Apa Sih STIFIn Itu?

Belakangan di beberapa postingan teh Esa suka ada nyelip kata STIFIn atau konsep (dan teori) STIFIn. Sebetulnya, apa sih yang dimaksud STIFIn itu?

Mungkin itu pertanyaan yang muncul di antara teman-teman saat membaca tulisan maupun status akun facebook saya. Yap, saya memang sedang memperdalam sebuah konsep pengembangan diri yang berbasis genetik dan dikenal dengan nama STIFIn.

Dalam konsep STIFIn, setiap orang akan dikelompokkan ke dalam 5 jenis Mesin Kecerdasan (atau sering disingkat MK). MK sendiri diukur dari belahan otak yang dominan pada diri seseorang.

Kita semua tentu sepakat bahwa Allah menciptakan manusia itu sempurna. Pun dengan otaknya, lengkap utuh. 

Nah, dari otak yang utuh tersebut ada bagian yang mendominasi yang kemudian berimbas pada bagaimana seseorang bertindak (terutama di saat urgen atau keputusan strategis, dan reflek), menjadi dasar sifat seseorang, memengaruhi kesukaan dan kecenderungan minat bakatnya kemana, bagaimana ia belajar, membangun hubungan, berkomunikasi, dst. Dari sinilah bisa dibedah banyak hal dan bidang mengenai seseorang. Sehingga tentu berguna baik untuk pengembangan diri maupun keluarga dan tim.

​STIFIn mengukur bagian otak mana yang dominan dan pada bagian otak dominan tersebut, lapisan yang dominannya ada di bagian luar (lapisan abu) ataukah bagian dalam (lapisan putih). Lapisan inilah yang kemudian dikenal dengan drive Mesin Kecerdasan. MK disandingkan dengan drive, maka muncullah istilah Personality Genetic(atau disingkat PG). Jika MK satuannya adalah kecerdasan (Intelligence), maka PG satuannya adalah personaliti (Quotient).

MK+Drive = PG

MK = mesin kecerdasan 

PG = personality genetic

Jika MK ada 5: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting, maka drive hanya 2: extrovert dan introvert.

Menilik pada gambar pembagian otak di atas, penjelasannya adalah sebagai berikut:

  • Sensing = dominan otak kiri bawah (limbik kiri) 
  • Thinking = dominan otak kiri atas 
  • Intuiting = dominan otak kanan atas 
  • Feeling = dominan otak kanan bawah 
  • Insting = dominan otak tengah 

Daftar MK inilah yang kemudian disingkat menjadi STIFIn.

Drive mesin kecerdasan extrovert jika seseorang dominan lapisan otak luar (abu), sementara drive introvert jika seseorang dominan lapisan dalam (putih). Introvert ekstrovert dalam konsep STIFIn bukanlah sebuah sifat yang berdiri sendiri melainkan netral dan berfungsi sebagai kemudi dari mesin kecerdasan.

Kembali pada rumus PG = MK+drive, maka setelah MK disandingkan dengan drive extrovert ataupun introvert, muncullah total 9 Personality Genetic. Eh, lho kok 9? Bukannya harusnya 5*2=10?

Yep. Karena pada otak tengah cenderung homogen, tidak ada perbedaan antara lapisan luar dan dalam sehingga Insting menjadi mesin kecerdasan sekaligus personality genetic tanpa drive. Total (4*2)+1 = 9. Betul? 😁

  1. Sensing introvert 
  2. Sensing extrovert 
  3. Thinking introvert 
  4. Thinking extrovert 
  5. Intuiting introvert
  6. Intuiting extrovert 
  7. Feeling introvert 
  8. Feeling extrovert 
  9. Insting

Sampai disini, apakah sudah mulai terbayang mengenai konsep kece ini? 😍

Insyaallah postingan berikutnya kita bahas tentang “tes STIFIn untuk apa sih” 😉

Catatan: Untuk melakukan tes STIFIn daerah Bandung Cimahi, bisa langsung kontak saya di 0878-2192-4595. Alhamdulillah saya dan suami sudah resmi menjadi Licensed Promotor STIFIn.

Luar kota, silakan japri juga untuk dicarikan info promotor terdekat.

Pastikan perkenalan dulu ya saat chat. Biar akrab gitu 😁

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Manusia Ibarat Tambang Emas dan Perak

Manusia adalah tambang emas dan perak. Yang terpilih (terbaik) saat jahiliah akan menjadi terpilih (terbaik) saat Islam asalkan faqih (memiliki pemahaman yang mendalam tentang ilmu).

Ruh-ruh adalah junud mujannadah, yang saling mengenal akan akrab bersatu dan yang saling bertolak belakang akan berbeda (berpisah).

HR. Muslim

Hadits ini saya dapatkan dalam sebuah buku yang membahas mengenai pendidikan. Disana dikatakan bahwa ini pertanda generasi yang diciptakan Allah memang berbeda-beda sehingga mesti dipahami baik oleh para orang tua maupun pendidik bahwa perbedaan itu pasti ada.

Lalu kenapa memangnya kalo berbeda? Sederhana. Agar kita sadar bahwa cara memperlakukan diri, anak dan orang lain sudah seyogyanya setara tapi tidak sama. Letakkan mereka sesuai tempatnya dengan penyikapan sesuai karakternya tanpa menghilangkan karakter kita sendiri.

Ada emas dan perak disebutkan di awal hadits ini. Keduanya jelas berbeda secara tampilan maupun strukturnya. Jika teman-teman ditanya mana yang lebih baik, emas atau perak? Mungkin sebagian besar akan menjawab “emas”. Ya, saya pun begitu. Maklum, memang saya tinggal di lingkungan yang menghargai emas lebih tinggi. Perak biasanya “hanya” sebagai alternatif pengganti emas meskipun termasuk logam mulia juga sebetulnya.

Jarang yang tahu bahwa perak yang memiliki kode Ag dalam tabel periodik (yang pernah belajar kimia di SMA pasti familiar nih) ini merupakan logam transisi yang memiliki sifat lunak dan dapat menjadi konduktor listrik yang cukup baik. Jadi kalo berbicara tentang penghantar listrik pengganti kawat tembaga, tentu perak jagonya. Perak menghasilkan hambatan yang kecil, membantu mengalirkan arus listrik dengan lebih lancar dan lebih baik. Hambatan yang kecil ini pula penyebab bunga api yang dihasilkan olehnya menjadi lebih besar dan lebih baik untuk proses pembakaran dalam mesin sehingga cocok untuk dijadikan bahan mata busi.

Jadi, emas dan perak masing-masing berharga tinggi jika memang berperan di wilayahnya yang tidak bisa digantikan oleh yang lainnya. Emas di wilayahnya, perak di wilayahnya. Sempurna, penempatannya sesuai.

Hikmah permisalan manusia sebagai tambang emas dan perak

Hadits yang saya tulis di artikel ini dibawakan pada 2 acara yang berbeda. Pertama saat diminta mengisi di reuni sekolahnya teman awal pekan lalu, kedua saat diminta menjadi tamu di acara pengajian rutin perusahaan milik klien. Meski haditsnya sama dan dikaitkan pada hal yang juga sama (yakni membahas mengenai STIFIn) tapi insight yang didapat dari kedua acara tersebut berbeda.

Wajar saja sebab yang pertama segmennya adalah ibu-ibu sehingga fokus pada anak, sementara segmen kedua adalah para karyawan muda dengan rentang usia 20-25 tahun. Demikianlah kemudian saya semakin dibuat takjub dengan betapa universalnya ajaran Islam ini.

Adapun hikmah yang –biidznillah– saya dapat dari hadits ini diantaranya:

1. Istilah tambang pada hadits ini menarik
Mencermati hadits tersebut, saya tertarik dengan istilah “tambang” yang digunakan. Kenapa sih Rasulullah tidak langsung menyebutkan saja bahwa manusia seperti emas dan perak? Kenapa harus ada kata “tambang” mendahului permisalan ini?

Ternyata ada hikmah tersembunyi dari kata tersebut. Tambang, apa sih yang teman-teman bayangkan tentang kata ini?

Ya, tambang adalah sumber pertama emas dan perak, tergantung kita sedang ada di tambang mana.

Apakah di tambang kita menemukan emas langsung tinggal pake atau tinggal jual? Nyatanya tidak. Disana kita hanya mendapati bongkahan-bongkahan batu. Lalu dimana emasnya? Dimana peraknya?

Bagi kita yang awam mungkin mengacuhkan bebatuan ini, menganggapnya ya batu biasa. Sehingga saat ada orang yang paham, membelinya dengan harga “agak tinggi” sebagai batu, ya dijual saja. Begitu diolah ternyata batu itu adalah emas. Harga jualnya? Tentu lebih mahal dari harga batu bukan?

Seketika saat sadar itu adalah tambang emas/perak, kita tidak bisa langsung menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Ada proses yang harus dilalui. Dimulai dari mengenalinya, mengambilnya dari tambang dengan peralatan dan tenaga yang tidak sedikit. Lalu mengangkutnya ke tempat pengolahan untuk menyaring alias memisahkan bijih emas dari unsur lain.

Prosesnya ternyata tidak sampai disana. Setelah itu dilakukan pemurnian alias refining, dihancurkan, diendapkan hingga peleburan. Baru didapat logam emas/perak murni dalam bentuk padatan. Prosesnya panjaaanngg..

2. Kenali potensi terbaik, emas kah atau perak kah?

Yang pertama kali perlu dilakukan untuk menikmati emas adalah temukan, kenali, tambang anda itu termasuk yang mana? Ingat, tidak ada istilah lebih baik dan lebih buruk. Allah menciptakan sesuatu itu tidak pernah sia-sia. Bahkan virus sekalipun, membantu kita memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan di bidang kesehatan.

Setelah anda mengenali potensi terbaik anda, emas atau perak kah, maka yang selanjutnya harus anda lakukan adalah gali tambangnya. Ya percuma dong tahu itu tambang emas tapi ga diapa-apain kan? Harus digali, emas ini bisa apa aja, baiknya ditawarkan kemana, bagaimana cara “mengolah”nya dengan baik agar hasilnya maksimal.

3. Sabar hadapi proses

Setelah mengenali potensi terbaik anda, mengenali tambang emas dan perak anda kemudian menggalinya. Lalu apa? Lalu jalankan keseluruhan proses penggemblengannya. Proses pengolahan mentahan emas perak menjadi emas perak yang dihargai tinggi di tempatnya.

Bersabarlah menghadapi proses sejak mengetahui potensi terbaik kita. Mohonlah kekuatan pada Allah agar kita kuat melewati seluruh prosesnya hingga diri ini benar-benar berharga dan bermanfaat untuk sesama: SuksesMulia.

Bertahanlah dengan sakitnya tempaan alat untuk memisahkan bebatuan di tambang, bersabarlah saat melewati perjalanan dari tambang menuju tempat pengolahan. Kuatlah saat sisi terbaik kita diperas, disaring, dimurnikan kemudian kita menghadapi saat diri jatuh seolah hancur, kemudian terdiam seolah sedang diendapkan (sekaligus masa seolah dicuekkan Allah: dimana Allah? Dimana pertolongan Allah?).

Hingga saat sisi kehidupan kita lebur seolah segalanya sudah tak berbentuk. Hingga hadiahnya adalah: potensi terbaik kita benar-benar tampil sebagai dirinya dengan sosok yang tegap, sebuah padatan.

4. Do your best on your field

Usai potensi terbaik kita ini hadir sebagai dirinya yang tegap, maka ia tetap tak berguna jika hanya berada di tempat pengolahan. Ia akan memiliki “nilai jual tinggi” jika keluar dari tempat penempaannya. Menampakkan kilaunya dan berada di tempat yang tepat agar manfaatnya dirasakan semakin banyak orang.

Maka tempalah potensi diri yang telah sekian lama tersembunyi itu, bersabarlah selama proses penempaannya dan bertebaranlah di muka bumi untuk memberikan manfaat pada umat. Lakukan yang terbaik sesuai dengan potensi terbaik kita, di bidang yang sedang jadi amanah saat ini. Dimana pun, kapanpun, do your best.

5. Ruh saling bertemu

Emas akan dipertemukan dengan emas, ia pun akan dipertemukan dengan perak dalam kondisi yang baik dan saling melengkapi. Ibarat puzzle, setiap kita memiliki sisi menonjol sekaligus sisi yang “berlubang”. Maka yakinlah bahwa diri kita dapat menjadi pelengkap teman yang lain, pun sebaliknya. Sehingga setiap kepingan puzzle yang bersatu itu akan membentuk gambaran dan fungsi yang lebih utuh sebagai masyarakat, komunitas atau kumpulan.

Setiap ruh akan saling mengenali ruh yang memiliki frekuensi yang sama. Ketika kita memperbaiki diri, akan dipertemukanNya dengan lingkungan yang serupa bahkan mendukung perbaikan kita. Saat keimanan turun terus, secara disadari atau tidak maka muncullah kejadian dimana secara perlahan kita “terlempar” dari lingkaran kebaikan.

Maka mohonlah pada Allah agar langkah senantiasa dalam kebaikan. Agar penempaan diri senantiasa di jalan kebenaran dan untuk kebermanfaatan. Implementasi atas perintah untuk menjadi sebaik-baik manusia.

Selamat mengenali tambah emas dan perak

Maka mari memposisikan diri, anak dan orang sesuai dengan perannya. Mari memposisikan diri dan orang lain sesuai teritorinya dalam kehidupan. Ada Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, Insting, masing-masing memiliki wilayah terbaiknya sendiri. Dan mereka memiliki caranya sendiri.

Baik emas maupun perak, entah S, T, I, F, ataupun In, yang terpenting adalah menjadi yang paling berkualitas.

Selamat menikmati segala proses perjalanan tempa diri 🙂

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Doa yang Diulang dan Perjalanan Kehidupan

Setelah kita membahas tentang doa yang diulang di artikel ini, ada tambahan pertanyaan dan bahasan di grup mengenai “apa sih hubungannya surah alfatihah dengan bahasan STIFIn yang sedang kita diskusikan?”. Berikut lanjutan jawabannya.

Lalu apa kaitannya surah alfatihah dengan STIFIn? Bahwa faktanya, menggembleng diri (dan keluarga) pun adalah bagian dari perjalanan kita menuju pribadi terbaik di hadapan Allah. Dengan apa? Dengan memaksimalkan potensi perbekalan yang sudah Allah berikan, baik untuk diri maupun keluarga kita. Pasti ada “sesuatu” kenapa saya, misalnya diciptakan menjadi seorang Feeling extrovert.

Ga enak lho jadi Fe. Mukanya muka curhat, kayaknya orang tuh pengennya curhat aja ngeliat orang Fe. Belom lagi dianggap tebar pesona dan berakhir dengan banyak yang patah hati merasa diPHPin padahal mah ga pernah tuh ngerasa tepe-tepe begitu. Tapi ya itu kalo kita melihat dari sisi “ga enak”nya. Maka saya coba terus gali, kenapa sih saya dijadikan anak sulung, memiliki personality genetic Feeling extrovert dengan kehidupan yang justru traumatis di sisi “kasih sayang”. Ada yang salah nih sama takdirnya Allah.

Eit, tunggu dulu. Benarkah takdir Allah itu salah? Lalu dimana keimanan kita terhadap Qadha dan Qadar? Baik buruknya takdir, sebagai seorang muslim seharusnya kita terima dengan lapang. Disana terletak keimanan pada Allah Sang Pemilik Semesta.

Kasarnya, terima aja dulu hasil tesnya. Lalu pelan-pelan pelajari. Runut kehidupan kita sejak kecil, jika menjadikan diri saya sebagai contoh, maka saya merunut segala kejadian sejak kecil hingga saat ini. Mengecek sisi Feeling saya dimana sih. Yang ga sesuai dimananya, dan kira-kira kenapa? Benarkah sangat tidak sesuai atau ketidaksesuaian itu justru karena tempaan lingkungan yang membuat kita tidak mampu atau tidak diizinkan mempertunjukkan diri sebagai seorang Feeling extrovert.

Lha ya kok kayak maksa sih? Emang. Hehe. Maksa untuk menggali diri lebih dalam. Maklum kita yang sekarang kan hasil perpaduan 20% genetik dengan 80% lingkungan. Wajar dong kalo untuk bener-bener menyadari yang 20% itu butuh effort lebih jauh. Begitu pula dalam mengenali anak-anak.

Maka coba deh jalani kehidupan sebagai mesin kecerdasan kita, sebagai personality genetic kita. Jika awal-awal ga nyaman, wajar. Nah setelah terus menerus mencoba, apakah tetap nyaman atau justru galau? Galaunya kenapa?

Kalau pengalaman saya pribadi, lama kelamaan akhirnya nyaman. Setelah menerima dulu tentunya. Dan bahkan dari situ juga cara saya merunut hal-hal negatif untuk dinetralkan.

Jadi yuk sadari kalau perjalanan kita ini memang tidak mudah. Lha doa yang sering diulangnya kan begitu. Jadi Allah akan secara perlahan membawa kita di jalan itu. Tinggal kitanya siap ngga menjalani jalan yang ditunjukkan Allah itu?

Semangat ya manteman. Hayu kita saling mendoakan supaya dikuatkan melewati perjalanan ini..

Wallahu a’lam..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.