Belajar Parenting dari Nabi Ibrahim

Belajar Parenting dari Nabi Ibrahim

Alhamdulillah semalam masih diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar. Kali ini bertemakan belajar parenting dari nabi Ibrahim. Tema ini mencuat begitu saja saat grup yang meminta saya rutin ngisi, mengadakan bedah buku yang diantaranya membahas tentang nabi Ibrahim. Segera saya japri ketuanya, dan mengusulkan “Gimana kalo bahas tentang parenting ala Nabi Ibrahim? Biar nyambung sama bedah bukunya” dan langsung di-iya-kan oleh sang empu.

Oke bismillah. Menyiapkan materi yang biidznillah sempat saya ikuti beberapa waktu sebelumnya. Dan akan saya tuliskan disini. Semoga menjadi referensi yaa..

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wabihi nasta’inu ‘ala ‘umuriddunya waddin. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in amma ba’d.

Tidak mungkin generasi akhir zaman diperbaiki kecuali mengikuti bagaimana generasi terdahulu diperbaiki.

~ Imam Malik

Mari kita perhatikan ayat-ayat berikut:

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu..” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3)

Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 38)

“…Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al Isra: 12)

“…Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).” (QS. An-Nahl 16: Ayat 89)

Sudah terbayang benang merahnya?

Bahwa segala sesuatu itu sudah dijelaskan dalam alquran. Ibaratnya, petanya sudah ada. Tinggal bagaimana kita membacanya.

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia..” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)

Apakah ada yang ragu dengan apa yang disebutkan dalam alQuran? Lalu kenapa belajar dari nabi Ibrahim? Mari kita lihat ayat berikut:

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (Sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetabui.” (QS. Ali Imran 3:33-34)

Hal menarik dari ayat tersebut adalah, bahwasanya Allah memilih kata “Ali Ibrahim” (keluarga Ibrahim) dan “Ali Imran” (keluarga Imran). Sebaliknya, Adam dan Nuh “hanya” disebut namanya saja, tapi Ibrahim dan Imran? Disebutkan “keluarga”. Yang ini dapat berarti, kalo mau niru “Parenting sukses”, alquran mengajak kita untuk membaca kisah-kisah keluarga Ibrahim dan keluarga Imran.

Dari ayat tersebut kita belajar bahwa kriteria keluarga terbaik dapat kita lihat di keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Kisah nabi Ibrahim sudah pada tahu ya. Pun dengan keluarga Imran. Ada yang tahu siapa Imran ini? Yep, keluarga alias ayahnya Maryam.

Kriteria keluarga terbaik itu jika ditilik dari kedua kisah keluarga tersebut, indikatornya: pasangan shalihah, anak shalih/ah, cucu/cicit shalih.
Disclaimer, bukan berarti keluarga yang lain tidak bisa diambil pelajaran ya. Semua kisah dalam alquran adalah pembelajaran untuk kita semua yang meyakini alQuran sebagai pedoman.

Kita buat perbandingannya ya:

  1. Keluarga nabi Ibrahim
    Pasangan: Sarah dan Hajar
    Anak: Ismail dan Ishaq
    Cucu cicit: Yaqub Yusuf (dan bahkan Rasulullah pun nyambung nasabnya dengan Nabi Ismail sehingga pernah diucapkan “saya adalah keturunan dari 2 yang hampir disembelih”: yakni Ismail dan ayahnya Abdullah)
  2. Keluarga Imran
    Pasangan: Hanna binti Fakhudz
    Anak: Maryam
    Cucu cicit: Isa bin Maryam

Kedua keluarga ini berbeda.

  • keluarga Ibrahim, Ibrahim adalah nabi, Imran bukan nabi
  • keluarga Ibrahim poligami, Imran monogami
  • keluarga Ibrahim Full Parent (ada ayah ibu), istri Imran single parent (Imran meninggal sebelum Maryam lahir)
  • Keluarga Ibrahim nomaden (cucok ya bagi yang suaminya pindah-pindah tugas, yang sedang LDR atau semacamnya), keluarga Imran menetap
  • Keluarga Ibrahim berbicara tentang pengasuhan anak lelaki, keluarga Imran berbicara tentang pengasuhan anak perempuan.
  • Target pengasuhan keluarga Ibrahim turunan yang terjaga dan qadarullah menjadi nabi, keluarga Imran menghasilkan wanita suci dan pencetak nabi.

Atuh Teh kan ga mungkin jadi nabi mah. Iya.. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, mereka menjadi generasi yang luar biasa baik dan Sholih. Maka

  • Dalam mendidik anak lelaki, salah satu target utamanya adalah menjadi ahli ilmu, ulama, yang merupakan pewaris nabi. Serta memiliki jiwa iqomatuddin menegakkan agama.
  • Sedang pendidikan anak perempuan output yang diharapkan adalah wanita yang terjaga kesuciannya dan menjadi ibu/istri penyokong dakwah

Dalam alquran, banyak sekali ayat doa orang tua ke anak itu dicontohkan oleh nabi Ibrahim. Bonding yang terbentuk antara nabi Ibrahim dan anaknya, lahir dari ingatan tak terputus nabi Ibrahim pada anak keturunannya. Dan bukan hanya mendoakan anak saja, tapi keturunan seluruhnya. Sehingga kekuatan doa ini langgeng mencapai cicit dst.

Nah, kita fokus pada keluarga nabi Ibrahim dulu aja ya..

Belajar Parenting dari Nabi Ibrahim

Dalam pendidikan anak ala Nabi Ibrahim, kita kembali diingatkan tentang penguatan peran ayah. Di kisah Imran pun meski yatim, ada nabi Zakaria sebagai sosok pengganti ayah. Ini kemudian kenapa surah Ali Imran ayat 33 begitu menarik diperdalam. Betapa sejak jaman dahulu kala, Allah senantiasa mengingatkan kita bahwa pendidikan anak itu adalah kerjasama 2 pihak: sosok ibu dan ayah (maupun pengganti keduanya). Tidak bisa hanya salah satu.

Ada pelajaran tentang kehadiran ayah baik secara fisik maupun ideologis. Nama Ali Imran dijadikan surah alquran berarti they are so special. Pun dengan Ibrahim.

Nabi Ibrahim memiliki visi pengasuhan yang ajeg. Sebagaimana sering kita dengar tentang kecerdasan Ibrahim dalam hal aqidah, itu adalah salah satu concern beliau. Nabi Ibrahim kuat dalam penyelamatan aqidah, pembiasaan ibadah, pembentukan akhlaqul karimah, dan pengajaran life skill (entrepreneur).

Nabi Ibrahim sebagaimana kita tahu, meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus. Tak ada apapun disana kala itu. Apa yang membuat beliau “tega” dan sang istri “rela”?

Keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak akan pernah menelantarkan.

Keyakinan seorang hamba, seorang suami, seorang ayah yang baru saja dikaruniai anak yang sudah lama dinanti. Dan dibarengi dengan istri yang terdidik dengan sedemikian rupa.

Maka, seorang ayah yang yakin akan Tuhannya, seorang istri yang percaya bahwa suaminya bertanggung jawab dan Tuhannya tidak akan pernah menelantarkan, itu yang menguatkan pondasi keluarga Ibrahim-Hajar. Setelah bertahun-tahun ditinggal, saat nabi Ibrahim datang, bagaimana sikap Ismail terhadap ayahnya? HORMAT!

Ada yang pernah dengar kisah ini belum? Saat nabi Ibrahim datang ke rumah Ismail, tapi Ismail tak di tempat sementara yang menyambut adalah istrinya. Lalu mendapati sikap dan perkataan sang istri, nabi Ibrahim mengirimkan pesan singkat “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintu rumahnya” untuk disampaikan pada sang anak.

Kala Ismail kembali dan mendapatkan pesan itu dari sang istri, dia memahami serta taat pada ucapan sang ayah. (kisah lengkapnya bisa teman-teman baca disini). Bagaimana bisa? Jarang ketemu tapi 1 kalimat kiasan, pendek singkat anaknya ngerti lho. Dan dia taat, perintah ayahnya dilakukan. Si istri dicerai lalu mencari istri yang lain. Duh mun jaman kiwari mah apa kabar yaa 😀

Disana kita tahu bahwa meskipun ayah tidak hadir setiap hari, tapi bisa lho tetap deket dan dihormati sama anak. Kuncinya: Ibu madrasah utama. Dan ayah kepala sekolahnya.

Apa tugas kepsek? Bikin visi misi sekolah, garis besar haluan pendidikan, membuat lingkungan sekolah nyaman baik bagi guru maupun siswa, dan hal-hal strategis besar lainnya. Ga mesti harus turun tangan langsung dalam keseharian meskipun andai mau turun tangan langsung, ga masalah ya asalkan tugas utamanya selesai.

Nabi Ibrahim memberikan kita pelajaran bahwa didikan ayah yang kuat dapat menjadi akar bagi anak dalam pertumbuhannya. Beliau membangun komunikasi, melakukan dialog. Coba baca betapa indah pemilihan kata Ibrahim saat menyampaikan mimpi tentang menyembelih Ismail..

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

Nabi Ibrahim membangun Thinking Skill. Ga serta merta bilang “hei kamu anakku, sini aku sembelih”.

Apa pelajaran dari kalimat nabi Ibrahim tsb? Beliau mendidik anak untuk berpikir. Seperti apa prakteknya?

  1. Jelaskan situasinya
  2. Tanya pendapatnya

Kita mah jarang begini ya. Jadi anak teh tidak terlatih berpikir (dan bertanya) 😀

Tips Parenting Nabi Ibrahim

Tips untuk seorang ayah membentuk bonding dengan anak ala nabi Ibrahim:

  • Jangan putus berdoa. Cek Surah Ibrahim ayat 35-40
    Ayah ini sering safar (termasuk keluar rumah dalam rangka mencari nafkah atau urusan serupa) maka perbanyak mengingat anak dalam doa. Karena ayah sering safar sementara doa orang yang safar itu mustajab, maka perbanyak mengingat anak dalam doa-doa terbaikmu wahai ayah. Pun bagi para Bunda, terus doakan anak-keturunan kita.
    Hati anak terpaut karena Allah yang mengikatnya, maka belajarlah dari nabi Ibrahim bagaimana beliau menjaga hubungan dengan Allah.
    “..dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di Bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 63)
  • Berdoa untuk generasi keturunan kita bukan hanya anak. Sebab tak jarang anaknya Sholih tapi kesulitan mendidik anak untuk shalih sehingga cucunya cenderung berbalik.
  • Luaskan doa tak hanya berbicara tentang sikap anak tapi juga lingkungan dll nya.
  • Pilih lingkungan dan mendoakannya.
    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.“(QS. Ibrahim 14: Ayat 35)
  • Katakan perkataan yang benar

Menjadi teladan, mulai dari diri sendiri. Keteladanan adalah nasihat terbaik bagi anak. Aturan ada untuk kita, bukan hanya untuk kamu (anak).

Doa-doa Nabi Ibrahim

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim berdoa.

  • Selalu mengingat anak keturunannya. Kebaikan itu diminta tak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk anak keturunannya.
    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. Dia (Ibrahim) berkata, Dan (juga) dari anak cucuku? Allah berfirman, (Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 124)
    Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu…” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 128)
  • Mengakui kinerja anak dan memohonkan kebaikan.
    Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 127)
    Ga sok-sokan ngaku2 “ini mah karya bapak. Kamu mah cuma anak” 😛
  • Ketika dihadapkan pada orang tua yang belum menjalankan syariat, perlu berlepas diri atas dosa orang tua dengan terlebih dahulu mengikhtiarkan semampu kita.
    Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah,” (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 26)

Penutup

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran, dan seorang nabi.” (QS. Maryam 19: Ayat 41)

Terakhir.. Mulai sekarang, yuk kita dokumentasikan kisah pengasuhan kita. Sebab kekuatan pengasuhan berbasis sejarah membantu anak memenuhi kebutuhan puzzle kehidupan yang utuh. Memori positif di masa kecil akan memengaruhi kehidupan saat dewasa (innerchild positif). Catat dan dokumentasikan momen2 indah anak sebagaimana momen sejarah pengorbanan Hajar sebagai ibu diabadikan dalam alquran, doa2 Ibrahim dicatatkan bahkan ada maqam Ibrahim yang merupakan tapak Ibrahim sebagai pengingat perjuangan nabi Ibrahim dan anaknya Ismail dalam mendirikan ka’bah.

Kalimat cinta dan ucapan tulus kebanggaan serta catatan tumbuh kembang anak yang tertulis lebih bernilai dibandingkan lisan

Wallahu a’lam.

Segitu dulu yaw. Alhamdulillah. Hatur nuhun sudah pada hadir aktif. Semoga bermanfaat. Mohon doanya agar kami senantiasa Allah jaga hati dan pikirannya. Barakallah fiykum. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Kita baca doa kifaratul majlis dan istighfar.

Referensi:
– Seminar fitrah Maskulinitas Ayah dan Feminitas Bunda bersama Ust Aad dan Ummi Ike, Salman ITB, 2019
– Seminar Saatnya Quran Berbicara Pengasuhan, Ust Ajo Bendri, Bandung, 2014
– Sekolah Guru Kuttab Bandung Barat, Baros, 2019
– Alquran

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: