Ibu Rumah Tangga Sejati

– Ibu Rumah Tangga Sejati –

Demikian sepotong kalimat yang muncul dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu.

SEMUA PEREMPUAN yang sudah menikah adalah IBU RUMAH TANGGA SEJATI, entah ia memiliki kegiatan lain di luar (aktivitas maupun bekerja) ataupun kegiatan sepenuhnya di rumah membersamai suami dan anak.

Tapi.. ada nada malu, gelisah, tak PeDe yang saya baca dalam ungkapan kalimat itu. Seolah ibu rumah tangga sejati adalah sebuah profesi yang tak memiliki prestisius sedikitpun.

Teh Esa ga salah ngetik? Ibu rumah tangga itu profesi?  Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tak Menghargai Karena Tak Tahu

Satu ketika, suami memberikan kejutan. Sebuah box kecil gift award dari pelatihan yang tengah diikutinya kala itu.

Saya mengunggah box kecil tersebut di akun instagram pribadi semata untuk mengabadikan momen indah itu. Momen dimana suami mendapatkan penghargaan (bagi seorang Thinking, hal itu adalah sebuah apresiasi luar biasa) dan momen saat suami memberikan hadiahnya tersebut pada saya sebagai ungkapan terima kasih sudah men-support beliau.

Tak ada yang spesial bagi saya kecuali atas alasan 2 momen tersebut. Belakangan baru tahu bahwa isi dari box-nya juga adalah sebuah benda mahal. Itupun karena seorang teman berkomentar di postingan IG saya. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Emosi itu Menular, Kenali Penyebab dan Solusinya

Emosi itu bervibrasi. Emosi itu menular. Saat ada kita marah, orang sekitar akan merasakan bahkan “tertular” kemarahan kita. Dan efek tertular itu bisa satu diantara 2 ekspresi: ikut marah atau terdiam dengan semacam rasa bersalah.

Pagi ini pesan sebuah layanan kirim barang online dan dapet driver yang sebenarnya wajar saja mengeluhkan kesulitannya diakibatkan sms patokan rute yang tak sampai. Saya sudah minta maaf dan menginformasikan bahwa tadi mengirim SMS berisi patokan dan rute (hanya saja ternyata gagal terkirim), namun sang driver masih saja melanjutkan mengulang-ulang keluhan yang sudah dipahami.

Intonasi menyebabkan kalimat itu kemudian terdengar seperti marah-marah dengan nada ancaman “bisa aja saya cancel orderan”. Hmm.. Padahal tak ada yang memaksa untuk mengambil orderannya. Dan kalaupun dicancel, bukankah saya bisa mendapatkan driver lain?

Kemudian saya jadi dapet pelajaran. Ini mirip dengan keluhan kita tentang beratnya hidup ini. Bisa jadi bukan susah nyari alamatnya yang jadi masalah karena jika memang itu masalahnya, seharusnya saat saya meminta maaf dan memberikan patokan lalu ikuti saja patokan itu hingga sampai di tujuan dan selesai kan? Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjadi Orang Tua Pendidik Anak

Pendidik adalah arsitek peradaban, bukan tabib kebiadaban apalagi kuli kebiadaban. Itulah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah #FBE

Kutipan di atas adalah status Pak Harry Santosa pagi ini. Sebuah reminder yang mengingatkan lagi kami pada bahasan di seminar Parenting Bersama beliau Ahad lalu. Masyaallah. Suami yang alhamdulillah seorang arsitek jadi lebih mudah memahami sekaligus bergairah dengan kalimat ini.

Semula saya masih belum sepenuhnya paham. Ya, ketika di seminar kemarin masih belum “anceg” pemahaman atas kalimat itu. Tapi qadarullah pagi ini Allah ilhamkan pemahaman, biidznillah.

Arsitek bermakna seseorang yang terlibat aktif dalam membangun, baik membangun sejak awal maupun “renovasi”. Bagi seorang arsitek, salah satu yang diperhatikan adalah pondasi dan selanjutnya kualitas bahan dan bangunan secara menyeluruh.

Jika membangun dari awal, tentu akan lebih mudah karena semua sudah terencana sejak semula. Yang menjadikan saya manggut-manggut adalah, bagaimana jika kondisinya bukan membantun dari awal tapi “renovasi”? Bahkan ternyata dalam proses renovasi rumah pun, suami perlu mengetahui pondasi bangunan yang akan direnov tersebut. Jika pemilik rumah hendak membangun menjadi 2 tingkat atau lebih, akan dicek apakah cukup atau musti dibentuk pondasi baru. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Catatan Persiapan untuk Ke Semarang

Belakangan ini saya sering mendapati teman-teman berada di daerah Semarang. Kota ini jadi salah satu tempat yang sepertinya perlu dikunjungi.

Ada sedikit rasa penasaran apakah Samarang di Garut berisi orang-orang Semarang atau gimana. Akhirnya googling lah saya. Ternyata Samarang sendiri adalah nama “lama” Semarang dari Bahasa Belanda.

Hal menarik dari Semarang adalah ketika saya tahu ternyata ya ajar aja banyak postingan mengenai kota ini sebab merupakan kota terbesar ke-5 setelah Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Wow. Setara sama kota tempat aye tinggal dong. Setelah pernah ke Jakarta dan Surabaya, berarti next trip aye harus ke Semarang nih.

Tulisan ini jadi catatan saya pribadi apa saja data yang diperlukan untuk berkunjung kesana dan kenapa musti main ke Semarang. Dan karena belakangan ini sedang tertarik banget sama sejarah ataupun asal muasal, fokus saya ga cuma di oleh oleh khas Semarang saja tapi juga ada cerita apa di balik kota ini.

Sejarah Pemerintahan Semarang

Semarang semula berada di bawah pemerintahan kerajaan Demak dengan Raja yang tengah berkuasa saat itu adalah Kin San/Raden Kusen, Ki Ageng Pandan Arang dan Sunan Bayat (Sunan Pandan Arang II). Kemudian berada di bawah kesultanan Pajang dan Kesultanan Mataram.

Setelah Belanda masuk, Semarang sempat berada di bawah pemerintahan VOC dan Hindia Belanda. Pemerintahan kemudian dibagi dua yaitu kota Praja dan Kabupaten. Kota di bawah penguasa Belanda sementara pribumi memegang wilayah kabupaten.

Lalu di bawah pemerintahan Republik Indonesia berlanjut pemerintahan Republik Indonesia Serikat. Sampai akhirnya setelah pengakuan kedaulatan pada 1950 secara definitif ditetapkan sebagai kota Semarang berdasarkan UU nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan kabupaten di lingkungan provinsi Jawa Tengah.

Julukan Kota Semarang

Setiap kota dan daerah biasanya memiliki julukan khas tersendiri. Ada banyak cerita di balik julukan tersebut. Khusus untuk kota Semarang, berikut adalah berbagai julukan maupun slogan yang umum diketahui masyarakat:

  1. 1. Kota Lumpia

Dengan makanan khas Lumpia sebagai oleh-oleh khas Semarang, tentu saja julukan yang paling terkenalnya adalah Semarang kota Lumpia. Lumpia sendiri merupakan perpaduan akulturasi budaya Jawa dan Cina.

  1. 2. Venetië van Java

Jika Bandung dikenal dengan Parijs van Java alias ibarat kota Parisnya pulau Jawa, maka orang Belanda menyebut Semarang sebagai Venesia-nya pulau Jawa karena dilalui banyak sungai di tengah kota seperti halnya kota di Italia tersebut. Aaakk.. kemudian pikiran saya membayangkan keromantisan di Semarang. Hmm. Benarkah demikian?

  1. 3. Kota Atlas

Disebut kota Atlas bukan berarti karena ini merupakan atlas Asia. Tapi slogan kota Semarang yang merupakan akronim alias kependekan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat. Wii, mantap.

  1. 4. Semarang Pesona Asia

Wacana pada tahun 2009 membuat slogan Semarang Pesona Asia yang disetujui oleh walikotanya menghasilkan pembersihan dan pembangunan di berbagai lokasi. Penataan PKL, perbaikan saluran, jalan, trotoar dan taman.

  1. 5. The Port of Java

Walikota Semarang mengambil slogan pariwisata: The Port of Java alias pelabuhannya pulau Jawa. Hal ini diambil sebagai upaya terkait kepentingan pemasaran pariwisata di kota Semarang.

Tentu tidak berlebihan sebab akses dari Jawa Barat menuju Jawa Timur umumnya selalu melewati Semarang sebagai tempat singgah. Bahkan dalam sejarah tercatat bahwa Semarang menjadi tempat laksamana Ceng Ho singgah.

Tempat Wisata

Ada berbagai jenis tempat wisata yang dapat dikunjungi di Semarang. Berikut diantaranya:

Wisata Alam:

  • Pulau Tirangcawang, di Kelurahan Tugu
  • Pantai Tirang, di Kelurahan Tambak Harjo
  • Pantai Marina, di Kelurahan Tawangsari
  • Pantai Maron, di Kelurahan Tambak Harjo
  • Goa Kreo, di Kelurahan Kandri
  • Taman Lele Semarang, di Kelurahan Tambakaji
  • Curug Lawe di Gunungpati
  • Curug Benowo di Gunungpati
  • Curung Karang Joho di Ngaliyan

Wisata Sejarah

  • Museum MURI, di Kelurahan Tegalsari
  • Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, di Kelurahan Tegalsari
  • Museum Jamu Nyonya Meneer, di Kelurahan Muktiharjo
  • Museum Jawa Tengah, di Kelurahan Gisikdrono
  • Museum Mandala Bhakti, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Lawang Sewu, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Tugu Muda, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Candi Tugu, di Kelurahan Tugurejo
  • Little Netherland (Kota Tua Semarang), di Kelurahan Purwodinatan

Wisata Religius

  • Masjid Agung Jawa Tengah, di Kelurahan Sambirejo
  • Masjid Baiturrahman Semarang, di Simpanglima
  • Masjid Kauman Semarang, di daerah Kauman, Johar
  • Klenteng Sam Po Kong, di daerah Simongan
  • Kelenteng Tay Kak Sie Tri Dharma, di Gang Lombok, Semarang Pusat
  • Gereja Blenduk, di Kecamatan Semarang Utara
  • Gereja Katedral Semarang di Kelurahan Randusari
  • Gereja JKI Injil Kerajaan Semarang di Kelurahan Tawangsari
  • Vihara Mahavira Graha di Kelurahan Tawangsari
  • Pagoda Buddhagaya, di Pudak Payung, Banyumanik, Semarang Selatan

Wisata Keluarga

  • Wonderia, di Kelurahan Tegalsari
  • Kebun Binatang Mangkang, di Kelurahan Mangkang Kulon
  • Taman Mini Jawa Tengah (Maerokoco), di Kelurahan Tawangsari

Wisata Malam

  • Alun-Alun Kota Semarang (Simpang 5)
  • Taman Pandanaran (Taman Warak Ngendok)
  • Taman KB

Wisata Belanja

  • Pasar Johar, di Kelurahan Kauman
  • Mall Ciputra (Ramayana), Simpang Lima City Center
  • Simpang Lima Plaza (Matahari), Simpang Lima City Center
  • Java Super Mall (Hypermart), di Kelurahan Peterongan
  • Paragon City Mall (Matahari), Pemuda Central Business District (PCBD) di Kelurahan Sekayu
  • Sri Ratu (Matahari), di Kelurahan Peterongan
  • DP Mall (Carrefour), di Kelurahan Pekunden Jl. Pemuda Semarang Tengah
  • M-Art Shop, Jl. Mataram 653 Semarang

Kuliner

Biasanya tiap berkunjung ke sebuah kota, sebagian besar masyarakat akan mencari apa sih kuliner khas menarik dari kota tersebut. Nah, jika akan ke Semarang berikut adalah beberapa makanan dan oleh-oleh khas Semarang yang tersedia:

Makanan/masakan khas Semarang:

  • Bandeng presto
  • Soto Bangkong “Soto Semarang”
  • Mie Kopyok
  • Sega Becak
  • Sega Lunyu
  • Sega Ayam
  • Tahu Pong
  • Pecel Koyor
  • Petis Kangkung
  • Tahu Petis
  • Tahu Gimbal
  • Bakso

Jajanan pasar khas Semarang:

  • Lunpia Semarang
  • Spekoek
  • Jongkong Singkong
  • Gandos
  • Kue Moci
  • Blanggem
  • Timus
  • Gilo-gilo
  • Tahu Gimbal

Minuman khas Semarang:

  • Kolak Setup
  • Es Cao
  • Es Marem
  • Es Congklik
  • Wedang Durian
  • Wedang Jahe Rempah
  • Wedang Lengkeng
  • Wedang tahu
  • Wedang Jalang (Wedang Jahe Alang-alang)
  • Wedang Kacang Tanah

Oleh-oleh Khas Semarang:

  • Lumpia
  • Roti Gandjel Rel (haha saya penasaran seperti apa ini dan kenapa diberi nama seperti ini)
  • Jambu Semarang
  • Wingko Babat
  • Mari Wijen
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ibu Sebagai Poros Cinta

Menjalani peran sebagai seorang ibu mengajarkan saya banyak hal tentang dunia manusia. Rasanya peran ini mengharuskan saya paham banyak bahasan mengenai human development. 

Bersyukurlah bagi teman-teman yang belum menikah tapi sudah menjadi pendidik, sebab kalian bisa bersiap sebelum amanah itu hadir. 

Sedang bagi saya yang dulu persiapannya kurang, rasanya sekarang kejar-kejaran mencari ilmu dan menerapkannya. Jika ada yang senasib, tenang anda tidak sendiri. Hehe.

Meski demikian, kesadaran ini janganlah malah dijadikan beban. Minimnya ilmu yang membuat kita ingin belajar disana-sini juga perlu diatur. Sebab salah-salah bukannya menghasilkan pendidikan yang lebih baik, malah anak terbengkalai karena alasan nyari ilmu. 

Pengalaman saya yang merasa belum cukup berbekal, pernah jatuh pada kondisi dimana saya pada akhirnya malah overload informasi. Akibatnya bisa ditebak, saya bingung mana yang harus diterapkan sedangkan usia anak terus bertambah. 

Maka tips dari saya, tetapkan prioritas ilmu yang akan kita pelajari. Beberapa diantara yang mungkin dapat teman-teman pertimbangkan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan anak dalam Islam
  2. Fitrah manusia
  3. Milestone tumbuh kembang anak

Prioritas ini karena selain belajar tentang dunia anak, kita juga perlu update tentang ilmu mengenai pasangan (suami istri) dan pernikahan. Sebab sebaik apapun teori parenting yang kita kuasai, jika aliran cinta antara suami istri kurang baik, energi negatifnya nyampe ke anak. 

Jika tidak menerapkan prioritas, akhirnya kita bingung mau ngapain aja nih. Rasanya ingin semua dipelajari biar perfect. Padahal untuk awal, penting memperhatikan hal-hal yang sifatnya pondasi entah pondasi pernikahan maupun pondasi pendidikan anak. 

Bahkan jika kurang pandai mengatur emosi, tidak adanya prioritas membuat ibu uring-uringan. Akibatnya? Bisa ditebak. Suami kena semprot, anak kena omel. 

Padahal kita sedang belajar untuk mereka kan? Apa untuk kepuasan pribadi aja biar disebut ibu yang hebat bisa didik anak-anaknya atau takut disebut ibu yang ga becus ngurus anak? Insyaallah bukan keduanya ya..

Dengan memiliki prioritas, emosi cenderung lebih mudah diatur sebab kita paham mana yang mesti didahulukan dan mana yang urgent dipelajari serta dipraktekkan. 

Selow tapi ga lamban. Perlahan, insyaallah pasti. 

Sebab ibu adalah poros cinta dan kewarasan. Sebah secara fitrah, perempuan diberi Allah kemampuan mencintai lebih banyak daripada laki-laki. Ibu diberi Allah kekuatan untuk menjadi poros tempat cinta suami dan anak-anak berlabuh.

Jika ibu bahagia dengan sebenar-benarnya (bukan memendam rasa dan pura-pura bahagia), maka rasa bahagia itu akan memenuhi seisi rumah. Memancarkan semangat yang tak dapat ditularkan oleh siapapun kecuali dari seorang ibu.

Ibu yang bahagia akan memancarkan keceriaan saat menyiapkan segala keperluan suami dan anak. Ibu yang bahagia akan menyebarkan sinar cinta kala mengantar suami dan anaknya berangkat keluar rumah lalu menyambut kepulangan mereka kembali usai beraktivitas.

Sebaliknya ketika ibu sedang sedih atau kecewa, rasa yang meski ia pendam tetap akan memancar melalui mata maupun ekspresi tubuhnya. Hingga semangat yang tadinya menjadi energi seluruh penghuni rumah, menghilang tak tau kemana.

Menjadi poros seringkali tak mudah. Kenali diri, apa saja kiranya yang menjadi penyebab emosi tak stabil. Ajak suami untuk saling memahami apa kiranya yang mengganggu stabilitas keluarga dan hubungan suami istri. Lalu sepakati bersama solusinya.

Menjadi poros membuat hampir sebagian besar tumpuan ada pada diri kita. Maka poros ini mesti senantiasa dijaga, diurus dan dirawat dengan baik.

Jagalah diri dengan keimanan, ibadah yang baik. Milikilah amal andalan yang selalu dijalankan secara berkesinambungan. Rayu Allah agar senantiasa menemani dan menjaga kita. Agar cinta tetap membara, dan kewarasan tetap terjaga. 

Ajak suami untuk memahami diri kita dan dirinya sendiri. Kenali anak-anak. Bangun bonding yang kuat. Teman-teman bisa menggunakan berbagai metode, tes biometrik STIFIn misalnya (seperti yang kami gunakan).

Jika dalam membangun rumah saja kita rela menunggu prosesnya, apalah lagi membangun “isi” rumah yang ini merupakan misi jangka panjang seumur hidup: diri, pasangan dan anak-anak.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Mengajari Anak Memasak

Memiliki tiga anak ternyata membuat saya makin bahagia ketika tahu si sulung sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan si tengah udah mulai bisa menyiapkan kebutuhannya tanpa bantuan Ummi dan Aa. Setidaknya dengan begitu, ummi ga harus selalu mengurusi 3 anak yang mana bisa saja membuat saya spaneng. Ya, meskipun tetap saja ada momen dimana mereka bikin spaneng. Wajar lah ya. Namanya juga manusia, life is never flat.

Si sulung Danisy saat ini usianya 7 tahun sementara Azam berusia 4 tahun. Soal kemandirian kami tekankan di usia 4 tahun. Prosesnya memang tidak selalu mudah. Butuh komitmen, ketegasan dan kesabaran semua pihak terutama orang-orang dewasa sebab biasanya yang susah sabar menghadapi proses anak belajar mandiri itu justru orang dewasa di sekitar anak-anak. Heuheu. Curcol.

Makanan Ibu Paling Enak

Masakan ibu selalu jadi makanan paling enak di dunia. Sepakat? Ada yang sepakat tapi mungkin ada juga yang kurang setuju. Tak masalah. Kita ga harus sama kok 😀

Wajar saja sebetulnya jika seorang anak selalu menganggap masakan ibunya adalah yang paling pas di lidah. Bagaimana tidak, sejak pertama kali mengenal rasa selain ASI, anak kemungkinan besar menikmati masakan ibunya di fase MPASI dan fase berikutnya. Sehingga anak terbiasa bertahun-tahun mengkonsumsi masakan ibu.

Meskipun semakin beranjak dewasa tambah banyak varian rasa yang diicip, tetap saja ada masa kangen masakan ibu. Minimal kangen momen saat dimasakin makanan oleh ibu 😀

Tapi okeh banget lho kalau ngajarin anak lelaki kita memasak. Biar selain kangen masakan ummi, semoga nanti ada juga yang “kangen masakan ayah” karena anak kita saat punya anak nanti bisa masakin anaknya makanan.

Mengajari Anak Lelaki Memasak

Seringkali saya mendapatkan pernyataan “satu lagi atuh, anak perempuan biar ada yang bantuin ummi di rumah” ketika melihat anak kami dua-duanya laki-laki. Hmm. Saya hanya balas dengan senyuman dan berterima kasih atas doanya. Alhamdulillah ternyata dikabulkan Allah dengan lahirnya Hasna.

Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan mereka. Sebab adanya anak, baik lelaki maupun perempuan bukan semata urusan “biar ada yang bantu” tapi jauh lebih dari itu. Dan bagi saya, anak lelaki maupun perempuan keduanya mesti memiliki porsi dan hak yang sama untuk belajar melakukan pekerjaan rumah tangga.

Kok gitu sih Teh? Iya, sebab pekerjaan rumah tangga pada dasarnya adalah kebutuhan dasar life skill. Kita tak pernah tahu masa depan. Siapa tahu anak kita suka berkelana keliling dunia ala backpacker, travelling keliling Indonesia dan menikmati berbagai makanan paling enak di dunia, kuliah di luar negeri dsb. Tapi ia pasti tetap butuh kemampuan memasak (salah satunya) di awal-awal perjalanannya. Ia mesti bisa membersihkan kamar kosnya, memberikan bantuan untuk lingkungannya saat dibutuhkan, dst.

Tips Mengajari Anak Memasak

Jika anda sepakat dengan saya dan memutuskan untuk mengajari anak life skill dan diantaranya adalah memasak, yuk simak tips berikut yang merupakan ringkasan pengalaman saya mengajari Danisy (7 tahun) memasak.

1.       Niat yang kuat dan lurus murni (PPA banget ya. Hihi)

Dimulai dengan meluruskan niat. Mengajari anak memasak bukan semata biar dipuji orang, tapi agar anak memiliki life skill yang insyaallah bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya. Niatkan untuk mencontoh bagaimana Rasulullah menyiapkan kebutuhannya sendiri (dengan begini kan kita jadinya sedang melaksanakan sunnah alias meniru apa yang dilakukan Nabi).

Kuatkan niat kita agar saat ada halangan dan ujian di perjalanan anak belajar memasak, kita lebih bisa menghadapinya. Murnikan niat karena Allah semata agar dicatat sebagai ibadah, bagian tindakan dalam mengimplementasikan salah satu ayat: “tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakangmu”.

2.       Telaten

Namanya belajar, butuh ketelatenan untuk terus mencoba sampai bisa. Jangan pernah capek mendampingi anak belajar masak. Kalau kata pribahasa: “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

3.       Temani dan Contohkan Anak

Damping anak selama proses belajar masak agar ia memiliki bekal keilmuan dasar yang cukup dalam memasak. Beri contoh bagaimana memasukkan masakan ke dalam wajan, mengaduk masakan, memberi bumbu, mengocok telur, membalik telur dadar, dsb.

4.       Tega dan Sabar Membiarkan Dia Eksplorasi

Gaya dan cara memasak anak bisa jadi tidak akan sama dengan kita. Biarkan saja. Yang penting selama proses memasak, keamanan diperhatikan dan nanti output hasil memasaknya cukup baik (setidaknya untuk dia makan sendiri).

Nanti dia akan belajar bagaimana supaya telur ga gosong, bagaimana supaya garam tercampur rata, bagaimana supaya tidak terkena cipratan minyak panas, dan masih banyak lagi pelajaran dari praktek yang akan mereka dapatkan. Sabar saja bu 😊

5.       Sering-sering Berikan Ia Kesempatan Memasak

Jangan pengen hasil instan. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, jangan ingin langsung anak mahir memasak. Sering-sering berikan kesempatan untuk memasak jika ia meminta.

Ga usah panik karena anak terkena cipratan minyak, ga usah khawatir karena masakannya gosong, ga usah khawatir berlebihan ya bu. Insyaallah anak itu pembelajar yang hebat.

Pernah satu ketika anak saya memasak telur dan gosong pinggirnya. Tapi tetap menjadi makanan paling enak di dunia baginya saat itu karena ummi ga bisa masakin sedang ia tengah kelaparan. Gapapa bu, ga usah merasa kasihan. Dari situ dia akan belajar.

Jadi, siap mengajari anak memasak? 5 tips sederhana yang saya tuliskan insyaallah mudah dilaksanakan. Tinggal kesungguhannya aja untuk praktek. Hehehe.

Selamat menemani Ananda terus bereksplorasi..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.