Belajar Sejarah Bandung dari Bandros

Kalau ke Bandung sekarang banyak tempat seru yang bisa dikunjungi secara gratisan. Nah, tapi beberapa orang luar Bandung ada yang lebih tertarik sama sebuah kendaraan unik yang sekarang jadi daya tarik juga. Apa itu? Jawabannya: Bandros.

Eh, bukannya Bandros itu nama makanan ya? Yang ada kelapa di dalamnya itu geuningan..

Hohoho.. Bandros yang ini beda. Singkatan dari Bandung Tour on The Bus. Sebuah bis wisata yang memperkenalkan Bandung, jadi tur singkat di Bandung.

Kenapa unik? Karena bentuk busnya 2 tingkat kayak bis di luar nagreg sana, eh luar negeri maksudnya. Program dari pemerintahan walikota Bandung yang terkenal seantero ibu-ibu #lhoo

Kalau turis rame ngomongin Bandros dan heboh naik bandros (termasuk temen-temen saya yang dari luar Bandung) apalagi pas awal launching, maka orang Bandung-nya sendiri belum tentu semua sudah naik Bandros. Saya salah satu yang belum pernah naik bandros waktu itu. Wkwkwk.

Kamis 17 September kemarin jadi hari pertama saya dan anak-anak naik Bandros. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga keinginan Danisy buat naik bis dua tingkat itu.

Lalu.. Apa sih yang menarik selain karena bisnya serasa bis keren? Selain merasakan sensasi baru naik bis tingkat dua, juga sekaligus merasakan naik bis terbuka. Tanpa jendela kaca sama sekali jadi seru.

Bermula dari rasa penasaran, malah jadi belajar banyak. Rupanya berkeliling dengan Bandros yang pool-nya di taman Cibeunying seperti melewati jalanan yang biasa saya lewati. Yap. Jalan-jalan yang sudah familiar sekali bagi saya. Tapi rupanya ada hal yang terlewat.

Hal terlewat itu adalah sejarah di balik tempat-tempat yang dilewati. Bahkan banyak yang “saya baru tahu”. Padahal setidaknya 3 tahun saya beraktifitas di sekitar area sana. Kuliah dan kerja ya seputaran taman Maluku. Mana jaman SMA dulu kalau olahraga, mesti di lapangan seberang aman sana.

Sedikit berbincang dengan pak Supir Bandros, -yang saya lupa namanya, padahal sudah kenalan. Heuheu-. Rute yang dilewati adalah rute yang memiliki sejarah. “Sok, neng. Dimana deui di Bandung nu seueur sejarahna salian ti daerah Dago?” iya juga ya. Jadi memang rekomen untuk teman-teman yang ingin tahu Bandung bukan sekadar F.O dan tempat wisata, tapi juga sejarahnya. Bandros yang kami naiki ini sebelumnya digunakan oleh turis asing dari Jepang. Hebat kan?

Rutenya (yang saya ingat): Taman Cibeunying-Gedung Sate-BIP-Tamblong-Masjid Agung (Alun-alun) terus belok kanan lewatin gedung POS-Braga-Jalan Sunda-Jalan Aceh-Jalan Banda-Balik lagi ke Cibeunying.

Fakta yang saya baru tahu itu:

  • Dago berasal dari “padagoa-dagoan” (saling menunggu) karena dulunya daerah Dago masih berupa leuweung (belantara) sementara pada pedagang yang akan ke pasar, ga berani berangkat sendiri sehingga dini hari mereka saling berjanji untuk berangkat bareng dan titik tunggunya ya di Dago itu.
  • Gereja depan Taman Vanda adalah gereja pertama di Bandung pas jaman VOC.
  • Ada mesin cetak pertama di kantor Pikiran Rakyat. Kirain itu cuma patung 😀
  • Di alun-alun, kantor OCBC sekarang dulunya ternyata adalah mol pertama di Bandung. Nama mol-nya masih tertera, mungkin sengaja ga diganti karena menjaga sejarah.
  • Gedung arsip itu yang seberang alun-alun
  • Bangunan mirip toko di seputar gedung POS dulunya adalah kandang kuda karena dulu kendaraan untuk mengirim surat masih menggunakan kuda.
  • Jalan Braga dari jaman dulu tempat jalan-jalannya orang VOC jadi memang sudah eksklusif dan bagus sejak lama.
  • Menuju daerah Embong-tamblong, disana tempat pembantaian tentara (TNI). Pokoknya yang berseragam, langsung tembak mati saat itu juga.
  • Di daerah seputar RSU Bungsu, dulunya adalah kandang kuda yang luaasss banget dan dimiliki oleh putra Betawi yang menjadi orang terkaya saat itu.
  • Ada rumah kentang
  • Ada 3 patung atlas di bagian atas gedung sebelah masjid Junudurrahman
  • Penjara Soekarno (yang masih dilestarikan hingga saat ini, tapi tempatnya memang nyempil)

Buat saya yang orang Bandung (dan ga gaul) itu sesuatu yang baru. Apalagi bagi para pengunjung dari luar kota ya. Kalau kami kemarin memang agak ekspres jadi beberapa tak sempat dengar, mungkin karena sudah sore ya. Kloter terakhir. Dan Tour Guide ada di atas, sementara saya di bawah dan speaker tidak terlalu terdengar jadi lebih seringnya ngobrol sama pak Supir aja 😀

Bea tiket kudu di-booking, ga bisa mendadak kecuali pas ada kursi kosong. Kemarin 25.000 per orang. Jadi pesan untuk 3: 1 saya, 2 bocah. Enaknya sih ada harga khusus untuk anak ya. Biar ga terlalu tinggi harganya. Heuheu..

Sejauh ini, Bandros recommended. Tinggal diperbaiki aja di bagian pengeras suara (karena sering ga terdengar jelas untuk penumpang di bawah. Ga tau kalau penumpang atas ya). Alhamdulillah pak Supirnya tahu betul sejarah Bandung, jadi teman perjalanan yang asyik ^_^

Segitu dulu ah catatannya.

Gedung Sate Bandung, diambil di atas Bandros. Pas lagi ada tamu :D
Gedung Sate Bandung, diambil di atas Bandros. Pas lagi ada tamu 😀
Bandros-bdg
Foto diambil dari http://tourbandung.com/
Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *