Balada Menantu, Mertua dan Ipar

Ramadhan kemarin dan menjelang lebaran, di beberapa grup curhat ibu-ibu rasanya banyak sekali curhatan mengenai mertua atau ipar. Meski di luar bulan Ramadhan ya ada juga curhatan tentang hal ini.

image

Curhatan yang jika diperhatikan sepertinya menduduki posisi pertama disusul curhatan tentang suami dan selanjutnya curhat mengenai anak. Herannya curhat tentang anak ini jika saya persentasekan sepertinya hanya  memiliki nilai 10% saja. Hoho.. Namanya juga curhat ibu-ibu ya 😀 Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Chat WhatsApp via Laptop

Setelah sempat heboh di beberapa grup mengenai WhatsApp web, baru kemarin-kemarin sempat mencoba sendiri. Memang terasa lebih nyaman karena bagaimanapun kalau pas kerja depan laptop, agak repot bolak-balik akses laptop-ponsel. Dan jika urusan copy paste alamat customer (misalnya) jadi lebih mudah.

Pastikan koneksi internet baik untuk dapat mengakses pesan WhatsApp via web di laptop. Saya menangkapnya WhatsApp web ini semacam sinkronisasi pesan 😀

Berikut adalah langkah untuk dapat menikmati akses pesan WhatsApp (dan tentu saja mengirimkan pesan juga) melalui laptop: Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mulai Menulis

Mulai menulis lagi setelah beberapa kali agak tercerai berai jadwal harian berikut ide tulisannya itu berat karena ini seperti memulai lagi dari awal. Dan mempertahankan konsistensi menulis itu butuh usaha yang juga tidak mudah. Salut pada teman-teman yang selalu konsisten menulis dengan segala manfaat yang keren bagi pembacanya.

menulis Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Hati-hati Pada Prasangka

“Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa”  (al-Hujuraat: 12)

“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka. Karena sesungguhnya prasangka adalah berita yang paling dusta.” HR Al-Bukhari (6066) dan Muslim (2563)

prasangka

Betapa berhati-hatinya Islam mengatur tentang prasangka, sebuah praduga yang sering kali menggelincirkan kita pada permusuhan terhadap saudara sesama muslim. Menjauhi sebagian prasangka (prasangka buruk) adalah bagian dari hak saudara kita sesama muslim, dimana hak orang lain tentu menjadi keharusan bagi kita untuk menunaikannya.

Dalam berinteraksi dengan sesama, kita sering kali terjebak pada prasangka terhadap orang lain entah itu prasangka baik maupun buruk. Keduanya ada sisi baik dan buruk. Ketika kita terlalu beranggapan seseorang baik, kita lupa bahwa kita belum sepenuhnya mengenal dia –meskipun berprasangka baik terhadap sesama muslim adalah sebuah anjuran. Dan ketika kita terlalu beranggapan seseorang buruk, kita lupa bahwa bisa jadi dia tak seburuk itu dan tidak berusaha mencari udzur (permakluman) terhadapnya.

Pembelajaran mengenai prasangka ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Termasuk di dalamnya berprasangka terhadap suami, anak dan keluarga kita yang tentu mereka juga adalah saudara sesama muslim.

Ketika pindahan rumah pekan lalu, beberapa tetangga yang selalu nampak cuek, beberapa yang selalu nampak jutek ternyata mereka pun memiliki kepedulian yang mungkin tak pernah dinampakkan sebelumnya karena memang belum bertemu dengan momen yang tepat. Saya melihat tetangga yang sering nampak menakutkan bagi saya, ternyata turun tangan membantu mengangkat barang.

Saya lebih memilih berhati-hati bergaul dengan tetangga tapi kemudian lupa dengan membiarkan prasangka buruk tetap ada dan abai terhadap prasangka baik. Padahal Imam Ibnul Mubarak pernah menyatakan Seorang mukmin adalah orang yang mencari udzur-udzur (bagi saudaranya). Maksud dari mencari udzur adalah mencari celah untuk kemungkinan prasangka baik berperan.

Hal yang serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mazin: “Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya”. Subhanallah.. Sebaik-baik mukmin adalah yang berhati-hati prasangka terhadap saudaranya.

Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi berkata -sebagaimana dinukil oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/285): “Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kau tidak sukai, maka berusahalah mencari udzur bagi saudaramu itu semampumu. Jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, ‘Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui’.”

Hamdun Al-Qashshar berkata: “Jika salah seorang dari saudaramu bersalah, maka carilah sembilan puluh udzur untuknya, dan jika saudaramu itu tidak bisa menerima satu udzur pun (jika engkau tidak menemukan udzur baginya) maka engkaulah yang tercela”

90 udzur lho.. Istilah yang sering kita bilang adalah “cari 1001 alasan untuk berprasangka baik”. Jika dibiasakan mungkin kita akan menemukan bahwa berprasangka buruk itu butuh effort lebih banyak jadi mending berprasangka baiklah.

Ya, berprasangka baik juga bukan berarti kita tidak waspada karena toh kita punya sebuah kemampuan bernama RAS, filter untuk Early Warning System. Tapi dasar keimanan seseorang akan membuat kita percaya bahwa ia pasti tidak menginginkan, tidak mengucapkan dan tidak bertindak kecuali sesuatu yang bermanfaat dan baik.

Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau bawakan pada (makna) yang baik.

Bahkan jika perkataan itu mutasyabih sekalipun. Mutasyabih adalah sebuah perkataan ambigu, samar dan rancu sehingga dapat memiliki makna yang lebih dari satu. Jika masih bisa ditemukan makna positifnya, maka lebih baik ambil saja makna positif tersebut. Akan lebih baik lagi jika kita mampu melaksanakan tabayyun terhadap saudara kita tersebut untuk memastikan makna sebenarnya yang ia maksud.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pakaianku, Pakaianmu, Pakaian Kita

هن لباس لکم وانتم لباس لهن

Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 187)

Ayat ini tentu sering kita dengar, bukan? Sebuah ayat yang mengumpamakan suami atau istri adalah ibarat pakaian bagi pasangannya.

Alhamdulillah Allah lagi-lagi memberikan ilmu baru, pemahaman baru tentang makna kata yang sudah lama saya kenal. Tentang kelengkapan fungsi dan makna pasangan adalah pakaian.

Ketika kita menikah, maka pasangan kita akan menjadi pakaian kita. Selama ini saya memaknai pasangan sebagai pelindung. Tapi kemudian saya belajar tentang makna pakaian yang lebih lengkap.

Pakaian adalah pelindung kita sekaligus penutup aurat. Dan ada hal yang sering kita lupa bahwa pakaian bukan sekadar yang menjaga kita, tapi kita juga diharuskan menjaga pakaian itu. Ada feedback.

Jika kita ingin pakaian kita tetap bersih, tetap indah dipandang dan nyaman dikenakan maka kita perlu merawatnya dengan baik. Kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang mungkin dapat merusak pakaia. Perhatikan bagaimana cara mencucinya, perhatikan bagaimana cara menghilangkan noda, perhatikan bagaimana cara menjemur, suhu seperti apa yang baik saat menyetrikanya dan hal lain yang terkadang kita abai.

Kita sering kali lebih berfokus pada “pakaian adalah pelindung kita” dan kemudian menuntut pakaian selalu indah dan menjaga kita dengan baik. Kemudian kita lupa bahwa pakaian juga butuh perawatan. Pakaian juga perlu dijaga. Jadi antara kita dan pasangan sudah selayaknya saling menjaga, bukan saling men-judge.

Dalam pernikahan, godaan untuk berbuat tidak baik tetap ada. Bahkan setan akan semakin gencar karena salah satu yang jadi target setan adalah berpisahnya suami dan istri. Maka kita benar-benar harus berhati-hati.

Maka saling menjaga menjadi sebuah kebutuhan yang begitu penting. Seperti apa saling menjaga itu? Bisa jadi akan berbeda antar tiap pasangan karena kondisi masing-masing pasangan belum tentu sama satu sama lain. Tapi mungkin kita akan sepakat bahwa saling menjaga keimanan, amar ma’ruf nahyi munkar antara suami dan istri sangat diperlukan.

Pikiran dan perasaan manusia begitu mudah berubah. Jutaan lintasan pikiran di kepala manusia bisa dimanfaatkan setan untuk menggoda.

Quu

Kecenderungan manusia untuk tertarik pada lawan jenis (terutama lelaki pada perempuan) yang “lebih”. Hal ini membuat perselingkuhan bisa jadi adalah sebuah yang mungkin meski “sekadar” tergelincir pada tindakan zina mata, zina hati atau hal yang dianggap ringan tapi sebenarnya tetap berat di hadapan Allah.

Disinilah peran menundukkan pandangan itu menjadi dimengerti kenapa begitu penting. Karena sering kali hal tak baik bermula dari liarnya mata memandang dan membiarkan bayangan jatuh ke hati hingga muncul pikiran-pikiran tak karuan. Ketika keimanan turun, maka mudah sekali untuk tergoda dan berpaling dari pasangan yang sah dan halal ke pemuasan nafsu semata. Na’udzubillah min dzalik.

Tugas memilih jodoh yang pemahaman agamanya baik tidak berhenti seketika setelah akad nikah diucapkan. Kewajiban kita selanjutnya untuk bersama menjalankan perintah Allah, salah satunya: quu anfusakum wa ahliikum naaran.. menjaga diri dan keluarga dari neraka.

Karena pakaian menjaga kita dan kita harus menjaga pakaian agak selalu layak. Sebab perjalanan pernikahan itu panjang dan penuh tantangan maka menjelmalah menjadi sebaik-baik pakaian dengan takwa.

Tidak mudah tapi bukan mustahil. Itu kenapa hadiahnya surga..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Algoritma Kehidupan

Algoritma Kehidupan. Begitu saya menyamakan konsep tentang lauhul mahfuz yang saya pahami ke dalam sebuah konsep dalam dunia ilmu komputer: algoritma pemrograman.

Sebagai seorang mantan mahasiswi teknik Informatika, saya membuat persamaan itu karena bagi saya lebih mudah dipahami dan lebih gampang membayangkan “alurnya”. Dengan adanya persamaan antara algoritma pemrograman yang (dianggap) sebagai jantung pemrograman, algoritma kehidupan juga (bisa jadi) adalah jantung kehidupan. Pemahaman akan konsep takdir yang tepat dan tak lagi membingungkan yang sering kali membuat kita justru malah jatuh ke jalan yang salah dalam memahami konsep tentang takdir itu.

contoh fc

Algoritma apaan sih? Kalau ditanya itu, jujur saya sudah lupa jawaban pastinya. Udah lama banget. Hampir mau 10 tahun. Haha.. baru berasa tuanya.

Tapi satu aja yang paling nyantol mengenai algoritma itu adalah tentang “perjalanan” langkah demi langkah sebuah sistem sebelum akhirnya dibuatkan sistemnya. Semacam blue print sebelum membangun rumahnya.

Mungkin pengertian kasarnya, algoritma itu semacam “aturan main” yang sudah ditentukan dalam sebuah operasi. Aturan main ini meliputi input, berbagai kemungkinan yang terjadi, alur terhadap kemungkinan-kemungkinan itu dan output.

Dari konsep inilah saya belajar memahami tentang “takdir”. Bahwa pada dasarnya Allah sudah menyiapkan algoritma kehidupan kita dengan sedemikian rupa. Allah sudah menyiapkan berbagai variabelnya untuk kemudian diproses sesuai input yang kita pilih dan berakhir pada statement akhir yang kemudian kita kenal sebagai takdir.

Euclid's_algorithm_Inelegant_program_1

Misal ada pilihan kampus A, B dan C. Ikhtiar kita pengen masuk kampus A, tapi rupanya meleset akhirnya kita diterima di kampus B. Karena tidak terlalu berminat, kita lebih memilih kuliah di kampus C. Apakah itu berarti perencanaan Allah meleset? Tentu tidak.

Allah sudah menyiapkan variabel-variabel untuk segala kemungkinan itu. Dan salah satu variabel penentunya adalah ikhtiar kita sejauh mana. Allah sudah menyiapkan berbagai kemungkinan itu. Jika belajar dan doanya oke, maka lulus kampus A, jika kurang salah satu variabelnya maka lulus kampus B, jika memutuskan beralih dari input semula maka masuk kampus C.

Setelah hasil kampus itu keluar, akan ada lagi “cabang” berikutnya. Misal jika kampus A maka begini, jika kampus B maka begitu, jika kampus C maka ini dan itu. Dan terus setiap hasil pilihan itu akan bercabang sampai akhirnya bertemu dengan “end” alias akhir.

Semua pilihan itu selalu memiliki alur tersendiri yang nanti akan menjadi takdir kita. Di tengah perjalanan dari input menuju output, ada sebuah proses untuk menganalisa jalur input kita dan hasil yang kelak akan keluar. Dan setiap output akan dihadapkan lagi pada proses analisa lainnya selama kehidupan kita masih berjalan.

flowchart algoritma lzw

Bayangkan saja, ketika kita berhadapan dengan sebuah program misalnya kita akan mendapatkan beberapa opsi yang harus dipilih salah satunya baru kemudian hasil keluar. Kurang lebih seperti itu.

Sebagai pengguna programnya, kita kan tidak tahu algoritma pemrogramannya bagaimana. Yang tahu hanya pembuat programnya. Sementara kita hanya tahu diberikan berbagai pilihan untuk kemudian mendapatkan hasil sesuai dengan yang kita pilih.

Kita masih bisa mencoba mengubah alur itu dengan mengirimkan email permintaan pada pembuatnya, semacam pembaruan program. Inilah yang kemudian saya pahami sebagai doa. Apakah pembuat program akan mengabulkan masukan kita atau tidak, ya itu terserah programmernya. Untuk permisalan ini memang tidak pas 100% tapi setidaknya begitulah peran doa. Ia mampu mengubah takdir selama memang menurut Allah itu baik bagi kita.

Algoritma kehidupan memang tidak akan sesederhana itu. Pasti akan lebih rumit lagi karena Allah Maha Hebat tentang skenario kehidupan kita. Tapi dengan membuat permisalan semacam ini, saya lebih nyaman dalam memahami apa itu takdir.

Jika dulu saya kebingungan, sekarang sudah tidak lagi. Misal, “jika saya dijodohkan dengan si A, ya sudah tinggal tunggu kan ada tanggal yang tertera” lalu saya bertanya “dimana posisi ikhtiar dan doa? Masa kita ga bisa milih sama sekali?” dan pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya karena keterbatasan ilmu agama saya.

Ketika saya bertemu dengan seorang guru yang mengisi kelas MTM, saya akhirnya paham bagaimana sebenarnya takdir itu harus disikapi. Bukan tanpa ikhtiar dan tidak perlu kebingungan. Allah Maha Adil dan Ia Maha Tahu yang terbaik bagi hambaNya dengan tetap melihat ikhtiar dan mendengar doa kita.

Yang mau saya garis bawahi di sini adalah, bahwa kita memiliki kemampuan untuk memilih sebelum akhirnya mengatakan “ini takdirku”. Kita memiliki kesempatan berdoa memohon pada Allah sebelum mengatakan “ini kan udah takdir”. Dan jika takdir sudah berlaku, maka kita masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi dengan memilih cara yang berbeda dalam menyikapi takdir. Pun kita memiliki kesempatan mengubah takdir kita ke takdir lain yang lebih baik dengan memilih jalan lainnya.

*****

Pernah tahu buku Ghostbump? Itu lho novel misteri yang ada opsi “jika memilih A, pergi ke halaman xx, jika memilih B, pergi ke halaman yy”. Kalau ada yang pernah baca Ghostbump, ini juga bisa dijadikan permisalan 😀

Deg-degan selama menulis tentang ini. Ternyata, ada rasa kangen juga ya sama dunia coding J a lot.. Dan salah satu hal yang disesalkan adalah.. saya lupa banyak tentang semua pelajaran di kelas ini. Huhu.. apa kabar kalo kuliah yang cuma tinggal 3 semester itu dilanjut? 😀

algo

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kotak P3K

Tulisan kali ini mencatat tentang alat atau perlengkapan apa saja yang perlu ada di kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) terutama jika memiliki bayi atau anak di rumah. Meski demikian sebenarnya perlengkapan ini juga berguna meski tak ada anak-anak, sekadar persiapan saja.

11330284-Illustration-of-a-Happy-Medicine-Kit-Stock-Illustration-aid-first-kit

  • Antiseptik untuk luka bakar maupun luka sayatan
  • Kapas (bisa yang bulatan atau kapas biasa)
  • Penurun demam (paracetamol)
  • Buku manual P3K jika ada
  • Kain kasa steril
  • Plester untuk memudahkan merekatkan kasa
  • Icegel atau es batu berikut pembungkusnya
  • Alat semprot oral atau alat penetes obat untuk pemberian obat
  • Cairan rehidrasi jika bayi terkena diare
  • Alkohol gosok untuk penjepit disinfektan dan alat penjepit untuk mengeluarkan serpihan kayu, kaca dsb.
  • Gunting kecil entah untuk memotong kasa atau lainnya.
  • Termometer untuk mengukur suhu dengan lebih akurat dibandingkan menggunakan tangan

Tambahan yang harus selalu ada di rumah: madu, minyak bubut, strong Acid, minyak zaitun. Teman-teman punya list yang belum ada disini? Bisa tambahkan di komentar ^_^

Oiya.. Sebaiknya jauhkan kotak P3K dari jangkauan anak-anak. Maklum anak-anak kan punya rasa ingin tahu yang tinggi.

Yang masih saya cari infonya tentang seberapa lama obat dapat bertahan jika sudah dibuka. Dan untuk perlengkapan lain non-obat, apakah ada kadaluarsanya? Mohon bantuan informasinya jika ada ya teman-teman. Terima kasih.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.