Belajar dari Nabi tentang Menghadapi Nyinyiran

Terdapat banyak sekali kisah pembuktian kenabian dan mukjizat para nabi yang ditolak oleh orang-orang kafir. Tak hanya kisah dari Rasulullah Muhammad ﷺ tapi juga di seluruh kisah para nabi.

Kalimat orang-orang kafir itu umumnya berupa nyinyiran, ngga percaya kalo orang yang mereka ajak bicara itu adalah seorang yang dimuliakan Allah menjadi nabi dan/atau rasul. Mereka minta bukti berupa mukjizat dan hal serupa hanya untuk mengolok-olok dan tidak berniat percaya. Mirip seperti netijen yang sebenernya cuma mau ngomong aja, ngga ada niatan buat bantu ataupun nyari solusi.

Yah, kayak pertanyaan “kapan nikah”, “kapan punya anak”, “kapan punya rumah sendiri”, “kapan punya mobil”, “sekolah tinggi-tinggi kok di rumah, apa ga sayang ijazah?”, “kapan anaknya bisa ini itu bla bla bla” daaaann segudang pengalaman lain yang kemungkinan besar hadir dalam kehidupan seseorang karena kita ada di negara plesnemdua (+62) yang engga tahu kenapa, saking empatinya tinggi jadi terlalu peduli sama kehidupan orang lain. Apa-apa dikomentari, apa-apa ditanyain. Seolah privasi itu ya milik bersama. Untung ga pernah ada pertanyaan: “kapan suamimu nikah lagi?” Hihi..


Oke, lanjut ke bahasan. Diantara yang paling terkenal dari kisah pembuktian kenabian adalah kisah tentang terbelahnya bulan di masa Rasulullah saw.

سَأَلَ أَهْلُ مَكَّةَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- آيَةً فَانْشَقَّ الْقَمَرُ بِمَكَّةَ مَرَّتَيْنِ فَنَزَلَتِ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ) إِلَى قَوْلِهِ (سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ)

“Penduduk Makkah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu bukti. Akhirnya bulan terbelah di Makkah menjadi dua bagian, lalu turunlah ayat : ‘Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.(QS. Al Qamar: 1-2)” (HR. Tirmidzi no. 3286. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi mengomentari bahwa hadits ini shohih. Riwayat ini juga dibawakan oleh Jalaluddin As Suyuthi dalam Asbabun Nuzul, hal. 184, Darul Ibnu Haitsam.)

Disalin dari Rumaysho.com

Wih, terniat kan para kafir Quraisy tuh. Minta sesuatu yang mereka sadar betul ngga mungkin bisa.

Tapi lucunya, udah beneran lihat bulan terbelah masih ngga percaya dan menduga-duga.

“Bulan terbelah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang Quraisy berkata, ‘Ini adalah sihirnya Ibnu Abi Kabsyah (mereka gelari Rasulullah dengan sebutan demikian)’. Kata mereka, ‘Tunggulah kedatangan orang-orang yang bersafar. Karena Muhammad tak akan mampu menyihir semua orang’. Kemudian datanglah orang-orang dari safar. Mereka malah mengatakan seperti itu.” (HR. Abu Dawud 293. As-Saqaf berkata, “Riwayat Abu Dawud ath-Thayalisi dengan sanad yang shahih).

Disalin dari kisahmuslim.com

Bulan terbelah itu adalah sebuah bukti spektakuler. Tapi emang dasarnya nyinyir, pihak kafir Quraisy-nya niat banget nanya ke musafir yang pulang dari “luar kota” untuk memastikan apakah ketika itu mereka melihat bulan terbelah atau tidak.

Netijen kita ada ga yang seniat mereka sampe buat buktiin kalo kita pernah keluar negeri, orang dari luar negeri ditanyain >_< tapi netijen jaman now – di jaman ini – kalo udah nyari fakta emang suka terniat juga sih.


Dari kisah terbelahnya bulan tadi, bahkan sekaliber Rasul pun bisa terdiam “dinyinyirin” seperti itu. Tapi, dari situlah kita bisa belajar kalau..

  1. Orang-orang  yang nyinyirin perjuangan kita itu akan selalu ada kok.
    Ngga tahu kenapa ya. Mungkin hati mereka sakit apa gimana. Pokoknya ada aja yang kurang dari diri orang lain. Biasanya sih itu untuk menutupi kekurangan dirinya.
    Mirip seperti kafir Quraisy yang nyinyirin Rasul karena umumnya takut aja dirinya akan tersingkir. Iri kali yaa..
    Apa jangan-jangan orang yang nyinyirin kita itu iri? Padahal apalah kita yang masih jauh dari kemuliaan Nabi Muhammad.
  2. Menyikapi nyinyiran dari pihak luar, mulailah dengan berdoa kepada Allah dan meminta petunjuk.
    Rasulullah pun saat mendapat tantangan membelah bulan itu, terdiam. Ya gimana, secara akal kan ngga mungkin ya. Ke bulan aja belom pernah, diminta ngebelah.
    Namun kemudian beliau memberikan contoh luar biasa. Beliau tidak menggunakan akalnya semata tapi menggunakan keimanan. Menggunakan hati dan keyakinannya bahwa Allah akan senantiasa menolong.
  3. Mereka yang nyinyir akan senantiasa mencari celah untuk tidak percaya.
    Seperti halnya ketika kita coba jelaskan apa yang orang lain nyinyirin dari kita, tak semua mau membuka mata untuk menerima, sebagian besar memilih tetap tidak percaya. So, tetaplah pe.de yaa..

Permisalan ini tentu tidak sepadan karena Rasulullah lebih tinggi derajatnya. Akan tetapi dari beliau kita belajar bagaimana bersikap.

Sekaliber Nabi aja dinyinyiri dan memperlihatkan bahwa beliau kuat. Kitapun perlu kuat menghadapi nyinyiran yang diterima karena insyaallah sepadan sama kualitas diri kita juga. Agar kuat, tiga langkah di atas perlu terus diingat nampaknya. Mari belajar bersama!

Wallahu a’lam.


Referensi yang saya baca/dengarkan untuk memastikan kembali kisahnya dapat teman-teman akses di:

  1. Ketika Bulan Terbelah – Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Ini adalah buku biografi Rasulullah dan menggunakan beberapa istilah “modern” jadi terasa lebih “kekinian” dibanding buku shirah karya penulis yang sama, berjudul Arrahiqul Makhtum yang lebih berasa “ilmiah”. Bahasa asli bukunya adalah bahasa Inggris dengan judul When The Moon Split.
  2. rumaysho.com
  3. Kisah Bulan Terbelah oleh Ustadz Khalid Basalamah
  4. kisahmuslim.com
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar