Catatan Parenting: Dimulai dari yang Terdekat

Perjalanan parenting sesungguhnya tentang bagaimana orang tua belajar menjadi orang tua. Tentang bagaimana menjalankan amanah peran yang baru saja disandang.

Bukan semata tentang bagaimana mendidik anak. Sebab mendidik anak seyogyanya adalah mendidik diri.

Masih ingat istilah children see, children do? Keseharian kita akan menjadi “pengajaran tanpa sengaja”. Bahkan ruhiyah kita akan menjadi “contoh tak terlihat”.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim ayat 6)

Berbicara tentang parenting dan pendidikan generasi mendatang, sesungguhnya ia bermula dari memelihara diri dari api neraka. Sehingga ketika kelak Allah takdirkan kita berkeluarga, maka itu adalah pertemuan dua orang yang sama-sama saling menjaga diri dari api neraka. InSyaAllah akan lebih mudah menyelaraskan visi untuk menjaga keluarga dari api neraka.

Hal ini bukan berarti bagi teman-teman single lillah lantas hanya menjalankan satu peran saja yakni menjaga diri, melainkan perlu tetap menjalankan tahapan kedua dimana keluarga disini bermakna orang tua, saudara dan keluarga besar kita. Sehingga tugas siapapun pada dasarnya sama: menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Maka, dimulai dari yang terdekat itu adalah diri kita. Bukan yang lain.

Sejak sekarang, latihlah diri untuk menjadi hamba Allah yang taat. Yang beriman kepada Allah dan terus berupaya memperbaharui keimanannya. Jadilah pribadi yang senantiasa menjaga diri dari segala hal yang tak disukai Allah.

Carilah ilmu agama agar setiap langkah terayun dengan pasti. Mohonkanlah hidayah dan taufik agar ilmu yang didapat menjadi bermanfaat sehingga setiap hela nafas pun menjadi hembusan pahala yang terus berkumpul di langit. Semoga kelak kita dapat merasakan hujan rahmat dari-Nya.


Bicara parenting adalah tentang menjadi teladan. Dan tak ada satupun yang dapat menjadi teladan jika ia tak memperhatikan dirinya. Teladan adalah sosok yang senantiasa melakukan, mengupayakan dan melaksanakan kebaikan dan perbaikan secara berkesinambungan. Ia tak menuntut pihak di luar dirinya karena sadar betul bahwa tanggung jawab sikap dan amanah peran ada di pundaknya. Tak dapat digantikan.

Bicara parenting adalah tentang mempersiapkan generasi mendatang. Dan generasi itu terbentuk dari para pendidik yang memiliki ruh nan kuat.

Sebab ilmu tanpa iman tiadalah bermanfaat untuk akhirat. Kata Buya Hamka: “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.”


Saya sendiri terinspirasi dari tahapan yang digambarkan Allah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam QS al-Jumu’ah ayat 2. Tahapan yang menjadi kunci sukses parenting (bahkan kepemimpinan) beliau.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

  1. Mari kita mulai membiasakan membaca ayat-ayat Allah. Benar-benar menyengajakan untuk tilawah, membaca terjemah dan tadabur alquran. Syukur-syukur kalau mulai menghafal juga sedikit demi sedikit.
  2. Latih untuk senantiasa mensucikan diri terutama dari kemusyrikan yang haluuuss sekali terasanya. Benar-benar melatih keimanan dan menyiapkan ruh untuk mendampingi anak-anak yang jiwanya suci.
  3. Lalu mendampingi proses tumbuh kembang anak-anak. Tahapan yang mungkin akan ditemui dalam keseharian sebagai orang tua. Jika dua tahap sebelumnya kurang baik dilaksanakan, biasanya terasa berat.

So, sudah siapkah menjalani peran sebagai orang tua? Sudahkah kita memulai dari yang terdekat? Sudahkah kita bersungguh-sungguh untuk menyiapkan generasi mendatang?

Semoga Allah senantiasa mendampingi kita. Mintalah selalu untuk ditemani oleh Allah dan titip segala sesuatu yang di luar kuasa kita.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: