Catatan Depok

Depok. Ada apa ya sama Depok? Kok sepertinya ada satu kesamaan terkait dengan kota bernama Depok: berlatih mandiri.

Ingatan tentang Depok menarik saya pada sebuah kisah di masa lalu. 1 tahun sebelum akhirnya dinikahi oleh seorang lelaki bernama Chalim. Aih apa sih 😂

Tahun 2008 menjadi pengalaman pertama saya pergi ke luar kota, sendiri pula. Anak rumahan macam saya, tak pernah terpikir sedikit pun untuk pergi ke luar kota. Ya, pernah sih ketika keterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor sana. Merayu mamah supaya diizinkan kesana, belajar mandiri. Tapi izin tak kunjung diberi 😁

Balik ke ingatan tahun 2008. Terpaksa pergi karena harus memenuhi sebuah syarat. Saat itu seleksi lanjutan beasiswa dari sebuah lembaga eh yayasan.

Seleksi tersebut bertempat di kampus Universitas Indonesia, tempat dimana acara pengukuhan BeKel Nasional akan berlangsung besok, insyaallah. Meski mungkin berada di tempat yang tidak sama persis.

image

Ketika pengumuman tentang hasil seleksi diterima, perasaan campur aduk saat itu. Bagaimana saya akan pergi ke Depok?

Akhirnya setelah tanya sana-sini –tanpa tanya google karena waktu itu belum terlalu dekat sama Google-  dapet lah informasi tentang bagaimana mencapai UI dari Bandung. Alhamdulillah atasan di kantor bantu juga info tentang rutenya. Maklum, ketika mengajukan beasiswa itu, jabatan saya adalah karyawan sebuah perusahaan di Bandung.

Kejadian itu sangat melekat karena menjadi pengalaman pertama saya ke luar kota sendiri. Dengan harap-harap cemas naik kereta, memastikan turun di stasiun yang tepat dan lanjut kereta “dalam kota” tujuan UI.

Setiap kereta berhenti, cek stasiun. Jadi inget, pertama kalinya juga tuh lihat monas. Meskipun sampe sekarang belum pernah lihat monas dari dekat ๐Ÿ˜€

Dengan membawa perlengkapan untuk beberapa hari selama seleksi berlangsung, dan ketakjuban melihat ibukota, saya sudah ga peduli kalo dibilang orang udik. Meski saat itu berusaha nampak biasa saja, ga kebingungan karena khawatir dimanfaatkan orang (ahahaay parnoan sekali ya saya saat itu).

Saking parnonya, sempat salah kereta juga. Haha. Gegara pas nanya, kereta ke UI yang mana? Sama orang dibilang “itu kereta yang baru berhenti, cepetan. Ntar ketinggalan”. Kemudian tergopoh menuju kereta, duduk paling samping dekat pintu keluar. Ya, tahu lah ya bagaimana KRL. Jaman dulu sih gitu, kayak bis, cuma tempat duduknya hadep-hadepan. Gatau deh KRL sekarang.

Begitu lihat tiket, sadar salah kereta. Untung ga disuruh turun di tengah jalan. Akhirnya sambung kereta lain deh.

Alhamdulillah ibukota juga masih banyak orang baik. Kereta jaman dulu pan sesek banget ya. Sampe desak-desakan pol. Dikasih tahu harus turun dimana. Diingatkan sama orang-orang sana. Maklum muka masih manis pan, namanya juga baru 2 taun lulus SMA. Wkwkwk. Jadi ya orang pada nebak saya mau kuliah kali ya. Dikasih tahu pas saatnya turun karena desak-desakan agak susah keluar sementara kereta berhenti sebentar.

Berkali-kali ngecek tas 2 biji itu. Dan memastikan dompet dan ponsel aman. Alhamdulillah turun dengan selamat. Jalan kaki tanya-tanya. Akhirnya dijemput sama panitia dan acara berlangsung lancar hingga selesai.

Alamin keliling ibukota untuk berbagai kegiatan selama seleksi, termasuk pengalaman masuk ke gedung bertingkat dan naik ke lantai tertinggi yang merupakan bangunan milik yayasan tersebut. Ah keren pisan itu gedungnya. Asa siga istana, ya minimal buat saya begitu kesannya. Maklum atuh da saya baru pertama kalinya ke ibukota ๐Ÿ˜€

Kita ke terminal juga, praktek ngajar. Seneng aja saya mah. Trus ketemu temen baru, bisa akrab sama mereka meskipun sekarang udah pada pisah tapi sebagian besar dari kami tetap berkecimpung di dunia yang sama.

Alhamdulillah meskipun ga lulus SPMB, tapi saya kembali ke UI dalam satu dunia yang saya anggap sama: PENDIDIKAN. Yap, bagi saya BeKel adalah salah satu bagian pendidikan non formal. Dan saya bahagia menjadi bagian dari BeKel.

image
Foto didapat dari internet, tapi belum pernah lihat gerbang ini 😁

Wahai Allah, terima kasih atas kesempatan ini ๐Ÿ™‚
Lindungi dan sayangi kami di jalanMu. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *