Anak Ketagihan Gadget Atau Ortu yang Keranjingan Gadget?

Setelah seringkali memperhatikan anak-anak baik Danisy-Azam maupun yang lain, fitrah anak itu sebenarnya SENANG alias SUKA sama ILMU. Termasuk di dalamnya, suka sama buku -salah satu sumber ilmu. Eatlah, makanlah dengan lahap semua ilmu.

Selama ibu dan ayahnya bersedia MELUANGKAN  WAKTU  untuk MEMBACAKAN buku atau berkomunikasi hal-hal terkait ilmu maupun pengetahuan, anak biasanya akan tertarik.

Hanya saja kadang kita terlalu sibuk pada urusan lain. Saya pribadi menyadari, kadang sering terlalu sibuk dengan pekerjaan atau hp. Dan ga jarang ternyata kegiatan itu ga ada gunanya karena “cuma” haha hihi di grup ngomongin eatlah, ngomongin chatime lah, misalnya. Waktu habis untuk scroll timeline fb contohnya, dan masih banyak contoh lain. Mungkin teman-teman mau menambahkan? 😀

Sudah sebulan ini asyik dan senang melihat Azam ketagihan dibacakan buku -meskipun emaknya ini sempet keder karena minta dibacain dari pagi ampe malem. Apalagi ada bayi #halesan

Jadi, benar adanya apa yang dikatakan di berbagai artikel parenting bahwa anak yang ketagihan gadget bisa jadi memang anak yang kurang perhatian. Ibu bapaknya ada, tapi tidak sepenuhnya hadir. Jasadnya ada, tapi hati tidak saling terpaut. Fisiknya terlihat tapi hatinya tidak turut serta.

Sedangkan jiwa akan saling bertemu dengan yang frekuensinya sama. Jiwa anak yang masih bersih dan sensitif terhadap resonansi sekitar tentu akan sangat sadar kapan orang tuanya betul-betul HADIR dengan saat dimana orang tuanya HANYA ada disana. Tidak sepenuhnya memperhatikan dirinya.

Pada ANAK, jiwa mereka masih sangat DEKAT dengan FITRAH sehingga kita sebagai ORANG TUA yang perlu terus MEMPERBAIKI DIRI agar semakin mendekati fitrah kebaikan.

Maka diperlukan komitmen yang luar biasa besar untuk bisa membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, hobi (diri sendiri juga berhak dong dapet pemanjaan sesaat), keluarga, pasangan, dan hal lainnya yang mampir dalam kehidupan kita. Sebab melepaskan anak dari gadget itu harus diawali dengan niat dan diperkuat contoh dari kita.

Coba ingat-ingat, berapa kali kita melarang anak main hp terus tapi ternyata justru kita sedang asyik browsing resep, chit chat, main game, atau sekadar update status facebook? Sehingga anak yang cenderung lebih mudah diarahkan itu akhirnya protes “kok ummi pegang hp aja?” nah lho..

Pengalaman saya melepaskan Azam anak kedua kami dari ketergantungan sama gadget, yang kudu pertama kali melepas ketergantungan gadget adalah emak bapaknya. Meskipun anak-anak paham ada saat dimana saya pegang hp untuk kerja. Maklum ya emak-emak eksis, yang konsultasi hasil tes STIFIn-nya pan seringkali via whatsapp. Tapi mereka bisa lihat kok. Kalau yang dibuka WA memang artinya ummi sedang ada konsul, sedang ngisi kelas atau sedang ada kerjaan lain. Ya sesekali lirik grup haha hihi yang bahasannya selalu berakhir dengan eatlah 😛

So, sebelum menghakimi anakku seneng gadget (dan meminta bantuan ahli), coba dulu aja tips sederhananya: perbanyak bercengkrama, kurangi pegang hp saat acara keluarga, jadilah contoh pengguna gadget yang bijak. Karena pada akhirnya tanpa disadari sesungguhnya anak meniru kita orang tuanya.

Saya sadar mulai ketagihan gadget itu ya saat tiba-tiba.. sedikit-sedikit pegang hp, dikit-dikit lirik hp, buka tutup kunci hp, buka-buka wa, facebook dll tanpa ada tujuan sama sekali. See? Jadi yang ketagihan gadget itu anaknya apa emak bapaknya?

Catat: yang saya bahas ketagihan ya. Kalo masih bisa ditolerir ngikuti aturan mah berarti bukan ketagihan kan? Sebab bagaimana pun kelak mereka akan terbiasa. Kita yang perlu memberitahu mereka mana yang perlu, kapan diperbolehkan menggunakan gadget, dsb.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *