Berhenti Mendikte Allah

Perjalanan menemani putri kami dirawat di rumah sakit beberapa hari ini mengingatkan saya untuk kembali sadar bahwa kita tidak berhak mendikte Allah tentang pengabulan doa. Berdoa secara detil dianjurkan tapi hasilnya akan seperti apa, itu murni hak prerogatif-nya Allah. Disana saya dapati arti dari tawakal.

Ahad lalu Hasna tiba-tiba begitu lemas. Demam tinggi. Tepat saat coffee break acara training yang sedang saya ikuti.

Saya berspekulasi apa saja penyebab naiknya suhu bayi kami. Mencoba home treatment untuk upaya menurunkan suhu tubuhnya. Qadarullah saat pulang kembali ke Bandung, lupa ga beli paracetamol.

Jangan Lupa Berdoa dan Tetap Waspada

Ketika anak-anak demam, biasanya hanya 3 hari, dan masih ceria. Lalu kembali sehat. Saya menurunkan tingkat waspada karena itu.

Kali ini, saya baru benar-benar sadar ada yang salah dengan Hasna saat hasil lab keluar menyatakan trombositnya di bawah toleransi (meski sedikit). Kondisi Hasna yang begitu lemas membuat dokternya menganjurkan untuk rawat inap karena ada indikasi dengue fever atau mungkin kita lebih mengenalnya dengan istilah demam berdarah (DB).

Seketika ga minat untuk makan. Padahal baso tahu yang dibeli di sela menunggu hasil lab itu enak. Hihi.

Saya lalu flashback ke beberapa hari sejak Hasna demam. Ah iya, lemes banget, nempel mulu sama ummi, susah makan dan malah kurang menyusu juga.

Hari Selasa (yang berarti hari ke-3) sempat membaik. Rabu demam tinggi lagi. Qadarullah saat itu saya juga lupa ga mengecek suhu tubuhnya. Rencana beli paracetamol juga lupa mulu. Kalo inget itu rasanya kok ya saya abai banget.

Kamis malam ke dokter, dirujuk dan berujung dirawat. Masuk ruangan di tengah malam, sudah masuk hari Jumat. Hari ke-5.

Saat tes jam 8 malam hari Kamis trombositnya 143.000 dari ambang batas bawah 150.000. Saat akan masuk ruangan pasca pasa infus, Jumat dini hari sekitar jam 1, hasilnya menunjukkan trombosit Hasna di angka 90.000an. Berharap agar cukup 2 hari saja. Saya berdoa. Memohon agar Allah menaikkan trombosit Hasna dengan mindset memaksa Allah mengabulkan doa itu. Seolah berkata “ayo dong ya Allah, Engkau kan Maha Penyembuh. Ahad ada acara syukuran keluarga. Pengen ikut gabung”

Berhenti Mendikte, Pahami Arti Tawakal

Saya memang tidak mengatakan kalimat di atas secara langsung saat berdoa. Tapi pikiran saya seolah memaksa Allah agar doa saya dikabulkan segera. Padahal, bukankah sudah jelas bahwa ada 3 cara Allah mengabulkan doa. Berikut saya kutip dari tulisan di web rumaysho.com:

Dalam sebuah hadits disebutkan,

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan)

Jumat sore cek darah, trombositnya ternyata turun lagi menjadi kisaran 70.000. Dan saat tulisan ini dibuat, hasil tes darah tadi pagi menunjukkan penurunan trombosit menjadi 50.000an.
Hal yang menjadi reminder bagi saya bahwa selayaknya sebagai muslim kita paham dan selalu mengaplikasikan tawakal dalam kehidupan. Berserah sepenuhnya sejak awal, proses, hingga akhir.

Berdoa adalah kewajiban kita sebagai bagian dari menaati perintah Allah sebagaimana diinfokan dalam al-mu’min ayat 60. Tapi ingat bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.(QS. Al Baqarah: 216)

Memaknai Tawakal

Hasil tes darah Hasna diberitahukan saat suami sudah berangkat untuk mengecek proyek pembangunan rumah yang sedang beliau tangani. Jujur, saat tahu hasilnya rasanya pengen nangis. Tapi saya harus sebisa mungkin menahan karena tahu betul saya tipikal yang kalau sudah menangis, khawatir susah dihentikan.

Saya kirim pesan Whatsapp pada suami. Beliau mengingatkan untuk memperkuat doa yang kemudian terpikir bahwa, sepertinya saya terlalu mendikte Allah dalam doa saya. Dan kurang serius berdoanya.

Maka yang saya lakukan kemudian adalah memohon agar dilapangkan hati apapun hasil tes darahnya di jadwal nanti dan kapan pulangnya. Termasuk berserah tentang biaya pengobatan, kondisi Hasna dll.

Mengulang ucapan la hawla wa la quwwata illa billah..

Rabbi.. Maafkan jika hamba kurang menjaga adab dalam berdoa. Dan mohon ampun atas kelalaian hamba. Mohon berikan kelapangan hati untuk takdir yang telah, sedang dan akan terjadi.

لا حول ولا قوة الا بالله..

Mohon doa untuk kesembuhan anak kami ya. Semoga teman-teman sekeluarga sehat selalu 😘

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *