Paradoks Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pa.ra.doks: n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menjalankan peran sebagai orang tua merupakan sebuah perjalanan. Kenapa? Bagi saya secara pribadi, menjadi orang tua selalu merupakan proses. Perjalanan itu dimulai sejak seorang perempuan dinyatakan positif hamil. Bahkan segera sejak ijab kabul terucap dari seorang lelaki yang kini disebut suami.

Di tengah hujan sambil menikmati soto mie Bogor, saya merenung. Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjalanan yang panjang. Maka berbekal untuk melewati prosesnya adalah sebuah keharusan.

Bekal seperti apa sih yang perlu disiapkan? Selain keimanan dan ketakwaan, ilmu adalah bekal yang sangat diperlukan. Agar setiap episode yang harus dilewati sepanjang jalan itu dapat kita lewati dengan baik.

Meskipun ada masa dimana kita belajar dari perjalanan itu sendiri, akan tetapi terus memberdayakan diri untuk menjadi orang tua harus tetap dilaksanakan. Sebab tak akan merugi orang yang berilmu. Bukankah mereka akan Allah tinggikan derajatnya?

Dianugerahi 3 anak membuat saya belajar semakin banyak, meskipun masih tambal bolong disana-sini. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan banyak guru yang mengajarkan bagaimana menjalankan peran ini semakin baik setiap waktu.

Guru tak harus mereka yang lebih tinggi ilmunya, tak juga harus lebih tua usianya. Mereka bisa saja justru anak kita sendiri. Dan seringnya, justru anak-anak menjadi guru sekaligus pendamping kita dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Sepakat?

Paradoks Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Belajar tentang fitrah, belajar tentang bagaimana Islam mengajarkan cara mendidik anak, berdiskusi dengan teman-teman, membuat saya menemukan sebuah paradoks dalam pendidikan anak. Setidaknya itu yang saya alami. Dan saat memperhatikan sekitar, paradoks ini pun terjadi pada beberapa keluarga. Mungkin pada sebagian besar orang tua.

Terkadang saya menertawakan diri sendiri. Ah, rasanya geli ya kalau ingat berbagai paradoks yang saya jalankan. Seperti saat sedang sangat ingin menikmati soto mie Bogor tapi malah memesan soto Bandung.

Bayi terlahir dalam keadaan fitrah. Dan semua sepakat fitrah yang dimaksud adalah fitrah untuk menerima syariat sesuai perkembangan usia dan fitrah untuk lebih cenderung pada kebaikan.

Mari kita runut fitrah anak (yang saya ingat) dan betapa kita melakukan paradoks yang menggelikan selama mendidik mereka.

  1. 1. Anak terlahir sensitif terhadap najis.

Anak baru lahir biasanya kita pakaikan popok kain. Setiap kali pipis atau eek, anak akan memperlihatkan ekspresi maupun gerakan pertanda ia tidak nyaman. Lalu semakin beranjak besar, kita mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak) –popok yang memiliki daya tampung banyak untuk beberapa kali pipis, dan selalu dengan iming-iming: nyaman, permukaan kering, dan benefit lain yang menggiurkan.

Maka kemudian dengan alasan “takut tidurnya terganggu karena ga nyaman akibat pipis, makanya dipakaikan pospak saja lah. Biar nyenyak meski berapa kali pipis.

Lalu saat anak mulai besar, semakin lucu berlari kesana kemari, ternyata masih pipis di kasur malem-malem. Kemudian kita kesal kok anak masih saja pipis di kasur?

Padahal.. bukankah kita yang mengajarkan anak untuk “tetap nyenyak meskipun pipis banyak”?

Anda boleh tidak setuju dengan saya. Saya tidak melarang teman-teman mengenakan putra/i-nya pospak ya. Hasna juga masih pake kok. Yang menjadi poin penegasannya adalah: sebelum menghakimi anak ketika malam ia pipis di kasur tapi ga kerasa, susah diajarkan toilet training, atau semacamnya. Mungkin kita perlu evaluasi dulu. Bisa jadi sulitnya anak menjalankan toilet training karena doa kita yang tak sengaja melalui afirmasi/lintasan pikiran dan pembiasaan yang kita jalankan.

  1. 2. Anak terlahir untuk senantiasa bangun di sepertiga malam dan shubuh.

Setiap bayi akan menjadi alarm untuk orang tuanya karena ia terbangun di sepertiga terakhir. Seolah mengajak orang tuanya untuk “yuk ayah, ibu temani aku menghadap Rabb-ku di sepertiga terakhir malam”.

Ia juga mudah sekali bangun kembali saat menjelang shubuh. Maka setiap anak seharusnya mudah bangun pagi. Bukan hanya untuk sekolah, tapi untuk shalat shubuh.

Tapi dengan alasan “kasihan ngantuk. Ah, kan masih kecil biarin aja tidur lagi. Toh kan masih anak-anak, belum wajib shalat.”

Kalimat tersebut tidak salah. Hanya pada keadaan tertentu membuat anak kemudian kehilangan kebiasaannya, fitrahnya tertutupi secara perlahan hingga akhirnya mungkin saja fitrah itu rusak.

  1. 3. Anak senang dan semangat ke masjid.

Pengalaman pada 2 anak lelaki, umumnya di usia mereka sudah bisa berjalan dan bicara mereka semakin tertarik ikut ayah ke masjid. Lagi-lagi karena alasan “masih kecil”, “kasihan”, “repot” dsb, kita mulai menutupi fitrah anak untuk terbiasa berjamaah di masjid.

Tapi kan Teh, memang repot lho bawa anak balita ke masjid. Takut ganggu jamaah lain.

Memang betul. Makanya perlu diajarkan adab di masjid sejak dini. Saat mereka ingin ikut ke masjid, izinkan saja. Jika memungkinkan ibu ikut mendampingi sehingga saat anak ternyata tidak kondusif, ibu bisa turun tangan mengatasi anak sementara ayah tetap bisa berjamaah.

Bagaimana jika tidak bisa mendampingi karena punya bayi, misalnya? Maka diharapkan kesabaran ayah dalam menjaga fitrah itu. Jangan larang anak. Tegur ia baik-baik saat berulah, jangan ditegur di depan umum. Khawatirnya anak jadi takut dan benci masjid.

  1. 4. Anak senang meniru dan bersegera pada ibadah seperti shalat, sedekah, dsb.

Ingin anak shalih tapi kita enggan memperbaiki diri untuk menjadi role model terbaik bagi anak, bukankah itu sebuah paradoks? Padahal anak lebih pandai meniru dibanding mendengar perintah kita.

Saya ga bilang ayah-ibu harus shalih dulu baru punya anak ya. Semua bisa sambil berproses. Kuncinya adalah kesungguhan untuk menjadi lebih baik. Nanti Allah akan kirimkan bantuan yang sesuai.

Ingin anak rajin shalat berjamaah di masjid, tapi ayah shalatnya di rumah di akhir waktu pula. Ingin anak rajin sedekah dan berbagi, tapi ketika ada kesempatan sedekah ternyata ayah-ibu enggan mengeluarkan harta bahkan enggan sekadar berbagi soto mie Bogor yang kita peroleh banyak dari teman, hingga akhirnya malah basi tak termakan. Anak paham dan melihat.

Maka mulai sekarang, hentikan paradoks seperti ini.

  1. 5. Anak terlahir dengan segala sifat baik seperti pemaaf, tidak mudah menyerah dan berani.

Terkadang kita gemas dengan sikap anak yang aktif sekali, ingin mencoba ini-itu, dan mudah sekali main lagi dengan teman yang telah menyakitinya. Ternyata semua itu muncul dari hatinya yang masih jernih.

Tapi kita melarangnya mencoba sesuatu karena menurut kita itu hal berbahaya. Atau menganggap anak ga akan bisa melakukannya. Ah, kreatifitas pun akhirnya harus terkubur tak terasah.

Padahal tindakan kita menyemangati anak saat ia belajar berjalan adalah sikap yang luar biasa harus terus kita jalankan. Sebab seandai saat belajar berjalan lalu kita mengatakan pada sang anak “ah, kamu yang begitu aja ga bisa. Udah ga usah belajar jalan lagi.” Tentu anak-anak (atau bahkan kita sendiri) ga bisa jalan sampai saat ini.

Maka mulai saat ini, yuk ayah bunda sadari apakah dalam pengasuhan kita ada paradoksikal yang dilakukan atau sudah lebih baik? Jika masih ada, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

Mari kita terus belajar menjadi orang tua semangat!

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Mengatasi Bayi Rewel Sore Hari

Kehadiran Hasna di keluarga kecil kami adalah anugerah yang dinanti terutama oleh suami dan para kakek nenek. Beberapa keunikan yang nampak pada Hasna membuat saya belajar lagi.

Yap, setiap anak lahir dengan proses, cara dan tumbuh kembang yang unik. Begitu pula sifat mereka sejak dalam kandungan hingga setelah terlahir ke dunia.

Hal yang baru saya alami saat mengasuh putri kecil kami adalah anaknya sangat sensitif dengan ketidaknyamanan. Entah karena pipis, eek, bahkan urusan suhu. Kesensitifan yang paling membuat geli adalah urusan suhu.

Daerah tempat kami tinggal saat ini cenderung hampir di arah gunung sehingga suhunya dingin. Menurut saya, suami dan kedua kakaknya, Cipageran adalah daerah yang dingin dibanding tempat tinggal kami di Bandung. Awal kami pindah bahkan sampe menggigil saat pagi dan sore menjelang. Jangan tanya kalau malam. Hehe. Begitu pun pendapat orang tua kami. Dan memang demikian menurut tetangga. Dingin.

Ternyata suhu yang cukup rendah tersebut bagi Hasna tidak selalu sesuai. Semula kami tak tahu apa penyebab bayi newborn ini rewel setiap kali menjelang sore.

Saya sempat menduga bahwa Hasna terkena kolik karena dia menangis hampir tanpa jeda setiap sore hari. Maka saya mencari tahu informasi mengenai kolik.

Lakukan Hal Berikut Jika Bayi Rewel Sore Hari

Kolik (colic) merupakan sebuah situasi dimana bayi terus menerus menangis tanpa sebab. Hal ini terjadi pada sekitar 20% bayi di beberapa minggu awal setelah ia lahir dan biasanya berhenti setelah usia 4 bulan.

Tapi bayi yang rewel di sore hari belum tentu karena kolik. Maka coba cek kembali apa yang jadi penyebab anak menangis dan rewel di sore hari.

Penyebab Anak Menangis

Umumnya saat anak menangis, ada ketidaknyamanan yang akan selalu kita coba cari tahu penyebabnya. Sebab bayi belum bisa mengutarakan ketidaknyamannya kecuali dengan menangis. Diantara penyebab anak menangis adalah:

  • Lapar
    Maka susuilah.
  • Pipis atau eek, atau popok sudah penuh (jika menggunakan popok baik popok kain maupun popok sekali pakai)
    Maka bersihkan.
  • Bosan
    Maka ajak anak keluar ruangan atau melakukan kegiatan selain yang sedang dilakukan.
  • Ingin ditemani
    Maka temani anak bermain.
  • Lelah
    Biasanya karena perjalanan atau capek tengkurap (bagi anak yang baru bisa tengkurap) dan ingin kembali rebahan (terlentang).
  • Tak nyaman dengan suhu sekitar
    Suhu ruangan terlalu dingin atau terlalu panas sehingga anak tidak nyaman.
  • Pakaian tak nyaman, misal terlalu ketat
    Pakaian terlalu ketat, basah atau bahannya tidak nyaman dapat membuat bayi menangis.
  • Kondisi ruangan tak nyaman misal terlalu terang atau terlalu gelap
  • Hidung tersumbat
  • Ada dahak di tenggorokannya
  • Badannya sakit
  • Ruam popok
  • Susah buang air besar
    Hasna pernah mengalami ini. Tangisannya mirip rintihan. Duh sedih deh. Cuma bisa elus2 punggung dan pinggangnya sambil memposisikan dia agak jongkok untuk membantu pupnya keluar dengan bantuan gaya gravitasi.
  • Mulas menjelang BAB
    Terkadang beberapa bayi merasakan mulas menjelang buang air besar. Hasna pernah ngalamin. Setelah pup, dia tak lagi menangis.
  • Gumoh
  • Mual (biasanya berujung muntah)

Jika semua pengecekan di atas sudah dilakukan dan anak masih rewel, bisa jadi memang kolik. Sebab dalam kondisi kolik, semua upaya kita menghilangkan ketidaknyaman seperti yang dituliskan di atas menjadi tidak terlalu berefek.

Karena kolik pula lah ada beberapa ibu merasa dirinya tak becus mengurus anak. Apalagi jika tinggal serumah dengan orang tua. Duh, ujian sekali deh. Kemarin sempat begitu soalnya. Hehe.

Padahal kolik sendiri hingga saat ini belum diketahui penyebab pastinya. “Standar” waktu yang diberikan toleransi pada kasus kolik adalah 3 jam (atau lebih) sehari selama sekitar 3 hari dalam seminggu. Dapat terjadi selama 3 pekan atau lebih.

Para ahli sepakat kolik bukanlah gangguan kesehatan dan seringkali tak terdeteksi. Karena seringnya tangisan akibat kolik dimulai sejak petang menjelang malam dalam tempo beberapa jam dengan tangisan yang keras dan tak henti-henti, beberapa orang tua menganggap ini kejadian mistis. Padahal ini adalah hal normal dan insyaallah tidak berdampak buruk untuk tumbuh kembang anak ke depannya.

Fakta Tentang Kolik

Para ahli sepakat bahwa kolik adalah hal yang termasuk normal terjadi pada bayi. Berikut pernyataan beberapa ahli mengenai kolik.

  1. Kolik tidak mengindikasikan ada yang salah dengan tubuh bayi.
  2. Kolik dimulai dan muncul setelah beberapa hari bayi lahir.
  3. Kolik sama sekali bukan kesalahan asuh orang tua. Plis jangan memberikan beban tak perlu untuk ibu yang baru saja melahirkan.
  4. Perut kembung dan masuk angina bukanlah penyebab kolik.
  5. Kejadian kolik tidak ada kaitannya dengan tumbuh kembang dan sifat bayi kelak yang menjadi pemarah. Itu mah murni lingkungan yang mendidiknya jadi pemarah #ups maaf yaa
  6. Kolik insyaallah akan membaik dengan sendirinya tanpa perlu penanganan khusus.
  7. Tenangkan bayi yang terkenan kolik merupakan cara yang dapat dilakukan. Ibu harus tetap tenang yaa.

Saat Bayi Rewel Sore Hari, Benarkah Kolik?

Setelah baca-baca tentang kolik, saya beranggapan Hasna terkena kolik sehingga mencoba lakukan pencegahan agar tidak terjadi lagi pada Hasna. Hanya saja waktu itu data yang saya peroleh lebih pada makanan yang perlu dihindari.

Saya yang menikmati sekali me time dengan segelas coklat hangat harus rela menghentikannya karena coklat konon termasuk yang bisa menjadi penyebab kolik (meskipun data ini masih dipertanyakan validitasnya). Makanan yang perlu dihindari bisa coba cek gambar di bawah ini.

Hingga satu saat, mamah yang sedang mengantar adik ipar cek kandungan ke bidan tempat saya lahiran menanyakan perihal Hasna pada bu bidan. Tips dari ibu bidan Cuma 1: “coba dimandikan pakai air hangat. Anak pertama saya seperti itu.” Dicoba lah tips itu dan cukup berhasil.

Kenapa dikatakan “cukup”? Karena ada saat dimana Hasna tetap rewel.

Sebelumnya setiap sore Hasna tidak dimandikan tapi hanya diseka menggunakan waslap karena beberapa kekhawatiran. Ternyata Hasna sangat sensitif dengan suhu. Siang menjelang sore mungkin saat yang tak nyaman karena pergantian suhu.

Ditambah beberapa kali kena ASI sepertinya membuat Hasna ga nyaman. Kareunang kalau istilah sundanya mah. Mandi selain menyegarkan tubuh karena terbebas dari bekas ASI dan keringat, juga bisa bantu mengatur suhu.

Setelah coba tips untuk memandikan Hasna di sore hari, beberapa hari tenang tapi ga lama kemudian masih juga ada momen terulang. Mukanya merah. Ternyata dia kegerahan.

Maka kami inisiatif setiap kali mukanya merah, dikipasi dengan kipas biasa. Ga berani lagi pake kipas angin karena pernah dicoba saat di rumah mamah. Kejadiannya malah saya masuk angin dan bayinya pilek.

Setelah ketemu kemungkinan penyebab Hasna rewel, kami selalu lakukan hal yang sama saat melihat mukanya memerah. Dan alhamdulillah sejauh ini jarang sekali rewel sore maupun menjelang maghrib kecuali karena kepanasan.

Karena sudah tahu salah satu penyebab ketidaknyamanan Hasna adalah suhu yang menurut dia terlalu panas, maka kami paham ketika kemarin ke Jakarta dia masih rewel rupanya AC kamar hotel kurang dingin (padahal itu sudah 23 dan menurut kami dingin). Ketika di perjalanan saya pakaikan dia jaket dan jilbab agar hangat, khawatir kedinginan kena AC mobil ternyata malah ga bisa tidur nyenyak. Setelah jaket dan jilbab dilepas, hanya kaos pendek dan celana panjang, ia anteng sampai tujuan. Subhanallah yaa 😀

Jadi jika bayi anda rewel sore hari, mungkin penyebabnya kolik atau malah sesederhana pengen mandi sore maupun sekadar kegerahan ingin dikipasi.  Selamat belajar mengasuh bayi ibu dan ayah 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Kakek Nenek Berkunjung

Mendidik anak sesungguhnya adalah seni mendidik diri sendiri. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa jadi role model bagi anak. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga aliran cinta antara suami dan istri lancar, memancar indah dan dirasakan oleh anak-anak beserta mereka yang terlibat di keseluruhan cerita rumah tangga yang tengah dibangun. Agar tangga ini sampai ke surgaNya.

Nah, dalam proses perjalanan mendidik anak ini tentu ada banyak faktor sampingan sebagai pelengkap. Termasuk diantaranya kehadiran keluarga besar. Dan saat saya perhatikan, seringkali yang jadi sorotan adalah kehadiran kakek nenek yang biasanya disebut “penyelamat” (beberapa orang ngomong begitu sambil gemes. Heuheu)

Kehadiran pihak ketiga dalam proses Pendidikan anak memang menjadi ujian tersendiri terutama bagi para orang tua muda (Bahasa apa ini orang tua muda? Wkwkwk). Bagi pasangan yang memiliki impian ideal tentang bagaimana anak-anak mereka dididik, terkadang terbentur saat berhadapan dengan para orang tua.

Ketika Kita dan Orang Tua Berbeda Pendapat Tentang Anak

Tidak semua orang tua mau terbuka dengan perbedaan pendapat dan perbedaan cara. Dan meski terbuka dengan perubahan sekalipun, kasih sayang kakek nenek pada cucu konon (menurut pengakuan mamah saya) melebihi rasa sayang ke anak. Ah, pantesan ortu suka bikin aye iri ama anak-anak. Secara ya, hampir semua keinginan dipenuhi selama mereka bisa memenuhinya.

Mamah sebetulnya mendukung gaya didik saya. Keterbukaan mamah terhadap perbedaan pendapat dan perubahan gaya asuh baru seperti anugerah bagi saya karena anak-anak akan beberapa kali dititip ke mamah. Baru ngeh kenapa kok ngasih tahu mamah tentang rencana gaya didik kami mudah banget. Ternyata karena beliau ini berdasarkan tes STIFIn adalah orang Intuiting extrovert yang memang cenderung menyukai perubahan alias ga masalah kalaupun gaya didik anak-mantunya ga ngikuti gaya jaman dulu. Ya, setidaknya si sulung dulu sering dititip saat saya kuliah dan berasa banget senengnya. Hihi.

Alhamdulillah kami masih memiliki orang tua lengkap. Artinya, anak-anak kami punya 2 kakek dan 2 nenek. Yap, nikmat yang sudah sepatutnya disyukuri.

Ujian hadir ketika kakek-nenek berkunjung dan menginap di rumah atau saat kami berkunjung dan menginap di rumah kakek nenek. Yang paling kentara sebenarnya saat para orang tua berkunjung ke rumah kami sebab tentu anak-anak paham aturan rumah. Dan momen kakek nenek di rumah menjadi bagian dari momen yang bikin awkward.

Ya maklumlah para orang tua ini ingin mengekspresikan rasa kasih sayangnya pada cucu. Mumpung ada disini, katanya.

Awal-awal saya (dan suami) sering spaneng dengan perbedaan dan “kebandelan” para orang tua terkait sikap terhadap anak. Tapi kesini-sini, kami berpikir “kenapa sih kita harus sedemikian keras pada orang tua? Toh kan ‘pelanggaran’ mereka atas aturan rumah juga ga kemudian bikin kita masuk neraka” ekstrim ya? Biarin deh. Hehe.

Maksudnya gini lho.

Ada saat dimana kita perlu tegas pada anak-anak. Perbedaan antara kami dengan orang tua akan selalu dikomunikasikan pada anak-anak segera setelah kakek-nenek pulang, atau saat pillow talk.

Segala gaya didik selalu kami upayakan agar orang tua paham, apa, bagaimana dan juklaknya. Dalam pelaksanaan, terkadang rasa rikuh maupun sayang menjadi penyebab sikap mereka seolah bertentangan dengan keinginan kita.

Semula kami sering menegur anak-anak dengan keras di depan orang tua kami. Sesekali kami meminta orang tua untuk tahan berkomentar. Ah, bukankah itu akan menyakiti mereka?

Akhirnya kami sepakat, toh ini hanya sementara. Meski ada rasa kesal mah wajar ya, namanya juga manusia 😀

Perlu digarisbawahi untuk hal-hal yang memang sangat perlu kita jaga, diantaranya syariat. Misal aturan tentang shalat jamaah di awal waktu, di masjid. Tentu tidak ada toleransi untuk hal tersebut selama tidak ada udzur syar’i.

Dan untuk aturan-aturan yang sekiranya tidak terlalu saklek terkait syariat, adab, etika dsb, maka berilah kelonggaran. Biarkan para kakek nenek mengekspresikan kasih sayangnya dengan caranya.

Mengizinkan mereka mengekspresikan kasih sayang bukan berarti kita membiarkan begitu saja. Tetap perlu ada komunikasi terkait hal-hal yang sebaiknya disepakati di rumah.

Dan yang perlu kita terus ingat: bersyukurlah masih memiliki kakek nenek alias orang tua kita masih ada. Banyak di luar sana yang sudah tak memiliki orang tua sehingga justru rindu melanda. Semoga toleransi yang kita berikan, dicatat sebagai kebaikan dan pahala berbakti serta membahagiakan orang tua. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Anak Ketagihan Gadget Atau Ortu yang Keranjingan Gadget?

Setelah seringkali memperhatikan anak-anak baik Danisy-Azam maupun yang lain, fitrah anak itu sebenarnya SENANG alias SUKA sama ILMU. Termasuk di dalamnya, suka sama buku -salah satu sumber ilmu. Eatlah, makanlah dengan lahap semua ilmu.

Selama ibu dan ayahnya bersedia MELUANGKAN  WAKTU  untuk MEMBACAKAN buku atau berkomunikasi hal-hal terkait ilmu maupun pengetahuan, anak biasanya akan tertarik.

Hanya saja kadang kita terlalu sibuk pada urusan lain. Saya pribadi menyadari, kadang sering terlalu sibuk dengan pekerjaan atau hp. Dan ga jarang ternyata kegiatan itu ga ada gunanya karena “cuma” haha hihi di grup ngomongin eatlah, ngomongin chatime lah, misalnya. Waktu habis untuk scroll timeline fb contohnya, dan masih banyak contoh lain. Mungkin teman-teman mau menambahkan? 😀

Sudah sebulan ini asyik dan senang melihat Azam ketagihan dibacakan buku -meskipun emaknya ini sempet keder karena minta dibacain dari pagi ampe malem. Apalagi ada bayi #halesan

Jadi, benar adanya apa yang dikatakan di berbagai artikel parenting bahwa anak yang ketagihan gadget bisa jadi memang anak yang kurang perhatian. Ibu bapaknya ada, tapi tidak sepenuhnya hadir. Jasadnya ada, tapi hati tidak saling terpaut. Fisiknya terlihat tapi hatinya tidak turut serta.

Sedangkan jiwa akan saling bertemu dengan yang frekuensinya sama. Jiwa anak yang masih bersih dan sensitif terhadap resonansi sekitar tentu akan sangat sadar kapan orang tuanya betul-betul HADIR dengan saat dimana orang tuanya HANYA ada disana. Tidak sepenuhnya memperhatikan dirinya.

Pada ANAK, jiwa mereka masih sangat DEKAT dengan FITRAH sehingga kita sebagai ORANG TUA yang perlu terus MEMPERBAIKI DIRI agar semakin mendekati fitrah kebaikan.

Maka diperlukan komitmen yang luar biasa besar untuk bisa membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, hobi (diri sendiri juga berhak dong dapet pemanjaan sesaat), keluarga, pasangan, dan hal lainnya yang mampir dalam kehidupan kita. Sebab melepaskan anak dari gadget itu harus diawali dengan niat dan diperkuat contoh dari kita.

Coba ingat-ingat, berapa kali kita melarang anak main hp terus tapi ternyata justru kita sedang asyik browsing resep, chit chat, main game, atau sekadar update status facebook? Sehingga anak yang cenderung lebih mudah diarahkan itu akhirnya protes “kok ummi pegang hp aja?” nah lho..

Pengalaman saya melepaskan Azam anak kedua kami dari ketergantungan sama gadget, yang kudu pertama kali melepas ketergantungan gadget adalah emak bapaknya. Meskipun anak-anak paham ada saat dimana saya pegang hp untuk kerja. Maklum ya emak-emak eksis, yang konsultasi hasil tes STIFIn-nya pan seringkali via whatsapp. Tapi mereka bisa lihat kok. Kalau yang dibuka WA memang artinya ummi sedang ada konsul, sedang ngisi kelas atau sedang ada kerjaan lain. Ya sesekali lirik grup haha hihi yang bahasannya selalu berakhir dengan eatlah 😛

So, sebelum menghakimi anakku seneng gadget (dan meminta bantuan ahli), coba dulu aja tips sederhananya: perbanyak bercengkrama, kurangi pegang hp saat acara keluarga, jadilah contoh pengguna gadget yang bijak. Karena pada akhirnya tanpa disadari sesungguhnya anak meniru kita orang tuanya.

Saya sadar mulai ketagihan gadget itu ya saat tiba-tiba.. sedikit-sedikit pegang hp, dikit-dikit lirik hp, buka tutup kunci hp, buka-buka wa, facebook dll tanpa ada tujuan sama sekali. See? Jadi yang ketagihan gadget itu anaknya apa emak bapaknya?

Catat: yang saya bahas ketagihan ya. Kalo masih bisa ditolerir ngikuti aturan mah berarti bukan ketagihan kan? Sebab bagaimana pun kelak mereka akan terbiasa. Kita yang perlu memberitahu mereka mana yang perlu, kapan diperbolehkan menggunakan gadget, dsb.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjalin Komunikasi

We cannot not communicate – Paul Watzlawik

Quote ini banyak beredar dan disebutkan di berbagai kesempatan terkait komunikasi. Menarik memang sebab quote sederhana ini nyatanya tidaklah sederhana. “Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi”. Meluruskan kembali bahwa berkomunikasi bukanlah sekadar berbicara, ngobrol atau berbincang saja. Ada banyak faktor dalam sebuah kata bernama komunikasi.

Komunikasi adalah sebuah skill yang perlu terus diasah guna membangun hubungan yang sehat dengan siapapun. Berbicara hanyalah salah satu seni berkomunikasi. Lebih dari 50% masalah dalam rumah tangga maupun kehidupan secara umum diakibatkan komunikasi yang buruk. Memang terkesan klise tapi faktanya belum banyak yang menyengajakan belajar cara komunikasi yang berkualitas.

Seperti saat jalan-jalan di luar, suami memutuskan mampir di warung nasi gudeg sementara anak-anak tidak terlalu suka (nampak dari gerak mimik muka maupun tubuh mereka). Itu adalah bagian dari komunikasi juga. Maka kami mengkomunikasikan dengan memberi beberapa pilihan, akhirnya anak-anak membeli ayam goreng.

Menjalin Komunikasi Dengan Anak Sejak Dini

Sejak kecil semua manusia (bahkan hewan) sudah mampu berkomunikasi meski dengan cara yang paling sederhana: menangis, tersenyum, rewel, ceria. Semua bagian dari komunikasi.

Sejak saat itu pula kita sudah menjalin komunikasi dengan bayi, bahkan sejak ia berada dalam kandungan. Di usia janin yang sudah cukup besar, ia membalas komunikasi kita dengan tendangan di perut ibu, atau respon lainnya.

Di hampir setiap kesempatan, selalu ada komunikasi yang terjalin meski dalam kondisi diam sekalipun. Begitu pula dengan anak-anak. Mereka mampu menjalin komunikasi dengan para orang dewasa dengan caranya sendiri.

Namun pada beberapa situasi setelah anak memasuki fase balita, ada momen bernama tantrum. Momen dimana anak menginginkan sesuatu atau merasakan ketidaknyamanan, namun belum mampu mengutarakan dengan baik sementara orang dewasa tidak mengerti keinginannya.

Anak hadir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, maka menjalin komunikasi ini penting dilakukan sejak dini agar ia terbiasa untuk belajar berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Mengajak ia belajar mengutarakan perasaan maupun hal lainnya.

Anak yang lingkungannya memiliki gaya komunikasi yang baik cenderung akan tumbuh memiliki emotional intelligence yang baik.

Masih ingat cerita mampir di warung nasi gudeg? Anak-anak yang sedang lapar mencari-cari tempat yang mereka inginkan tapi tak juga menemukannya dan ketika terlihat, tempatnya sudah kadung terlewat. Sementara kami pun sudah sangat lapar pula setelah melewati perjalanan cukup melelahkan. Suami yang nyetir akhirnya memutuskan untuk mencari warung makan terdekat.

Setelah melaju kembali beberapa saat, tempat makan yang klop di selera suami ya paling warung nasi gudeg itu. Kami pun mampir. Anak-anak tentu agak malas turun. Tapi kami mengajak mereka berbicara. Memberikan beberapa pertimbangan dan kemungkinan. Bagaimanapun karena menyetir, suami yang paling butuh asupan makanan.

Akhirnya dengan lunglai mereka turun dari kendaraan menuju warung nasi gudeg yang dimaksud abinya. Setelah melihat-lihat, akhirnya wajah mereka agak sumringah karena ternyata ada menu lain disana: ayam goreng. Syukurlah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali mampir, 4 orang bisa makan di tempat yang sama meski seleranya berbeda.

Tips Menjalin Komunikasi

Dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak maupun keluarga secara umum, maka perhatikan 5 poin berikut:

  1. Jadilah pendengar yang baik
  2. Hati-hati dengan asumsi
  3. Perhatikan intonasi
  4. Sensitive memahami Bahasa tubuh
  5. Nyalakan rada terhadap sekecil apapun perubahan

Kelima poin di atas saya dapati dalam buku Menikah Untuk Bahagia. Saat mencoba menjalin komunikasi dengan anak, salah satu tipsnya adalah: sejajarkan diri entah dengan berlutut, duduk atau membungkuk. Hadirkan hati dan pikiran: mindfulness.

Saat anak mengucapkan atau melakukan sesuatu, konfirmasikan padanya apakah asumsi kita benar atau salah. Jangan berasumsi sembarangan. Bisa jadi bukan seperti itu maksud si anak.

Anak sangat sensitive dengan intonasi. Apalagi mereka jago sekali mengenali pola bicara dan gerak tubuh orang tuanya. Maka saat berbicara perhatikan intonasi kita. Agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

Sebagai orang tua, kita setidaknya paham lebih banyak tentang Bahasa tubuh anak kita. Maka ketika ia tiba-tiba tidak Nampak seperti biasanya, ayah bunda patut waspada. Dekati dengan hati-hati, buat dia nyaman. Setelah itu jika ia tak ingin bercerita, biarkanlah dulu. Jika kemudian ia ingin bercerita, maka jadilah pendengar yang baik. Dengarkan hingga selesai, baru beri masukan atau pendapat.

Selamat belajar komunikasi. Mari menjalin komunikasi yang baik dengan anak, pasangan dan manusia secara umum.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Dukungan Bagi Seorang Ibu, Bahan Bakar Cinta Baginya

Demi menjaga mood, seorang ibu terkadang harus belajar mendelegasikan pekerjaan yang sekiranya bisa diserahkan atau memilih prioritas mana yang perlu dan urgent diselesaikan dan mana yang bisa ditunda terlebih dahulu. Memiliki bayi dengan kakak usia 7 tahun dan 4 tahun cukup menjadi sebuah situasi dimana emak kudu waras. Heuheu.

Membaca berbagai status para ibu yang berseliweran di timeline alias linimasa akun facebook, terkadang saya menangkap ada dilema yang dialami oleh beberapa ibu. Biasanya terkait pekerjaan rumah, mencari penghasilan tambahan (entah karena nafkah dari suami kurang atau apapun itu, saya kurang paham), memasak atau beli makanan jadi di luar, sifat perfeksionis, dan lain sebagainya.

Saya sendiri paham bahwa tidak mudah untuk seseorang yang perfeksionis menurunkan standarnya sebab suami termasuk yang perfeksionis. Awal-awal nikah beliau sering uring-uringan jika melihat cara saya bekerja.

Rumah yang bagi saya sudah rapi, menurut standar beliau masih jauh dari kata “bagus”. Akhirnya bisa ditebak, kami berselisih bahwa saya sudah berusaha merapikan serapi mungkin dan itu sudah di atas standar.

Setelah melakukan tes STIFIn barulah kami sadar bahwa ada perbedaan yang memang sangat bertolak belakang antara saya dan suami. Suami yang Thinking sangat peka penglihatannya sedangkan saya yang Feeling cenderung tidak terlalu peka dengan kerapian seperti itu.

Meskipun pada beberapa kasus, saya lebih rapi dari beliau. Tapi secara keseluruhan, beliau lebih peka. Akhirnya kami sepakat mengambil jalan tengah. Saya memperbaiki, suami menurunkan standarnya.

Kembali pada sifat perfeksionis, setelah menjadi ibu -lebih tepatnya setelah berkeluarga, dan tak hanya berlaku pada seorang istri sebetulnya- kita akan dihadapkan pada realitas untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan baru dengan keluarga baru. Apalagi adaptasi memiliki anak, bertambahlah tugas dan kewajiban sebagai seorang individu.

Bentuk Dukungan untuk Seorang Ibu

Dengan semakin maraknya sosial media dan terbukanya akses internet di berbagai kalangan, bermacam informasi dengan sangat mudah kita dapatkan. Termasuk berbagai komentar pun akan dengan mudah masuk ke kehidupan kita. Maka kontrol dalam diri perlu diperkuat.

Tak jarang saat ada seorang ibu membuat status yang kurang lebih isinya seperti keluhan atau curhat, berbagai komentar baik berupa dukungan maupun yang kontra akan masuk. Maka jika tidak kuat dengan hal tersebut, disarankan untuk para ibu agar tidak mengumbar urusan internal ke luar.

Dukungan bagi seorang ibu terkadang sederhana. Suami mengizinkan istri mencuci dengan mesin, memasak nasi menggunakan magicom, sesekali jajan di luar. Dan tentu akan sangat membahagiakan jika suami memfasilitasi itu semua. Seperti saat jalan-jalan di Jakarta lalu berinisiatif mencari tempat makan di blok M saat makan siang tiba. Hehe.

Sebagai seorang istri, yang saya rasakan memang dukungan suami terhadap mood istri itu memiliki persentase yang luar biasa. Meskipun dukungan lingkungan secara menyeluruh juga diperlukan, akan tetapi dukungan suami itu menjadi peran kunci menurut saya mah.

Sebab jika suami sudah sejalan, rintangan dan tantangan dari pihak luar entah itu keluarga besar, tetangga, teman, kerabat dsb, tidak akan terlalu membuat seorang ibu tertekan. Ia memiliki tempat bercerita, bersandar dan berbagi kekuatan.

Suami perlu sadar bahwa dirinya dapat menjadi sumber energi besar bagi seorang istri. Dan sebaliknya, istri pun adalah sumber energi besar bagi seorang suami.

Teringat saat ada acara kopdar di Jakarta beberapa tahun lalu. Suami tahu bahwa saya butuh refreshing, bertemu langsung dengan teman yang sudah kenal lama di dunia maya akan membahagiakan sekali. Sayangnya ia tak dapat menemani saya pergi sementara saat itu kami sudah memiliki 2 putra, satu bayi dan satu balita. Terbayang jika berangkat sendiri.

Akhirnya suami mengizinkan saya berangkat dengan mengajak mamah turut serta. Semata memastikan saya tidak pergi sendiri dan ada teman untuk bantu jaga anak-anak.

Pertemuan seharian dengan teman dunia maya di area tempat makan di blok M itu cukup menjadi mood booster saya selama berhari-hari. Suami paham saya sedang jenuh karena kondisi saat itu saya yang terbiasa bekerja di luar dan kuliah, akhirnya tinggal di rumah.

Ibu, Tetaplah Menjadi Dirimu

Menjadi ibu artinya kita menjadi tumpuan perhatian dalam keluarga. Suami dan anak-anak membutuhkan ibu hadir untuk memenuhi hati mereka dengan kasih sayang. Ya, sebetulnya kebutuhan anak dan suami adalah ibu hadir dengan kasih sayangnya.

Akan tetapi, karena tumbuh di budaya timur kita terbiasa mengerti bahwa ibu melakukan segala pekerjaan rumah tanpa harus memikirkan diri sendiri. Istilahnya, berkorban untuk anak dan suami. Berada di balik kesuksesan mereka.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu. Hanya saja terkadang hal tersebut membuat seorang ibu kehilangan dirinya.

Meskipun berdasarkan pengalaman saya pribadi, memang setelah menjadi istri dan ibu rasanya panggilan jiwa lebih fokus pada mendahulukan mereka dibanding diri sendiri. Akan tetapi suami sering mengingatkan bahwa saya berhak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri. Agar tetap perform sebagai pribadi dan mampu menghadirkan nyala api cinta dari dalam diri.

Saat acara kopdar seperti saya sebutkan sebelumnya, suami nitip pesan: “ade nikmati waktu disana” dan saya yang mengajak mamah turut serta jadi teringat untuk membuat mamah menikmati waktu juga. Mengajak mamah mengitari tempat makan di blok M bukanlah hal mudah.

Dengan berbagai alasan menolak makan. Mungkin khawatir uang yang dikeluarkan banyak dan lain sebagainya. Setelah agak dipaksa barulah mamah bersedia memilih-milih menu makan disana. Ya, ternyata begitu kalau sudah jadi ibu ya. Memikirkan banyak hal dan lebih baik menahan keinginan.

Maka saya dan suami sepakat, jika ada yang saya inginkan maka harus dikomunikasikan meskipun tidak semuanya dapat dipenuhi. Setidaknya saya sudah mengeluarkan “uneg-uneg” dan suami tahu isi hati istrinya.

Bicarakan dengan suami untuk saat-saat kita menikmati waktu. Tidak harus bepergian. Sekadar menikmati camilan kesukaan, menyisihkan uang untuk jajan di sekolah anak-anak meskipun jajanan murah meriah tapi memang kita suka, atau hal-hal kecil yang kita bahagia melakukannya dan dapat menjadi salah satu bahan bakar nyala api cinta dan semangat dalam diri kita.

Jadi bu, tetaplah menjadi dirimu dan teruslah menjadi lebih baik. Berbuat baiklah pada orang lain tapi jangan lupa berbuat baik pada dirimu sendiri.

Selamat menyalakan api cinta dan menyebarkannya. Be a loving care mom ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Gule atau Gulai, Seperti Apa Sih?

Tiba-tiba kepikiran pengen makan gule enak kali ya. Jam segini busui biasanya udah laper lagi. Eh, itu saya sih. Ga tau yang lain 😀

Berhubung ga masak, kalau pas lagi laper di jaman sekarang mah langsung cus ke Google. Googling tempat yang menyediakan gulai dan bisa dibeli secara online atau setidaknya nitip suami beliin pas pulang jemput bocah. Yang teringat ada gulai tikungan blok M, gulai di tukang nasi padang, tukang sate (yap, di hampir setiap tukang sate ada gulai dijual pula, apalagi sate kambing). Huwaa yummy kayaknya nih. Udah ngiler aja.

Pengertian Gulai

Gule sendiri secara Bahasa aslinya harusna ditulis gulai ya. Gule mah Bahasa sunda. Hihi.

Berdasarkan pengertian Wikipedia, gulai adalah masakan dengan baku daging ayam, berbagai jenis ikan, kambing, sapi, jeroan, ataupun sayuran seperti nangka muda (yang umum ada) dan daun singkong. Gulai diolah dalam kuah bumbu rempah dengan cita rasa gurih.

Ciri khas gulai ada pada bumbunya yang kental, kaya akan rempah. Rempah bumbu gulai terdiri dari kunyit, ketumbar, lada, lengkuas, jahe, cabe merah, bawang merah, bawang putih, adas, pala, serai, kayu manis dan jintan yang dihaluskan, dicampur, lalu dimasak dalam santan.

Gulai memiliki ciri khas berwarna kuning karena pengaruh kuat dari kunyit. Makanan ini dianggap sebagai bentuk lain dari kari, dan memang di dunia internasional disebut sebagai kari ala Indonesia. Ya meskipun dalam seni kuliner Indonesia juga ada ditemukan kari.

Variasi Gulai

Gulai merupakan satu dari sekian jenis hidangan yang tersebar luas di Nusantara terutama di wilayah Sumatera dan Jawa. Hidangan ini dikatakan berasal dari Sumatera yang merupakan hasil pengaruh dan penerapan seni memasak India yang kaya akan rempah dan bumbu seperti kari.

Gulai merupakan salah satu bumbu hidangan dasar yang paling dikenal dalam Masakan Minangkabau. Kuah gulai yang berwarna kuning menjadi bumbu dan memberikan cita rasa untuk berbagai macam hidangan yang disajikan di rumah makan Padang. Yaks, ngiler deh. Keinget lagi gulai tikungan blok M nih.

Kuah atau bumbu gulai biasanya kental jika tersaji sebagai hidangan Minangkabau, Melayu, dan Aceh. Nah, tapi di tatar Jawa mah kuah gulai lebih cair. Ya, saya merhatiin mamah sama mertua saat masak gule termasuk pas aqiqah Hasna beberapa bulan lalu. Jadi lebih mirip sup yang dihidangkan panas-panas. Biasanya sih isinya daging atau jeroan kambing.

Gulai biasanya disajikan bersama nasi panas. Enak banget itu. Tapi memang di beberapa resep seperti gulai kambing, bisa juga dihidangkan bersama roti canai.

Berikut ini adalah variasi gulai berdasarkan bahannya:

  • Gulai ayam
  • Gulai hati ampela
  • Gulai telur
  • Gulai kambing
  • Gulai sapi
  • Gulai hati
  • Gulai limpa
  • Gulai gajeboh (gajih)
  • Gulai iso (usus)
  • Gulai babat
  • Gulai tunjang (kikil)
  • Gulai otak
  • Gulai sumsum
  • Gulai ikan mas
  • Gulai kakap
  • Gulai kepala ikan kakap
  • Gulai telur ikan
  • Gulai cumi
  • Gulai cubadak (nangka muda)
  • Gulai kacang panjang
  • Gulai daun singkong
  • Gulai daun pakis
  • Gulai jariang atau gulai jengkol

Bulan depan ada agenda untuk ke Jakarta selama 3 hari. Rencananya sih mau ngajak suami wisata kuliner. Nah, direkomendasikan nih dalau di Jakarta ada yang terkenal karena selain murah juga enak. Namanya gulai tikungan blok M atau dikenal dengan rumah makan Gultik. Sayangnya pas main ke Jakarta tempo hari buat kopdar, ga sempat wisata kuliner. Nanti kudu nyempetin nik keknya.

Saya sendiri yang terbiasa dengan gulai masakan mamah memang cenderung ngerasa eneg saat makan gulai dari luar. Tapi untuk urusan ini serahkan sama akang suami. Beliau selalu tahu gule yang enak. Meskipun kentel, tapi pilihan beliau selalu enak. Ga terlalu eneg. Bisa aja nemu tempat jualan gule yang enak dan cocok di lidah istrinya. Biasanya sih didapatkan di tempat-tempat penjual sate kambing.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.