Balada Menantu, Mertua dan Ipar

Ramadhan kemarin dan menjelang lebaran, di beberapa grup curhat ibu-ibu rasanya banyak sekali curhatan mengenai mertua atau ipar. Meski di luar bulan Ramadhan ya ada juga curhatan tentang hal ini.

image

Curhatan yang jika diperhatikan sepertinya menduduki posisi pertama disusul curhatan tentang suami dan selanjutnya curhat mengenai anak. Herannya curhat tentang anak ini jika saya persentasekan sepertinya hanya  memiliki nilai 10% saja. Hoho.. Namanya juga curhat ibu-ibu ya 😀
Hanya saja kenaikan persentase keluhan tentang mertua atau ipar ini nampak meningkat tajam di bulan Ramadhan. Terkait perbedaan cara didik penerapan ibadah selama Ramadhan, mengenai THR, mengenai pemberian yang tidak diapresiasi baik dan mengenai cerita mudik ke mertua. Beragam kisah. Tidak semua saya komentari tapi memang saya perhatikan trit-trit yang muncul seputar mertua dan ipar ini ramai di setidaknya 2 grup curhat.

Saya pikir perbedaan itu niscaya. Selayaknya kita paham bahwa kita dan keluarga suami adalah dua keluarga. Dan karena itulah pasti akan ada perbedaan antara kita dan keluarga suami entah dari sisi pengalaman hidup, cara pandang dan latar belakang kehidupan.

Perbedaan itulah yang saya perhatikan menjadi awal penyebab balada menantu, mertua dan ipar. Perbedaan yang sepertinya tidak harus disamakan seluruhnya tapi perlu diselaraskan.

Ketika memutuskan menikah dengan sang kekasih hati, tentu kita sudah mempertimbangkan keluarga besarnya. Pun keluarga besarnya pasti sudah mempertimbangkan menerima kita sebagai bagian dari keluarga mereka ketika mereka mengizinkan putra/putrinya menikahi kita. Disini kita perlu menyadari bahwa awal perjalanan ini diawali oleh keridhaan kedua belah pihak untuk saling menerima. Maka jangan rusak dengan pemaksaan kehendak.

Memang tidak semua hal dapat disamakan karena semua sudah terbentuk jauh sebelum kita hadir di tengah mereka. Kita hanya perlu menyelaraskan pemahaman kita dengan keluarga besar. Perlahan tapi insyaallah pasti, jika kita sudah mengatakan impian keluarga yang ingin kita bangun, keluarga besar dengan sendirinya bersedia menerima. Dan ketika kita mendapati kesalahan keluarga besar yang tak selaras dengan misi kita, tak perlu langsung berang terhadap mereka. Bisa jadi mereka masih berproses menyelaraskan diri dengan perubahan cara yang kita kenalkan.

Siapapun pasti menginginkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Sampaikanlah dengan segenap cinta, “kami ingin pernikahan kami seperti ini, kami sedang membangun keluarga yang seperti ini, begini rencana pendidikan anak-anak kami kelak. Mohon kerja sama bapak-ibu, adik dan kakak untuk selaras menggapai tujuan ini. Agar anak dan keluarga ini bisa mencapai titik yang lebih baik.” Karena kebanggaan kelak bukan hanya milik kita, tapi juga bagi kedua orang tua dan saudara.

Tidak semua orang mendapatkan mertua yang ideal, tidak semua orang mendapat ipar yang sesuai, tapi kita bisa menjadi diri kita yang lebih baik dan kita bisa membangun keluarga yang lebih baik. Kita bisa saja meninggalkan keluarga besar kita, tapi dengan cara itu sepertinya kurang efektif menggapai tujuan dan tidak memberikan pendidikan yang baik untuk dijadikan hikmah. Kecuali jika memang keluarganya untuk saat ini memang sudah sangat sulit sekali berubah dan berbeda 180°, tapi ini sudah barang tentu kita tahu sebelum menikah kan? Jadi sudah bisa lebih mempersiapkan.

Jika tidak nyaman tinggal dengan mertua, saya rasa wajar saja. Bahkan saya tak nyaman tinggal dengan orang tua saya sendiri setelah menikah. Rasanya ada rasa tak nyaman yang tak bisa dijelaskan. Jika bisa pisah rumah, maka mandiri di rumah sendiri memang lebih baik.

Ketidakcocokan dengan keluarga pasangan pun saya pikir wajar saja karena memang awalnya tak kenal lalu sekarang menjadi bagian dekat dari mereka. Tapi jangan jadikan itu ajang untuk mencela, menceritakan keluh kesah ke khalayak umum. Berharap keluarga pasangan seperti keluarga besar kita tentu sebuah keinginan yang tak dewasa –jika tak bisa dikatakan mustahil. Jangankan beda keluarga, dengan orang tua dan saudara kandung sendiri saja kita masih berpotensi mengalami perbedaan pendapat. Dengan sepupu dan saudara besar saja kita sangat mungkin berselisih. Apalagi ini yang tidak dikenal sebelumnya, tidak memiliki hubungan darah.

Percayalah kawan, mertuamu dan iparmu mungkin tak ingin berbuat buruk pada dirimu, pasangan dan anak-anakmu. Bisa jadi itu karena mereka masih beradaptasi dengan kehidupan baru. Atau ada sedikit rasa cemburu atas kehadiranmu, pendatang baru yang mengisi sebagian besar kehidupan pasanganmu saat ini mengalahkan posisi mereka sekarang.

Kalaupun mereka memang memiliki akhlak yang tak baik, maka doakan saja semoga hidayah Allah sampai kepada mereka. Dakwah itu tak bisa berhasil dalam sekejap mata. Disana kesabaran kita diuji. Didiklah diri, pasangan dan anak dengan sebaik-baiknya agar menjadi tim yang solid dalam jalan dakwah sehingga bisa jadi hidayah muncul melalui tindakan siapapun untuk keluarga besar kita. Biarlah hanya Allah yang akan menjadi saksi.

Cobalah pahami dan berbaik sangka terhadap tindakan mereka. Duduklah bersama untuk tabayyun. Jika tidak berhasil, maka kembalikanlah pada Allah. Mohonlah agar menyelaraskan keluarga kecil kita dengan keluarga besar. Agar kehidupan kita lebih nyaman lagi.

Jadi yuk belajar berhenti mengeluhkan kehidupan kita pada sosial media. Saya sendiri sedang belajar. Sering diingatkan suami, ditegur Allah tentang ghibah. Alhamdulillah kemudian bertemu grup yang saling mengingatkan mengenai itu. Yang paling saya ingat adalah: “Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tak penting. Mulai pilah pilih mana yang perlu dipikirkan dan mana yang bisa dilewati untuk tidak masuk ke hati.”.

With love,
Pagi yang segar di Kebumen 5 Syawal/21 Juli.
*baru diterbitkan krn baru dapat sinyal 😀

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *