Belajar Mengapresiasi Sikap Anak

Malam ini mendapati ember yang biasa digunakan untuk mengepel lantai seperti berminyak, agak sedikit kebingungan. Perasaan di tempat saya menyimpan ember itu, tidak pernah menyimpan sesuatu yang ada minyaknya. Apalagi posisi barang yang diletakkan di ember, masih nampak seperti di posisi semula.

Lalu ingatan saya terlempar pada laporan si sulung terkait kejadian menjelang berbuka kemarin sore. Ia mendatangi saya perlahan lalu bilang “Mi, botol minyak zaitun ga ditutup lagi ya? Tadi sama aa ketendang jadi aja tumpah. Tapi udah dilap da”.

Saat mendengar laporan itu, saya sedang terbaring agak demam. Mengingat-ingat, sepertinya memang belum ditutup deh setelah dipake oles bekas luka kena minyak panas. Ya, Danisy ga salah juga sih. Emaknya yang jelas ga hati-hati.

Dan saat keluar menyambut ajakan suami untuk makan ketika beliau pulang maghrib kemarin, baru ngeh tumpah hampir setengahnya. “Lho, sama Aa belum ditutup juga ya botol zaitunnya?” tanya saya melihat botol zaitun masih terbuka. “Tumpahnya banyak juga, setengah botol”.

Suami lantas menyambung pertanyaan saya, “kenapa bisa tumpah? Siapa yang numpahin?”

Danisy dengan sigap menjawab “Aa yang numpahin. Tadi botolnya kebuka, sama Aa ketendang”. Saya menimpali “iya tadi ummi lupa ga tutup lagi botolnya kayaknya. Abis dipake ngoles luka kena minyak, langsung ke kamar”

Hmm. Berarti kemarin dia mengelap bekas tumpahan minyak zaitun menggunakan lap pel yang biasa digunakan ngepel rumah, bukan lap kain. Begitu cek lap pel, benar saja licin.

Ada beberapa pelajaran yang saya petik dari kejadian ini.

  1. Setelah menggunakan sesuatu, jangan lupa dicek ulang apakah sudah dibereskan lagi atau belum 
  2. Saat anak melakukan kesalahan, sebaiknya jangan langsung marah. Apalagi kalo penyebab utamanya bukan cuma karena “kecerobohan” anak tapi kita juga ambil andil
  3. Apresiasi upaya anak berkata jujur agar fitrah kejujurannya terjaga. Ketika dimarahi, mungkin yang tadinya anak berani jujur, minta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahannya, jadi memutuskan untuk melakukan hal yang sebaliknya. Yang rugi siapa? Banyak pihak nantinya di masa depan, bukan hanya kita.
  4. Apresiasi upaya anak bertanggung jawab atas kelalaian yang ia lakukan. Meskipun belum sempurna (misal: bekasnya masih nampak terlihat di lantai, botolnya masih tetap terbuka, dan tentu saja bekas minyak di ember dan lap pel).
  5. Pe-er berikutnya bagi saya: beritahukan anak ketika ada cairan tumpah atau kotor, sebaiknya menggunakan lap yang mana. 
  6. Jadi orang tua itu kadang egonya lebih tinggi dari anak, ga mau disalahkan dan lebih suka menimpakan kesalahan pada anak (ah, mungkin itu mah saya aja ya). Dan seringkali tindakan seperti itu muncul saat emosi kita sebagai orang tua, labil. Padahal belum tentu anak salah, atau kalaupun salah, belum tentu salahnya sepenuhnya
  7. Menjadi pemaaf seringkali sulit ketika dihadapkan pada “orang yang lebih muda” (atau semacamnya) apalagi pada anak sendiri (mungkin) karena perasaan “ah, anak kecil ini”. Padahal anak juga manusia, sama seperti kita. Punya pikiran dan hati. Kalo kita ingin dihargai anak-anak, contohkan hal yang sama pada anak-anak dengan mengekspresikan penghargaan terhadap diri mereka. Berkaca dari bagaimana Rasulullah mencontohkan untuk selalu menghargai semua orang termasuk anak-anak.

Maka sebagai orang tua, memang sebaiknya sebisa mungkin ikhtiar agar anak senantiasa dalam fitrah. Dan hasil akhirnya, serahkan pada Allah.

Yap, masih banyak PR ternyata. Belajar jadi orang tua sepertinya akan jadi pembelajaran panjang seumur hidup. Sebagaimana senantiasa belajar sepanjang masa untuk menjadi istri dalam institusi pernikahan 😇

Jadi inget bahasan dengan timnya bu bidan 2 hari lalu tentang bagaimana sebuah lingkungan nampak sulit menerima si A karena membawa mindset sikap awal si anak. Padahal setelah diteliti lagi, anak ini sudah banyak perubahan, hanya saja tidak signifikan melainkan perlahan. Ya karena masyarakat kita tidak terbiasa mengapresiasi hal (kebaikan) kecil karena dianggap “ya wajar dong dia taat aturan, kan itu sudah kewajibannya” atau “ya wajar dong dia ngepel, kan dia yang numpahin”. Tapi ketika seseorang melakukan kesalahan kecil, kritik (dan pelabelan) mudah sekali terucap. Hingga kemudian sampai pada kesimpulan: bahwa mengubah sifat dan sikap seseorang itu butuh waktu. Dan masyarakat sering abai terhadap proses perubahan itu karena mereka tidak terbiasa mengapresiasi. Sedangkan penerapan konsep STIFIn guna mengetahui sifat dasar seseorang, hanyalah salah satu ikhtiar yang membantu memudahkan pendekatan personal melalui sifat bawaan genetiknya.

Hayu teman, kita belajar apresiasi agar anak pun terbiasa begitu. Dan perlahan, terbentuk masyarakat yang lebih peka terhadap kebaikan seseorang dibanding kesalahannya.

Selamat menikmati hari Jumat di bulan mulia. Barakallah li wa lakum 😘

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *