Sudut Pandang

~ Sudut Pandang ~

Untuk menghasilkan foto yang bagus, salah satunya diperlukan keahlian menentukan sudut foto yang tepat. 

Dengan sudut yang pas, makanan yang biasa disantap pun nampak sedap dipandang dan rasa ingin menikmatinya. 
Begitu pula dalam kehidupan.

Untuk memperoleh kehidupan yang bagus, perlu keahlian menetapkan sudut pandang yang tepat. 

Sesuatu yang nampak biasa menjadi dapat dinikmati luar biasa karena sudut pandang kita terhadap hal tersebut. 
Janganlah bertanya tentang kebahagiaan karena pasti sudut pandang kita baik dengan sendirinya. 

Kemampuan mengolah pikiran dan rasa akan sangat berguna kala hal buruk dan mengecewakan hadir. 
Maka dengan sudut pandang yang tepat, masalah dan kesedihan dapat menjadi berkat. 

Kesulitan dan kekecewaan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. 
Di tengah rasa sedih dan pilu, masih terbentuk senyum bahagia. 
Sebab segala takdir Allah selalu baik. Sabar maupun syukur. 

Dan selalu ada kado indah di baliknya. Tanpa bisa kita tebak isinya 😇
Teruslah berlatih menemukan angle yang tepat untuk foto yang bagus. 

Dan berlatihlah menemukan sudut pandang yang cermat untuk kehidupan yang senantiasa baik 😍😘
Salam hangat, 

EsaPuspita.com
Change your perspective, change your life. Begitu kali ya slogannya 😎😁

#CatatanEsa #Perspektif #perspective #SudutPandang #LifeMap #lifequotes #ChangeYourPerspective #PerspectiveOfLife

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Laki-laki Pendiam dan Perempuan Cerewet?

Laki-laki mah gitu.. 😆

Konon, secerewet-cerewetnya laki-laki itu, total kata yang keluar ga akan melebihi sependiam-pendiamnya perempuan. 

Secara data dari hasil penelitian, laki-laki mengatakan 2.000-4.000 kata, 1.000-2.000 bunyi vokal dan hanya melakukan 2.000-3.000 gerakan bahasa tubuh. Sehingga total sekitar 7.000 “kata-kata” komunikasi. Jumlah yang hanya 1/3-nya perempuan.

Perempuan mengucapkan kata-kata komunikasi sebanyak 20.000 kata per hari dengan rincian: 6.000-8.000 kata, ditambah 2.000-3.000 suara lain untuk berkomunikasi, 8.000-10.000 bahasa tubuh berupa isyarat, perubahan mimik, gerakan kepala dan lainnya. Penelitian ini dilakukan pada perempuan Italia. Sedangkan pada perempuan barat, kata yang diucapkan hanya 80%nya. Ga tau nih kalo di Indo 😁

Meme yang rame kemudian adalah: saat perempuan berbicara, lelaki merasa diomeli. Yah, macam respons anak laki saat emaknya berbicara. Heuheu. 
Jadi, wajar kalo jawaban suami kita hanya beberapa kata dari kalimat yang kita ucapkan (ketikkan). Memang lokasi yang mengendalikan bicara di otak lelaki lebih sedikit. Hanya di otak kiri tanpa tempat yang pasti dengan tidak banyak pusat bicara. 

Pada perempuan, lokasi yang mengendalikan bicara terdapat di otak kiri depan plus area kecil di otak kanan. Dan pusatnya banyak 😅

Itu juga kali ya yang bikin para ayah disegani meski sedikit kata yang keluar untuk menegur sementara emak-emak, saking udah biasa ngomel, anak-anak jadi “kebal”? 😤😂
Jadi ingat pernyataan teman tentang akang @aim_chalim 

“teh Esa, mas Chalim kalo di rumah suka ngobrol ga sih?”

Ish jangan salah. Banyak ilmu tentang #STIFIn yang saya tau dari beliau. Emang melengkapi banget lah. Suami #Thinking kan kepo, sementara saya yang #Feeling cenderung senang mendengarkan. Klop kan? 

Beliau bisa ngobrol banyak kalo udah diskusi hal-hal yang menarik dari hasil analisanya, bahasan #STIFInPersonality salah satunya. 

Ga tau beliau ketularan saya yang sering ngomong? #ups 😴

Hayu pahami perbedaan diantara sesama kita. Supaya lebih mudah bertoleransi dan memperbaiki diri 😘

Salam hangat,

Esa Puspita 

#KenalDiri #GenderIntelligence #CerdasPahamiPerbedaan #toleransi #SalingMengenal #STIFInBandung #

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mendampingi Menemukan Solusi Dengan Belajar Hadir

Orang #FeelingExtrovert cenderung lebih suka menjadi seorang pendengar. Itu kenapa terkadang untuk berbicara, ia butuh “distimulus”. Berbeda dengan orang #FeelingIntrovert yang cenderung selalu punya sesuatu untuk dibicarakan.

.

Beberapa hari ini Allah menggiring saya pada pembahasan yang selaras di berbagai tempat belajar.

Pertama, tiba-tiba terpikir belajar tentang #coaching karena kejadian yang membuat saya teringat perkataaan seorang teman, “saat ada yang curhat, coba deh pake gaya coach. Tanya balik supaya dia berpikir dan akhirnya kita membersamai mereka menemukan mutiara dalam dirinya”

Dan alhamdulillah bermanfaat saat mendapat curhatan dari seorang ibu terkait putrinya. Alih-alih langsung memberikan saran (seperti yang biasa saya lakukan), bertanya balik justru membuat saya paham lebih paripurna.

Bertanya membantu menggali informasi dengan lebih lengkap sehingga kepingan yang tercerai dapat terkumpul.

Pun saat cek instagram, muncul postingan akun @psikologpeduli di timeline sehingga saya mampir ke akunnya dan melihat postingan tentang Listen dan Hope, rasanya kok klik ya dengan yang sedang saya alami. Salah satu pengelola Psikolog Peduli ini adalah teman SMA yang saat ini berprofesi psikolog. Eh iya, besok Psikolog Peduli ada di CFD Dago Bandung:

Lalu, pembahasan malam tadi di grup #Biblioterapi bertema #BiblioterapiKlasikal dan “secara tidak sengaja” mengarah pada hal yang sama. Juga dari cerita seorang teman saat membantu konseling santri di sebuah pesantren.

Ibarat teori attention creates intention ketika pikiran kita sedang akan fokus pada satu hal, Allah arahkan ke berbagai hal yang mendukung untuk kita belajar. Dan kadang Allah mempertemukan dengan kondisi yang memaksa kita belajar. Praktek langsung. Kalau kata teori umum mah, mestakung: semesta mendukung. 

Semua itu bertemu di beberapa titik. Salah satunya selaras di bagian yang sama. 

Apa itu teh Esa? Healing dapat memperlihatkan hasil baik dengan kehadiran keluarga atau orang yang mengharapkan kesembuhan. Salah satunya dengan cara mendengarkan. Apalagi pada kasus penyakit psikis seperti depresi.

Saat belajar tentang coaching, bahasan yang pertama kali ditekankan adalah MENDENGARKAN. Dan bukan sembarang mendengar tapi betul-betul hadir. Menangkap setiap detil penting yang diceritakan.

Mendengar apa adanya, bukan ada apanya. Mendengar karena peduli, bukan fokus pada harus mencari solusi. Kalau istilah PPA mah, meluruskan niat.

Menggali dari diri untuk bersama melihat solusi yang bisa saja sudah ada, hanya tak terlihat. Mirip teori tongkat nabi Musa (yang pernah ikut PPA ngerti nih sepertinya ya).

Belajar mendengar ga perlu jauh-jauh, lihat di sekeliling isi rumah. Ada manusia lain kah selain diri kita? Nah, praktekkan saja pada mereka. Atau ingat-ingat, saat kita berbicara, bisakah membedakan mana yang mendengarkan dengan saksama dan mana yang hanya sekilas.

Mana yang lebih enak, didengarkan dan disambi mengerjakan yang lain atau didengar dengan orangnya melakukan tatap muka, bertemu pandang dan berhadapan dengan kita? Mana yang terasa “lebih diperhatikan”?

Seperti itulah seharusnya kita mendengarkan seseorang. Termasuk sosok kecil yang ada di rumah: anak-anak. Mereka jauh lebih butuh didengarkan dengan baik. Untuk apa? Agar mereka merasa dihargai, dipedulikan dan tentu saja mereka akan belajar menirukan perlakuan yang sama. Anak akan belajar dari perilaku sekitarnya dibanding teori yang dijejalkan.

Saat kita mendengarkan curahan hati seseorang atau saat kita mencurahkan isi hati pada seseorang, sebenarnya itu bagian dari healing alias penyembuhan diri (entah fisik maupun psikis). Sebab didengarkan adalah salah satu bagian sederhana dari “merasa diperhatikan” (meski kadang sulit terlaksana).

Pun ketika anak melakukan kesalahan, maka yang perlu dilakukan pertama kali: dengarkan penjelasannya. Kemampuan orang tua bertanya, membantu anak bercerita isi hati dan pikirannya. Dari sana didapat kisah lengkap sehingga keputusan akan lebih bijak.

 Kunci Mendengarkan:

  • Hadir seutuhnya hati dan pikiran 
  • Fokus pada mendengar cerita ybs, bukan bercerita sendiri di dalam kepala (sehingga tidak fokus) dan langsung mencari kesimpulan padahal ceritanya belum lengkap.
  • Tangkap detil penting 
  • Sabar mendengar hingga akhir 
  • Tanyakan kembali pada ybs kesimpulan dan hal-hal yang kita tangkap. Konfirmasikan “apakah benar begini dan begitu? Seperti ini dan seperti itu?”
  • Tidak judging karena kita bukan hakim
  • Tidak menebak karena bukan paranormal 😁

Dan seperti teori Aa Gym, mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini. Jangan menuntut orang lain melakukan hal tersebut untuk kita, jangan menunggu orang lain mendengarkan cerita kita dan hadir sepenuhnya, tapi jadilah pelaku. Mulai dari diri untuk mengubah kebiasaan mendengar seadanya menjadi “mendengarkan dan hadir seutuhnya” guna menghargai orang lain. 

Mulai dari kejadian-kejadian kecil sekitar kita. Dan mulailah menjadi pendengar utuh saat ini juga.

Hayu kita belajar bareng. Dan bagaimana perubahan hidup kita bergulir dengan insyaallah lebih baik 😘

Salam hangat dari Cimahi. Di weekend pagi 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Strawberry Doa – Refleksi Pembelajaran Doa dari Anak

Strawberry Doa – Ahad 3 September 2017

🍰

Siang tadi saat ditanya mau beli buah apa, #MDanisyFI minta beli strawberry.

Hmm. Ummi jujur aja to the point, “di tukang buah keliling biasanya ga ada strawberry. Jus strawberry aja mau?”

“Aa maunya strawberry, bukan jus strawberry. Es jeruk aja Mi”

Permintaan kemudian beralih jadi es jeruk. Alhamdulillah.

Selang berapa lama, om Udi dan istrinya pulang. Dari kamar terdengar “Aa, Mas mau strawberry? Ini ateu bawa”

Masyaallah. Baru ingat kalau om Udi dan ateu Feli abis dari Ciwidey.

Ummi yang sedang ada di kamar menemani #HasnaAA beranjak keluar.

“Aa tadi berdoa minta strawberry?” tanya ummi pada Danisy yang masih terbaring.

Dengan mata tertutup tangan (mungkin masih pusing krn demam kemarin dan batuk pileknya), ia mengangguk.

“Masyaallah. Hebat ya cara Allah mengabulkan doa. Bisa lewat siapa aja dan kapan aja Allah mau”

—–

Hari ini kami belajar lagi tentang doa.

Tentang meminta dan tak putus asa pada Sang Maha Mendengar.

Saat ingin sesuatu, berdoalah. Allah pasti mengabulkannya. Dengan cara yang tak harus selalu dapat kita duga.

Meski kadang butuh jeda waktu untuk terkabulnya doa itu. 

Sebab ikhtiar adalah ibadah. Dan pengabulan doa adalah murni hak Allah.

Tapi Ia tak pernah ingkar. Barangsiapa berdoa, pasti dikabul.

Tinggal seberapa yakin kita akan hal tsb. Dan seberapa peka kita mengenali Allah al-Lathif, Yang MahaLembut. Hingga saat doa itu terkabul, kita sadar “ini doaku dulu. Ia mengabulkannya”

Selamat menikmati doa. Selamat belajar mengenal Allah Sang MahaLembut 😍😘

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Surat untuk Ismail

Khutbah Idul Adha kali ini mengingatkan kembali tentang makna iman sebuah keluarga, terutama dialog iman nan indah antara ayah dan anak.

Menyematkan nama Ismail di rangkaian namamu, menjadi pengingat bagi kami bahwa ada PR besar untuk mewujudkan harapan agar nama itu menjadi doa yang dikabulkan Allah. Agar engkau tumbuh menjadi lelaki yang memiliki keimanan nan kokoh. Dan harapan memiliki sifat seperti nabi Ismail.

Kami (terutama ummi) lupa bahwa di balik seorang Ismail, ada ayahnya Ibrahim dan ibundanya Hajar. Dua sosok luar biasa yang keimanannya sudah teruji sedemikian rupa.

Nabi Ibrahim sejak belianya sedemikian kritis. Berani dan cerdas melawan para penyembah berhala. 

Sedang ibunda Hajar, tegar saat ditinggalkan sang suami di gurun tanpa penghuni. Hanya berbekal dialog “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” dan saat dijawab “iya” oleh sang suami tanpa menoleh karena khawatir akan sangat bersedih, Hajar membalas, “jika demikian, tentulah Allah tak kan menyiakan kami”. Tegar dan kuat! 

Keluarga Ibrahim memperlihatkan kejadian manusiawi saat Allah memerintah penyembelihan Ismail, anak yang lama dinanti untuk bersama kembali. Saat sudah bisa bersama, Allah mengilhamkan perintah tak terduga. 
Ibrahim memanggil putranya, dengan rasa khawatir. Dan sedih. Tapi ini perintah. Ia ingin tahu pendapat sang anak yang dibalas dengan respon tak terduga: “insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” sebuah pertanda bahwa dalam hati, Ismail pun sebenarnya takut disembelih. Tapi keimanan ia letakkan di atas segalanya.

Kala Hajar digoda syetan dan iblis untuk menggagalkan proses penyembelihan Ismail. Sekuat hati beliau melempari iblis dan syetan itu dengan batu agar menjauh, hingga Allah abadikan menjadi prosesi lempar jumroh sebagai hikmah di balik peristiwa tersebut.

Makna pengorbanan sebuah keluarga bermula dari kokohnya pemahaman mereka tentang iman. Allah menjadi gantungan dan sandaran. Sami’na wa atha’na. 

Hal ini bermula dari pendidikan yang keren membentuk iman. Sehingga hasilnya iman sebelum amal. Hati sebelum akal. 

Ismail anakku, tak apa engkau takut menghadapi sesuatu, akan ada Allah yang mengirimkan para penjagaNya untukmu. 

Ismail anakku, tak apa ada rasa ragu mentaati Allah dalam hal yang berat, kuatkan untuk menjalankannya. 

Ismail anakku, ada hal yang seringkali dirasa berat, yakinlah Allah tidak akan menyiakan.

Maka pe er ummi dan abi membentuk imanmu. Dan itu berarti harus dibarengi perbaikan keimanan kami orang tuamu. 

Doakan kami, nak.. 

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.