Fase Atau Urutan (Kala) dalam Proses Persalinan (Lahiran)

Kehamilan ketiga konon katanya sudah ga ada yang perlu dikhawatirkan karena sudah “berpengalaman”. Padahal ya, sama saja seperti “pengulangan” pada umumnya dalam kehidupan, seringkali tidak sama persis antara pengalaman satu dan yang lainnya. Setidaknya itu yang saya alami.

Lagipula, pengalamannya pasti berbeda karena jika anak pertama murni memikirkan 3 orang: diri sendiri, suami dan bayi, maka di kehamilan kedua dst tidak mungkin hanya 3 orang itu yang dipikirkan kan 😁

Di kehamilan pertama memang tanpa ilmu yang mumpuni tentang bagaimana proses kelahiran. Selama proses kehamilan dan fase menyusui hingga MPASI dan pertumbuhan anak sih masih oke, tapi proses melahirkan tidak kami persiapkan dengan sebaik-baiknya karena berpikir: melahirkan adalah proses alami. Semua perempuan hamil sangat mungkin akan melewati fase itu. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan atau apa gitu.

Dan ternyata saya salah.

Proses melahirkan memang sebuah sunnatullah. Tapi itupun harus dijalankan dengan keilmuan yang mumpuni. Setidaknya keputusan yang diambil bukan berdasarkan prasangka atau masukan melainkan sudah melewati filter dari kitanya sendiri. Keputusan yang disadari.

Maka di kehamilan ketiga ini saya dan suami seperti belajar lagi dari awal tentang bagaimana proses kehamilan, bagaimana proses melahirkan yang minim trauma (sejujurnya, suami sih yang trauma terutama di kelahiran anak pertama. Sampe ga mau lagi lahiran di tempat yang sama. hihi). Trauma pun ga yang gimana-gimana banget sih, cuma ya membuat kami agak jaga jarak. Ibaratnya, kalo bisa ga harus dirujuk ke RS, jangan sampe dirujuk. Gitu deh.

Dan di catatan kali ini, mau nyatet tentang fase atau kala dalam proses melahirkan untuk lebih mengenali diri dan bagaimana proses alamiah ini terjadi. Sehingga saat ada indikasi medis pun, sudah lebih paham ilmunya dan mempersiapkan dengan lebih baik. Itu juga kenapa penting sekali mencari tenaga kesehatan medis yang mendukung agar penjelasan “kenapa dirujuk” atau bisa menjawab dengan baik kenapa begini begitu. Jadi keputusan yang diambil lebih matang.

Tahapan atau Kala dalam Proses Persalinan (Melahirkan)

Ada setidaknya 4 kala dalam persalinan yang perlu kita tahu. Ah, ibu-ibu jaman dulu juga ga perlu tahu yang beginian lancar-lancar aja. Iya sih, tapi kalo buat saya mah penting tahu supaya lebih mantep lagi.

Kala I

Fase kala I merupakan kala pembukaan antara pembukaan 0 hingga 10 (atau biasa kita kenal dengan pembukaan lengkap). Fase ini ternyata yang saya kenal selama ini dengan istilah pembukaan. Saya pikir kala I akan dimulai sejak kapan ūüėõ

Lama berlangsungnya fase kala I ini tidak sama bagi setiap orang sehingga jangan dibandingkan ya. Hanya saja umumnya pada perempuan yang baru pertama kali mengalami kehamilan (atau istilahnya primigravida) kala I terjadi selama sekitar 12 jam. Sedangkan pada perempuan hamil yang telah hamil lebih dari 1x (multigravida), kala I berlangsung selama kurang lebih 8 jam.

Ada 2 fase dalam kala I ini yaitu fase laten dan fase aktif.

Fase Laten
  • Dimulai sejak awal kontraksi dirasakan dimana penipisan dan pembukaan serviks mulai terjadi secara bertahap.
  • Masih dihitung fase laten hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
  • Umumnya berlangsung hampir 8 jam.
Fase Aktif
  • Terjadi kontraksi uterus dengan frekuensi dan lama kontraksi yang terus bertambah secara bertahap. Kontraksi dianggap memadai jika dalam 10 menit terjadi setidaknya 3x atau lebih dan lamanya kontraksi selama 40 detik atau lebih.
    Ini yang saya ga sempat perhatikan dan alami di 2 proses kelahiran sebelumnya karena keduanya lahir dengan proses induksi tanpa merasakan kontraksi “normal” sebelumnya. Meskipun pada kelahiran anak kedua, sempat merasakan dan saat periksa ke bidan sudah ada pembukaan 1.
  • Dari fase laten pembukaan 4 (yang berarti sudah terbuka sekitar 4cm) hingga pembukaan lengkap 10 cm terjadi kecepatan pertambahan pembukaan rata-rata 1 cm per jam pada primigravida atau nulipara (pernah hamil dan melahirkan tapi anaknya meninggal di dalam kandungan). Sedangkan pada multigravida kecepatan pertambahannya bisa 1-2 cm atau lebih per jam.
  • Terjadi penurunan bagian terbawah janin

Yang Akan Dilakukan Nakes (dan mungkin akan kita terima) Saat Kala I

Sebagai seorang ibu, naluri pasti jalan. Tapi tidak ada salahnya mengetahui ini sebagai acuan mengenali proses diri.

  1. Pastikan kita sebagai parturien (pasien alias yang akan melahirkan) menjaga kesabaran melewati prosesnya.
  2. Pihak nakes akan melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, temperatur pernafasan secara berkala sekitar 2-3 jam sekali.
  3. Setiap 30 menit atau 1 jam sekali akan dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin.
  4. Pastikan kandung kemih selalu kosong. Pihak nakes akan memastikan ini kok.
    Pengalaman lahiran anak kedua, ada proses dimana dimasukkan selang untuk mengeluarkan air kencing setelah ditanya “udah sempet pipis belum” dan saya jawab “belum” karena memang lebih fokus pada kontraksi yang dialami. Sebelumnya ga paham, setelah mencari tahu ternyata kandung kemih yang penuh bisa menghambat proses kelahiran.
  5. Nakes akan memperhatikan kondisi patologis kita
  6. Jangan dulu mengejan ya buuu kecuali sudah diinstruksikan sama asisten kelahiran.
    Pengalaman saya di proses sebelumnya: ujian terberat adalah mules semakin kuat tapi tidak boleh mengejan dulu (biasanya di pembukaan 7-8). Memang perasaan ingin mengejan rasanya udah di ubun-ubun, tapi dokter/bidan ga memperbolehkan mengejan.
    Tipsnya adalah atur nafas. Di kelahiran pertama mah boro-boro ngerti soal pernafasan, mengenali mules aja dibantu suster. Haha.
    Di kelahiran anak kedua baru deh saat ingin mengejan dengan kuat tapi belum lengkap pembukaannya, belajar atur nafas. Dibantu suami juga untuk elus-elus punggung, pijat relaksasi, lari-lari kecil di seputar tempat lahiran dan tentu saja pelukan hangat yang mengeluarkan hormon oksitosin membantu menenangkan melewati fase “terberat” (versi saya) itu.

Kala II

Fase ini dimulai ketika pembukaan sudah lengkap hingga bayinya lahir. Umumnya berlangsung selama 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Adapun tanda dan gejala pada kala II persalinan adalah sebagai berikut:

  1. Terasa ingin meneran (menahan nafas dengan tenaga dan menekan, seperti akan mengejan saat hendak BAB). Hal ini terjadi bersamaan dengan terjadinya kontraksi (atau mulas, yang merupakan respon dari tubuh dan bayi).
  2. Kita merasakan adanya peningkatan tekanan pada bagian kemaluan dan/atau rektum (daerah pinggul gitu)
  3. Nakes akan mengecek, biasanya perineum sudah nampak menonjol
  4. Vulva vagina dan sfingter ani nampak membuka (ini mah nakes yang ngerti)
  5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala II bisa diketahui lewat “pemeriksaan dalam” oleh tim nakes dimana pembukaan sudah lengkap atau terlihat bagian kepala bayi.

Kala III

Fase Kala III merupakan proses yang terjadi segera setelah bayi lahir hingga plasenta terlahir pula. Berlangsung kurang lebih 30 menit. Tanda lepasnya plasenta terjadi saat ada perubahan bentuk dan tinggi uterus, tali pusat memanjang dan ada semburan darah mendadak dan singkat. Ini mah nakes yang paham kali ya. Kita mah kan ga akan merhatiin ūüėÄ

Pihak nakes akan melakukan yang disebut manajemen aktif. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kontraksi yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu berlangsungnya, mencegah pendarahan dan mengurangi kehilangan darah.

Manfaat manajemen aktif kala III adalah persalinan kala tiga menjadi lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, mengurangi kejadian retensio plasenta (tidak lahirnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah bayi dilahirkan). Tiga langkah yang biasanya dilakukan dalam manajemen aktif ini adalah:

  1. pemberian suntik oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi terlahir
  2. penegangan tali pusat secara terkendali
  3. masase fundus uteri (semacam pemijatan pada bagian fundus uteri)

IMD (Inisiasi menyusui dini) dilakukan di kala ini karena dapat membantu kontraksi sehingga memudahkan plasenta keluar (lahir) atau oleh beberapa penelitian disebut IMD dapat mempercepat kala III.

Kala IV

Fase ini dimulai sejak plasenta terlahir hingga 2 jam setelah kelahiran (post partum istilahnya). Kala IV dimaksudkan untuk pelaksanaan observasi karena umumnya pendarahan setelah melahirkan (yang tentu saja dapat membahayakan jika tidak ditangani dengan baik) paling sering terjadi pada 2 jam pertama setelah kelahiran. Adapun observasi yang dilakukan oleh pihak nakes meliputi  hal yang perlu diperhatikan berikut:

  1. Kondisi kita apakah bahagia dan sadar. Sebab tugas beratnya sudah selesai dan bayi lahir dengan selamat.
  2. Dicek tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu tubuh.
  3. Kontraksi uterus baik
  4. tidak ada pendarahan per vaginam (di area alat reproduksi) atau dari alat genital lainnya
  5. plasenta dan selaput ketuban semua harus sudah terlahir dengan lengkap
  6. kandung kemih harus kosong
  7. luka-luka pada perineum (jika ada) akan dirawat dan dipastikan tidak ada hematoma (kumpulan darah tak normal di luar pembuluh darah)
  8. resume umum keadaan ibu dan bayi
  9. bayi yang telah dibersihkan akan diletakkan di samping kita untuk pemberian ASI
  10. Observasi dilakukan setiap 2 jam
  11. Bila kondisi kita membaik, akan dipindah ke ruang rawat inap bersama bayinya.
    Ini saya baru paham, kenapa dulu pas di RS agak lama dari ruang vk ke ruang biasa.

Wah, jadi panjang ya tulisannya. Gapapa deh. Alhamdulillah, jadi paham juga kenapa bidan yang sekarang menangani meminta saya mengingat dan mempelajari kembali kala dalam persalinan. Semoga bermanfaat untuk teman-teman juga.

Sumber-sumber:

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Perkembangan Manusia, Siklus Kedua Dan Seterusnya

Selama ini, seringkali kita fokus pada milestone perkembangan anak terutama bayi hingga balita. Jarang yang membahas versi pemuda apalagi milestone untuk orang dewasa. Dan ternyata ada lho tahapan pertumbuhan seseorang lengkap hingga usia senja. Dan ini cukup membantu (bagi saya secara pribadi) dalam mempersiapkan dan memahami “tumbuh kembang” orang-orang sekitar baik itu suami, orang tua maupun adik-adik.

Jika di postingan sebelumnya kita hanya berbicara mengenai siklus 9 tahunan periode awal anak-anak, maka di postingan ini kita akan berbicara tentang siklus kedua dan seterusnya (hingga siklus 9 tahunan periode keenam). Intisari dari perkembangan siklus kedua dan seterusnya ini disajikan dalam bentuk tabel di buku STIFIn Personality dan saya tuliskan ulang dalam bagan berupa tabel gambar dengan sedikit penjelasan. Meski demikian, inti dari fase tersebut insyaallah dapat dipahami dengan mudah.

Perkembangan yang terjadi pada siklus kedua dan seterusnya merupakan “pengulangan” sistematis dari siklus pertama. Perkembangan berikutnya ini diintisarikan berbentuk¬†milestone¬†yang membentuk sejarah hidup seseorang.

Tonggak ini berlaku secara umum untuk semua mesin kecerdasan karena dikaitkan pada proses pertumbuhan, regenerasi, dan penuaan sel otak. Setiap tahun aktivitasnya berpindah dengan siklus yang sama setiap sembilan tahun.

Dalam proses perkembangan personalnya, strata genetik terutama jenis kelamin, mesin kecerdasan dan drive tetap mengambil alih tindakan utama seseorang. Dan akan maksimal jika mendidik diri berdasarkan personaliti genetik. Adapun milestone yang disebutkan dalam bagan merupakan fase kecenderungan tindakan terbaik seseorang setiap tahunnya yang berpadu dengan kenaikan tingkat level personaliti seseorang dalam perjalanan memperoleh kemistrinya.

Siklus kedua perkembangan manusia: periode Remaja

Siklus kedua tumbuh kembang anak di usia 10 tahun mulai terbentuk mindset tentang tanggung jawab yang lebih matang dibanding usia sebelumnya. Berlanjut mulai mengenal dan tertarik dengan lawan jenis di usia 11 yang merupakan tanda munculnya libido awal pada anak.

Dengan berbagai pengalaman yang ia alami di fase sebelumnya, usia 12 tahun membuat anak memiliki pengetahuan dan sekaligus pengalaman sehingga ia tumbuh menjadi sosok yang ensiklopedik. Di usia 13 tahun ia mulai masuk fase peniruan maka lingkungannya harus tetap terjaga.

 

Usia 14 mulai mengenal percintaan. Berikan pondasi tentang bagaimana menghadapi lawan jenis dan rasa suka terhadap lawan jenis. Jangan sampai salah tindakan agar tidak berontak atau salah paham.

Usia 15 anak memasuki fase eksplorasi jati diri dan fase baligh yang kemudian dikokohkan dengan penemuan jati diri sesungguhnya di usia 16. Pastikan pondasinya sudah sangat kokoh di usia ini.

Usia 17 mulai memasuki persiapan menjadi dewasa, menjadi seorang pemuda yang lebih baik, bertanggung jawab dan tangguh. Kesempurnaan jati dirinya terbentuk saat menginjak usia 18 tahun.

Siklus Ketiga Perkembangan Manusia: Periode Pemuda

Di periode pemuda, seseorang mulai menginjakkan kaki di dunia kemandirian dengan kedewasaan yang matang sehingga saat usia 20 memasuki fase pernikahan mereka sudah ba-ah (mampu memberi nafkah lahir batin). Kemudian fase bersaing baik dengan teman sebaya atau semacamnya saat menginjak usia 21 membuat ia semakin belajar dewasa.

Maka di usia 22 umumnya seseorang sudah mulai memiliki kemahiran tertentu. Dan bila disejajarkan dengan proses lamanya pendidikan di Indonesia, usia ini merupakan tahun dimana seseorang sudah lulus sarjana atau minimal D3. Dilanjutkan dengan fase perjuangan untuk kemudian di usia 26 nanti dia menunjukkan eksistensi dirinya secara utuh.

Usia 24 tahun seseorang cenderung sudah berani melakukan tindakan pengambilan resiko sehingga dianggap nekad oleh beberapa pihak. Namun hal ini justru menjadi pijakan untuk langkah terobosan di tahun berikutnya hingga ketika menginjak usia 27 tahun, pemaknaan hidup yang ia pelajari sudah jauh lebih matang dan siap menuju periode berikutnya: menjadi dewasa.

Siklus Keempat Perkembangan Manusia: Periode Dewasa Awal

Memasuki periode dewasa awal, setiap orang mulai menginjakkan kaki dalam pertumbuhan diri yang lebih luas lagi. Idealnya, ketika memasuki fase baligh (sekitar 15 tahun) seseorang sudah memiliki pondasi yang mantap sebagaimana ditargetkan di 9 tahun awal pertumbuhan, pondasi itu sebaiknya sudah kokoh dan dikokohkan lagi di fase berikutnya sebelum akhirnya menginjak fase dewasa awal ini.

Usia-usia di siklus keempat bisa dikatakan sebagai usia produktif maksimal dari seseorang. Hal ini dapat dipahami karena ia sudah memiliki pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan sehingga produktifitasnya sudah tidak lagi sekadar bekerja melainkan untuk kepentingan yang lebih menyebar.

Siklus Kelima Perkembangan Manusia: Periode Dewasa

Kemapanan pekerjaan, tingginya ilmu dan pemahaman, pengalaman yang semakin terasah membuat seseorang di fase periode dewasa sudah mulai memasuki tahapan cemerlang. Jika sebelumnya masih seputar diri dan sekitar, di periode ini kecenderungannya pada masyarakat yang lebih luas dan kepentingan yang lebih banyak dengan target akhir: kontribusi tiada batas.

Umumnya di usia 45 tahun, seseorang sedang sangat senang memberikan kontribusi besar. Hal ini kemudian akan lebih mudah dilaksanakan kala semua fase di usia sebelumnya sudah terpenuhi dengan baik.

Saat berkontribusi, ia sudah tak lagi khawatir dengan kekayaannya, keturunannya, hubungan sosial masyarakatnya karena sudah terbentuk sebelum fase ini aktif. Mungkin itu pula yang menjadi penyebab bahwa katanya “life begin at 40” ūüėÄ

Siklus Keenam Perkembangan Manusia: Periode Dewasa Akhir

Siklus Ketujuh Perkembangan Manusia: Periode Keemasan

Dengan mengetahui setiap tahapan milestone sejak lahir hingga usia senjanya, maka pemaksimalan peran dan penggemblengan potensi menjadi lebih terarah. Kita menjadi semakin paham cara menyikapi diri dan orang lain di setiap fasenya. Tahapan naik level personaliti genetiknya pun menjadi semakin matang dari tahun ke tahun. Hingga setiap langkah tindakan dan perannya di dunia ini dapat menjadi bekal untuk kelak di akhirat, insyaallah.

Wallahu a’lam..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Cetak Biru Perkembangan Manusia – Periode Awal, Anak-anak

Mempelajari tumbuh kembang anak rasanya ga ada habisnya ya. Ada banyak teori bertebaran di luar sana. Belum lagi teori-teori parenting yang terus update.

Saat mempelajari konsep STIFIn, saya  menemukan sebuah teori cetak biru perkembangan manusia berdasarkan kronologis perkembangan kecerdasan anak (dan manusia pada umumnya) yang kemudian kala diperhatikan dengan seksama, benar terjadi setidaknya pada diri kami.

Aliran konsep perkembangan yang dianut oleh penemu STIFIn, Pak Farid Poniman ini adalah siklus sembilan tahunan dimana siklus ini akan senantiasa berulang setiap 9 tahun sekali dengan periode yang berbeda.

  1. Periode sembilan tahun pertama adalah periode anak-anak.
  2. Periode sembilan tahun kedua adalah periode remaja (meskipun dalam Islam, periode ini sebenarnya tidak ada melainkan periode ghulam dan fata)
  3. Periode sembilan tahun ketiga adalah periode pemuda.
  4. Periode sembilan tahun keempat adalah periode dewasa awal.
  5. Periode sembilan tahun kelima adalah periode dewasa.
  6. Periode sembilan tahun keenam adalah periode dewasa akhir.
  7. Periode sembilan tahun ketujuh adalah periode keemasan. Adapun di atas periode ini jika ada adalah periode usia lanjut.

Perkembangan Tahun Demi Tahun Tahapan Awal: Anak-anak

Adapun yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah 9 fase awal di periode pertama: fase anak-anak. 9 tahun pertama berharga anak insyaallah akan menjadi pondasi yang cukup baik bagi tumbuh kembangnya di masa mendatang. Termasuk memberikan bayangan tahapan tindakan dan pendidikan yang perlu orang tua perhatikan selama 9 tahun pondasi dasar tersebut.

Perkembangan Anak Tahun Pertama

Pada tahun pertama ini bagian otak yang tengah berkembang pesat di bagian otak kiri bagian dalam (neokorteks kiri dalam). Di fase ini, penting untuk memberikan pengetahuan tentang nama-nama. Perbanyak mengajaknya mengobrol dan berbicara karena otaknya sedang haus akan vocabulary baru.

Ketika anak di tahun pertama jarang diajak bicara, maka hal ini dapat memperlambat pertumbuhan otak kirinya dalamnya.

Perkembangan Anak Tahun Kedua

Pada tahun kedua pertumbuhan bayi, anak mulai belajar tentang perasaan dan kasih sayang. Di usia ini berikanlah limpahan kasih sayang yang cukup sebab bagian limbik kiri luarnya sedang tumbuh. Bentakan dan kekasaran pada usia 2 tahun akan membekas dan melukai hatinya.

Ajak atau biarkan anak lebih banyak berinteraksi dengan orang lain terutama yang sebaya. Kemampuan komunikasi non-verbal pada fase usia ini penting untuk pembesaran/perkembangan otaknya.

Perkembangan Anak Tahun Ketiga

Di tahun ketiga kehidupannya, anak sudah mulai lincah bergerak kesana kemari. Kecerdasan motorik kasarnya sedang meningkat. Perkembangan otak di usia ini ditekankan pada limbik kiri bagian dalam.

Dalam pergaulan sosialnya, ia seperti ingin memiliki segalanya sehingga oleh sebagian ahli disebut fase egosentris dimana tingkat keakuannya begitu tinggi dan rasa kepemilikannya tidak boleh diganggu gugat. Bahkan milik orang lain pun jika perlu, akan direbutnya atau merengek ingin dibelikan yang serupa.

Makannya mulai lahap karena memang pertumbuhan fisiknya terjadi paling drastis di umur tiga tahun ini. Di usia ini tepat untuk mulai memisahkan kamar dari orang tua sebab kemandirian mulai tumbuh di usia ini. Agar saat usia 7 atau 10 tahun sudah bisa betul-betul tidur di kamar terpisah. Jangan takuti dengan hal yang membuat anak takut untuk berpisah dari kamar orang tua.

Ajak anak bermain gerakan yang melatih motorik kasarnya seperti memanjat, ayunan (keseimbangan), mengayuh sepeda roda empat. Hal ini sangat diperlukan untuk anak tiga tahun.

Perkembangan Anak Tahun Keempat

Pada tahun keempat ini¬†perkembangan otak anak masih berada di limbik kiri namun bagian luar. Kecerdasan motorik halusnya yang sedang berkembang pesat. Daya ingat anak di usia ini semakin lengkap. Berikan rangsangan berupa cerita pengantar tidur, mendengarkan lagu anak ataupun murattal, pengenalan huruf dan angka, keterampilan menjahit (di online shop banyak “puzzle” menjahit jika ingin yang simpel), bermain puzzle, keterampilan melipat (kertas misalnya), dan belajar mewarnai.

Anak usia 4 tahun sangat suka dibawa ke lapangan¬†bermain apalagi jika arealnya luas dan lapang. Izinkan mereka bergerak dan eksplorasi “tanpa batas”. Lakukan gerakan yang lebih maju dibanding tahapan sebelumnya seperti belajar mengendarai sepeda roda dua, senam berirama, berlatih bela diri, bermain sepak bola, dan berenang.

Di usia empat tahun ini anak mulai mengerti kesenangan, mengenal selera masakan, dan memiliki kesadaran untuk bermanja-manjaan serta memerlukan perlindungan. Sifat dermawan juga mulai muncul sehingga dapat makin diperkenalkan dengan konsep sedekah dkk.

Perkembangan Anak Tahun Kelima

Tahun kelima perkembangan anak bertumpu pada perasaan dalamnya. Perkembangan isi kepala terjadi pada limbik kanan dalam.

Anak mulai memiliki rasa tanggung jawab, belajar lebih dewasa, meningkatkan kepahaman dalam komunikasi dan pandai merangkai kata dalam saat berkomunikasi. Mereka juga sudah lebih berani mengungkapkan isi hatinya dan memiliki kepekaan perasaan yang lebih tinggi.

Usia 5 tahun anak sudah mulai memiliki keperluan utama sehari-hari berupa belaian dan perhatian. Mereka sangat mengharapkan hal tersebut dari orang tua dan keluarga terdekatnya. Ia ingin disanjung, dipuji dan dilibatkan.

Saat bergaul dengan teman sebayanya, muncul rasa ingin memimpin. Intensitas pergaulannya pun semakin sering. Mereka mulai mengerti arti kehilangan, ditinggalkan dan dikucilkan. Sudah paham rasanya sakit hati, pandai berbicara suka dan tidak suka pada teman sebayanya. Bahkan sifat bossy mulai muncul juga karena ingin diakui sebagai orang baik dan layak dipuji.

Perkembangan Anak Tahun Keenam

Kreativitas mulai bertumbuh di usia keenam kehidupan anak. Mereka sudah mampu menjadi detektif cilik guna menyambungkan informasi yang terputus. Sudah mampu mencari siapa “dalang” dari keusilan teman sebayanya.

Umumnya di usia 6 tahun anak sudah mulai mengungkapkan khayalan dan cita-citanya, pikirannya mulai bisa meneropong ke masa depan. Otak kanan bagian luarnya sedang berkembang cepat di usia ini.

Cara berkomunikasi anak sudah mulai nampak gaya atraktifnya seperti memainkan bahasa tubuh. Meskipun masih terkesan seperti anak mami tapi kepercayaan tingginya sudah mulai tumbuh dan perasaan minder berkurang terutama jika kreativitasnya berkembang.

Cara anak melukis di usia ini sudah mulai muncul unsur seni, tak lagi sekadar mewarnai dan membentuk. Sudah ada improvisasi disana.

Anak mulai berani dan yakin dalam mengemukakan pendapat, perasaan ingin bebas dan memiliki privasi sudah tampak di umur ini.

Perkembangan Anak Tahun Ketujuh

Usia 7 merupakan tahun mencari identitas awal. Anak sudah mulai bangga dengan namanya, kesehariannya seperti mencoba mencari kesempurnaan. Sudah mulai mahir memasarkan idenya dan memiliki kemauan pantang mundur.

Keinginan untuk mendominasi teman-temannya muncul bersamaan dengan perannya yang ingin seperti pahlawan. Meski demikian, mereka sudah mulai bisa menerima alternatif yang lain. Keyakinan tinggi membuat mereka berani menerima tantangan dan persaingan. Tantangan inilah yang menjadi “makanan” untuk membesarkan otak kanan bagian dalamnya.

Interaksi dengan teman sebayanya ditandai dengan ikatan kemitraan dimana solidaritas kelompok mulai muncul. Ia bahkan sudah berani menetapkan misi tertentu bersama teman-temannya.

Tingkat keusilannya mulai tinggi karena dianggap sebagai penyaluran kreativitasnya. Ia mengharapkan keleluasaan dan kebebasan dari lingkungannya untuk mulai menyalurkan ekspresi dirinya.

Perkembangan Anak Tahun Kedelapan

Otak kiri bagian luar berkembang dengan pesat di usia 8 tahun. Pelajaran matematika sudah dapat dijejali pada mereka. Perhatiannya terhadap sekitar mulai meluas. Mereka mulai menunjukkan keinginan berkuasa dan mengendalikan keadaan, mulai pandai menetapkan prioritas, sudah mahir membuat langkah-langkah sistematis dan muncul keterampilan mengorganisasikan diri dan teman-temannya.

Jika mereka bermain sepakbola, sudah mulai pandat mengatur strategi bahkan saat menonton bola pun sudah bisa menganalisa permainan dalam skala sederhana. Pelajaran komputer di usia ini sudah sangat berguna.

Pertanyaan yang diajukan baik pada orang tua maupun guru sudah sangat kritis. Mereka juga memiliki kemandirian untuk mengelola segala sesuatu yang berkaitan dengan keperluan dirinya.

Perkembangan Anak Tahun Kesembilan

Fase terakhir dari siklus pertama perkembangan anak di tahun kesembilan. Perkembangan kecerdasan anak berada di otak tengah dan bawah yang ditandai dengan kepahaman tentang ketuhanan, ibadah, dan pengorbanan. Mereka seolah melengkapi apa yang belum cukup pada 8 tahun sebelumnya.

Kejujuran menjadi tuntutan dirinya untuk membuatnya menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab. Kepekaan untuk menolong orang susah makin terasah. Ia semakin senang membantu ibu, ayah dan melaksanakan tugas-tugas sederhana.

Di usia ini mereka sudah mulai mulai berani mengekspresikan reaksi marah secara terang-terangan (sehingga beberapa pihak mungkin menganggap anak mulai “nakal”). Sebetulnya karena mereka seolah ingin mengatakan bahwa dirinya anak kecil yang sudah sempurna, segala sesuatunya sudah lengkap dan siap melakukan keterampilan jenis apapun.

Kenali Fase Tumbuh Kembangnya, Aksi Sesuai Usia

Demikian siklus perkembangan 9 tahun pertama anak berdasarkan bagian otak mana yang aktif. Fase 9 tahunan ini berulang di 9 tahun berikutnya dengan periode yang berbeda. Ketika ada kebutuhan anak tak terpenuhi di periode tersebut, terkadang akan ada masa dimana anak “nagih” pemenuhannya di usia-usia berikutnya tanpa bisa ditebak. Jadi, ketika melirik daftar di atas kemudian sadar ada bagian yang terlewat (tidak terpenuhi) maka persiapkan diri saat “tagihannya” muncul. Perkuat kesabaran, mohonlah bantuan Allah untuk menghadapinya.

Barakallahu li wa lakum. wallahu a’lam.

 

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ummi, Dede Bantu Ya..

Ummi, dede bantu ummi ya..

Kalimat seperti itu seringkali muncul beberapa waktu ke belakang. Kadang terbantu, kadang dilema dan sesekali deg-degan juga. Kok bisa? Karena Azam (4 tahun) ingin bantu hampir banyak hal tak peduli kondisi saat itu apakah lagi buru-buru, dia mampu atau tidak, atau hal serupa.

Apresiasi tetep kudu diberikan supaya keinginan anak untuk membantu selalu terjaga. Tapi penjelasan saat tidak memungkinkan dia membantu, bisa menjadi tambahan informasi bagi anak. Mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Termasuk mengukur kemampuan tanpa merendahkan (agar kelak anak tidak terbiasa menjadikan kelemahannya untuk tidak bergerak ambil andil membantu).

Saya pribadi mencoba selalu minta izin pada anak-anak saat hendak membantu mereka di kala melihat “kayaknya dia butuh dibantu deh“. Lho masa minta izin? Iya, sebab nyatanya memang ga semua orang senang atau butuh dibantu.

Dan dalam hal upaya anak menyelesaikan suatu hal, ada kepercayaan yang harus kita jaga. Percaya padanya saat dia merasa dirinya mampu, percaya bahwa ia mampu mengukur kemampuannya (ketika udah mentok, kemungkinan besar mereka akan minta tolong), membuat mereka yakin bahwa kita percaya sehingga terjaga rasa percaya dirinya, fitrah berani mencoba dan berusaha maksimal – sekuat tenaga.

Meminta izin saat akan membantu mereka juga jadi contoh nyata bagaimana sebaiknya bertindak saat ada seseorang nampak butuh bantuan. Bukankah tidak sedikit perselisihan terjadi karena salah persepsi? Si A niatnya bantu, si B yang dibantu malah merasa A ini ganggu, atau semacamnya.

Membiasakan mereka untuk tidak mudah minta bantuan tapi sekaligus berani meminta bantuan kala dibutuhkan menjadi salah satu poin penting yang coba kami perkenalkan. Tidak sombong (beranggapan ga butuh orang lain, bisa ngerjain sendiri) tapi tidak jiper dan minder (sehingga ga percaya pada kemampuan diri dan terus-terusan minta bantuan orang lain).

Sebagai orang tua, wajar kok ingin membantu anak. Yang ga wajar saat anak dibantu di semua aspek kehidupannya. Anak tidak bebas dan mandiri, orang tuanya juga terus menerus khawatir.

Nah, terkait anak ingin membantu, sejauh ini mereka selalu bertanya terlebih dahulu “Aa/dede mau bantu ummi ya”. Jawabannya tentu saja tidak selalu ‘iya’. Apapun jawabannya, selalu ada potensi “ujian” disana 😁

Ketika jawaban kita “iya” mengizinkan anak membantu, maka kita harus sabar bahwa bantuannya kadang ga sempurna, sesekali butuh waktu yang lebih lama, butuh diajari, dsb. Ya, tapi karena anak-anak kami keduanya Sensing, pengalaman langsung semacam itu akan sangat berharga. Termasuk untuk anak dengan mesin kecerdasan lainnya juga tentu akan sangat senang dengan ‘praktek lapangan‘ 😅

Ketika jawaban kita “tidak” maka pandai-pandailah merangkai kata. Agar maksud ucapan tersampaikan, tapi tidak menyurutkan semangatnya. Perlu dicatat: pandai merangkai kata bukan berarti berbohong ya bu. Tapi lebih pada mengatur kalimat agar sesuai dan tepat sasaran.

Ga boleh ada kebohongan meski dalam bercanda sekalipun, itu aturan di rumah kami sebagaimana dianjurkan dan dicontohkan Rasulullah. Maka kepandaian ayah ibu memilih kata inilah yang mencerminkan kecerdasan komunikasi kita dan insyaallah dicontoh anak 😍

Fitrah anak untuk membantu perlu dijaga agar saat baligh nanti, ia lebih mudah berbakti pada kedua orang tuanya. Terbiasa belajar mandiri dan paham terhadap berbagai pekerjaan rumah sehingga jika saatnya nanti ia jauh dari rumah, kemampuan mengurus kebutuhan diri semakin terasah.

Dan “efek” terdekat yang dapat kita rasakan: saat kita repot atau sakit, tiba-tiba takjub karena dia bisa ambil nasi dan lauk sendiri saat lapar, masak sendiri, melanjutkan masak saat di tengah jalan kita butuh bantuan, atau sekadar on-off-kan mesin air, bantu masak nasi karena sudah hafal takaran, urusin cucian di mesin cuci karena mengerti langkah demi langkah pekerjaan harian, dsb. Tak jarang, ia berusaha maksimal ngangkut jemuran yang sebetulnya bukan dia ga kuat ngangkat, tapi karena jemurannya kegedean jadi rada kewalahan. Biarin aja. Namanya juga belajar. 

Terlalu sering melarang anak membantu pekerjaan kita, bisa jadi penyebab anak merasa tidak percaya diri dan tidak dipercaya oleh orang terdekat dan tersayangnya: orang tua. Kadang alasan kita karena repot, atau men-judge anak ga becus ngerjain, kasihan kalo bantu nanti anak capek, dan hal serupa lainnya yang andai kita mau bersabar dengan proses itu, sebenarnya akan menghasilkan buah yang enak.

Ketika anak tidak pernah diizinkan membantu kita di masa tumbuh kembangnya, jangan heran di kala ia besar nanti tidak mau membantu orang tua. Ya karena kita yang membentuknya selama bertahun-tahun. Kalau sudah begini, jangan labeli anak dengan malas, durhaka atau semacamnya ya. Kan bukan sepenuhnya salah anak juga ūüôā

Maka, berilah kesempatan anak mencoba bantu pekerjaan kita kala memungkinkan. Namun ketika tidak memungkinkan, beri pengertian sebaik mungkin agar ia paham dan tidak terlampau kecewa. Anak sudah bisa diajak ngobrol dan komunikasi sejak kecil kok. Insyaallah mereka paham meski pemahamannya mungkin belum sempurna.

Selamat bekerja sama antar-anggota keluarga. Hayu kita sama-sama belajar 😘

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Terhambatnya Aliran Air-Pelajaran Hari Ini, Tentang Aliran Rejeki

Belajar dari mampetnya air yang turun hari ini, pikiran saya terbang pada filosofi rejeki. Sebetulnya kejadian air tidak ‚Äúturun‚ÄĚ ini pernah terjadi beberapa waktu lalu, hanya saja penyebab dan solusinya saya tidak tahu pasti. Dugaan sementara, penyebabnya ada yang menghalangi aliran air di saluran pipa. Sementara solusinya, entah apa karena tiba-tiba airnya lancar dengan sendirinya.

Lagi hamil gede gini mah ga berani naik-naik ke atap. Haha..

Dulu sih sempat terpikir, mungkin supaya tidak ada yang mampet lagi, jangan biarkan air di toren habis banget alias sampe ga netes sama sekali di kerannya. Meskipun teori ini terpatahkan setelah beberapa kali ga ketahuan airnya digelontorin habis. Apapun itu, pelajaran yang berkelebat di otak kaitannya dengan rejeki seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dan ingat, rejeki disini tidak hanya berupa harta tapi juga ilmu, ide dan gagasan, kasih sayang, juga kebahagiaan.

Mengingat-ingat kembali ilmu yang pernah didapat, terkoneksi pada kesimpulan bahwa

Sumber rejeki dari Allah itu luas, banyak dan dipastikan cukup untuk kebutuhan kita. Hanya saja, kenapa ia mengalir pelan, sedikit atau bahkan sulit sekali dinikmati oleh kita ‚Äúyang berada di bawahnya‚ÄĚ bisa jadi karena ada yang tidak beres disana.

Bukan sumber airnya yang salah, tapi proses (dan alur)nya yang musti dievaluasi.

1. Pastikan toren terisi agar air dari sumbernya dapat dialirkan.

Jika ingin lebih banyak menampung maka ukuran toren harus disesuaikan. Bagi saya ini ibarat tabungan epos (energi positif), keluasan hati dan keimanan kita.

Bahwasannya pemenuhan kebutuhan seseorang itu sudah dijamin oleh Allah. Tinggal apakah kita siap menerima dan menjemputnya atau tidak.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS Huud: 6)

2. Pastikan tidak ada yang menghalangi lubang keran sambungan dari toren ke pipa pengaliran (bisa saja kan lubangnya terhalang kotoran atau sampah dan semacamnya).

Di poin ini saya jadi teringat dengan bahasan Ganjalan Tissue di kelas PPA. Diibaratkan, tisu ini mengganjal lubang mesin ATM sehingga kartu tidak bisa masuk dan kita tidak bisa mengambil uang dari dalam rekening. Agar lancar, maka tisu itu harus dikeluarkan.

Atau, kalau pernah dengar kajiannya Ust. Yusuf Mansur, teman-teman mungkin juga familiar dengan ‚Äúdaftar ceklis dosa‚ÄĚ yang dapat menghambat mengalirnya rejeki dari Allah.

Ganjalan tisu bisa berupa dosa, amarah yang dipendam, emosi yang belum selesai, perasaan yang belum move on, dendam, dsb.

Atau kalau kata Pak Samsul Arifin mah, ibarat kita kemana-mana bawa sofa. Apa ga pegel? Saat ada rejeki mau mampir jadinya ga bisa maksimal nangkep karena geraknya terbatasi (secara tanpa sadar) sama ‚Äúsofa masa lalu‚ÄĚ itu. Ya intinya gitu deh.

Makanya kita teh kudu move on. Entah dengan meminta maaf, memaafkan maupun bertaubat.

3. Pastikan pipa penyalurnya cukup besar untuk mendapatkan aliran yang deras. Jika pipanya kecil, ya dimaklum saja keluarnya maksimal sediameter pipa itu.

Pengen ember cepet penuh tapi alirannya kecil? Pengen kebutuhannya segera terpenuhi tapi penyalurnya kecil? Ya mau gimana lagi, mentok maksimal segitu-gitunya. Saya melihat bagian ini ibarat mindset dan pemanfaatan potensi kita. Oleh Allah udah diberi potensi besar kok dibatesin dengan saluran yang kecil. Alhasil alirannya juga sulit membesar.

4. Pastikan keran di sambungan terakhir yang langsung kita nikmati juga sudah disesuaikan.

Tidak macet alias bisa dibuka tutup sesuai kebutuhan dan tidak pula longgar sehingga ‚Äúbocor‚ÄĚ terus. Mindset kita mengenai keuangan, pengeluaran kita dan tentu saja pemanfaatan dan cara mendapatkan rejeki harus dipastikan pas. Agar dapat ditutup dan dibuka kapanpun, tapi alirannya lancar selalu.

5. Pastikan posisi pipa dan keran sesuai dengan aturan supaya aliran lebih mudah dan deras

Jika tidak pas posisinya, ya kita harus pake alat bantu kan untuk mendapatkan hasilnya.

Cara seorang muslim menghadapi rejeki itu harus diukur dengan aturan dari ‚Äúsananya‚ÄĚ dan dibarengi dengan taat pada aturan yang dibuat oleh pemiliknya. Rendahkan diri di hadapan sumber segala kekuatan. Aliran itu tidak akan deras maksimal jika aturan yang telah ditetapkan tentang bagaimana agar hidup lebih nyaman, tidak dijalankan sesuai dengan aturannya. Akan selalu ada saja hambatan.

Terhambatnya Aliran Air-Pelajaran Hari Ini, Tentang Aliran Rejeki

Jadi, kalo dirasa rejeki kita kok ya seret (ingat, rejeki bukan hanya soal uang, harta dan jabatan ya), coba evaluasi kembali. Adakah ketaatan yang belum kita jalankan sepenuh hati? Adakah dosa yang menghambat hadirnya rejeki berupa kebahagiaan, rumah tangga yang sakinah ma waddah wa rahmah, kelancaran kuliah, dsb? Bagaimana dengan amalan dan ibadah yang dilakukan, apakah sudah sebaik-baiknya atau masih asal-asalan?

Ketika hasil evaluasinya masih merah, wajar ya jika kita belum merasakan nikmatnya hidup ini. Rasanya udah capek tapi kok kayak ga ada hasilnya. Ikut training sana-sini tapi karir, keluarga dan hubungan masih stagnan di titik sulit dihadapi. Hayu, teman. Kita evaluasi dan perbaiki bareng.

Btw, dalam konsep STIFIn sendiri ada bahasan mengenai menderaskan arus rezeki sesuai dengan mesin kecerdasan  seseorang. Kalo banyak yang komen minat, boleh deh nanti saya share insyaallah. Ga akan selengkap bahasan di WSL2 STIFIn Finansial, tapi bisa cukup membuka cakrawala sih. Dipadu-padan dan disesuaikan dengan ajaran Islam tentu saja J *monggo kalo minat banget bahasannya, komen di tulisan ini yaa.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tes STIFIn Untuk Apa?

‚ÄčTes STIFIn untuk apa sih teh Esa? 

Pertanyaan seperti itu seringkali masuk ke daftar FAQ saat saya nyentil istilah STIFIn. Nah, untuk menjawabnya agar nanti lebih mudah diakses ulang, saya coba tuliskan disini berdasarkan berbagai sumber dan pengalaman.

STIFIn sebagaimana dijelaskan pada postingan sebelumnya [klik] sebetulnya merupakan konsep pengembangan diri yang sejauh ini bagi saya dan klien-klien yang saya tes memang efektif.

STIFIn membuat kita tahu sifat genetik seseorang yang dibawa sejak lahir, bakat utama bawaan kita seperti apa dan mengetahui siapa diri yang sesungguhnya lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Tes STIFIn sendiri berbeda dengan paper test assesment. Cara pengambilan sampel dengan cukup men-scan kesepuluh jari kita. Tunggu 10-15 menit, hasilnya insyaallah sudah bisa dilihat. Makanya efektif juga untuk mengenali anak-anak sejak dini (untuk anak, idealnya tes dapat dilakukan mulai usia 2-3 tahun).

Kenali Diri Lebih Dalam

Banyak orang ternyata belum tahu pasti siapa dirinya, bakatnya apa, kelebihannya apa, kelemahannya apa. Kalaupun ada yang sudah menemukan dirinya, biasanya telah melewati berbagai hal guna mengenali jati dirinya.

Nah, tes STIFIn ini bisa jadi jalan pintas efektif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketika kita tahu siapa diri ini, maka langkah yang dijalankan berikutnya menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Insyaallah.

Kita bisa mengoptimalkan kelebihan kita menjadi kekuatan yang luar biasa. Dan ketika tahu kelemahan kita, jadi bisa tahu bagaimana cara mengatasinya.

Tes ini penting bagi seluruh kalangan.

Bagi orang dewasa, pasangan suami istri misalnya, ternyata banyak suami istri yang belum paham betul sifat pasangannya. Apalagi untuk pasangan muda. Belum tahu persis siapa dan seperti apa sih pasangannya.

Jika sudah tahu seperti apa genetika pasangan kita, maka komunikasi insyaallah menjadi lebih mudah diperbaiki. Sehingga lebih mudah pula untuk saling mengerti. Karena yang diukur bagian genetiknya, bagian terdalam nam terpendam.

STIFIn memudahkan untuk mengetahui sifat dasar yang diberikan Allah sejak lahir. Dan tidak berubah.

Tes ini dapat pula diterapkan untuk tim kerja, sekolah, dan berbagai bidang karena sifatnya yang multi-angle field.

Sedangkan pentingnya tes ini untuk anak-anak, tentu agar kita tahu bakat anak sehingga dapat mengarahkannya ke bidang yang lebih sesuai. Tidak ada lagi anak dan ortu yang galau soal perbedaan pilihan jurusan misalnya, tidak bahagia karena dipaksa menjalankan hal yang tak disukai, dan orangtua tidak memaksa dia menyukai apa yang memang tidak disukainya. 

Ketahui bakat utama sang anak. Dan jadikan itu bekal menuju masa depannya. Insyaallah.

Tes STIFIn sekeluarga membantu pihak anggota keluarga untuk memahami karakter masing-masing, mengetahui pola komunikasi yang tepat dan bahkan pola parenting yang efektif diterapkan bagi setiap anak dimana orang tua tetap optimal menjadi dirinya sendiri. Nyaman di semua pihak.

Ada 3 Golden Rules STIFIn yang perlu diketahui agar teman-teman tidak salah kaprah menyikapi.

  1. Kelemahan yang dimiliki setiap MK tidak boleh jadi pembenaran.
  2. Tujuan memahami konsep STIFIn adalah untuk memudahkan hidup.
  3. Beri label positif pada diri sendiri dan orang lain

    So, sudah lebih terbayang ya manfaatnya? 

    Untuk melakukan tes STIFIn daerah Bandung Cimahi, bisa langsung kontak saya di 0878-2192-4595. Alhamdulillah saya dan suami sudah resmi menjadi Licensed Promotor STIFIn.

    Luar kota, silakan japri juga untuk dicarikan info promotor terdekat.

    Pastikan perkenalan dulu ya saat chat. Biar akrab gitu 😁

    Salam hangat, Esa Puspita
    Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

    Apa Sih STIFIn Itu?

    Belakangan di beberapa postingan teh Esa suka ada nyelip kata STIFIn atau konsep (dan teori) STIFIn. Sebetulnya, apa sih yang dimaksud STIFIn itu?

    Mungkin itu pertanyaan yang muncul di antara teman-teman saat membaca tulisan maupun status akun facebook saya. Yap, saya memang sedang memperdalam sebuah konsep pengembangan diri yang berbasis genetik dan dikenal dengan nama STIFIn.

    Dalam konsep STIFIn, setiap orang akan dikelompokkan ke dalam 5 jenis Mesin Kecerdasan (atau sering disingkat MK). MK sendiri diukur dari belahan otak yang dominan pada diri seseorang.

    Kita semua tentu sepakat bahwa Allah menciptakan manusia itu sempurna. Pun dengan otaknya, lengkap utuh. 

    Nah, dari otak yang utuh tersebut ada bagian yang mendominasi yang kemudian berimbas pada bagaimana seseorang bertindak (terutama di saat urgen atau keputusan strategis, dan reflek), menjadi dasar sifat seseorang, memengaruhi kesukaan dan kecenderungan minat bakatnya kemana, bagaimana ia belajar, membangun hubungan, berkomunikasi, dst. Dari sinilah bisa dibedah banyak hal dan bidang mengenai seseorang. Sehingga tentu berguna baik untuk pengembangan diri maupun keluarga dan tim.

    ‚ÄčSTIFIn mengukur bagian otak mana yang dominan dan pada bagian otak dominan tersebut, lapisan yang dominannya ada di bagian luar (lapisan abu) ataukah bagian dalam (lapisan putih). Lapisan inilah yang kemudian dikenal dengan drive Mesin Kecerdasan. MK disandingkan dengan drive, maka muncullah istilah Personality Genetic(atau disingkat PG). Jika MK satuannya adalah kecerdasan (Intelligence), maka PG satuannya adalah personaliti (Quotient).

    MK+Drive = PG

    MK = mesin kecerdasan 

    PG = personality genetic

    Jika MK ada 5: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting, maka drive hanya 2: extrovert dan introvert.

    Menilik pada gambar pembagian otak di atas, penjelasannya adalah sebagai berikut:

    • Sensing = dominan otak kiri bawah (limbik kiri) 
    • Thinking = dominan otak kiri atas 
    • Intuiting = dominan otak kanan atas 
    • Feeling = dominan otak kanan bawah 
    • Insting = dominan otak tengah 

    Daftar MK inilah yang kemudian disingkat menjadi STIFIn.

    Drive mesin kecerdasan extrovert jika seseorang dominan lapisan otak luar (abu), sementara drive introvert jika seseorang dominan lapisan dalam (putih). Introvert ekstrovert dalam konsep STIFIn bukanlah sebuah sifat yang berdiri sendiri melainkan netral dan berfungsi sebagai kemudi dari mesin kecerdasan.

    Kembali pada rumus PG = MK+drive, maka setelah MK disandingkan dengan drive extrovert ataupun introvert, muncullah total 9 Personality Genetic. Eh, lho kok 9? Bukannya harusnya 5*2=10?

    Yep. Karena pada otak tengah cenderung homogen, tidak ada perbedaan antara lapisan luar dan dalam sehingga Insting menjadi mesin kecerdasan sekaligus personality genetic tanpa drive. Total (4*2)+1 = 9. Betul? 😁

    1. Sensing introvert 
    2. Sensing extrovert 
    3. Thinking introvert 
    4. Thinking extrovert 
    5. Intuiting introvert
    6. Intuiting extrovert 
    7. Feeling introvert 
    8. Feeling extrovert 
    9. Insting

    Sampai disini, apakah sudah mulai terbayang mengenai konsep kece ini? 😍

    Insyaallah postingan berikutnya kita bahas tentang “tes STIFIn untuk apa sih” 😉

    Catatan: Untuk melakukan tes STIFIn daerah Bandung Cimahi, bisa langsung kontak saya di 0878-2192-4595. Alhamdulillah saya dan suami sudah resmi menjadi Licensed Promotor STIFIn.

    Luar kota, silakan japri juga untuk dicarikan info promotor terdekat.

    Pastikan perkenalan dulu ya saat chat. Biar akrab gitu 😁

    Salam hangat, Esa Puspita
    Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.