Musim Rahmat

Dan: Ummi, sekarang lagi musim rahmat ya?

Mi: Maksudnya?

Dan: Iya, hujan kan rahmat. Jadi ini lagi musim rahmat.

Mendengar celotehan Danisy membuat saya tersenyum sendiri. Hihi, iya juga ya. Emaknya mah ga pernah kepikiran seperti itu. Hujan adalah rahmat, musim hujan = musim rahmat. Penjelasan sederhana dari anak usia 6,5 tahun yang berhasil mengubah persepsi emaknya. Dan rasanya lebih enak didengar dibandingkan musim hujan. Efeknya kerasa beda aja gitu.

Adalah fitrah anak selalu menganggap segala hal itu baik. Sehingga mereka pun tak segan mencoba sesuatu yang baru, melakukan hal yang mungkin membahayakan atau semacamnya. Apalagi tindakan dan ucapan orang tuanya, semua baik baginya. Maka wajar jika berseliweran kalimat “anakmu cermin dirimu”. Kalau mau evaluasi diri, coba deh lihat bagaimana anak-anak kita. Saat ibadah kita berantakan, biasanya imbas ke anak yang entah rewel, “nakal”, susah nurut, dsb. Masih ingat kan sekilas tentang resonansi emosi dan ruhiyah kemarin?

Menanamkan bahwa hujan itu adalah rahmat sebetulnya upaya saya memperbaiki mindset pribadi. Ya, jujur saja sebagai emak-emak mah ketika hujan turun itu kadang banyak banget keluhannya. Ya soal jemuran yang belum kering lah, ya soal mager lah, soal males keluar rumah, basah daaan masih banyak lagi. Ada yang senasib? Mungkin saya aja itu mah ya 😀

Nah, maka ketika anak-anak diperkenalkan dengan pernyataan yang “seharusnya” bahwa hujan tidak semestinya menghentikan langkah dan kegiatan (termasuk saat pagi ini Danisy dan abi akhirnya berangkat dalam keadaan hujan masih turun) maka anak akan menerima itu sebagai “kebenaran“.

Pagi ini jika tidak diingatkan Allah dengan pernyataan Danisy kemarin, mungkin saya akan lebih memilih untuk menyuruh Danisy tidak masuk sekolah. Kan hujan, sementara jarak rumah-sekolah sekitar 14km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Ah, masih TK ini.

Tapi saat ingat pernyataan “musim rahmat”nya Danisy, buru-buru keinginan itu ditepis. Pun saat abinya yang sempat khawatir “masih hujan mi. Gimana dong?”. Udah ga sederas tadi shubuh kok. “masih gerimis mi” ujar suami. Pake jas hujan aja, jawab saya.  Mungkin abinya khawatir dengan kondisi jalan kala hujan dan Danisy juga sedang sedikit batuk. Tapi anaknya mah semangat. Duh, jangan sampai tertanam secara tak sengaja karena kita mentolerirnya saat ia kecil.

Bayangkan jika keputusan untuk ga sekolah itu diambil. Dalam kehidupannya, berapa kali kemungkinan situasi hujan yang kemudian kita nyuruh anak ga sekolah? Lama-lama bisa saja tertanam dalam benak anak “oh, kalo hujan berarti ga perlu sekolah, ga perlu keluar rumah.” Akhirnya muncul kesimpulan lain, “oh kalo hujan berarti bisa jadi alasan untuk ga ngapa-ngapain ya?” atau mungkin kesimpulan lainnya yang kita tidak tahu. Kemudian tertanam di alam bawah sadarnya hingga menjadi “value” bagi si anak.

Sederhana sih, saat ini. Tapi ke depannya, kita belum tahu apakah dampak dari keputusan itu di masa depan si anak. Jangan heran juga jika suatu saat ketika ia dewasa, kala kita butuh diantar/dijemput lalu anak mengatakan “hujan nih mi. Nanti tunggu reda ya.” Nah! Atau malah bilang gini “Duh, mi. Males ah keluar rumah. Hujan nih.” Pernyataan siapa ya itu. Jangan-jangan kita pernah berulang kali mengatakannya pada anak. Setidaknya saya pernah mengatakan itu ke Azam saat ia ngajak saya ke warung beli beras karena persediaan di rumah habis sementara dia mulai lapar dan di luar hujan besar. “Nanti ke warungnya ya mas. Hujan, ummi ga mau basah-basahan” meskipun di akhir saya katakan “karena kalo kaki kena air hujan ummi khawatir sakit” Astaghfirullah. Padahal mah murni itu yang paling kuatnya si malesnya itu.

Maka mulai sekarang, hayu tanamkan ke anak seperti yang disebutkan Allah di berbagai ayat dalam alQuran tentang hujan adalah bagian dari berita gembira. Dan tentu saja tanamkan ke diri kita sendiri, hujan itu rahmat loh. Saat mustajabnya doa, saat membahagiakan ketika kita mulai kesulitan air, dsb. Dengan tetap memberikan informasi pada anak hal-hal yang sekiranya dapat membuat hujan menjadi bahaya misal perihal banjir, badai, petir, dsb. Dan jika memang urgent banget, keputusan untuk tidak masuk sekolah boleh lah diambil sesekali. Sesekali saja, jangan sering-sering 😛

Oke deh. Segitu dulu curcol pagi ini.

Selamat menikmati musim rahmat, semuanya ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Cara Membuat Call To Action (CTA) Langsung ke Whatsapp Anda

Belakangan di beberapa teknik marketing familiar dengan istilah Call To Action atau semacam ajakan bertindak. Dimana ketika diklik, biasanya langsung terhubung entah dengan telepon, SMS atau semacamnya. Nah, baru-baru ini tersebar cara call to action langsung ke chat whatsapp seseorang dengan bantuan situs penyingkat link. Bagaimana caranya? Yuk, simak langkah-langkah berikut.

Semula saya mendapatkannya karena adanya broadcast pesan di beberapa grup mengenai call to action untuk Facebook Ads (FB Ads) yang merupakan perpaduan API Whatsapp dan situs bitly. Sayangnya, di broadcast step by step tersebut ternyata masih banyak yang belum paham karena yah, entah itu pesan yang terpotong (maksudnya, aslinya ada pembukaan atau penutupan selanjutnya) ataupun memang kurang detil bagi yang tidak terlalu familiar dengan bitly. Maka saya coba tuliskan disini agar memudahkan saat bertanya langkah-langkah detilnya.

Persiapan Membuat Call To Action Whatsapp

  1. Signup atau login ke akun bitly (klik bit.ly atau bitly.com)
    Tampilan awal situs bit.ly
    Jika anda belum punya akun di bitly, signup saja. Free

    Jika sudah memiliki akun bitly, login ya
  2. Buat link API untuk Whatsapp. Berikan link tersebut kepada teman anda untuk ia coba guna mengecek apakah sudah berfungsi atau belum.
    1. Hanya Chat saja
      https://api.whatsapp.com/send?phone=6282217501846
      => coba lihat di bagian yang saya tebalkan. Ganti angka tersebut dengan nomor whatsapp anda. Sertakan 62 sebagai kode negara Indonesia, dan hilangkan angka 0 di depan nomor whatsapp anda. Sehingga jika nomor wa anda 0878-2192-4595 maka tuliskan 6287821924595.
      Jika ini berfungsi, saat link tersebut diklik maka akan masuk ke chat whatsapp anda.
    2. Ada prolog saat chat dimulai
      https://api.whatsapp.com/send?phone=6282217501846&text=Selamat%20datang.%20Dengan%20CS%20AimDesain,%20Rudi%20disini.%20Dengan%20siapa%20dimana?%20Ada%20yang%20bisa%20kami%20bantu?%20
      Nah, yang ini nanti ada prolog saat akan mulai chat. Cek gambar ya.

      Perhatikan di kolom chat, ada prolog otomatis saat link diklik sebagai greeting.

      Tanda %20 adalah kode/syntax pengganti spasi pada sebuah URL Link. Sehingga jika anda ingin prolognya berisi “Salam kenal. Dengan Esa Puspita disini. Ada yang bisa saya bantu?” (tanpa tanda kutip ya), maka ubah kalimat setelah “&text=” (yang saya tandai dengan tulisan miring) dengan Salam%20kenal. %20Dengan%20Esa%20Puspita%20disini. %20Ada%20yang%20bisa%20saya%20bantu?%20
      Kenapa ada %20 juga di akhir? Supaya tanda tanyanya muncul di prolog.

Langkah yang Perlu Dilakukan untuk Membuat Call to Action Whatsapp

  1. Pastikan URL Link API Whatsapp sudah berfungsi. Caranya seperti sudah saya sebutkan: berikan link tersebut kepada teman atau grup anda untuk coba diklik. Setelah diklik apakah masuk ke chat room whatsapp anda atau tidak.
  2. Masuk ke bit.ly

    Dasbor bitly setelah login
  3. Klik tombol Create Bitlink (di kanan atas). Lalu copy-paste link API Whatsapp tadi di bagian kanan Paste Long URL. Lalu klik tombol Create.

    Copy lalu paste link di kolom yang tersedia
  4. Muncul Edit Bitlink. Di bagian Customize, ubah huruf setelah tanda bit.ly/ dengan kata-kata sesuai kebutuhan anda. Di gambar, sudah saya tandai dengan diblok. Jika sudah selesai, tekan tombol Save.
    Ketik URL yang diinginkan pada bagian yang diblok

    Cek gambar berikut untuk melihat perbedaannya.

    Link acak tadi jadi bit.ly/ChatAimDesain
  5. Di bagian title, saya sarankan untuk mengubah “Share on WhatsApp” dengan judul anda sendiri. Saya mengubahnya menjadi Chat dengan CS Aim Desain.
  6. Jika ada yang hendak diubah misal Title maupun Customize, di list Bitlinks (dasbor sebelah kiri) klik yang mau diubah lalu tekan tombol Edit. Setelah selesai edit, tekan tombol Save kembali untuk menyimpan perubahan.
  7. Untuk menyalin link atau membagikannya, anda bisa menekan tombol Copy atau Share.

Demikian. Semoga dapat dipahami dengan mudah dan bermanfaat. Selamat mencoba. Jika ingin bertanya-tanya silakan klik disini.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Nama, Doa dan Perjalanan Ijabah

Pernah dengar istilah “nama adalah doa”? Saya sendiri familiar seperti terbiasanya mendengar istilah “apalah arti sebuah nama”. Hanya saja saya agak sedikit tidak setuju dengan pernyataan terakhir. Ya, kalo penulisan nama di ijazah salah aja bisa beribet urusan, ketika bikin passpor misalnya. Lagipula masa sih orang tua iseng doang ngasih nama 😀

Saat menulis tentang “Doa yang Diulang”, tiba-tiba ada sekelibat muncul mengenai sematan doa pada sebuah nama. Entah itu nama kita maupun nama anak-anak. Tentu memberi nama anak tidak sembarangan bukan? Pasti ada harapan atau doa yang baik dalam nama yang kita berikan pada anak-anak. Pun dengan nama kita, orang tua pasti memilihkan yang terbaik dengan makna dan harapan yang baik pula insyaallah.

Dalam proses menulis dan membaca ulang artikel tersebut, hari ini saya teringat akan sematan doa yang kami titipkan untuk kedua anak kami. Si sulung memiliki nama lengkap dengan apitan 2 nama nabi. Sungguh berat setelah direnungkan. Kala itu, kami hanya berpikir untuk menyematkan satu dari 2 nama nabi: Ibrahim atau Ismail. Kenapa? Sebab Danisy lahir tepat di hari idul adha. Ada 2 nabi terlibat dalam peristiwa bersejarah tersebut yang merupakan ayah dan anak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk memilih nama Ismail sebagai rangkaian nama Danisy. Ada harap agar ia tumbuh memiliki kesabaran dan keimanan sebagaimana nabi Ismail. Sedangkan nama Muhammad kami sematkan sebagai bagian dari amanah kakak yang kami hormati, dengan harapan serupa: agar ia mampu mencontoh Rasulullah.

Nama, doa dan perjalanan ijabah menjadi sebuah renungan malam ini saat tulisan tengah dibuat. Kemudian muncul pikiran: ah, kalau dipelajari lagi ternyata perjalanan kedua nabi tersebut penuh dengan perjuangan yang tak mudah. Ismail hanya beberapa kali saja bertemu dengan sang ayah, demikian yang saya baca dan dengar mengenai kisah ayah-anak ini. Tapi keduanya adalah bagian dari contoh kehidupan, contoh terbaik lagi. Sedangkan Muhammad Rasulullah adalah anak yatim piatu. Rabbi.. mampukah kami menjadi orang tua seperti pasangan nabi Ibrahim dan ibunda Ismail, Hajar.

Mampukah saya terutama, menjadi ibu seperti Hajar? Yang kala sang suami meninggalkannya di gurun tandus bersama sang bayi, beliau hanya bertanya “kenapa? Apakah ini perintah Allah?” beliau percaya sepenuhnya pada Allah dan sang suami. Keimanannya sangat kokoh.

Beliau yang berlari ke bukit Shafa dan Marwa hingga 7 kali, bukan sekadar mencari air melainkan mencoba menemukan pertolongan Allah. Deg. Teringat akan rangkaian nama Azam pun tersemat kata “Nashrullah”.

Mataa nashrullaah(1) seolah doa yang sering saya ucapkan dalam perjalanan menemani tumbuh kembang kedua putra kami. Pertanyaan yang serupa tapi memiliki ruh berbeda. Ruh ucapan saya lebih sering dipenuhi keraguan “dimana sih pertolongan Allah teh?”. Jelas sebuah keraguan mengenai kalimat selanjutnya di ayat tersebut: “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

Kadang, kita hanya berusaha menyematkan dan mengucap doa. Berharap ia terkabul dengan sendirinya. Kita.. saya lupa bahwa ada ikhtiar guna doa mewujud nyata. Proses ikhtiar yang mungkin tidak mudah. Butuh kesabaran dalam perjalanannya. Agar doa yang tersemat dalam nama, mewujud menjadi sebenar-benar asa pada diri sang anak.

Keterbatasan saya akan ilmu mendidik anak yang baik dan benar menjadi salah satu penyebab perjalanan ini terasa begitu berat tanpa arah yang jelas. Keimanan pun tentu memberi andil pada ruhiyah diri yang akan beresonansi dengan kesucian jiwa fitrah yang dimiliki anak. Ditambah dengan kemampuan saya dalam hal mengelola emosi pun masih jadi tantangan tersendiri dalam upaya membentuk pribadi anak yang lebih hebat. Subhanallah. Jika bukan karena pertolongan Allah, tentu semuanya lebih berat lagi. La hawla wa la quwwata illa billah..

Tapi, nama yang baik tetaplah sesuatu yang dianjurkan. Maka berikanlah nama yang memiliki makna sekaligus asa. Baik untuk anak maupun usaha yang kita jalankan.

Semoga Allah memberi kita hidayah-Nya. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Jadi, apa arti nama teman-teman? Dan siapa nama putra/i teman-teman beserta artinya? Semoga diberi kekuatan untuk melewati proses terwujudnya doa terbaik tersebut ya ^_^

Salam hangat dari Cimahi
Esa Puspita

=====

(1): cek surah al-baqarah: 214

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya: “bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Doa yang Diulang dan Perjalanan Kehidupan

Setelah kita membahas tentang doa yang diulang di artikel ini, ada tambahan pertanyaan dan bahasan di grup mengenai “apa sih hubungannya surah alfatihah dengan bahasan STIFIn yang sedang kita diskusikan?”. Berikut lanjutan jawabannya.

Lalu apa kaitannya surah alfatihah dengan STIFIn? Bahwa faktanya, menggembleng diri (dan keluarga) pun adalah bagian dari perjalanan kita menuju pribadi terbaik di hadapan Allah. Dengan apa? Dengan memaksimalkan potensi perbekalan yang sudah Allah berikan, baik untuk diri maupun keluarga kita. Pasti ada “sesuatu” kenapa saya, misalnya diciptakan menjadi seorang Feeling extrovert.

Ga enak lho jadi Fe. Mukanya muka curhat, kayaknya orang tuh pengennya curhat aja ngeliat orang Fe. Belom lagi dianggap tebar pesona dan berakhir dengan banyak yang patah hati merasa diPHPin padahal mah ga pernah tuh ngerasa tepe-tepe begitu. Tapi ya itu kalo kita melihat dari sisi “ga enak”nya. Maka saya coba terus gali, kenapa sih saya dijadikan anak sulung, memiliki personality genetic Feeling extrovert dengan kehidupan yang justru traumatis di sisi “kasih sayang”. Ada yang salah nih sama takdirnya Allah.

Eit, tunggu dulu. Benarkah takdir Allah itu salah? Lalu dimana keimanan kita terhadap Qadha dan Qadar? Baik buruknya takdir, sebagai seorang muslim seharusnya kita terima dengan lapang. Disana terletak keimanan pada Allah Sang Pemilik Semesta.

Kasarnya, terima aja dulu hasil tesnya. Lalu pelan-pelan pelajari. Runut kehidupan kita sejak kecil, jika menjadikan diri saya sebagai contoh, maka saya merunut segala kejadian sejak kecil hingga saat ini. Mengecek sisi Feeling saya dimana sih. Yang ga sesuai dimananya, dan kira-kira kenapa? Benarkah sangat tidak sesuai atau ketidaksesuaian itu justru karena tempaan lingkungan yang membuat kita tidak mampu atau tidak diizinkan mempertunjukkan diri sebagai seorang Feeling extrovert.

Lha ya kok kayak maksa sih? Emang. Hehe. Maksa untuk menggali diri lebih dalam. Maklum kita yang sekarang kan hasil perpaduan 20% genetik dengan 80% lingkungan. Wajar dong kalo untuk bener-bener menyadari yang 20% itu butuh effort lebih jauh. Begitu pula dalam mengenali anak-anak.

Maka coba deh jalani kehidupan sebagai mesin kecerdasan kita, sebagai personality genetic kita. Jika awal-awal ga nyaman, wajar. Nah setelah terus menerus mencoba, apakah tetap nyaman atau justru galau? Galaunya kenapa?

Kalau pengalaman saya pribadi, lama kelamaan akhirnya nyaman. Setelah menerima dulu tentunya. Dan bahkan dari situ juga cara saya merunut hal-hal negatif untuk dinetralkan.

Jadi yuk sadari kalau perjalanan kita ini memang tidak mudah. Lha doa yang sering diulangnya kan begitu. Jadi Allah akan secara perlahan membawa kita di jalan itu. Tinggal kitanya siap ngga menjalani jalan yang ditunjukkan Allah itu?

Semangat ya manteman. Hayu kita saling mendoakan supaya dikuatkan melewati perjalanan ini..

Wallahu a’lam..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Doa yang Diulang

Teman, sadarkah bahwa dalam keseharian kita sebagai muslim, ada doa yang terus menerus kita ulang. Berkali-kali. Entah kita pahami atau tidak tapi pasti diucapkan berulang kali.

Doa itu terdapat dalam surah alquran yang paling sering kita baca: alfatihah. Setiap hari, setidaknya 17x sehari dalam shalat wajib. Ya?

Lalu apa arti ayat-ayat pada surah alfatihah? Benarkah ada doa disana?

Teman-teman boleh buka quran terjemahnya. Di awal-awal ayat, Allah terus yang disebut.  Sampai kemudian kita mulai ucapan: ihdinash shiratal mustaqim. Shiratalladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin..

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Kira-kira.. siapa sih yang disebut “orang-orang yang telah engkau beri nikmat” itu?

Coba cek surah an-nisa ayat 69, ada kalimat: fa-ulaika ma’alladzina an’amallah dst. Ada siapa saja yang disebutkan disana?

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. yaitu para nabi, para shiddiqiin, para syuhada dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”

Ada yang aneh?

Jalan orang yang diberi nikmat itu seperti apa sih? Nikmat banget ya sepertinya, sampai disebutkan dalam alQuran. Atau ada yang mau berpendapat lain?

Coba kita ingat-ingat bagaimana perjalanan para nabi, syuhada, orang-orang shiddiq, dan orang-orang shalih. Perjalanan mereka secara zhahir jarang sekali yang mulus lancar penuh kenikmatan dalam kacamata umum ya kan? Kehidupan mereka diisi dengan hal yang tak mudah. Entah itu kesulitan, penolakan, cemoohan atau hal serupa lainnya.

Bayangkan, setidaknya 17 kali dalam sehari kita meminta agar ditunjukkan jalan orang-orang seperti itu. Adakah kita kemudian berharap kehidupan kita nyaman lancar mulus sejahtera? Padahal yang kita minta adalah jalan yang mereka lalui, jalan yang mungkin penuh semak berduri, ada tanjakan, ada turunan, kadang mulus kadang berbatu. Sanggup? Kalo ga sanggup ya jangan berdoa seperti itu diulang-ulang dong. Kalo diulang-ulang bukannya potensi dikabulkannya doa tersebut jadi semakin besar? Apalagi diawali dengan memuji-muji Allah dulu 😀

Tapi ada yang perlu diingat. Akhir perjalanannya. Keindahan yang Allah janjikan disana. Itulah nikmat yang dimaksud. Mereka-mereka yang lulus dan disebutkan dalam alQuran ini menempuh lelahnya perjuangan selama perjalanan kehidupan mendapat nikmat besar dari Allah. Hal yang kita anggap menyakitkan secara zhahir, dapat mereka rasakan sebagai sebuah kenikmatan.

Masih ingat kisah para istri pembesar saat mengiris jari tangan mereka kala melihat ketampanan Yusuf? Tidakkah mereka merasakan sakit kala itu?

Bayangkan, ketampanan Yusuf saja sudah bisa jadi kenikmatan yang membuat para perempuan tidak merasa sakit akan luka sayatan. Bagaimana lagi jika kita benar-benar yakin tentang janji kenikmatan dari Allah?
*reminder banget nih buat saya yang masih sering ga nyadar dengan janji-janji Allah.

Ibarat perjalanan mencapai puncak tertinggi. Teringat sebuah film tentang para pendaki puncak Everest. Apa sih sebenarnya yang mereka cari? Kepuasan? Entahlah. Yang pasti mereka memiliki misi: menaklukkan puncak gunung tertinggi. Di film itu dikisahkan tentang perjuangan yang harus dilalui dalam perjalanan mereka menuju puncak Everest. Belum lagi perbekalan, pengetahuan (meskipun ada pemandunya), cuaca yang tiba-tiba berubah, kondisi pegunungan dan lain sebagainya.

Maka ketika misi keluarga kita adalah surga, mau tidak mau perjalanannya akan berat. Berat karena sudah jelas disebutkan bahwa dunia ini penjara bagi kaum muslim. Sebab terikat berbagai aturan yang sebetulnya untuk kebaikan kita sendiri.

Wallahu a’lam..

*baca lanjutan bahasannya di tulisan ini.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Diamnya Anak dan Luka Orang Tua

Menyandang gelar bernama ayah atau ibu adalah sebuah fase berikutnya dalam kehidupan sepasang suami istri. Ada harapan masa depan yang jauh lebih baik dicanangkan untuk kehidupan sang anak.

Namun ada hal yang terkadang tak disadari oleh diri setiap orang tua, bahwa ia tetaplah dirinya yang sudah terbentuk selama berpuluh tahun. Dengan peran baru.

Setiap ayah maupun ibu selalu mengusahakan hal yang jauh lebih baik untuk anaknya. Dengan sifat diri yang lama. Padahal selayaknya ketika ada peran baru yang dijalankan, maka kualitas diri pun harus dinaikkan.

Salah satu hal yang sering terlupa adalah luka lama yang seolah-olah sudah tertutup sempurna. Tapi di kala bagian luka itu tersentuh, ia tetap menghasilkan rasa tak nyaman bagi pemiliknya.

Maka kemudian kita menjadi sosok ayah/ibu yang hampir sulit menerapkan teori-teori mengenai sikap terhadap anak. Ayah, ibu, anak memiliki fitrah kebaikan. Segala sifatnya selalu mengarah pada keinginan untuk berbuat baik. Dan ayah ibunya lah yang kemudian menjadi orang pertama yang dianggap sebagai sumber contoh kebaikan. Tak peduli apapun yang ayah ibu lakukan, bagi anak semuanya adalah benar.

Anak terlahir dengan sifat rasa ingin tahu yang besar. Terkadang ia mencoba sesuatu yang ia lihat dari lingkungannya, menganggapnya sebagai sebuah kebaikan yang tidak perlu dipertanyakan.

Lalu ayah dan ibu yang sudah berpuluh tahun hidup mendahului mereka memaksa anak agar mengikuti pemikiran yang bahkan belum sampai sepertiganya ia alami. Dengan mudahnya ayah ibu menegur anak dengan cara yang kasar. Menganggapnya sebagai anak nakal. Tanpa ia pernah diberi tahu dengan lembut bahwa hal yang ia lakukan salah, solusinya bagaimana lalu memaafkan dan beri kesempatan ia belajar. Karena toh itu kesalahan pertamanya. Tidak layak jika kita menegur kesalahan dengan fatal lalu mengecap dengan label yang tak semestinya.

Diamnya anak saat kau bentak, bisa jadi karena ia sedang mencoba menyimpan luka yang dirasa. Ia tak tahu apa yang mesti dilakukan. Ia bahkan takut membela diri, mengatakan yang sebenarnya ia pikirkan. Ia takut jika tangisannya justru akan membuat sang orang tua tercinta menambahkan bentakan padanya. Ia khawatir jika ayah ibu akan menambah hukuman dengan cap “bandel” bahkan yang lebih kasar.

Ayah, ibu. Saat ia terdiam, belum tentu karena ia paham. Tapi bisa jadi karena ia mencoba memendam torehan rasa sakit di hatinya. Yang ia butuhkan adalah pelukan. Memastikan diri bahwa ayah ibu aman untuk menjadi tempat bercerita tentang kesah dan khawatirnya. Tentang apa yang sedang ia pendam saat ayah ibu memarahinya. Untuk menyelesaikan luka yang tertoreh tanpa direncanakan.

Terkadang orang tua yang belum selesai dengan luka lamanya, mencoba menurunkan luka itu pada sang anak. Entah untuk tujuan apa. Sengaja ataupun tidak.

Tapi saya yakin, tak ada satu orang tua pun yang ingin menyakiti anaknya. Apalagi sengaja bermaksud agar sang anak merasakan hal sama dengan yang pernah ia rasa. Sayangnya teori force power itu berlaku. Semakin kita mencoba untuk tidak menjadi orang tua yang buruk dengan menghindari sifat (dan luka) menyakitkan di masa lalu, justru diri malah ditarik pada pusaran sikap yang sama. Seringkali tanpa sadar. Saat kita marah misalnya.

Maka satu-satunya tugas ayah dan ibu untuk memutus rantai luka busuk itu adalah dengan menyembuhkannya. Hingga saat bagian yang terluka itu tersentuh, ia takkan membuat ayah ibu berteriak lebih tinggi dari yang biasanya. Terimalah bahwa luka itu ada, bukan mencoba tegar mengatakan bahwa luka itu sudah tidak terasa.

Kemudian meski perih dan butuh waktu cukup lama untuk menyembuhkan luka, jalanilah. Agar ayah ibu dapat menjalankan peran baru ini dengan lebih nyaman dan lapang. Tidak ada lagi bentakan yang berlebihan karena ketidaktahuan anak. Tak ada lagi luka yang ditorehkan lebih dalam hanya karena kesalahan tak sengaja oleh anak. Hingga orang tua dan anak dapat sama-sama menjalankan peran dengan lebih maksimal. Tanpa kemarahan berlebihan dan luka yang diturunkan.

Selamat menikmati peran baru ini wahai ayah ibu. Mari kita bersama menyelesaikan segala urusan masa lalu yang belum selesai. Dan menatap masa depan dengan lebih ringan tanpa membawa beban dari masa silam.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pindahan dan Kenangan

Hijrah. Begitu istilah yang belakangan ini sedang “booming” di seputaran saya. Ada yang mengistilahkannya dengan “nekat” juga jika berkaitan dengan keputusan yang dianggap terlalu ambil resiko. Bagaimana tidak, meninggalkan “kenyamanan” yang mereka miliki sebelumnya ke sebuah kehidupan yang (konon menurut beberapa orang) tidak jelas. Ya, padahal kita selalu beralih dari satu ketidakpastian ke ketidakpastian kehidupan setiap harinya. Bahkan jika kita misal memiliki kegiatan yang sama setiap waktu, berangkat ke kantor misalnya. Berangkat ke kantor hari ini bisa jadi beda dengan kondisi kemarin. Dan itu terkadang tidak bisa diprediksi. Karena yang sudah pasti itu ya takdir alias yang sudah terjadi dengan izin Allah.

Maka, melangkah untuk beralih dari suatu keadaan ke keadaan lain -yang oleh beberapa orang disebut dengan pindahan- kita benar-benar butuh hati yang siap. Siap menghadapi segala ketidakpastian di langkah berikutnya. Siap menghadapi berbagai kemungkinan ke depan. Jalani saja.

Berbicara tentang pindahan, sejak awal bulan Maret ini kami berpindah ke rumah baru di luar kota Bandung. Lumayan jauh dari orang tua saya dan sudah pasti tetep jauh dari orang tua suami. heuheu. Sempat khawatir dengan bagaimana ke depannya mengingat Juli akan jadi bulan yang mungkin sedikit hectic sebab si sulung pertama kali masuk sekolah baru di jenjang setara SD dan sekaligus perkiraan anak ketiga kami lahir. Membayangkan suami yang sibuk dengan pekerjaannya ngecek proyek rumah yang sedang ditangani, antar-jemput anak, ngurus 1 anak, 1 balita dan 1 bayi newborn. Tapi bismillah aja deh.

Nah, pelajaran tentang pindah kali ini berbeda dengan perpindahan kami sebelumnya. Ada sebuah kata nyelip di sela kesibukan kami mempersiapkan perpindahan: minimalist. Apa sih itu? Saya belajar dari pemilik web “minimalist sontoloyo” dengan gayanya yang emang absurd di grup 😀 Meski ga memperdalam tentang minimalist itu sendiri, tapi ya dari berbagai diskusi dengan babanya Raffii dan tukang travel blogger, banyak hal yang saya ubah di rumah. Dan tanpa terasa, frekuensinya nyampe ke suami. Alhasil, saat pindahan jadi momen kami bener-bener membuang hal-hal yang tidak lagi akan kami gunakan di rumah termasuk kenangan 😀

Suami entah belajar tentang minimalis atau ngga tapi bagi seorang Thinking introvert seperti dia, mengurangi dan mensortir barang adalah bagian dari efektifitas. Supaya pindahan ga bawa terlalu banyak barang. Lagipula sudah terlalu banyak mantan barang yang sudah selesai masa baktinya 😛 Ga ngajak putus. Tapi cukup sudah hubungan kita sampai disini saja ya wahai barang-barang bekas. Mungkin di luar sana ada jodoh lain tersedia untukmu.

Dan luar biasa, meski sudah membuang banyak barang tetap saja membutuhkan 2 mobil dan bikin cape pindahan. Tapi efeknya terlihat di rumah saat ini. Sortir menyortir sesi ke sekian kembali dilakukan di rumah baru. Barang yang sudah kadung di-pack disortir ulang. Menghasilkan setengah karung juga boo. Itupun sebagian ada yang diangkut mamah.

Konon, kebiasaan menimbun barang itu bisa termasuk disorder alias gangguan juga lho. Secara sederhana, menimbun barang menandakan ada kemelekatan yang tak perlu pada barang-barang yang memang sudah jelas tidak kita gunakan. Sedangkan kemelekatan itus sendiri harus kita kurangi, kecuali ketergantungan pada Allah, Tuhan Semesta Alam. Dengan alasan “siapa tahu nanti berguna” atau “siapa tahu nanti butuh”, tanpa sadar kita memenuhi rumah dengan berbagai benda yang “belum jelas” manfaatnya bagi kehidupan. Padahal barang-barang itu bisa jadi akan lebih bermanfaat jika dimiliki orang lain atau didaur ulang oleh pihak-pihak pecinta lingkungan misalnya.

Hoarder atau Hoarding adalah istilah yang diperkenalkan untuk “kelainan” ini. Hoarding sendiri di wikipedia disebutkan dengan beberapa penjelasan. Setidaknya yang terkait dengan pengertian hoarding dalam hal ini ada 2 jenis, yakni human hoarding yang terkait anxiety disorder (compulsive hoarding) dan animal hoarding. Keduanya memiliki titik temu penjelasan di sisi mengumpulkan dan menyimpan barang dengan underline di bagian scarcity alias ada unsur ketakutan di dalamnya.

Hoarding is a general term for a behavior that leads people or animals to accumulate food or other items during periods of scarcity. (wikipedia.org)

Maka dari tulisan itu saja, saya sendiri mengambil kesimpulan bahwa ya bisa saja memang yang namanya menimbun barang itu adalah kelainan jiwa. Ibaratnya kalo kata temen, dia itu semacam tumpukan beban masa lalu yang kita bawa-bawa sampai masa saat ini. Padahal sudah jelas, kita tidak memanfaatkan mereka. Hanya membebani saja setiap kali pindahan barang.

Jadi, hayu mulai saat ini kita sortir barang-barang di rumah. Siapa tahu ada pakaian yang masih sangat layak tapi jarang kita kenakan, atau barang perabot yang bahkan tidak pernah kita gunakan sejak ia mampir di rumah. Mending disedekahkan, pahala dapet, rumah juga jadi terasa lebih lapang. Percaya atau tidak, rasanya dada dan hati juga ikutan lapang. Ga mumet geje gitu.

Apalagi setelah diingatkan bahwa setiap harta (berarti termasuk di dalamnya pakaian dan barang benda yang kita miliki kan?) akan dimintai pertanggungjawaban. Bagaimana jika nanti ditanya tentang barang-barang yang kita “timbun” bahkan “mubadzir” jatohnya. Mending diberikan pada yang membutuhkan, dijual atau didaur ulang. Insyaallah kalo memang suatu saat kita butuh terhadap barang tersebut, akan ada rejeki untuk memiliki barang serupa.

Wallahu a’lam.

Selamat belajar hidup secukupnya.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.