Membiasakan pelukan 20 detik dalam keseharian

Membiasakan Pelukan 20 Detik Dalam Keseharian

Pernah dengar istilah pelukan 20 detik? Saya sendiri pernah mendengarnya dari pak Ridwan Kamil tentang tips anti stres beliau. Tips yang juga diterapkan pada putra-putri beliau sehingga terbangun ikatan yang nyaman.

Saya merasa takjub lalu mencoba menerapkan metode pelukan dalam 20 detik itu dengan menghitungnya. Ya. Menghitung 1-20. Haha. Kalo inget kejadian itu rasanya lucu sendiri. Apalagi kalo anaknya udah ga mau dipeluk.

Danisy kala itu sudah mulai ga mau dipeluk, beda dengan Azam yang memang cenderung masih seneng manja-manjaan nempel sama ummi. Meskipun sebenarnya pada anak Sensing biasanya memang seneng manja-manjaan. Danisy masih manja dalam beberapa situasi. Tapi untuk dipeluk, kadang emang emaknya juga ga lihat-lihat sikon ­čśÇ

Beberapa waktu lalu saat Azam mulai terbiasa shalat berjamaah dengan ummi di rumah, ternyata menerapkan pelukan selama 20 detik itu nampaknya begitu mudah. Tanpa perlu berhitung sama sekali!

Bagaimana Melakukan Pelukan 20 Detik tanpa Berhitung Sama Sekali?

Seusai shalat berjamaah, saya menyodorkan tangan untuk memudahkan Azam mencium punggung tangan. Setelah itu lanjut saya tarik badannya dan peluk dia. Azam sih seneng dipeluk begitu. Kebiasaan yang tanpa direncanakan itu kemudian menular pula pada Danisy saat shalat berjamaah dengan ummi.

Maka hingga saat ini, setiap kali kami shalat bersama, mereka akan otomatis berbalik menghadap ummi, sun tangan lalu saling berpelukan. Beberapa saat kemudian, ummi ucapkan bisikan doa di telinga mereka seraya tetap saling berpelukan:
  • Rabbi habli minash-shalihin
  • Rabbij’alni muqimash shalati wa min dzurriyyati
  • Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama

Lalu mencium kening mereka dan dilanjutkan dengan mengucap: “Barakallahu fik”, seraya tetap berpelukan beberapa saat sebagai pelukan penutup.

Sepertinya sih ada 20 detik ya ­čśÇ (ga ngitung soalnya)
Membiasakan pelukan 20 detik dalam keseharian

Selain┬ápelukan rutin bada shalat, kami juga terbiasa berpelukan┬ádalam beberapa aktifitas yang membuat kami terpisah. Misal ketika akan sekolah, maka saya akan memeluk Danisy, mencium keningnya dan menitipkan doa “barakallah fik”. Jika waktu lebih luang, diperpanjang dengan reminder “jaga adab terhadap ilmu, terhadap guru dan┬áteman. Baik-baik ya di sekolah.”

Pun ketika berpamitan akan meninggalkan anak-anak karena beberapa kegiatan, saya akan memeluk mereka lalu pamit dan “baik-baik sama abah dan ambu ya” (panggilan untuk kakek nenek anak-anak), titip dede, dede baik-baik sama aa. Begitu seterusnya hingga anak-anak semoga selalu nyaman dengan pelukan yang insyaallah tetap dijaga sesuai umur dan syariat.

Apa manfaat pelukan 20 detik itu bagi kita?

Dari beberapa sumber yang saya baca mengenai manfaat berpelukan, ternyata pelukan 20 detik Ridwan Kamil ini memiliki banyak manfaat. Semacam terapi murah dan mudah dalam keseharian kita.

  1. Berpelukan dapat membantu mengubah suasana hati
  2. Hormon oksitosin si hormon cinta penyebab rileks dapat diproduksi saat berpelukan
  3. Berpelukan membantu menurunkan tekanan darah
  4. Keselarasan tubuh dan pikiran karena berpelukan
  5. Membangun hubungan yang hangat
  6. Menurunkan tingkat stres
  7. Membantu meningkatkan kesabaran
  8. Manfaat timbal balik
  9. Meningkatkan harga diri (menjadi lebih percaya diri)
  10. Memupuk perasaan aman dan nyaman
  11. Anak yang sering dipeluk dapat lebih baik dalam manajemen stres

Manfaat Pelukan 20 Detik Bagi Pertumbuhan Seorang Anak

Terutama pada anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, pelukan ini ibarat keajaiban yang tak bisa tergantikan. Anak setidaknya butuh 12 pelukan per hari agar kelak ia tumbuh menjadi seorang individu yang kokoh, percaya diri mengeluarkan gagasan, dan pribadi yang berani.

Sebuah pelukan secara tersirat mengatakan “ayah/ibu peduli padamu. Kamu adalah belahan hati kami, dan kami akan selalu ada di sampingmu sebagai orang yang dapat kau percayai.” Semakin sering pelukan dilakukan, semakin anak merasa percaya pada diri dan orang tuanya. Dan sebagai orang tua, tentu ini semakin mempermudah untuk kita tetap dekat dengan anak.

manfaat pelukan 20 detik

Di jaman peralihan saat ini kita seringkali lupa akan kebutuhan dan efek dari gerakan kecil. Meskipuns saya akui, sebagai orang tua terkadang lebih mudah mengekspresikan kemarahan daripada cinta itu sendiri. Dengan dalih “ummi marahin kamu karena sayang” kadang kita terjebak pada┬ákesalahan tindakan: fokus pada segala sesuatu kesalahan anak atau ketidaknyamanan yang diciptakan oleh sang anak lalu mengkoreksinya. Menegurnya karena berbagai tugas yang diminta (atau disuruh) tidak dilaksanakan dan lupa memberi apresiasi pada anak atas kebaikan (dan pemenuhan tugas) yang ia lakukan.

Maka pelukan adalah sebuah kegiatan “gerakan kecil” yang dapat berdampak sangat luar biasa. Sebab pelukan mengatakan bahwa kita mencintai mereka tanpa syarat dan dengan sepenuh hati.

Tidak terbiasa memeluk? Ini saatnya memulai! Saat mengawali hari dan menjelang tidur misalnya, kita jadikan rutinitas harian untuk meluangkan waktu hanya 20 detik untuk memeluk mereka. Sederhana bukan?

7 Alasan kenapa pelukan 20 detik itu penting!

  1. Semua orang suka pelukan. Meski tidak terbiasa dipeluk sekalipun.
    Pada anak (dan pasangan), pelukan dapat menambah bonding hubungan semakin erat. Tidak ada batas usia. Bahkan memeluk anak yang sudah menikah atau memeluk orang tua jika kita sudah menikah adalah sebuah kegiatan yang perlu dicanangkan.
  2. Berbagai studi membuktikan bahwa sentuhan manusia dapat menyembuhkan dan meningkatkan kualitas hidup seseorang.
  3. Sentuhan orang tua sangat penting dan mendasar untuk tumbuh kembang manusia secara menyeluruh. Bayi yang mendapatkan sentuhan baik misalnya berupa pijatan oleh orang tuanya adalah seseorang yang kelak akan lebih mampu beradaptasi pada situasi tak mengenakkan dan merasa aman.
  4. Berpelukan menyehatkan tubuh, pikiran dan jiwa. Pastikan berpelukan dengan yang mahram ya. Hehe
  5. Pelukan dapat meningkatkan rasa penghargaan terhadap diri dan membawa pesan yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.
  6. Alamiah. Kontak fisik membuat kita merasa dicintai, nyaman, menghilangkan rasa khawatir pada diri (karena munculnya hormon oksitosin tadi), dan menguatkan bonding.
  7. Atmosfer saat memeluk menjadi kebiasaan adalah bahwa anda merupakan orang tua yang mudah digapai (tidak berjarak dengan anak) dan memiliki empati.

Hal lain dalam pelukan 20 detik yang dapat orang tua lakukan

  1. Jika anda terbiasa menyapa anak di pagi hari, cobalah menambah aktifitas memeluk anak. Ucapkan selamat pagi lalu peluk sang anak dengan hangat.
  2. Menjelang tidur, peluk dan ciumi mereka lalu temani baca doa sebelum tidur.
  3. Ketika anak memperoleh prestasi atau melakukan kebaikan, peluk, doakan, dan katakan bahwa anda bangga padanya.
  4. Usai anak membantu anda, tidak ada salahnya jika mengucapkan terima kasih seraya memeluknya. Lalu doakan kebaikannya, minimal dengan ucapan “barakallah fik” agar kehidupannya senantiasa dipenuhi keberkahan.
  5. Saat anak tantrum, bete, menyulut sumbu amarah ibu atau ayah, peluklah ia dan ajak agar ia lebih tenang. Ajarkan agar ia mengutarakan kebutuhan atau ide dan hal lainnya dengan cara yang baik.
  6. Saat anak di-bully, down, atau dalam situasi sulit, pelukan dapat membuat dia bangkit secara perlahan.
  7. Ketika ia menyelesaikan kewajibannya, apresiasilah dengan memeluk dan ucapan bangga bahwa ia adalah anak yang baik dan shalih. Mungkin bisa ditambah ucapan: Semoga Allah ridha dan engkau pun ridha pada-Nya.
pelukan 20 detik
Kalo pendapat teman-teman bagaimana? Yuk bagikan tips dan masukannya. Siapa tau jadi inspirasi untuk para ibu yang lain ^_^
Salam hangat dari Bandung.
Esa Puspita
Edufamily Learner
Licensed STIFIn Promotor
#CatatanEsa #CatatanBersamaAnak #EsaMenyapaPagi
Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.
kadang yang asli itu pahit

Kadang yang Asli itu Pahit!

Beberapa waktu lalu ada surprise kecil dari suami. Sepaket makanan yang pernah terbersit saja ingin menikmatinya tapi sudah lama tidak menyengajakan mampir sebab memang anak-anak tidak terlalu suka dengan menu yang ditawarkan.
Sampailah saya pada momen dimana minuman yang dibawa dibuka dan coba dinikmati. Begitu sampe mulut, waaaawww pahit ­čśÇ
Pengalaman pahit ini (jyaaa) kemudian saya bagi di grup. Ya istilah kerennya mah curhat. Wehehe.
Ditimpali sama temen-temen di grup. “Iya itu namanya Ocha teh”. Wah wah. Familiar sama nama itu? Saya sih familiar. Sebuah produk di dalam sebuah iklan 😂
kadang yang asli itu pahit
Kritikan ibarat teh hijau murni. Pahit tapi menyehatkan.
Saya sendiri pernah mencoba produk bernama belakang ocha itu. Cuma ya kan ga ngerti aslinya ocha itu apa. Ternyata sejenis teh hijau.
Akhirnya si air hijau yang menurut temanku itu adalah ocha, jadi terpikir. Kadang produk “modifikasi” itu memang enak di lidah. Tapi ternyata “produk asli”nya pahit, tidak nyaman di lidah tapi insyaallah cukup baik untuk badan.
Dalam kehidupan kita secara umum pun hal-hal seperti itu terjadi. Beberapa hal atau produk dimodifikasi agar sesuai selera dan sesuai kebutuhan. Sayangnya kemudian kita tidak siap akan pahitnya rasa asli.
Menghadapi kritik misalnya, mirip seperti menikmati ocha. Pahit meski disajikan dengan sangat menarik sekalipun. Lalu kita yang tidak terbiasa akan lebih memilih terbuai dengan modifikasi dan lebih senang menikmati pujian semu atau kritik yang disajikan dengan “gula” pemanis buatan penyebab manis sesaat. Manis di lidah tapi tak terlalu baik untuk dicerna.
Ocha asli harganya justru lebih mahal dibandingkan ocha modifikasi yang diproduksi secara massal. Tak semua orang siap dengan pahit dan harga yang harus dibayar. Padahal penyaji ocha profesional pun tidak bisa sembarangan menyajikan karena adanya cara khas penyajian dengan ocha terbaik pilihan agar rasa yang didapat adalah tepat.
Sehingga untuk mendapatkan kritik yang berbobot atas diri kita pun terkadang membutuhkan uang yang tak sedikit. Coaching, misalnya. Biaya yang dikeluarkan bisa membuat kita mengernyitkan dahi. Tapi memang kemudian dapat membuat kita memperoleh “rasa” yang “tepat” untuk berkembang dan semakin baik setiap harinya.
Maka, mari kita nikmati ocha yang sudah dibelikan oleh suami. Dan sesekali boleh lah menikmati ocha modifikasi 😁
Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.