Emosi itu Menular, Kenali Penyebab dan Solusinya

Emosi itu bervibrasi. Emosi itu menular. Saat ada kita marah, orang sekitar akan merasakan bahkan “tertular” kemarahan kita. Dan efek tertular itu bisa satu diantara 2 ekspresi: ikut marah atau terdiam dengan semacam rasa bersalah.

Pagi ini pesan sebuah layanan kirim barang online dan dapet driver yang sebenarnya wajar saja mengeluhkan kesulitannya diakibatkan sms patokan rute yang tak sampai. Saya sudah minta maaf dan menginformasikan bahwa tadi mengirim SMS berisi patokan dan rute (hanya saja ternyata gagal terkirim), namun sang driver masih saja melanjutkan mengulang-ulang keluhan yang sudah dipahami.

Intonasi menyebabkan kalimat itu kemudian terdengar seperti marah-marah dengan nada ancaman “bisa aja saya cancel orderan”. Hmm.. Padahal tak ada yang memaksa untuk mengambil orderannya. Dan kalaupun dicancel, bukankah saya bisa mendapatkan driver lain?

Kemudian saya jadi dapet pelajaran. Ini mirip dengan keluhan kita tentang beratnya hidup ini. Bisa jadi bukan susah nyari alamatnya yang jadi masalah karena jika memang itu masalahnya, seharusnya saat saya meminta maaf dan memberikan patokan lalu ikuti saja patokan itu hingga sampai di tujuan dan selesai kan? Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Catatan Persiapan untuk Ke Semarang

Belakangan ini saya sering mendapati teman-teman berada di daerah Semarang. Kota ini jadi salah satu tempat yang sepertinya perlu dikunjungi.

Ada sedikit rasa penasaran apakah Samarang di Garut berisi orang-orang Semarang atau gimana. Akhirnya googling lah saya. Ternyata Samarang sendiri adalah nama “lama” Semarang dari Bahasa Belanda.

Hal menarik dari Semarang adalah ketika saya tahu ternyata ya ajar aja banyak postingan mengenai kota ini sebab merupakan kota terbesar ke-5 setelah Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Wow. Setara sama kota tempat aye tinggal dong. Setelah pernah ke Jakarta dan Surabaya, berarti next trip aye harus ke Semarang nih.

Tulisan ini jadi catatan saya pribadi apa saja data yang diperlukan untuk berkunjung kesana dan kenapa musti main ke Semarang. Dan karena belakangan ini sedang tertarik banget sama sejarah ataupun asal muasal, fokus saya ga cuma di oleh oleh khas Semarang saja tapi juga ada cerita apa di balik kota ini.

Sejarah Pemerintahan Semarang

Semarang semula berada di bawah pemerintahan kerajaan Demak dengan Raja yang tengah berkuasa saat itu adalah Kin San/Raden Kusen, Ki Ageng Pandan Arang dan Sunan Bayat (Sunan Pandan Arang II). Kemudian berada di bawah kesultanan Pajang dan Kesultanan Mataram.

Setelah Belanda masuk, Semarang sempat berada di bawah pemerintahan VOC dan Hindia Belanda. Pemerintahan kemudian dibagi dua yaitu kota Praja dan Kabupaten. Kota di bawah penguasa Belanda sementara pribumi memegang wilayah kabupaten.

Lalu di bawah pemerintahan Republik Indonesia berlanjut pemerintahan Republik Indonesia Serikat. Sampai akhirnya setelah pengakuan kedaulatan pada 1950 secara definitif ditetapkan sebagai kota Semarang berdasarkan UU nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan kabupaten di lingkungan provinsi Jawa Tengah.

Julukan Kota Semarang

Setiap kota dan daerah biasanya memiliki julukan khas tersendiri. Ada banyak cerita di balik julukan tersebut. Khusus untuk kota Semarang, berikut adalah berbagai julukan maupun slogan yang umum diketahui masyarakat:

  1. 1. Kota Lumpia

Dengan makanan khas Lumpia sebagai oleh-oleh khas Semarang, tentu saja julukan yang paling terkenalnya adalah Semarang kota Lumpia. Lumpia sendiri merupakan perpaduan akulturasi budaya Jawa dan Cina.

  1. 2. Venetië van Java

Jika Bandung dikenal dengan Parijs van Java alias ibarat kota Parisnya pulau Jawa, maka orang Belanda menyebut Semarang sebagai Venesia-nya pulau Jawa karena dilalui banyak sungai di tengah kota seperti halnya kota di Italia tersebut. Aaakk.. kemudian pikiran saya membayangkan keromantisan di Semarang. Hmm. Benarkah demikian?

  1. 3. Kota Atlas

Disebut kota Atlas bukan berarti karena ini merupakan atlas Asia. Tapi slogan kota Semarang yang merupakan akronim alias kependekan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat. Wii, mantap.

  1. 4. Semarang Pesona Asia

Wacana pada tahun 2009 membuat slogan Semarang Pesona Asia yang disetujui oleh walikotanya menghasilkan pembersihan dan pembangunan di berbagai lokasi. Penataan PKL, perbaikan saluran, jalan, trotoar dan taman.

  1. 5. The Port of Java

Walikota Semarang mengambil slogan pariwisata: The Port of Java alias pelabuhannya pulau Jawa. Hal ini diambil sebagai upaya terkait kepentingan pemasaran pariwisata di kota Semarang.

Tentu tidak berlebihan sebab akses dari Jawa Barat menuju Jawa Timur umumnya selalu melewati Semarang sebagai tempat singgah. Bahkan dalam sejarah tercatat bahwa Semarang menjadi tempat laksamana Ceng Ho singgah.

Tempat Wisata

Ada berbagai jenis tempat wisata yang dapat dikunjungi di Semarang. Berikut diantaranya:

Wisata Alam:

  • Pulau Tirangcawang, di Kelurahan Tugu
  • Pantai Tirang, di Kelurahan Tambak Harjo
  • Pantai Marina, di Kelurahan Tawangsari
  • Pantai Maron, di Kelurahan Tambak Harjo
  • Goa Kreo, di Kelurahan Kandri
  • Taman Lele Semarang, di Kelurahan Tambakaji
  • Curug Lawe di Gunungpati
  • Curug Benowo di Gunungpati
  • Curung Karang Joho di Ngaliyan

Wisata Sejarah

  • Museum MURI, di Kelurahan Tegalsari
  • Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, di Kelurahan Tegalsari
  • Museum Jamu Nyonya Meneer, di Kelurahan Muktiharjo
  • Museum Jawa Tengah, di Kelurahan Gisikdrono
  • Museum Mandala Bhakti, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Lawang Sewu, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Tugu Muda, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Candi Tugu, di Kelurahan Tugurejo
  • Little Netherland (Kota Tua Semarang), di Kelurahan Purwodinatan

Wisata Religius

  • Masjid Agung Jawa Tengah, di Kelurahan Sambirejo
  • Masjid Baiturrahman Semarang, di Simpanglima
  • Masjid Kauman Semarang, di daerah Kauman, Johar
  • Klenteng Sam Po Kong, di daerah Simongan
  • Kelenteng Tay Kak Sie Tri Dharma, di Gang Lombok, Semarang Pusat
  • Gereja Blenduk, di Kecamatan Semarang Utara
  • Gereja Katedral Semarang di Kelurahan Randusari
  • Gereja JKI Injil Kerajaan Semarang di Kelurahan Tawangsari
  • Vihara Mahavira Graha di Kelurahan Tawangsari
  • Pagoda Buddhagaya, di Pudak Payung, Banyumanik, Semarang Selatan

Wisata Keluarga

  • Wonderia, di Kelurahan Tegalsari
  • Kebun Binatang Mangkang, di Kelurahan Mangkang Kulon
  • Taman Mini Jawa Tengah (Maerokoco), di Kelurahan Tawangsari

Wisata Malam

  • Alun-Alun Kota Semarang (Simpang 5)
  • Taman Pandanaran (Taman Warak Ngendok)
  • Taman KB

Wisata Belanja

  • Pasar Johar, di Kelurahan Kauman
  • Mall Ciputra (Ramayana), Simpang Lima City Center
  • Simpang Lima Plaza (Matahari), Simpang Lima City Center
  • Java Super Mall (Hypermart), di Kelurahan Peterongan
  • Paragon City Mall (Matahari), Pemuda Central Business District (PCBD) di Kelurahan Sekayu
  • Sri Ratu (Matahari), di Kelurahan Peterongan
  • DP Mall (Carrefour), di Kelurahan Pekunden Jl. Pemuda Semarang Tengah
  • M-Art Shop, Jl. Mataram 653 Semarang

Kuliner

Biasanya tiap berkunjung ke sebuah kota, sebagian besar masyarakat akan mencari apa sih kuliner khas menarik dari kota tersebut. Nah, jika akan ke Semarang berikut adalah beberapa makanan dan oleh-oleh khas Semarang yang tersedia:

Makanan/masakan khas Semarang:

  • Bandeng presto
  • Soto Bangkong “Soto Semarang”
  • Mie Kopyok
  • Sega Becak
  • Sega Lunyu
  • Sega Ayam
  • Tahu Pong
  • Pecel Koyor
  • Petis Kangkung
  • Tahu Petis
  • Tahu Gimbal
  • Bakso

Jajanan pasar khas Semarang:

  • Lunpia Semarang
  • Spekoek
  • Jongkong Singkong
  • Gandos
  • Kue Moci
  • Blanggem
  • Timus
  • Gilo-gilo
  • Tahu Gimbal

Minuman khas Semarang:

  • Kolak Setup
  • Es Cao
  • Es Marem
  • Es Congklik
  • Wedang Durian
  • Wedang Jahe Rempah
  • Wedang Lengkeng
  • Wedang tahu
  • Wedang Jalang (Wedang Jahe Alang-alang)
  • Wedang Kacang Tanah

Oleh-oleh Khas Semarang:

  • Lumpia
  • Roti Gandjel Rel (haha saya penasaran seperti apa ini dan kenapa diberi nama seperti ini)
  • Jambu Semarang
  • Wingko Babat
  • Mari Wijen
Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Paradoks Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pa.ra.doks: n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menjalankan peran sebagai orang tua merupakan sebuah perjalanan. Kenapa? Bagi saya secara pribadi, menjadi orang tua selalu merupakan proses. Perjalanan itu dimulai sejak seorang perempuan dinyatakan positif hamil. Bahkan segera sejak ijab kabul terucap dari seorang lelaki yang kini disebut suami.

Di tengah hujan sambil menikmati soto mie Bogor, saya merenung. Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjalanan yang panjang. Maka berbekal untuk melewati prosesnya adalah sebuah keharusan.

Bekal seperti apa sih yang perlu disiapkan? Selain keimanan dan ketakwaan, ilmu adalah bekal yang sangat diperlukan. Agar setiap episode yang harus dilewati sepanjang jalan itu dapat kita lewati dengan baik.

Meskipun ada masa dimana kita belajar dari perjalanan itu sendiri, akan tetapi terus memberdayakan diri untuk menjadi orang tua harus tetap dilaksanakan. Sebab tak akan merugi orang yang berilmu. Bukankah mereka akan Allah tinggikan derajatnya?

Dianugerahi 3 anak membuat saya belajar semakin banyak, meskipun masih tambal bolong disana-sini. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan banyak guru yang mengajarkan bagaimana menjalankan peran ini semakin baik setiap waktu.

Guru tak harus mereka yang lebih tinggi ilmunya, tak juga harus lebih tua usianya. Mereka bisa saja justru anak kita sendiri. Dan seringnya, justru anak-anak menjadi guru sekaligus pendamping kita dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Sepakat?

Paradoks Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Belajar tentang fitrah, belajar tentang bagaimana Islam mengajarkan cara mendidik anak, berdiskusi dengan teman-teman, membuat saya menemukan sebuah paradoks dalam pendidikan anak. Setidaknya itu yang saya alami. Dan saat memperhatikan sekitar, paradoks ini pun terjadi pada beberapa keluarga. Mungkin pada sebagian besar orang tua.

Terkadang saya menertawakan diri sendiri. Ah, rasanya geli ya kalau ingat berbagai paradoks yang saya jalankan. Seperti saat sedang sangat ingin menikmati soto mie Bogor tapi malah memesan soto Bandung.

Bayi terlahir dalam keadaan fitrah. Dan semua sepakat fitrah yang dimaksud adalah fitrah untuk menerima syariat sesuai perkembangan usia dan fitrah untuk lebih cenderung pada kebaikan.

Mari kita runut fitrah anak (yang saya ingat) dan betapa kita melakukan paradoks yang menggelikan selama mendidik mereka.

  1. 1. Anak terlahir sensitif terhadap najis.

Anak baru lahir biasanya kita pakaikan popok kain. Setiap kali pipis atau eek, anak akan memperlihatkan ekspresi maupun gerakan pertanda ia tidak nyaman. Lalu semakin beranjak besar, kita mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak) –popok yang memiliki daya tampung banyak untuk beberapa kali pipis, dan selalu dengan iming-iming: nyaman, permukaan kering, dan benefit lain yang menggiurkan.

Maka kemudian dengan alasan “takut tidurnya terganggu karena ga nyaman akibat pipis, makanya dipakaikan pospak saja lah. Biar nyenyak meski berapa kali pipis.

Lalu saat anak mulai besar, semakin lucu berlari kesana kemari, ternyata masih pipis di kasur malem-malem. Kemudian kita kesal kok anak masih saja pipis di kasur?

Padahal.. bukankah kita yang mengajarkan anak untuk “tetap nyenyak meskipun pipis banyak”?

Anda boleh tidak setuju dengan saya. Saya tidak melarang teman-teman mengenakan putra/i-nya pospak ya. Hasna juga masih pake kok. Yang menjadi poin penegasannya adalah: sebelum menghakimi anak ketika malam ia pipis di kasur tapi ga kerasa, susah diajarkan toilet training, atau semacamnya. Mungkin kita perlu evaluasi dulu. Bisa jadi sulitnya anak menjalankan toilet training karena doa kita yang tak sengaja melalui afirmasi/lintasan pikiran dan pembiasaan yang kita jalankan.

  1. 2. Anak terlahir untuk senantiasa bangun di sepertiga malam dan shubuh.

Setiap bayi akan menjadi alarm untuk orang tuanya karena ia terbangun di sepertiga terakhir. Seolah mengajak orang tuanya untuk “yuk ayah, ibu temani aku menghadap Rabb-ku di sepertiga terakhir malam”.

Ia juga mudah sekali bangun kembali saat menjelang shubuh. Maka setiap anak seharusnya mudah bangun pagi. Bukan hanya untuk sekolah, tapi untuk shalat shubuh.

Tapi dengan alasan “kasihan ngantuk. Ah, kan masih kecil biarin aja tidur lagi. Toh kan masih anak-anak, belum wajib shalat.”

Kalimat tersebut tidak salah. Hanya pada keadaan tertentu membuat anak kemudian kehilangan kebiasaannya, fitrahnya tertutupi secara perlahan hingga akhirnya mungkin saja fitrah itu rusak.

  1. 3. Anak senang dan semangat ke masjid.

Pengalaman pada 2 anak lelaki, umumnya di usia mereka sudah bisa berjalan dan bicara mereka semakin tertarik ikut ayah ke masjid. Lagi-lagi karena alasan “masih kecil”, “kasihan”, “repot” dsb, kita mulai menutupi fitrah anak untuk terbiasa berjamaah di masjid.

Tapi kan Teh, memang repot lho bawa anak balita ke masjid. Takut ganggu jamaah lain.

Memang betul. Makanya perlu diajarkan adab di masjid sejak dini. Saat mereka ingin ikut ke masjid, izinkan saja. Jika memungkinkan ibu ikut mendampingi sehingga saat anak ternyata tidak kondusif, ibu bisa turun tangan mengatasi anak sementara ayah tetap bisa berjamaah.

Bagaimana jika tidak bisa mendampingi karena punya bayi, misalnya? Maka diharapkan kesabaran ayah dalam menjaga fitrah itu. Jangan larang anak. Tegur ia baik-baik saat berulah, jangan ditegur di depan umum. Khawatirnya anak jadi takut dan benci masjid.

  1. 4. Anak senang meniru dan bersegera pada ibadah seperti shalat, sedekah, dsb.

Ingin anak shalih tapi kita enggan memperbaiki diri untuk menjadi role model terbaik bagi anak, bukankah itu sebuah paradoks? Padahal anak lebih pandai meniru dibanding mendengar perintah kita.

Saya ga bilang ayah-ibu harus shalih dulu baru punya anak ya. Semua bisa sambil berproses. Kuncinya adalah kesungguhan untuk menjadi lebih baik. Nanti Allah akan kirimkan bantuan yang sesuai.

Ingin anak rajin shalat berjamaah di masjid, tapi ayah shalatnya di rumah di akhir waktu pula. Ingin anak rajin sedekah dan berbagi, tapi ketika ada kesempatan sedekah ternyata ayah-ibu enggan mengeluarkan harta bahkan enggan sekadar berbagi soto mie Bogor yang kita peroleh banyak dari teman, hingga akhirnya malah basi tak termakan. Anak paham dan melihat.

Maka mulai sekarang, hentikan paradoks seperti ini.

  1. 5. Anak terlahir dengan segala sifat baik seperti pemaaf, tidak mudah menyerah dan berani.

Terkadang kita gemas dengan sikap anak yang aktif sekali, ingin mencoba ini-itu, dan mudah sekali main lagi dengan teman yang telah menyakitinya. Ternyata semua itu muncul dari hatinya yang masih jernih.

Tapi kita melarangnya mencoba sesuatu karena menurut kita itu hal berbahaya. Atau menganggap anak ga akan bisa melakukannya. Ah, kreatifitas pun akhirnya harus terkubur tak terasah.

Padahal tindakan kita menyemangati anak saat ia belajar berjalan adalah sikap yang luar biasa harus terus kita jalankan. Sebab seandai saat belajar berjalan lalu kita mengatakan pada sang anak “ah, kamu yang begitu aja ga bisa. Udah ga usah belajar jalan lagi.” Tentu anak-anak (atau bahkan kita sendiri) ga bisa jalan sampai saat ini.

Maka mulai saat ini, yuk ayah bunda sadari apakah dalam pengasuhan kita ada paradoksikal yang dilakukan atau sudah lebih baik? Jika masih ada, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

Mari kita terus belajar menjadi orang tua semangat!

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Kakek Nenek Berkunjung

Mendidik anak sesungguhnya adalah seni mendidik diri sendiri. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa jadi role model bagi anak. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga aliran cinta antara suami dan istri lancar, memancar indah dan dirasakan oleh anak-anak beserta mereka yang terlibat di keseluruhan cerita rumah tangga yang tengah dibangun. Agar tangga ini sampai ke surgaNya.

Nah, dalam proses perjalanan mendidik anak ini tentu ada banyak faktor sampingan sebagai pelengkap. Termasuk diantaranya kehadiran keluarga besar. Dan saat saya perhatikan, seringkali yang jadi sorotan adalah kehadiran kakek nenek yang biasanya disebut “penyelamat” (beberapa orang ngomong begitu sambil gemes. Heuheu)

Kehadiran pihak ketiga dalam proses Pendidikan anak memang menjadi ujian tersendiri terutama bagi para orang tua muda (Bahasa apa ini orang tua muda? Wkwkwk). Bagi pasangan yang memiliki impian ideal tentang bagaimana anak-anak mereka dididik, terkadang terbentur saat berhadapan dengan para orang tua.

Ketika Kita dan Orang Tua Berbeda Pendapat Tentang Anak

Tidak semua orang tua mau terbuka dengan perbedaan pendapat dan perbedaan cara. Dan meski terbuka dengan perubahan sekalipun, kasih sayang kakek nenek pada cucu konon (menurut pengakuan mamah saya) melebihi rasa sayang ke anak. Ah, pantesan ortu suka bikin aye iri ama anak-anak. Secara ya, hampir semua keinginan dipenuhi selama mereka bisa memenuhinya.

Mamah sebetulnya mendukung gaya didik saya. Keterbukaan mamah terhadap perbedaan pendapat dan perubahan gaya asuh baru seperti anugerah bagi saya karena anak-anak akan beberapa kali dititip ke mamah. Baru ngeh kenapa kok ngasih tahu mamah tentang rencana gaya didik kami mudah banget. Ternyata karena beliau ini berdasarkan tes STIFIn adalah orang Intuiting extrovert yang memang cenderung menyukai perubahan alias ga masalah kalaupun gaya didik anak-mantunya ga ngikuti gaya jaman dulu. Ya, setidaknya si sulung dulu sering dititip saat saya kuliah dan berasa banget senengnya. Hihi.

Alhamdulillah kami masih memiliki orang tua lengkap. Artinya, anak-anak kami punya 2 kakek dan 2 nenek. Yap, nikmat yang sudah sepatutnya disyukuri.

Ujian hadir ketika kakek-nenek berkunjung dan menginap di rumah atau saat kami berkunjung dan menginap di rumah kakek nenek. Yang paling kentara sebenarnya saat para orang tua berkunjung ke rumah kami sebab tentu anak-anak paham aturan rumah. Dan momen kakek nenek di rumah menjadi bagian dari momen yang bikin awkward.

Ya maklumlah para orang tua ini ingin mengekspresikan rasa kasih sayangnya pada cucu. Mumpung ada disini, katanya.

Awal-awal saya (dan suami) sering spaneng dengan perbedaan dan “kebandelan” para orang tua terkait sikap terhadap anak. Tapi kesini-sini, kami berpikir “kenapa sih kita harus sedemikian keras pada orang tua? Toh kan ‘pelanggaran’ mereka atas aturan rumah juga ga kemudian bikin kita masuk neraka” ekstrim ya? Biarin deh. Hehe.

Maksudnya gini lho.

Ada saat dimana kita perlu tegas pada anak-anak. Perbedaan antara kami dengan orang tua akan selalu dikomunikasikan pada anak-anak segera setelah kakek-nenek pulang, atau saat pillow talk.

Segala gaya didik selalu kami upayakan agar orang tua paham, apa, bagaimana dan juklaknya. Dalam pelaksanaan, terkadang rasa rikuh maupun sayang menjadi penyebab sikap mereka seolah bertentangan dengan keinginan kita.

Semula kami sering menegur anak-anak dengan keras di depan orang tua kami. Sesekali kami meminta orang tua untuk tahan berkomentar. Ah, bukankah itu akan menyakiti mereka?

Akhirnya kami sepakat, toh ini hanya sementara. Meski ada rasa kesal mah wajar ya, namanya juga manusia 😀

Perlu digarisbawahi untuk hal-hal yang memang sangat perlu kita jaga, diantaranya syariat. Misal aturan tentang shalat jamaah di awal waktu, di masjid. Tentu tidak ada toleransi untuk hal tersebut selama tidak ada udzur syar’i.

Dan untuk aturan-aturan yang sekiranya tidak terlalu saklek terkait syariat, adab, etika dsb, maka berilah kelonggaran. Biarkan para kakek nenek mengekspresikan kasih sayangnya dengan caranya.

Mengizinkan mereka mengekspresikan kasih sayang bukan berarti kita membiarkan begitu saja. Tetap perlu ada komunikasi terkait hal-hal yang sebaiknya disepakati di rumah.

Dan yang perlu kita terus ingat: bersyukurlah masih memiliki kakek nenek alias orang tua kita masih ada. Banyak di luar sana yang sudah tak memiliki orang tua sehingga justru rindu melanda. Semoga toleransi yang kita berikan, dicatat sebagai kebaikan dan pahala berbakti serta membahagiakan orang tua. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Gule atau Gulai, Seperti Apa Sih?

Tiba-tiba kepikiran pengen makan gule enak kali ya. Jam segini busui biasanya udah laper lagi. Eh, itu saya sih. Ga tau yang lain 😀

Berhubung ga masak, kalau pas lagi laper di jaman sekarang mah langsung cus ke Google. Googling tempat yang menyediakan gulai dan bisa dibeli secara online atau setidaknya nitip suami beliin pas pulang jemput bocah. Yang teringat ada gulai tikungan blok M, gulai di tukang nasi padang, tukang sate (yap, di hampir setiap tukang sate ada gulai dijual pula, apalagi sate kambing). Huwaa yummy kayaknya nih. Udah ngiler aja.

Pengertian Gulai

Gule sendiri secara Bahasa aslinya harusna ditulis gulai ya. Gule mah Bahasa sunda. Hihi.

Berdasarkan pengertian Wikipedia, gulai adalah masakan dengan baku daging ayam, berbagai jenis ikan, kambing, sapi, jeroan, ataupun sayuran seperti nangka muda (yang umum ada) dan daun singkong. Gulai diolah dalam kuah bumbu rempah dengan cita rasa gurih.

Ciri khas gulai ada pada bumbunya yang kental, kaya akan rempah. Rempah bumbu gulai terdiri dari kunyit, ketumbar, lada, lengkuas, jahe, cabe merah, bawang merah, bawang putih, adas, pala, serai, kayu manis dan jintan yang dihaluskan, dicampur, lalu dimasak dalam santan.

Gulai memiliki ciri khas berwarna kuning karena pengaruh kuat dari kunyit. Makanan ini dianggap sebagai bentuk lain dari kari, dan memang di dunia internasional disebut sebagai kari ala Indonesia. Ya meskipun dalam seni kuliner Indonesia juga ada ditemukan kari.

Variasi Gulai

Gulai merupakan satu dari sekian jenis hidangan yang tersebar luas di Nusantara terutama di wilayah Sumatera dan Jawa. Hidangan ini dikatakan berasal dari Sumatera yang merupakan hasil pengaruh dan penerapan seni memasak India yang kaya akan rempah dan bumbu seperti kari.

Gulai merupakan salah satu bumbu hidangan dasar yang paling dikenal dalam Masakan Minangkabau. Kuah gulai yang berwarna kuning menjadi bumbu dan memberikan cita rasa untuk berbagai macam hidangan yang disajikan di rumah makan Padang. Yaks, ngiler deh. Keinget lagi gulai tikungan blok M nih.

Kuah atau bumbu gulai biasanya kental jika tersaji sebagai hidangan Minangkabau, Melayu, dan Aceh. Nah, tapi di tatar Jawa mah kuah gulai lebih cair. Ya, saya merhatiin mamah sama mertua saat masak gule termasuk pas aqiqah Hasna beberapa bulan lalu. Jadi lebih mirip sup yang dihidangkan panas-panas. Biasanya sih isinya daging atau jeroan kambing.

Gulai biasanya disajikan bersama nasi panas. Enak banget itu. Tapi memang di beberapa resep seperti gulai kambing, bisa juga dihidangkan bersama roti canai.

Berikut ini adalah variasi gulai berdasarkan bahannya:

  • Gulai ayam
  • Gulai hati ampela
  • Gulai telur
  • Gulai kambing
  • Gulai sapi
  • Gulai hati
  • Gulai limpa
  • Gulai gajeboh (gajih)
  • Gulai iso (usus)
  • Gulai babat
  • Gulai tunjang (kikil)
  • Gulai otak
  • Gulai sumsum
  • Gulai ikan mas
  • Gulai kakap
  • Gulai kepala ikan kakap
  • Gulai telur ikan
  • Gulai cumi
  • Gulai cubadak (nangka muda)
  • Gulai kacang panjang
  • Gulai daun singkong
  • Gulai daun pakis
  • Gulai jariang atau gulai jengkol

Bulan depan ada agenda untuk ke Jakarta selama 3 hari. Rencananya sih mau ngajak suami wisata kuliner. Nah, direkomendasikan nih dalau di Jakarta ada yang terkenal karena selain murah juga enak. Namanya gulai tikungan blok M atau dikenal dengan rumah makan Gultik. Sayangnya pas main ke Jakarta tempo hari buat kopdar, ga sempat wisata kuliner. Nanti kudu nyempetin nik keknya.

Saya sendiri yang terbiasa dengan gulai masakan mamah memang cenderung ngerasa eneg saat makan gulai dari luar. Tapi untuk urusan ini serahkan sama akang suami. Beliau selalu tahu gule yang enak. Meskipun kentel, tapi pilihan beliau selalu enak. Ga terlalu eneg. Bisa aja nemu tempat jualan gule yang enak dan cocok di lidah istrinya. Biasanya sih didapatkan di tempat-tempat penjual sate kambing.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ada Kau dan Aku Menjadi Kita

Satu ketika sebuah status muncul di beranda. Kurang lebih isinya: “tak ada kau dan aku, yang ada adalah kita”.

Terbaca begitu indah ya? Namun bagi saya agak sedikit aneh. Ada yang berpikiran sama? 😀

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kita merupakan kata ganti pertama jamak (lebih dari 1). Itu berarti, dalam pembicaraan bersama kala itu tetap ada aku dan kamu.

Dalam sebuah hubungan, “kita” tidak lantas membuat aku dan kamu melebur. Aku dan kamu tetap ada, hanya disana terdapat tambahan “kita”. Aku dan kamu tetaplah satu sosok masing-masing. Kemudian kita bersama untuk sebuah tujuan. Bergandeng tangan dan berjuang bersama, dengan segala ke-aku-an dan ke-kamu-an masing-masing.

Menikah berarti bersama, menjadikan aku dan kamu sebagai kita

Berpasangan merupakan bagian dari naluriah dan kebutuhan manusia, dihalalkan melalui pernikahan. Meski yang diucapkan hanyalah sekalimat pendek serah terima antara lelaki -yang kelak disebut suami- dengan lelaki lainnya -yang biasa disebut “ayah”-. Berpindahlah segala tanggung jawab ayah kepada suami, begitupun bakti.

Meski demikian, tak lantas kita melupakan ayah dan hanya fokus pada suami bukan? Ada sikap tawazun, seimbang antara bakti kepada orang tua dan suami. Memang, bakti seorang perempuan yang telah menikah diutamakan kepada suami.

Adapun setelah menikah, kita tak lagi boleh egois memikirkan diri sendiri. Benar, tapi bukan lantas lupa pada kebutuhan diri. Perlu ada keseimbangan juga dalam penyikapannya. Sebab rumah tangga diharapkan menjadi sebuah bangunan rumah penuh cinta yang menjadi tangga menuju surga.

Kelak, hisab kita hadapi sendiri-sendiri dengan mempertanggungjawabkan peran di dunia. Dengan harapan semoga Allah berkenan memasukkan kita ke surga-Nya dengan menyatukan kembali diri dan keluarga di dalamnya. Begitu bukan?

Maka meski sudah ada “kita”, tetaplah berperan sesuai “aku” dan “kamu”, ditambah “kita”. Ada kala kita mencoba melayani pasangan sesuai dengan hal terbaik yang diinginkannya sebagai “kamu” dan tentu pasangan pun membahagiakan dengan sesuatu yang paling gue banget sebagai “aku”. Dan ada tahapan dimana kita berbicara dan bertindak untuk kepentingan bersama, kepentingan “kita”.

Oleh karena itu, ada baiknya sebelum menikah sudah tahu siapa sebetulnya diri kita ini. Setidaknya dengan mengetahui dan mengenali diri sendiri akan lebih mudah menjelaskan pada pasangan, seperti apa sih saya sebenarnya. Begitu pun kita akan lebih mudah mengenali pasangan kala ia sudah mengenali dirinya dan memberitahukan kita siapa dia. Dengan demikian, adaptasi dalam pernikahan menjadi kepingan puzzle yang sudah ditemukan, tinggal bersama mencari kepingan lainnya untuk gambaran yang lebih lengkap. Jadi tidak terlalu ngeblur bayangannya.

Pernikahan: Tumbuhlah sebagai “aku”, “kamu” dan bergandengan tangan sebagai “kita”

Seringkali setelah menikah, kita lupa menjadi diri sendiri. Sehingga hubungan suami istri menjadi hambar karena hati yang hampa, dan proses pendidikan anak menjadi tidak maksimal karena ruh di dalamnya tercabik.

Maka, tetaplah tumbuh sebagai “aku” dan “kamu” yang bergandengan tangan sebagai “kita”. Kenali bahasa cinta pasangan agar dapat saling memberikan hal yang paling diharapkan dan saling bersiap pada kekurangan. Lalu bergandengan tangan menuju tempat yang ditargetkan bersama.

Ibaratnya, pernikahan tidak meleburkan lelaki dan perempuan menjadi satu bukan? Melainkan, lelaki tetap dengan kelelakiannya dan perempuan dengan keperempuannya. Segala sifat masing-masing bukan harus melebur, tapi beradaptasi saling memahami. Oh, perempuan itu begini maka harus begitu. Oh, lelaki itu begitu maka harus begini. Begitu terus hingga suami-istri tetap tumbuh sebagai pasangan yang membersamai tanpa kehilangan jati dirinya.

Sebab keharmonisan rumah tangga justru karena suami istri berbeda. Biarkan ia menjadi khas dan saling melengkapi, saling mengisi serta saling menguatkan satu sama lain.

“Aku” dan “kamu” hanya perlu saling memahami, saling pengertian, saling berbagi dan tidak perlu saling bertukar karakter. Ada sisi perempuan yang mesti dijaga sebagai istri dan sisi lelaki yang harus dijaga sebagai suami dengan cara yang proporsional.

Peduli tentang “kita” dan tetap tampil maksimal sebagai “aku” dan “kamu”

Pasangan yang sudah mengenal dirinya sendiri, akan lebih nyaman berbicara “kita”. Sebab kebutuhan mengenali diri sudah terpenuhi sehingga mereka tahu bahwa “aku” dan “kamu” perlu tetap tumbuh agar “kita” bisa lebih baik lagi menjalankan perannya. Agar “kita” senantiasa mampu bergandengan tangan mencapai tujuan dengan selaras.

Aku tetaplah aku, namun terus belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.

Kamu tetaplah kamu, namun menjadi sosok yang terus belajar dan tumbuh semakin dewasa.

Sehingga kita dapat mewujudkan pernikahan yang harmonis. Bukan tanpa konflik, tapi mampu menangani setiap riak dan ombak dalam pernikahan dengan bijak.

Karena jika aku tampil maksimal sebagai aku dan kamu tampil maksimal sebagai kamu lalu menyepakati bersama tentang perjalanan kita, maka insyaallah rumah tangga yang dibangun akan menjadi keindahan luar biasa surga bernama keluarga.

Selamat mengenali diri, mengenal pasangan dan bersama mencapai tujuan yang sama.

Semoga pernikahan teman-teman diberkahi Allah swt. Bagi yang belum menikah, tetaplah jaga diri sesuai syariat.

note: salah satu tool yang kami gunakan untuk mengenal diri (dan alhamdulillah sudah banyak membantu pasangan yang konsul pada kami) adalah konsep STIFIn. Dengan tes sidik jari memudahkan pasangan dan anak-anak serta keluarga untuk mengenali sifat dasar dan bersama komitmen untuk “naik level” guna perbaikan hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Sudut Pandang

~ Sudut Pandang ~

Untuk menghasilkan foto yang bagus, salah satunya diperlukan keahlian menentukan sudut foto yang tepat. 

Dengan sudut yang pas, makanan yang biasa disantap pun nampak sedap dipandang dan rasa ingin menikmatinya. 
Begitu pula dalam kehidupan.

Untuk memperoleh kehidupan yang bagus, perlu keahlian menetapkan sudut pandang yang tepat. 

Sesuatu yang nampak biasa menjadi dapat dinikmati luar biasa karena sudut pandang kita terhadap hal tersebut. 
Janganlah bertanya tentang kebahagiaan karena pasti sudut pandang kita baik dengan sendirinya. 

Kemampuan mengolah pikiran dan rasa akan sangat berguna kala hal buruk dan mengecewakan hadir. 
Maka dengan sudut pandang yang tepat, masalah dan kesedihan dapat menjadi berkat. 

Kesulitan dan kekecewaan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. 
Di tengah rasa sedih dan pilu, masih terbentuk senyum bahagia. 
Sebab segala takdir Allah selalu baik. Sabar maupun syukur. 

Dan selalu ada kado indah di baliknya. Tanpa bisa kita tebak isinya 😇
Teruslah berlatih menemukan angle yang tepat untuk foto yang bagus. 

Dan berlatihlah menemukan sudut pandang yang cermat untuk kehidupan yang senantiasa baik 😍😘
Salam hangat, 

EsaPuspita.com
Change your perspective, change your life. Begitu kali ya slogannya 😎😁

#CatatanEsa #Perspektif #perspective #SudutPandang #LifeMap #lifequotes #ChangeYourPerspective #PerspectiveOfLife

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.