Aku Bukan Ibu Yang Baik

Aku Bukan Ibu Yang Baik

Pernah satu ketika, saya merasa bahwa saya bukanlah ibu yang baik untuk anak-anak. Dengan segala hal yang terjadi dan akibat berbagai pencetus..

Teman-teman pernah mengalami atau merasakannya juga?

Saking merasa sedihnya, tiba-tiba melintas pikiran itu, bisikan pun datang..

“Kamu memang bukan ibu yang baik untuk mereka”

Rasanya gemetar menahan rasa kecewa itu. Lalu bisikan itu berlanjut..

“Tapi kamu adalah ibu terbaik bagi mereka.”

Ya, kamu memang bukan ibu yang baik bagi mereka. Tapi kamu adalah ibu terbaik bagi mereka.

Lalu apa?

Lintasan pikiran berikutnya itu menyadarkan saya bahwa: Sesungguhnya saat terbersit pikiran semacam itu, seolah kita ditegur sekaligus diingatkan Allah.

Allah memberikan mereka padamu, karena kamu ibu terbaik untuk mereka. Apakah engkau meragukan keputusan tuhanmu itu?

Deg.

Saat pikiran seperti itu muncul secara tiba-tiba, rasanya malah jadi malu. Iya ya. Allah menitipkan anak-anak pada kita karena menurutNya kita adalah orang tua terbaik bagi mereka. Terlepas dari seberapa tinggi pendidikan kita, seberapa besar penghasilan dan bagaimana latar belakang keluarga.

Allah menitipkan mereka pada kita karena menurutNya, anak-anak kita akan sampai di tujuan akhir mereka jika berada di bawah pengasuhan orang tua seperti kita. Tinggal mencari tim tambahan untuk membantu mendidik dan menyampaikan mereka pada tujuan akhirnya: Surga.

Bukan. Bukan nyari yang mau menghabisi mereka ya. Tapi mencari tim tambahan untuk membantu memudahkan jalan anak memahami bahwa tujuan akhirnya adalah berkumpul kembali di surga-Nya.

Ketika Terbersit “Aku Bukan Ibu yang Baik”

Syetan selalu tahu celah. Biasanya pikiran buruk muncul ketika:

  • Bad mood
  • Permasalahan terus menerus muncul
  • Ibadah turun kualitas maupun kuantitasnya
  • Sedekahnya sudah lama terlupa
  • Lelah dan merasa terabaikan

Maka saat muncul pikiran bahwa kita ibu yang tidak baik bagi anak, ingat kembali bahwa “boleh jadi memang kamu bukan ibu yang baik. Tapi kamu akan selalu menjadi ibu terbaik bagi anak” karena bagaimanapun kita lah yang mengandung, melahirkan dan menyusui mereka. Setidaknya 3 hal itu adalah hal terbaik yang anak dapat dari seorang ibu. Kalaupun anak tidak menyusu pada ibu, tetap saja ada 2 hal lain yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun dan itu adalah pemberian terbaik kita pada anak.

Meskipun tentu akan semakin baik lagi jika dilanjutkan dengan pendidikan yang terbaik dari orang tua pada anak berupa contoh/teladan yang baik, perkataan yang baik, pembelajaran yang baik dan sekolah serta guru yang baik. Sebab anak bertumbuh terus. Sehingga setiap fase dapat terlewati dengan maksimal.

Adapun ibu, seringkali tak punya standar yang jelas “seperti apa sih yang disebut pendidikan anak kita berhasil”. Ibu kadang membandingkan dengan anak lain di lingkungan maupun dengan harapan dari dalam diri pribadi yang tak dicatat maupun diberitahukan pada orang lain (terutama suami dan keluarga). Sehingga sulit untuk betul-betul mengevaluasi progress anak.

Dan perlu dicatat: keberhasilan atau kegagalan tidak akan terlalu nampak saat ini, tapi kelak saat ia sudah menginjak aqil baligh. Itu pendapat saya pribadi sih. Sebab di usia itu, anak sebaiknya sudah ajeg pendiriannya. Kala di usia itu sudah menjadi sosok yang teguh.

Sedangkan fase di bawah usia aqil baligh, yuk perhatikan milestone-nya saja. Berikut adalah catatan pengalaman saya tentang “biasanya di usia ini ada ujian apa saja sih”. Sehingga ibu jelas bisa mengukur apakah ada yang perlu diubah atau tidak. Adakah yang bisa dimaksimalkan lagi atau effort kita sudah cukup maksimal.

Fase Milestone Anak

Sebagai salah satu ikhtiar mencatat “hasil” pendidikan kita setiap tahunnya, saya coba melirik poin-poin berikut. Semoga dengan demikian, saya maupun teman-teman dapat lebih tenang lagi menghadapi anak-anak. Maklum ya, apalagi anak lebih dari 1, belajar tiada akhir.

  1. Usia 0 tahun (0-11 bulan)
    Biasanya bayi masih serba ibu. Indikator yang perlu membuat kita tenang adalah anak cukup makan-minum (menyusu, MPASI), kita tahu potensi alergi pada anak, motorik berkembang baik seperti memegang, merangkak (meski beberapa anak tidak merangkak), bisa kontak mata dan merespon emosi sekitar. Melakukan komunikasi non verbal (lewat bahasa tubuh).
  2. Usia 1-3 tahun
    Ujian utama setelah penyapihan biasanya: sifat egosentris yang umum tumbuh di usia mulai 3 tahun.
    Penuhi kebutuhan egosentrisnya, ajari (bukan paksa) anak berbagi. Ketika anak tak mau berbagi, jangan merasa jadi ibu yang gagal. Anak sedang belajar mengenali kepemilikan dan mempertahankan diri. Jika ibu memaksa anak untuk memberikan apa yang tak mau ia pinjamkan, justru khawatirnya nanti malah anak ga bisa mempertahankan miliknya sendiri.
  3. Usia 7 tahun
    Ujian di rentang usia ini salah satunya di usia 7 tahun: ngeyel, iseng, terkesan susah dikasih tahu, membantah. Bukan berarti pendidikan sebelumnya gagal. Fase ini memang fase dimana anak mulai beralih dari batita ke anak, dari anak-anak yang serba abstrak jadi serba konkrit. Bisa jadi ada yang kurang tepat dari penanganan, tapi akan lebih mengkhawatirkan jika kita merespon negatif sikap anak.
    Anak sudah mulai disuruh shalat usia 7 tahun. Jangan paksa. Bangun kecintaannya pada shalat dan ritual ibadah lain. Sehingga di usia 10 nanti sudah lebih asyik kesadarannya tentang shalat dan ibadah.
    Pengenalan ibadah di bawah 7 tahun berupa pengenalan dan pembiasaan (misal ikut sama ayah ke mesjid, ikut ngaji sama ibu, dsb).

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan juga adalah: jangan tergesa-gesa. Kadang kita tergesa-gesa ingin anak bisa ini itu tanpa memperhatikan kebutuhannya (jasmani rohani). Sehingga anak bukannya suka malah akhirnya membenci “ekspresi sayang” kita.

Pesan Luqman Terkait Pendidikan Anak

Bu, ada pesan yang mungkin membantu membuat kita lebih tenang. Pesan Luqmanul Hakim kepada anaknya. Tersurat dalam alQuran:

  1. Jangan berbuat syirik
  2. Allah mengetahui keadaan hambaNya
  3. Shalat, amar ma’ruf nahyi munkar, sabar
  4. Jangan sombong
  5. Bersikap pertengahan

5 hal di atas memang adalah terkait pendidikan anak. Akan tetapi saya ingin mengajak teman-teman menilik pada diri, adakah ke-5 hal tersebut ada dalam diri? Jika belum, maka bisa saja hal itu yang membuat kita merasa kesulitan mendidik anak dan merasa gagal.

Mari kita coba renungkan..

Jangan syirik: Kita mendidik anak hanya karena Allah. Sebab Allah sudah menitipkan mereka pada kita, sebagai upaya meraih keridhaan Allah dan memenuhi perintah Allah untuk mendidik anak-anak. Hanya karena Allah saja.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah, yang mereka khawatir terhadap anak-anak itu. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

Allah mengetahui keadaan hambaNya: Ia tahu persis keadaan kita, keadaan keluarga, penghasilan, pasangan dan lingkungan kita. Lalu kenapa anak-anak itu dipercayakan pada kita? Karena Allah tahu, dengan semua keadaan itu kita adalah pendidik terbaik mereka. Ibu terbaik untuk mereka. Dengan semua keadaan dan pengalaman yang pernah dialami. Agar mereka sampai ke surga berbekal hal itu.

Jaga shalat, dan sabar karena keduanya adalah cara kita meminta pertolongan dari Allah sebagaimana disebutkan:

اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.
(Al-Baqarah [2] : 45-46)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al-Baqarah [2] : 153)

Mendidik anak-anak menjadi baik adalah bagian dari amar ma’ruf dan mengajari mereka untuk tidak melakukan hal yang buruk adalah bagian dari nahyi munkar.

Jangan sombong saat keluarga, anak baik. Bisa jadi kemudian sikap anak kita berbalik karena doa orang yang merasa diremehkan akibat kesombongan kita.

Bersikap pertengahan ketika bahagia atas prestasi anak, pun saat anak “bertingkah”. Agar kita tidak terlalu euforia tapi juga tak sedih yang berlebihan hingga lupa pada rahmat Allah dan kebaikan anak.

Jika perasaan sedih masih saja membayangi, buatlah sendiri sertifikat penghargaan untuk diri sendiri seperti ini 😀

yang butuh softcopy blanko-nya, [klik disini]. Atau bebas deh buat sendiri. Apresiasi dirimu secara proporsional ya buibu..

 

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

2 pemikiran pada “Aku Bukan Ibu Yang Baik

  1. Kalimat ” Ya, kamu memang bukan ibu yang baik bagi mereka. Tapi kamu adalah ibu terbaik bagi mereka. ” Dan ” Allah memberikan mereka padamu, karena kamu ibu terbaik untuk mereka. Apakah engkau meragukan keputusan tuhanmu itu? ”

    Feels so heart warming banget eh, Bu esa. Hihi. Keep it up!

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: