Perkembangan Manusia, Siklus Kedua Dan Seterusnya

Selama ini, seringkali kita fokus pada milestone perkembangan anak terutama bayi hingga balita. Jarang yang membahas versi pemuda apalagi milestone untuk orang dewasa. Dan ternyata ada lho tahapan pertumbuhan seseorang lengkap hingga usia senja. Dan ini cukup membantu (bagi saya secara pribadi) dalam mempersiapkan dan memahami “tumbuh kembang” orang-orang sekitar baik itu suami, orang tua maupun adik-adik.

Jika di postingan sebelumnya kita hanya berbicara mengenai siklus 9 tahunan periode awal anak-anak, maka di postingan ini kita akan berbicara tentang siklus kedua dan seterusnya (hingga siklus 9 tahunan periode keenam). Intisari dari perkembangan siklus kedua dan seterusnya ini disajikan dalam bentuk tabel di buku STIFIn Personality dan saya tuliskan ulang dalam bagan berupa tabel gambar dengan sedikit penjelasan. Meski demikian, inti dari fase tersebut insyaallah dapat dipahami dengan mudah.

Perkembangan yang terjadi pada siklus kedua dan seterusnya merupakan “pengulangan” sistematis dari siklus pertama. Perkembangan berikutnya ini diintisarikan berbentuk milestone yang membentuk sejarah hidup seseorang.

Tonggak ini berlaku secara umum untuk semua mesin kecerdasan karena dikaitkan pada proses pertumbuhan, regenerasi, dan penuaan sel otak. Setiap tahun aktivitasnya berpindah dengan siklus yang sama setiap sembilan tahun.

Dalam proses perkembangan personalnya, strata genetik terutama jenis kelamin, mesin kecerdasan dan drive tetap mengambil alih tindakan utama seseorang. Dan akan maksimal jika mendidik diri berdasarkan personaliti genetik. Adapun milestone yang disebutkan dalam bagan merupakan fase kecenderungan tindakan terbaik seseorang setiap tahunnya yang berpadu dengan kenaikan tingkat level personaliti seseorang dalam perjalanan memperoleh kemistrinya.

Siklus kedua perkembangan manusia: periode Remaja

Siklus kedua tumbuh kembang anak di usia 10 tahun mulai terbentuk mindset tentang tanggung jawab yang lebih matang dibanding usia sebelumnya. Berlanjut mulai mengenal dan tertarik dengan lawan jenis di usia 11 yang merupakan tanda munculnya libido awal pada anak.

Dengan berbagai pengalaman yang ia alami di fase sebelumnya, usia 12 tahun membuat anak memiliki pengetahuan dan sekaligus pengalaman sehingga ia tumbuh menjadi sosok yang ensiklopedik. Di usia 13 tahun ia mulai masuk fase peniruan maka lingkungannya harus tetap terjaga.

 

Usia 14 mulai mengenal percintaan. Berikan pondasi tentang bagaimana menghadapi lawan jenis dan rasa suka terhadap lawan jenis. Jangan sampai salah tindakan agar tidak berontak atau salah paham.

Usia 15 anak memasuki fase eksplorasi jati diri dan fase baligh yang kemudian dikokohkan dengan penemuan jati diri sesungguhnya di usia 16. Pastikan pondasinya sudah sangat kokoh di usia ini.

Usia 17 mulai memasuki persiapan menjadi dewasa, menjadi seorang pemuda yang lebih baik, bertanggung jawab dan tangguh. Kesempurnaan jati dirinya terbentuk saat menginjak usia 18 tahun.

Siklus Ketiga Perkembangan Manusia: Periode Pemuda

Di periode pemuda, seseorang mulai menginjakkan kaki di dunia kemandirian dengan kedewasaan yang matang sehingga saat usia 20 memasuki fase pernikahan mereka sudah ba-ah (mampu memberi nafkah lahir batin). Kemudian fase bersaing baik dengan teman sebaya atau semacamnya saat menginjak usia 21 membuat ia semakin belajar dewasa.

Maka di usia 22 umumnya seseorang sudah mulai memiliki kemahiran tertentu. Dan bila disejajarkan dengan proses lamanya pendidikan di Indonesia, usia ini merupakan tahun dimana seseorang sudah lulus sarjana atau minimal D3. Dilanjutkan dengan fase perjuangan untuk kemudian di usia 26 nanti dia menunjukkan eksistensi dirinya secara utuh.

Usia 24 tahun seseorang cenderung sudah berani melakukan tindakan pengambilan resiko sehingga dianggap nekad oleh beberapa pihak. Namun hal ini justru menjadi pijakan untuk langkah terobosan di tahun berikutnya hingga ketika menginjak usia 27 tahun, pemaknaan hidup yang ia pelajari sudah jauh lebih matang dan siap menuju periode berikutnya: menjadi dewasa.

Siklus Keempat Perkembangan Manusia: Periode Dewasa Awal

Memasuki periode dewasa awal, setiap orang mulai menginjakkan kaki dalam pertumbuhan diri yang lebih luas lagi. Idealnya, ketika memasuki fase baligh (sekitar 15 tahun) seseorang sudah memiliki pondasi yang mantap sebagaimana ditargetkan di 9 tahun awal pertumbuhan, pondasi itu sebaiknya sudah kokoh dan dikokohkan lagi di fase berikutnya sebelum akhirnya menginjak fase dewasa awal ini.

Usia-usia di siklus keempat bisa dikatakan sebagai usia produktif maksimal dari seseorang. Hal ini dapat dipahami karena ia sudah memiliki pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan sehingga produktifitasnya sudah tidak lagi sekadar bekerja melainkan untuk kepentingan yang lebih menyebar.

Siklus Kelima Perkembangan Manusia: Periode Dewasa

Kemapanan pekerjaan, tingginya ilmu dan pemahaman, pengalaman yang semakin terasah membuat seseorang di fase periode dewasa sudah mulai memasuki tahapan cemerlang. Jika sebelumnya masih seputar diri dan sekitar, di periode ini kecenderungannya pada masyarakat yang lebih luas dan kepentingan yang lebih banyak dengan target akhir: kontribusi tiada batas.

Umumnya di usia 45 tahun, seseorang sedang sangat senang memberikan kontribusi besar. Hal ini kemudian akan lebih mudah dilaksanakan kala semua fase di usia sebelumnya sudah terpenuhi dengan baik.

Saat berkontribusi, ia sudah tak lagi khawatir dengan kekayaannya, keturunannya, hubungan sosial masyarakatnya karena sudah terbentuk sebelum fase ini aktif. Mungkin itu pula yang menjadi penyebab bahwa katanya “life begin at 40” 😀

Siklus Keenam Perkembangan Manusia: Periode Dewasa Akhir

Siklus Ketujuh Perkembangan Manusia: Periode Keemasan

Dengan mengetahui setiap tahapan milestone sejak lahir hingga usia senjanya, maka pemaksimalan peran dan penggemblengan potensi menjadi lebih terarah. Kita menjadi semakin paham cara menyikapi diri dan orang lain di setiap fasenya. Tahapan naik level personaliti genetiknya pun menjadi semakin matang dari tahun ke tahun. Hingga setiap langkah tindakan dan perannya di dunia ini dapat menjadi bekal untuk kelak di akhirat, insyaallah.

Wallahu a’lam..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Cetak Biru Perkembangan Manusia – Periode Awal, Anak-anak

Mempelajari tumbuh kembang anak rasanya ga ada habisnya ya. Ada banyak teori bertebaran di luar sana. Belum lagi teori-teori parenting yang terus update.

Saat mempelajari konsep STIFIn, saya  menemukan sebuah teori cetak biru perkembangan manusia berdasarkan kronologis perkembangan kecerdasan anak (dan manusia pada umumnya) yang kemudian kala diperhatikan dengan seksama, benar terjadi setidaknya pada diri kami.

Aliran konsep perkembangan yang dianut oleh penemu STIFIn, Pak Farid Poniman ini adalah siklus sembilan tahunan dimana siklus ini akan senantiasa berulang setiap 9 tahun sekali dengan periode yang berbeda.

  1. Periode sembilan tahun pertama adalah periode anak-anak.
  2. Periode sembilan tahun kedua adalah periode remaja (meskipun dalam Islam, periode ini sebenarnya tidak ada melainkan periode ghulam dan fata)
  3. Periode sembilan tahun ketiga adalah periode pemuda.
  4. Periode sembilan tahun keempat adalah periode dewasa awal.
  5. Periode sembilan tahun kelima adalah periode dewasa.
  6. Periode sembilan tahun keenam adalah periode dewasa akhir.
  7. Periode sembilan tahun ketujuh adalah periode keemasan. Adapun di atas periode ini jika ada adalah periode usia lanjut.

Perkembangan Tahun Demi Tahun Tahapan Awal: Anak-anak

Adapun yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah 9 fase awal di periode pertama: fase anak-anak. 9 tahun pertama berharga anak insyaallah akan menjadi pondasi yang cukup baik bagi tumbuh kembangnya di masa mendatang. Termasuk memberikan bayangan tahapan tindakan dan pendidikan yang perlu orang tua perhatikan selama 9 tahun pondasi dasar tersebut.

Perkembangan Anak Tahun Pertama

Pada tahun pertama ini bagian otak yang tengah berkembang pesat di bagian otak kiri bagian dalam (neokorteks kiri dalam). Di fase ini, penting untuk memberikan pengetahuan tentang nama-nama. Perbanyak mengajaknya mengobrol dan berbicara karena otaknya sedang haus akan vocabulary baru.

Ketika anak di tahun pertama jarang diajak bicara, maka hal ini dapat memperlambat pertumbuhan otak kirinya dalamnya.

Perkembangan Anak Tahun Kedua

Pada tahun kedua pertumbuhan bayi, anak mulai belajar tentang perasaan dan kasih sayang. Di usia ini berikanlah limpahan kasih sayang yang cukup sebab bagian limbik kiri luarnya sedang tumbuh. Bentakan dan kekasaran pada usia 2 tahun akan membekas dan melukai hatinya.

Ajak atau biarkan anak lebih banyak berinteraksi dengan orang lain terutama yang sebaya. Kemampuan komunikasi non-verbal pada fase usia ini penting untuk pembesaran/perkembangan otaknya.

Perkembangan Anak Tahun Ketiga

Di tahun ketiga kehidupannya, anak sudah mulai lincah bergerak kesana kemari. Kecerdasan motorik kasarnya sedang meningkat. Perkembangan otak di usia ini ditekankan pada limbik kiri bagian dalam.

Dalam pergaulan sosialnya, ia seperti ingin memiliki segalanya sehingga oleh sebagian ahli disebut fase egosentris dimana tingkat keakuannya begitu tinggi dan rasa kepemilikannya tidak boleh diganggu gugat. Bahkan milik orang lain pun jika perlu, akan direbutnya atau merengek ingin dibelikan yang serupa.

Makannya mulai lahap karena memang pertumbuhan fisiknya terjadi paling drastis di umur tiga tahun ini. Di usia ini tepat untuk mulai memisahkan kamar dari orang tua sebab kemandirian mulai tumbuh di usia ini. Agar saat usia 7 atau 10 tahun sudah bisa betul-betul tidur di kamar terpisah. Jangan takuti dengan hal yang membuat anak takut untuk berpisah dari kamar orang tua.

Ajak anak bermain gerakan yang melatih motorik kasarnya seperti memanjat, ayunan (keseimbangan), mengayuh sepeda roda empat. Hal ini sangat diperlukan untuk anak tiga tahun.

Perkembangan Anak Tahun Keempat

Pada tahun keempat ini perkembangan otak anak masih berada di limbik kiri namun bagian luar. Kecerdasan motorik halusnya yang sedang berkembang pesat. Daya ingat anak di usia ini semakin lengkap. Berikan rangsangan berupa cerita pengantar tidur, mendengarkan lagu anak ataupun murattal, pengenalan huruf dan angka, keterampilan menjahit (di online shop banyak “puzzle” menjahit jika ingin yang simpel), bermain puzzle, keterampilan melipat (kertas misalnya), dan belajar mewarnai.

Anak usia 4 tahun sangat suka dibawa ke lapangan bermain apalagi jika arealnya luas dan lapang. Izinkan mereka bergerak dan eksplorasi “tanpa batas”. Lakukan gerakan yang lebih maju dibanding tahapan sebelumnya seperti belajar mengendarai sepeda roda dua, senam berirama, berlatih bela diri, bermain sepak bola, dan berenang.

Di usia empat tahun ini anak mulai mengerti kesenangan, mengenal selera masakan, dan memiliki kesadaran untuk bermanja-manjaan serta memerlukan perlindungan. Sifat dermawan juga mulai muncul sehingga dapat makin diperkenalkan dengan konsep sedekah dkk.

Perkembangan Anak Tahun Kelima

Tahun kelima perkembangan anak bertumpu pada perasaan dalamnya. Perkembangan isi kepala terjadi pada limbik kanan dalam.

Anak mulai memiliki rasa tanggung jawab, belajar lebih dewasa, meningkatkan kepahaman dalam komunikasi dan pandai merangkai kata dalam saat berkomunikasi. Mereka juga sudah lebih berani mengungkapkan isi hatinya dan memiliki kepekaan perasaan yang lebih tinggi.

Usia 5 tahun anak sudah mulai memiliki keperluan utama sehari-hari berupa belaian dan perhatian. Mereka sangat mengharapkan hal tersebut dari orang tua dan keluarga terdekatnya. Ia ingin disanjung, dipuji dan dilibatkan.

Saat bergaul dengan teman sebayanya, muncul rasa ingin memimpin. Intensitas pergaulannya pun semakin sering. Mereka mulai mengerti arti kehilangan, ditinggalkan dan dikucilkan. Sudah paham rasanya sakit hati, pandai berbicara suka dan tidak suka pada teman sebayanya. Bahkan sifat bossy mulai muncul juga karena ingin diakui sebagai orang baik dan layak dipuji.

Perkembangan Anak Tahun Keenam

Kreativitas mulai bertumbuh di usia keenam kehidupan anak. Mereka sudah mampu menjadi detektif cilik guna menyambungkan informasi yang terputus. Sudah mampu mencari siapa “dalang” dari keusilan teman sebayanya.

Umumnya di usia 6 tahun anak sudah mulai mengungkapkan khayalan dan cita-citanya, pikirannya mulai bisa meneropong ke masa depan. Otak kanan bagian luarnya sedang berkembang cepat di usia ini.

Cara berkomunikasi anak sudah mulai nampak gaya atraktifnya seperti memainkan bahasa tubuh. Meskipun masih terkesan seperti anak mami tapi kepercayaan tingginya sudah mulai tumbuh dan perasaan minder berkurang terutama jika kreativitasnya berkembang.

Cara anak melukis di usia ini sudah mulai muncul unsur seni, tak lagi sekadar mewarnai dan membentuk. Sudah ada improvisasi disana.

Anak mulai berani dan yakin dalam mengemukakan pendapat, perasaan ingin bebas dan memiliki privasi sudah tampak di umur ini.

Perkembangan Anak Tahun Ketujuh

Usia 7 merupakan tahun mencari identitas awal. Anak sudah mulai bangga dengan namanya, kesehariannya seperti mencoba mencari kesempurnaan. Sudah mulai mahir memasarkan idenya dan memiliki kemauan pantang mundur.

Keinginan untuk mendominasi teman-temannya muncul bersamaan dengan perannya yang ingin seperti pahlawan. Meski demikian, mereka sudah mulai bisa menerima alternatif yang lain. Keyakinan tinggi membuat mereka berani menerima tantangan dan persaingan. Tantangan inilah yang menjadi “makanan” untuk membesarkan otak kanan bagian dalamnya.

Interaksi dengan teman sebayanya ditandai dengan ikatan kemitraan dimana solidaritas kelompok mulai muncul. Ia bahkan sudah berani menetapkan misi tertentu bersama teman-temannya.

Tingkat keusilannya mulai tinggi karena dianggap sebagai penyaluran kreativitasnya. Ia mengharapkan keleluasaan dan kebebasan dari lingkungannya untuk mulai menyalurkan ekspresi dirinya.

Perkembangan Anak Tahun Kedelapan

Otak kiri bagian luar berkembang dengan pesat di usia 8 tahun. Pelajaran matematika sudah dapat dijejali pada mereka. Perhatiannya terhadap sekitar mulai meluas. Mereka mulai menunjukkan keinginan berkuasa dan mengendalikan keadaan, mulai pandai menetapkan prioritas, sudah mahir membuat langkah-langkah sistematis dan muncul keterampilan mengorganisasikan diri dan teman-temannya.

Jika mereka bermain sepakbola, sudah mulai pandat mengatur strategi bahkan saat menonton bola pun sudah bisa menganalisa permainan dalam skala sederhana. Pelajaran komputer di usia ini sudah sangat berguna.

Pertanyaan yang diajukan baik pada orang tua maupun guru sudah sangat kritis. Mereka juga memiliki kemandirian untuk mengelola segala sesuatu yang berkaitan dengan keperluan dirinya.

Perkembangan Anak Tahun Kesembilan

Fase terakhir dari siklus pertama perkembangan anak di tahun kesembilan. Perkembangan kecerdasan anak berada di otak tengah dan bawah yang ditandai dengan kepahaman tentang ketuhanan, ibadah, dan pengorbanan. Mereka seolah melengkapi apa yang belum cukup pada 8 tahun sebelumnya.

Kejujuran menjadi tuntutan dirinya untuk membuatnya menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab. Kepekaan untuk menolong orang susah makin terasah. Ia semakin senang membantu ibu, ayah dan melaksanakan tugas-tugas sederhana.

Di usia ini mereka sudah mulai mulai berani mengekspresikan reaksi marah secara terang-terangan (sehingga beberapa pihak mungkin menganggap anak mulai “nakal”). Sebetulnya karena mereka seolah ingin mengatakan bahwa dirinya anak kecil yang sudah sempurna, segala sesuatunya sudah lengkap dan siap melakukan keterampilan jenis apapun.

Kenali Fase Tumbuh Kembangnya, Aksi Sesuai Usia

Demikian siklus perkembangan 9 tahun pertama anak berdasarkan bagian otak mana yang aktif. Fase 9 tahunan ini berulang di 9 tahun berikutnya dengan periode yang berbeda. Ketika ada kebutuhan anak tak terpenuhi di periode tersebut, terkadang akan ada masa dimana anak “nagih” pemenuhannya di usia-usia berikutnya tanpa bisa ditebak. Jadi, ketika melirik daftar di atas kemudian sadar ada bagian yang terlewat (tidak terpenuhi) maka persiapkan diri saat “tagihannya” muncul. Perkuat kesabaran, mohonlah bantuan Allah untuk menghadapinya.

Barakallahu li wa lakum. wallahu a’lam.

 

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tes STIFIn Untuk Apa?

​Tes STIFIn untuk apa sih teh Esa? 

Pertanyaan seperti itu seringkali masuk ke daftar FAQ saat saya nyentil istilah STIFIn. Nah, untuk menjawabnya agar nanti lebih mudah diakses ulang, saya coba tuliskan disini berdasarkan berbagai sumber dan pengalaman.

STIFIn sebagaimana dijelaskan pada postingan sebelumnya [klik] sebetulnya merupakan konsep pengembangan diri yang sejauh ini bagi saya dan klien-klien yang saya tes memang efektif.

STIFIn membuat kita tahu sifat genetik seseorang yang dibawa sejak lahir, bakat utama bawaan kita seperti apa dan mengetahui siapa diri yang sesungguhnya lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Tes STIFIn sendiri berbeda dengan paper test assesment. Cara pengambilan sampel dengan cukup men-scan kesepuluh jari kita. Tunggu 10-15 menit, hasilnya insyaallah sudah bisa dilihat. Makanya efektif juga untuk mengenali anak-anak sejak dini (untuk anak, idealnya tes dapat dilakukan mulai usia 2-3 tahun).

Kenali Diri Lebih Dalam

Banyak orang ternyata belum tahu pasti siapa dirinya, bakatnya apa, kelebihannya apa, kelemahannya apa. Kalaupun ada yang sudah menemukan dirinya, biasanya telah melewati berbagai hal guna mengenali jati dirinya.

Nah, tes STIFIn ini bisa jadi jalan pintas efektif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketika kita tahu siapa diri ini, maka langkah yang dijalankan berikutnya menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Insyaallah.

Kita bisa mengoptimalkan kelebihan kita menjadi kekuatan yang luar biasa. Dan ketika tahu kelemahan kita, jadi bisa tahu bagaimana cara mengatasinya.

Tes ini penting bagi seluruh kalangan.

Bagi orang dewasa, pasangan suami istri misalnya, ternyata banyak suami istri yang belum paham betul sifat pasangannya. Apalagi untuk pasangan muda. Belum tahu persis siapa dan seperti apa sih pasangannya.

Jika sudah tahu seperti apa genetika pasangan kita, maka komunikasi insyaallah menjadi lebih mudah diperbaiki. Sehingga lebih mudah pula untuk saling mengerti. Karena yang diukur bagian genetiknya, bagian terdalam nam terpendam.

STIFIn memudahkan untuk mengetahui sifat dasar yang diberikan Allah sejak lahir. Dan tidak berubah.

Tes ini dapat pula diterapkan untuk tim kerja, sekolah, dan berbagai bidang karena sifatnya yang multi-angle field.

Sedangkan pentingnya tes ini untuk anak-anak, tentu agar kita tahu bakat anak sehingga dapat mengarahkannya ke bidang yang lebih sesuai. Tidak ada lagi anak dan ortu yang galau soal perbedaan pilihan jurusan misalnya, tidak bahagia karena dipaksa menjalankan hal yang tak disukai, dan orangtua tidak memaksa dia menyukai apa yang memang tidak disukainya. 

Ketahui bakat utama sang anak. Dan jadikan itu bekal menuju masa depannya. Insyaallah.

Tes STIFIn sekeluarga membantu pihak anggota keluarga untuk memahami karakter masing-masing, mengetahui pola komunikasi yang tepat dan bahkan pola parenting yang efektif diterapkan bagi setiap anak dimana orang tua tetap optimal menjadi dirinya sendiri. Nyaman di semua pihak.

Ada 3 Golden Rules STIFIn yang perlu diketahui agar teman-teman tidak salah kaprah menyikapi.

  1. Kelemahan yang dimiliki setiap MK tidak boleh jadi pembenaran.
  2. Tujuan memahami konsep STIFIn adalah untuk memudahkan hidup.
  3. Beri label positif pada diri sendiri dan orang lain

    So, sudah lebih terbayang ya manfaatnya? 

    Untuk melakukan tes STIFIn daerah Bandung Cimahi, bisa langsung kontak saya di 0878-2192-4595. Alhamdulillah saya dan suami sudah resmi menjadi Licensed Promotor STIFIn.

    Luar kota, silakan japri juga untuk dicarikan info promotor terdekat.

    Pastikan perkenalan dulu ya saat chat. Biar akrab gitu 😁

    Salam hangat, Esa Puspita
    Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

    Apa Sih STIFIn Itu?

    Belakangan di beberapa postingan teh Esa suka ada nyelip kata STIFIn atau konsep (dan teori) STIFIn. Sebetulnya, apa sih yang dimaksud STIFIn itu?

    Mungkin itu pertanyaan yang muncul di antara teman-teman saat membaca tulisan maupun status akun facebook saya. Yap, saya memang sedang memperdalam sebuah konsep pengembangan diri yang berbasis genetik dan dikenal dengan nama STIFIn.

    Dalam konsep STIFIn, setiap orang akan dikelompokkan ke dalam 5 jenis Mesin Kecerdasan (atau sering disingkat MK). MK sendiri diukur dari belahan otak yang dominan pada diri seseorang.

    Kita semua tentu sepakat bahwa Allah menciptakan manusia itu sempurna. Pun dengan otaknya, lengkap utuh. 

    Nah, dari otak yang utuh tersebut ada bagian yang mendominasi yang kemudian berimbas pada bagaimana seseorang bertindak (terutama di saat urgen atau keputusan strategis, dan reflek), menjadi dasar sifat seseorang, memengaruhi kesukaan dan kecenderungan minat bakatnya kemana, bagaimana ia belajar, membangun hubungan, berkomunikasi, dst. Dari sinilah bisa dibedah banyak hal dan bidang mengenai seseorang. Sehingga tentu berguna baik untuk pengembangan diri maupun keluarga dan tim.

    ​STIFIn mengukur bagian otak mana yang dominan dan pada bagian otak dominan tersebut, lapisan yang dominannya ada di bagian luar (lapisan abu) ataukah bagian dalam (lapisan putih). Lapisan inilah yang kemudian dikenal dengan drive Mesin Kecerdasan. MK disandingkan dengan drive, maka muncullah istilah Personality Genetic(atau disingkat PG). Jika MK satuannya adalah kecerdasan (Intelligence), maka PG satuannya adalah personaliti (Quotient).

    MK+Drive = PG

    MK = mesin kecerdasan 

    PG = personality genetic

    Jika MK ada 5: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting, maka drive hanya 2: extrovert dan introvert.

    Menilik pada gambar pembagian otak di atas, penjelasannya adalah sebagai berikut:

    • Sensing = dominan otak kiri bawah (limbik kiri) 
    • Thinking = dominan otak kiri atas 
    • Intuiting = dominan otak kanan atas 
    • Feeling = dominan otak kanan bawah 
    • Insting = dominan otak tengah 

    Daftar MK inilah yang kemudian disingkat menjadi STIFIn.

    Drive mesin kecerdasan extrovert jika seseorang dominan lapisan otak luar (abu), sementara drive introvert jika seseorang dominan lapisan dalam (putih). Introvert ekstrovert dalam konsep STIFIn bukanlah sebuah sifat yang berdiri sendiri melainkan netral dan berfungsi sebagai kemudi dari mesin kecerdasan.

    Kembali pada rumus PG = MK+drive, maka setelah MK disandingkan dengan drive extrovert ataupun introvert, muncullah total 9 Personality Genetic. Eh, lho kok 9? Bukannya harusnya 5*2=10?

    Yep. Karena pada otak tengah cenderung homogen, tidak ada perbedaan antara lapisan luar dan dalam sehingga Insting menjadi mesin kecerdasan sekaligus personality genetic tanpa drive. Total (4*2)+1 = 9. Betul? 😁

    1. Sensing introvert 
    2. Sensing extrovert 
    3. Thinking introvert 
    4. Thinking extrovert 
    5. Intuiting introvert
    6. Intuiting extrovert 
    7. Feeling introvert 
    8. Feeling extrovert 
    9. Insting

    Sampai disini, apakah sudah mulai terbayang mengenai konsep kece ini? 😍

    Insyaallah postingan berikutnya kita bahas tentang “tes STIFIn untuk apa sih” 😉

    Catatan: Untuk melakukan tes STIFIn daerah Bandung Cimahi, bisa langsung kontak saya di 0878-2192-4595. Alhamdulillah saya dan suami sudah resmi menjadi Licensed Promotor STIFIn.

    Luar kota, silakan japri juga untuk dicarikan info promotor terdekat.

    Pastikan perkenalan dulu ya saat chat. Biar akrab gitu 😁

    Salam hangat, Esa Puspita
    Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

    Manusia Ibarat Tambang Emas dan Perak

    Manusia adalah tambang emas dan perak. Yang terpilih (terbaik) saat jahiliah akan menjadi terpilih (terbaik) saat Islam asalkan faqih (memiliki pemahaman yang mendalam tentang ilmu).

    Ruh-ruh adalah junud mujannadah, yang saling mengenal akan akrab bersatu dan yang saling bertolak belakang akan berbeda (berpisah).

    HR. Muslim

    Hadits ini saya dapatkan dalam sebuah buku yang membahas mengenai pendidikan. Disana dikatakan bahwa ini pertanda generasi yang diciptakan Allah memang berbeda-beda sehingga mesti dipahami baik oleh para orang tua maupun pendidik bahwa perbedaan itu pasti ada.

    Lalu kenapa memangnya kalo berbeda? Sederhana. Agar kita sadar bahwa cara memperlakukan diri, anak dan orang lain sudah seyogyanya setara tapi tidak sama. Letakkan mereka sesuai tempatnya dengan penyikapan sesuai karakternya tanpa menghilangkan karakter kita sendiri.

    Ada emas dan perak disebutkan di awal hadits ini. Keduanya jelas berbeda secara tampilan maupun strukturnya. Jika teman-teman ditanya mana yang lebih baik, emas atau perak? Mungkin sebagian besar akan menjawab “emas”. Ya, saya pun begitu. Maklum, memang saya tinggal di lingkungan yang menghargai emas lebih tinggi. Perak biasanya “hanya” sebagai alternatif pengganti emas meskipun termasuk logam mulia juga sebetulnya.

    Jarang yang tahu bahwa perak yang memiliki kode Ag dalam tabel periodik (yang pernah belajar kimia di SMA pasti familiar nih) ini merupakan logam transisi yang memiliki sifat lunak dan dapat menjadi konduktor listrik yang cukup baik. Jadi kalo berbicara tentang penghantar listrik pengganti kawat tembaga, tentu perak jagonya. Perak menghasilkan hambatan yang kecil, membantu mengalirkan arus listrik dengan lebih lancar dan lebih baik. Hambatan yang kecil ini pula penyebab bunga api yang dihasilkan olehnya menjadi lebih besar dan lebih baik untuk proses pembakaran dalam mesin sehingga cocok untuk dijadikan bahan mata busi.

    Jadi, emas dan perak masing-masing berharga tinggi jika memang berperan di wilayahnya yang tidak bisa digantikan oleh yang lainnya. Emas di wilayahnya, perak di wilayahnya. Sempurna, penempatannya sesuai.

    Hikmah permisalan manusia sebagai tambang emas dan perak

    Hadits yang saya tulis di artikel ini dibawakan pada 2 acara yang berbeda. Pertama saat diminta mengisi di reuni sekolahnya teman awal pekan lalu, kedua saat diminta menjadi tamu di acara pengajian rutin perusahaan milik klien. Meski haditsnya sama dan dikaitkan pada hal yang juga sama (yakni membahas mengenai STIFIn) tapi insight yang didapat dari kedua acara tersebut berbeda.

    Wajar saja sebab yang pertama segmennya adalah ibu-ibu sehingga fokus pada anak, sementara segmen kedua adalah para karyawan muda dengan rentang usia 20-25 tahun. Demikianlah kemudian saya semakin dibuat takjub dengan betapa universalnya ajaran Islam ini.

    Adapun hikmah yang –biidznillah– saya dapat dari hadits ini diantaranya:

    1. Istilah tambang pada hadits ini menarik
    Mencermati hadits tersebut, saya tertarik dengan istilah “tambang” yang digunakan. Kenapa sih Rasulullah tidak langsung menyebutkan saja bahwa manusia seperti emas dan perak? Kenapa harus ada kata “tambang” mendahului permisalan ini?

    Ternyata ada hikmah tersembunyi dari kata tersebut. Tambang, apa sih yang teman-teman bayangkan tentang kata ini?

    Ya, tambang adalah sumber pertama emas dan perak, tergantung kita sedang ada di tambang mana.

    Apakah di tambang kita menemukan emas langsung tinggal pake atau tinggal jual? Nyatanya tidak. Disana kita hanya mendapati bongkahan-bongkahan batu. Lalu dimana emasnya? Dimana peraknya?

    Bagi kita yang awam mungkin mengacuhkan bebatuan ini, menganggapnya ya batu biasa. Sehingga saat ada orang yang paham, membelinya dengan harga “agak tinggi” sebagai batu, ya dijual saja. Begitu diolah ternyata batu itu adalah emas. Harga jualnya? Tentu lebih mahal dari harga batu bukan?

    Seketika saat sadar itu adalah tambang emas/perak, kita tidak bisa langsung menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Ada proses yang harus dilalui. Dimulai dari mengenalinya, mengambilnya dari tambang dengan peralatan dan tenaga yang tidak sedikit. Lalu mengangkutnya ke tempat pengolahan untuk menyaring alias memisahkan bijih emas dari unsur lain.

    Prosesnya ternyata tidak sampai disana. Setelah itu dilakukan pemurnian alias refining, dihancurkan, diendapkan hingga peleburan. Baru didapat logam emas/perak murni dalam bentuk padatan. Prosesnya panjaaanngg..

    2. Kenali potensi terbaik, emas kah atau perak kah?

    Yang pertama kali perlu dilakukan untuk menikmati emas adalah temukan, kenali, tambang anda itu termasuk yang mana? Ingat, tidak ada istilah lebih baik dan lebih buruk. Allah menciptakan sesuatu itu tidak pernah sia-sia. Bahkan virus sekalipun, membantu kita memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan di bidang kesehatan.

    Setelah anda mengenali potensi terbaik anda, emas atau perak kah, maka yang selanjutnya harus anda lakukan adalah gali tambangnya. Ya percuma dong tahu itu tambang emas tapi ga diapa-apain kan? Harus digali, emas ini bisa apa aja, baiknya ditawarkan kemana, bagaimana cara “mengolah”nya dengan baik agar hasilnya maksimal.

    3. Sabar hadapi proses

    Setelah mengenali potensi terbaik anda, mengenali tambang emas dan perak anda kemudian menggalinya. Lalu apa? Lalu jalankan keseluruhan proses penggemblengannya. Proses pengolahan mentahan emas perak menjadi emas perak yang dihargai tinggi di tempatnya.

    Bersabarlah menghadapi proses sejak mengetahui potensi terbaik kita. Mohonlah kekuatan pada Allah agar kita kuat melewati seluruh prosesnya hingga diri ini benar-benar berharga dan bermanfaat untuk sesama: SuksesMulia.

    Bertahanlah dengan sakitnya tempaan alat untuk memisahkan bebatuan di tambang, bersabarlah saat melewati perjalanan dari tambang menuju tempat pengolahan. Kuatlah saat sisi terbaik kita diperas, disaring, dimurnikan kemudian kita menghadapi saat diri jatuh seolah hancur, kemudian terdiam seolah sedang diendapkan (sekaligus masa seolah dicuekkan Allah: dimana Allah? Dimana pertolongan Allah?).

    Hingga saat sisi kehidupan kita lebur seolah segalanya sudah tak berbentuk. Hingga hadiahnya adalah: potensi terbaik kita benar-benar tampil sebagai dirinya dengan sosok yang tegap, sebuah padatan.

    4. Do your best on your field

    Usai potensi terbaik kita ini hadir sebagai dirinya yang tegap, maka ia tetap tak berguna jika hanya berada di tempat pengolahan. Ia akan memiliki “nilai jual tinggi” jika keluar dari tempat penempaannya. Menampakkan kilaunya dan berada di tempat yang tepat agar manfaatnya dirasakan semakin banyak orang.

    Maka tempalah potensi diri yang telah sekian lama tersembunyi itu, bersabarlah selama proses penempaannya dan bertebaranlah di muka bumi untuk memberikan manfaat pada umat. Lakukan yang terbaik sesuai dengan potensi terbaik kita, di bidang yang sedang jadi amanah saat ini. Dimana pun, kapanpun, do your best.

    5. Ruh saling bertemu

    Emas akan dipertemukan dengan emas, ia pun akan dipertemukan dengan perak dalam kondisi yang baik dan saling melengkapi. Ibarat puzzle, setiap kita memiliki sisi menonjol sekaligus sisi yang “berlubang”. Maka yakinlah bahwa diri kita dapat menjadi pelengkap teman yang lain, pun sebaliknya. Sehingga setiap kepingan puzzle yang bersatu itu akan membentuk gambaran dan fungsi yang lebih utuh sebagai masyarakat, komunitas atau kumpulan.

    Setiap ruh akan saling mengenali ruh yang memiliki frekuensi yang sama. Ketika kita memperbaiki diri, akan dipertemukanNya dengan lingkungan yang serupa bahkan mendukung perbaikan kita. Saat keimanan turun terus, secara disadari atau tidak maka muncullah kejadian dimana secara perlahan kita “terlempar” dari lingkaran kebaikan.

    Maka mohonlah pada Allah agar langkah senantiasa dalam kebaikan. Agar penempaan diri senantiasa di jalan kebenaran dan untuk kebermanfaatan. Implementasi atas perintah untuk menjadi sebaik-baik manusia.

    Selamat mengenali tambah emas dan perak

    Maka mari memposisikan diri, anak dan orang sesuai dengan perannya. Mari memposisikan diri dan orang lain sesuai teritorinya dalam kehidupan. Ada Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, Insting, masing-masing memiliki wilayah terbaiknya sendiri. Dan mereka memiliki caranya sendiri.

    Baik emas maupun perak, entah S, T, I, F, ataupun In, yang terpenting adalah menjadi yang paling berkualitas.

    Selamat menikmati segala proses perjalanan tempa diri 🙂

    Salam hangat, Esa Puspita
    Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

    Doa yang Diulang dan Perjalanan Kehidupan

    Setelah kita membahas tentang doa yang diulang di artikel ini, ada tambahan pertanyaan dan bahasan di grup mengenai “apa sih hubungannya surah alfatihah dengan bahasan STIFIn yang sedang kita diskusikan?”. Berikut lanjutan jawabannya.

    Lalu apa kaitannya surah alfatihah dengan STIFIn? Bahwa faktanya, menggembleng diri (dan keluarga) pun adalah bagian dari perjalanan kita menuju pribadi terbaik di hadapan Allah. Dengan apa? Dengan memaksimalkan potensi perbekalan yang sudah Allah berikan, baik untuk diri maupun keluarga kita. Pasti ada “sesuatu” kenapa saya, misalnya diciptakan menjadi seorang Feeling extrovert.

    Ga enak lho jadi Fe. Mukanya muka curhat, kayaknya orang tuh pengennya curhat aja ngeliat orang Fe. Belom lagi dianggap tebar pesona dan berakhir dengan banyak yang patah hati merasa diPHPin padahal mah ga pernah tuh ngerasa tepe-tepe begitu. Tapi ya itu kalo kita melihat dari sisi “ga enak”nya. Maka saya coba terus gali, kenapa sih saya dijadikan anak sulung, memiliki personality genetic Feeling extrovert dengan kehidupan yang justru traumatis di sisi “kasih sayang”. Ada yang salah nih sama takdirnya Allah.

    Eit, tunggu dulu. Benarkah takdir Allah itu salah? Lalu dimana keimanan kita terhadap Qadha dan Qadar? Baik buruknya takdir, sebagai seorang muslim seharusnya kita terima dengan lapang. Disana terletak keimanan pada Allah Sang Pemilik Semesta.

    Kasarnya, terima aja dulu hasil tesnya. Lalu pelan-pelan pelajari. Runut kehidupan kita sejak kecil, jika menjadikan diri saya sebagai contoh, maka saya merunut segala kejadian sejak kecil hingga saat ini. Mengecek sisi Feeling saya dimana sih. Yang ga sesuai dimananya, dan kira-kira kenapa? Benarkah sangat tidak sesuai atau ketidaksesuaian itu justru karena tempaan lingkungan yang membuat kita tidak mampu atau tidak diizinkan mempertunjukkan diri sebagai seorang Feeling extrovert.

    Lha ya kok kayak maksa sih? Emang. Hehe. Maksa untuk menggali diri lebih dalam. Maklum kita yang sekarang kan hasil perpaduan 20% genetik dengan 80% lingkungan. Wajar dong kalo untuk bener-bener menyadari yang 20% itu butuh effort lebih jauh. Begitu pula dalam mengenali anak-anak.

    Maka coba deh jalani kehidupan sebagai mesin kecerdasan kita, sebagai personality genetic kita. Jika awal-awal ga nyaman, wajar. Nah setelah terus menerus mencoba, apakah tetap nyaman atau justru galau? Galaunya kenapa?

    Kalau pengalaman saya pribadi, lama kelamaan akhirnya nyaman. Setelah menerima dulu tentunya. Dan bahkan dari situ juga cara saya merunut hal-hal negatif untuk dinetralkan.

    Jadi yuk sadari kalau perjalanan kita ini memang tidak mudah. Lha doa yang sering diulangnya kan begitu. Jadi Allah akan secara perlahan membawa kita di jalan itu. Tinggal kitanya siap ngga menjalani jalan yang ditunjukkan Allah itu?

    Semangat ya manteman. Hayu kita saling mendoakan supaya dikuatkan melewati perjalanan ini..

    Wallahu a’lam..

    Salam hangat, Esa Puspita
    Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.