Nonton Film Bisa Bikin Cinta Tumbuh?

Konon, menonton film bisa memberikan inspirasi baru pada kehidupan kita. Ya, saya akui. Selalu ada insight berbeda bagi setiap orang terhadap satu film yang sama. Dan seseorang dapat mendapatkan inspirasi dari berbagai alur yang diputar.

Maka film bukan lagi sekadar hiburan semata. Ia juga bahkan bisa menjadi jawaban atau ide baru atas sesuatu.

Selama beberapa kali nonton film action, sepertinya baru kemarin mengalami. Tidak hanya larut dalam alur cerita dan konspirasi di dalamnya, tapi juga tentang kisah cinta di dalamnya yang mungkin terkesan ga romantis.

Di beberapa film aksi, kisah cinta kadang menjadi pemanis yang lumayan vulgar dengan pemain utama yang memang pandai merayu atau sedemikian menarik sehingga memperlihatkan sang jawara banya didekati wanita. Tapi tidak dalam film Iron Man 3 kemarin. Setidaknya itu yang saya tangkap. Bisa jadi teman-teman berbeda pendapat.

Di film IM3 ini, sosok Tony Stark sang Iron Man memang digambarkan sebagai lelaki yang tidaklah romantis. Ia mencoba romantis dengan memberikan sang kekasi, Pepper sebuah boneka beruang besar. Apakah Pepper suka? Entahlah, saya menangkap bahwa ia tidak terlalu menyukainya dengan alasan “ukurannya besar sekali. Memangnya masuk pintu?” Yang dijawab ‘dingin’ oleh Stark dengan “besok ada tukang kesini, bongkar pintu dan membuat boneka itu bisa masuk rumah”.

Adegan lain tentang kisah cinta sang pahlawan adalah saat ia menggantikan dirinya dengan robot M24 buatannya untuk menemui sang kekasih. Kenapa? Karena ia sendiri ada di ruang bawah tanah tengah mengerjakan hal yang dianggapnya sebagai “hobi, kerja sekaligus pengalihan isu”.

Pepper ternyata wanita yang cerdas. Menyadari yang mengobrol dengannya sejak datang ke rumah adalah robot (suaranya memang Stark yang berbicara), iapun turun ke ruang “kerja” Stark dan menegurnya. Sempat beradu argumen tapi ia mampu menundukkan egonya dan membuat Stark rela meninggalkan pekerjaannya untuk melanjutkan rencana kencan mereka.

Adegan-adegan komunikasi dan semua hal yang terjadi dalam hubungan Stark dan Pepper dalam IM3 bagi saya seperti sebuah reminder. Bahwa tidak semua lelaki mampu romantis dengan hadiah dan bunga. Tidak semua lelaki mendekati perempuan dengan cumbu rayu yang membuai.

Beberapa dari mereka bahkan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan dan butuh bantuan untuk melatih dirinya agar mampu mengucapkan cinta. Tak jarang, mereka pun harus belajar menurunkan ego, menyadari kesalahan sikap atau ucapannya yang cuek dan terkesan dingin bin kaku. Lalu siapa yang akan mengajari ia melatih itu semua jika bukan sang kekasih yang mampu menyentuh hatinya dan bersabar terhadap dia apa adanya saat itu.

Karena hanya perempuan sabar dan tegar seperti Pepper-lah yang dapat meluluhkan sekaligus menemani perjuangan Stark. Seseorang yang memiliki jiwa, kata Stark pada mantan kekasihnya (yang menjadi musuh Stark di film ini).

Maka wahai para perempuan yang memiliki pasangan mirip seperti Tony Stark (sifatnya lho yaaa, wajahnya mirip juga ga apa-apa deh), mungkin perlu menonton film IM3 untuk melihat bagaimana Pepper bersikap pada Stark, dan Stark memperlakukan (serta mempertahankan) Pepper.

Meski kaku, Stark tetaplah seseorang yang mencintai kekasihnya dengan segenap hati. Selalu mencoba menjaga agar kekasihnya tidak mengalami bahaya. Dan ending kisah mereka di film ini jadi bahagia dengan alur yang menarik ☺

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.