Tips Mendidik Anak-anak Dengan Baik, Tahapan Yang Seringkali Terlewat

Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjuangan tersendiri. Selama ini saya mencari cara efektif menjadi orang tua yang lebih baik. Puzzle nya di kepala udah kebayang, tapi menuliskannya kok susah. Dan dalam diskusi di grup Keluarga MAJu Limes STIFIn kemarin akhirnya terbantu. Alhamdulillah.

Melalui tulisan kang Muvti dan komentar mba Wulan tentang kesimpulan 3 tahapan penting untuk dapat mendidik anak-anak dengan baik, jadi bahan tulisan ini. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ibu-ibu Zaman Now

TELAAH 26 Januari 2018

Ibu Zaman Now

Ibu yang satu ini benar-benar mendikte dan mencereweti. Ibu yang rutin dan terjadwal. Heboh dengan printilan. Latah dengan yang sedang hits. Anak-anaknya jadi korban kursus sana-sini. Selagi anak kursus ibunya nge-mall.

Ibu yang kedua ini akan membiarkan anaknya mandiri. Karena ibunya sibuk seminar atau training. Ia hanya memastikan aturan dipatuhi. Itupun dari jauh via gadget. Selebihnya anak-anak diasumsikan sepintar dirinya.

Sementara ibu jenis ketiga akan membawa anaknya terbang ke masa depan. Sampai lupa bahwa anaknya perlu dilayani pada hal-hal kecil. Catering jadi pilihan padahal anaknya ngarep dibekali masakan ibunya. Rempong dengan tas berisi buku-buku mahal untuk menaikkan level dirinya dan level anaknya. Gak perlu sering ketemu yang penting kualitas. Waktu ibunya habis mengejar mimpinya.

Ibu yang keempat ini lebay dan over protektif. Anaknya tidak boleh disalahkan. Memanjakan anaknya dan memenuhi semua permintaannya tanpa pikir panjang. Heboh melayani kalau anaknya sakit. Semua yang dilakukan untuk anaknya gak pake tangan sendiri. Bikin pasukan. Ibunya sibuk chatting.

Jenis ibu yang kelima, ini jenis ibu terakhir, yang kadang peduli dan kadang mengabaikan. Bersedia pake tangan sendiri melayani anaknya. Tapi begitu capek dengan aktivitas sosialnya anak jadi korban naik pitamnya. Jadi pusing kalau sudah menemani bikin PR anaknya atau jenis keruwetan lainnya. Dekatin anak melalui makan-makan. Seringnya masak sendiri.

Ibu zaman now. Sebenarnya dari dulu juga begitu.

Farid Poniman
Penemu STIFIn

Apa pendapat teman-teman tentang tulisan di atas? Sepertinya akan muncul pro kontra seperti yang saya alami kala membagikan tulisan itu. Subhanallah. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Aku Bukan Ibu Yang Baik

Pernah satu ketika, saya merasa bahwa saya bukanlah ibu yang baik untuk anak-anak. Dengan segala hal yang terjadi dan akibat berbagai pencetus..

Teman-teman pernah mengalami atau merasakannya juga?

Saking merasa sedihnya, tiba-tiba melintas pikiran itu, bisikan pun datang..

“Kamu memang bukan ibu yang baik untuk mereka” Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjadi Orang Tua Pendidik Anak

Pendidik adalah arsitek peradaban, bukan tabib kebiadaban apalagi kuli kebiadaban. Itulah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah #FBE

Kutipan di atas adalah status Pak Harry Santosa pagi ini. Sebuah reminder yang mengingatkan lagi kami pada bahasan di seminar Parenting Bersama beliau Ahad lalu. Masyaallah. Suami yang alhamdulillah seorang arsitek jadi lebih mudah memahami sekaligus bergairah dengan kalimat ini.

Semula saya masih belum sepenuhnya paham. Ya, ketika di seminar kemarin masih belum “anceg” pemahaman atas kalimat itu. Tapi qadarullah pagi ini Allah ilhamkan pemahaman, biidznillah.

Arsitek bermakna seseorang yang terlibat aktif dalam membangun, baik membangun sejak awal maupun “renovasi”. Bagi seorang arsitek, salah satu yang diperhatikan adalah pondasi dan selanjutnya kualitas bahan dan bangunan secara menyeluruh.

Jika membangun dari awal, tentu akan lebih mudah karena semua sudah terencana sejak semula. Yang menjadikan saya manggut-manggut adalah, bagaimana jika kondisinya bukan membantun dari awal tapi “renovasi”? Bahkan ternyata dalam proses renovasi rumah pun, suami perlu mengetahui pondasi bangunan yang akan direnov tersebut. Jika pemilik rumah hendak membangun menjadi 2 tingkat atau lebih, akan dicek apakah cukup atau musti dibentuk pondasi baru. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ibu Sebagai Poros Cinta

Menjalani peran sebagai seorang ibu mengajarkan saya banyak hal tentang dunia manusia. Rasanya peran ini mengharuskan saya paham banyak bahasan mengenai human development. 

Bersyukurlah bagi teman-teman yang belum menikah tapi sudah menjadi pendidik, sebab kalian bisa bersiap sebelum amanah itu hadir. 

Sedang bagi saya yang dulu persiapannya kurang, rasanya sekarang kejar-kejaran mencari ilmu dan menerapkannya. Jika ada yang senasib, tenang anda tidak sendiri. Hehe.

Meski demikian, kesadaran ini janganlah malah dijadikan beban. Minimnya ilmu yang membuat kita ingin belajar disana-sini juga perlu diatur. Sebab salah-salah bukannya menghasilkan pendidikan yang lebih baik, malah anak terbengkalai karena alasan nyari ilmu. 

Pengalaman saya yang merasa belum cukup berbekal, pernah jatuh pada kondisi dimana saya pada akhirnya malah overload informasi. Akibatnya bisa ditebak, saya bingung mana yang harus diterapkan sedangkan usia anak terus bertambah. 

Maka tips dari saya, tetapkan prioritas ilmu yang akan kita pelajari. Beberapa diantara yang mungkin dapat teman-teman pertimbangkan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan anak dalam Islam
  2. Fitrah manusia
  3. Milestone tumbuh kembang anak

Prioritas ini karena selain belajar tentang dunia anak, kita juga perlu update tentang ilmu mengenai pasangan (suami istri) dan pernikahan. Sebab sebaik apapun teori parenting yang kita kuasai, jika aliran cinta antara suami istri kurang baik, energi negatifnya nyampe ke anak. 

Jika tidak menerapkan prioritas, akhirnya kita bingung mau ngapain aja nih. Rasanya ingin semua dipelajari biar perfect. Padahal untuk awal, penting memperhatikan hal-hal yang sifatnya pondasi entah pondasi pernikahan maupun pondasi pendidikan anak. 

Bahkan jika kurang pandai mengatur emosi, tidak adanya prioritas membuat ibu uring-uringan. Akibatnya? Bisa ditebak. Suami kena semprot, anak kena omel. 

Padahal kita sedang belajar untuk mereka kan? Apa untuk kepuasan pribadi aja biar disebut ibu yang hebat bisa didik anak-anaknya atau takut disebut ibu yang ga becus ngurus anak? Insyaallah bukan keduanya ya..

Dengan memiliki prioritas, emosi cenderung lebih mudah diatur sebab kita paham mana yang mesti didahulukan dan mana yang urgent dipelajari serta dipraktekkan. 

Selow tapi ga lamban. Perlahan, insyaallah pasti. 

Sebab ibu adalah poros cinta dan kewarasan. Sebah secara fitrah, perempuan diberi Allah kemampuan mencintai lebih banyak daripada laki-laki. Ibu diberi Allah kekuatan untuk menjadi poros tempat cinta suami dan anak-anak berlabuh.

Jika ibu bahagia dengan sebenar-benarnya (bukan memendam rasa dan pura-pura bahagia), maka rasa bahagia itu akan memenuhi seisi rumah. Memancarkan semangat yang tak dapat ditularkan oleh siapapun kecuali dari seorang ibu.

Ibu yang bahagia akan memancarkan keceriaan saat menyiapkan segala keperluan suami dan anak. Ibu yang bahagia akan menyebarkan sinar cinta kala mengantar suami dan anaknya berangkat keluar rumah lalu menyambut kepulangan mereka kembali usai beraktivitas.

Sebaliknya ketika ibu sedang sedih atau kecewa, rasa yang meski ia pendam tetap akan memancar melalui mata maupun ekspresi tubuhnya. Hingga semangat yang tadinya menjadi energi seluruh penghuni rumah, menghilang tak tau kemana.

Menjadi poros seringkali tak mudah. Kenali diri, apa saja kiranya yang menjadi penyebab emosi tak stabil. Ajak suami untuk saling memahami apa kiranya yang mengganggu stabilitas keluarga dan hubungan suami istri. Lalu sepakati bersama solusinya.

Menjadi poros membuat hampir sebagian besar tumpuan ada pada diri kita. Maka poros ini mesti senantiasa dijaga, diurus dan dirawat dengan baik.

Jagalah diri dengan keimanan, ibadah yang baik. Milikilah amal andalan yang selalu dijalankan secara berkesinambungan. Rayu Allah agar senantiasa menemani dan menjaga kita. Agar cinta tetap membara, dan kewarasan tetap terjaga. 

Ajak suami untuk memahami diri kita dan dirinya sendiri. Kenali anak-anak. Bangun bonding yang kuat. Teman-teman bisa menggunakan berbagai metode, tes biometrik STIFIn misalnya (seperti yang kami gunakan).

Jika dalam membangun rumah saja kita rela menunggu prosesnya, apalah lagi membangun “isi” rumah yang ini merupakan misi jangka panjang seumur hidup: diri, pasangan dan anak-anak.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Mengajari Anak Memasak

Memiliki tiga anak ternyata membuat saya makin bahagia ketika tahu si sulung sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan si tengah udah mulai bisa menyiapkan kebutuhannya tanpa bantuan Ummi dan Aa. Setidaknya dengan begitu, ummi ga harus selalu mengurusi 3 anak yang mana bisa saja membuat saya spaneng. Ya, meskipun tetap saja ada momen dimana mereka bikin spaneng. Wajar lah ya. Namanya juga manusia, life is never flat.

Si sulung Danisy saat ini usianya 7 tahun sementara Azam berusia 4 tahun. Soal kemandirian kami tekankan di usia 4 tahun. Prosesnya memang tidak selalu mudah. Butuh komitmen, ketegasan dan kesabaran semua pihak terutama orang-orang dewasa sebab biasanya yang susah sabar menghadapi proses anak belajar mandiri itu justru orang dewasa di sekitar anak-anak. Heuheu. Curcol.

Makanan Ibu Paling Enak

Masakan ibu selalu jadi makanan paling enak di dunia. Sepakat? Ada yang sepakat tapi mungkin ada juga yang kurang setuju. Tak masalah. Kita ga harus sama kok 😀

Wajar saja sebetulnya jika seorang anak selalu menganggap masakan ibunya adalah yang paling pas di lidah. Bagaimana tidak, sejak pertama kali mengenal rasa selain ASI, anak kemungkinan besar menikmati masakan ibunya di fase MPASI dan fase berikutnya. Sehingga anak terbiasa bertahun-tahun mengkonsumsi masakan ibu.

Meskipun semakin beranjak dewasa tambah banyak varian rasa yang diicip, tetap saja ada masa kangen masakan ibu. Minimal kangen momen saat dimasakin makanan oleh ibu 😀

Tapi okeh banget lho kalau ngajarin anak lelaki kita memasak. Biar selain kangen masakan ummi, semoga nanti ada juga yang “kangen masakan ayah” karena anak kita saat punya anak nanti bisa masakin anaknya makanan.

Mengajari Anak Lelaki Memasak

Seringkali saya mendapatkan pernyataan “satu lagi atuh, anak perempuan biar ada yang bantuin ummi di rumah” ketika melihat anak kami dua-duanya laki-laki. Hmm. Saya hanya balas dengan senyuman dan berterima kasih atas doanya. Alhamdulillah ternyata dikabulkan Allah dengan lahirnya Hasna.

Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan mereka. Sebab adanya anak, baik lelaki maupun perempuan bukan semata urusan “biar ada yang bantu” tapi jauh lebih dari itu. Dan bagi saya, anak lelaki maupun perempuan keduanya mesti memiliki porsi dan hak yang sama untuk belajar melakukan pekerjaan rumah tangga.

Kok gitu sih Teh? Iya, sebab pekerjaan rumah tangga pada dasarnya adalah kebutuhan dasar life skill. Kita tak pernah tahu masa depan. Siapa tahu anak kita suka berkelana keliling dunia ala backpacker, travelling keliling Indonesia dan menikmati berbagai makanan paling enak di dunia, kuliah di luar negeri dsb. Tapi ia pasti tetap butuh kemampuan memasak (salah satunya) di awal-awal perjalanannya. Ia mesti bisa membersihkan kamar kosnya, memberikan bantuan untuk lingkungannya saat dibutuhkan, dst.

Tips Mengajari Anak Memasak

Jika anda sepakat dengan saya dan memutuskan untuk mengajari anak life skill dan diantaranya adalah memasak, yuk simak tips berikut yang merupakan ringkasan pengalaman saya mengajari Danisy (7 tahun) memasak.

1.       Niat yang kuat dan lurus murni (PPA banget ya. Hihi)

Dimulai dengan meluruskan niat. Mengajari anak memasak bukan semata biar dipuji orang, tapi agar anak memiliki life skill yang insyaallah bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya. Niatkan untuk mencontoh bagaimana Rasulullah menyiapkan kebutuhannya sendiri (dengan begini kan kita jadinya sedang melaksanakan sunnah alias meniru apa yang dilakukan Nabi).

Kuatkan niat kita agar saat ada halangan dan ujian di perjalanan anak belajar memasak, kita lebih bisa menghadapinya. Murnikan niat karena Allah semata agar dicatat sebagai ibadah, bagian tindakan dalam mengimplementasikan salah satu ayat: “tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakangmu”.

2.       Telaten

Namanya belajar, butuh ketelatenan untuk terus mencoba sampai bisa. Jangan pernah capek mendampingi anak belajar masak. Kalau kata pribahasa: “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

3.       Temani dan Contohkan Anak

Damping anak selama proses belajar masak agar ia memiliki bekal keilmuan dasar yang cukup dalam memasak. Beri contoh bagaimana memasukkan masakan ke dalam wajan, mengaduk masakan, memberi bumbu, mengocok telur, membalik telur dadar, dsb.

4.       Tega dan Sabar Membiarkan Dia Eksplorasi

Gaya dan cara memasak anak bisa jadi tidak akan sama dengan kita. Biarkan saja. Yang penting selama proses memasak, keamanan diperhatikan dan nanti output hasil memasaknya cukup baik (setidaknya untuk dia makan sendiri).

Nanti dia akan belajar bagaimana supaya telur ga gosong, bagaimana supaya garam tercampur rata, bagaimana supaya tidak terkena cipratan minyak panas, dan masih banyak lagi pelajaran dari praktek yang akan mereka dapatkan. Sabar saja bu 😊

5.       Sering-sering Berikan Ia Kesempatan Memasak

Jangan pengen hasil instan. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, jangan ingin langsung anak mahir memasak. Sering-sering berikan kesempatan untuk memasak jika ia meminta.

Ga usah panik karena anak terkena cipratan minyak, ga usah khawatir karena masakannya gosong, ga usah khawatir berlebihan ya bu. Insyaallah anak itu pembelajar yang hebat.

Pernah satu ketika anak saya memasak telur dan gosong pinggirnya. Tapi tetap menjadi makanan paling enak di dunia baginya saat itu karena ummi ga bisa masakin sedang ia tengah kelaparan. Gapapa bu, ga usah merasa kasihan. Dari situ dia akan belajar.

Jadi, siap mengajari anak memasak? 5 tips sederhana yang saya tuliskan insyaallah mudah dilaksanakan. Tinggal kesungguhannya aja untuk praktek. Hehehe.

Selamat menemani Ananda terus bereksplorasi..

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Mengatasi Bayi Rewel Sore Hari

Kehadiran Hasna di keluarga kecil kami adalah anugerah yang dinanti terutama oleh suami dan para kakek nenek. Beberapa keunikan yang nampak pada Hasna membuat saya belajar lagi.

Yap, setiap anak lahir dengan proses, cara dan tumbuh kembang yang unik. Begitu pula sifat mereka sejak dalam kandungan hingga setelah terlahir ke dunia.

Hal yang baru saya alami saat mengasuh putri kecil kami adalah anaknya sangat sensitif dengan ketidaknyamanan. Entah karena pipis, eek, bahkan urusan suhu. Kesensitifan yang paling membuat geli adalah urusan suhu.

Daerah tempat kami tinggal saat ini cenderung hampir di arah gunung sehingga suhunya dingin. Menurut saya, suami dan kedua kakaknya, Cipageran adalah daerah yang dingin dibanding tempat tinggal kami di Bandung. Awal kami pindah bahkan sampe menggigil saat pagi dan sore menjelang. Jangan tanya kalau malam. Hehe. Begitu pun pendapat orang tua kami. Dan memang demikian menurut tetangga. Dingin.

Ternyata suhu yang cukup rendah tersebut bagi Hasna tidak selalu sesuai. Semula kami tak tahu apa penyebab bayi newborn ini rewel setiap kali menjelang sore.

Saya sempat menduga bahwa Hasna terkena kolik karena dia menangis hampir tanpa jeda setiap sore hari. Maka saya mencari tahu informasi mengenai kolik.

Lakukan Hal Berikut Jika Bayi Rewel Sore Hari

Kolik (colic) merupakan sebuah situasi dimana bayi terus menerus menangis tanpa sebab. Hal ini terjadi pada sekitar 20% bayi di beberapa minggu awal setelah ia lahir dan biasanya berhenti setelah usia 4 bulan.

Tapi bayi yang rewel di sore hari belum tentu karena kolik. Maka coba cek kembali apa yang jadi penyebab anak menangis dan rewel di sore hari.

Penyebab Anak Menangis

Umumnya saat anak menangis, ada ketidaknyamanan yang akan selalu kita coba cari tahu penyebabnya. Sebab bayi belum bisa mengutarakan ketidaknyamannya kecuali dengan menangis. Diantara penyebab anak menangis adalah:

  • Lapar
    Maka susuilah.
  • Pipis atau eek, atau popok sudah penuh (jika menggunakan popok baik popok kain maupun popok sekali pakai)
    Maka bersihkan.
  • Bosan
    Maka ajak anak keluar ruangan atau melakukan kegiatan selain yang sedang dilakukan.
  • Ingin ditemani
    Maka temani anak bermain.
  • Lelah
    Biasanya karena perjalanan atau capek tengkurap (bagi anak yang baru bisa tengkurap) dan ingin kembali rebahan (terlentang).
  • Tak nyaman dengan suhu sekitar
    Suhu ruangan terlalu dingin atau terlalu panas sehingga anak tidak nyaman.
  • Pakaian tak nyaman, misal terlalu ketat
    Pakaian terlalu ketat, basah atau bahannya tidak nyaman dapat membuat bayi menangis.
  • Kondisi ruangan tak nyaman misal terlalu terang atau terlalu gelap
  • Hidung tersumbat
  • Ada dahak di tenggorokannya
  • Badannya sakit
  • Ruam popok
  • Susah buang air besar
    Hasna pernah mengalami ini. Tangisannya mirip rintihan. Duh sedih deh. Cuma bisa elus2 punggung dan pinggangnya sambil memposisikan dia agak jongkok untuk membantu pupnya keluar dengan bantuan gaya gravitasi.
  • Mulas menjelang BAB
    Terkadang beberapa bayi merasakan mulas menjelang buang air besar. Hasna pernah ngalamin. Setelah pup, dia tak lagi menangis.
  • Gumoh
  • Mual (biasanya berujung muntah)

Jika semua pengecekan di atas sudah dilakukan dan anak masih rewel, bisa jadi memang kolik. Sebab dalam kondisi kolik, semua upaya kita menghilangkan ketidaknyaman seperti yang dituliskan di atas menjadi tidak terlalu berefek.

Karena kolik pula lah ada beberapa ibu merasa dirinya tak becus mengurus anak. Apalagi jika tinggal serumah dengan orang tua. Duh, ujian sekali deh. Kemarin sempat begitu soalnya. Hehe.

Padahal kolik sendiri hingga saat ini belum diketahui penyebab pastinya. “Standar” waktu yang diberikan toleransi pada kasus kolik adalah 3 jam (atau lebih) sehari selama sekitar 3 hari dalam seminggu. Dapat terjadi selama 3 pekan atau lebih.

Para ahli sepakat kolik bukanlah gangguan kesehatan dan seringkali tak terdeteksi. Karena seringnya tangisan akibat kolik dimulai sejak petang menjelang malam dalam tempo beberapa jam dengan tangisan yang keras dan tak henti-henti, beberapa orang tua menganggap ini kejadian mistis. Padahal ini adalah hal normal dan insyaallah tidak berdampak buruk untuk tumbuh kembang anak ke depannya.

Fakta Tentang Kolik

Para ahli sepakat bahwa kolik adalah hal yang termasuk normal terjadi pada bayi. Berikut pernyataan beberapa ahli mengenai kolik.

  1. Kolik tidak mengindikasikan ada yang salah dengan tubuh bayi.
  2. Kolik dimulai dan muncul setelah beberapa hari bayi lahir.
  3. Kolik sama sekali bukan kesalahan asuh orang tua. Plis jangan memberikan beban tak perlu untuk ibu yang baru saja melahirkan.
  4. Perut kembung dan masuk angina bukanlah penyebab kolik.
  5. Kejadian kolik tidak ada kaitannya dengan tumbuh kembang dan sifat bayi kelak yang menjadi pemarah. Itu mah murni lingkungan yang mendidiknya jadi pemarah #ups maaf yaa
  6. Kolik insyaallah akan membaik dengan sendirinya tanpa perlu penanganan khusus.
  7. Tenangkan bayi yang terkenan kolik merupakan cara yang dapat dilakukan. Ibu harus tetap tenang yaa.

Saat Bayi Rewel Sore Hari, Benarkah Kolik?

Setelah baca-baca tentang kolik, saya beranggapan Hasna terkena kolik sehingga mencoba lakukan pencegahan agar tidak terjadi lagi pada Hasna. Hanya saja waktu itu data yang saya peroleh lebih pada makanan yang perlu dihindari.

Saya yang menikmati sekali me time dengan segelas coklat hangat harus rela menghentikannya karena coklat konon termasuk yang bisa menjadi penyebab kolik (meskipun data ini masih dipertanyakan validitasnya). Makanan yang perlu dihindari bisa coba cek gambar di bawah ini.

Hingga satu saat, mamah yang sedang mengantar adik ipar cek kandungan ke bidan tempat saya lahiran menanyakan perihal Hasna pada bu bidan. Tips dari ibu bidan Cuma 1: “coba dimandikan pakai air hangat. Anak pertama saya seperti itu.” Dicoba lah tips itu dan cukup berhasil.

Kenapa dikatakan “cukup”? Karena ada saat dimana Hasna tetap rewel.

Sebelumnya setiap sore Hasna tidak dimandikan tapi hanya diseka menggunakan waslap karena beberapa kekhawatiran. Ternyata Hasna sangat sensitif dengan suhu. Siang menjelang sore mungkin saat yang tak nyaman karena pergantian suhu.

Ditambah beberapa kali kena ASI sepertinya membuat Hasna ga nyaman. Kareunang kalau istilah sundanya mah. Mandi selain menyegarkan tubuh karena terbebas dari bekas ASI dan keringat, juga bisa bantu mengatur suhu.

Setelah coba tips untuk memandikan Hasna di sore hari, beberapa hari tenang tapi ga lama kemudian masih juga ada momen terulang. Mukanya merah. Ternyata dia kegerahan.

Maka kami inisiatif setiap kali mukanya merah, dikipasi dengan kipas biasa. Ga berani lagi pake kipas angin karena pernah dicoba saat di rumah mamah. Kejadiannya malah saya masuk angin dan bayinya pilek.

Setelah ketemu kemungkinan penyebab Hasna rewel, kami selalu lakukan hal yang sama saat melihat mukanya memerah. Dan alhamdulillah sejauh ini jarang sekali rewel sore maupun menjelang maghrib kecuali karena kepanasan.

Karena sudah tahu salah satu penyebab ketidaknyamanan Hasna adalah suhu yang menurut dia terlalu panas, maka kami paham ketika kemarin ke Jakarta dia masih rewel rupanya AC kamar hotel kurang dingin (padahal itu sudah 23 dan menurut kami dingin). Ketika di perjalanan saya pakaikan dia jaket dan jilbab agar hangat, khawatir kedinginan kena AC mobil ternyata malah ga bisa tidur nyenyak. Setelah jaket dan jilbab dilepas, hanya kaos pendek dan celana panjang, ia anteng sampai tujuan. Subhanallah yaa 😀

Jadi jika bayi anda rewel sore hari, mungkin penyebabnya kolik atau malah sesederhana pengen mandi sore maupun sekadar kegerahan ingin dikipasi.  Selamat belajar mengasuh bayi ibu dan ayah 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.