Mengenal Bahasa Cinta

Mengenali bahasa cinta setiap pribadi menjadi hal yang menarik kala kami mengenal konsep STIFIn. Perbedaan cara saya dan suami mengutarakan perasaan cinta tak ayal pernah jadi masalah baik dalam hubungan suami-istri maupun hubungan orang tua-anak.

Saya akan dengan sangat mudah mengumbar untaian kata cinta dan pelukan #jyaaa. Mudah saja bagi mengucapkan “ummi sayang Aa/Mamas” berkali-kali bahkan berpuluh kali dalam sehari meskipun kedua orangtua saya bukanlah tipikal yang suka mengucap cinta. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ibu Rumah Tangga Sejati

– Ibu Rumah Tangga Sejati –

Demikian sepotong kalimat yang muncul dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu.

SEMUA PEREMPUAN yang sudah menikah adalah IBU RUMAH TANGGA SEJATI, entah ia memiliki kegiatan lain di luar (aktivitas maupun bekerja) ataupun kegiatan sepenuhnya di rumah membersamai suami dan anak.

Tapi.. ada nada malu, gelisah, tak PeDe yang saya baca dalam ungkapan kalimat itu. Seolah ibu rumah tangga sejati adalah sebuah profesi yang tak memiliki prestisius sedikitpun.

Teh Esa ga salah ngetik? Ibu rumah tangga itu profesi?  Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tak Menghargai Karena Tak Tahu

Satu ketika, suami memberikan kejutan. Sebuah box kecil gift award dari pelatihan yang tengah diikutinya kala itu.

Saya mengunggah box kecil tersebut di akun instagram pribadi semata untuk mengabadikan momen indah itu. Momen dimana suami mendapatkan penghargaan (bagi seorang Thinking, hal itu adalah sebuah apresiasi luar biasa) dan momen saat suami memberikan hadiahnya tersebut pada saya sebagai ungkapan terima kasih sudah men-support beliau.

Tak ada yang spesial bagi saya kecuali atas alasan 2 momen tersebut. Belakangan baru tahu bahwa isi dari box-nya juga adalah sebuah benda mahal. Itupun karena seorang teman berkomentar di postingan IG saya. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Emosi itu Menular, Kenali Penyebab dan Solusinya

Emosi itu bervibrasi. Emosi itu menular. Saat ada kita marah, orang sekitar akan merasakan bahkan “tertular” kemarahan kita. Dan efek tertular itu bisa satu diantara 2 ekspresi: ikut marah atau terdiam dengan semacam rasa bersalah.

Pagi ini pesan sebuah layanan kirim barang online dan dapet driver yang sebenarnya wajar saja mengeluhkan kesulitannya diakibatkan sms patokan rute yang tak sampai. Saya sudah minta maaf dan menginformasikan bahwa tadi mengirim SMS berisi patokan dan rute (hanya saja ternyata gagal terkirim), namun sang driver masih saja melanjutkan mengulang-ulang keluhan yang sudah dipahami.

Intonasi menyebabkan kalimat itu kemudian terdengar seperti marah-marah dengan nada ancaman “bisa aja saya cancel orderan”. Hmm.. Padahal tak ada yang memaksa untuk mengambil orderannya. Dan kalaupun dicancel, bukankah saya bisa mendapatkan driver lain?

Kemudian saya jadi dapet pelajaran. Ini mirip dengan keluhan kita tentang beratnya hidup ini. Bisa jadi bukan susah nyari alamatnya yang jadi masalah karena jika memang itu masalahnya, seharusnya saat saya meminta maaf dan memberikan patokan lalu ikuti saja patokan itu hingga sampai di tujuan dan selesai kan? Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Catatan Persiapan untuk Ke Semarang

Belakangan ini saya sering mendapati teman-teman berada di daerah Semarang. Kota ini jadi salah satu tempat yang sepertinya perlu dikunjungi.

Ada sedikit rasa penasaran apakah Samarang di Garut berisi orang-orang Semarang atau gimana. Akhirnya googling lah saya. Ternyata Samarang sendiri adalah nama “lama” Semarang dari Bahasa Belanda.

Hal menarik dari Semarang adalah ketika saya tahu ternyata ya ajar aja banyak postingan mengenai kota ini sebab merupakan kota terbesar ke-5 setelah Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Wow. Setara sama kota tempat aye tinggal dong. Setelah pernah ke Jakarta dan Surabaya, berarti next trip aye harus ke Semarang nih.

Tulisan ini jadi catatan saya pribadi apa saja data yang diperlukan untuk berkunjung kesana dan kenapa musti main ke Semarang. Dan karena belakangan ini sedang tertarik banget sama sejarah ataupun asal muasal, fokus saya ga cuma di oleh oleh khas Semarang saja tapi juga ada cerita apa di balik kota ini.

Sejarah Pemerintahan Semarang

Semarang semula berada di bawah pemerintahan kerajaan Demak dengan Raja yang tengah berkuasa saat itu adalah Kin San/Raden Kusen, Ki Ageng Pandan Arang dan Sunan Bayat (Sunan Pandan Arang II). Kemudian berada di bawah kesultanan Pajang dan Kesultanan Mataram.

Setelah Belanda masuk, Semarang sempat berada di bawah pemerintahan VOC dan Hindia Belanda. Pemerintahan kemudian dibagi dua yaitu kota Praja dan Kabupaten. Kota di bawah penguasa Belanda sementara pribumi memegang wilayah kabupaten.

Lalu di bawah pemerintahan Republik Indonesia berlanjut pemerintahan Republik Indonesia Serikat. Sampai akhirnya setelah pengakuan kedaulatan pada 1950 secara definitif ditetapkan sebagai kota Semarang berdasarkan UU nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan kabupaten di lingkungan provinsi Jawa Tengah.

Julukan Kota Semarang

Setiap kota dan daerah biasanya memiliki julukan khas tersendiri. Ada banyak cerita di balik julukan tersebut. Khusus untuk kota Semarang, berikut adalah berbagai julukan maupun slogan yang umum diketahui masyarakat:

  1. 1. Kota Lumpia

Dengan makanan khas Lumpia sebagai oleh-oleh khas Semarang, tentu saja julukan yang paling terkenalnya adalah Semarang kota Lumpia. Lumpia sendiri merupakan perpaduan akulturasi budaya Jawa dan Cina.

  1. 2. Venetië van Java

Jika Bandung dikenal dengan Parijs van Java alias ibarat kota Parisnya pulau Jawa, maka orang Belanda menyebut Semarang sebagai Venesia-nya pulau Jawa karena dilalui banyak sungai di tengah kota seperti halnya kota di Italia tersebut. Aaakk.. kemudian pikiran saya membayangkan keromantisan di Semarang. Hmm. Benarkah demikian?

  1. 3. Kota Atlas

Disebut kota Atlas bukan berarti karena ini merupakan atlas Asia. Tapi slogan kota Semarang yang merupakan akronim alias kependekan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat. Wii, mantap.

  1. 4. Semarang Pesona Asia

Wacana pada tahun 2009 membuat slogan Semarang Pesona Asia yang disetujui oleh walikotanya menghasilkan pembersihan dan pembangunan di berbagai lokasi. Penataan PKL, perbaikan saluran, jalan, trotoar dan taman.

  1. 5. The Port of Java

Walikota Semarang mengambil slogan pariwisata: The Port of Java alias pelabuhannya pulau Jawa. Hal ini diambil sebagai upaya terkait kepentingan pemasaran pariwisata di kota Semarang.

Tentu tidak berlebihan sebab akses dari Jawa Barat menuju Jawa Timur umumnya selalu melewati Semarang sebagai tempat singgah. Bahkan dalam sejarah tercatat bahwa Semarang menjadi tempat laksamana Ceng Ho singgah.

Tempat Wisata

Ada berbagai jenis tempat wisata yang dapat dikunjungi di Semarang. Berikut diantaranya:

Wisata Alam:

  • Pulau Tirangcawang, di Kelurahan Tugu
  • Pantai Tirang, di Kelurahan Tambak Harjo
  • Pantai Marina, di Kelurahan Tawangsari
  • Pantai Maron, di Kelurahan Tambak Harjo
  • Goa Kreo, di Kelurahan Kandri
  • Taman Lele Semarang, di Kelurahan Tambakaji
  • Curug Lawe di Gunungpati
  • Curug Benowo di Gunungpati
  • Curung Karang Joho di Ngaliyan

Wisata Sejarah

  • Museum MURI, di Kelurahan Tegalsari
  • Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, di Kelurahan Tegalsari
  • Museum Jamu Nyonya Meneer, di Kelurahan Muktiharjo
  • Museum Jawa Tengah, di Kelurahan Gisikdrono
  • Museum Mandala Bhakti, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Lawang Sewu, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Tugu Muda, di Kelurahan Pindrikan Kidul
  • Candi Tugu, di Kelurahan Tugurejo
  • Little Netherland (Kota Tua Semarang), di Kelurahan Purwodinatan

Wisata Religius

  • Masjid Agung Jawa Tengah, di Kelurahan Sambirejo
  • Masjid Baiturrahman Semarang, di Simpanglima
  • Masjid Kauman Semarang, di daerah Kauman, Johar
  • Klenteng Sam Po Kong, di daerah Simongan
  • Kelenteng Tay Kak Sie Tri Dharma, di Gang Lombok, Semarang Pusat
  • Gereja Blenduk, di Kecamatan Semarang Utara
  • Gereja Katedral Semarang di Kelurahan Randusari
  • Gereja JKI Injil Kerajaan Semarang di Kelurahan Tawangsari
  • Vihara Mahavira Graha di Kelurahan Tawangsari
  • Pagoda Buddhagaya, di Pudak Payung, Banyumanik, Semarang Selatan

Wisata Keluarga

  • Wonderia, di Kelurahan Tegalsari
  • Kebun Binatang Mangkang, di Kelurahan Mangkang Kulon
  • Taman Mini Jawa Tengah (Maerokoco), di Kelurahan Tawangsari

Wisata Malam

  • Alun-Alun Kota Semarang (Simpang 5)
  • Taman Pandanaran (Taman Warak Ngendok)
  • Taman KB

Wisata Belanja

  • Pasar Johar, di Kelurahan Kauman
  • Mall Ciputra (Ramayana), Simpang Lima City Center
  • Simpang Lima Plaza (Matahari), Simpang Lima City Center
  • Java Super Mall (Hypermart), di Kelurahan Peterongan
  • Paragon City Mall (Matahari), Pemuda Central Business District (PCBD) di Kelurahan Sekayu
  • Sri Ratu (Matahari), di Kelurahan Peterongan
  • DP Mall (Carrefour), di Kelurahan Pekunden Jl. Pemuda Semarang Tengah
  • M-Art Shop, Jl. Mataram 653 Semarang

Kuliner

Biasanya tiap berkunjung ke sebuah kota, sebagian besar masyarakat akan mencari apa sih kuliner khas menarik dari kota tersebut. Nah, jika akan ke Semarang berikut adalah beberapa makanan dan oleh-oleh khas Semarang yang tersedia:

Makanan/masakan khas Semarang:

  • Bandeng presto
  • Soto Bangkong “Soto Semarang”
  • Mie Kopyok
  • Sega Becak
  • Sega Lunyu
  • Sega Ayam
  • Tahu Pong
  • Pecel Koyor
  • Petis Kangkung
  • Tahu Petis
  • Tahu Gimbal
  • Bakso

Jajanan pasar khas Semarang:

  • Lunpia Semarang
  • Spekoek
  • Jongkong Singkong
  • Gandos
  • Kue Moci
  • Blanggem
  • Timus
  • Gilo-gilo
  • Tahu Gimbal

Minuman khas Semarang:

  • Kolak Setup
  • Es Cao
  • Es Marem
  • Es Congklik
  • Wedang Durian
  • Wedang Jahe Rempah
  • Wedang Lengkeng
  • Wedang tahu
  • Wedang Jalang (Wedang Jahe Alang-alang)
  • Wedang Kacang Tanah

Oleh-oleh Khas Semarang:

  • Lumpia
  • Roti Gandjel Rel (haha saya penasaran seperti apa ini dan kenapa diberi nama seperti ini)
  • Jambu Semarang
  • Wingko Babat
  • Mari Wijen
Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Paradoks Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pa.ra.doks: n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menjalankan peran sebagai orang tua merupakan sebuah perjalanan. Kenapa? Bagi saya secara pribadi, menjadi orang tua selalu merupakan proses. Perjalanan itu dimulai sejak seorang perempuan dinyatakan positif hamil. Bahkan segera sejak ijab kabul terucap dari seorang lelaki yang kini disebut suami.

Di tengah hujan sambil menikmati soto mie Bogor, saya merenung. Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjalanan yang panjang. Maka berbekal untuk melewati prosesnya adalah sebuah keharusan.

Bekal seperti apa sih yang perlu disiapkan? Selain keimanan dan ketakwaan, ilmu adalah bekal yang sangat diperlukan. Agar setiap episode yang harus dilewati sepanjang jalan itu dapat kita lewati dengan baik.

Meskipun ada masa dimana kita belajar dari perjalanan itu sendiri, akan tetapi terus memberdayakan diri untuk menjadi orang tua harus tetap dilaksanakan. Sebab tak akan merugi orang yang berilmu. Bukankah mereka akan Allah tinggikan derajatnya?

Dianugerahi 3 anak membuat saya belajar semakin banyak, meskipun masih tambal bolong disana-sini. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan banyak guru yang mengajarkan bagaimana menjalankan peran ini semakin baik setiap waktu.

Guru tak harus mereka yang lebih tinggi ilmunya, tak juga harus lebih tua usianya. Mereka bisa saja justru anak kita sendiri. Dan seringnya, justru anak-anak menjadi guru sekaligus pendamping kita dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Sepakat?

Paradoks Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Belajar tentang fitrah, belajar tentang bagaimana Islam mengajarkan cara mendidik anak, berdiskusi dengan teman-teman, membuat saya menemukan sebuah paradoks dalam pendidikan anak. Setidaknya itu yang saya alami. Dan saat memperhatikan sekitar, paradoks ini pun terjadi pada beberapa keluarga. Mungkin pada sebagian besar orang tua.

Terkadang saya menertawakan diri sendiri. Ah, rasanya geli ya kalau ingat berbagai paradoks yang saya jalankan. Seperti saat sedang sangat ingin menikmati soto mie Bogor tapi malah memesan soto Bandung.

Bayi terlahir dalam keadaan fitrah. Dan semua sepakat fitrah yang dimaksud adalah fitrah untuk menerima syariat sesuai perkembangan usia dan fitrah untuk lebih cenderung pada kebaikan.

Mari kita runut fitrah anak (yang saya ingat) dan betapa kita melakukan paradoks yang menggelikan selama mendidik mereka.

  1. 1. Anak terlahir sensitif terhadap najis.

Anak baru lahir biasanya kita pakaikan popok kain. Setiap kali pipis atau eek, anak akan memperlihatkan ekspresi maupun gerakan pertanda ia tidak nyaman. Lalu semakin beranjak besar, kita mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak) –popok yang memiliki daya tampung banyak untuk beberapa kali pipis, dan selalu dengan iming-iming: nyaman, permukaan kering, dan benefit lain yang menggiurkan.

Maka kemudian dengan alasan “takut tidurnya terganggu karena ga nyaman akibat pipis, makanya dipakaikan pospak saja lah. Biar nyenyak meski berapa kali pipis.

Lalu saat anak mulai besar, semakin lucu berlari kesana kemari, ternyata masih pipis di kasur malem-malem. Kemudian kita kesal kok anak masih saja pipis di kasur?

Padahal.. bukankah kita yang mengajarkan anak untuk “tetap nyenyak meskipun pipis banyak”?

Anda boleh tidak setuju dengan saya. Saya tidak melarang teman-teman mengenakan putra/i-nya pospak ya. Hasna juga masih pake kok. Yang menjadi poin penegasannya adalah: sebelum menghakimi anak ketika malam ia pipis di kasur tapi ga kerasa, susah diajarkan toilet training, atau semacamnya. Mungkin kita perlu evaluasi dulu. Bisa jadi sulitnya anak menjalankan toilet training karena doa kita yang tak sengaja melalui afirmasi/lintasan pikiran dan pembiasaan yang kita jalankan.

  1. 2. Anak terlahir untuk senantiasa bangun di sepertiga malam dan shubuh.

Setiap bayi akan menjadi alarm untuk orang tuanya karena ia terbangun di sepertiga terakhir. Seolah mengajak orang tuanya untuk “yuk ayah, ibu temani aku menghadap Rabb-ku di sepertiga terakhir malam”.

Ia juga mudah sekali bangun kembali saat menjelang shubuh. Maka setiap anak seharusnya mudah bangun pagi. Bukan hanya untuk sekolah, tapi untuk shalat shubuh.

Tapi dengan alasan “kasihan ngantuk. Ah, kan masih kecil biarin aja tidur lagi. Toh kan masih anak-anak, belum wajib shalat.”

Kalimat tersebut tidak salah. Hanya pada keadaan tertentu membuat anak kemudian kehilangan kebiasaannya, fitrahnya tertutupi secara perlahan hingga akhirnya mungkin saja fitrah itu rusak.

  1. 3. Anak senang dan semangat ke masjid.

Pengalaman pada 2 anak lelaki, umumnya di usia mereka sudah bisa berjalan dan bicara mereka semakin tertarik ikut ayah ke masjid. Lagi-lagi karena alasan “masih kecil”, “kasihan”, “repot” dsb, kita mulai menutupi fitrah anak untuk terbiasa berjamaah di masjid.

Tapi kan Teh, memang repot lho bawa anak balita ke masjid. Takut ganggu jamaah lain.

Memang betul. Makanya perlu diajarkan adab di masjid sejak dini. Saat mereka ingin ikut ke masjid, izinkan saja. Jika memungkinkan ibu ikut mendampingi sehingga saat anak ternyata tidak kondusif, ibu bisa turun tangan mengatasi anak sementara ayah tetap bisa berjamaah.

Bagaimana jika tidak bisa mendampingi karena punya bayi, misalnya? Maka diharapkan kesabaran ayah dalam menjaga fitrah itu. Jangan larang anak. Tegur ia baik-baik saat berulah, jangan ditegur di depan umum. Khawatirnya anak jadi takut dan benci masjid.

  1. 4. Anak senang meniru dan bersegera pada ibadah seperti shalat, sedekah, dsb.

Ingin anak shalih tapi kita enggan memperbaiki diri untuk menjadi role model terbaik bagi anak, bukankah itu sebuah paradoks? Padahal anak lebih pandai meniru dibanding mendengar perintah kita.

Saya ga bilang ayah-ibu harus shalih dulu baru punya anak ya. Semua bisa sambil berproses. Kuncinya adalah kesungguhan untuk menjadi lebih baik. Nanti Allah akan kirimkan bantuan yang sesuai.

Ingin anak rajin shalat berjamaah di masjid, tapi ayah shalatnya di rumah di akhir waktu pula. Ingin anak rajin sedekah dan berbagi, tapi ketika ada kesempatan sedekah ternyata ayah-ibu enggan mengeluarkan harta bahkan enggan sekadar berbagi soto mie Bogor yang kita peroleh banyak dari teman, hingga akhirnya malah basi tak termakan. Anak paham dan melihat.

Maka mulai sekarang, hentikan paradoks seperti ini.

  1. 5. Anak terlahir dengan segala sifat baik seperti pemaaf, tidak mudah menyerah dan berani.

Terkadang kita gemas dengan sikap anak yang aktif sekali, ingin mencoba ini-itu, dan mudah sekali main lagi dengan teman yang telah menyakitinya. Ternyata semua itu muncul dari hatinya yang masih jernih.

Tapi kita melarangnya mencoba sesuatu karena menurut kita itu hal berbahaya. Atau menganggap anak ga akan bisa melakukannya. Ah, kreatifitas pun akhirnya harus terkubur tak terasah.

Padahal tindakan kita menyemangati anak saat ia belajar berjalan adalah sikap yang luar biasa harus terus kita jalankan. Sebab seandai saat belajar berjalan lalu kita mengatakan pada sang anak “ah, kamu yang begitu aja ga bisa. Udah ga usah belajar jalan lagi.” Tentu anak-anak (atau bahkan kita sendiri) ga bisa jalan sampai saat ini.

Maka mulai saat ini, yuk ayah bunda sadari apakah dalam pengasuhan kita ada paradoksikal yang dilakukan atau sudah lebih baik? Jika masih ada, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

Mari kita terus belajar menjadi orang tua semangat!

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Kakek Nenek Berkunjung

Mendidik anak sesungguhnya adalah seni mendidik diri sendiri. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa jadi role model bagi anak. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga aliran cinta antara suami dan istri lancar, memancar indah dan dirasakan oleh anak-anak beserta mereka yang terlibat di keseluruhan cerita rumah tangga yang tengah dibangun. Agar tangga ini sampai ke surgaNya.

Nah, dalam proses perjalanan mendidik anak ini tentu ada banyak faktor sampingan sebagai pelengkap. Termasuk diantaranya kehadiran keluarga besar. Dan saat saya perhatikan, seringkali yang jadi sorotan adalah kehadiran kakek nenek yang biasanya disebut “penyelamat” (beberapa orang ngomong begitu sambil gemes. Heuheu)

Kehadiran pihak ketiga dalam proses Pendidikan anak memang menjadi ujian tersendiri terutama bagi para orang tua muda (Bahasa apa ini orang tua muda? Wkwkwk). Bagi pasangan yang memiliki impian ideal tentang bagaimana anak-anak mereka dididik, terkadang terbentur saat berhadapan dengan para orang tua.

Ketika Kita dan Orang Tua Berbeda Pendapat Tentang Anak

Tidak semua orang tua mau terbuka dengan perbedaan pendapat dan perbedaan cara. Dan meski terbuka dengan perubahan sekalipun, kasih sayang kakek nenek pada cucu konon (menurut pengakuan mamah saya) melebihi rasa sayang ke anak. Ah, pantesan ortu suka bikin aye iri ama anak-anak. Secara ya, hampir semua keinginan dipenuhi selama mereka bisa memenuhinya.

Mamah sebetulnya mendukung gaya didik saya. Keterbukaan mamah terhadap perbedaan pendapat dan perubahan gaya asuh baru seperti anugerah bagi saya karena anak-anak akan beberapa kali dititip ke mamah. Baru ngeh kenapa kok ngasih tahu mamah tentang rencana gaya didik kami mudah banget. Ternyata karena beliau ini berdasarkan tes STIFIn adalah orang Intuiting extrovert yang memang cenderung menyukai perubahan alias ga masalah kalaupun gaya didik anak-mantunya ga ngikuti gaya jaman dulu. Ya, setidaknya si sulung dulu sering dititip saat saya kuliah dan berasa banget senengnya. Hihi.

Alhamdulillah kami masih memiliki orang tua lengkap. Artinya, anak-anak kami punya 2 kakek dan 2 nenek. Yap, nikmat yang sudah sepatutnya disyukuri.

Ujian hadir ketika kakek-nenek berkunjung dan menginap di rumah atau saat kami berkunjung dan menginap di rumah kakek nenek. Yang paling kentara sebenarnya saat para orang tua berkunjung ke rumah kami sebab tentu anak-anak paham aturan rumah. Dan momen kakek nenek di rumah menjadi bagian dari momen yang bikin awkward.

Ya maklumlah para orang tua ini ingin mengekspresikan rasa kasih sayangnya pada cucu. Mumpung ada disini, katanya.

Awal-awal saya (dan suami) sering spaneng dengan perbedaan dan “kebandelan” para orang tua terkait sikap terhadap anak. Tapi kesini-sini, kami berpikir “kenapa sih kita harus sedemikian keras pada orang tua? Toh kan ‘pelanggaran’ mereka atas aturan rumah juga ga kemudian bikin kita masuk neraka” ekstrim ya? Biarin deh. Hehe.

Maksudnya gini lho.

Ada saat dimana kita perlu tegas pada anak-anak. Perbedaan antara kami dengan orang tua akan selalu dikomunikasikan pada anak-anak segera setelah kakek-nenek pulang, atau saat pillow talk.

Segala gaya didik selalu kami upayakan agar orang tua paham, apa, bagaimana dan juklaknya. Dalam pelaksanaan, terkadang rasa rikuh maupun sayang menjadi penyebab sikap mereka seolah bertentangan dengan keinginan kita.

Semula kami sering menegur anak-anak dengan keras di depan orang tua kami. Sesekali kami meminta orang tua untuk tahan berkomentar. Ah, bukankah itu akan menyakiti mereka?

Akhirnya kami sepakat, toh ini hanya sementara. Meski ada rasa kesal mah wajar ya, namanya juga manusia 😀

Perlu digarisbawahi untuk hal-hal yang memang sangat perlu kita jaga, diantaranya syariat. Misal aturan tentang shalat jamaah di awal waktu, di masjid. Tentu tidak ada toleransi untuk hal tersebut selama tidak ada udzur syar’i.

Dan untuk aturan-aturan yang sekiranya tidak terlalu saklek terkait syariat, adab, etika dsb, maka berilah kelonggaran. Biarkan para kakek nenek mengekspresikan kasih sayangnya dengan caranya.

Mengizinkan mereka mengekspresikan kasih sayang bukan berarti kita membiarkan begitu saja. Tetap perlu ada komunikasi terkait hal-hal yang sebaiknya disepakati di rumah.

Dan yang perlu kita terus ingat: bersyukurlah masih memiliki kakek nenek alias orang tua kita masih ada. Banyak di luar sana yang sudah tak memiliki orang tua sehingga justru rindu melanda. Semoga toleransi yang kita berikan, dicatat sebagai kebaikan dan pahala berbakti serta membahagiakan orang tua. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.