Algoritma Kehidupan

Algoritma Kehidupan. Begitu saya menyamakan konsep tentang lauhul mahfuz yang saya pahami ke dalam sebuah konsep dalam dunia ilmu komputer: algoritma pemrograman.

Sebagai seorang mantan mahasiswi teknik Informatika, saya membuat persamaan itu karena bagi saya lebih mudah dipahami dan lebih gampang membayangkan “alurnya”. Dengan adanya persamaan antara algoritma pemrograman yang (dianggap) sebagai jantung pemrograman, algoritma kehidupan juga (bisa jadi) adalah jantung kehidupan. Pemahaman akan konsep takdir yang tepat dan tak lagi membingungkan yang sering kali membuat kita justru malah jatuh ke jalan yang salah dalam memahami konsep tentang takdir itu.

contoh fc

Algoritma apaan sih? Kalau ditanya itu, jujur saya sudah lupa jawaban pastinya. Udah lama banget. Hampir mau 10 tahun. Haha.. baru berasa tuanya.

Tapi satu aja yang paling nyantol mengenai algoritma itu adalah tentang “perjalanan” langkah demi langkah sebuah sistem sebelum akhirnya dibuatkan sistemnya. Semacam blue print sebelum membangun rumahnya.

Mungkin pengertian kasarnya, algoritma itu semacam “aturan main” yang sudah ditentukan dalam sebuah operasi. Aturan main ini meliputi input, berbagai kemungkinan yang terjadi, alur terhadap kemungkinan-kemungkinan itu dan output.

Dari konsep inilah saya belajar memahami tentang “takdir”. Bahwa pada dasarnya Allah sudah menyiapkan algoritma kehidupan kita dengan sedemikian rupa. Allah sudah menyiapkan berbagai variabelnya untuk kemudian diproses sesuai input yang kita pilih dan berakhir pada statement akhir yang kemudian kita kenal sebagai takdir.

Euclid's_algorithm_Inelegant_program_1

Misal ada pilihan kampus A, B dan C. Ikhtiar kita pengen masuk kampus A, tapi rupanya meleset akhirnya kita diterima di kampus B. Karena tidak terlalu berminat, kita lebih memilih kuliah di kampus C. Apakah itu berarti perencanaan Allah meleset? Tentu tidak.

Allah sudah menyiapkan variabel-variabel untuk segala kemungkinan itu. Dan salah satu variabel penentunya adalah ikhtiar kita sejauh mana. Allah sudah menyiapkan berbagai kemungkinan itu. Jika belajar dan doanya oke, maka lulus kampus A, jika kurang salah satu variabelnya maka lulus kampus B, jika memutuskan beralih dari input semula maka masuk kampus C.

Setelah hasil kampus itu keluar, akan ada lagi “cabang” berikutnya. Misal jika kampus A maka begini, jika kampus B maka begitu, jika kampus C maka ini dan itu. Dan terus setiap hasil pilihan itu akan bercabang sampai akhirnya bertemu dengan “end” alias akhir.

Semua pilihan itu selalu memiliki alur tersendiri yang nanti akan menjadi takdir kita. Di tengah perjalanan dari input menuju output, ada sebuah proses untuk menganalisa jalur input kita dan hasil yang kelak akan keluar. Dan setiap output akan dihadapkan lagi pada proses analisa lainnya selama kehidupan kita masih berjalan.

flowchart algoritma lzw

Bayangkan saja, ketika kita berhadapan dengan sebuah program misalnya kita akan mendapatkan beberapa opsi yang harus dipilih salah satunya baru kemudian hasil keluar. Kurang lebih seperti itu.

Sebagai pengguna programnya, kita kan tidak tahu algoritma pemrogramannya bagaimana. Yang tahu hanya pembuat programnya. Sementara kita hanya tahu diberikan berbagai pilihan untuk kemudian mendapatkan hasil sesuai dengan yang kita pilih.

Kita masih bisa mencoba mengubah alur itu dengan mengirimkan email permintaan pada pembuatnya, semacam pembaruan program. Inilah yang kemudian saya pahami sebagai doa. Apakah pembuat program akan mengabulkan masukan kita atau tidak, ya itu terserah programmernya. Untuk permisalan ini memang tidak pas 100% tapi setidaknya begitulah peran doa. Ia mampu mengubah takdir selama memang menurut Allah itu baik bagi kita.

Algoritma kehidupan memang tidak akan sesederhana itu. Pasti akan lebih rumit lagi karena Allah Maha Hebat tentang skenario kehidupan kita. Tapi dengan membuat permisalan semacam ini, saya lebih nyaman dalam memahami apa itu takdir.

Jika dulu saya kebingungan, sekarang sudah tidak lagi. Misal, “jika saya dijodohkan dengan si A, ya sudah tinggal tunggu kan ada tanggal yang tertera” lalu saya bertanya “dimana posisi ikhtiar dan doa? Masa kita ga bisa milih sama sekali?” dan pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya karena keterbatasan ilmu agama saya.

Ketika saya bertemu dengan seorang guru yang mengisi kelas MTM, saya akhirnya paham bagaimana sebenarnya takdir itu harus disikapi. Bukan tanpa ikhtiar dan tidak perlu kebingungan. Allah Maha Adil dan Ia Maha Tahu yang terbaik bagi hambaNya dengan tetap melihat ikhtiar dan mendengar doa kita.

Yang mau saya garis bawahi di sini adalah, bahwa kita memiliki kemampuan untuk memilih sebelum akhirnya mengatakan “ini takdirku”. Kita memiliki kesempatan berdoa memohon pada Allah sebelum mengatakan “ini kan udah takdir”. Dan jika takdir sudah berlaku, maka kita masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi dengan memilih cara yang berbeda dalam menyikapi takdir. Pun kita memiliki kesempatan mengubah takdir kita ke takdir lain yang lebih baik dengan memilih jalan lainnya.

*****

Pernah tahu buku Ghostbump? Itu lho novel misteri yang ada opsi “jika memilih A, pergi ke halaman xx, jika memilih B, pergi ke halaman yy”. Kalau ada yang pernah baca Ghostbump, ini juga bisa dijadikan permisalan 😀

Deg-degan selama menulis tentang ini. Ternyata, ada rasa kangen juga ya sama dunia coding J a lot.. Dan salah satu hal yang disesalkan adalah.. saya lupa banyak tentang semua pelajaran di kelas ini. Huhu.. apa kabar kalo kuliah yang cuma tinggal 3 semester itu dilanjut? 😀

algo

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *