Pembelajar Tipe Apa?

Ketika ikut kelas Mind Technology Mastery kemarin, ada salah satu bahasan yang saya lupa judul awalnya tapi intinya membahas tentang setidaknya 3 tipe orang. Setelah saya coba mencari informasinya di internet, ada beberapa versi dan beberapa sebutan. Saya kemudian memilih untuk menyebutnya: gaya belajar seseorang.

Istilah ini sebenarnya sudah banyak dikenal masyarakat luas. Yaitu, visual, auditor dan kinestetik. 3 jenis cara efektif seseorang ketika mendapatkan informasi.

Cara termudah untuk mengetahui apakah seseorang itu visual, audio atau kinestetik adalah ketika ia mencoba mengingat sesuatu. Jika matanya melihat ke atas (kanan ataupun kiri), maka ia kemungkinan besar adalah seorang visual. Jika bola matanya mengarah ke bawah ketika mengingat sesuatu (baik kanan ataupun kiri) maka kemungkinan dia adalah seorang auditor. Sementara jika matanya ke kanan atau kiri ketika mengingat, ia adalah seorang kinestetik (sejajar dengan telinga alias di posisi biasa hanya saja berpindah ke kanan atau kiri, bukan atas atau bawah).

tipe pembelajar dari-bolamata-1

Lalu apa pentingnya mengetahui ini? Berdasarkan beberapa artikel, hal seperti ini dapat berguna untuk menemukan cara efisien ketika belajar sekaligus mencari tahu apa kelemahannya.

Nah, kita coba tuliskan satu per satu dari ketiga jenis pembelajar tersebut ya.

Visual

  • -Seorang visual biasanya cenderung berbicara lebih cepat.
  • -Belajar efisien dengan sistem melihat chart atau diagram (atau apapun berupa gambar).
  • -Butuh ketenangan alias sunyi senyap saat belajar. Ada noise sedikit saja bisa membuyarkan konsentrasinya.
  • -Dapat membayangkan gambar
  • -Catatannya detil sekali
  • -Senang duduk di depan kelas atau ketika di depan meja, ia cenderung mencondongkan badannya ke depan.
  • => Cara tes terbaiknya: memetakan diagram, membaca peta, esai, dan semua hal yang memperlihatkan sebuah proses
  • => Cara tes yang jadi kelemahannya adalah mendengarkan dan tes respons.
  • -> Anjuran belajar untuk seorang visual adalah:
  • -Buat uraian atau gambar terkait info yang dibutuhkan
  • -Salin apa yang ditulis di papan tulis
  • -Buat bagan kalimat
  • -Buat catatan dan daftar
  • -Menggunakan penanda seperti stabilo pada catatan atau buku
  • -Gunakan flashcard

Auditory

  • -Seorang auditor biasanya cenderung berbicara secara perlahan dan menjelaskan sesuatu dengan lebih baik
  • -Mampu menjadi pendengar yang natural
  • -Senang mengulang sesuatu dengan keras
  • -Berpikir linear
  • -Membaca dengan begitu pelan
  • -Lebih suka mendengar daripada membaca informasi
  • => Cara tes terbaiknya adalah dengan menuliskan apa yang mereka dengar dan ujian lisan.
  • => Kelemahannya jika dihadapkan pada ujian tertulis yang diberi waktu tertentu dan bagian tulis menulis
  • ->Anjuran belajar bagi seorang auditori adalah
  • -Gunakan persamaan kata untuk mengingat baris dan fakta
  • -Rekam suara guru saat menerangkan dan tonton video
  • -Mengulang sambil memejamkan mata
  • -Bergabung dalam sebuah diskusi kelompok
  • -Mereka catatan setelah menuliskannya

Kinestetik

  • -Seorang kinestetik bicaranya lebih pelan lagi dibanding seorang auditor. Jadi tipe ini yang bicaranya paling pelan (baik dalam hal suara maupun nada)
  • -Learning by doing dan menyelesaikan masalah yang benar-benar nyata. Kudu praktek.
  • -Menyukai pendekatan dengan melibatkan sentuhan (terasa)
  • -Tak bisa duduk diam dalam waktu yang lama, ya karena dia harus terus bergerak
  • -Butuh rehat saat belajar
  • -Menderita kalau sudah disuruh memperhatikan dalam jangka waktu lama
  • => Ujian yang paling memudahkan seorang kinestetik adalah pilihan ganda, penjelasan singkat (ga sampe esai), dan mengisi (saja, misal tinggal menuliskan centang atau sebagainya)
  • => Ujian yang paling menyiksa bagi seorang kinestetik adalah esai dan tes umum
  • -> Cara belajar yang dianjurkan untuk seorang kinestetik yakni
  • -Belajar dalam waktu singkat
  • -Kelas laboratorium
  • -Melakukan field trip
  • -Belajar dengan orang lain
  • -Gunakan flashcard ataupun memory Games.

Mengetahui gaya belajar ini selain untuk diri kita sendiri, juga dapat digunakan untuk mengenali orang lain. Bagi yang berkutat di dunia pendidikan atau bagi orang tua, hal ini bisa digunakan untuk mengecek gaya belajar anak sehingga kita dapat mencari tahu gaya seperti apa yang cocok untuk diterapkan pada anak. Dan ingat, karena setiap anak unik meski kakak beradik mungkin tipe belajar mereka berbeda. Jadi jangan pukul rata ya ^_^

Ilmu semacam ini mungkin akan jadi hal yang debatable karena keabsahannya bisa jadi dipertanyakan meski sudah berdasar hasil riset. Tapi kalau saya pribadi, hasil tes-tes seperti ini tinggal dicek aja kesesuaiannya dan lebih untuk menambah pengetahuan dan ilmu bagaimana mengenal diri dan orang lain dengan lebih baik.

Saya seorang visual yang auditori. Bagaimana dengan anda?

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kecerdasan Rasa

Di tulisan sebelumnya sudah sedikit dibahas mengenai empati. Empati berkaitan erat dengan Emotional Quotien (EQ) karena memang empati ini bagian dari EQ. Dalam ilmu Psikologi, Daniel Goleman menjelaskan bahwa jika kita tidak mampu mengelola dengan baik aspek perasaan atau emosi, maka kita tidak akan mampu menggunakan aspek kecerdasan konvensional/kognitif (IQ/Intellectual Quotient) dengan efektif. Penjelasan ini dibahas dalam buku Emotional Intelligence.

Goleman mengatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% sementara 80% sisanya ditentukan oleh berbagai faktor kecerdasan emosional. EQ ini berperan sangat penting dalam keberhasilan hidup seseorang dalam hampir semua aspek keseharian. –saya kemudian terpikir, itu kenapa Rasulullah ajarannya luar biasa ya, memperhatikan semua aspek kecerdasan-

Goleman memformulasikan gagasannya dalam sebuah kerangka kecakapan emosi yang mencakup kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Intrapersonal Intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan dalam diri kita sendiri, sementara Interpersonal Intelligence adalah kecakapan dalam bermuamalah dengan orang lain.

Interpersonal Intelligence terdiri dari:

  • -Kesadaran Diri (Self Awareness): memahami emosi diri, penilaian pribadi dan kepercayaan diri
  • -Pengaturan Diri (Self Regulation): pengendalian diri (emosi), dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif
  • -Motivasi Diri (Self Motivation): dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis

Orang-orang yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik akan mampu melewati masa-masa sulit seperti depresi, perasaan tidak berdaya (yang negatif), Moody, cemburu, penyesalan, dan hal yang membuatnya tidak bahagia. Bahasan ini di luar bahasan traumatik ya, karena beberapa depresi bisa jadi karena trauma di masa kecil baik disengaja atau tidak, disadari atau tidak.

Interpersonal Intelligence terdiri dari:

  • -Empati (empathy): memahami orang lain, melayani, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis.
  • -Kemampuan Sosial (Social Skill): pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi, dan kerja sama tim.

Orang-orang yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik akan lebih efektif dalam bermuamalah dan bekerja sama dengan orang lain meskipun melewati keadaan yang sulit. Mereka mampu lebih sukses dalam kehidupannya.

Orang yang memiliki EQ tinggi dapat hidup lebih bahagia. –dan teringat lagi, betapa Islam hadir dengan semua kesempurnaannya-

eq

Bahasan mengenai EQ di diskusi kemarin sampai di sini. Lalu berlanjut random chat yang kece banget. Masih membahas EQ juga sih tapi lebih ke aplikatif keseharian. Hehe. Nah, tulisan setelah ini akan mencatatkan apa saja isi chat random yang kece badai itu karena salah satu ember grup ternyata tesisnya bahas tentang EQ dan bahasan chat randomnya luar biasa!

Sampai ketemu di tulisan berikutnya ya ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pilih Logo

Menghantarkan para bintang..

Kalimat itu tiba-tiba muncul. Kemarin sore ketika tengah mengikuti acara Startex, keingetan bikin logo. Coba bikin di sebuah web penyedia logo gratisan, minta suami pilihkan dan tanpa sengaja kami memilih ikon yang sama. Setelah otak-atik sana-sini, coba download, eh ternyata berbayar. Hahaha..

Transpirasi dari logo yang kemarin sore dibuat, akhirnya coba download vector gratisan dengan dasar elemen yang sama seperti logo kemarin: tangan dan bintang. Dan karena inget pernah janji mau buatkan header buat beberapa temen, sekalian download vector gratisan dan font lucu-lucu juga berdasarkan permintaan mereka. Hasilnya? Entah mereka suka atau ngga 😀

Dari vector-vector itulah saya membuat logo esapuspita. Dan karena di tengah perjalanan setelah selesai export keingetan ide lain lagi, logonya diedit ulang. Begitu selesai, inget lagi ide lain, edit lagi. Dan jadilah setidaknya 3 jenis logo.

Filosofi elemen tangan dan bintang ini saya memetakan dengan pengertian saya sendiri. Tangan dengan bintang bagi saya seperti tangan saya sendiri, yang dari tangan ini kelak akan muncul para bintang. Semoga Allah senantiasa menjaga kami agar mampu mendidik dan menciptakan para bintang.

Sementara elemen hati muncul di akhir karena melihat salah satu vector terdiri dari tangan dan hati. Judul vector ini sendiri adalah “charity”. Tapi saya memaknai simbol ini lebih dari memberi. Ya karena charity juga sebenarnya bukan sekadar memberi tapi juga berbagi. Ini mengenai hati dan cinta. Mendidik dengan cinta, membesarkan dengan hati. Menghantarkan para bintang dengan cinta.

Mengenai pemilihan warna, sebenarnya tidak ada filosofi khusus. Saya memilih warna berdasarkan apa yang menurut saya menarik. Warna oren bagi saya memiliki kesan ceria, Pink memiliki kesan lembut, ungu memberikan kesan serius dan merah menitipkan kesan semangat yang membara. Dari ketiga warna itu saya berharap ia mampu menjadi pengingat bahwa dalam mendidik kita tetap harus ceria dan bahagia, semangat tapi serius menjalankannya dengan semangat membara dan tetap dibarengi cinta.

Oh iya, penambahan nama web di logo sekadar informasi tambahan aja untuk memperluas web ini agar dikenal banyak orang. Dan supaya ga diambil orang lain juga sih. Hehe..

logo esa all

 

Ketika suami menghampiri, saya menyodorkan semua logo yang saya buat tadi. Suami memberi masukan untuk logo hati, baiknya bintang dihilangkan saja. Tapi jika begitu, makna yang ingin saya buat akan kehilangan esensinya. Sehingga pilihan akhirnya jatuh pada logo pertama: tangan dan bintang.

Nah, kalau teman-teman sendiri, dari ketiga logo di atas mana yang lebih teman-teman suka?

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

aMAYzing, MEInakjubkan

Amayzing, meinakjubkan

Berbicara tentang bulan Mei, tahun ini menjadi bulan yang begitu menakjubkan. Itu kenapa saya memberi judul aMayZing, Meinakjubkan. Betapa Mei tahun ini menakjubkan dan membuat saya “amaze”.

Bukan karena ini adalah bulan dimana saya genap berusia 27 tahun atau karena anak kedua saya tepat berusia 2 tahun di bulan yang sama, tapi lebih dari itu. Mei ini saya dihadapkan pada banyak kejadian-kejadian tak terduga yang maSyaAllah benar-benar membuat saya bingung memberikan kata yang tepat untuk menceritakannya.

Permulaan Mei diawali dengan ikut sertanya saya dalam sebuah kelas public speaking yang dilaksanakan di hari Sabtu dan Ahad selama 2 pekan (8-9 Mei dan 16-17 Mei). 3 hari kelas (total 6 sesi pertemuan) dan 1 hari untuk final presentation (semacam ujiannya). Kelas yang tidak sengaja saya ikut serta. Kenapa tidak sengaja? Karena saya tidak mendaftar untuk kelas ini. Lho kok bisa sih? Ga daftar tapi ikut kelasnya? Ya bisa dong. Suami yang daftarkan.

Entah ya kenapa beliau daftarkan saya. Toh saya kan cuma ibu dua anak laki. Ga kerja cuma seluler Online. hoho.. Tapi ketika beliau memutuskan sesuatu biasanya karena ada hal di balik itu yang akan saya tahu nanti. Entah karena beliau sedang mempersiapkan saya jadi artis entah gimana (haha lebay deh gue). Ga ada yang dia-sia kan? Eh ada, yang sia-sia itu kalau udah didaftarin terus saya ga ikut kelasnya. Sia-sia kan? Uangnya hangus 😀

Apapun, semua ada hikmahnya dan ternyata saya enjoy di kelas public speaking itu. Ternyata secara tak disadari saya menyenangi dunia “bicara” seperti halnya saya menyenangi dunia “menulis”. Tapi ya begitulah, masih setengah-setengah.

Paling kaget itu ketika dapet respons dari temen-temen. Ada beberapa kejadian “mengharukan” terkait kelas ini. Pertama, ketika diminta menanyakan “minimal 5 kelebihan saya dari minimal 5 orang”, ada beberapa kelebihan yang –jujur- saya ga nyangka akan dapet jawaban semacam itu. Salah satu jawaban yang sangat mengagetkan adalah bahwa menurut beliau saya punya jiwa kepemimpinan alias leadership. Hah?!

Kemudian kejadian “mengharukan” lainnya ketika hari final presentation tiba, saya update status mengenai acara tersebut. Kemudian beberapa teman lama tiba-tiba mengirim pesan ke saya dan bilang, “Esa ngisi seminar? Wah, cocok” setidaknya itulah pernyataan inti yang serupa dari mereka. Apa? Cocok? Sejak kapan? Sejak mereka kenal saya, katanya. Lalu mencoba mengingat, Heri demang dulu saya ngapain aja sih? Kapan saya tampil depan kalian buat ngisi seminar selain buat presentasi mata kuliah dan sidang? Hahaha..

Ternyata benar adanya ya, sering kali kelebihan kita tidak dapat kita lihat. Maka kita butuh orang lain untuk melihat itu. Mereka mampu melihat lebih jernih. Coba saja.

Kemudian acara seru lainnya ketika saya memutuskan untuk ikut sebuah kelas yang mempelajari bagaimana cara pikiran bekerja dengan dasar NLP. Acara itu adalah Mind Technology Mastery (MTM). Jujur ini kelas termahal yang pernah saya ikuti dan secara sadar saya daftar sendiri. Uangnya darimana? Yang pasti suami angkat tangan karena tubrukan sama kebutuhan lain. Lalu darimana dong? Dari Allah. Allah yang kasih jalan. Alhamdulillah.

Kelas MTM sendiri baru akan diadakan tanggal 23-24 nanti. Eh, akhir pekan ini berarti ya? Semoga bisa mengamalkan ilmu dengan sebaik-baiknya.

Hal menarik lain di bulan Mei adalah seminar-seminar gratis. Saya dan suami ikut Juragan Forum dan pertama kalinya dapet voucher makan gratis. Haha. Ga apa deh dibilang lebay tapi ternyata bahagia juga ya dapet voucher gratisan itu. Ilmunya juga cakep.

meiDan hari ini, awalnya saya ga inget pernah daftar sebuah acara. Tapi ketika tengah nyantei nemenin bocah, tiba-tiba dapet SMS yang kurang lebih isinya himbauan agar segera hadir karena acara akan dimulai.

Hah? Acara apa? Coba inget-inget juga ga inget. Sampai kemudian saya bilang ke suami, suami yang inget. Untunglah pagi-pagi semua sudah selesai jadi tinggal siap-siap dan anak-anak dititipkan ke mamah lalu berangkat. Dan disinilah kami sekarang, di acara Startex Bandung Technopolis.

Bahasannya apa sih di Startex ini? (saya masih sering keceletot bilang star trek loh tiap nulis Startex). Bahas tentang tips memilih domain, internet marketing, dunia usaha Online dan iklan dari para sponsor. Iya lupa, dapet paket perdana gratis juga dari XL sebagai salah satu sponsor. Lumayan buat cadangan 😀

Mei ini, kongkow PeDeCafe mulai rutin 2 minggu sekali dan Monas (Motivakreatif Nongkrong Asyik) juga 2 minggu sekali. Jadi setiap Jumat sore itu full acara di Cafe The Panas Dalam.

Diskusi grup Online pun banyak memberikan input informasi yang luar biasa tentang dunia anak, dunia jualan dan kehidupan. Banyak ilmu dan kesempatan belajar.

Alhamdulillah.. Baiklah. Mari terus belajar.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Lelaki Butuh Dicintai

Pernikahan ibarat sebuah wadah tempat kita menanam dan menumbuhkan cinta. Pupuknya disebar bersama oleh suami maupun istri. Dari benih cinta inilah kelak tumbuh bunga-bunga cinta dan menyebar buahnya yang beraneka rasa.

Pupuk dari benih cinta itu salah satunya dengan tindakan dan ucapan. Ketika masa-masa awal menikah biasanya pasangan suami istri masih dalam tahap hangat dan saling melempar ekspresi cinta entah dengan senyuman, sentuhan ataupun ucapan cinta (baik secara langsung ataupun melalui SMS, chat, BBM).

Ini bukanlah soal romantis, tapi soal menyatakan perasaan. Karena tindakan kita setelah sekian lama menikah seringkali menjadi sebuah kebiasaan yang kehilangan ruhnya.

Istri merasa sendiri dalam menyemai cinta dalam rumah tangga. Sementara suami merasa sudah turut menyemai dengan caranya sendiri. Istri kemudian menuntus suami agar lebih peka sementara suami menuntut istri agar lebih mengerti.

Perempuan terkadang lupa bagaimana lelaki menyampaikan cintanya, dan berujung bersikap dingin membalas sikapnya yang menurut perempuan lebih dingin. Padahal tak semua lelaki mampu menyampaikan kata. Namun percayalah bahwa semua lelaki butuh cinta. Mereka seperti anak kecil yang butuh dimanja, dibelai dan dipeluk hangat. Hanya saja karena sosoknya adalah lelaki dewasa, istri sering menganggap ia adalah sosok kuat yang sudah cukup besar untuk menjalani hidupnya sendiri. Istri hanya berusaha memenuhi kebutuhan fisiknya dan lupa pada hatinya.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman ini. Hanya saja sebagian besar masyarakat abai terhadap kebutuhan lelaki untuk dicintai.

Lelaki butuh dicintai agar ia dapat tetap menjalani hari dengan perasaan yang nyaman. Lelaki butuh dicintai agar semangatnya tetap hangat menemani aktifitas keseharian. Lelaki butuh dibelai agar sisi kakanak-kanakkannya dapat terpenuhi saat ia dituntut untuk dewasa di luar rumah.

loveMaka mari kita sama belajar bagaimana Rasulullah mendapat perlakuan istimewa dari istrinya Khadijah yang menjadi bekal kekuatan di awal dakwah yang berat. Belajar bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya dengan istimewa sehingga istri mampu mendukung dengan tangguh beratnya dakwah.

Bahwa lelaki pun tetap butuh cinta sebagaimana perempuan membutuhkannya.

-Tulisan ini sebelumnya saya publish di Aim Desain

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mengapa Danisy Tetap Tinggal

Pagi ini, otak-atik hp dan menemukan daftar catatan facebook di akun pribadi saya. 165 catatan yang entah isinya apa saja. Salah satu judul dari catatan itu adalah “Mengapa Danisy Tetap Tinggal”. Tulisan ini sekaligus adalah jawaban bagi banyak pertanyaan yang masuk tentang keputusan kami tidak menyerahkan Danisy ke tangan orang tua saya. Bukan karena tidak percaya, tapi ada pertimbangan matang di dalamnya.

Tertanggal 27 Juli, 2 bulan setelah kelahiran Azam. Pertanyaan yang sering kami dapatkan setelah kelahiran Azam anak kedua kami adalah “Kok Danisy pulang ke Caringin? Kenapa ga dititip aja di mamah?” Entah kenapa pertanyaan itu muncul. Mungkin melihat posisi kami yang satu kota dengan mamah, supaya kami ga repot urus bayi dan balita (ketika Azam lahir, Danisy berusia 2,5 tahun). Mumpung ada mamah, begitu komentar sebagian besar orang.

Kami memutuskan untuk membawa serta Danisy karena bagaimanapun, kelak kami akan tetap bersama lagi. Akan lebih mudah bagi kami berempat untuk beradaptasi segera setelah Azam lahir. Semula Mamah menawarkan agar Danisy tinggal bersama mamah karena toh sudah lepas ASI juga. Tapi dari beberapa literatur yang saya baca, justru membiarkan Danisy tetap bersama kami adalah momen penting.

Dengan tinggal bersama, Danisy belajar jadi kakak dan belajar punya adik setelah sebelumnya serba sendiri dan jadi pusat perhatian. Sementara saya belajar jadi ibu dari 2 anak, pun suami belajar hal yang sama.

Kehadiran Danisy juga ternyata sangat membantu. Danisy bantu ambilkan baju Azam, ambilkan handuk, dan membantu banyak hal terkait kebutuhan adiknya termasuk nyimpen popok di wadah cucian popok.

Ketika seorang anak memiliki adik, jangan jauhkan ia dari adiknya agar ia tidak merasa dibuang atau tersingkir karena kehadiran sang adik. Dengan membantu menyiapkan kebutuhan adik, baik ibu maupun kakak belajar, belajar untuk saling percaya. Kakak pun belajar bertanggung jawab sekaligus merasa tetap diperhatikan.

Cemburu karena kehadiran adik, wajar dan pasti ada. Hanya saja dengan tetap melibatkannya, kecemburuan ini akan berkurang. Dengan dilibatkan dalam mengurus adik, kakak juga belajar menumbuhkan rasa kasih sayangnya pada adik. Ia merasa kehadirannya berguna dan merasa dibutuhkan. Disini kakak belajar adaptasi bersama.

Tidak mudah memang mengurus bayi dan balita sekaligus, tapi Danisy yang terbiasa membantu sangat meringankan saya. Danisy cenderung lebih dewasa dan ga rewel manja. Saat Azam akan mandi, Danisy dengan sigap menyiapkan handuk, dikaitkan ke gagang pintu yang terjangkau olehnya. Ketika saya memandikan Azam, Danisy di kamar sudah siap dengan pernel, popok dan perlengkapan adiknya. Popok kotor pun sudah tahu harus disimpan dimana. Hampir semua kebutuhan Azam, Danisy yang siapkan.

brother

Hingga usia mereka saat ini, Danisy 4,5 tahun dan Azam 2 tahun, Danisy seringkali saya minta bantu mandikan sampai memakaikan pakaian adiknya. Setelah itu dititipi jaga adik atau “ajak dede main bareng ya”. Kadang kakak yang belum bisa baca pun dengan senang hati membacakan buku sesuai imajinasinya ke adik. Adiknya juga sudah terbiasa bareng kakaknya sehingga mereka nampak kompak berdua.

Ya, namanya anak-anak ada saat ga mau bantu juga. Ga usah dipaksa. Sesekali saja. Mereka berantem juga sesekali. Tapi kekompakan mereka tak ada yang bisa menggantikan. Adiknya sering merasa kehilangan ketika kakak nginep di rumah nenek atau main sendiri tanpa ajak adik. Kakak juga akan mencari adik ketika adiknya menghilang dari pandangan.

Jadi benar ya nasihat teman-teman tentang membiasakan anak dengan adiknya. Enak ke anak, enak ke kita meski awalnya butuh perjuangan.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

The New Me?

Berani tampil.. Itu esensi yang sering ditekankan di kelas Public Speaking Basic. Saya, angkatan 93. Dan hari ini adalah hari terakhir kelas, besok Final Presentation..

Kejadian yang berkesan sekali di acara hari ini justru ketika relaksasi menjelang penutupan acara. Peserta Training diminta untuk memejamkan mata dan membayangkan sebuah tempat yang paling nyaman.

Saya, ketika itu membayangkan sebuah taman yang entah pernah saya lihat darimana. Sebuah taman dengan sebuah kursi panjang dinaungi pepohonan rindang. Di bagian depannya ada sebuah danau luas yang bersih. Di sekeliling taman itu dipenuhi tanaman hijau nan indah (tak jelas bunga atau sekadar daun, maka saya tulis tanaman).

Bayangan taman yang indah itu muncul seketika saat trainer meminta kami membayangkan tempat yang nyaman. Kemudian ketika kami diminta membayangkan sebuah cahaya, entah kenapa muncul sebuah cahaya terang dari atas. Cahaya yang kemudian membuat saya ingin bangkit untuk mendekatinya.

Benar saja, trainer meminta kami mendekati cahaya itu. Tetiba muncul anak tangga, satu demi satu ketika saya melangkahkan kaki. Naik melewati danau, seperti mengawang menuju langit tempat dimana cahaya itu muncul.

Pelan tapi pasti langkah kaki terus menapak di setiap anak tangga yang muncul segera setelah saya mengangkat kaki untuk naik menuju cahaya tadi. Maka ketika trainer meminta kami membayangkan di cahaya itu ada lingkaran, saya menggambarkannya sebagai lingkaran kecil yang perlahan membesar. Dan tanpa diminta cahaya itu data, mendekati tangan saya untuk kemudian saya genggam dan saya masukkan ke dalam dada. Seketika rasanya rongga dada ini terisi penuh dengan cahaya.

Trainer meminta kami melihat ke dalam lingkaran itu tanpa memberi instruksi lebih lanjut. Tapi saya kemudian membayangkan sebuah tempat yang begitu terang. Kemudian ketika trainer meminta kami membayangkan di dalam lingkaran itu ada sesosok yang sedang tampil di depan umum.

Bayangan itu muncul, sebuah panggung besar dengan seseorang yang sedang tampil. Kemudian terbayangkan sedikit demi sedikit seperti yang digambarkan sang trainer. Hingga akhirnya saya membayangkan yang lebih jauh dibanding yang diinstruksikan.

Ketika sosok itu selesai tampil dengan standing applause dan sambutan meriah dari audience, saya melihat sosok mamah, bapak dan anak-anak menatap dengan bangga. Kemudian disambut anak yang lari ke arah sosok itu lalu turun podium. Suami pun mendekati sosok itu dan memeluk ketiganya. Kemudian mamah-bapa memeluk mereka dengan hangat. Ah, sosok itu..

Kemudian sosok itu mengulurkan tangannya, seperti hendak mengajak saya untuk turut serta. Ketika saya menyambut uluran tangannya, ia mengajak saya masuk ke lingkaran itu kemudian tiba-tiba perlahan tangannya melebur, memeluk saya hingga akhirnya keseluruhan sosok itu melebur ke dalam diri saya.

MC pun memanggil dan secara otomatis saya menuju panggung dan menerima a bucket of flowers. Woooww.. is it Me?

NewPerson

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.