Lelaki Butuh Dicintai

Pernikahan ibarat sebuah wadah tempat kita menanam dan menumbuhkan cinta. Pupuknya disebar bersama oleh suami maupun istri. Dari benih cinta inilah kelak tumbuh bunga-bunga cinta dan menyebar buahnya yang beraneka rasa.

Pupuk dari benih cinta itu salah satunya dengan tindakan dan ucapan. Ketika masa-masa awal menikah biasanya pasangan suami istri masih dalam tahap hangat dan saling melempar ekspresi cinta entah dengan senyuman, sentuhan ataupun ucapan cinta (baik secara langsung ataupun melalui SMS, chat, BBM).

Ini bukanlah soal romantis, tapi soal menyatakan perasaan. Karena tindakan kita setelah sekian lama menikah seringkali menjadi sebuah kebiasaan yang kehilangan ruhnya.

Istri merasa sendiri dalam menyemai cinta dalam rumah tangga. Sementara suami merasa sudah turut menyemai dengan caranya sendiri. Istri kemudian menuntus suami agar lebih peka sementara suami menuntut istri agar lebih mengerti.

Perempuan terkadang lupa bagaimana lelaki menyampaikan cintanya, dan berujung bersikap dingin membalas sikapnya yang menurut perempuan lebih dingin. Padahal tak semua lelaki mampu menyampaikan kata. Namun percayalah bahwa semua lelaki butuh cinta. Mereka seperti anak kecil yang butuh dimanja, dibelai dan dipeluk hangat. Hanya saja karena sosoknya adalah lelaki dewasa, istri sering menganggap ia adalah sosok kuat yang sudah cukup besar untuk menjalani hidupnya sendiri. Istri hanya berusaha memenuhi kebutuhan fisiknya dan lupa pada hatinya.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman ini. Hanya saja sebagian besar masyarakat abai terhadap kebutuhan lelaki untuk dicintai.

Lelaki butuh dicintai agar ia dapat tetap menjalani hari dengan perasaan yang nyaman. Lelaki butuh dicintai agar semangatnya tetap hangat menemani aktifitas keseharian. Lelaki butuh dibelai agar sisi kakanak-kanakkannya dapat terpenuhi saat ia dituntut untuk dewasa di luar rumah.

loveMaka mari kita sama belajar bagaimana Rasulullah mendapat perlakuan istimewa dari istrinya Khadijah yang menjadi bekal kekuatan di awal dakwah yang berat. Belajar bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya dengan istimewa sehingga istri mampu mendukung dengan tangguh beratnya dakwah.

Bahwa lelaki pun tetap butuh cinta sebagaimana perempuan membutuhkannya.

-Tulisan ini sebelumnya saya publish di Aim Desain

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mengapa Danisy Tetap Tinggal

Pagi ini, otak-atik hp dan menemukan daftar catatan facebook di akun pribadi saya. 165 catatan yang entah isinya apa saja. Salah satu judul dari catatan itu adalah “Mengapa Danisy Tetap Tinggal”. Tulisan ini sekaligus adalah jawaban bagi banyak pertanyaan yang masuk tentang keputusan kami tidak menyerahkan Danisy ke tangan orang tua saya. Bukan karena tidak percaya, tapi ada pertimbangan matang di dalamnya.

Tertanggal 27 Juli, 2 bulan setelah kelahiran Azam. Pertanyaan yang sering kami dapatkan setelah kelahiran Azam anak kedua kami adalah “Kok Danisy pulang ke Caringin? Kenapa ga dititip aja di mamah?” Entah kenapa pertanyaan itu muncul. Mungkin melihat posisi kami yang satu kota dengan mamah, supaya kami ga repot urus bayi dan balita (ketika Azam lahir, Danisy berusia 2,5 tahun). Mumpung ada mamah, begitu komentar sebagian besar orang.

Kami memutuskan untuk membawa serta Danisy karena bagaimanapun, kelak kami akan tetap bersama lagi. Akan lebih mudah bagi kami berempat untuk beradaptasi segera setelah Azam lahir. Semula Mamah menawarkan agar Danisy tinggal bersama mamah karena toh sudah lepas ASI juga. Tapi dari beberapa literatur yang saya baca, justru membiarkan Danisy tetap bersama kami adalah momen penting.

Dengan tinggal bersama, Danisy belajar jadi kakak dan belajar punya adik setelah sebelumnya serba sendiri dan jadi pusat perhatian. Sementara saya belajar jadi ibu dari 2 anak, pun suami belajar hal yang sama.

Kehadiran Danisy juga ternyata sangat membantu. Danisy bantu ambilkan baju Azam, ambilkan handuk, dan membantu banyak hal terkait kebutuhan adiknya termasuk nyimpen popok di wadah cucian popok.

Ketika seorang anak memiliki adik, jangan jauhkan ia dari adiknya agar ia tidak merasa dibuang atau tersingkir karena kehadiran sang adik. Dengan membantu menyiapkan kebutuhan adik, baik ibu maupun kakak belajar, belajar untuk saling percaya. Kakak pun belajar bertanggung jawab sekaligus merasa tetap diperhatikan.

Cemburu karena kehadiran adik, wajar dan pasti ada. Hanya saja dengan tetap melibatkannya, kecemburuan ini akan berkurang. Dengan dilibatkan dalam mengurus adik, kakak juga belajar menumbuhkan rasa kasih sayangnya pada adik. Ia merasa kehadirannya berguna dan merasa dibutuhkan. Disini kakak belajar adaptasi bersama.

Tidak mudah memang mengurus bayi dan balita sekaligus, tapi Danisy yang terbiasa membantu sangat meringankan saya. Danisy cenderung lebih dewasa dan ga rewel manja. Saat Azam akan mandi, Danisy dengan sigap menyiapkan handuk, dikaitkan ke gagang pintu yang terjangkau olehnya. Ketika saya memandikan Azam, Danisy di kamar sudah siap dengan pernel, popok dan perlengkapan adiknya. Popok kotor pun sudah tahu harus disimpan dimana. Hampir semua kebutuhan Azam, Danisy yang siapkan.

brother

Hingga usia mereka saat ini, Danisy 4,5 tahun dan Azam 2 tahun, Danisy seringkali saya minta bantu mandikan sampai memakaikan pakaian adiknya. Setelah itu dititipi jaga adik atau “ajak dede main bareng ya”. Kadang kakak yang belum bisa baca pun dengan senang hati membacakan buku sesuai imajinasinya ke adik. Adiknya juga sudah terbiasa bareng kakaknya sehingga mereka nampak kompak berdua.

Ya, namanya anak-anak ada saat ga mau bantu juga. Ga usah dipaksa. Sesekali saja. Mereka berantem juga sesekali. Tapi kekompakan mereka tak ada yang bisa menggantikan. Adiknya sering merasa kehilangan ketika kakak nginep di rumah nenek atau main sendiri tanpa ajak adik. Kakak juga akan mencari adik ketika adiknya menghilang dari pandangan.

Jadi benar ya nasihat teman-teman tentang membiasakan anak dengan adiknya. Enak ke anak, enak ke kita meski awalnya butuh perjuangan.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

The New Me?

Berani tampil.. Itu esensi yang sering ditekankan di kelas Public Speaking Basic. Saya, angkatan 93. Dan hari ini adalah hari terakhir kelas, besok Final Presentation..

Kejadian yang berkesan sekali di acara hari ini justru ketika relaksasi menjelang penutupan acara. Peserta Training diminta untuk memejamkan mata dan membayangkan sebuah tempat yang paling nyaman.

Saya, ketika itu membayangkan sebuah taman yang entah pernah saya lihat darimana. Sebuah taman dengan sebuah kursi panjang dinaungi pepohonan rindang. Di bagian depannya ada sebuah danau luas yang bersih. Di sekeliling taman itu dipenuhi tanaman hijau nan indah (tak jelas bunga atau sekadar daun, maka saya tulis tanaman).

Bayangan taman yang indah itu muncul seketika saat trainer meminta kami membayangkan tempat yang nyaman. Kemudian ketika kami diminta membayangkan sebuah cahaya, entah kenapa muncul sebuah cahaya terang dari atas. Cahaya yang kemudian membuat saya ingin bangkit untuk mendekatinya.

Benar saja, trainer meminta kami mendekati cahaya itu. Tetiba muncul anak tangga, satu demi satu ketika saya melangkahkan kaki. Naik melewati danau, seperti mengawang menuju langit tempat dimana cahaya itu muncul.

Pelan tapi pasti langkah kaki terus menapak di setiap anak tangga yang muncul segera setelah saya mengangkat kaki untuk naik menuju cahaya tadi. Maka ketika trainer meminta kami membayangkan di cahaya itu ada lingkaran, saya menggambarkannya sebagai lingkaran kecil yang perlahan membesar. Dan tanpa diminta cahaya itu data, mendekati tangan saya untuk kemudian saya genggam dan saya masukkan ke dalam dada. Seketika rasanya rongga dada ini terisi penuh dengan cahaya.

Trainer meminta kami melihat ke dalam lingkaran itu tanpa memberi instruksi lebih lanjut. Tapi saya kemudian membayangkan sebuah tempat yang begitu terang. Kemudian ketika trainer meminta kami membayangkan di dalam lingkaran itu ada sesosok yang sedang tampil di depan umum.

Bayangan itu muncul, sebuah panggung besar dengan seseorang yang sedang tampil. Kemudian terbayangkan sedikit demi sedikit seperti yang digambarkan sang trainer. Hingga akhirnya saya membayangkan yang lebih jauh dibanding yang diinstruksikan.

Ketika sosok itu selesai tampil dengan standing applause dan sambutan meriah dari audience, saya melihat sosok mamah, bapak dan anak-anak menatap dengan bangga. Kemudian disambut anak yang lari ke arah sosok itu lalu turun podium. Suami pun mendekati sosok itu dan memeluk ketiganya. Kemudian mamah-bapa memeluk mereka dengan hangat. Ah, sosok itu..

Kemudian sosok itu mengulurkan tangannya, seperti hendak mengajak saya untuk turut serta. Ketika saya menyambut uluran tangannya, ia mengajak saya masuk ke lingkaran itu kemudian tiba-tiba perlahan tangannya melebur, memeluk saya hingga akhirnya keseluruhan sosok itu melebur ke dalam diri saya.

MC pun memanggil dan secara otomatis saya menuju panggung dan menerima a bucket of flowers. Woooww.. is it Me?

NewPerson

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Anak Berbohong

Ah, bab ini sudah lama dibaca sehingga sepertinya saya lupa. Kembali membuka-buka berbagai referensi tentang tindakan berbohong pada anak sambil mencari tahu apakah penyebab anak berbohong itu adalah saya sebagai modelnya?

Belakangan, sulung saya Danisy beberapa kali kedapatan berbohong. Sesekali dalam masanya bermain, dia berbohong yang sebenarnya saya tahu itu cuma bercanda tapi saya selalu mengarahkan bahwa bercanda pun ada adabnya dan sebaiknya tidak ada unsur kebohongan disana.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).

Rupanya ada hal yang saya lupa. Bahwa di dunia anak, ada masanya mereka berimajinasi dan berbohong ini adalah sebuah bagian dari proses perkembangan kepribadian anak. Dibutuhkan keterampilan orang tua untuk mengarahkan dengan tepat. Kenapa tepat? Karena ada masanya dibutuhkan kemampuan berbohong dalam kondisi tertentu. Tugas kita sebagai orang tua mengarahkan sedemikian agar tidak menjadi kebiasaan buruk dan agar anak tidak dimanfaatkan orang lain untuk maksud-maksud buruk.

edu

Cara yang baik dalam mengarahkan tindakan ini adalah dengan mencari kunci penyebab anak berbohong. Dengan mengetahui penyebabnya, kita dapat memberikan nasihat dan sikap yang sesuai.

1. Haus Pujian

Ada beberapa anak yang berbohong karena ingin dipuji. Hal ini didorong oleh naluri egosentris dan cinta diri yang masih dominan pada anak terutama balita. Jika diarahkan dengan benar, naluri haus pujian ini berangsur hilang sesuai perkembangan usia dan kepribadian anak.

Disinilah dituntut kemahiran orang tua mencari sebanyak mungkin kebaikan anak dan memberikan pujian kepadanya. Seringkali untuk hal-hal seperti ini kita abai.

Orang tua mungkin dapat memberikan tugas yang menantang pada anak disesuaikan dengan kemampuannya. Hal ini kelak dimaksudkan untuk kemudian kita memujinya ketika anak berhasil menyelesaikan tugas tersebut.

Mendapatkan pujian pada dasarnya naluriah, toh kita orang dewasa juga sesekali ingin dipuji. Tempatkanlah naluri ini dengan benar sehingga ketika kebutuhan akan pujian terpenuhi, maka anak tak perlu berbohong untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang tua dan lingkungannya.

2. Dunia Fantasi

Bagi anak, dongeng yang mereka dengarkan adalah sebuah penggambaran nyata. Maka berhati-hatilah ketika memilihkan cerita yang akan diberikan pada anak. Salah-salah justru akan menjadi penyebab anak berbohong.

Islam memiliki banyak kisah teladan, kisah satria hebat dan heroik. Sebenarnya kisah ini cukup bagi anak. Selain membangkitkan semangat juga semakin mengenalkan Islam pada anak. Cerita mitos dan sebagainya boleh diceritakan sambil diberi pemahaman bahwa itu hanyalah fiksi dan sampaikan hikmah dari cerita tersebut.

3. Imajinasi

Anak belum bisa membedakan mana yang khayal dan mana yang nyata. Maka kadang kita mendengar celotehan yang mungkin bagi kita tidak masuk akal. Tentang semua imajinasi dan olah pikirnya yang kadang mungkin aneh bagi orang dewasa.

Jangan terlampaui khawatir apalagi menghina imajinasi anak. Hargai saja karena anak yang memiliki imajinasi yang kaya kelak biasanya akan tumbuh menjadi orang kreatif yang sukses dengan ide-ide brilian mereka. Orang tua hanya perlu memberikan pengertian secara perlahan mana imajinasi dan mana kenyataan agar kelak ia paham perbedaannya.

4. Pahitnya Kejujuran

Seringkali kita lupa menanyakan sebab anak bertindak. Apalagi jika misal terkait dengan tindakan terhadap adiknya. Ayah atau ibu lupa, bahwa adik kecil pun bisa membuat kakak jengkel. Ayah ibu selalu  menempatkan adik sebagai sosok tak bersalah dan tentu sasaran kemarahan adalah si kakak.

Tindakan seperti ini akan membentuk sebuah pemahaman dalam pikiran anak bahwa berkata jujur hanya akan mendapatkan respon negatif dan merugikan bahkan bisa membahayakan. Tindakan seperti ini membuat anak kelak akan berbohong untuk membela diri.

Saya lupa dengan ini sehingga terkadang sulung saya berkelit ketika ditanya, yang itu sudah pasti dapat dikenali bahwa dia sedang berbohong. Sulit mengubah mindset yang secara tak sengaja tertanam itu.

Maka sekarang saya coba mengubah teguran langsung untuk tidak berbohong (apalagi sambil marahin dia) menjadi sebuah teguran tak langsung dengan doa yang di-zahar-kan (diucapkan secara keras): “Ya Allah, berikan ummi anak-anak shalih yang jujur. Ummi seneng banget kalo punya anak jujur, ya Allah” dan biasanya si sulung menjawab “apa da Aa mah jujur. ga bohong” Saya senyum mendengar jawaban itu, “lho, ummi kan ga nuduh aa bohong”. Sesekali memang dia jujur tapi saya yang ga percaya, tapi ketika dia memang berbohong saya akan tanya lagi kejadian sebenarnya.

Dan ada saat saya menegur langsung adiknya ketika salah sehingga jika ia jujur ia merasa dihargai, jika ia bohong ia akan mengaku sendiri. Pe-er nih buat saya mengubahnya menjadi lebih baik.

Hargai kejujuran anak meski pahit. Hargai meski ia salah. Menghargai ketika ia jujur tapi salah bukan karena bangga akan kesalahannya tapi karena keberaniannya mengakui kesalahan. Teguran saya ketika si sulung salah, “ya Allah ummi seneng banget kalo punya anak yang ngaku meski dia salah. Itu berarti dia anak berani yang mau ngaku kesalahannya” 😀

5. Menyembunyikan Kesalahan

Di kalimat akhir poin 4 di atas ada tentang menghargai kejujuran anak meski saat salah sekalipun. Nah, disini kita perlu bertindak hati-hati. Hati-hati dalam menegur dan hati-hati dalam menghukum agar anak tetap menjadi anak yang bertanggung jawab atas kesalahannya. Berikan pemahaman tentang mana perbuatan ceroboh, mana perbuatan salah dan mana perbuatan benar.

Penting bagi orang tua untuk menjadi role model yang baik bagi anak. Agar anak tidak berbohong, maka jangan berbohong di depan anak. Ingat, anak belum memiliki filter sehingga semua informasi yang masuk akan masuk tanpa saringan termasuk tindakan negatif. Bahkan ketika kita berbohong untuk kebaikan sekalipun, sebaiknya dihindari jika depan anak karena mereka belum bisa membedakan mana yang untuk tujuan baik dan mana tujuan buruk.

Ketika bertemu dengan anak sepulang sekolah atau main misalnya, maka fokus perhatian kita adalah sisi positif bukan sisi negatif meskipun mungkin bagi orang tua sebenarnya itu adalah bentuk perhatian. Pertanyaan semisal “Aa tadi main sama Kakak nangis ga?” atau “tadi Aa berantem ga sama temennya?” dan sebagainya. Cobalah mulai mengubah pertanyaan menjadi sisi positif atau tanyakan perbuatan baik anak.

Anak masih memiliki keinginan untuk dipuji, maka berikanlah pujian saat ia memang pantas dipuji. Dan tetap peringatkan ketika ia melakukan kesalahan. Katakan bahwa ia salah dan puji ketika ia berbuat positif. Informasi ini akan disimpan anak sebagai bahan untuk menyaring informasi, yang baik akan dipilih dan yang buruk akan coba ia ubah.

Selain membuat anak tidak akan berusaha bohong, terbiasa mendapat pujian yang tepat akan membuat anak percaya diri dan dengan mudah mengapresiasi orang lain dengan pujian. Hal ini menjadi penting terutama jika ia memiliki adik. Ia akan menjadi backing terbaik ayah ibu dalam menghadapi adiknya. Pengalaman saya, kadang adik lebih nurut sama kakaknya dan lebih banyak meniru kakaknya mungkin karena mereka lebih sering berinteraksi. Kakaknya sering jadi “penerjemah” adiknya ketika saya atau abinya tidak paham apa yang diinginkan sang adik.

Pe-er lagi nih.. semangat, Sa ^_^

*poin-poin dan referensi tulisan ini adalah buku Mendidik Anak dengan Cinta, penulisnya bu Irawati Istadi

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ingin Mengeluh

Pernah terpikir ingin mengeluh? Mengeluhkan keadaan kita yang rasanya jadi makhluk paling menderita sedunia. Mengeluhkan kondisi kita yang rasanya paling menyedihkan seantero jagad.

Saya pernah di kondisi seperti itu. Dan Allah sepertinya ingin mengingatkan saya bahwa saya salah. Bagaimanapun saya tetap orang yang paling beruntung di kondisi saya.

Ketika harus berpayah-payah ngangkut paket ke ekspedisi yang berkilo-kilo (kalau pas ga ada motor rasanya kok ya menyedihkan. hehe). Kemarin ngangkut paket untuk dibawa pulang dari ekspedisi karena ternyata beratnya lebih dari estimasi yang saya perkirakan jadi khawatir nombok. Berat. 2 keresek besar. Kejadian yang tidak saya prediksi sebelumnya sehingga saya membiarkan suami pergi setelah mengantarkan ke ekspedisi dan meminta beliau ambil barang  ke supplier yang lumayan bikin motor penuh karena musti angkut 2 karung plus dus 😀

tired-ladyLalu ketika tengah berjalan kaki dari ekspedisi ke rumah mamah, lewatlah beberapa pedagang keliling berpapasan di jalan. Bermacam pikiran berkecamuk ketika melihat pedagang keliling itu lewat? Entah dagangan yang dibawanya banyak ataupun sedikit, nampak ringan ataupun berat.

2 keresek besar yang saya bawa saat itu, bagaimanapun uangnya sudah masuk ke rekening saya. Barangnya sudah pasti laku terjual. Sedangkan para pedagang keliling itu, meski di sisi yang berlawanan dengan arah pulang saya, mereka belum tentu sedang dalam perjalanan pulang. Dan salah satu bagian penting dari pemandangan itu, barang yang mereka bawa belum tentu terjual. Barang yang mereka bawa itu bukan barang yang sudah jelas terjual sehingga beliau hanya tinggal mengantarkannya saja, melainkan barang yang masih mereka jajakan.

Sesampainya di rumah mamah, dihadapkan dengan pesanan undangan yang belum selesai padahal targetnya diserahkan pada pemesan keesokan harinya. Setelah lelah berkutat dengan perjalanan yang lumayan menyita tenaga, kemudian kembali beralih pada pekerjaan berikutnya. Ketika ada deadline seperti ini, tak jarang kami begadang untuk menyelesaikan target.

Lelah pastinya. Jam 21.30 kami baru pulang. Anak sulung kami sudah terlelap sementara anak kedua kami sudah mulai merengek karena ngantuk. Kami angkut mereka ke motor lalu melaju pulang. Saya sendiri masih merasakan kantuk yang luar biasa.

Ah, bekerja hingga malam itu melelahkan. Ingin bisa segera sampai rumah lalu beristirahat dengan tenang #eh. Kemudian ketika mengeluhkan lelah itu, di jalan kami berpapasan dengan seorang pedagang. Tukang baso tahu langganan. Sudah hampir jam 10 malam. Agak jauh juga beliau dari tempat biasa kami beli. Mungkin malam itu dagangannya belum semua habis terjual. Sayangnya saya sudah sangat mengantuk sehingga tidak meminta suami untuk berhenti dan membeli dagangannya, hanya menyapa dari atas motor sambil berlalu.

Tuh kan sa, kamu kerja malem-malem juga karena sesuatu yang sudah “jelas”. Sementara tukang baso tahu tadi malah malam-malam berkeliling menjajakan dagangannya yang itupun beliau masih belum tahu apakah akan berhasil menjualnya atau tidak.

Lalu teringat pada warung yang kami lewati di jalan tadi. Jalanan sudah sepi, rumahnya di gang. Siapa yang akan membeli? Tapi begitulah Allah menegur kita itu dengan cara-cara yang unik.

Bahwa di luar sana masih banyak orang yang diuji dengan lebih berat dibanding kita. Banyak hal yang mesti kita syukuri. Banyak di luaran sana yang bahkan sudah tak bisa menangis karena terlalu lelah

Meski kita sering tertidur di depan laptop karena pekerjaan yang menumpuk, masih banyak orang di luar sana tertidur bukan hanya karena lelahnya bekerja tapi juga perut yang lapar. Ketika kita merasakan lelah karena kegiatan aktifitas harian, kita masih punya rumah untuk pulang. Lihatlah di emperan toko dan kios di luaran sana ada yang menghamparkan dus-dus sekadar untuk dijadikan alas tidur. Ketika pekerjaan kita baru selesai malam hari dan gontai pulang menuju rumah, lihatlah banyak orang justru keluar dari rumahnya untuk mengais rejeki meski hanya mencari apa yang ada di tempat sampah. Yang ketika kita sodorkan makanan dalam box sisa acara tadi siang, ia berterima kasih sedemikian.

Rabbii auzi’nii an asykuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu, wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikashshaalihiin..

doa-syukur-nikmat

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kesedihan

Kesedihan seringkali tak berbentuk

Ia mampu mengaduk rasa menjadi sedemikian rupa

Seperti halnya kebahagiaan yang juga sering tak dapat digambarkan

Kesedihan hadir dengan menghancurkan tembok rasa

 

Hati yang dirundung duka

Membuat gurat luka yang begitu nampak di muka

Maka tersenyumlah untuk menyamarkannya

Sementara saja, sebentar saja

Biarkan senyum menyirami hati hingga ia terbawa bahagia

 

Kesedihan melemahkan pikiran

Kemudian ia melemaskan badan

Maka bergeraklah

Agar badan kembali tegak

Agar pikiran mampu terkontaminasi bahagia

 

Kawan, bolehlah bersedih

Tak ada yang salah dengan rasa sedih

Tapi jangan larut dalam cairan rasa yang memuakkan

Tenggelam dalam lautan sedih kehilangan asa

 

Maka kawan, bersandarlah di pundakku

Biarkan sedihmu luruh

Kemudian kita bangkit bersama

Kembali menjalani kehidupan dengan lebih ceria

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kalian Spesial

Meski sempat kaget karena kehadiran kalian
Tapi aku belajar banyak
Melebihi saat aku bertemu banyak orang

Meski sempat campur aduk karena kehadiran kalian
Tapi aku belajar banyak
Tentang menata peka dan rasa

Kalian orang spesial dalam hidupku
Yang dikirimkan Sang Pencipta untuk menyempurnakan pembelajaranku

Kalian orang spesial dalam hidupku
Yang menjadi titik banyak perubahan diriku

Kalian tak pernah minta untuk hadir
Pun aku hampir tak sering meminta kalian hadir

Tapi Allah yang Maha Hadir
Ia izinkan aku menikmati kehadiran kalian

Meski aku tak pandai merangkai kata
Dan aku tak pandai menyusun doa
Tapi kusisipkan harap untuk kalian

Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kalian
Dimudahkan dalam mencari ilmu dan mengamalkannya
Diberi kekuatan untuk terus tumbuh dan berkembang dengan pondasi aqidah yang lurus dan benar
Hingga Ia senantiasa ridha pada kalian

Bandung, 12 Mei dini hari usai memandangi wajah dan mengecup kening kalian

Love u, boys..

image

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.