Catatan Toilet Training Anak Lelaki

Sudah 5 hari ini Azam anak kedua kami menunjukkan kemajuan dalam hal proses toilet training (TT) atau dikenal dengan tatur. Usianya sekarang 2 tahun 5 bulan.

Sounding tentang tatur sudah dimulai sejak Azam bisa berdiri dan berjalan sendiri (sekitar usia 1 tahun). Lama ya? Tapi saya tidak mau men-judge bahwa saya atau Azam gagal. Telat atau apapun itu namanya. Saya hanya memastikan diri bahwa saya mencoba melakukan yang terbaik dan bersabar hingga saya dan Azam benar-benar siap.

Ada 3 target Azam yang dirancang beberapa bulan yang lalu. Pertama soal sapih dengan metode Weaning with Love (WWL) atau sering dikenal dengan menyapih dengan cinta. Lalu tentang pipis dan BAB di jamban. Ketiganya bagi saya adalah pertanda kesiapan anak dalam hal kemandirian.

Alhamdulillah Azam lulus WWL di usia 27 bulan. Berhenti sendiri tanpa ditakut-takuti, tanpa dibohongi. Maka saya bisa fokus ke target berikutnya: tatur.

image

Rupanya Azam termasuk anak yang harus tahu dulu secara “real” seperti apa sih pipis di jamban itu. Awalnya saya selalu beranggapan Azam belum siap. Tapi berhubung dia sudah ga pipis malam hari (ga pipis di kasur) saya pikir seharusnya dia juga sudah bisa diajak tatur.

Hingga saat itu ketika hendak mandi, dia baru pertama kalinya secara sadar mengalami pipis di jamban dan saya bersamanya saat itu. Seketika saya mengatakan padanya “nah, kayak gitu De pipis di jamban teh. Nanti mah kalau mau pipis ke jamban ya”. Azam masih nampak ragu. Tapi dia sepertinya mengerti.

Meskipun Azam belum bisa laporan ketika akan pipis padahal sudah bisa bilang “pipis” (ga kayak Danisy dulu), tapi dia sudah punya bayangan tentang pipis di jamban. Alhasil semenjak saat itu Azam dapat lebih mudah diarahkan untuk pipis di jamban. Bahkan sesekali menolak saat saya ajak ke jamban, pertanda dia ga sedang ingin pipis.

Proses TT ini pun tak luput dari bantuan Aa Danisy dan dukungan abi. Saya juga sangat terbantu dengan adanya training pants (TP) bekas TT kakaknya dulu.

Persiapan tatur:

  1. Mental ortu
  2. Menyiapkan anak dengan contoh atau sounding
  3. Kesabaran
  4. Ketelitian dan telaten
  5. Perlengkapan yang dirasa perlu.

Perlengkapan yang dirasa perlu:

  • Training pants
  • Clodi
  • Stok celana yang banyak untuk ganti
  • Stok celana dalam kesukaan anak
  • Lap pel khusus untuk ngelap jika pipisnya membasahi lantai (apalagi muslim, karena pipis itu najis)

Tips:

  1. Ajak ngobrol anak tentang tatur
  2. Beri gambaran, contoh atau semacamnya agar anak semakin paham bagaimana tatur itu
  3. Siapkan stok sabar yang banyak
  4. Siapkan keluarga besar agar mendukung proses ini (terutama jika masih 1 rumah dengan ortu. Kami sendiri sudah pisah rumah dari ortu jadi tidak terlalu fokus ke arah sana). Azam mengalami perbedaan sikap saat main di rumah kakek-nenek. Ortu saya masih setengah hati mendukung tatur Azam karena beberapa pertimbangan. Ga usah dipaksa untuk langsung nerima keputusan kita tatur. Dikomunikasikan saja terus.
  5. Cek saat malam. Saya pernah iseng suatu saat ga memakaikan Azam popok/clodi. Hanya celana dalam sesuai permintaan Azam (yang itu adalah CD kakaknya). Ternyata kering sampai pagi. Setidaknya disini saya mulai mengurangi penggunaan popok ataupun clodi di malam hari. Siangnya belum bisa fokus tatur karena alasan pekerjaan.
  6. Cek saat siang. Biasanya pipis sudah tidak terlalu sering alias sebenarnya jadwal pipis sudah mulai teratur. Saya pernah coba pakaikan clodi dan ganti hanya ketika sudah rembes. Ternyata bisa dari pagi sampai sore. Berarti sudah ga terlalu sering/banyak pipis.
  7. Telaten mengajak anak ke jamban setiap interval berapa jam sekali. Atau kenali ciri anak akan pipis. Minta anak laporan jika akan pipis.
  8. Selain pipis malem, salah satu hal mudah dalam tatur adalah BAB di jamban. Biasanya ciri anak mau BAB lebih mudah dikenali daripada ciri anak mau pipis.
  9. Doa dan mohon pertolongan Allah.

Ada baiknya memperkenalkan tatur dikaitkan dengan perkenalan tentang najis. Saya perhatikan, saat usia balita anak akan semakin tertarik dengan kegiatan orang tuanya dan mengikuti/meniru termasuk shalat. Nah, dengan cara ini selain mendapatkan keuntungan berupa terbebas dari popok, juga ada value tambahan bagi anak. Saya tidak melarang Azam ikut shalat, hanya saja saya mengatakan “kalau shalat ga boleh pake popok yang ada pipisnya, kan najis. Najis membatalkan wudhu dan shalatnya ga sah. Makanya kalo pipis di jamban aja ya.” Sekilas anak mungkin belum tentu mengerti, tapi lumayan mempan tuh 😀

Mengenai celana dalam kesukaan, hal ini cukup efektif di kedua anak saya. Karena mereka suka, jadi berusaha untuk ga mengotori CDnya dengan pipis atau BAB. Tapi tidak membuat mereka lantas melarang saya mencuci CD kotor.

Oiya, belakangan booming juga produk potty training. Jangan mudah tergiur ya. Maksud saya, jangan terlalu segala dibeli karena kunci utama tetap di ibu dan anak, alat seperti itu hanya membantu saja. Dan sejauh yang saya tahu, potty training itu cocok untuk yang toilet duduk.

Bagi yang toilet jongkok gimana? Apa ga repot? Kan anak ga bisa ngangkang se-lebar itu? Nggak tuh. Kami menggunakan toilet jongkok dan semuanya baik-baik saja.

Anak pertama karena sudah besar bisa lah posisi sesuai bentuk toilet. Anak kedua jongkok di pinggiran toilet (Bagian lebar untuk pijakan kaki).

Apa ga ngejengkang (jatuh karena tidak seimbang) pas jongkok di pinggiran toilet? Kalau anak sudah bisa jongkok sendiri sih, nggak. Tapi tergantung lebar pinggiran. Seandainya ragu dan khawatir, ibu bisa memberikan ember berisi air untuk pegangan anak (sehingga berat dan mampu menahan beban tanpa takut ember ga seimbang). Atau jika dekat dengan bak dan memungkinkan anak berpegangan dengan bak, bisa langsung ke bak.

Tidak memungkinkan untuk keduanya? Bisa dengan meminta anak memegang tangan kita sebagai penahan. Jika BAB anak lancar (termasuk pipis juga) biasanya ga lama kok. Disini kita juga bisa memperkenalkan value untuk mengikuti sunnah Rasulullah berupa tidak berlama-lama di jamban.

Itu diantara tips yang saya alami sendiri saat mendampingi kedua anak melewati fase tatur. Kalau teman-teman bagaimana?

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Catatan Toilet Training Anak Lelaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *