Birth Plan Pertama Kami

Beberapa waktu lalu, update status mengenai birth plan di akun facebook. Hihi lebay ya, biarin aja deh. Sebab memang excited aja. Meskipun memang ini kehamilan ketiga, tapi ini pengalaman kami berdua memiliki pendamping yang duluuu banget sempat ingin punya nakes seperti itu guna mendampingi proses kehamilan dan persalinan anak kami.

Dan karena ada beberapa yang minta contohnya, saya tuliskan disini saja supaya mudah untuk dicari. Kalo status FB kan kadang ga gampang ditelusuri ulang.

Nah, terkait birth plan ini, saya teringat akan sebuah istilah lama bernama Gentle Birth. Dan sekarang ada Amani Birth juga. Makanya ada sekilas tentang bahasan GB ini yang membuat saya senang sekali ketika tahu ada bidan dekat rumah mamah yang oke oce sejalur tentang ini.

Perkenalan dengan Gentle Birth

Saya mengenal istilah Gentle Birth itu setelah kelahiran anak pertama. Ya, sempat dibuat menyesal mengingat hal-hal yang seharusnya saya sudah aware sedari awal. Tapi ga bikin saya jadi down apa gimana gitu. Hanya kemudian mengumpulkan ilmu agar di kehamilan berikutnya kami lebih siap.

Eits, jangan salah. Gentle Birth atau disingkat GB, bukan semata bahas tentang lahiran normal ya. Salah kalo nangkepnya begitu. Memang sih GB mengusahakan agar sebisa mungkin lahiran normal aman nyaman. Tapi, jika memang indikasi medis tidak memungkinkan untuk itu, maka boleh dilakukan tindakan maupun intervensi. Yang membedakan adalah, prosesnya, edukasinya. Ga ujug-ujug ambil tindakan tanpa diberi tahu dengan baik ini apa itu bagaimana, dst.

Itu kenapa saya menganggap lahiran anak kedua kami sudah cukup gentle karena kami mengusahakan semaksimal yang kami bisa untuk lahiran normal tanpa intervensi. Namun nyatanya saat itu tidak memungkinkan sehingga tetap diambil opsi induksi dengan catatan jika hingga batas waktu tertentu tidak lahir, kami bersiap untuk operasi sc.

Yap. Kuncinya di pemberdayaan sih. Meskipun di kehamilan kali ini kami evaluasi juga agar lebih baik lagi. Alhamdulillah bertemu dengan nakes yang membantu memfasilitasi dan mengedukasi mengenai hal tersebut. Apalagi setelah kami melakukan tes terhadap pemiliknya, beliau seorang Si yang memang runut, detail dan based on experience alias sudah terbukti dipercaya banyak pihak.

Apa sih Birth Plan itu?

Birth plan ini adalah salah satu anjuran dari beliau. Apa sih birth plan itu? Bisa dikatakan birth plan merupakan daftar rencana persalinan yang diinginkan oleh pasangan suami istri guna menjadi rujukan atau catatan baik bagi tenaga kesehatan yang mendampingi prosesnya, pihak rumah sakit/klinik/bidan maupun bagi keluarga agar tidak simpang siur.

Apa fungsinya? Menjadi catatan tertulis untuk pendamping persalinan nantinya. Salinan dari birth plan ini diberikan kepada tenaga pendamping persalinan (bidan/dokter/perawat/rumah sakit/klinik), dipegang sendiri (oleh suami) dan diberikan pada keluarga terutama yang nantinya akan bantu ngurusin (misal orang tua).

Dengan adanya rencana tertulis, seluruh pihak bisa saling memantau dan mengingatkan jika ada yang tidak sesuai. Termasuk jika ada indikasi medis yang membuat birth plan ini mungkin akan diubah, pihak nakes sudah tahu bahwa mereka harus mengkonfirmasikan tindakannya terlebih dahulu.

Tidak akan ada lagi simpang siur tindakan, begini begitunya jelas. Tidak khawatir akan “berantem” karena pada salah tangkap 😀

Bagaimana Contoh Birth Plan?

Saya ga tahu birth plan yang baik itu seperti apa. Dari penjelasan bu bidan, pokoknya itu rencana lahiran di setiap kala persalinan. Apa sih kala persalinan? Teman-teman bisa cek mengenai catatan Kala Persalinan disini [klik].

Setelah mencari tahu di internet mengenai contohnya, saya buat dan setorkan ke bu bidan. Yang ini sudah direview dan insyaallah jadi birth plan fix untuk kelahiran anak ketiga kami.


Birth Plan Bayi Esa-Chalim

Berikut adalah rencana persalinan dan perawatan bayi baru lahir yang kami inginkan. Kami sadar bahwa proses kelahiran yang kami inginkan ini hanya dapat dilaksanakan apabila bayi dalam kondisi berikut:

  • bayi baru lahir cukup bulan atau hampir cukup bulan (>35 minggu),
  • berat lahir lebih dari 2000 gram
  • bayi didiagnosa Normal
    • langsung menangis saat lahir
    • seluruh tubuhnya tampak kemerahan, tidak pucat dan tidak biru
    • gerakannya aktif
    • refleks hisap menyusu kuat
  • tidak ada tanda-tanda patologi, sejak kelahiran sampai dipulangkan ke rumah.

Nama ibu: Esa Puspita (Esa)

Tanggal perkiraan lahir: 22 Juli 2017

Nama dan no telpon suami: Abdul Chalim (Chalim) – 0852-2079-5095

Pendamping persalinan: hanya suami

Proses persalinan: normal spontan, alami, aktif

Tempat persalinan: Bidan Farida Agustiani

Penolong persalinan: bidan Farida dan asisten

Kala I

  1. Tetap aktif mobile/bergerak
  2. Didampingi suami
  3. Makan minum cukup, dan tersedia camilan (kurma, madu)
  4. Membiarkan ketuban pecah secara spontan
  5. Posisi persalinan disepakati bersama
  6. Penggunaan aromaterapi jasmine
  7. Memutar murattal (Yusuf Mansur atau Mishary Rasyid)
  8. Pijat selama proses persalinan
  9. Menggunakan birthing ball atau gerakan yang dapat membantu
  10. Tidak dilakukan induksi kecuali urgen. Induksi alami dengan nanas atau endorphine massage
  11. VT dilakukan sesuai kebutuhan tapi tidak terlalu sering

Kala II

  1. Sebisa mungkin tidak dilakukan episiotomi
  2. Penundaan pemotongan tali pusar hingga denyutnya berhenti (delay cord)
  3. Suami mendampingi pemotongan tali pusar jika sudah saatnya
  4. IMD secara penuh segera setelah bayi lahir
  5. Dibantu untuk posisi paling nyaman untuk mengejan.
  6. Bayi tidak perlu langsung dibersihkan
  7. Suami mengazani bayi
  8. Suami melakukan tahnik pada bayi
  9. Suami tetap mendampingi
  10. Room-in

Kala III

  1. Penimbangan bayi (pemeriksaan dkk) didampingi ayah bayi atau jika memungkinkan, dilakukan di ruangan yang sama tempat saya berada
  2. Menyusui kapanpun bayi inginkan
  3. Menunggu plasenta lahir alami, tidak diberikan suntik oxytocin (kecuali jika berdasarkan pertimbangan medis, perlu urgen dilakukan)
  4. Bayi diberikan vit K dan HB0

Mohon tidak memberikan kosmetik apapun seperti bedak, lotion dsb pada bayi. Kami bersedia menjalani induksi ataupun sc hanya jika jelas indikasi medisnya. Jika bayi perlu mendapat perawatan di unit khusus, saya ingin tetap memberinya ASI eksklusif. Jika bayi memiliki kelainan, mohon diberi penjelasan dan alternatif penanganannya.

Kami sangat berharap petugas-petugas kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) di tempat yang kami rencanakan untuk melahirkan bisa membantu dan bekerjasama dengan kami agar segala proses persalinan dan perawatan bayi di awal kelahirannya ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapan kita semua.

Demikian rencana persalinan kami, semoga berkenan di hati petugas sekalian dan kita dapat bekerjasama dengan baik. Atas perhatian dan bantuan yang diberikan, kami mengucapkan terima kasih.

 

Hormat kami,

Calon Ibu                                                                     Calon Ayah

 

Esa Puspita                                                                Abdul Chalim


Kenapa tetap ada sebutan dokter, perawat dkk. Jaga-jaga aja kalo dirujuk ke RS, semoga tetap bisa menyerahkan birth plan ini dan menjalankan dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan.

Jika butuh file-nya, bisa coba teman-teman unduh dengan mengklik link => Birth Plan Bayi Esa-Chalim.

Semoga bermanfaat yaa.. 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

5 Perbedaan Lelaki dan Perempuan

Sedikit share materi Gender Intelligence ♨

➖➖➖

Manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi ini. Manusia yang terdiri dari lelaki dan perempuan memiliki peranan yang saling melengkapi untuk mentadbir alam. 

📒 Sebagaimana sudah kita bahas beberapa kali, bahwa dalam konsep STIFIn, strata genetik terdiri dari:

  1. Jenis Kelamin 
  2. Mesin Kecerdasan 
  3. Drive Kecerdasan 
  4. Kapasitas Hardware (setara IQ)
  5. Golongan Darah

Maka kesemua bagian genetik itu tentu membawa sifat bawaan tersendiri yang kemudian membentuk dasar cara bertindak seseorang.

Selama ini sebagian besar bahasan seputar 2 poin terakhir (goldar dan IQ). Maka kita perlu juga mempelajari poin lainnya agar pengenalan diri dan sifat orang lain menjadi lebih optimal.


Kali ini sedikit kita singgung mengenai pemahaman tentang lelaki dan perempuan. Hal ini berguna untuk menyikapi diri, pasangan, anak, peserta didik, keluarga dan bahkan tim. 

Dari sekian banyak perbedaan, berikut 5 diantaranya:

👦👦👦

KARAKTER DASAR LELAKI

  1. Minat lelaki terhadap benda.
  2. Butuh fokus satu pekerjaan pada satu waktu. Maka ketika ia tengah mengurus binatang piaraan, jangan paksa ia melakukan hal lain, misal memasang charger yang menurut perempuan seharusnya bisa dilakukan krn lokasinya dekat dan terjangkau.
  3. Pandangannya cenderung melihat yang jauh dan sudutnya kecil.
  4. Matanya kurang sel penerima warna (color blindness). Sehingga kadang ia tak terlalu fokus pada perbedaan gradasi warna merah, marun, pink, magenta dkk.
  5. Telinganya mendengar dengan satu otak (fokus satu bunyi). Maka ia bisa mudah menemukan bunyi sekaligus kesulitan saat dengar omelan 😁

👧👧👧

KARAKTER DASAR PEREMPUAN

  1. Minatnya terhadap manusia.
  2. Mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus. Mengetik sambil menelepon misal.
  3. Matanya menggunakan “wide angle” (bisa melihat yang dekat dengan sudut lihat luas)
  4. Mata seperti HD TV, mampu menerima banyak sel warna.
  5. Telinga menggunakan dua otak, dapat mendengar macam-macam. Siap mendengar cerita teman dan peka saat ada suara lain di sekitarnya. 

Jadi.. Lelaki dan perempuan memang Allah ciptakan berbeda dan saling melengkapi. Maka menyikapinya pun butuh pendekatan yang tidak sama persis.

Selamat menikmati hari Rabu. Tetap semangat mencari ilmu 😘

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Fitrah Anak Lelaki: Menjadi Pahlawan

Sepertinya benar apa yang dikatakan trainer Gender Intelligence yang menyebutkan bahwa anak lelaki secara alami memiliki keinginan untuk menjadi pahlawan. Fitrah bawaan yang memang akan membuat seorang anak lelaki belajar mengenai tanggung jawab, melindungi dan mengayomi. Dalam Islam mungkin itu yang disebut fitrah qawwam

 Hal ini menjadi perhatian saya lagi ketika kemarin Danisy, sulung kami membuat cerita versi dirinya. Semula saya tidak paham, baru mengerti gambarnya setelah ia bercerita.

=== Cerita Hari Ini ===

Ummi lagi ikutan #tesPsikologi

Nah, setelah tesnya selesai, ada yang pengen bikin juga. Emang #MDanisyFI seneng kalo udah berhubungan sama kertas kosong dan pulpen 😅

Hasilnya?
Taraaa.. Jadilah cerita.

=====
Ini adalah cerita Danisy.
Ceritanya adalah:
Azam adik Danisy sedang menangkap ikan. Tiba-tiba ada ular. Lalu Azam ketakutan.

Lalu Danisy pun mendengar suara teriakan Azam. Lalu Danisy mengambil tongkat kayu untuk memukul ular.

Lalu saat Azam melihat ular, Azam mau masuk ke rumah. Tapi tidak bisa karena terlalu takut.

Habis ceritanya. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

*emaknya didikte dong sama dia suruh ngetik ini 😤😂

=====
*mi, upload ke pesbuk biar ibu guru bisa liat
*IG juga bisa
*ya udah IG aja
Anak #Sensing banget yak 😂

Di belakang ada bekson Azam nambahin cerita dan sesekali protes isi ceritanya 😆

#DuoSensing #AnakMain #ImajinasiGambar #BelajarMembuatCerita #AnakBercerita

Dari cerita di atas, nampak sisi hero Danisy. Dalam kesehariannya pun, memang melindungi adiknya. Sang adik, sesekali juga pasang badan untuk kakaknya saat ada yang menjahili. Saling melindungi.

Fitrah anak lelaki melindungi saudara dan orang yang disayanginya. Tugas kita menjaga dan mengarahkan fitrah itu agar senantiasa dalam kebaikan dan koridor syariat.

Maka, apresiasi sisi pahlawannya tersebut dengan pujian atau tantangan naik level perlindungan. Beritahukan value yang menjadi pijakan keluarga sehingga sisi pahlawan tersebut dibalut dengan nilai dan norma yang tepat. 

Selamat mendidik anak lelaki 😊

Mendidiknya menjadi pemimpin, lelaki sejati, suami dan ayah.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menyapih Dengan Cinta (Weaning with Love) 

Kehamilan ketiga ini memang agak jauh dibandingkan sebelumnya. Anak pertama dan kedua selisih 2,5 tahun sehingga masih rada inget apa aja ilmu yang dibutuhkan. Nah, kalo yang ini kami belajar lagi. Hihi. Termasuk catatan soal sapih yang harus diingat-ingat lagi. Apalagi setelah baca postingan beberapa teman terkait sapih.

Banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari proses kehamilan, lahiran, menyusui, MPASI dan sapih. Makanya mau coba ingat-ingat dan catat lagi. Semoga bisa bantu jadi jawaban juga untuk teman-teman yang sedang proses sapih ya.

Apa sih Weaning with Love itu?

Istilah menyapih dengan cinta alias Weaning with Love ini saya peroleh sejak anak pertama. Dipadupadankan dengan Baby Led Weaning  yang juga sedang “booming” saat proses MPASI Danisy. Apa sih itu?

Weaning With Love yang sering disingkat dengan WWL merupakan salah satu metode penyapihan dengan bersandar pada teori bahwa setiap anak akan berhenti menyusu di saat yang tepat dan cara yang nyaman. Ini pengertian yang saya buat sendiri berdasarkan pemahaman dan pengalaman saya. Sedangkan Baby-led Weaning (BLW) merupakan metode pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) dengan berpatokan pada keyakinan bahwa anak saat sudah siap makan sesungguhnya dapat diajari makan sendiri sejak dini.

Kedua metode itu saya terapkan betul-betul pada Danisy. Tapi kali ini kita bahas WWLnya aja dulu ya. BLW mah nanti aja deh insyaallah, meskipun dengan penerapan BLW ini lebih mempermudah untuk WWL menurut saya.

Jika selama ini kita mengenal di masyarakat metode penyapihan dengan diberi sesuatu pada payudara ibu, diberi pengertian dengan “sedikit kebohongan”, mendatangi “orang pintar” atau hal-hal serupa lainnya, maka WWL berfokus pada kesiapan 3 pihak dalam menyelesaikan “tugas” menyusui yang Allah berikan. Siapa saja 3 pihak itu? Coba deh teman-teman perhatikan ayat yang menyebutkan tentang menyusui di surah al-Baqarah ayat 233:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Terjawab sudah ya. Pihak penting lain yang kadang dilupakan dalam proses menyusui dan menyapih itu adalah ayah. Pengalaman saya (dan saya yakin teman-teman juga mengalaminya) peran suami alias ayah sang anak ini penting banget. Setidaknya untuk urusan pemenuhan kebutuhan ibu dan anak. Selain itu, dukungan ayah sangat penting dalam keberhasilan proses menyusui. Pun demikian, perannya tak kalah penting dalam fase penyapihan.

Sebelumnya saya sempat mencatat tentang proses menyapih Azam disini, maka tulisan ini akan saya buat umum mengenai tips trik yang kami alami dalam proses penyapihan dua putra kami. Alhamdulillah keduanya berhenti menyusui dengan metode WWL di usia 27 bulan.

Apa sih keuntungan dari WWL ini?

Secara pribadi, menyapih dengan menggunakan metode ini memiliki keuntungan sebagai berikut:

  • Ga perlu ngalamin yang namanya payudara bengkak.
    Sebab proses berhenti menyusunya perlahan jadi enak ke anak, enak ke tubuh karena tubuh sudah menyesuaikan dengan proses menyusui yang perlahan diturunkan frekuensinya. Anak dan tubuh kita pinter banget loh.
  • Mengajarkan kami (saya dan suami) untuk sabar melewati sebuah proses.
    Dalam perjalanannya, suami yang paling banyak berperan: ngingetin. Faktanya, saya sering ga tega pengen ngasih ASI lagi. Biasa kalo sakit, rewel dkk itu jurusnya ngasih ASI, ini udah ga bisa begitu lagi kan. Maka suami yang selalu reminder, mengingatkan tujuan penyapihan, prosesnya dan ke depannya. Belajar tegas ke anak sebagai bagian dari ekspresi kasih sayang.
  • Mengajarkan anak untuk mengenali perpindahan fase.
    Dalam perjalanan kehidupan, perpindahan fase itu kalo saya bilang mah udah sunnatullah. Sudah menjadi sebuah keniscayaan. Jika saat memasuki fase kelahiran dan fase MPASI anak belum terlalu sepenuhnya paham, maka di perpindahan fase menuju sapih ini anak sudah mulai mengerti, apalagi berhenti menyusu bisa jadi dianggap sebagai sebuah ancaman dimana kenyamanan yang selama ini dirasakan akan dihentikan. Padahal, kasih sayang kita ga akan berhenti dengan sapih. Maka salah satu bagian sounding yang kami ucapkan pada anak sejak usia sekitar 1,5 tahun itu: “nanti kalau sudah 2 tahun, udah ga nenen lagi ya. kalau lapar, makan aja. kalau haus, minum. Ummi sama abi tetep sayang kok sama dede. Dede masih boleh peluk ummi, ummi abi juga masih mau main sama dede.”
    Meyakinkan anak bahwa semua akan baik-baik saja pasca sapih masuk ke dalam kalimat sounding dan dibuktikan dengan tindakan agar anak makin percaya bahwa sapih bukan berarti menjauhkan dia dari ibunya. Pelukan nyaman ibu tetap akan dia dapatkan.
  • Mengajarkan anak untuk mengambil keputusan, berdiskusi, dan mengajarkan orang tua untuk meyakini keputusan diri dan anak.
  • Kerjasama suami, istri dan anak makin solid.
  • Jujur pada diri, jujur pada anak. Menanamkan kejujuran sejak dini.
  • Belajar bersikap pada lingkungan untuk suatu hal yang insyaallah baik, hanya berbeda cara.

Bagaimana tips sukses WWL?

Lagi-lagi catatan ini murni berdasarkan yang saya alami. Tips lain sepertinya sudah banyak ya di luaran sana. Ini yang kami alami selama 2x penyapihan.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kuncinya cuma: kesiapan ayah, ibu dan anak. Bagaimana tahu kita bertiga siap? Saat orang tua (terutama ibu) benar-benar yakin sudah saatnya sapih dan anak sudah sering diperkenalkan dengan usia 2 tahunnya. Anak mulai berkurang juga frekuensi menyusunya. Jika menggunakan ASIP (ASI Perah) bakalan terlihat dari seberapa banyak ASIP yang ia minum.

Umumnya menjelang 2 tahun anak sudah mulai banyak mengalihkan rasa laparnya pada makanan dan rasa hausnya pada air putih. Kami tidak mengharuskan anak berlanjut ke susu UHT ataupun susu formula karena yang dipahami, nutrisi anak dapat dipenuhi dengan berbagai cara. Tidak harus “nyusu”. Ini yang kadang jadi kegalauan para ibu: “abis sapih ganti susu apa ya?” Kalo saya mah mikir gini: di quran setelah sapih ga ada perintah suruh minum susu sapi (atau yang semacamnya) jadi ya sebetulnya sudah bisa distop betul-betul tanpa lanjut ngedot 😀

Kenali Periode anak di usia 2 tahun untuk memudahkan WWL

Anak usia 2 tahun Anak di usia 2 tahun ingin selalu melakukan apapun. Mereka ingin tahu dan lebih aktif, mulai semakin mengenal lingkungannya. Kemampuan verbal meningkat dan kosakata yang dikuasai semakin banyak sehingga sudah akan terlibat dalam banyak percakapan bahkan dengan orang dewasa. Jadi, sudah semakin bisa diajak ngobrol juga nih tentang sapih menyapih setelah sebelumnya hanya “sekadar” sounding.

Di usia ini anak juga sudah mulai mengenal dan belajar tentang perasaan dan kasih sayang. Maka itu yang bisa jadi membuat anak enggan disapih sebab menyusui adalah kegiatan yang nyaman dan menenangkan bagi perasaannya.

Tapi ketika bonding selama menyusui (dan fase sebelum sapih) bagus, insyaallah anak akan paham bahwa ekspresi kasih sayang kita bukanlah sebatas menyusui. Ada banyak hal lain yang akan dia nikmati.

Berikan limpahan kasih sayang yang cukup di usia 2 tahun ini. Pastikan ia menyadari bahwa kasih sayang kita tak terbatas menyusui

Memang proses meyakini hal tersebut pada anak akan butuh proses. Itu kenapa sebaiknya sudah ditanamkan pada anak sejak dini bahwa ketika usianya menginjak 2 tahun maka kita akan memulai proses sapih.

Peran ibu, ayah dan anak dalam proses WWL

Peran ibu dalam proses WWL kami hanya: meyakinkan diri bahwa ini memang sudah saatnya sapih. Simpel ya. Haha. Karena kadang anaknya sebenernya udah siap sapih, tapi emaknya ga tega atau masih mudah luluh.

Peran ayah: membantu dan mengevaluasi proses WWL. Bantuan ini meliputi:

  • Mengajak anak main menjelang tidur supaya fokusnya teralihkan dari pengen nenen ke main. Setelah lelah, ia akan tertidur dengan dielus-elus. Kadang anak minta saya menemani saat akan tidur. Ketika anak minta nenen, saya berikan penjelasan “dede sudah 2 tahun, udah ga nenen. Ummi elus-elus aja ya” sambil elus-elus pantat atau kaki, sambil dipeluk.
  • Mengingatkan saya untuk kuat. Menegur saat mulai kelihatan kendor.

Peran anak: anak merupakan bagian penting karena dia yang “terkesan” jadi korban. Tapi umumnya mereka bisa diajak kerjasama kok. Asalkan kita bisa memperlihatkan kasih sayang yang cukup untuk dia meyakinkan dirinya dan mempercayai orang tuanya bahwa fase ini akan dilewati dengan cara yang baik. Tidak ada tangisan menjerit-jerit. Rewel sesekali masih oke lah karena memang butuh waktu.

Menyikapi lingkungan sekitar terkait WWL

Tak jarang lingkungan menjadi pengaruh yang cukup besar terutama pada diri sang ibu dan anak. Melihat proses yang tidak instan, biasanya muncul ide dan nasihat ala orang tua jaman dulu. Disini kesiapan kita diuji. Bagaimana meyakinkan sekitar bahwa semua baik-baik saja. Dia akan berhenti nyusu saat dia memutuskan sendiri. Beberapa menganggap aneh, mana mungkin anak bisa memutuskan sendiri. Nyatanya, saat mereka melihat anak tidak terlalu rewel, saya tidak mengalami ringisan karena penghentian mendadak, kebiasaan jujur meski pahit sejak kecil, dsb membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar. Mereka melihat sendiri hasilnya dan bahkan jadi support di penyapihan anak kedua.

Para tetua hanya perlu bukti tanpa ekspresi kasar demi mempertahankan idealisme kita. Ada saatnya kita cukup perlu meng-iya-kan masukan dari beliau-beliau ini, dan menolak dengan cara yang halus. Ketika “kecolongan” mendapati mereka menakut-nakuti anak supaya mau berhenti menyusu atau mitos-mitos jaman dulu terkait usia penyapihan, cukup sabar dan doa minta petunjuk dan bantuan Allah. Setelah itu berikan pengertian bahwa yang kita lakukan insyaallah baik untuk semua pihak. Jangan tergesa.

Menikmati fase yang tidak akan terulang, nikmati dengan sempurna

Fase yang kita lewati bersama anak sebagian besar tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Kalaupun terulang, belum tentu sama persis. Maka nikmatilah semua proses ini dengan baik dan akhiri prosesnya dengan cara yang baik pula.

Jangan nodai proses yang baik dengan akhir yang buruk. Jadi su-ul khatimah atuh. Berikanlah kenangan baik di akhir proses menyusui. Jangan sampai anak mengingat kenangan buruk ditakut-takuti saat akan mengakhiri sesuatu yang indah itu.

Selamat berproses. Selamat menyapih. Selamat belajar menjadi orang tua, terus meneur 🙂

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mengajarkan Kemandirian Pada Anak Usia 4 Tahun

Semua anak dapat diajak komunikasi dan kompromi. Apalagi pada anak-anak yang memiliki eksitasi tinggi. Maknanya, seseorang yang memiliki mesin kecerdasan Sensing dan Feeling akan lebih mudah menerima input (dan pengaruh) dibanding mesin lainnya. Pun demikian dengan Insting yang tak punya eksitasi.

Terkait hal ini pula lah saya menyimpulkan kenapa anak-anak kami mudah diberi pengertian (biidznillah tentunya). Apalagi keduanya memiliki drive mesin kecerdasan extrovert sehingga stimulus dari luar mudah sekali diterima.

Mengajarkan Kemandirian Pada Anak Usia 4 Tahun

Pada dasarnya setiap anak (setiap orang) akan melewati fase belajar mandiri. Ketika fase ini terpenuhi dengan baik (ga harus sempurna) maka akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak berikutnya. Menjadi bekal sekaligus pondasi karakter seseorang.

Sayangnya, terkadang para orang dewasa tidak semua mengenali fase ini (untuk fase 9 tahun pertama, bisa cek tulisan ini). Diantara mereka ada yang mampu melewatinya dengan bijak meski hanya berbekal naluri sebagai orang tua, ada pula yang melewatkannya begitu saja sehingga anak tumbuh menjadi sosok manja nan egois.

Tak sedikit pula orang tua muda terjebak pada teori parenting yang ditelan mentah-mentah sehingga bukannya efektif malah menjadikan kita membiarkan anak apa adanya. Padahal, sejatinya sebagai orang tua kita perlu mendesain jalan hidup anak dengan tetap berpegang pada tali tawakal sejak awal prosesnya.

Fitrah setiap manusia itu kelak akan mengikuti lingkungannya. Fujur dan taqwa sudah Allah tuliskan dalam alquran, bahwa ia senantiasa ada pada diri seseorang. Sifat yang semula netral, bisa jadi positif maupun negatif tergantung penyikapan lingkungan.

Maka dengan mengenali fase tumbuh kembang anak, kita lebih mudah merancang blueprint masa depannya. Apa yang mesti diprioritaskan dari proses yang dijalankan. Dan tentu hal ini menjadikan orang tua yang memiliki anak lebih dari satu, perlu menyesuaikan dengan baik.

Usia 4 tahun kami menyepakati anak harus sudah mulai paham tentang auratnya, siapa saja yang boleh melihat dan memegang, termasuk mengenalkan lebih jauh tentang hubungan orang tua dan anak juga peran suami-istri.

Usia ini pula -yang berdasarkan pengalaman kami dengan 2 anak- adalah usia yang tepat untuk mengajarinya salah satu bagian kemandirian: cebok eek (pup) dan cuci piring sendiri. Sebab di usia 4, secara kemampuan motorik sudah lebih terasah. Lebih mudah mengajarinya tentang dua hal tadi karena anak mulai bisa membedakan dengan baik tentang bersih dan kotor.

Bagaimana dengan cebok pipis? Kapan diajarinya? 

Kami mengajari anak-anak cebok sendiri untuk pipisnya sejak mereka bisa ngangkat gayung atau ngocorin keran sendiri. Biasanya di usia 2-3 tahun, bebarengan dengan belajar buka celana dan ke jamban sendiri kalo mau pipis.

Kenapa Anak Baru Diajari Kemandirian (Keterampilan Cebok dan Cuci Piring) di Usia 4 tahun?

Kenapa 4 tahun? Supaya masih ada toleransi waktu selama 3 tahun (hingga usia 7th). Kenapa ada toleransi segala? Yep, saat anak belajar, kan ga langsung semuanya bisa dia lakukan dengan baik. Dan tentu saja, mengajarinya pun butuh tahapan tertentu untuk sampai di titik benar-benar bisa sendiri.

Trus, kenapa ada angka 7 tahun sebagai patokan usia berikutnya? Karena 7th nanti belajar shalat, dengan target berikutnya: di usia 10 tahun sudah mengerti dan mandiri untuk shalat. Ga pake disuruh-suruh yang sedemikian rupa. Sedangkan syarat sah shalat kan terbebas dari najis dan kotoran. Masa di fase persiapannya (7 tahun) masih belum bisa membersihkan najis sendiri 😁

Tahapan yang kami lakukan di rumah yakni:

  1. Cebok eek sendiri: usia 4 baru diminta cebok tapi untuk ngucurin airnya tetep sama ayah, ibu atau mahram terdekat (misal, kakek, nenek, paman, bibi). Itu berlaku pada anak sulung. Pada anak kedua, ada bantuan mahram lainnya untuk ngucurin air: kakak.
    Mereka belajar banjur bekas eeknya juga. Agak boros di awal, tapi telateni aja terus. Lama-lama ga boros air lagi kok.
    Fyi, kami pake kloset jongkok biasa, tanpa flush.
  2. Cuci piring sendiri: tangannya masih dipegangi, gosok piringnya masih dibantu dan diajari, sabun cuci piringnya masih bantu disiapkan dan bilasnya masih dibantu menyalakan keran dan bersihkan.

Meski dalam prakteknya, ga mesti butuh waktu 3 tahun juga sih. Beberapa anak sangat mungkin sudah bisa melaksanakan hal tersebut dengan baik sebelum “batas” 3 tahun itu.

Tinggal sabar menjalankan prosesnya. Apalagi saat muncul sifat manja. Ga apa deh, kan masih belajar. Sesekali dicebokin atau dicuciin piringnya masih oke. Kan ada batas toleransi. Orang tua jadi ga akan terlalu “spaneng” ketika prosesnya butuh waktu yang agak lebih lama.

Oh ya satu lagi, jangan bandingkan dengan anak lain (termasuk kakaknya) ya. Karena kemampuan dan kesanggupan tiap anak kan ga sama. Bersabar melewati proses yang berbeda antara satu anak dan anak lainnya.

Selamat mendampingi putra-putrinya  ya ayah bunda 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.