat kesal pada sikapnya seharian kemarin. Utamanya karena setiba di rumah, Azam tidak melaksanakan amanah yang diberikan. Iya sih dia baru 3 tahun, tapi konsekuensi tetap harus diajarkan.

Setelah pagi merengek tidak mau pulang dari rumah mama (yang berarti menyalahi kesepakatan), dilanjut saat siang perjalanan merengek tidak mau berbagi kursi duduk di bis dengan kakaknya, ditambah saat menjelang makan ia 2x ngamuk untuk hal sepele: ingin teh kotak beli baru padahal sudah pesan es jeruk dan teh kotak yang tersedia pun baru dicicipi sedikit. Tambah ketika ditanya mau pilih menu yang mana dia bersikeras ingin pesan menu yang ga ada di daftar tersedia. Setelah pesanan saya dan Danisy datang, ia menangis histeris ingin ayam yang saya pesan. Padahal ketika ia meminta menu yang datang itu, sudah langsung disodorkan untuk dimakan. Tapi entah apa yang dipikirkannya.

Nafsu makan hilang seketika. Padahal sebelumnya sangat lapar. Mencoba memeluk dan membawa keluar dari tempat makan karena khawatir pengunjung yang lain terganggu.

Gusti.

Saya tidak lagi bisa menahan tangis. Akhirnya pertahanan jebol. Menangis sambil tetap memeluk Azam yang masih tantrum. Mencoba memahami keinginan utamanya. Mencoba menyampaikan apa yang perlu dikomunikasikan.

Akhirnya tangisan reda. Lalu meminta komitmennya untuk tidak lagi menangis agar semua pihak nyaman.

Menjadi orang tua itu meski banyak sekolahnya saat ini (aka seminar, workshop, pelatihan dsb) tetap saja praktek di lapangan selalu butuh penyesuaian dengan kebutuhan. Jika bukan karena pertolongan Allah, rasanya semakin sulit saja memerankan orang tua yang berharap kehidupan dunia dan perbekalan akhirat anaknya jauh lebih baik dari dirinya.

Kemudian teringat dengan sebuah diskusi mengenai teori perkembangan. Ketika ada fase tumbuh kembang anak yang tidak terlewati dengan baik, tidak terpenuhi dengan sempurna, pada akhirnya mereka akan “menagih” kepingan puzzle yang belum lengkap itu di masa-masa berikutnya tanpa terduga.

Disinilah kemudian PR besar orang tua untuk menelusuri penyebab dan solusinya. Ya, seringkali tidak mudah karena harus menelusuri setiap detik perkembangannya. Tapi jika ingin tidak lagi ada rengekan ga jelas, tindakan yang (dianggap) kekanak-kanakan, atau “kemanjaan yang tidak sesuai usia”, orang tua harus rela bersusah payah menemukan akar permasalahannya yang dari sanalah kemudian solusinya bisa ditemukan. Biidznillah tentunya.

Tapi bersyukur sekarang banyak informasi yang membantu mempermudah. Bismillah. Kita semua pasti dapat menjadi keluarga yang jauh lebih baik dari generasi sebelumnya.

Allahumma shalli ‘ala muhammad.

Barakallahu li wa lakum.

Selamat eksplorasi dunia orang tua πŸ™‚

Foto diambil saat anak-anak menikmati hujan di lingkungan masjid Salman ITB
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tanya Allah, Dia Aturkan

Pekan ini menjadi pembelajaran yang luar biasa bagi saya si Feeling extrovert. Tentang bagaimana Allah menyusun rencana terbaik dengan cara terbaik. Belajar tentang ikhtiar yang sudah semestinya selalu berdampingan dengan tawakkal sedari mulai hingga akhir perjalanan.

Ada beberapa agenda tes STIFIn yang masuk dalam daftar saya pekan ini. Cukup padat.

Qadarullah akhir pekan lalu laptop ga mau nyala. Pertama karena habis baterai sementara charger-nya patah. Iya, chargernya patah. Katanya sih pas charging (di kamar) laptop jatuh karena rebutan sehingga si ujung charger ini patah. Huhu.

Kedua, juga mendadak ga mau load setelah dicoba charge menggunakan kabel charger HP. Nyala sih cuma ga mau boot masuk Windows. Begitu masuk loading Windows, layar sentuhnya ga berfungsi dan ada bulatan di layar seperti terkena sesuatu πŸ™ coba hard reset, ga bisa slide down untuk turn off (laptop menggunakan Windows 10 jadi ada slide down untuk mematikan laptop saat menekan tombol power agak lama).
Coba hard reset sampai benar-benar mati pun ga bisa. Dan akhirnya mati sendiri karena kehabisan baterai.

Panik mengingat jadwal yang mau tes cukup padat dan ada permintaan workshop juga. Alhasil semuanya “berantakan”.

Eh tapi nggak lho.

Ketika saya kesal gara-gara charger, suami mengingatkan “charger bisa ganti. Perasaan dan hati ga bisa.” Yang itu sebenarnya reminder kalo saya ga perlu marahin anak-anak.

Okeh, tarik nafas. Tarik diri dulu. Masuk kamar, ngadem. Ngadu sama Allah “ya Allah ini teh gimana? Saya teh harus gimana.”

Mencoba menghubungi para calon klien. Bukan untuk membatalkan, hanya memastikan yang bersangkutan masih on schedule apa nggak. Sambil mencoba cari cara agar tetap bisa memegang amanah. Pinjam laptop adek atau suami.

Alhamdulillah yang jadwalkan tes di Bandung terpenuhi. Yang jadwalkan tes di Cimahi, sempat galau karena laptop suami dan adek pas ga bisa dipake saat itu. Ternyata qadarullah sama Allah ditunda. Saat saya bertanya “maaf Pak, jadinya yang mau tes berapa orang?” Ternyata di luar dugaan, beliau menjawab “kalo misal sekalian saja dengan anak-anak nanti gimana? Sekarang ada acara keluar kota dulu.”

Allahu akbar.

Lalu berlanjut dengan rencana silaturahmi dengan teman di Depok, Jakarta dan Bekasi. Qadarullah akhirnya yang Bekasi batal karena tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan acara kopdar, yang Depok katanya sebaiknya ditunda karena belum maksimal persiapan (ini rencana ngobrol santai saja), dan Jakarta reschedule agenda silaturahmi pas beliau pulang ke Bandung aja katanya. 

Dan terakhir, karena saya sadar butuh tim untuk membantu menjadwalkan acara pertemuan terutama workshop atau ngobrol santai, eh sama Allah dipertemukan “mimpi”nya dengan “pemimpi yang sama”. Saya butuh EO, dia sedang akan bikin EO dengan pengetahuan mengenai training standar internasional dan bagaimana gaya seorang trainer bersertifikat (macam SNI). Malah jadi dapet ilmu dan tim.

Masyaallah.

Allah sebaik-baik perencana. Ketika niat kita baik, fokus pada manfaat untuk orang lain dan mencoba selalu menjaga amanah, dipertemukan Allah dengan orang-orang yang baik pula dan dijadwalkan oleh Allah dengan sebaik-baik rencana. Tanpa perlu membatalkan sehingga menyakiti salah satu pihak. Tanpa perlu kebingungan mau ajak siapa untuk kerja sama. Alhamdulillah.

Teman, maka ketika engkau bertemu dengan kondisi yang membingungkan, tanya Allah. Perbaiki niat, ikhtiar memenuhi amanat secara maksimal dan pasrahkan. Setelah itu, Allah akan schedule-kan appointment terbaik. Jadwal yang kamu mungkin tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana caranya.

Allahumma shalli ‘ala muhammad.

Barakallahu li wa lakum πŸ™‚

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Sop Iga ala UmDA

Semalam memutuskan hari ini mau olah daging yang didapat saat idul adha kemarin. Maka, pilih secara acak keresek yang ada di freezer. Maklum, ini dapet jatah dari adek sama mamah jadi ga tau juga isinya apa karena saat pembagian jatah, kami sekeluarga sedang mudik ke rumah mertua jadi oleh adik bungsuku langsung dimasukkan freezer.

Setelah semalaman dipindah dari freezer ke bagian bawah untuk defrost, pagi-pagi cek masih beku. Rupanya sama anak-anak tingkat dingin kulkas dibuat maksimal 😁

Akhirnya eksekusi baru dapat benar-benar dilaksanakan menjelang ashar. Setelah ke warung membeli bahan yang sekira dibutuhkan.

Bahan:

  • 6 potong Iga sapi
  • 4 buah Wortel
  • Seperempat bagian Kol
  • 1 butir tomat, potong 8 atau 12.
  • Garam secukupnya 
  • 1 Kayu manis 
  • 1 batang Seledri
  • 2 batang Daun bawang, iris sekitar ukuran 1 cm.
  • Jahe sekitar 1 ruas jari, geprek.
  • Air untuk merebus

Bahan yang dihaluskan:

  • 3 siung bawang putih 
  • 4 siung kecil bawang merah 
  • 6 butir biji merica (atau sesuai selera)

Cara memasak:

  1. Rebus iga selama sekitar 1 jam, buang airnya. Lalu rebus kembali sekitar 15 menit. Gunakan api kecil.
  2. Tumis bumbu halus hingga wangi, masukkan ke dalam rebusan iga.
  3. Masukkan jahe geprek dan kayu manis ke dalam rebusan iga.
  4. Tambahkan garam.
  5. Masukkan wortel, tunggu hingga cukup empuk. Jika ada kentang, bisa dimasukkan bareng wortel.
  6. Masukkan kol.
  7. Setelah kol dirasa cukup matang, tambahkan potongan tomat, seledri dan daun bawang. Tunggu sebentar lalu matikan api.

Saran dari teman: gunakan cengkeh agar kuahnya lebih segar. Sayangnya tadi cengkehnya di warung ga ada. Tapi rasanya sudah cukup dan iganya juga empuk. Alhamdulillah suami dan anak-anak suka.

Selamat mencoba πŸ˜‰

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.