Biarkan Anak Mengeluarkan Emosi Negatifnya

Biarkan Anak Mengeluarkan Emosi Negatifnya

Masih sambungan dari diskusi di grup emak-emak (2 tulisan sebelumya bisa dilihat di sini dan di sini). Menurut Daniel Goleman, menghardik anak untuk tidak boleh mengeluarkan emosi negatifnya itu adalah tindakan berbahaya. Jangan lindungi anak dari emosi negatif semacam rasa kalah, rasa kecewa, rasa marah, putus asa dan lain sebagainya.

Jadi jika anak marah, biarkan saja mereka mengeluarkan emosi marah itu lalu kita beri nama untuk emosi itu agar nanti anak paham. Misal, ketika anak kalah lomba lari, anak pasti kecewa. Maka ajak anak untuk mengobrol, “temennya lari lebih cepat dari Aa ya. Aa kecewa? Ya sudah, ummi tunggu sampai kecewa Aa hilang. Terus habis itu, menurut Aa kita harus gimana?”

Bahkan ketika kita marah pun, kita harus bilang kalau kita marah. Bilang bahwa saya kecewa karena kami begini begitu. Jadi saat emosi negatif keluar, kita harus mengeluarkannya serta menamainya atau katarsis. Hal ini berguna juga agar anak mampu berempati terhadap emosi kita. Meski mengeluarkan emosi negatif bagi orang dewasa ga harus dengan uring-uringan ga jelas ya. Harus sudah lebih paham manajemennya.

Biarkan anak kecewa karena temannya tidak mau menemani dia main, tidak mendapatkan jatah pinjam mainan dari temannya, dan sebagainya. Kita harus mendampingi anak saat mereka mengeluarkan emosi negatif untuk kemudian memasukkan informasi mengenai emosi negatif ini.

Merayakan kekalahan adalah sebuah hal yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Tapi di random diskusi kemarin, ternyata merayakan kekalahan atau kekecewaan ini perlu, tapi ga sembarang merayakan. “wah, kita kalah. Ga apa, kita coba evaluasi kenapa kita kalah. Sekarang kita rayakan dulu yuk kekalahan kali ini”.

Emosi negatif yang tidak belajar untuk dikeluarkan, dapat menghancurkan di masa mendatang. Istilah sundanya mah mungkin ambek nu kapegung. Kemarahan atau kekecewaan yang terkungkung tidak boleh dikeluarkan, satu saat akan meledak seperti bom waktu.

emosi negatifJika anak belajar kecewa sedari kecil, ketika ia besar nanti ia sudah terbiasa menghadapi kekecewaan dan tahu harus bagaimana menyikapinya. Sementara anak yang selalu dilindungi dari kekecewaan, kelak setelah dewasa ia akan menjadi orang yang menyebalkan. Semua orang akan direpotkan untuk memenuhi keinginannya dengan berbagai cara sampai cara ekstrim dan tidak halal sekalipun. Na’udzubillah.

Orang tua tetap harus menjaga emosi ketika anak salah atau bertingkah. Agar anak tetap tahu bahwa ia salah tapi tidak mendapat perlakuan yang tidak tepat.

Empati bukan berarti menyetujui segala tindakan anak, tapi empati itu memahami dan menerima perasaannya untuk kemudian didiskusikan bersama. Jika salah ya diarahkan ke yang benar, jika benar ya dikasih tahu bahwa memang sebaiknya begitu

Anak yang mampu berempati akan paham mana orang yang berempati dan mana yang tidak. Kelak anak akan tetap berempati pada orang lain.

Biarkan anak tahu bahwa rasa marah, kecewa dan sedih itu wajar. Bukan aib. Hanya penyaluran emosi yang harus diarahkan ke penyaluran yang tepat. Membiarkan anak diam karena kesal hanya akan membuat anak agresif pasif.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar