Paradoks Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pa.ra.doks: n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menjalankan peran sebagai orang tua merupakan sebuah perjalanan. Kenapa? Bagi saya secara pribadi, menjadi orang tua selalu merupakan proses. Perjalanan itu dimulai sejak seorang perempuan dinyatakan positif hamil. Bahkan segera sejak ijab kabul terucap dari seorang lelaki yang kini disebut suami.

Di tengah hujan sambil menikmati soto mie Bogor, saya merenung. Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjalanan yang panjang. Maka berbekal untuk melewati prosesnya adalah sebuah keharusan.

Bekal seperti apa sih yang perlu disiapkan? Selain keimanan dan ketakwaan, ilmu adalah bekal yang sangat diperlukan. Agar setiap episode yang harus dilewati sepanjang jalan itu dapat kita lewati dengan baik.

Meskipun ada masa dimana kita belajar dari perjalanan itu sendiri, akan tetapi terus memberdayakan diri untuk menjadi orang tua harus tetap dilaksanakan. Sebab tak akan merugi orang yang berilmu. Bukankah mereka akan Allah tinggikan derajatnya?

Dianugerahi 3 anak membuat saya belajar semakin banyak, meskipun masih tambal bolong disana-sini. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan banyak guru yang mengajarkan bagaimana menjalankan peran ini semakin baik setiap waktu.

Guru tak harus mereka yang lebih tinggi ilmunya, tak juga harus lebih tua usianya. Mereka bisa saja justru anak kita sendiri. Dan seringnya, justru anak-anak menjadi guru sekaligus pendamping kita dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Sepakat?

Paradoks Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Belajar tentang fitrah, belajar tentang bagaimana Islam mengajarkan cara mendidik anak, berdiskusi dengan teman-teman, membuat saya menemukan sebuah paradoks dalam pendidikan anak. Setidaknya itu yang saya alami. Dan saat memperhatikan sekitar, paradoks ini pun terjadi pada beberapa keluarga. Mungkin pada sebagian besar orang tua.

Terkadang saya menertawakan diri sendiri. Ah, rasanya geli ya kalau ingat berbagai paradoks yang saya jalankan. Seperti saat sedang sangat ingin menikmati soto mie Bogor tapi malah memesan soto Bandung.

Bayi terlahir dalam keadaan fitrah. Dan semua sepakat fitrah yang dimaksud adalah fitrah untuk menerima syariat sesuai perkembangan usia dan fitrah untuk lebih cenderung pada kebaikan.

Mari kita runut fitrah anak (yang saya ingat) dan betapa kita melakukan paradoks yang menggelikan selama mendidik mereka.

  1. 1. Anak terlahir sensitif terhadap najis.

Anak baru lahir biasanya kita pakaikan popok kain. Setiap kali pipis atau eek, anak akan memperlihatkan ekspresi maupun gerakan pertanda ia tidak nyaman. Lalu semakin beranjak besar, kita mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak) –popok yang memiliki daya tampung banyak untuk beberapa kali pipis, dan selalu dengan iming-iming: nyaman, permukaan kering, dan benefit lain yang menggiurkan.

Maka kemudian dengan alasan “takut tidurnya terganggu karena ga nyaman akibat pipis, makanya dipakaikan pospak saja lah. Biar nyenyak meski berapa kali pipis.

Lalu saat anak mulai besar, semakin lucu berlari kesana kemari, ternyata masih pipis di kasur malem-malem. Kemudian kita kesal kok anak masih saja pipis di kasur?

Padahal.. bukankah kita yang mengajarkan anak untuk “tetap nyenyak meskipun pipis banyak”?

Anda boleh tidak setuju dengan saya. Saya tidak melarang teman-teman mengenakan putra/i-nya pospak ya. Hasna juga masih pake kok. Yang menjadi poin penegasannya adalah: sebelum menghakimi anak ketika malam ia pipis di kasur tapi ga kerasa, susah diajarkan toilet training, atau semacamnya. Mungkin kita perlu evaluasi dulu. Bisa jadi sulitnya anak menjalankan toilet training karena doa kita yang tak sengaja melalui afirmasi/lintasan pikiran dan pembiasaan yang kita jalankan.

  1. 2. Anak terlahir untuk senantiasa bangun di sepertiga malam dan shubuh.

Setiap bayi akan menjadi alarm untuk orang tuanya karena ia terbangun di sepertiga terakhir. Seolah mengajak orang tuanya untuk “yuk ayah, ibu temani aku menghadap Rabb-ku di sepertiga terakhir malam”.

Ia juga mudah sekali bangun kembali saat menjelang shubuh. Maka setiap anak seharusnya mudah bangun pagi. Bukan hanya untuk sekolah, tapi untuk shalat shubuh.

Tapi dengan alasan “kasihan ngantuk. Ah, kan masih kecil biarin aja tidur lagi. Toh kan masih anak-anak, belum wajib shalat.”

Kalimat tersebut tidak salah. Hanya pada keadaan tertentu membuat anak kemudian kehilangan kebiasaannya, fitrahnya tertutupi secara perlahan hingga akhirnya mungkin saja fitrah itu rusak.

  1. 3. Anak senang dan semangat ke masjid.

Pengalaman pada 2 anak lelaki, umumnya di usia mereka sudah bisa berjalan dan bicara mereka semakin tertarik ikut ayah ke masjid. Lagi-lagi karena alasan “masih kecil”, “kasihan”, “repot” dsb, kita mulai menutupi fitrah anak untuk terbiasa berjamaah di masjid.

Tapi kan Teh, memang repot lho bawa anak balita ke masjid. Takut ganggu jamaah lain.

Memang betul. Makanya perlu diajarkan adab di masjid sejak dini. Saat mereka ingin ikut ke masjid, izinkan saja. Jika memungkinkan ibu ikut mendampingi sehingga saat anak ternyata tidak kondusif, ibu bisa turun tangan mengatasi anak sementara ayah tetap bisa berjamaah.

Bagaimana jika tidak bisa mendampingi karena punya bayi, misalnya? Maka diharapkan kesabaran ayah dalam menjaga fitrah itu. Jangan larang anak. Tegur ia baik-baik saat berulah, jangan ditegur di depan umum. Khawatirnya anak jadi takut dan benci masjid.

  1. 4. Anak senang meniru dan bersegera pada ibadah seperti shalat, sedekah, dsb.

Ingin anak shalih tapi kita enggan memperbaiki diri untuk menjadi role model terbaik bagi anak, bukankah itu sebuah paradoks? Padahal anak lebih pandai meniru dibanding mendengar perintah kita.

Saya ga bilang ayah-ibu harus shalih dulu baru punya anak ya. Semua bisa sambil berproses. Kuncinya adalah kesungguhan untuk menjadi lebih baik. Nanti Allah akan kirimkan bantuan yang sesuai.

Ingin anak rajin shalat berjamaah di masjid, tapi ayah shalatnya di rumah di akhir waktu pula. Ingin anak rajin sedekah dan berbagi, tapi ketika ada kesempatan sedekah ternyata ayah-ibu enggan mengeluarkan harta bahkan enggan sekadar berbagi soto mie Bogor yang kita peroleh banyak dari teman, hingga akhirnya malah basi tak termakan. Anak paham dan melihat.

Maka mulai sekarang, hentikan paradoks seperti ini.

  1. 5. Anak terlahir dengan segala sifat baik seperti pemaaf, tidak mudah menyerah dan berani.

Terkadang kita gemas dengan sikap anak yang aktif sekali, ingin mencoba ini-itu, dan mudah sekali main lagi dengan teman yang telah menyakitinya. Ternyata semua itu muncul dari hatinya yang masih jernih.

Tapi kita melarangnya mencoba sesuatu karena menurut kita itu hal berbahaya. Atau menganggap anak ga akan bisa melakukannya. Ah, kreatifitas pun akhirnya harus terkubur tak terasah.

Padahal tindakan kita menyemangati anak saat ia belajar berjalan adalah sikap yang luar biasa harus terus kita jalankan. Sebab seandai saat belajar berjalan lalu kita mengatakan pada sang anak “ah, kamu yang begitu aja ga bisa. Udah ga usah belajar jalan lagi.” Tentu anak-anak (atau bahkan kita sendiri) ga bisa jalan sampai saat ini.

Maka mulai saat ini, yuk ayah bunda sadari apakah dalam pengasuhan kita ada paradoksikal yang dilakukan atau sudah lebih baik? Jika masih ada, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

Mari kita terus belajar menjadi orang tua semangat!

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Kakek Nenek Berkunjung

Mendidik anak sesungguhnya adalah seni mendidik diri sendiri. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa jadi role model bagi anak. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga aliran cinta antara suami dan istri lancar, memancar indah dan dirasakan oleh anak-anak beserta mereka yang terlibat di keseluruhan cerita rumah tangga yang tengah dibangun. Agar tangga ini sampai ke surgaNya.

Nah, dalam proses perjalanan mendidik anak ini tentu ada banyak faktor sampingan sebagai pelengkap. Termasuk diantaranya kehadiran keluarga besar. Dan saat saya perhatikan, seringkali yang jadi sorotan adalah kehadiran kakek nenek yang biasanya disebut “penyelamat” (beberapa orang ngomong begitu sambil gemes. Heuheu)

Kehadiran pihak ketiga dalam proses Pendidikan anak memang menjadi ujian tersendiri terutama bagi para orang tua muda (Bahasa apa ini orang tua muda? Wkwkwk). Bagi pasangan yang memiliki impian ideal tentang bagaimana anak-anak mereka dididik, terkadang terbentur saat berhadapan dengan para orang tua.

Ketika Kita dan Orang Tua Berbeda Pendapat Tentang Anak

Tidak semua orang tua mau terbuka dengan perbedaan pendapat dan perbedaan cara. Dan meski terbuka dengan perubahan sekalipun, kasih sayang kakek nenek pada cucu konon (menurut pengakuan mamah saya) melebihi rasa sayang ke anak. Ah, pantesan ortu suka bikin aye iri ama anak-anak. Secara ya, hampir semua keinginan dipenuhi selama mereka bisa memenuhinya.

Mamah sebetulnya mendukung gaya didik saya. Keterbukaan mamah terhadap perbedaan pendapat dan perubahan gaya asuh baru seperti anugerah bagi saya karena anak-anak akan beberapa kali dititip ke mamah. Baru ngeh kenapa kok ngasih tahu mamah tentang rencana gaya didik kami mudah banget. Ternyata karena beliau ini berdasarkan tes STIFIn adalah orang Intuiting extrovert yang memang cenderung menyukai perubahan alias ga masalah kalaupun gaya didik anak-mantunya ga ngikuti gaya jaman dulu. Ya, setidaknya si sulung dulu sering dititip saat saya kuliah dan berasa banget senengnya. Hihi.

Alhamdulillah kami masih memiliki orang tua lengkap. Artinya, anak-anak kami punya 2 kakek dan 2 nenek. Yap, nikmat yang sudah sepatutnya disyukuri.

Ujian hadir ketika kakek-nenek berkunjung dan menginap di rumah atau saat kami berkunjung dan menginap di rumah kakek nenek. Yang paling kentara sebenarnya saat para orang tua berkunjung ke rumah kami sebab tentu anak-anak paham aturan rumah. Dan momen kakek nenek di rumah menjadi bagian dari momen yang bikin awkward.

Ya maklumlah para orang tua ini ingin mengekspresikan rasa kasih sayangnya pada cucu. Mumpung ada disini, katanya.

Awal-awal saya (dan suami) sering spaneng dengan perbedaan dan “kebandelan” para orang tua terkait sikap terhadap anak. Tapi kesini-sini, kami berpikir “kenapa sih kita harus sedemikian keras pada orang tua? Toh kan ‘pelanggaran’ mereka atas aturan rumah juga ga kemudian bikin kita masuk neraka” ekstrim ya? Biarin deh. Hehe.

Maksudnya gini lho.

Ada saat dimana kita perlu tegas pada anak-anak. Perbedaan antara kami dengan orang tua akan selalu dikomunikasikan pada anak-anak segera setelah kakek-nenek pulang, atau saat pillow talk.

Segala gaya didik selalu kami upayakan agar orang tua paham, apa, bagaimana dan juklaknya. Dalam pelaksanaan, terkadang rasa rikuh maupun sayang menjadi penyebab sikap mereka seolah bertentangan dengan keinginan kita.

Semula kami sering menegur anak-anak dengan keras di depan orang tua kami. Sesekali kami meminta orang tua untuk tahan berkomentar. Ah, bukankah itu akan menyakiti mereka?

Akhirnya kami sepakat, toh ini hanya sementara. Meski ada rasa kesal mah wajar ya, namanya juga manusia 😀

Perlu digarisbawahi untuk hal-hal yang memang sangat perlu kita jaga, diantaranya syariat. Misal aturan tentang shalat jamaah di awal waktu, di masjid. Tentu tidak ada toleransi untuk hal tersebut selama tidak ada udzur syar’i.

Dan untuk aturan-aturan yang sekiranya tidak terlalu saklek terkait syariat, adab, etika dsb, maka berilah kelonggaran. Biarkan para kakek nenek mengekspresikan kasih sayangnya dengan caranya.

Mengizinkan mereka mengekspresikan kasih sayang bukan berarti kita membiarkan begitu saja. Tetap perlu ada komunikasi terkait hal-hal yang sebaiknya disepakati di rumah.

Dan yang perlu kita terus ingat: bersyukurlah masih memiliki kakek nenek alias orang tua kita masih ada. Banyak di luar sana yang sudah tak memiliki orang tua sehingga justru rindu melanda. Semoga toleransi yang kita berikan, dicatat sebagai kebaikan dan pahala berbakti serta membahagiakan orang tua. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Gule atau Gulai, Seperti Apa Sih?

Tiba-tiba kepikiran pengen makan gule enak kali ya. Jam segini busui biasanya udah laper lagi. Eh, itu saya sih. Ga tau yang lain 😀

Berhubung ga masak, kalau pas lagi laper di jaman sekarang mah langsung cus ke Google. Googling tempat yang menyediakan gulai dan bisa dibeli secara online atau setidaknya nitip suami beliin pas pulang jemput bocah. Yang teringat ada gulai tikungan blok M, gulai di tukang nasi padang, tukang sate (yap, di hampir setiap tukang sate ada gulai dijual pula, apalagi sate kambing). Huwaa yummy kayaknya nih. Udah ngiler aja.

Pengertian Gulai

Gule sendiri secara Bahasa aslinya harusna ditulis gulai ya. Gule mah Bahasa sunda. Hihi.

Berdasarkan pengertian Wikipedia, gulai adalah masakan dengan baku daging ayam, berbagai jenis ikan, kambing, sapi, jeroan, ataupun sayuran seperti nangka muda (yang umum ada) dan daun singkong. Gulai diolah dalam kuah bumbu rempah dengan cita rasa gurih.

Ciri khas gulai ada pada bumbunya yang kental, kaya akan rempah. Rempah bumbu gulai terdiri dari kunyit, ketumbar, lada, lengkuas, jahe, cabe merah, bawang merah, bawang putih, adas, pala, serai, kayu manis dan jintan yang dihaluskan, dicampur, lalu dimasak dalam santan.

Gulai memiliki ciri khas berwarna kuning karena pengaruh kuat dari kunyit. Makanan ini dianggap sebagai bentuk lain dari kari, dan memang di dunia internasional disebut sebagai kari ala Indonesia. Ya meskipun dalam seni kuliner Indonesia juga ada ditemukan kari.

Variasi Gulai

Gulai merupakan satu dari sekian jenis hidangan yang tersebar luas di Nusantara terutama di wilayah Sumatera dan Jawa. Hidangan ini dikatakan berasal dari Sumatera yang merupakan hasil pengaruh dan penerapan seni memasak India yang kaya akan rempah dan bumbu seperti kari.

Gulai merupakan salah satu bumbu hidangan dasar yang paling dikenal dalam Masakan Minangkabau. Kuah gulai yang berwarna kuning menjadi bumbu dan memberikan cita rasa untuk berbagai macam hidangan yang disajikan di rumah makan Padang. Yaks, ngiler deh. Keinget lagi gulai tikungan blok M nih.

Kuah atau bumbu gulai biasanya kental jika tersaji sebagai hidangan Minangkabau, Melayu, dan Aceh. Nah, tapi di tatar Jawa mah kuah gulai lebih cair. Ya, saya merhatiin mamah sama mertua saat masak gule termasuk pas aqiqah Hasna beberapa bulan lalu. Jadi lebih mirip sup yang dihidangkan panas-panas. Biasanya sih isinya daging atau jeroan kambing.

Gulai biasanya disajikan bersama nasi panas. Enak banget itu. Tapi memang di beberapa resep seperti gulai kambing, bisa juga dihidangkan bersama roti canai.

Berikut ini adalah variasi gulai berdasarkan bahannya:

  • Gulai ayam
  • Gulai hati ampela
  • Gulai telur
  • Gulai kambing
  • Gulai sapi
  • Gulai hati
  • Gulai limpa
  • Gulai gajeboh (gajih)
  • Gulai iso (usus)
  • Gulai babat
  • Gulai tunjang (kikil)
  • Gulai otak
  • Gulai sumsum
  • Gulai ikan mas
  • Gulai kakap
  • Gulai kepala ikan kakap
  • Gulai telur ikan
  • Gulai cumi
  • Gulai cubadak (nangka muda)
  • Gulai kacang panjang
  • Gulai daun singkong
  • Gulai daun pakis
  • Gulai jariang atau gulai jengkol

Bulan depan ada agenda untuk ke Jakarta selama 3 hari. Rencananya sih mau ngajak suami wisata kuliner. Nah, direkomendasikan nih dalau di Jakarta ada yang terkenal karena selain murah juga enak. Namanya gulai tikungan blok M atau dikenal dengan rumah makan Gultik. Sayangnya pas main ke Jakarta tempo hari buat kopdar, ga sempat wisata kuliner. Nanti kudu nyempetin nik keknya.

Saya sendiri yang terbiasa dengan gulai masakan mamah memang cenderung ngerasa eneg saat makan gulai dari luar. Tapi untuk urusan ini serahkan sama akang suami. Beliau selalu tahu gule yang enak. Meskipun kentel, tapi pilihan beliau selalu enak. Ga terlalu eneg. Bisa aja nemu tempat jualan gule yang enak dan cocok di lidah istrinya. Biasanya sih didapatkan di tempat-tempat penjual sate kambing.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ada Kau dan Aku Menjadi Kita

Satu ketika sebuah status muncul di beranda. Kurang lebih isinya: “tak ada kau dan aku, yang ada adalah kita”.

Terbaca begitu indah ya? Namun bagi saya agak sedikit aneh. Ada yang berpikiran sama? 😀

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kita merupakan kata ganti pertama jamak (lebih dari 1). Itu berarti, dalam pembicaraan bersama kala itu tetap ada aku dan kamu.

Dalam sebuah hubungan, “kita” tidak lantas membuat aku dan kamu melebur. Aku dan kamu tetap ada, hanya disana terdapat tambahan “kita”. Aku dan kamu tetaplah satu sosok masing-masing. Kemudian kita bersama untuk sebuah tujuan. Bergandeng tangan dan berjuang bersama, dengan segala ke-aku-an dan ke-kamu-an masing-masing.

Menikah berarti bersama, menjadikan aku dan kamu sebagai kita

Berpasangan merupakan bagian dari naluriah dan kebutuhan manusia, dihalalkan melalui pernikahan. Meski yang diucapkan hanyalah sekalimat pendek serah terima antara lelaki -yang kelak disebut suami- dengan lelaki lainnya -yang biasa disebut “ayah”-. Berpindahlah segala tanggung jawab ayah kepada suami, begitupun bakti.

Meski demikian, tak lantas kita melupakan ayah dan hanya fokus pada suami bukan? Ada sikap tawazun, seimbang antara bakti kepada orang tua dan suami. Memang, bakti seorang perempuan yang telah menikah diutamakan kepada suami.

Adapun setelah menikah, kita tak lagi boleh egois memikirkan diri sendiri. Benar, tapi bukan lantas lupa pada kebutuhan diri. Perlu ada keseimbangan juga dalam penyikapannya. Sebab rumah tangga diharapkan menjadi sebuah bangunan rumah penuh cinta yang menjadi tangga menuju surga.

Kelak, hisab kita hadapi sendiri-sendiri dengan mempertanggungjawabkan peran di dunia. Dengan harapan semoga Allah berkenan memasukkan kita ke surga-Nya dengan menyatukan kembali diri dan keluarga di dalamnya. Begitu bukan?

Maka meski sudah ada “kita”, tetaplah berperan sesuai “aku” dan “kamu”, ditambah “kita”. Ada kala kita mencoba melayani pasangan sesuai dengan hal terbaik yang diinginkannya sebagai “kamu” dan tentu pasangan pun membahagiakan dengan sesuatu yang paling gue banget sebagai “aku”. Dan ada tahapan dimana kita berbicara dan bertindak untuk kepentingan bersama, kepentingan “kita”.

Oleh karena itu, ada baiknya sebelum menikah sudah tahu siapa sebetulnya diri kita ini. Setidaknya dengan mengetahui dan mengenali diri sendiri akan lebih mudah menjelaskan pada pasangan, seperti apa sih saya sebenarnya. Begitu pun kita akan lebih mudah mengenali pasangan kala ia sudah mengenali dirinya dan memberitahukan kita siapa dia. Dengan demikian, adaptasi dalam pernikahan menjadi kepingan puzzle yang sudah ditemukan, tinggal bersama mencari kepingan lainnya untuk gambaran yang lebih lengkap. Jadi tidak terlalu ngeblur bayangannya.

Pernikahan: Tumbuhlah sebagai “aku”, “kamu” dan bergandengan tangan sebagai “kita”

Seringkali setelah menikah, kita lupa menjadi diri sendiri. Sehingga hubungan suami istri menjadi hambar karena hati yang hampa, dan proses pendidikan anak menjadi tidak maksimal karena ruh di dalamnya tercabik.

Maka, tetaplah tumbuh sebagai “aku” dan “kamu” yang bergandengan tangan sebagai “kita”. Kenali bahasa cinta pasangan agar dapat saling memberikan hal yang paling diharapkan dan saling bersiap pada kekurangan. Lalu bergandengan tangan menuju tempat yang ditargetkan bersama.

Ibaratnya, pernikahan tidak meleburkan lelaki dan perempuan menjadi satu bukan? Melainkan, lelaki tetap dengan kelelakiannya dan perempuan dengan keperempuannya. Segala sifat masing-masing bukan harus melebur, tapi beradaptasi saling memahami. Oh, perempuan itu begini maka harus begitu. Oh, lelaki itu begitu maka harus begini. Begitu terus hingga suami-istri tetap tumbuh sebagai pasangan yang membersamai tanpa kehilangan jati dirinya.

Sebab keharmonisan rumah tangga justru karena suami istri berbeda. Biarkan ia menjadi khas dan saling melengkapi, saling mengisi serta saling menguatkan satu sama lain.

“Aku” dan “kamu” hanya perlu saling memahami, saling pengertian, saling berbagi dan tidak perlu saling bertukar karakter. Ada sisi perempuan yang mesti dijaga sebagai istri dan sisi lelaki yang harus dijaga sebagai suami dengan cara yang proporsional.

Peduli tentang “kita” dan tetap tampil maksimal sebagai “aku” dan “kamu”

Pasangan yang sudah mengenal dirinya sendiri, akan lebih nyaman berbicara “kita”. Sebab kebutuhan mengenali diri sudah terpenuhi sehingga mereka tahu bahwa “aku” dan “kamu” perlu tetap tumbuh agar “kita” bisa lebih baik lagi menjalankan perannya. Agar “kita” senantiasa mampu bergandengan tangan mencapai tujuan dengan selaras.

Aku tetaplah aku, namun terus belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.

Kamu tetaplah kamu, namun menjadi sosok yang terus belajar dan tumbuh semakin dewasa.

Sehingga kita dapat mewujudkan pernikahan yang harmonis. Bukan tanpa konflik, tapi mampu menangani setiap riak dan ombak dalam pernikahan dengan bijak.

Karena jika aku tampil maksimal sebagai aku dan kamu tampil maksimal sebagai kamu lalu menyepakati bersama tentang perjalanan kita, maka insyaallah rumah tangga yang dibangun akan menjadi keindahan luar biasa surga bernama keluarga.

Selamat mengenali diri, mengenal pasangan dan bersama mencapai tujuan yang sama.

Semoga pernikahan teman-teman diberkahi Allah swt. Bagi yang belum menikah, tetaplah jaga diri sesuai syariat.

note: salah satu tool yang kami gunakan untuk mengenal diri (dan alhamdulillah sudah banyak membantu pasangan yang konsul pada kami) adalah konsep STIFIn. Dengan tes sidik jari memudahkan pasangan dan anak-anak serta keluarga untuk mengenali sifat dasar dan bersama komitmen untuk “naik level” guna perbaikan hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Sudut Pandang

~ Sudut Pandang ~

Untuk menghasilkan foto yang bagus, salah satunya diperlukan keahlian menentukan sudut foto yang tepat. 

Dengan sudut yang pas, makanan yang biasa disantap pun nampak sedap dipandang dan rasa ingin menikmatinya. 
Begitu pula dalam kehidupan.

Untuk memperoleh kehidupan yang bagus, perlu keahlian menetapkan sudut pandang yang tepat. 

Sesuatu yang nampak biasa menjadi dapat dinikmati luar biasa karena sudut pandang kita terhadap hal tersebut. 
Janganlah bertanya tentang kebahagiaan karena pasti sudut pandang kita baik dengan sendirinya. 

Kemampuan mengolah pikiran dan rasa akan sangat berguna kala hal buruk dan mengecewakan hadir. 
Maka dengan sudut pandang yang tepat, masalah dan kesedihan dapat menjadi berkat. 

Kesulitan dan kekecewaan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. 
Di tengah rasa sedih dan pilu, masih terbentuk senyum bahagia. 
Sebab segala takdir Allah selalu baik. Sabar maupun syukur. 

Dan selalu ada kado indah di baliknya. Tanpa bisa kita tebak isinya 😇
Teruslah berlatih menemukan angle yang tepat untuk foto yang bagus. 

Dan berlatihlah menemukan sudut pandang yang cermat untuk kehidupan yang senantiasa baik 😍😘
Salam hangat, 

EsaPuspita.com
Change your perspective, change your life. Begitu kali ya slogannya 😎😁

#CatatanEsa #Perspektif #perspective #SudutPandang #LifeMap #lifequotes #ChangeYourPerspective #PerspectiveOfLife

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Laki-laki Pendiam dan Perempuan Cerewet?

Laki-laki mah gitu.. 😆

Konon, secerewet-cerewetnya laki-laki itu, total kata yang keluar ga akan melebihi sependiam-pendiamnya perempuan. 

Secara data dari hasil penelitian, laki-laki mengatakan 2.000-4.000 kata, 1.000-2.000 bunyi vokal dan hanya melakukan 2.000-3.000 gerakan bahasa tubuh. Sehingga total sekitar 7.000 “kata-kata” komunikasi. Jumlah yang hanya 1/3-nya perempuan.

Perempuan mengucapkan kata-kata komunikasi sebanyak 20.000 kata per hari dengan rincian: 6.000-8.000 kata, ditambah 2.000-3.000 suara lain untuk berkomunikasi, 8.000-10.000 bahasa tubuh berupa isyarat, perubahan mimik, gerakan kepala dan lainnya. Penelitian ini dilakukan pada perempuan Italia. Sedangkan pada perempuan barat, kata yang diucapkan hanya 80%nya. Ga tau nih kalo di Indo 😁

Meme yang rame kemudian adalah: saat perempuan berbicara, lelaki merasa diomeli. Yah, macam respons anak laki saat emaknya berbicara. Heuheu. 
Jadi, wajar kalo jawaban suami kita hanya beberapa kata dari kalimat yang kita ucapkan (ketikkan). Memang lokasi yang mengendalikan bicara di otak lelaki lebih sedikit. Hanya di otak kiri tanpa tempat yang pasti dengan tidak banyak pusat bicara. 

Pada perempuan, lokasi yang mengendalikan bicara terdapat di otak kiri depan plus area kecil di otak kanan. Dan pusatnya banyak 😅

Itu juga kali ya yang bikin para ayah disegani meski sedikit kata yang keluar untuk menegur sementara emak-emak, saking udah biasa ngomel, anak-anak jadi “kebal”? 😤😂
Jadi ingat pernyataan teman tentang akang @aim_chalim 

“teh Esa, mas Chalim kalo di rumah suka ngobrol ga sih?”

Ish jangan salah. Banyak ilmu tentang #STIFIn yang saya tau dari beliau. Emang melengkapi banget lah. Suami #Thinking kan kepo, sementara saya yang #Feeling cenderung senang mendengarkan. Klop kan? 

Beliau bisa ngobrol banyak kalo udah diskusi hal-hal yang menarik dari hasil analisanya, bahasan #STIFInPersonality salah satunya. 

Ga tau beliau ketularan saya yang sering ngomong? #ups 😴

Hayu pahami perbedaan diantara sesama kita. Supaya lebih mudah bertoleransi dan memperbaiki diri 😘

Salam hangat,

Esa Puspita 

#KenalDiri #GenderIntelligence #CerdasPahamiPerbedaan #toleransi #SalingMengenal #STIFInBandung #

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mendampingi Menemukan Solusi Dengan Belajar Hadir

Orang #FeelingExtrovert cenderung lebih suka menjadi seorang pendengar. Itu kenapa terkadang untuk berbicara, ia butuh “distimulus”. Berbeda dengan orang #FeelingIntrovert yang cenderung selalu punya sesuatu untuk dibicarakan.

.

Beberapa hari ini Allah menggiring saya pada pembahasan yang selaras di berbagai tempat belajar.

Pertama, tiba-tiba terpikir belajar tentang #coaching karena kejadian yang membuat saya teringat perkataaan seorang teman, “saat ada yang curhat, coba deh pake gaya coach. Tanya balik supaya dia berpikir dan akhirnya kita membersamai mereka menemukan mutiara dalam dirinya”

Dan alhamdulillah bermanfaat saat mendapat curhatan dari seorang ibu terkait putrinya. Alih-alih langsung memberikan saran (seperti yang biasa saya lakukan), bertanya balik justru membuat saya paham lebih paripurna.

Bertanya membantu menggali informasi dengan lebih lengkap sehingga kepingan yang tercerai dapat terkumpul.

Pun saat cek instagram, muncul postingan akun @psikologpeduli di timeline sehingga saya mampir ke akunnya dan melihat postingan tentang Listen dan Hope, rasanya kok klik ya dengan yang sedang saya alami. Salah satu pengelola Psikolog Peduli ini adalah teman SMA yang saat ini berprofesi psikolog. Eh iya, besok Psikolog Peduli ada di CFD Dago Bandung:

Lalu, pembahasan malam tadi di grup #Biblioterapi bertema #BiblioterapiKlasikal dan “secara tidak sengaja” mengarah pada hal yang sama. Juga dari cerita seorang teman saat membantu konseling santri di sebuah pesantren.

Ibarat teori attention creates intention ketika pikiran kita sedang akan fokus pada satu hal, Allah arahkan ke berbagai hal yang mendukung untuk kita belajar. Dan kadang Allah mempertemukan dengan kondisi yang memaksa kita belajar. Praktek langsung. Kalau kata teori umum mah, mestakung: semesta mendukung. 

Semua itu bertemu di beberapa titik. Salah satunya selaras di bagian yang sama. 

Apa itu teh Esa? Healing dapat memperlihatkan hasil baik dengan kehadiran keluarga atau orang yang mengharapkan kesembuhan. Salah satunya dengan cara mendengarkan. Apalagi pada kasus penyakit psikis seperti depresi.

Saat belajar tentang coaching, bahasan yang pertama kali ditekankan adalah MENDENGARKAN. Dan bukan sembarang mendengar tapi betul-betul hadir. Menangkap setiap detil penting yang diceritakan.

Mendengar apa adanya, bukan ada apanya. Mendengar karena peduli, bukan fokus pada harus mencari solusi. Kalau istilah PPA mah, meluruskan niat.

Menggali dari diri untuk bersama melihat solusi yang bisa saja sudah ada, hanya tak terlihat. Mirip teori tongkat nabi Musa (yang pernah ikut PPA ngerti nih sepertinya ya).

Belajar mendengar ga perlu jauh-jauh, lihat di sekeliling isi rumah. Ada manusia lain kah selain diri kita? Nah, praktekkan saja pada mereka. Atau ingat-ingat, saat kita berbicara, bisakah membedakan mana yang mendengarkan dengan saksama dan mana yang hanya sekilas.

Mana yang lebih enak, didengarkan dan disambi mengerjakan yang lain atau didengar dengan orangnya melakukan tatap muka, bertemu pandang dan berhadapan dengan kita? Mana yang terasa “lebih diperhatikan”?

Seperti itulah seharusnya kita mendengarkan seseorang. Termasuk sosok kecil yang ada di rumah: anak-anak. Mereka jauh lebih butuh didengarkan dengan baik. Untuk apa? Agar mereka merasa dihargai, dipedulikan dan tentu saja mereka akan belajar menirukan perlakuan yang sama. Anak akan belajar dari perilaku sekitarnya dibanding teori yang dijejalkan.

Saat kita mendengarkan curahan hati seseorang atau saat kita mencurahkan isi hati pada seseorang, sebenarnya itu bagian dari healing alias penyembuhan diri (entah fisik maupun psikis). Sebab didengarkan adalah salah satu bagian sederhana dari “merasa diperhatikan” (meski kadang sulit terlaksana).

Pun ketika anak melakukan kesalahan, maka yang perlu dilakukan pertama kali: dengarkan penjelasannya. Kemampuan orang tua bertanya, membantu anak bercerita isi hati dan pikirannya. Dari sana didapat kisah lengkap sehingga keputusan akan lebih bijak.

 Kunci Mendengarkan:

  • Hadir seutuhnya hati dan pikiran 
  • Fokus pada mendengar cerita ybs, bukan bercerita sendiri di dalam kepala (sehingga tidak fokus) dan langsung mencari kesimpulan padahal ceritanya belum lengkap.
  • Tangkap detil penting 
  • Sabar mendengar hingga akhir 
  • Tanyakan kembali pada ybs kesimpulan dan hal-hal yang kita tangkap. Konfirmasikan “apakah benar begini dan begitu? Seperti ini dan seperti itu?”
  • Tidak judging karena kita bukan hakim
  • Tidak menebak karena bukan paranormal 😁

Dan seperti teori Aa Gym, mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini. Jangan menuntut orang lain melakukan hal tersebut untuk kita, jangan menunggu orang lain mendengarkan cerita kita dan hadir sepenuhnya, tapi jadilah pelaku. Mulai dari diri untuk mengubah kebiasaan mendengar seadanya menjadi “mendengarkan dan hadir seutuhnya” guna menghargai orang lain. 

Mulai dari kejadian-kejadian kecil sekitar kita. Dan mulailah menjadi pendengar utuh saat ini juga.

Hayu kita belajar bareng. Dan bagaimana perubahan hidup kita bergulir dengan insyaallah lebih baik 😘

Salam hangat dari Cimahi. Di weekend pagi 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.