Saya Warga Kampoeng

Berbicara tentang kegiatan belakangan, ternyata asyik ya tergabung di grup-grup yang kita benar-benar fokus di grup itu. Dulu tergabung juga sih, di grup-grup kece dengan ember ribuan. Tapi kemudian jarang nengok lagi karena adanya di grup FB.

Nah, baru setahunan ini mungkin ya tergabung di berbagai grup WhatsApp dengan bermacam keilmuan yang dibahas. Jujur, dulu masuk ya cuma masuk aja. Semacam “sekadar mengamankan kesempatan”. Masih kesulitan mengatur waktu untuk mempelajari dan mempraktekkan. Rasanya sibuk ga jelas juntrungan deh kalau seperti itu.

Tapi kemudian saya belajar sedikit demi sedikit fokus setidaknya di beberapa grup ilmu. Salah satunya grup kepenulisan yang baru dibuat sekitar awal tahun ini yang oleh founder-nya diberi nama Kampoeng Kata-kata.

Dari Kampoeng Kata-kata saya belajar banyak hal, utamanya mengenai tulisan apalagi harus setor tulisan sebulan sekali. Ditambah ada kuis-kuis yang mengasah kemampuan menulis entah itu pembiasaan menulis ataupun kreativitas dan spontanitas menulis.

Web ini saya dapatkan sebagai apresiasi, hadiah dari turut sertanya saya dalam lomba #15HariMenulis yang diselernggarakan di Kampoeng Kata-kata. Penyedia kuisnya memberikan hadiah web gratis pada peserta yang mampu bertahan setidaknya memberikan 80% setoran tulisan harian (dari 15 hari, minimal 12 hari setor).

Ketika ada kuis resensi buku, saya yang semula sudah mundur akhirnya terdaftar tidak sengaja. Mulanya saat kuis buku berlangsung, ada kuis dadakan yaitu lomba menyelesaikan membaca novel. Yang paling cepat menyelesaikan novelnya dan dapat menceritakan kembali isi novel tersebut berhak mendapat hadiah. Saya sebenarnya mendaftar untuk lomba menyelesaikan baca novel tersebut. Namun karena ada lomba resensi, kemudian melontarkan pertanyaan “bisa buat resensi juga kan ya? Jadi sekalian.” hihi. Rupanya saya gagal menyelesaikan tantangan baca novel itu karena belum sempat mencari novelnya sudah keburu ada yang menang.

Kuis yang diadakan disepakati tak jauh dari dunia menulis. Baru-baru ini (tepatnya 2 hari lalu) ada kuis menyambung cerita. Penyedia kuis memberikan cerita awal, lalu warga Kampoeng lainnya berhak melanjutkan cerita tersebut. Hasil ceritanya berhasil membuat warga Kampoeng terkekeh-kekeh dengan semua keanehan ide cerita sambungan yang muncul. Menjadi sebuah kisah utuh yang tak terduga. Bermula dari rencana mengukur jalanan, hingga pemilihan lurah, satral, berpindah roh dan perjodohan. Dua toko utama yang disodorkan pemberi ide kuis tentu harus ada di keseluruhan cerita.

Kebersamaan dan kekeluargaan di Kampoeng terasa begitu akrab layaknya sebuah perkampungan. Obrolan ngalor ngidulnya pun tetap penuh ilmu. Alhamdulillah dipertemukan dengan grup yang anggotanya memang orang-orang yang berpengalaman dan mumpuni dalam kepenulisan plus memiliki keilmuan lain yang luar biasa sehingga selalu ada saja ilmu baru yang didapat. Minimal anggotanya suka membaca buku sehingga khazanah ke-buku-an pun bertambah.

Di Kampoeng ada banyak yang dipelajari. Belajar bahasa Inggris, belajar bahasa Arab, belajar tentang resensi, belajar tentang pemerintahan (bukan gosip pemerintah ya), belajar tentang tips menulis, belajar tentang anak, belajar tentang bisnis, tentang keimanan, tentang pemahaman keislaman, tentang pernikahan, dan masih banyak lagi bahasan yang bermanfaat. Saling menyemangati dalam menulis sudah pasti jadi salah satu agenda yang tak perlu diragukan keampuhannya.

Menjadi bagian dari grup yang di dalamnya ada berbagai profesi menjadi kelebihan lainnya. Teman berbagai profesi dengan semangat menulis dan berbagi yang cukup tinggi. Alhasil, selain tersemangati untuk menulis, juga tersemangati untuk terus menggali ilmu. Masyaallah. Barakah untuk semua warga Kampoeng ^_^

kampoeng kata

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Dia Hanya Butuh Waktu

Adakah di antara anak anda yang “pemalu”? Ketika bertemu orang baru atau teman baru, dia nampak malu, ragu untuk bergabung. Jika dia ada di dekat ibu, dia akan lebih memilih untuk berada di sekitar ibu daripada langsung melebur dengan kenalan barunya. Baru setelah disemangati atau saat dia merasa siap bergabung, dia akan turut berbaur.

Bagaimana perasaan ibu ketika itu? Ketika misal ada kumpul ibu-ibu atau arisan yang membawa anak. Di saat anak lain dengan mudahnya melebur, anak kita malah nempel. Apalagi jika ternyata antara anak-anak itu sudah saling kenal, sementara kita pendatang baru. Rasanya malu dan campur aduk.

Sulung saya nampaknya salah satu dari anak “pemalu” itu. Ketika ia di tempat baru, ia akan lebih memilih berada di samping saya atau bermain bersama adiknya. Saya yang sering diingatkan tentang sikap anak, terkadang dapat menyikapinya dengan biasa saja. Memberi dia waktu untuk memperhatikan keadaan. Tapi tak jarang juga saya terprovokasi, “panas” melihat sikapnya dan membandingkan dengan orang lain (meski tak mengucapkannya langsung pada si sulung tentang perbandingan tersebut).

Tapi harus terus belajar melatih diri. Tidak boleh menghakimi dan melabeli dia dengan kata “pemalu” karena akan mengarah pada hal negatif. Kecuali malu dalam urusan syar’i semisal tentang aurat atau adab.

Pernah satu saat berbincang dengan suami, jangan ucapkan hal negatif pada anak-anak termasuk mengenai sikapnya yang kita sudah tahu sendiri sikap itu hanya sikap kehati-hatian anak. Jika dia sudah kenal, pasti dia akan berbaur. Suami berpesan, jangan sampai apa yang terjadi pada dirinya, terulang pada diri anak kami.

Suami dulu seorang yang sebenarnya “suka tampil” alias “pamer” kemampuan (dalam arti positif) hanya saja beliau butuh waktu untuk benar-benar menampilkan kemampuannya. Dan beliau butuh waktu untuk bisa berbaur dengan orang baru. Sayangnya masyarakat terkadang tidak merespon dengan baik kemampuan itu sehingga berulang kali beliau dicap sebagai “Alim itu pemalu (dalam arti yang sangat luas)” dan tidak diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan kemampuannya secara maksimal. Pelabelan berulang akan secara otomatis masuk alam bawah sadar seseorang sehingga akhirnya suami tumbuh menjadi sosok pemalu sekaligus kurang percaya diri padahal sebenarnya dia mampu.

Suami tidak ingin anak-anak kami tumbuh dengan pelabelan negatif seperti itu. Maka kami terus belajar menahan untuk tidak berkomentar negatif pada sikap anak, apalagi di depan orang banyak.

Ketika kami mudik misalnya, sulung kami Danisy cenderung berhati-hati ketika bertemu orang dan terkadang lebih memilih pergi lalu main di luar. Sementara anak kedua kami, Azam lebih mudah berbaur dengan para tamu yang datang bahkan bersedia salim sehingga sudah tentu tamu akan menganggap Azam lebih ramah dibanding kakaknya.

Danisy sendiri memang tidak terlalu ramah, tapi dia tidak kelewat jutek juga. Hanya sedikit ja-im. Mirip sama abinya sehingga Alhamdulillah mertua memahami karakternya meski terkadang kami tegur juga agar tidak melabeli dengan perkataan yang sebenarnya kami tahu itu hanya basa-basi saja tapi kenyataannya anak belum bisa membedakan hal tersebut.

Pada prakteknya memang jadi tantangan tersendiri menyikapi perbedaan anak dengan sikap tenang. Kadang ketika mood tidak baik, ya ada masanya saya iri pada anak lain, membandingkan, memaksa dia untuk sempurna, tidak merespon prestasinya dan tindakan buruk lainnya. Astagfirullah.

Jadi pe-er bagi saya sebagai orang tua sebenarnya bukan sekadar mencari tahu tentang anak tapi juga mencari cara agar sikap positif dan tenang itu selalu ada. Tentu saja dibarengi sikap waspada jika ternyata ada yang salah dalam proses tumbuh kembang anak.

Dia hanya butuh waktu. Sebagai orang tua kita tidak bisa dan tidak boleh memaksa anak untuk menjadi sempurna karena kita pun bukan orang tua yang sempurna. Mari dampingi anak agar tetap tumbuh dalam jalurnya, dan kita pun ikut tumbuh bersama.

anak

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mencatat Jejak Kenangan

Kenangan yang dicatatkan mampu menguak misteri sebuah foto. Catatan kenangan dapat membangkitkan kembali gairah mimpi yang pernah diangankan.

Menulis menjadi sebuah kegiatan menyenangkan kala hati ingin mengungkap kegembiraan. Dan kegembiraan menjadi sebuah penyemangat kala kita kembali ke masa lalu yang dicatatkan.

Sebuah tulisan bisa berisi apa saja. Kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, dan semua rasa yang pernah hinggap di kehidupan. Tapi, lebih dari sekadar meluapkan rasa, tulisan adalah sebuah pengingat di masa depan.

Ketika lelah menyergap, catatan mimpi menggenjot kembali semangat untuk bangkit. Ketika sedih melanda, catatan rasa menguatkan bahwa dulu kita pernah melewati sebuah situasi tak biasa dan menjadi diri kita di masa kini. Ketika bahagia berubah menjadi bunga yang indah, maka catatan kebahagiaan tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui tulisan, dan kelak kau berhak mencium kembali wanginya kala tengah ada dalam gundah sehingga ketenangan hadir menggantikan resah.

Menulis adalah untuk membuat jejak kenangan kita jika satu saat kita butuh penyemangat. Menulis adalah sebuah upaya meninggalkan jejak pelajaran bagi masa kini dan masa mendatang, bahwa kita pernah berada di sebuah kondisi yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Setiap catatan jejak itu dapat kita lihat dari masa kini menjadi sebuah gambaran yang mungkin penuh perjuangan tapi indah. Gambaran yang tak sengaja kita ciptakan karena kita memutuskan memberi tanda pada setiap jejak tersebut dalam sebuah tulisan.

Tulisan bisa jadi penyambung rasa, pemanjang asa, peninggi mimpi dan penguat jiwa. Manakala ada catatan buruk yang tergambar, biarlah ia menjadi kenangan untuk kemudian kita lukis menjadi sesuatu yang indah di masa mendatang sehingga meski sempat nampak seperti gambar yang gagal, ia dapat menjadi gambar yang menakjubkan kelak.

Sesekali kita mencatatkan ilmu yang kita peroleh dalam perjalanan dunia. Kelak ia dapat menjadi amal jariah yang pahalanya tak putus meski ruh sudah meninggalkan jasad. Meski ilmu yang dituliskan tidaklah seberapa, tapi jika ia dapat menjadi penyebab turunnya hidayah Allah sehingga seseorang berubah menjadi sosok yang lebih baik, bukankah hal itu semakna dengan dakwah yang indah?

Ketika catatan pengalaman yang kita tuliskan membuat orang lain mengambil pelajaran darinya, bukankah ia kemudian menjadi ilmu bagi mereka? Sehingga bolehlah kita mengharap aliran kebaikan dihadiahkan Allah untuk kita.

Sesekali catatan rasa mengingatkan orang lain untuk turut merenung tentang rasa itu sendiri, kemudian larut dalam hikmah yang indah maka boleh kan kita berharap tulisan kita menjadi jejak catatan kebaikan di sisi Allah?

Menulis mengungkapkan berbagai hal. Ia mampu menggambarkan hadir kita di hadapan dunia hingga kelak dunia selalu mengharapkan hadir kita secara nyata.

Agar kelak setiap catatan dapat diambil faedahnya. Manakala tak semua mampu kita ucapkan pada mereka yang kita sayangi, maka jika satu saat mereka membaca catatan cinta kita semoga tulisan itu dapat berubah wujud menjadi kado cantik nan membahagiakan.

Manakala tak semua rasa mampu kita utarakan, maka jika satu saat catatan itu dibaca oleh yang terkasih, semoga ada rasa bangga menyeruak bahwa ia adalah orang istimewa yang hatinya ingin kita bahagiakan meski kadang tak terdengar secara langsung.

Jika engkau bertanya mengapa aku menulis? Maka hanya 3 kata yang coba menggambarkan semua rasaku pada tulisan: menuliskan jejak kenangan.

Tentang diri, tentang kehidupan yang dilalui, tentang mereka yang ku kasihi, tentang ilmu yang kucari dan ku dapati, tentang catatan pengalaman yang kuambil pelajaran dan tentang mencatat semua jejak hingga kelak ia dapat menjadi gambaran nyata yang semoga meski tak sempurna tapi ia tetap indah bermakna.

Tulisanku kini banyak bercerita tentang dua lelaki yang Allah anugerahkan. Tentang semua keceriaan yang mereka hadirkan dalam hidupku, tentang semua rasa bahagia yang Ia berikan melalui keduanya dan semua hal tentang kehidupan mereka dari awal hingga saat ini. Mereka adalah dua anak lelaki yang tumbuh dalam pengasuhanku, amanah yang membuatku terus belajar untuk mencari tahu dan berbagi tahu.

Mereka mengajarkan banyak hal padaku hingga aku begitu ingin membaginya pada orang di luar sana. Bahwa anak-anak sedari mereka hadir di dalam rahim seorang ibu, hingga saat mereka mulai belajar mandiri, mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Tentang mereka yang selalu menjadi pembelajar. Tentang mereka yang selalu berbaik sangka pada kedua orang tua mereka, orang sekitar dan terutama pada Tuhannya. Tentang mereka yang mengajarkan arti membahagiakan tanpa menuntut dibahagiakan. Tentang mereka yang tulus berbagi kasih tanpa pamrih. Tentang mereka yang mengajarkan kesabaran dan rasa syukur tanpa banyak alasan. Tentang sikap tawakal dan pantang menyerah. Tentang arti yakin kepada Sang Pemberi Fitrah.

Menulis belajar mengutarakan rasa, asa, cinta dan kebaikan. Melalui tulisan pula kita belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Melalui tulisan pula kita belajar mengutarakan ilmu dan pendapat yang tentu saja sangat mungkin salah tangkap jika kita tak pandai merangkai kata yang menggambarkan mimik muka kepada kawan pembaca.

Menulis memenuhi kebutuhan kita untuk mencatat ilmu yang dirasa penting dan dapat mengaksesnya dengan lebih mudah kelak ketika satu saat kita membutuhkannya kembali. Meski sekadar resep makanan.

ikrar peristiwa

Menulis tidak berbicara tentang bakat. Tapi ia berbicara tentang semangat. Semangat untuk berbagi dan semangat untuk menjalin pertemanan melalui apa yang kita tuliskan.

Jadi, jika anda belum menulis, maka tulislah. Jika tak ada ide untuk menulis, cukup tuliskan “sedang tidak ada ide untuk menulis karena pikiran tengah fokus pada hal lain. Sayangnya hal tersebut menyita waktu yang lumayan sehingga tugas menulis mengenai ‘kenapa harus menulis’ ini baru bisa diselesaikan. Ketika ada waktu luang, digunakan untuk istirahat sejenak dari pekerjaan yang sedang berada di titik garis mati alis deadline. Berbicara tentang deadline, kenapa ia diberi nama deadline ya? Terjemahan bahasa Indonesia tentang deadline itu apa sih? Garis mati kan? Hehe. Apa mungkin kita bisa mati ketika melewati garis itu? Atau justru garis kematian itu sekadar menggambarkan ketakutan yang luar biasa untuk memenuhi jatah waktu yang dipunya guna menyelesaikan pekerjaan tersebut? Padahal tak jarang juga di antara kita yang mengerjakan pekerjaan ya jika sudah mepet deadline kan? Begitulah deadline membuat saya mati kutu menyelesaikan tugas.”

Lihat? Sudah jadi satu tulisan kan? Hehe. Selamat menulis dan mari bersama belajar melalui tulisan (dan membaca, tentu saja) ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Parfum Custom, Parfum Gue

Sejak ikut acara Workshop STIFIn Level 1 (WSL1), saya sudah penasaran dengan sebutan sebuah parfum “Custom” saat pemiliknya memperkenalkan diri di sesi perkenalan peserta WSL1. Seperti apa sih parfum Custom itu. Konon menurut perkenalan pemiliknya, parfum itu disesuaikan dengan tanggal lahir.

Beberapa waktu sejak acara WSL1, saya bahkan sudah hampir lupa mau menanyakan mengenai parfum ini. Kemudian di grup alumni WSL1, ada yang mempromosikan parfum Custom ini. Karena penasaran, saya inbox lah si pengiklan yang merupakan agen dari parfum Custom yang membuat saya penasaran tersebut.

Kang Chuba namanya, nama panggilan tapi memang dikenal dengan nama itu. Saya kirim pesan WhatsApp ke kang Chuba untuk menanyakan perihal parfum Custom yang diberi Merck “Parfum Gue”.

Kenapa disebut Parfum Gue? Karena katanya akan jadi parfum unik bagi setiap orang. Parfum ini diracik sesuai dengan “perhitungan” mengenai si pemesan. Pemesan sendiri akan diminta data berisi:

  • Nama lengkap
  • Tanggal lahir
  • Golongan darah
  • Jenis kelamin

Saya yang jarang sekali menggunakan parfum karena belum menemukan yang cocok akhirnya memesan satu untuk saya sendiri. Sekadar ingin tahu dulu apakah cocok atau tidak.

Dulu pernah sih dapet parfum yang cocok waktu awal nikah, tapi terus lupa namanya jadi ga pernah beli lagi. Hehe.

Setelah dipikir-pikir, sepertinya suami juga butuh parfum. Saya ga terlalu cocok dengan parfum yang beliau beli di supermarket. Maka saya pesankan satu untuk suami. Judulnya sih biar sepasang gituh parfumnya. Xixixi.

Sekitar 1 apa 2 minggu ya, parfumnya sudah siap. Begitu sampai rumah, dicoba deh parfumnya. Hmm.. awal mencium sih kok kayak parfum cowok ya. Apa jangan-jangan ketuker.

Setelah suami coba, kata suami ga ketuker ah. Dan beliau suka dengan parfumnya. Sementara saya sendiri, karena jarang pake parfum jadinya nanya sama suami: “Aa suka ga sama parfum ade?” Alhamdulillah beliau bilang suka, cocok sama saya. Begitu testimoninya.

Lama kelamaan, ternyata memang nyaman menggunakan parfum itu. Wanginya khas. Cuma ya namanya parfum jangan sampe berlebihan biar ga malah menyengat.

Parfum Gue

1 paket parfum terdiri dari packaging eksklusif Parfum Gue dengan botol khas bertuliskan sama, Parfum Gue. Ditambah ada sebuah Family Card yang berisi biodata pemesan berikut rangkaian bahan yang menjadi komposisi parfum pemesan. Di Family Card juga tertera “tebakan” sifat si pemesan. Beberapa cocok, beberapa ya namanya juga perhitungan manusia berdasarkan data kebanyakan. Tipe parfumnya sendiri Eau de toilette. Segera banget digunakan setelah mandi.

Dan ingat, untuk perempuan sebaiknya digunakan di dalam rumah saja ya. Boleh sih dipake saat keluar, tapi sebisa mungkin jangan terlalu tercium wanginya ^_^

 

Oiya lupa, kontak kang Chuba: 0881-9583-134. Langsung kontak beliau aja ya 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Penjual Susu Yang Jujur

Kisah kali ini kita akan membicarakan tentang seorang gadis penjual susu yang jujur. Semoga bisa menjadi tambahan kisah yang dapat dibacakan pada anak sehingga menambah khazanah pengetahuannya akan kisah-kisah bermanfaat terutama dari kisah para salafush-shalih.

Kisah tentang gadis penjual susu ini dimulai pada satu malam ketika khalifah Umar r.a tengah berjalan ke pinggiran kota. Beliau merasa lelah sehingga memutuskan untuk beristirahat sejenak dan bersender pada tembok sebuah rumah.

Ketika tengah bersandar, dari dalam rumah terdengar percakapan ibu dan anak. Sang ibu menyuruh putrinya mencampur susu dagangannya dengan air. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang lebih banyak. Sang anak dengan baik menolak permintaan ibunya, “Saya tidak mau mencampur susu dengan air, Bu karena khalifah Umar telah melarangnya.”

kisah gadis penjual susu yang jujur pada jaman khalifah Umar

Sang ibu kembali membujuk putrinya, “Umar tidak akan tahu bahwa kamu mencampur susu daganganmu dengan air”. Tapi sang anak menjawab, “Umar mungkin tidak mengetahuinya, akan tetapi Rabb-nya pasti tahu, Bu. Saya tidak akan pernah mau melakukannya. Dia telah melarangnya.”

Mendengar percakapan tersebut, khalifah Umar terkesan akan kejujuran sang anak. Khalifah Umar kemudian kembali ke rumahnya dan menyuruh putranya Ashim untuk menikahi gadis tersebut.

Ashim menuruti permintaan ayahnya. Kelak dari keturunan pasangan ini terlahir seorang pemimpin hebat nan shalih, Umar bin Abdul Aziz.

Masyaallah. Sebuah kejujuran hendaknya menjadi sifat wajib bagi kita umat muslim. Karena kejujuran membawa pada kebaikan, dan kebaikan membawa pada surga. Jika ingin anak menjadi pribadi yang bersifat jujur, hendaknya kita sebagai orang tua membiasakan sifat ini pada diri dan keluarga kita.

Wallahu a’lam bish-shawwab. Kisah ini ditulis ulang dari kisah yang disebutkan pada www.muslimkecil.com ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Training Public Speaking Bareng GPS

Apa sih yang pertama kali anda pikirkan ketika mendengar “Public Speaking”? Jika anda menanyakan hal tersebut pada saya, maka saya akan menjawab dengan sederhana: ngomong depan umum.

Ya, meskipun “pengertian sebenarnya” tidak tepat seperti itu. Ketika suami menawarkan saya untuk ikut training public speaking, jawaban saya selalu sama: “tidak, terima kasih”. Karena ketika itu saya pikir “buat apa lah.. toh kan cuma ibu rumah tangga, ga kerja, ga perlu tampil depan umum juga.”

Ya sebenarnya bukan hanya itu alasan saya menolak. Diantara penyebabnya adalah karena lembaga yang ditawarkan suami adalah lembaga yang saya kenal. Di saat orang lain senang karena kalau kenal sama lembaganya berarti dapat dipercaya, saya malah sebaliknya. Bukan karena saya tidak percaya pada lembaganya tapi lebih pada rasa malu saya. Malu ah ketemu mereka, tim dari Ganesha Public Speaking (GPS) Bandung. Apalagi mereka teman-teman suami. Ih ngga banget deh.

Alasan lain yang sering saya kemukakan tentu sudah bisa ditebak. Urusan dana. Yang namanya training profesional begitu, tak mungkin gratis kan? Masuk akal ya alasan saya?

Hingga suatu hari, suami hanya mengatakan begini pada saya: “De, nanti tanggal 9-10 dan 16-17 Mei ikut pelatihan public speaking ya di Tubagus.” Eh, kok tiba-tiba. Menyebalkan sekali kalau sudah begini. Itu berarti suami sudah mendaftarkan saya ke training itu dan mau tidak mau harus mau dong. Kalau ngga, kan bisa hangus uangnya. Huhu..

Tiba saatnya pelatihan. Ada yang aneh? Ada. Mereka disana. Ya iya lah.. Tim GPS pasti disana. Aarrrggghhh.. pengen lari aja rasanya waktu itu. Tapi baiklah. Demi uang yang sudah dikeluarkan. Heuheu.

Ketika kelas dimulai, kaget karena banyak hal tak terduga yang saya dapatkan. Benar-benar di luar dugaan. Dan saya menikmati 3 hari kelas plus 1 hari final presentation yang mendebarkan.

Jadi ada apa aja sih di training Public Speaking Basic-nya GPS? Kok Esa sampai-sampai heboh sekali sepertinya. Mmm, begini ya. Ini saya catat berdasar pengamatan saya saja:

  • Pertama, peserta kelas dibatasi demi efektifitas. Waktu itu kami 6 orang saja.
  • Kedua, kelas diikuti tidak hanya oleh orang Bandung, tapi juga dari luar kota. Teman “sekelas” saya ada dari Jakarta, Tangerang dan Kebumen. Seru kan..
  • Ketiga, dominasi praktek. Ide prakteknya kreatif pula. Apa aja? Rahasia ah. Ikut aja deh trainingnya.
  • Keempat, ada yang namanya “Final Presentation” di dalam Graha Ganesha yang dihadiri oleh puluhan audiens karena setiap peserta diharuskan membawa minimal 3 orang. Kelas Basic Weekday dan Basic Weekend digabung untuk presentasi.
    Ngapain aja di Final Presentation? Nyanyi. Haha.. serius lho disana disuruh bernyanyi. Ditambah mempresentasikan apapun yang dapat disampaikan.
    Syarat ikut Final Presentation harus mengikuti keseluruhan sesi kelas. Bolong satu saja, harus mengulang di training berikutnya.
    FYI: 1 hari dibagi ke dalam 2 sesi. Jadi total 6 sesi pertemuan plus 1 sesi Final Presentation.
  • Kelima, tarif training yang kece menurut para peserta (testimoni langsung dari yang memilih training di GPS setelah membandingkan). Setelah mendengar testimoni teman-teman dari luar kota, rasanya jadi gimana gitu. Ternyata ya harga segitu bagi yang membutuhkan adalah harga yang paling menarik saat saya menganggap harga itu bagi saya mahal 😀
  • Keenam, karena salah satu pembuat kurikulumnya bergerak di dunia NLP, ada sesi “hipnosis”nya juga lho di akhir sesi pertemuan terakhir.
  • Ketujuh, bisa seat-in alias mengulang training di angkatan berikutnya dan angkatan berapapun, bebas. Asal harus komitmen untuk hadir full.
  • Kedelapan, Tempat training memang ruangan yang tidak terlalu luas. Tapi cukup kok sesuai kuota. Nyaman dan ber-AC. Letaknya di tengah kota (jalan Tubagus Ismail)
  • Kesembilan, Bisa dapet copy video penampilan kita. Jadi tahu perkembangan kita per sesi. Kadang malu sendiri dan kadang bangga sendiri. Hehe.
  • Kesepuluh, ada grup alumni
  • Kesebelas, ada gathering alumni bulanan lho. Sharing dan refresh. Bisa dapat ilmu baru, memantapkan ilmu yang sudah didapat, menambah koneksi bahkan dapat free Lele kriuk (hihi, ini sih “gift” saat gathering Ramadhan kemarin)
  • Keduabelas, ada grup per kelas
  • Ketigabelas Trainer yang ramah dan bisa diajak diskusi
  • Keempatbelas mendapatkan masukan dan pesan yang tak terduga di sesi awal. Apa itu? Ikut aja deh.
  • Kelimabelas, bisa dapet kesempatan “pengecekan” tulisan tangan dari direkturnya yang juga seorang trainer graphology.
  • Keenambelas, Ikut paket kelas Basic dan Advance sekaligus, ada harga spesial <3
  • Ketujuhbelas, bisa memilih ikut jadwal di hari kerja atau akhir pekan.

Ada 2 tingkatan kelas dalam training Public Speaking yang diadakan oleh GPS: Basic dan Advance. Di kelas Advance konon diajarkan tentang rahasia tips trik tampil yang kece badai. Kelas Basic khusus untuk yang ingin belajar tampil di khalayak ramai, sementara Advance untuk mereka yang ingin meningkatkan “performa” tampilan mereka seperti tips berpakaian, tips slide presentasi, dan hal lain yang lebih advance.

Itu yang saya rasakan sendiri. Untuk kelebihan dan info lengkap tentang training Public Speaking bisa langsung cek ke webnya saja www.gpssbandung.com dan untuk tanya-tanya, baiknya langsung ke kantor PT. Ganesha Sentra Perubahan/GSP (nama perusahaannya) di Jalan Tubagus Ismail no. 5D lantai 2 untuk mendapatkan presentasi lengkap mengenai training ini ^_^

-paragraf pembukanya panjang banget ya. Hehe. Tak apa lah. Saya masih senang bercerita jadi begitulah.

Begitu aja kesan saya terhadap training Public Speaking Basic yang diadakan oleh Ganesha Public Speaking. Jika teman-teman tertarik tahu lebih jauh, di atas sudah saya sebutkan kontaknya ya 😉

Ganesha Public Speaking Bandung

SStt.. Denger-denger ada GPS Cabang Cirebon juga lho.. Makin sukses deh buat GPS dan PT. GSP ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Hari Pertama Danisy Sekolah Sendiri

Hehe.. beberapa orang mungkin menganggap ini ga perlu. Tapi saya catat sebagai apresiasi saya terhadap anak sulung kami, Danisy.

Pertama kali Danisy sekolah sekitar 2 tahun lalu, sepulang mudik Agustus 2013 saat usianya belum genap 3 tahun. Keinginannya untuk masuk sekolah sangat kuat sehingga kami akhirnya mencarikan sekolah yang tidak terlalu terikat aturan ketat.

Alhamdulillah akhirnya memilih sekolah PAUD di daerah sekitaran sekolah SD saya dulu. Memilih daerah itu karena aktifitas saya dan suami banyak disana. Jadi saya pikir, biar sekalian.

Rupanya cukup sulit untuk bisa menyesuaikan waktu meski alhamdulillah semuanya lancar. Danisy sekolah dengan semangat meskipun lebih banyak main. Syukurlah gurunya mengerti bahwa usia Danisy memang masih masanya main. Paham dan tidak memaksa meski tetap dibujuk untuk ikut kegiatan sekolah.

Sekolahnya memang bukan sekolah favorit seperti sekolah anak teman-teman saya, tapi ketika itu memang hanya mencari sekolah dengan jadwal yang cukup fleksibel terhadap anak. Jaga-jaga jika sesekali Danisy tidak ingin sekolah.

Tahun pertama lancar hingga akhirnya saat prosesi wisuda tiba. Danisy ngamuk ga mau masuk kelas. Kenapa saya bilang ngamuk? Karena nangisnya beneran jerit-jerit mirip tantrum. Saya yang ketika itu sambil  menggendong Azam yang masih bayi agak kewalahan. Akhirnya minta mamah nyusul untuk bantu pegang Azam. Rupanya dia takut melihat fotografernya. Seorang bapak tua brewokan dan memang agak seram tapi cukup baik sih. Langganan sekolah.

Jadi tahun pertama yang seharusnya lulus, Danisy ga mau lanjut lagi. Minta pindah pas kebetulan pernah merasakan daycare yang menurut dia lebih menarik. Daycare yang ada di acara seminar ketika saya ikut seminar parenting. Ya, setelah itu kan daycare-nya ga ada lagi 😀

Tahun berikutnya mencari-cari sekolah karena ingin pindah sekolah. Sayangnya ketika itu saya sedang tidak bisa fokus menemani sekolah sehingga kami mengatakan pada Danisy, “Jangan sekolah dulu deh ya, A”. Danisy merengek ingin sekolah di playgroup yang cukup jauh dari rumah. Kami bujuk hingga akhirnya memilih “Sekolah di sekolah Aa yang lama aja” katanya. Itupun tidak sepenuhnya bisa ikut karena saya sedang -sok- sibuk kesana kemari.

Akhirnya tahun ini menguatkan kembali, oke Danisy mulai sekolah lagi. Tapi saya beri syarat: ga ditemani ya. Hanya diantar, nanti dijemput. Di sekolah hanya sama teman-teman dan guru, ga ditemeni ummi. Rupanya ia menjawab “Iya.”

Selasa adalah hari pertama Danisy sekolah lagi. Saya masih menemani. Rabu sepakat saya benar-benar hanya akan mengantar dan nanti dia dijemput.Saat saya diam sebentar, Danisy malah tanya “Ummi katanya mau anterin Aa aja?” akhirnya saya pulang deh.

Ketika dijemput saya ajak ngobrol, bagaimana perasaannya? Bagaimana pengalamannya selama sekolah?

Danisy menceritakan pengalaman hari pertama sekolah tanpa ditunggui ummi dengan semangat. “Alhamdulillah. Aa sudah bisa mandiri. Ummi seneng dan bangga.” dia menjawab dengan senyum bangga.

Tak terasa, sudah besar ya. Tahun depan insyaallah masuk TK. Bagi saya, Danisy bersedia sekolah sendiri, menjaga amanah yang saya titipkan, adalah sebuah kebahagiaan. Semoga Allah selalu menjaganya.

Pengalaman pertama saya membiarkan Danisy “bersama orang lain” sendiri. Melepaskan anak untuk tumbuh sesuai usianya. Belajar membiarkan ia tumbuh semakin mandiri, menjadi dirinya sendiri dan bersosialisasi dengan orang lain tanpa bayang-bayang orang tuanya. Tidak selamanya anak harus ada “di belakang orang tua”. Anak harus tumbuh sesuai usianya.

Kenapa ga HS? Saya dan suami sejauh ini sepertinya belum siap. Kreasi di rumah tetap ada, sebisa mungkin. Tapi untuk memutuskan HS, suami sendiri sudah angkat tangan. Saya tidak bisa memaksakan karena tidak bisa sendiri menjalankan HS.

Well, apapun itu mau sekolah di pendidikan formal atau home schooling, tetap harus kuat soal home-education-nya. Bismillah. Belajar lagi. Belajar terus. Semoga Allah menguatkan dan mengilhamkan segala kebaikan. Aamiin.

Barakallahu fik, Danisy. Semoga Allah senantiasa menjagamu selalu, agar senantiasa di jalan-Nya, tumbuh sesuai fitrah dari-Nya. Aamiin.

doa untuk anak

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.