Birth Plan Pertama Kami

Beberapa waktu lalu, update status mengenai birth plan di akun facebook. Hihi lebay ya, biarin aja deh. Sebab memang excited aja. Meskipun memang ini kehamilan ketiga, tapi ini pengalaman kami berdua memiliki pendamping yang duluuu banget sempat ingin punya nakes seperti itu guna mendampingi proses kehamilan dan persalinan anak kami.

Dan karena ada beberapa yang minta contohnya, saya tuliskan disini saja supaya mudah untuk dicari. Kalo status FB kan kadang ga gampang ditelusuri ulang.

Nah, terkait birth plan ini, saya teringat akan sebuah istilah lama bernama Gentle Birth. Dan sekarang ada Amani Birth juga. Makanya ada sekilas tentang bahasan GB ini yang membuat saya senang sekali ketika tahu ada bidan dekat rumah mamah yang oke oce sejalur tentang ini.

Perkenalan dengan Gentle Birth

Saya mengenal istilah Gentle Birth itu setelah kelahiran anak pertama. Ya, sempat dibuat menyesal mengingat hal-hal yang seharusnya saya sudah aware sedari awal. Tapi ga bikin saya jadi down apa gimana gitu. Hanya kemudian mengumpulkan ilmu agar di kehamilan berikutnya kami lebih siap.

Eits, jangan salah. Gentle Birth atau disingkat GB, bukan semata bahas tentang lahiran normal ya. Salah kalo nangkepnya begitu. Memang sih GB mengusahakan agar sebisa mungkin lahiran normal aman nyaman. Tapi, jika memang indikasi medis tidak memungkinkan untuk itu, maka boleh dilakukan tindakan maupun intervensi. Yang membedakan adalah, prosesnya, edukasinya. Ga ujug-ujug ambil tindakan tanpa diberi tahu dengan baik ini apa itu bagaimana, dst.

Itu kenapa saya menganggap lahiran anak kedua kami sudah cukup gentle karena kami mengusahakan semaksimal yang kami bisa untuk lahiran normal tanpa intervensi. Namun nyatanya saat itu tidak memungkinkan sehingga tetap diambil opsi induksi dengan catatan jika hingga batas waktu tertentu tidak lahir, kami bersiap untuk operasi sc.

Yap. Kuncinya di pemberdayaan sih. Meskipun di kehamilan kali ini kami evaluasi juga agar lebih baik lagi. Alhamdulillah bertemu dengan nakes yang membantu memfasilitasi dan mengedukasi mengenai hal tersebut. Apalagi setelah kami melakukan tes terhadap pemiliknya, beliau seorang Si yang memang runut, detail dan based on experience alias sudah terbukti dipercaya banyak pihak.

Apa sih Birth Plan itu?

Birth plan ini adalah salah satu anjuran dari beliau. Apa sih birth plan itu? Bisa dikatakan birth plan merupakan daftar rencana persalinan yang diinginkan oleh pasangan suami istri guna menjadi rujukan atau catatan baik bagi tenaga kesehatan yang mendampingi prosesnya, pihak rumah sakit/klinik/bidan maupun bagi keluarga agar tidak simpang siur.

Apa fungsinya? Menjadi catatan tertulis untuk pendamping persalinan nantinya. Salinan dari birth plan ini diberikan kepada tenaga pendamping persalinan (bidan/dokter/perawat/rumah sakit/klinik), dipegang sendiri (oleh suami) dan diberikan pada keluarga terutama yang nantinya akan bantu ngurusin (misal orang tua).

Dengan adanya rencana tertulis, seluruh pihak bisa saling memantau dan mengingatkan jika ada yang tidak sesuai. Termasuk jika ada indikasi medis yang membuat birth plan ini mungkin akan diubah, pihak nakes sudah tahu bahwa mereka harus mengkonfirmasikan tindakannya terlebih dahulu.

Tidak akan ada lagi simpang siur tindakan, begini begitunya jelas. Tidak khawatir akan “berantem” karena pada salah tangkap 😀

Bagaimana Contoh Birth Plan?

Saya ga tahu birth plan yang baik itu seperti apa. Dari penjelasan bu bidan, pokoknya itu rencana lahiran di setiap kala persalinan. Apa sih kala persalinan? Teman-teman bisa cek mengenai catatan Kala Persalinan disini [klik].

Setelah mencari tahu di internet mengenai contohnya, saya buat dan setorkan ke bu bidan. Yang ini sudah direview dan insyaallah jadi birth plan fix untuk kelahiran anak ketiga kami.


Birth Plan Bayi Esa-Chalim

Berikut adalah rencana persalinan dan perawatan bayi baru lahir yang kami inginkan. Kami sadar bahwa proses kelahiran yang kami inginkan ini hanya dapat dilaksanakan apabila bayi dalam kondisi berikut:

  • bayi baru lahir cukup bulan atau hampir cukup bulan (>35 minggu),
  • berat lahir lebih dari 2000 gram
  • bayi didiagnosa Normal
    • langsung menangis saat lahir
    • seluruh tubuhnya tampak kemerahan, tidak pucat dan tidak biru
    • gerakannya aktif
    • refleks hisap menyusu kuat
  • tidak ada tanda-tanda patologi, sejak kelahiran sampai dipulangkan ke rumah.

Nama ibu: Esa Puspita (Esa)

Tanggal perkiraan lahir: 22 Juli 2017

Nama dan no telpon suami: Abdul Chalim (Chalim) – 0852-2079-5095

Pendamping persalinan: hanya suami

Proses persalinan: normal spontan, alami, aktif

Tempat persalinan: Bidan Farida Agustiani

Penolong persalinan: bidan Farida dan asisten

Kala I

  1. Tetap aktif mobile/bergerak
  2. Didampingi suami
  3. Makan minum cukup, dan tersedia camilan (kurma, madu)
  4. Membiarkan ketuban pecah secara spontan
  5. Posisi persalinan disepakati bersama
  6. Penggunaan aromaterapi jasmine
  7. Memutar murattal (Yusuf Mansur atau Mishary Rasyid)
  8. Pijat selama proses persalinan
  9. Menggunakan birthing ball atau gerakan yang dapat membantu
  10. Tidak dilakukan induksi kecuali urgen. Induksi alami dengan nanas atau endorphine massage
  11. VT dilakukan sesuai kebutuhan tapi tidak terlalu sering

Kala II

  1. Sebisa mungkin tidak dilakukan episiotomi
  2. Penundaan pemotongan tali pusar hingga denyutnya berhenti (delay cord)
  3. Suami mendampingi pemotongan tali pusar jika sudah saatnya
  4. IMD secara penuh segera setelah bayi lahir
  5. Dibantu untuk posisi paling nyaman untuk mengejan.
  6. Bayi tidak perlu langsung dibersihkan
  7. Suami mengazani bayi
  8. Suami melakukan tahnik pada bayi
  9. Suami tetap mendampingi
  10. Room-in

Kala III

  1. Penimbangan bayi (pemeriksaan dkk) didampingi ayah bayi atau jika memungkinkan, dilakukan di ruangan yang sama tempat saya berada
  2. Menyusui kapanpun bayi inginkan
  3. Menunggu plasenta lahir alami, tidak diberikan suntik oxytocin (kecuali jika berdasarkan pertimbangan medis, perlu urgen dilakukan)
  4. Bayi diberikan vit K dan HB0

Mohon tidak memberikan kosmetik apapun seperti bedak, lotion dsb pada bayi. Kami bersedia menjalani induksi ataupun sc hanya jika jelas indikasi medisnya. Jika bayi perlu mendapat perawatan di unit khusus, saya ingin tetap memberinya ASI eksklusif. Jika bayi memiliki kelainan, mohon diberi penjelasan dan alternatif penanganannya.

Kami sangat berharap petugas-petugas kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) di tempat yang kami rencanakan untuk melahirkan bisa membantu dan bekerjasama dengan kami agar segala proses persalinan dan perawatan bayi di awal kelahirannya ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapan kita semua.

Demikian rencana persalinan kami, semoga berkenan di hati petugas sekalian dan kita dapat bekerjasama dengan baik. Atas perhatian dan bantuan yang diberikan, kami mengucapkan terima kasih.

 

Hormat kami,

Calon Ibu                                                                     Calon Ayah

 

Esa Puspita                                                                Abdul Chalim


Kenapa tetap ada sebutan dokter, perawat dkk. Jaga-jaga aja kalo dirujuk ke RS, semoga tetap bisa menyerahkan birth plan ini dan menjalankan dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan.

Jika butuh file-nya, bisa coba teman-teman unduh dengan mengklik link => Birth Plan Bayi Esa-Chalim.

Semoga bermanfaat yaa.. 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Birth Plan Pertama Kami

  1. saya dulu pengennya gentle birth juga tapi takdir berkata lain kudu caesar ^^ semoga lancar dan sehat sampai persalinan ya mba, thanks for sharing ^_^

    1. Hihi sc pun bisa masuk kategori gentle birth kok bun. Selama memang keputusannya kita ambil dengan baik, insyaallah. Terima kasih doanya ^_^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *