Ada Kau dan Aku Menjadi Kita

Satu ketika sebuah status muncul di beranda. Kurang lebih isinya: “tak ada kau dan aku, yang ada adalah kita”.

Terbaca begitu indah ya? Namun bagi saya agak sedikit aneh. Ada yang berpikiran sama? 😀

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kita merupakan kata ganti pertama jamak (lebih dari 1). Itu berarti, dalam pembicaraan bersama kala itu tetap ada aku dan kamu.

Dalam sebuah hubungan, “kita” tidak lantas membuat aku dan kamu melebur. Aku dan kamu tetap ada, hanya disana terdapat tambahan “kita”. Aku dan kamu tetaplah satu sosok masing-masing. Kemudian kita bersama untuk sebuah tujuan. Bergandeng tangan dan berjuang bersama, dengan segala ke-aku-an dan ke-kamu-an masing-masing.

Menikah berarti bersama, menjadikan aku dan kamu sebagai kita

Berpasangan merupakan bagian dari naluriah dan kebutuhan manusia, dihalalkan melalui pernikahan. Meski yang diucapkan hanyalah sekalimat pendek serah terima antara lelaki -yang kelak disebut suami- dengan lelaki lainnya -yang biasa disebut “ayah”-. Berpindahlah segala tanggung jawab ayah kepada suami, begitupun bakti.

Meski demikian, tak lantas kita melupakan ayah dan hanya fokus pada suami bukan? Ada sikap tawazun, seimbang antara bakti kepada orang tua dan suami. Memang, bakti seorang perempuan yang telah menikah diutamakan kepada suami.

Adapun setelah menikah, kita tak lagi boleh egois memikirkan diri sendiri. Benar, tapi bukan lantas lupa pada kebutuhan diri. Perlu ada keseimbangan juga dalam penyikapannya. Sebab rumah tangga diharapkan menjadi sebuah bangunan rumah penuh cinta yang menjadi tangga menuju surga.

Kelak, hisab kita hadapi sendiri-sendiri dengan mempertanggungjawabkan peran di dunia. Dengan harapan semoga Allah berkenan memasukkan kita ke surga-Nya dengan menyatukan kembali diri dan keluarga di dalamnya. Begitu bukan?

Maka meski sudah ada “kita”, tetaplah berperan sesuai “aku” dan “kamu”, ditambah “kita”. Ada kala kita mencoba melayani pasangan sesuai dengan hal terbaik yang diinginkannya sebagai “kamu” dan tentu pasangan pun membahagiakan dengan sesuatu yang paling gue banget sebagai “aku”. Dan ada tahapan dimana kita berbicara dan bertindak untuk kepentingan bersama, kepentingan “kita”.

Oleh karena itu, ada baiknya sebelum menikah sudah tahu siapa sebetulnya diri kita ini. Setidaknya dengan mengetahui dan mengenali diri sendiri akan lebih mudah menjelaskan pada pasangan, seperti apa sih saya sebenarnya. Begitu pun kita akan lebih mudah mengenali pasangan kala ia sudah mengenali dirinya dan memberitahukan kita siapa dia. Dengan demikian, adaptasi dalam pernikahan menjadi kepingan puzzle yang sudah ditemukan, tinggal bersama mencari kepingan lainnya untuk gambaran yang lebih lengkap. Jadi tidak terlalu ngeblur bayangannya.

Pernikahan: Tumbuhlah sebagai “aku”, “kamu” dan bergandengan tangan sebagai “kita”

Seringkali setelah menikah, kita lupa menjadi diri sendiri. Sehingga hubungan suami istri menjadi hambar karena hati yang hampa, dan proses pendidikan anak menjadi tidak maksimal karena ruh di dalamnya tercabik.

Maka, tetaplah tumbuh sebagai “aku” dan “kamu” yang bergandengan tangan sebagai “kita”. Kenali bahasa cinta pasangan agar dapat saling memberikan hal yang paling diharapkan dan saling bersiap pada kekurangan. Lalu bergandengan tangan menuju tempat yang ditargetkan bersama.

Ibaratnya, pernikahan tidak meleburkan lelaki dan perempuan menjadi satu bukan? Melainkan, lelaki tetap dengan kelelakiannya dan perempuan dengan keperempuannya. Segala sifat masing-masing bukan harus melebur, tapi beradaptasi saling memahami. Oh, perempuan itu begini maka harus begitu. Oh, lelaki itu begitu maka harus begini. Begitu terus hingga suami-istri tetap tumbuh sebagai pasangan yang membersamai tanpa kehilangan jati dirinya.

Sebab keharmonisan rumah tangga justru karena suami istri berbeda. Biarkan ia menjadi khas dan saling melengkapi, saling mengisi serta saling menguatkan satu sama lain.

“Aku” dan “kamu” hanya perlu saling memahami, saling pengertian, saling berbagi dan tidak perlu saling bertukar karakter. Ada sisi perempuan yang mesti dijaga sebagai istri dan sisi lelaki yang harus dijaga sebagai suami dengan cara yang proporsional.

Peduli tentang “kita” dan tetap tampil maksimal sebagai “aku” dan “kamu”

Pasangan yang sudah mengenal dirinya sendiri, akan lebih nyaman berbicara “kita”. Sebab kebutuhan mengenali diri sudah terpenuhi sehingga mereka tahu bahwa “aku” dan “kamu” perlu tetap tumbuh agar “kita” bisa lebih baik lagi menjalankan perannya. Agar “kita” senantiasa mampu bergandengan tangan mencapai tujuan dengan selaras.

Aku tetaplah aku, namun terus belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.

Kamu tetaplah kamu, namun menjadi sosok yang terus belajar dan tumbuh semakin dewasa.

Sehingga kita dapat mewujudkan pernikahan yang harmonis. Bukan tanpa konflik, tapi mampu menangani setiap riak dan ombak dalam pernikahan dengan bijak.

Karena jika aku tampil maksimal sebagai aku dan kamu tampil maksimal sebagai kamu lalu menyepakati bersama tentang perjalanan kita, maka insyaallah rumah tangga yang dibangun akan menjadi keindahan luar biasa surga bernama keluarga.

Selamat mengenali diri, mengenal pasangan dan bersama mencapai tujuan yang sama.

Semoga pernikahan teman-teman diberkahi Allah swt. Bagi yang belum menikah, tetaplah jaga diri sesuai syariat.

note: salah satu tool yang kami gunakan untuk mengenal diri (dan alhamdulillah sudah banyak membantu pasangan yang konsul pada kami) adalah konsep STIFIn. Dengan tes sidik jari memudahkan pasangan dan anak-anak serta keluarga untuk mengenali sifat dasar dan bersama komitmen untuk “naik level” guna perbaikan hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *