Mengenali Potensi dan Bakat Sejak Dini

Belakangan materi mengenali potensi dan bakat anak sejak dini begitu semarak. Adakah diantara teman-teman ada yang bersedia bercerita, kenapa ingin mengetahui potensi dan bakat anak sejak dini?

Bagi saya pribadi, mengetahui potensi dan bakat anak sejak dini bukan untuk diikutsertakan dalam les disana sini yang sesuai bakatnya, akan tetapi menjadi patokan “tipikal seperti apakah anak ini dan kelak bidang apa saja yang insyaAllah dia akan dapat memberikan kontribusi peran yang maksimal pada agama”.

Mengetahui potensi dan bakat anak sejak dini bisa jadi merupakan upaya para orang tua jaman now untuk memperoleh generasi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Apalagi profesi di masa mendatang bisa jadi belum ada di masa kita saat ini sehingga yang perlu diketahui adalah “jenis bunga apakah anak yang diamanahkan dan bagaimana menyirami serta mengurusnya?” Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Sikap Anak adalah Cerminan Sikap Orang Tua

Hampir setiap tindakan buruk anak (entah berupa kenakalan atau menerima kenakalan) bermula dari sikap orang tua. Sikap kita terhadap anak.

Karena sejatinya anak senantiasa belajar. Dan lingkungan terdekat untuk dia belajar (termasuk urusan sikap) adalah keluarganya, terutama orang tuanya.

Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Mendidik Anak-anak Dengan Baik, Tahapan Yang Seringkali Terlewat

Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjuangan tersendiri. Selama ini saya mencari cara efektif menjadi orang tua yang lebih baik. Puzzle nya di kepala udah kebayang, tapi menuliskannya kok susah. Dan dalam diskusi di grup Keluarga MAJu Limes STIFIn kemarin akhirnya terbantu. Alhamdulillah.

Melalui tulisan kang Muvti dan komentar mba Wulan tentang kesimpulan 3 tahapan penting untuk dapat mendidik anak-anak dengan baik, jadi bahan tulisan ini. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ibu-ibu Zaman Now

TELAAH 26 Januari 2018

Ibu Zaman Now

Ibu yang satu ini benar-benar mendikte dan mencereweti. Ibu yang rutin dan terjadwal. Heboh dengan printilan. Latah dengan yang sedang hits. Anak-anaknya jadi korban kursus sana-sini. Selagi anak kursus ibunya nge-mall.

Ibu yang kedua ini akan membiarkan anaknya mandiri. Karena ibunya sibuk seminar atau training. Ia hanya memastikan aturan dipatuhi. Itupun dari jauh via gadget. Selebihnya anak-anak diasumsikan sepintar dirinya.

Sementara ibu jenis ketiga akan membawa anaknya terbang ke masa depan. Sampai lupa bahwa anaknya perlu dilayani pada hal-hal kecil. Catering jadi pilihan padahal anaknya ngarep dibekali masakan ibunya. Rempong dengan tas berisi buku-buku mahal untuk menaikkan level dirinya dan level anaknya. Gak perlu sering ketemu yang penting kualitas. Waktu ibunya habis mengejar mimpinya.

Ibu yang keempat ini lebay dan over protektif. Anaknya tidak boleh disalahkan. Memanjakan anaknya dan memenuhi semua permintaannya tanpa pikir panjang. Heboh melayani kalau anaknya sakit. Semua yang dilakukan untuk anaknya gak pake tangan sendiri. Bikin pasukan. Ibunya sibuk chatting.

Jenis ibu yang kelima, ini jenis ibu terakhir, yang kadang peduli dan kadang mengabaikan. Bersedia pake tangan sendiri melayani anaknya. Tapi begitu capek dengan aktivitas sosialnya anak jadi korban naik pitamnya. Jadi pusing kalau sudah menemani bikin PR anaknya atau jenis keruwetan lainnya. Dekatin anak melalui makan-makan. Seringnya masak sendiri.

Ibu zaman now. Sebenarnya dari dulu juga begitu.

Farid Poniman
Penemu STIFIn

Apa pendapat teman-teman tentang tulisan di atas? Sepertinya akan muncul pro kontra seperti yang saya alami kala membagikan tulisan itu. Subhanallah. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Aku Bukan Ibu Yang Baik

Pernah satu ketika, saya merasa bahwa saya bukanlah ibu yang baik untuk anak-anak. Dengan segala hal yang terjadi dan akibat berbagai pencetus..

Teman-teman pernah mengalami atau merasakannya juga?

Saking merasa sedihnya, tiba-tiba melintas pikiran itu, bisikan pun datang..

“Kamu memang bukan ibu yang baik untuk mereka” Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjadi Orang Tua Pendidik Anak

Pendidik adalah arsitek peradaban, bukan tabib kebiadaban apalagi kuli kebiadaban. Itulah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah #FBE

Kutipan di atas adalah status Pak Harry Santosa pagi ini. Sebuah reminder yang mengingatkan lagi kami pada bahasan di seminar Parenting Bersama beliau Ahad lalu. Masyaallah. Suami yang alhamdulillah seorang arsitek jadi lebih mudah memahami sekaligus bergairah dengan kalimat ini.

Semula saya masih belum sepenuhnya paham. Ya, ketika di seminar kemarin masih belum “anceg” pemahaman atas kalimat itu. Tapi qadarullah pagi ini Allah ilhamkan pemahaman, biidznillah.

Arsitek bermakna seseorang yang terlibat aktif dalam membangun, baik membangun sejak awal maupun “renovasi”. Bagi seorang arsitek, salah satu yang diperhatikan adalah pondasi dan selanjutnya kualitas bahan dan bangunan secara menyeluruh.

Jika membangun dari awal, tentu akan lebih mudah karena semua sudah terencana sejak semula. Yang menjadikan saya manggut-manggut adalah, bagaimana jika kondisinya bukan membantun dari awal tapi “renovasi”? Bahkan ternyata dalam proses renovasi rumah pun, suami perlu mengetahui pondasi bangunan yang akan direnov tersebut. Jika pemilik rumah hendak membangun menjadi 2 tingkat atau lebih, akan dicek apakah cukup atau musti dibentuk pondasi baru. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ibu Sebagai Poros Cinta

Menjalani peran sebagai seorang ibu mengajarkan saya banyak hal tentang dunia manusia. Rasanya peran ini mengharuskan saya paham banyak bahasan mengenai human development. 

Bersyukurlah bagi teman-teman yang belum menikah tapi sudah menjadi pendidik, sebab kalian bisa bersiap sebelum amanah itu hadir. 

Sedang bagi saya yang dulu persiapannya kurang, rasanya sekarang kejar-kejaran mencari ilmu dan menerapkannya. Jika ada yang senasib, tenang anda tidak sendiri. Hehe.

Meski demikian, kesadaran ini janganlah malah dijadikan beban. Minimnya ilmu yang membuat kita ingin belajar disana-sini juga perlu diatur. Sebab salah-salah bukannya menghasilkan pendidikan yang lebih baik, malah anak terbengkalai karena alasan nyari ilmu. 

Pengalaman saya yang merasa belum cukup berbekal, pernah jatuh pada kondisi dimana saya pada akhirnya malah overload informasi. Akibatnya bisa ditebak, saya bingung mana yang harus diterapkan sedangkan usia anak terus bertambah. 

Maka tips dari saya, tetapkan prioritas ilmu yang akan kita pelajari. Beberapa diantara yang mungkin dapat teman-teman pertimbangkan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan anak dalam Islam
  2. Fitrah manusia
  3. Milestone tumbuh kembang anak

Prioritas ini karena selain belajar tentang dunia anak, kita juga perlu update tentang ilmu mengenai pasangan (suami istri) dan pernikahan. Sebab sebaik apapun teori parenting yang kita kuasai, jika aliran cinta antara suami istri kurang baik, energi negatifnya nyampe ke anak. 

Jika tidak menerapkan prioritas, akhirnya kita bingung mau ngapain aja nih. Rasanya ingin semua dipelajari biar perfect. Padahal untuk awal, penting memperhatikan hal-hal yang sifatnya pondasi entah pondasi pernikahan maupun pondasi pendidikan anak. 

Bahkan jika kurang pandai mengatur emosi, tidak adanya prioritas membuat ibu uring-uringan. Akibatnya? Bisa ditebak. Suami kena semprot, anak kena omel. 

Padahal kita sedang belajar untuk mereka kan? Apa untuk kepuasan pribadi aja biar disebut ibu yang hebat bisa didik anak-anaknya atau takut disebut ibu yang ga becus ngurus anak? Insyaallah bukan keduanya ya..

Dengan memiliki prioritas, emosi cenderung lebih mudah diatur sebab kita paham mana yang mesti didahulukan dan mana yang urgent dipelajari serta dipraktekkan. 

Selow tapi ga lamban. Perlahan, insyaallah pasti. 

Sebab ibu adalah poros cinta dan kewarasan. Sebah secara fitrah, perempuan diberi Allah kemampuan mencintai lebih banyak daripada laki-laki. Ibu diberi Allah kekuatan untuk menjadi poros tempat cinta suami dan anak-anak berlabuh.

Jika ibu bahagia dengan sebenar-benarnya (bukan memendam rasa dan pura-pura bahagia), maka rasa bahagia itu akan memenuhi seisi rumah. Memancarkan semangat yang tak dapat ditularkan oleh siapapun kecuali dari seorang ibu.

Ibu yang bahagia akan memancarkan keceriaan saat menyiapkan segala keperluan suami dan anak. Ibu yang bahagia akan menyebarkan sinar cinta kala mengantar suami dan anaknya berangkat keluar rumah lalu menyambut kepulangan mereka kembali usai beraktivitas.

Sebaliknya ketika ibu sedang sedih atau kecewa, rasa yang meski ia pendam tetap akan memancar melalui mata maupun ekspresi tubuhnya. Hingga semangat yang tadinya menjadi energi seluruh penghuni rumah, menghilang tak tau kemana.

Menjadi poros seringkali tak mudah. Kenali diri, apa saja kiranya yang menjadi penyebab emosi tak stabil. Ajak suami untuk saling memahami apa kiranya yang mengganggu stabilitas keluarga dan hubungan suami istri. Lalu sepakati bersama solusinya.

Menjadi poros membuat hampir sebagian besar tumpuan ada pada diri kita. Maka poros ini mesti senantiasa dijaga, diurus dan dirawat dengan baik.

Jagalah diri dengan keimanan, ibadah yang baik. Milikilah amal andalan yang selalu dijalankan secara berkesinambungan. Rayu Allah agar senantiasa menemani dan menjaga kita. Agar cinta tetap membara, dan kewarasan tetap terjaga. 

Ajak suami untuk memahami diri kita dan dirinya sendiri. Kenali anak-anak. Bangun bonding yang kuat. Teman-teman bisa menggunakan berbagai metode, tes biometrik STIFIn misalnya (seperti yang kami gunakan).

Jika dalam membangun rumah saja kita rela menunggu prosesnya, apalah lagi membangun “isi” rumah yang ini merupakan misi jangka panjang seumur hidup: diri, pasangan dan anak-anak.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.