Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Buanglah Sampah Pada Tempatnya. Familiar dengan kata-kata ini? Kayaknya banyaaaakkk banget kita temui ya. Meskipun tidak lantas masuk ke alam bawah sadar bahwa sampah musti dibuang ke tempat yang disediakan.

Ya, namanya manusia. Afirmasi lewat tulisan (yang jarang dibaca juga) pada akhirnya kalah oleh kebiasaan yang sudah “terbentuk” lebih dulu di alam bawah sadar selama bertahun-tahun. Betul? šŸ˜€

Tapi dalam tulisan ini saya tidak sedang akan membicarakan perihal kebersihan, atau semacamnya. Ada hal menarik lain terkait pernyataan tersebut. Apa itu? Cek gambar berikut:

Kalimat pada gambar adalah hasil foto dari isi sebuah buku yang sedang saya baca: Speak to Change, karya kek Jamil Azzaini. Menarik karena perumpamaannya kok ya makjleb banget.

Foto tersebut kemudian saya upload di Instagram dan dibagikan ke post Facebook pribadi. Beragam komentar masuk. Ya, karena saya juga baru sadar ternyata berbicara seenaknya kepada orang lain itu adalah bagian dari omongan “sampah”. Dan, sebagai pemeluk agama yang baik, sudah selayaknya kita memperhatikan ucapan.

Ceplas-ceplos oke, tapi berlatihlah agar tidak menyakiti orang lain. Ceplas-ceploslah hal yang positif dan membangun.

Dalam hal menulis status di Facebook, BBM, WhatsApp, Path dan lain sebagainya, perhatikan betul apa yang kita tulis dan bagikan.

Tahan untuk tidak menuliskan keluhan. Adapun jika tak tahan, maka tuliskanlah keluhan itu dalam bentuk “motivasi diri”, “nasihat untuk diri sendiri” atau semacamnya. Biasanya sih sering diberi tagar #NTMS alias note to myself. Karena apa? Karena hendaknya tulisan kita selalu mengacu pada kaidah yang diajarkan Socrates, 3-B: baik, benar, berguna. Dengan 3 filter tersebut, maka tulisan kita akan lebih ringan pertanggungjawaban di akhirat kelak. Jangan sampai tulisan kecil kita ternyata mendekatkan pada kemurkaan Allah karena isinya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ini juga kemudian berlaku bagi para penyebar BC sembarangan. Hehe. BC itu beberapa diantaranya memang bermanfaat. Tapi sebagian besar nampak seperti sampah. Dengan cara menulis alakadarnya, isi yang ga jelas hoax atau kebenaran, dan tidak jelas manfaatnya. Apalagi jika penyebar BC tersebut tidak bisa ditanyai mengenai sumber tulisan. Duh.

3-B sendiri cocok untuk menyaring informasi yang kita dapatkan. Supaya ga lebay, ga baperan dan ga terlampau berlebihan menyikapinya. Itu yang sedang saya pelajari dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kamu masih punya sampah? Buanglah sampah pada tempatnya. Bisa berupa tulis di kertas, lalu buang/bakar. Bisa berupa rekaman lalu dengarkan sendiri dan hapus kalo ga suka. Bisa juga dengan memohon pada Allah agar sampah-sampah tersebut dipertemukan dengan tempat sampah yang tepat. Akan sangat ciamik bila sampah dipilah lalu diolah. Pilihan ada pada diri anda sendiri.

So, masih buang sampah sembarangan? Jangan deket-deket saya ya. Takut ketularan bau #eh

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: