Ingin Mengeluh

Pernah terpikir ingin mengeluh? Mengeluhkan keadaan kita yang rasanya jadi makhluk paling menderita sedunia. Mengeluhkan kondisi kita yang rasanya paling menyedihkan seantero jagad.

Saya pernah di kondisi seperti itu. Dan Allah sepertinya ingin mengingatkan saya bahwa saya salah. Bagaimanapun saya tetap orang yang paling beruntung di kondisi saya.

Ketika harus berpayah-payah ngangkut paket ke ekspedisi yang berkilo-kilo (kalau pas ga ada motor rasanya kok ya menyedihkan. hehe). Kemarin ngangkut paket untuk dibawa pulang dari ekspedisi karena ternyata beratnya lebih dari estimasi yang saya perkirakan jadi khawatir nombok. Berat. 2 keresek besar. Kejadian yang tidak saya prediksi sebelumnya sehingga saya membiarkan suami pergi setelah mengantarkan ke ekspedisi dan meminta beliau ambil barangΒ  ke supplier yang lumayan bikin motor penuh karena musti angkut 2 karung plus dus πŸ˜€

tired-ladyLalu ketika tengah berjalan kaki dari ekspedisi ke rumah mamah, lewatlah beberapa pedagang keliling berpapasan di jalan. Bermacam pikiran berkecamuk ketika melihat pedagang keliling itu lewat? Entah dagangan yang dibawanya banyak ataupun sedikit, nampak ringan ataupun berat.

2 keresek besar yang saya bawa saat itu, bagaimanapun uangnya sudah masuk ke rekening saya. Barangnya sudah pasti laku terjual. Sedangkan para pedagang keliling itu, meski di sisi yang berlawanan dengan arah pulang saya, mereka belum tentu sedang dalam perjalanan pulang. Dan salah satu bagian penting dari pemandangan itu, barang yang mereka bawa belum tentu terjual. Barang yang mereka bawa itu bukan barang yang sudah jelas terjual sehingga beliau hanya tinggal mengantarkannya saja, melainkan barang yang masih mereka jajakan.

Sesampainya di rumah mamah, dihadapkan dengan pesanan undangan yang belum selesai padahal targetnya diserahkan pada pemesan keesokan harinya. Setelah lelah berkutat dengan perjalanan yang lumayan menyita tenaga, kemudian kembali beralih pada pekerjaan berikutnya. Ketika ada deadline seperti ini, tak jarang kami begadang untuk menyelesaikan target.

Lelah pastinya. Jam 21.30 kami baru pulang. Anak sulung kami sudah terlelap sementara anak kedua kami sudah mulai merengek karena ngantuk. Kami angkut mereka ke motor lalu melaju pulang. Saya sendiri masih merasakan kantuk yang luar biasa.

Ah, bekerja hingga malam itu melelahkan. Ingin bisa segera sampai rumah lalu beristirahat dengan tenang #eh. Kemudian ketika mengeluhkan lelah itu, di jalan kami berpapasan dengan seorang pedagang. Tukang baso tahu langganan. Sudah hampir jam 10 malam. Agak jauh juga beliau dari tempat biasa kami beli. Mungkin malam itu dagangannya belum semua habis terjual. Sayangnya saya sudah sangat mengantuk sehingga tidak meminta suami untuk berhenti dan membeli dagangannya, hanya menyapa dari atas motor sambil berlalu.

Tuh kan sa, kamu kerja malem-malem juga karena sesuatu yang sudah “jelas”. Sementara tukang baso tahu tadi malah malam-malam berkeliling menjajakan dagangannya yang itupun beliau masih belum tahu apakah akan berhasil menjualnya atau tidak.

Lalu teringat pada warung yang kami lewati di jalan tadi. Jalanan sudah sepi, rumahnya di gang. Siapa yang akan membeli? Tapi begitulah Allah menegur kita itu dengan cara-cara yang unik.

Bahwa di luar sana masih banyak orang yang diuji dengan lebih berat dibanding kita. Banyak hal yang mesti kita syukuri. Banyak di luaran sana yang bahkan sudah tak bisa menangis karena terlalu lelah

Meski kita sering tertidur di depan laptop karena pekerjaan yang menumpuk, masih banyak orang di luar sana tertidur bukan hanya karena lelahnya bekerja tapi juga perut yang lapar. Ketika kita merasakan lelah karena kegiatan aktifitas harian, kita masih punya rumah untuk pulang. Lihatlah di emperan toko dan kios di luaran sana ada yang menghamparkan dus-dus sekadar untuk dijadikan alas tidur. Ketika pekerjaan kita baru selesai malam hari dan gontai pulang menuju rumah, lihatlah banyak orang justru keluar dari rumahnya untuk mengais rejeki meski hanya mencari apa yang ada di tempat sampah. Yang ketika kita sodorkan makanan dalam box sisa acara tadi siang, ia berterima kasih sedemikian.

Rabbii auzi’nii an asykuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu, wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikashshaalihiin..

doa-syukur-nikmat

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kesedihan

Kesedihan seringkali tak berbentuk

Ia mampu mengaduk rasa menjadi sedemikian rupa

Seperti halnya kebahagiaan yang juga sering tak dapat digambarkan

Kesedihan hadir dengan menghancurkan tembok rasa

 

Hati yang dirundung duka

Membuat gurat luka yang begitu nampak di muka

Maka tersenyumlah untuk menyamarkannya

Sementara saja, sebentar saja

Biarkan senyum menyirami hati hingga ia terbawa bahagia

 

Kesedihan melemahkan pikiran

Kemudian ia melemaskan badan

Maka bergeraklah

Agar badan kembali tegak

Agar pikiran mampu terkontaminasi bahagia

 

Kawan, bolehlah bersedih

Tak ada yang salah dengan rasa sedih

Tapi jangan larut dalam cairan rasa yang memuakkan

Tenggelam dalam lautan sedih kehilangan asa

 

Maka kawan, bersandarlah di pundakku

Biarkan sedihmu luruh

Kemudian kita bangkit bersama

Kembali menjalani kehidupan dengan lebih ceria

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kalian Spesial

Meski sempat kaget karena kehadiran kalian
Tapi aku belajar banyak
Melebihi saat aku bertemu banyak orang

Meski sempat campur aduk karena kehadiran kalian
Tapi aku belajar banyak
Tentang menata peka dan rasa

Kalian orang spesial dalam hidupku
Yang dikirimkan Sang Pencipta untuk menyempurnakan pembelajaranku

Kalian orang spesial dalam hidupku
Yang menjadi titik banyak perubahan diriku

Kalian tak pernah minta untuk hadir
Pun aku hampir tak sering meminta kalian hadir

Tapi Allah yang Maha Hadir
Ia izinkan aku menikmati kehadiran kalian

Meski aku tak pandai merangkai kata
Dan aku tak pandai menyusun doa
Tapi kusisipkan harap untuk kalian

Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kalian
Dimudahkan dalam mencari ilmu dan mengamalkannya
Diberi kekuatan untuk terus tumbuh dan berkembang dengan pondasi aqidah yang lurus dan benar
Hingga Ia senantiasa ridha pada kalian

Bandung, 12 Mei dini hari usai memandangi wajah dan mengecup kening kalian

Love u, boys..

image

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Hei, Kamu

Menatap masa depan tanpa arah adalah sesuatu yang tak kusuka
Mencatatkan setiap tindakan untuk pencapaian menjadi sebuah keharusan
Tapi kehadiranmu mengubah segalanya
Aku sempat meminta pada-Nya
Tentang seorang lelaki yang kelak anak-anakku akan memanggilnya ayah
Aku sempat berdoa pada-Nya
Tentang lelaki yang kurindu namun entah siapa
Seperti sebuah pengabulan tiba-tiba
Kau hadir tanpa diduga
Seperti sebuah kejutan hadiah dari-Nya
Kau menyapa tanpa berbicara

Hei, kamu
Ya, kamu
Kamu yang duduk di sampingku
Yang tanpa kuberikan mantra apapun
Kamu bersedia ada di sisiku
Mengubah sebagian besar kehidupanku

Hei, kamu
Iya, kamu
Yang menerimaku dengan tangan terbuka
Menjadi saksi sisi terbaikku
Sekaligus korban sisi terburukku

Hei, kamu
Iya beneran kamu
Entah seberapa lama lagi kita akan bersama
Tapi terima kasih untuk semuanya

Karena kamu sudah bersabar saat bersama
Karena kamu selalu sabar saat tak bersama
Dan karena hadir tanpa diduga
Membuatku percaya
Bahwa Ia selalu memberikan yang terbaik, tanpa diminta

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Hari yang Aneh

Hari ini bagi saya benar-benar jadi hari yang aneh. Hari kedua saya ikut kelas Public Speaking Basic yang diselenggarakan oleh Ganesha Public Speaking.

Kenapa aneh? Karena hari ini kita nyanyi-nyanyi. 2 kloter. Haha.. *saya nyanyi sejuta arif dari EdCoustic. jangan tanya suara yaaa

edcousticSetelah kemarin tebak profesi (yang profesinya unpredictable), kegiatan unpredictable lainnya hari ini adalah DISURUH NYANYI. Aneh dong ya. Ngapain sih nyanyi-nyanyi?

Kalau sama Kang Fauzi kemarin kita disuruh senam dadakan selama musik masih on, maka trainer kita hari ini, kang Panji malah nyuruh kita nyanyi. Karaokean gratis nih kita hari ini. Puas nyanyi. Hoho..

Ga nyangka sama sekali ternyata ini toh kelas public speaking. Kirain bakal serius gimana gitu ya. Tapi ternyata sesuai sama yel-yel yang diterapkan selama training. Salah satu yel-nya ketika ditanya “sedang apa kita hari ini?” jawabannya adalah “bersenang-senang” sambil memutar-mutar tangan di atas kepala. Udah kaya orang apa aja gituh πŸ˜€

Setidaknya selama 2 hari, tanpa ada urutan (jadi bikin deg-degan sebenernya karena makin lama mikir buat maju, makin lama kelasnya selesai) kita diminta maju. Semua kebagian, tenang aja. Ga ada satu orang pun yang luput dari tampil di depan umum, kecuali yang ga dateng tentu saja.

Kemarin diminta mimpin gerakan yang aneh-aneh, sekarang diminta buka tangan selebar-lebarnya. Satu kalimat yang dijadikan “motto” hari ini dari kang Panji adalah “salah satu ciri orang pede depan umum, dia ga malu ngeliatin keteknya”. Asli parah. Heuheu. Bukan berarti lekbong alis kelek ditembong-tembong ya. Tapi tangan terbuka dengan bebas, tanpa mengapit badan lagi. Ga kebayang? Ikut kelasnya aja deh πŸ˜›

Asli ga pernah bayangin kalau kelas public speaking itu kok ya seperti ini. Kelas apaan sih ini?! πŸ˜€

Dibuat bergerak dan terus-terusan tampil, meski masih ada sisa-sisa grogi tapi sudah bisa lebih baik perform di depan. Ga peduli kosakata berantakan, ga peduli suaranya sumbang pas nyanyi (atau bahkan cempreng kayak saya gitu ya), ga peduli mitos-mitos. Pokoknya maju ke depan, selesaikan tugasnya dengan baik. Ga bisa? Ya harus dicoba.

Kelas basic ini konon katanya cuma kelas yang mengajarkan kita putus urat malunya dan malu-maluin. Kalau mau lebih keceh lagi pas tampil ada di kelas advance.

Ya putus urat malu disini bukan berarti ga punya rasa malu (al-haya) ya, tapi memutus rasa malu yang tak perlu, perasaan grogi yang bikin kita gemeter ketika tampil di depan umum (meski sekadar ngisi di radio atau nanya pas di majlis taklim), bikin kita keringet dingin ketika diminta ngisi kultum, dan sebagainya.

So, buat yang masih merasa sering grogi pas diliatin orang, ups, pas tampil depan umum, boleh ya saya sarankan untuk ikut acara ini. Soal investasi mah, silakan cari info sendiri ya. Eh, rasanya ada deh nomor kontaknya. 0858-6000-0020 atau cek ke GPS Bandung.

*bisa sit in alias ngulang training gratis juga loh di brosurnya πŸ˜€

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Public Speaking Basic

Bergabung menjadi bagian dari Ganesha Public Speaking sepertinya salah satu hal yang selalu saya tunda. Kenapa? Karena saya GA PEDE!

Saya sebelumnya sudah mengenal para trainer di PT. Ganesha Sentra Perubahan. Setidaknya saya sudah pernah ketemu sama tim (kecuali beberapa orang). Mereka (mungkin) sudah tau cukup banyak tentang saya yang geje dan aneh. Aarrrgggghhh..

Setiap kali ditawari acara Ganesha sama suami, saya akan selalu menjawab “noooo”. Suami cuma bisa keheranan. “Ngga. Ade ga mau ya trainer-nya orang yang kenal Aa, kenal keluarga kita dan yang udah pernah ade kenal dan tau ‘bobroknya’ ade”. Haha. Naif banget dah gue.

Eh ada alasan lain ding. Mahal. Heuheu.. Dulu mikirnya, buat apa juga belajar begituan mahal-mahal toh kan cuma ibu-ibu.

image

Dan hari ini semua berubah! Secara terpaksa saya ikut kelas public speaking basic yang MaSyaAllah fun.

Dan soal harga, rupanya untuk kegiatan serupa di luaran sana lebih wah harganya. Ini testimoni peserta sendiri.

Tadi di kelas ada 2 orang dari luar Bandung. Satu dari Jakarta, alasan beliau karena butuh tempat belajar yang benar-benar dasar. Satu lagi dari Bintaro, alasan beliau katanya yang terdekat ga ada, tambah lagi harganya ga seperti yang dikasih GPS. Pas iseng nanya ternyata ada yang sampe 3x lipat dan dihitung per pertemuan. Wooowww..

Rencananya hari ini diisi sama Kang Panji atau Teh Ica (kata suami) tapi ternyata diisi sama Kang Fauzi Noerwenda. Mereka anak-anak muda yang kece karena melejit.

Sempet sih deg-degan karena kang Fauzi pun termasuk yang sudah kenal suami. Hahay. Lagi-lagi lebay. Ah, maklum anak Feeling ya (dan sedikit lebih tenang karena saya tau Kang Fauzi juga orang Feeling. Hoho. Ga nyambung).

Kelasnya hari ini berhasil mengubah saya yang malu tampil jadi sudah lebih berani maju. Ya kalau ga tampil yang kena efek semua peserta. Jadi bener-bener dipaksa tampil. Kece bingit nih acaranya.

Tetiba inget dulu tiap ada kesempatan ngisi acara suka mundur padahal sebenernya pengen sih buat pengalaman. Rupanya begitu toh (apa sih).

Jadi sebenarnya yang membuat kita tidak berani tampil adalah pembatasan diri kita. Bahkan misal sekadar ngisi acara radio -saya pernah dan tetep aja grogi, suara ga jelas, penyampaian gemeter. Hoho..

Mulai sekarang kayaknya harus berani ketika diberi kesempatan untuk tampil. Meski harus belajar lebih banyak tapi jika terbiasa, nanti lebih bisa.

Semangat!!! ^_^

*terima kasih sudah memaksaku, cinta..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mempercayai Suami

Mungkin judulnya terkesan aneh ya. Tapi percayalah, banyak diantara kita tidak mempercayai seorang laki-laki yang disebut suami. Dengan berbagai alasan dan kejadian

image

Kepercayaan, sebagaimana banyak hal dalam hidup kita adalah sesuatu yang cukup penting ada. Bukan sekadar percaya bahwa ia akan setia. Tapi lebih dari itu, percaya dengan semua pertimbangan dan tindakan yang dilakukan oleh seseorang bertitel suami.

Mempercayai suami bukanlah hal aneh, tapi kadang juga menjadi sebuah hal yang tak lumrah diingat. Tak lumrah untuk disyukuri dan dipelajari.

Seorang suami memerlukan kepercayaan yang teguh dari istrinya, sang pendamping dan kekasih hatinya. Jika dulu sebelum menikah ia selalu ingin dipercaya orang tuanya bahwa ia mampu bertanggung jawab -untuk kemudian membuktikan kepercayaan itu-, maka setelah menikah ia perlu kepercayaan istrinya yang mampu menjadi bahan bakar seorang suami dalam beraktivitas.

Kepercayaan istri menjadi semacam penyemangat seorang lelaki dalam melaksanakan kewajibannya. Mencari nafkah, bekerja, beraktifitas dan berkarya.

Sayangnya kadang istri tidak dapat mempercayai sepenuhnya sang suami. Mungkin ada yang berlatar belakang keluarga besar sang istri atau karena sikap suami sebelumnya.

Setelah menikah, kita masih belum bisa membersihkan memori masa lalu. Karena sikap lelaki seringkali sama, hampir standar dengan menggunakan logika, maka sering salah paham juga dengan pertimbangan perempuan yang logis namun dipengaruhi rasa.

Tidak ada yang salah atau benar dalam konteks ini. Suami perlu meminta pertimbangan istri dan istri perlu meminta penjelasan suami agar keputusan yang diambil adalah keputusan berimbang. Ditimbang dalam rasa dan logika.

Dalam rumah tangga, ketika seorang perempuan memutuskan untuk menerima pinangan seorang lelaki maka segera setelah akad nikah diucapkan dan sah menjadi suami istri keduanya terikat dalam sebuah janji kepercayaan. Istri percaya bahwa ia lelaki yang pantas menjadi imam kita, dan suami percaya bahwa ia perempuan yang dapat mendampingi setiap langkahnya setelah ini.

Sayangnya karena urusan hati wanita, secara tidak sadar kita sering meragukan keputusan suami. Ketika ia mengajak kita mandiri misalnya, tidak seatap dengan orang tua atau mertua, kita seketika ragu “uang darimana? Makannya nanti gimana?” Tidak salah, tapi memang kurang tepat jika berpikir demikian karena secara adab, sebaiknya tidak ada 2 kepala rumah tangga dalam 1 atap. Jika saat ini dengan orang tua saja pas-pasan, bagaimana jika mandiri? Seketika kita meragukan 2 hal: bahwa suami adalah imam kita, dan Allah Sang Pemberi Rezeki.

Lelaki kadang akan mengeluarkan tanggung jawab terbaiknya ketika ia memiliki “kuasa penuh” atas kepemimpinannya. Bukan jadi diktator ya, tapi lebih bertanggung jawab dibandingkan ketika ia masih “numpang” di rumah orang tua atau mertua.

Meski memang beberapa lelaki tidak dapat dipercaya dengan cara seperti ini. Entah karena track record-nya atau karena memang sudah sulit sekali dipercaya (sayangnya mereka juga tidak diberi kesempatan untuk membuktikan).

Catatan ini memang tidak bisa dipukul rata ya di semua rumah tangga. Beda kondisi dan keadaan bisa jadi beda pertimbangan. Tapi para lelaki biasanya akan sepakat bahwa ia merasa lebih “hidup” ketika ia dapat membina keluarganya sendiri secara mandiri.

Kemudian saya berpikir, sepertinya kesepakatan pranikah itu penting ya. Tentang keluarga seperti apa yang ingin dibina, bagaimana dan harus seperti apa. Setelah menikah apakah langsung pisah rumah dengan orang tua atau tetap tinggal. Jika pisah rumah bagaimana, jika tinggal satu atap bagaimana. Pertimbangkan manfaat mudharat keduanya.

Pisah rumah bukan berarti kita tak bisa berbakti dan membantu orang tua. Kesepakatan semacam inilah yang perlu dibicarakan sebelum mengambil keputusan menikah. Agar langkah yang diambil adalah kesepakatan bersama.

Para orang tua akan maklum ketika anaknya memilih mandiri. Bukan ingin meninggalkan hanya saja memang sang anak sudah memiliki keluarga sendiri yang harus dibina.

Kepercayaan istri terhadap suami dapat menjadi jembatan juga untuk suami memahamkan keputusan kepada keluarga besar. Kepercayaan istri akan menjadi kekuatan besar untuk suami tetap tegar menghadapi berbagai rintangan.

Saya sendiri masih harus banyak belajar. Belajar mempercayai suami dengan lebih baik lagi. Menemaninya, mendampingi dengan lebih baik..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.