Catatan Sapih Azam

Beberapa hari kemarin mendengarkan ceramah ustadz Yusuf Mansur (UYM) yang salah satu bahasannya adalah Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Bahasan mengenai tahapan ini berlaku untuk hampir semua ikhtiar.

Setelah diingat-ingat, dulu pernah dinasihati juga tentang urutan Doa-Ikhtiar-Tawakal. Allah dulu, ikhtiar, Allah lagi dan begitu selanjutnya Allah terus. Tahapan yang kemudian sering saya lupakan. Astagfirullah.

breastfeed weaning

Maaf saya tidak dalam kapasitas ‘alim, hanya mencoba mencatatkan lagi apa yang saya dapat beberapa hari kemarin dan kemudian saya kaitkan pada kejadian terdekat: menyapih Azam.

Dibanding saat menyapih Danisy, Azam membuat saya harus lebih kreatif lagi. Beberapa orang menganggap saya “mempersulit diri” dengan memutuskan cara sapih yang diserahkan sepenuhnya pada keputusan anak. Beberapa menganggap “anak-anak mah belum mengerti dan belum bisa diajak bicara/diskusi. Kasih aja yang pahit-pahit di nenennya biar anaknya berhenti menyusu.”

Sempat terpikir, iya sih. Biar gampang dan cepat berhenti. Tapi hey, tujuan saya menyapih dengan cara ini supaya akhir masa menyusui tetap indah seindah masa menyusui itu sendiri. Saat menyusui, baik ibu, anak dan keluarga ada dalam posisi sepakat untuk menyusui. Pun tentang mengakhiri masa menyusui, saya ingin mengakhirinya dalam posisi sepakat untuk berhenti.

Memang banyak pro kontra mengenai hal ini. Saya lebih memilih untuk membiarkan perbedaan itu karena toh setiap ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk keluarganya dan persepsi tentang terbaik itu bisa jadi berbeda antara satu ibu dengan lainnya 😉

Kembali ke tips menyapih. Dari ceramah UYM itu saya kemudian belajar. Bisa jadi kesulitan saya menyapih Azam karena saya melupakan Allah dalam prosesnya. Jika dulu menyusui berlandaskan perintah Allah dalam al-Quran, maka menyapih di usia 2 tahun juga adalah perintah yang sejajar di dalamnya (menyusui selama 2 tahun merupakan kesempurnaan proses menyusui).

Seharusnya tahapan menyapih anak (dalam pikiran saya) adalah:

  • Doa dulu ke Allah, minta petunjuk
  • Ikhtiar dengan sounding dan mengurangi jadwal menyusu
  • Doa lagi ke Allah memohon kemudahan dan petunjuk
  • Evaluasi, ikhtiar dengan mengalihkan perhatian anak, dsb
  • Doa terus ke Allah, tawakkal untuk kemudahan proses sapih karena ini merupakan bagian dari menjalankan perintah Allah
  • Ikhtiar terus
  • Kembalikan pada Allah

Soal hasil tetap ada di ranahnya Allah. UYM mengingatkan bahwa hasil bisa jadi berbeda dari yang ditargetkan tapi jika langkahnya benar, maka ini menentramkan hati dan menabung pahala.

UYM dalam ceramahnya juga menceritakan kisah ibunda Hajar saat ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di padang pasir gersang bersama sang bayi Ismail berdua saja. Pertanyaan ibunda Hajar kepada Nabi Ibrahim pertama kali adalah “Apakah ini perintah Allah?” dijawab oleh nabi Ibrahim, “Benar ini perintah Allah.” Lalu ibunda Hajar dengan keimanan yang penuh mengatakan “Jika demikian, pergilah. Allah tidak akan menelantarkanku sedikitpun”. Ini tahapan awal, yakin kepada Allah.

Tahapan berikutnya ketika haus melanda dan bayi Ismail menangis, ibunda Hajar memohon kepada Allah ditunjukkan dimana mata air berada. Beliau lalu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa hingga lelah melanda. Namun keyakinannya pada Allah tidak pudar. Lantas setelah itu, di luar dugaan. Mata air itu justru memancar di bawah kaki bayi Ismail. Bukan di bukit Shafa ataupun bukit Marwa. Apakah kemudian ibunda Hajar mengeluh “Yah, sudah capek-capek lari antara dua bukit eh ternyata keluarnya di sini. Tahu begitu mending diam saja di sini”? Nyatanya tidak kan. Beliau malah tersungkur sujud, bersyukur atas pemberian Allah. Saya jadi malu sendiri masih sering mengatakan hal seperti itu L

Hikmah kisah ini kemudian diperkuat dengan bahasan di Mentoring Bareng Kang Rendy (MBKR) yang mengingatkan bahwa setiap usaha kita sekecil apapun dicatat oleh Allah. Berkaca dari kisah ibunda Hajar, bisa jadi kita berikhtiar di A dan di B tapi kemudian hasil yang kita dapatkan justru di C. Begitulah kita harus memperbaiki niat kita dalam berikhtiar. Bahwasanya ikhtiar ini bukan penentu takdir, jangan sampai kita terjebak menuhankan ikhtiar dan cara. Tetap kita kembalikan lagi kepada Allah hasil dari ikhtiar kita.

Maka mulai hari ini, yuk ah kita perbaiki segala cara tindakan kita. Dan bagi saya, karena sekarang fokus di sapih Azam, mau saya perbaiki lagi caranya. Sekaligus mengajarkan anak-anak untuk memiliki keyakinan yang seperti itu.

Semoga Allah memberikan hikmah dan kekuatan untuk memahami agama-Nya, mengenal Diri-Nya dan mengenali diri sendiri sehingga jalan kita lurus dan benar dalam tauhid yang benar. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Catatan Sapih Azam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *