Bantuan Tak Kasat Mata

Saat suami pergi, kok rasanya kelabakan ya. Padahal kerjaan rumah ga dibagi dua alias masih dominan saya dan anak-anak yang mengerjakan.

Dari situ saya sadar bahwa kehadiran sosok suami sesungguhnya menjadi bantuan tersendiri yang tak bisa digantikan oleh apapun, oleh siapapun. Hal yang kemudian semakin saya pahami ketika nenek menceritakan kakek usai ditinggal wafat. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.

Saya mulai paham. Betapa ketidakhadirannya adalah sebuah kehilangan yang memilukan. Bukan sekadar tentang nafkah lahir, tapi jauh lebih menyakitkan bahwa ia mencerabut nafkah batin: ketenangan bersandar di pelukannya saat lelah begitu berasa, kebahagiaan ada teman yang ada di saat terburuk sekalipun dan rasa aman ketika ia ada di sisi meskipun tengah berjibaku dengan amanahnya sebagai kepala keluarga.

Seringkali kita tidak menyadari nikmat yang diberikan Allah sampai kita kehilangan nikmat itu. Bersyukur jika masih bisa menanti ia kembali. Bagaimana dengan mereka yang menjadi pejuang sendiri?

Betapa indah Allah menjadikan sebuah bangunan rumah tangga. Mereka yang semula tak saling mengenal, jadi saling membutuhkan. Saling bahu membahu dalam kehidupan. Semoga senantiasa dalam kebaikan dan takwa.

Maka ketika kita mungkin tak merasakan bantuan dari pasanganmu, mungkin kita sedang diuji Allah untuk semakin peka mengenali.

Mungkin ada bantuan tak kasat mata yang sebenarnya dirasa.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspitaFacebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: