Anakku Bukan Malaikat

Anakku Bukan Malaikat

“Selamat ya atas kehadiran malaikat kecilnya”
Sebuah ucapan selamat yang mungkin sudah tak asing lagi kita dengar. Ya, seperti ungkapan kebahagiaan tiada tara atas kelahiran putra/putri kita ke dunia.

Ah, mereka memang nampak polos tanpa cela. Anak yang selama ini ditunggu telah hadir di dunia. Kehidupan pasangan suami istri pun banyak yang berubah. Dan tentu diliputi kebahagiaan yang nampak makin sempurna.Belakangan tiba-tiba saja terpikir. Apakah kalimat tersebut benar adanya? Di saat anak beranjak besar, saat ia semakin kuat menampilkan keinginannya, rasanya berat mendampingi mereka dengan kesabaran.  Bahkan tak jarang orang tua yang justru berbalik memaki anak. Diantaranya ada yang menyebut “anak setan” karena kenakalan anak yang luar biasa. Astaghfirullaah. Jika anak setan maka kita orang tuanya pun demikian. Na’udzubillaah min dzaalik.

image

Anak pada dasarnya memiliki fitrah kebaikan dan kebenaran. Sayangnya kita selaku orang tua sering salah menjawab tingkah sang anak.

Pun tentang harapan bahwa anak adalah malaikat, sepertinya perlu dikoreksi. Begitu pula sebutan anak setan. Karena bayi yang rahim dari seorang ibu adalah seorang manusia. Tak lebih, tak kurang.

Karena mereka manusia-lah maka sudah sepantasnya kita menempatkan mereka selayaknya manusia: punya potensi sisi baik dan sisi buruk. Jika kita terus-terusan berharap anak adalah malaikat, maka kita mengharapkan sosok yang tanpa kesalahan dan itu mustahil. Pun berhati-hati menyebut anak setan karena ia pasti memiliki kebaikan dan tidak akan selamanya salah nan buruk.

Karena mereka manusia, maka memposisikan mereka sebagaimana mestinya adalah sebuah kebutuhan. Jika ia benar, maka apresiasi bisa diberikan, dan jika ia salah maka ingatkan ia akan kesalahannya dengan memberikan bantuan solusi.

Karena mereka manusia, maka kita perlu sadar bahwa mereka pun seperti kita. Dan sadarilah bahwa kita sendiri tak luput dari kesalahan.

Ketika kita menyadari bahwa anak kita bukanlah malaikat melainkan manusia seperti kita, maka kita akan lebih mampu menempatkan mereka di posisi yang baik dan benar. Berikan informasi yang selaras dengan fitrahnya sebagai manusia, didik dengan pendidikan yang selaras dengan fitrahnya sebagai manusia, dan temani ia tumbuh mengikuti fitrahnya sebagai manusia.

Dengan begitu, kita tak akan terlalu kecewa ketika ada tindakan anak yang mungkin salah. Bisa jadi ia tak tahu itu salah.

Jika anak membantah orang tua, maka perlu dikoreksi bagaimana pendidikan, informasi, lingkungan dan makanan minuman yang mereka terima. Semua harus serba baik, serba benar dan tentu saja halal.

Karena anakku bukan malaikat, maka sudah seharusnya kujaga ia agar tetap dalam fitrah kebaikan. Mengingat kembali potensi mereka untuk fujur dan taqwa yang seperti 2 sisi mata uang. Sudah sepatutnya kujaga ia agar tetap tumbuh di atas fitrah dari Allah Yang Mahaesa.

Kebumen, 4 Syawwal/20 Juli ba’da Zhuhur.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

2 pemikiran pada “Anakku Bukan Malaikat

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: