Ketika Kakek Nenek Berkunjung

Mendidik anak sesungguhnya adalah seni mendidik diri sendiri. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa jadi role model bagi anak. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga aliran cinta antara suami dan istri lancar, memancar indah dan dirasakan oleh anak-anak beserta mereka yang terlibat di keseluruhan cerita rumah tangga yang tengah dibangun. Agar tangga ini sampai ke surgaNya.

Nah, dalam proses perjalanan mendidik anak ini tentu ada banyak faktor sampingan sebagai pelengkap. Termasuk diantaranya kehadiran keluarga besar. Dan saat saya perhatikan, seringkali yang jadi sorotan adalah kehadiran kakek nenek yang biasanya disebut “penyelamat” (beberapa orang ngomong begitu sambil gemes. Heuheu)

Kehadiran pihak ketiga dalam proses Pendidikan anak memang menjadi ujian tersendiri terutama bagi para orang tua muda (Bahasa apa ini orang tua muda? Wkwkwk). Bagi pasangan yang memiliki impian ideal tentang bagaimana anak-anak mereka dididik, terkadang terbentur saat berhadapan dengan para orang tua.

Ketika Kita dan Orang Tua Berbeda Pendapat Tentang Anak

Tidak semua orang tua mau terbuka dengan perbedaan pendapat dan perbedaan cara. Dan meski terbuka dengan perubahan sekalipun, kasih sayang kakek nenek pada cucu konon (menurut pengakuan mamah saya) melebihi rasa sayang ke anak. Ah, pantesan ortu suka bikin aye iri ama anak-anak. Secara ya, hampir semua keinginan dipenuhi selama mereka bisa memenuhinya.

Mamah sebetulnya mendukung gaya didik saya. Keterbukaan mamah terhadap perbedaan pendapat dan perubahan gaya asuh baru seperti anugerah bagi saya karena anak-anak akan beberapa kali dititip ke mamah. Baru ngeh kenapa kok ngasih tahu mamah tentang rencana gaya didik kami mudah banget. Ternyata karena beliau ini berdasarkan tes STIFIn adalah orang Intuiting extrovert yang memang cenderung menyukai perubahan alias ga masalah kalaupun gaya didik anak-mantunya ga ngikuti gaya jaman dulu. Ya, setidaknya si sulung dulu sering dititip saat saya kuliah dan berasa banget senengnya. Hihi.

Alhamdulillah kami masih memiliki orang tua lengkap. Artinya, anak-anak kami punya 2 kakek dan 2 nenek. Yap, nikmat yang sudah sepatutnya disyukuri.

Ujian hadir ketika kakek-nenek berkunjung dan menginap di rumah atau saat kami berkunjung dan menginap di rumah kakek nenek. Yang paling kentara sebenarnya saat para orang tua berkunjung ke rumah kami sebab tentu anak-anak paham aturan rumah. Dan momen kakek nenek di rumah menjadi bagian dari momen yang bikin awkward.

Ya maklumlah para orang tua ini ingin mengekspresikan rasa kasih sayangnya pada cucu. Mumpung ada disini, katanya.

Awal-awal saya (dan suami) sering spaneng dengan perbedaan dan “kebandelan” para orang tua terkait sikap terhadap anak. Tapi kesini-sini, kami berpikir “kenapa sih kita harus sedemikian keras pada orang tua? Toh kan ‘pelanggaran’ mereka atas aturan rumah juga ga kemudian bikin kita masuk neraka” ekstrim ya? Biarin deh. Hehe.

Maksudnya gini lho.

Ada saat dimana kita perlu tegas pada anak-anak. Perbedaan antara kami dengan orang tua akan selalu dikomunikasikan pada anak-anak segera setelah kakek-nenek pulang, atau saat pillow talk.

Segala gaya didik selalu kami upayakan agar orang tua paham, apa, bagaimana dan juklaknya. Dalam pelaksanaan, terkadang rasa rikuh maupun sayang menjadi penyebab sikap mereka seolah bertentangan dengan keinginan kita.

Semula kami sering menegur anak-anak dengan keras di depan orang tua kami. Sesekali kami meminta orang tua untuk tahan berkomentar. Ah, bukankah itu akan menyakiti mereka?

Akhirnya kami sepakat, toh ini hanya sementara. Meski ada rasa kesal mah wajar ya, namanya juga manusia 😀

Perlu digarisbawahi untuk hal-hal yang memang sangat perlu kita jaga, diantaranya syariat. Misal aturan tentang shalat jamaah di awal waktu, di masjid. Tentu tidak ada toleransi untuk hal tersebut selama tidak ada udzur syar’i.

Dan untuk aturan-aturan yang sekiranya tidak terlalu saklek terkait syariat, adab, etika dsb, maka berilah kelonggaran. Biarkan para kakek nenek mengekspresikan kasih sayangnya dengan caranya.

Mengizinkan mereka mengekspresikan kasih sayang bukan berarti kita membiarkan begitu saja. Tetap perlu ada komunikasi terkait hal-hal yang sebaiknya disepakati di rumah.

Dan yang perlu kita terus ingat: bersyukurlah masih memiliki kakek nenek alias orang tua kita masih ada. Banyak di luar sana yang sudah tak memiliki orang tua sehingga justru rindu melanda. Semoga toleransi yang kita berikan, dicatat sebagai kebaikan dan pahala berbakti serta membahagiakan orang tua. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Anak Ketagihan Gadget Atau Ortu yang Keranjingan Gadget?

Setelah seringkali memperhatikan anak-anak baik Danisy-Azam maupun yang lain, fitrah anak itu sebenarnya SENANG alias SUKA sama ILMU. Termasuk di dalamnya, suka sama buku -salah satu sumber ilmu. Eatlah, makanlah dengan lahap semua ilmu.

Selama ibu dan ayahnya bersedia MELUANGKAN  WAKTU  untuk MEMBACAKAN buku atau berkomunikasi hal-hal terkait ilmu maupun pengetahuan, anak biasanya akan tertarik.

Hanya saja kadang kita terlalu sibuk pada urusan lain. Saya pribadi menyadari, kadang sering terlalu sibuk dengan pekerjaan atau hp. Dan ga jarang ternyata kegiatan itu ga ada gunanya karena “cuma” haha hihi di grup ngomongin eatlah, ngomongin chatime lah, misalnya. Waktu habis untuk scroll timeline fb contohnya, dan masih banyak contoh lain. Mungkin teman-teman mau menambahkan? 😀

Sudah sebulan ini asyik dan senang melihat Azam ketagihan dibacakan buku -meskipun emaknya ini sempet keder karena minta dibacain dari pagi ampe malem. Apalagi ada bayi #halesan

Jadi, benar adanya apa yang dikatakan di berbagai artikel parenting bahwa anak yang ketagihan gadget bisa jadi memang anak yang kurang perhatian. Ibu bapaknya ada, tapi tidak sepenuhnya hadir. Jasadnya ada, tapi hati tidak saling terpaut. Fisiknya terlihat tapi hatinya tidak turut serta.

Sedangkan jiwa akan saling bertemu dengan yang frekuensinya sama. Jiwa anak yang masih bersih dan sensitif terhadap resonansi sekitar tentu akan sangat sadar kapan orang tuanya betul-betul HADIR dengan saat dimana orang tuanya HANYA ada disana. Tidak sepenuhnya memperhatikan dirinya.

Pada ANAK, jiwa mereka masih sangat DEKAT dengan FITRAH sehingga kita sebagai ORANG TUA yang perlu terus MEMPERBAIKI DIRI agar semakin mendekati fitrah kebaikan.

Maka diperlukan komitmen yang luar biasa besar untuk bisa membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, hobi (diri sendiri juga berhak dong dapet pemanjaan sesaat), keluarga, pasangan, dan hal lainnya yang mampir dalam kehidupan kita. Sebab melepaskan anak dari gadget itu harus diawali dengan niat dan diperkuat contoh dari kita.

Coba ingat-ingat, berapa kali kita melarang anak main hp terus tapi ternyata justru kita sedang asyik browsing resep, chit chat, main game, atau sekadar update status facebook? Sehingga anak yang cenderung lebih mudah diarahkan itu akhirnya protes “kok ummi pegang hp aja?” nah lho..

Pengalaman saya melepaskan Azam anak kedua kami dari ketergantungan sama gadget, yang kudu pertama kali melepas ketergantungan gadget adalah emak bapaknya. Meskipun anak-anak paham ada saat dimana saya pegang hp untuk kerja. Maklum ya emak-emak eksis, yang konsultasi hasil tes STIFIn-nya pan seringkali via whatsapp. Tapi mereka bisa lihat kok. Kalau yang dibuka WA memang artinya ummi sedang ada konsul, sedang ngisi kelas atau sedang ada kerjaan lain. Ya sesekali lirik grup haha hihi yang bahasannya selalu berakhir dengan eatlah 😛

So, sebelum menghakimi anakku seneng gadget (dan meminta bantuan ahli), coba dulu aja tips sederhananya: perbanyak bercengkrama, kurangi pegang hp saat acara keluarga, jadilah contoh pengguna gadget yang bijak. Karena pada akhirnya tanpa disadari sesungguhnya anak meniru kita orang tuanya.

Saya sadar mulai ketagihan gadget itu ya saat tiba-tiba.. sedikit-sedikit pegang hp, dikit-dikit lirik hp, buka tutup kunci hp, buka-buka wa, facebook dll tanpa ada tujuan sama sekali. See? Jadi yang ketagihan gadget itu anaknya apa emak bapaknya?

Catat: yang saya bahas ketagihan ya. Kalo masih bisa ditolerir ngikuti aturan mah berarti bukan ketagihan kan? Sebab bagaimana pun kelak mereka akan terbiasa. Kita yang perlu memberitahu mereka mana yang perlu, kapan diperbolehkan menggunakan gadget, dsb.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjalin Komunikasi

We cannot not communicate – Paul Watzlawik

Quote ini banyak beredar dan disebutkan di berbagai kesempatan terkait komunikasi. Menarik memang sebab quote sederhana ini nyatanya tidaklah sederhana. “Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi”. Meluruskan kembali bahwa berkomunikasi bukanlah sekadar berbicara, ngobrol atau berbincang saja. Ada banyak faktor dalam sebuah kata bernama komunikasi.

Komunikasi adalah sebuah skill yang perlu terus diasah guna membangun hubungan yang sehat dengan siapapun. Berbicara hanyalah salah satu seni berkomunikasi. Lebih dari 50% masalah dalam rumah tangga maupun kehidupan secara umum diakibatkan komunikasi yang buruk. Memang terkesan klise tapi faktanya belum banyak yang menyengajakan belajar cara komunikasi yang berkualitas.

Seperti saat jalan-jalan di luar, suami memutuskan mampir di warung nasi gudeg sementara anak-anak tidak terlalu suka (nampak dari gerak mimik muka maupun tubuh mereka). Itu adalah bagian dari komunikasi juga. Maka kami mengkomunikasikan dengan memberi beberapa pilihan, akhirnya anak-anak membeli ayam goreng.

Menjalin Komunikasi Dengan Anak Sejak Dini

Sejak kecil semua manusia (bahkan hewan) sudah mampu berkomunikasi meski dengan cara yang paling sederhana: menangis, tersenyum, rewel, ceria. Semua bagian dari komunikasi.

Sejak saat itu pula kita sudah menjalin komunikasi dengan bayi, bahkan sejak ia berada dalam kandungan. Di usia janin yang sudah cukup besar, ia membalas komunikasi kita dengan tendangan di perut ibu, atau respon lainnya.

Di hampir setiap kesempatan, selalu ada komunikasi yang terjalin meski dalam kondisi diam sekalipun. Begitu pula dengan anak-anak. Mereka mampu menjalin komunikasi dengan para orang dewasa dengan caranya sendiri.

Namun pada beberapa situasi setelah anak memasuki fase balita, ada momen bernama tantrum. Momen dimana anak menginginkan sesuatu atau merasakan ketidaknyamanan, namun belum mampu mengutarakan dengan baik sementara orang dewasa tidak mengerti keinginannya.

Anak hadir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, maka menjalin komunikasi ini penting dilakukan sejak dini agar ia terbiasa untuk belajar berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Mengajak ia belajar mengutarakan perasaan maupun hal lainnya.

Anak yang lingkungannya memiliki gaya komunikasi yang baik cenderung akan tumbuh memiliki emotional intelligence yang baik.

Masih ingat cerita mampir di warung nasi gudeg? Anak-anak yang sedang lapar mencari-cari tempat yang mereka inginkan tapi tak juga menemukannya dan ketika terlihat, tempatnya sudah kadung terlewat. Sementara kami pun sudah sangat lapar pula setelah melewati perjalanan cukup melelahkan. Suami yang nyetir akhirnya memutuskan untuk mencari warung makan terdekat.

Setelah melaju kembali beberapa saat, tempat makan yang klop di selera suami ya paling warung nasi gudeg itu. Kami pun mampir. Anak-anak tentu agak malas turun. Tapi kami mengajak mereka berbicara. Memberikan beberapa pertimbangan dan kemungkinan. Bagaimanapun karena menyetir, suami yang paling butuh asupan makanan.

Akhirnya dengan lunglai mereka turun dari kendaraan menuju warung nasi gudeg yang dimaksud abinya. Setelah melihat-lihat, akhirnya wajah mereka agak sumringah karena ternyata ada menu lain disana: ayam goreng. Syukurlah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali mampir, 4 orang bisa makan di tempat yang sama meski seleranya berbeda.

Tips Menjalin Komunikasi

Dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak maupun keluarga secara umum, maka perhatikan 5 poin berikut:

  1. Jadilah pendengar yang baik
  2. Hati-hati dengan asumsi
  3. Perhatikan intonasi
  4. Sensitive memahami Bahasa tubuh
  5. Nyalakan rada terhadap sekecil apapun perubahan

Kelima poin di atas saya dapati dalam buku Menikah Untuk Bahagia. Saat mencoba menjalin komunikasi dengan anak, salah satu tipsnya adalah: sejajarkan diri entah dengan berlutut, duduk atau membungkuk. Hadirkan hati dan pikiran: mindfulness.

Saat anak mengucapkan atau melakukan sesuatu, konfirmasikan padanya apakah asumsi kita benar atau salah. Jangan berasumsi sembarangan. Bisa jadi bukan seperti itu maksud si anak.

Anak sangat sensitive dengan intonasi. Apalagi mereka jago sekali mengenali pola bicara dan gerak tubuh orang tuanya. Maka saat berbicara perhatikan intonasi kita. Agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

Sebagai orang tua, kita setidaknya paham lebih banyak tentang Bahasa tubuh anak kita. Maka ketika ia tiba-tiba tidak Nampak seperti biasanya, ayah bunda patut waspada. Dekati dengan hati-hati, buat dia nyaman. Setelah itu jika ia tak ingin bercerita, biarkanlah dulu. Jika kemudian ia ingin bercerita, maka jadilah pendengar yang baik. Dengarkan hingga selesai, baru beri masukan atau pendapat.

Selamat belajar komunikasi. Mari menjalin komunikasi yang baik dengan anak, pasangan dan manusia secara umum.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.