Menjadi Orang Tua Pendidik Anak

Pendidik adalah arsitek peradaban, bukan tabib kebiadaban apalagi kuli kebiadaban. Itulah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah #FBE

Kutipan di atas adalah status Pak Harry Santosa pagi ini. Sebuah reminder yang mengingatkan lagi kami pada bahasan di seminar Parenting Bersama beliau Ahad lalu. Masyaallah. Suami yang alhamdulillah seorang arsitek jadi lebih mudah memahami sekaligus bergairah dengan kalimat ini.

Semula saya masih belum sepenuhnya paham. Ya, ketika di seminar kemarin masih belum “anceg” pemahaman atas kalimat itu. Tapi qadarullah pagi ini Allah ilhamkan pemahaman, biidznillah.

Arsitek bermakna seseorang yang terlibat aktif dalam membangun, baik membangun sejak awal maupun “renovasi”. Bagi seorang arsitek, salah satu yang diperhatikan adalah pondasi dan selanjutnya kualitas bahan dan bangunan secara menyeluruh.

Jika membangun dari awal, tentu akan lebih mudah karena semua sudah terencana sejak semula. Yang menjadikan saya manggut-manggut adalah, bagaimana jika kondisinya bukan membantun dari awal tapi “renovasi”? Bahkan ternyata dalam proses renovasi rumah pun, suami perlu mengetahui pondasi bangunan yang akan direnov tersebut. Jika pemilik rumah hendak membangun menjadi 2 tingkat atau lebih, akan dicek apakah cukup atau musti dibentuk pondasi baru. Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ibu Sebagai Poros Cinta

Menjalani peran sebagai seorang ibu mengajarkan saya banyak hal tentang dunia manusia. Rasanya peran ini mengharuskan saya paham banyak bahasan mengenai human development. 

Bersyukurlah bagi teman-teman yang belum menikah tapi sudah menjadi pendidik, sebab kalian bisa bersiap sebelum amanah itu hadir. 

Sedang bagi saya yang dulu persiapannya kurang, rasanya sekarang kejar-kejaran mencari ilmu dan menerapkannya. Jika ada yang senasib, tenang anda tidak sendiri. Hehe.

Meski demikian, kesadaran ini janganlah malah dijadikan beban. Minimnya ilmu yang membuat kita ingin belajar disana-sini juga perlu diatur. Sebab salah-salah bukannya menghasilkan pendidikan yang lebih baik, malah anak terbengkalai karena alasan nyari ilmu. 

Pengalaman saya yang merasa belum cukup berbekal, pernah jatuh pada kondisi dimana saya pada akhirnya malah overload informasi. Akibatnya bisa ditebak, saya bingung mana yang harus diterapkan sedangkan usia anak terus bertambah. 

Maka tips dari saya, tetapkan prioritas ilmu yang akan kita pelajari. Beberapa diantara yang mungkin dapat teman-teman pertimbangkan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan anak dalam Islam
  2. Fitrah manusia
  3. Milestone tumbuh kembang anak

Prioritas ini karena selain belajar tentang dunia anak, kita juga perlu update tentang ilmu mengenai pasangan (suami istri) dan pernikahan. Sebab sebaik apapun teori parenting yang kita kuasai, jika aliran cinta antara suami istri kurang baik, energi negatifnya nyampe ke anak. 

Jika tidak menerapkan prioritas, akhirnya kita bingung mau ngapain aja nih. Rasanya ingin semua dipelajari biar perfect. Padahal untuk awal, penting memperhatikan hal-hal yang sifatnya pondasi entah pondasi pernikahan maupun pondasi pendidikan anak. 

Bahkan jika kurang pandai mengatur emosi, tidak adanya prioritas membuat ibu uring-uringan. Akibatnya? Bisa ditebak. Suami kena semprot, anak kena omel. 

Padahal kita sedang belajar untuk mereka kan? Apa untuk kepuasan pribadi aja biar disebut ibu yang hebat bisa didik anak-anaknya atau takut disebut ibu yang ga becus ngurus anak? Insyaallah bukan keduanya ya..

Dengan memiliki prioritas, emosi cenderung lebih mudah diatur sebab kita paham mana yang mesti didahulukan dan mana yang urgent dipelajari serta dipraktekkan. 

Selow tapi ga lamban. Perlahan, insyaallah pasti. 

Sebab ibu adalah poros cinta dan kewarasan. Sebah secara fitrah, perempuan diberi Allah kemampuan mencintai lebih banyak daripada laki-laki. Ibu diberi Allah kekuatan untuk menjadi poros tempat cinta suami dan anak-anak berlabuh.

Jika ibu bahagia dengan sebenar-benarnya (bukan memendam rasa dan pura-pura bahagia), maka rasa bahagia itu akan memenuhi seisi rumah. Memancarkan semangat yang tak dapat ditularkan oleh siapapun kecuali dari seorang ibu.

Ibu yang bahagia akan memancarkan keceriaan saat menyiapkan segala keperluan suami dan anak. Ibu yang bahagia akan menyebarkan sinar cinta kala mengantar suami dan anaknya berangkat keluar rumah lalu menyambut kepulangan mereka kembali usai beraktivitas.

Sebaliknya ketika ibu sedang sedih atau kecewa, rasa yang meski ia pendam tetap akan memancar melalui mata maupun ekspresi tubuhnya. Hingga semangat yang tadinya menjadi energi seluruh penghuni rumah, menghilang tak tau kemana.

Menjadi poros seringkali tak mudah. Kenali diri, apa saja kiranya yang menjadi penyebab emosi tak stabil. Ajak suami untuk saling memahami apa kiranya yang mengganggu stabilitas keluarga dan hubungan suami istri. Lalu sepakati bersama solusinya.

Menjadi poros membuat hampir sebagian besar tumpuan ada pada diri kita. Maka poros ini mesti senantiasa dijaga, diurus dan dirawat dengan baik.

Jagalah diri dengan keimanan, ibadah yang baik. Milikilah amal andalan yang selalu dijalankan secara berkesinambungan. Rayu Allah agar senantiasa menemani dan menjaga kita. Agar cinta tetap membara, dan kewarasan tetap terjaga. 

Ajak suami untuk memahami diri kita dan dirinya sendiri. Kenali anak-anak. Bangun bonding yang kuat. Teman-teman bisa menggunakan berbagai metode, tes biometrik STIFIn misalnya (seperti yang kami gunakan).

Jika dalam membangun rumah saja kita rela menunggu prosesnya, apalah lagi membangun “isi” rumah yang ini merupakan misi jangka panjang seumur hidup: diri, pasangan dan anak-anak.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Mengajari Anak Memasak

Memiliki tiga anak ternyata membuat saya makin bahagia ketika tahu si sulung sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan si tengah udah mulai bisa menyiapkan kebutuhannya tanpa bantuan Ummi dan Aa. Setidaknya dengan begitu, ummi ga harus selalu mengurusi 3 anak yang mana bisa saja membuat saya spaneng. Ya, meskipun tetap saja ada momen dimana mereka bikin spaneng. Wajar lah ya. Namanya juga manusia, life is never flat.

Si sulung Danisy saat ini usianya 7 tahun sementara Azam berusia 4 tahun. Soal kemandirian kami tekankan di usia 4 tahun. Prosesnya memang tidak selalu mudah. Butuh komitmen, ketegasan dan kesabaran semua pihak terutama orang-orang dewasa sebab biasanya yang susah sabar menghadapi proses anak belajar mandiri itu justru orang dewasa di sekitar anak-anak. Heuheu. Curcol.

Makanan Ibu Paling Enak

Masakan ibu selalu jadi makanan paling enak di dunia. Sepakat? Ada yang sepakat tapi mungkin ada juga yang kurang setuju. Tak masalah. Kita ga harus sama kok 😀

Wajar saja sebetulnya jika seorang anak selalu menganggap masakan ibunya adalah yang paling pas di lidah. Bagaimana tidak, sejak pertama kali mengenal rasa selain ASI, anak kemungkinan besar menikmati masakan ibunya di fase MPASI dan fase berikutnya. Sehingga anak terbiasa bertahun-tahun mengkonsumsi masakan ibu.

Meskipun semakin beranjak dewasa tambah banyak varian rasa yang diicip, tetap saja ada masa kangen masakan ibu. Minimal kangen momen saat dimasakin makanan oleh ibu 😀

Tapi okeh banget lho kalau ngajarin anak lelaki kita memasak. Biar selain kangen masakan ummi, semoga nanti ada juga yang “kangen masakan ayah” karena anak kita saat punya anak nanti bisa masakin anaknya makanan.

Mengajari Anak Lelaki Memasak

Seringkali saya mendapatkan pernyataan “satu lagi atuh, anak perempuan biar ada yang bantuin ummi di rumah” ketika melihat anak kami dua-duanya laki-laki. Hmm. Saya hanya balas dengan senyuman dan berterima kasih atas doanya. Alhamdulillah ternyata dikabulkan Allah dengan lahirnya Hasna.

Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan mereka. Sebab adanya anak, baik lelaki maupun perempuan bukan semata urusan “biar ada yang bantu” tapi jauh lebih dari itu. Dan bagi saya, anak lelaki maupun perempuan keduanya mesti memiliki porsi dan hak yang sama untuk belajar melakukan pekerjaan rumah tangga.

Kok gitu sih Teh? Iya, sebab pekerjaan rumah tangga pada dasarnya adalah kebutuhan dasar life skill. Kita tak pernah tahu masa depan. Siapa tahu anak kita suka berkelana keliling dunia ala backpacker, travelling keliling Indonesia dan menikmati berbagai makanan paling enak di dunia, kuliah di luar negeri dsb. Tapi ia pasti tetap butuh kemampuan memasak (salah satunya) di awal-awal perjalanannya. Ia mesti bisa membersihkan kamar kosnya, memberikan bantuan untuk lingkungannya saat dibutuhkan, dst.

Tips Mengajari Anak Memasak

Jika anda sepakat dengan saya dan memutuskan untuk mengajari anak life skill dan diantaranya adalah memasak, yuk simak tips berikut yang merupakan ringkasan pengalaman saya mengajari Danisy (7 tahun) memasak.

1.       Niat yang kuat dan lurus murni (PPA banget ya. Hihi)

Dimulai dengan meluruskan niat. Mengajari anak memasak bukan semata biar dipuji orang, tapi agar anak memiliki life skill yang insyaallah bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya. Niatkan untuk mencontoh bagaimana Rasulullah menyiapkan kebutuhannya sendiri (dengan begini kan kita jadinya sedang melaksanakan sunnah alias meniru apa yang dilakukan Nabi).

Kuatkan niat kita agar saat ada halangan dan ujian di perjalanan anak belajar memasak, kita lebih bisa menghadapinya. Murnikan niat karena Allah semata agar dicatat sebagai ibadah, bagian tindakan dalam mengimplementasikan salah satu ayat: “tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakangmu”.

2.       Telaten

Namanya belajar, butuh ketelatenan untuk terus mencoba sampai bisa. Jangan pernah capek mendampingi anak belajar masak. Kalau kata pribahasa: “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

3.       Temani dan Contohkan Anak

Damping anak selama proses belajar masak agar ia memiliki bekal keilmuan dasar yang cukup dalam memasak. Beri contoh bagaimana memasukkan masakan ke dalam wajan, mengaduk masakan, memberi bumbu, mengocok telur, membalik telur dadar, dsb.

4.       Tega dan Sabar Membiarkan Dia Eksplorasi

Gaya dan cara memasak anak bisa jadi tidak akan sama dengan kita. Biarkan saja. Yang penting selama proses memasak, keamanan diperhatikan dan nanti output hasil memasaknya cukup baik (setidaknya untuk dia makan sendiri).

Nanti dia akan belajar bagaimana supaya telur ga gosong, bagaimana supaya garam tercampur rata, bagaimana supaya tidak terkena cipratan minyak panas, dan masih banyak lagi pelajaran dari praktek yang akan mereka dapatkan. Sabar saja bu 😊

5.       Sering-sering Berikan Ia Kesempatan Memasak

Jangan pengen hasil instan. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, jangan ingin langsung anak mahir memasak. Sering-sering berikan kesempatan untuk memasak jika ia meminta.

Ga usah panik karena anak terkena cipratan minyak, ga usah khawatir karena masakannya gosong, ga usah khawatir berlebihan ya bu. Insyaallah anak itu pembelajar yang hebat.

Pernah satu ketika anak saya memasak telur dan gosong pinggirnya. Tapi tetap menjadi makanan paling enak di dunia baginya saat itu karena ummi ga bisa masakin sedang ia tengah kelaparan. Gapapa bu, ga usah merasa kasihan. Dari situ dia akan belajar.

Jadi, siap mengajari anak memasak? 5 tips sederhana yang saya tuliskan insyaallah mudah dilaksanakan. Tinggal kesungguhannya aja untuk praktek. Hehehe.

Selamat menemani Ananda terus bereksplorasi..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Mengatasi Bayi Rewel Sore Hari

Kehadiran Hasna di keluarga kecil kami adalah anugerah yang dinanti terutama oleh suami dan para kakek nenek. Beberapa keunikan yang nampak pada Hasna membuat saya belajar lagi.

Yap, setiap anak lahir dengan proses, cara dan tumbuh kembang yang unik. Begitu pula sifat mereka sejak dalam kandungan hingga setelah terlahir ke dunia.

Hal yang baru saya alami saat mengasuh putri kecil kami adalah anaknya sangat sensitif dengan ketidaknyamanan. Entah karena pipis, eek, bahkan urusan suhu. Kesensitifan yang paling membuat geli adalah urusan suhu.

Daerah tempat kami tinggal saat ini cenderung hampir di arah gunung sehingga suhunya dingin. Menurut saya, suami dan kedua kakaknya, Cipageran adalah daerah yang dingin dibanding tempat tinggal kami di Bandung. Awal kami pindah bahkan sampe menggigil saat pagi dan sore menjelang. Jangan tanya kalau malam. Hehe. Begitu pun pendapat orang tua kami. Dan memang demikian menurut tetangga. Dingin.

Ternyata suhu yang cukup rendah tersebut bagi Hasna tidak selalu sesuai. Semula kami tak tahu apa penyebab bayi newborn ini rewel setiap kali menjelang sore.

Saya sempat menduga bahwa Hasna terkena kolik karena dia menangis hampir tanpa jeda setiap sore hari. Maka saya mencari tahu informasi mengenai kolik.

Lakukan Hal Berikut Jika Bayi Rewel Sore Hari

Kolik (colic) merupakan sebuah situasi dimana bayi terus menerus menangis tanpa sebab. Hal ini terjadi pada sekitar 20% bayi di beberapa minggu awal setelah ia lahir dan biasanya berhenti setelah usia 4 bulan.

Tapi bayi yang rewel di sore hari belum tentu karena kolik. Maka coba cek kembali apa yang jadi penyebab anak menangis dan rewel di sore hari.

Penyebab Anak Menangis

Umumnya saat anak menangis, ada ketidaknyamanan yang akan selalu kita coba cari tahu penyebabnya. Sebab bayi belum bisa mengutarakan ketidaknyamannya kecuali dengan menangis. Diantara penyebab anak menangis adalah:

  • Lapar
    Maka susuilah.
  • Pipis atau eek, atau popok sudah penuh (jika menggunakan popok baik popok kain maupun popok sekali pakai)
    Maka bersihkan.
  • Bosan
    Maka ajak anak keluar ruangan atau melakukan kegiatan selain yang sedang dilakukan.
  • Ingin ditemani
    Maka temani anak bermain.
  • Lelah
    Biasanya karena perjalanan atau capek tengkurap (bagi anak yang baru bisa tengkurap) dan ingin kembali rebahan (terlentang).
  • Tak nyaman dengan suhu sekitar
    Suhu ruangan terlalu dingin atau terlalu panas sehingga anak tidak nyaman.
  • Pakaian tak nyaman, misal terlalu ketat
    Pakaian terlalu ketat, basah atau bahannya tidak nyaman dapat membuat bayi menangis.
  • Kondisi ruangan tak nyaman misal terlalu terang atau terlalu gelap
  • Hidung tersumbat
  • Ada dahak di tenggorokannya
  • Badannya sakit
  • Ruam popok
  • Susah buang air besar
    Hasna pernah mengalami ini. Tangisannya mirip rintihan. Duh sedih deh. Cuma bisa elus2 punggung dan pinggangnya sambil memposisikan dia agak jongkok untuk membantu pupnya keluar dengan bantuan gaya gravitasi.
  • Mulas menjelang BAB
    Terkadang beberapa bayi merasakan mulas menjelang buang air besar. Hasna pernah ngalamin. Setelah pup, dia tak lagi menangis.
  • Gumoh
  • Mual (biasanya berujung muntah)

Jika semua pengecekan di atas sudah dilakukan dan anak masih rewel, bisa jadi memang kolik. Sebab dalam kondisi kolik, semua upaya kita menghilangkan ketidaknyaman seperti yang dituliskan di atas menjadi tidak terlalu berefek.

Karena kolik pula lah ada beberapa ibu merasa dirinya tak becus mengurus anak. Apalagi jika tinggal serumah dengan orang tua. Duh, ujian sekali deh. Kemarin sempat begitu soalnya. Hehe.

Padahal kolik sendiri hingga saat ini belum diketahui penyebab pastinya. “Standar” waktu yang diberikan toleransi pada kasus kolik adalah 3 jam (atau lebih) sehari selama sekitar 3 hari dalam seminggu. Dapat terjadi selama 3 pekan atau lebih.

Para ahli sepakat kolik bukanlah gangguan kesehatan dan seringkali tak terdeteksi. Karena seringnya tangisan akibat kolik dimulai sejak petang menjelang malam dalam tempo beberapa jam dengan tangisan yang keras dan tak henti-henti, beberapa orang tua menganggap ini kejadian mistis. Padahal ini adalah hal normal dan insyaallah tidak berdampak buruk untuk tumbuh kembang anak ke depannya.

Fakta Tentang Kolik

Para ahli sepakat bahwa kolik adalah hal yang termasuk normal terjadi pada bayi. Berikut pernyataan beberapa ahli mengenai kolik.

  1. Kolik tidak mengindikasikan ada yang salah dengan tubuh bayi.
  2. Kolik dimulai dan muncul setelah beberapa hari bayi lahir.
  3. Kolik sama sekali bukan kesalahan asuh orang tua. Plis jangan memberikan beban tak perlu untuk ibu yang baru saja melahirkan.
  4. Perut kembung dan masuk angina bukanlah penyebab kolik.
  5. Kejadian kolik tidak ada kaitannya dengan tumbuh kembang dan sifat bayi kelak yang menjadi pemarah. Itu mah murni lingkungan yang mendidiknya jadi pemarah #ups maaf yaa
  6. Kolik insyaallah akan membaik dengan sendirinya tanpa perlu penanganan khusus.
  7. Tenangkan bayi yang terkenan kolik merupakan cara yang dapat dilakukan. Ibu harus tetap tenang yaa.

Saat Bayi Rewel Sore Hari, Benarkah Kolik?

Setelah baca-baca tentang kolik, saya beranggapan Hasna terkena kolik sehingga mencoba lakukan pencegahan agar tidak terjadi lagi pada Hasna. Hanya saja waktu itu data yang saya peroleh lebih pada makanan yang perlu dihindari.

Saya yang menikmati sekali me time dengan segelas coklat hangat harus rela menghentikannya karena coklat konon termasuk yang bisa menjadi penyebab kolik (meskipun data ini masih dipertanyakan validitasnya). Makanan yang perlu dihindari bisa coba cek gambar di bawah ini.

Hingga satu saat, mamah yang sedang mengantar adik ipar cek kandungan ke bidan tempat saya lahiran menanyakan perihal Hasna pada bu bidan. Tips dari ibu bidan Cuma 1: “coba dimandikan pakai air hangat. Anak pertama saya seperti itu.” Dicoba lah tips itu dan cukup berhasil.

Kenapa dikatakan “cukup”? Karena ada saat dimana Hasna tetap rewel.

Sebelumnya setiap sore Hasna tidak dimandikan tapi hanya diseka menggunakan waslap karena beberapa kekhawatiran. Ternyata Hasna sangat sensitif dengan suhu. Siang menjelang sore mungkin saat yang tak nyaman karena pergantian suhu.

Ditambah beberapa kali kena ASI sepertinya membuat Hasna ga nyaman. Kareunang kalau istilah sundanya mah. Mandi selain menyegarkan tubuh karena terbebas dari bekas ASI dan keringat, juga bisa bantu mengatur suhu.

Setelah coba tips untuk memandikan Hasna di sore hari, beberapa hari tenang tapi ga lama kemudian masih juga ada momen terulang. Mukanya merah. Ternyata dia kegerahan.

Maka kami inisiatif setiap kali mukanya merah, dikipasi dengan kipas biasa. Ga berani lagi pake kipas angin karena pernah dicoba saat di rumah mamah. Kejadiannya malah saya masuk angin dan bayinya pilek.

Setelah ketemu kemungkinan penyebab Hasna rewel, kami selalu lakukan hal yang sama saat melihat mukanya memerah. Dan alhamdulillah sejauh ini jarang sekali rewel sore maupun menjelang maghrib kecuali karena kepanasan.

Karena sudah tahu salah satu penyebab ketidaknyamanan Hasna adalah suhu yang menurut dia terlalu panas, maka kami paham ketika kemarin ke Jakarta dia masih rewel rupanya AC kamar hotel kurang dingin (padahal itu sudah 23 dan menurut kami dingin). Ketika di perjalanan saya pakaikan dia jaket dan jilbab agar hangat, khawatir kedinginan kena AC mobil ternyata malah ga bisa tidur nyenyak. Setelah jaket dan jilbab dilepas, hanya kaos pendek dan celana panjang, ia anteng sampai tujuan. Subhanallah yaa 😀

Jadi jika bayi anda rewel sore hari, mungkin penyebabnya kolik atau malah sesederhana pengen mandi sore maupun sekadar kegerahan ingin dikipasi.  Selamat belajar mengasuh bayi ibu dan ayah 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Anak Ketagihan Gadget Atau Ortu yang Keranjingan Gadget?

Setelah seringkali memperhatikan anak-anak baik Danisy-Azam maupun yang lain, fitrah anak itu sebenarnya SENANG alias SUKA sama ILMU. Termasuk di dalamnya, suka sama buku -salah satu sumber ilmu. Eatlah, makanlah dengan lahap semua ilmu.

Selama ibu dan ayahnya bersedia MELUANGKAN  WAKTU  untuk MEMBACAKAN buku atau berkomunikasi hal-hal terkait ilmu maupun pengetahuan, anak biasanya akan tertarik.

Hanya saja kadang kita terlalu sibuk pada urusan lain. Saya pribadi menyadari, kadang sering terlalu sibuk dengan pekerjaan atau hp. Dan ga jarang ternyata kegiatan itu ga ada gunanya karena “cuma” haha hihi di grup ngomongin eatlah, ngomongin chatime lah, misalnya. Waktu habis untuk scroll timeline fb contohnya, dan masih banyak contoh lain. Mungkin teman-teman mau menambahkan? 😀

Sudah sebulan ini asyik dan senang melihat Azam ketagihan dibacakan buku -meskipun emaknya ini sempet keder karena minta dibacain dari pagi ampe malem. Apalagi ada bayi #halesan

Jadi, benar adanya apa yang dikatakan di berbagai artikel parenting bahwa anak yang ketagihan gadget bisa jadi memang anak yang kurang perhatian. Ibu bapaknya ada, tapi tidak sepenuhnya hadir. Jasadnya ada, tapi hati tidak saling terpaut. Fisiknya terlihat tapi hatinya tidak turut serta.

Sedangkan jiwa akan saling bertemu dengan yang frekuensinya sama. Jiwa anak yang masih bersih dan sensitif terhadap resonansi sekitar tentu akan sangat sadar kapan orang tuanya betul-betul HADIR dengan saat dimana orang tuanya HANYA ada disana. Tidak sepenuhnya memperhatikan dirinya.

Pada ANAK, jiwa mereka masih sangat DEKAT dengan FITRAH sehingga kita sebagai ORANG TUA yang perlu terus MEMPERBAIKI DIRI agar semakin mendekati fitrah kebaikan.

Maka diperlukan komitmen yang luar biasa besar untuk bisa membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, hobi (diri sendiri juga berhak dong dapet pemanjaan sesaat), keluarga, pasangan, dan hal lainnya yang mampir dalam kehidupan kita. Sebab melepaskan anak dari gadget itu harus diawali dengan niat dan diperkuat contoh dari kita.

Coba ingat-ingat, berapa kali kita melarang anak main hp terus tapi ternyata justru kita sedang asyik browsing resep, chit chat, main game, atau sekadar update status facebook? Sehingga anak yang cenderung lebih mudah diarahkan itu akhirnya protes “kok ummi pegang hp aja?” nah lho..

Pengalaman saya melepaskan Azam anak kedua kami dari ketergantungan sama gadget, yang kudu pertama kali melepas ketergantungan gadget adalah emak bapaknya. Meskipun anak-anak paham ada saat dimana saya pegang hp untuk kerja. Maklum ya emak-emak eksis, yang konsultasi hasil tes STIFIn-nya pan seringkali via whatsapp. Tapi mereka bisa lihat kok. Kalau yang dibuka WA memang artinya ummi sedang ada konsul, sedang ngisi kelas atau sedang ada kerjaan lain. Ya sesekali lirik grup haha hihi yang bahasannya selalu berakhir dengan eatlah 😛

So, sebelum menghakimi anakku seneng gadget (dan meminta bantuan ahli), coba dulu aja tips sederhananya: perbanyak bercengkrama, kurangi pegang hp saat acara keluarga, jadilah contoh pengguna gadget yang bijak. Karena pada akhirnya tanpa disadari sesungguhnya anak meniru kita orang tuanya.

Saya sadar mulai ketagihan gadget itu ya saat tiba-tiba.. sedikit-sedikit pegang hp, dikit-dikit lirik hp, buka tutup kunci hp, buka-buka wa, facebook dll tanpa ada tujuan sama sekali. See? Jadi yang ketagihan gadget itu anaknya apa emak bapaknya?

Catat: yang saya bahas ketagihan ya. Kalo masih bisa ditolerir ngikuti aturan mah berarti bukan ketagihan kan? Sebab bagaimana pun kelak mereka akan terbiasa. Kita yang perlu memberitahu mereka mana yang perlu, kapan diperbolehkan menggunakan gadget, dsb.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjalin Komunikasi

We cannot not communicate – Paul Watzlawik

Quote ini banyak beredar dan disebutkan di berbagai kesempatan terkait komunikasi. Menarik memang sebab quote sederhana ini nyatanya tidaklah sederhana. “Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi”. Meluruskan kembali bahwa berkomunikasi bukanlah sekadar berbicara, ngobrol atau berbincang saja. Ada banyak faktor dalam sebuah kata bernama komunikasi.

Komunikasi adalah sebuah skill yang perlu terus diasah guna membangun hubungan yang sehat dengan siapapun. Berbicara hanyalah salah satu seni berkomunikasi. Lebih dari 50% masalah dalam rumah tangga maupun kehidupan secara umum diakibatkan komunikasi yang buruk. Memang terkesan klise tapi faktanya belum banyak yang menyengajakan belajar cara komunikasi yang berkualitas.

Seperti saat jalan-jalan di luar, suami memutuskan mampir di warung nasi gudeg sementara anak-anak tidak terlalu suka (nampak dari gerak mimik muka maupun tubuh mereka). Itu adalah bagian dari komunikasi juga. Maka kami mengkomunikasikan dengan memberi beberapa pilihan, akhirnya anak-anak membeli ayam goreng.

Menjalin Komunikasi Dengan Anak Sejak Dini

Sejak kecil semua manusia (bahkan hewan) sudah mampu berkomunikasi meski dengan cara yang paling sederhana: menangis, tersenyum, rewel, ceria. Semua bagian dari komunikasi.

Sejak saat itu pula kita sudah menjalin komunikasi dengan bayi, bahkan sejak ia berada dalam kandungan. Di usia janin yang sudah cukup besar, ia membalas komunikasi kita dengan tendangan di perut ibu, atau respon lainnya.

Di hampir setiap kesempatan, selalu ada komunikasi yang terjalin meski dalam kondisi diam sekalipun. Begitu pula dengan anak-anak. Mereka mampu menjalin komunikasi dengan para orang dewasa dengan caranya sendiri.

Namun pada beberapa situasi setelah anak memasuki fase balita, ada momen bernama tantrum. Momen dimana anak menginginkan sesuatu atau merasakan ketidaknyamanan, namun belum mampu mengutarakan dengan baik sementara orang dewasa tidak mengerti keinginannya.

Anak hadir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, maka menjalin komunikasi ini penting dilakukan sejak dini agar ia terbiasa untuk belajar berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Mengajak ia belajar mengutarakan perasaan maupun hal lainnya.

Anak yang lingkungannya memiliki gaya komunikasi yang baik cenderung akan tumbuh memiliki emotional intelligence yang baik.

Masih ingat cerita mampir di warung nasi gudeg? Anak-anak yang sedang lapar mencari-cari tempat yang mereka inginkan tapi tak juga menemukannya dan ketika terlihat, tempatnya sudah kadung terlewat. Sementara kami pun sudah sangat lapar pula setelah melewati perjalanan cukup melelahkan. Suami yang nyetir akhirnya memutuskan untuk mencari warung makan terdekat.

Setelah melaju kembali beberapa saat, tempat makan yang klop di selera suami ya paling warung nasi gudeg itu. Kami pun mampir. Anak-anak tentu agak malas turun. Tapi kami mengajak mereka berbicara. Memberikan beberapa pertimbangan dan kemungkinan. Bagaimanapun karena menyetir, suami yang paling butuh asupan makanan.

Akhirnya dengan lunglai mereka turun dari kendaraan menuju warung nasi gudeg yang dimaksud abinya. Setelah melihat-lihat, akhirnya wajah mereka agak sumringah karena ternyata ada menu lain disana: ayam goreng. Syukurlah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali mampir, 4 orang bisa makan di tempat yang sama meski seleranya berbeda.

Tips Menjalin Komunikasi

Dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak maupun keluarga secara umum, maka perhatikan 5 poin berikut:

  1. Jadilah pendengar yang baik
  2. Hati-hati dengan asumsi
  3. Perhatikan intonasi
  4. Sensitive memahami Bahasa tubuh
  5. Nyalakan rada terhadap sekecil apapun perubahan

Kelima poin di atas saya dapati dalam buku Menikah Untuk Bahagia. Saat mencoba menjalin komunikasi dengan anak, salah satu tipsnya adalah: sejajarkan diri entah dengan berlutut, duduk atau membungkuk. Hadirkan hati dan pikiran: mindfulness.

Saat anak mengucapkan atau melakukan sesuatu, konfirmasikan padanya apakah asumsi kita benar atau salah. Jangan berasumsi sembarangan. Bisa jadi bukan seperti itu maksud si anak.

Anak sangat sensitive dengan intonasi. Apalagi mereka jago sekali mengenali pola bicara dan gerak tubuh orang tuanya. Maka saat berbicara perhatikan intonasi kita. Agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

Sebagai orang tua, kita setidaknya paham lebih banyak tentang Bahasa tubuh anak kita. Maka ketika ia tiba-tiba tidak Nampak seperti biasanya, ayah bunda patut waspada. Dekati dengan hati-hati, buat dia nyaman. Setelah itu jika ia tak ingin bercerita, biarkanlah dulu. Jika kemudian ia ingin bercerita, maka jadilah pendengar yang baik. Dengarkan hingga selesai, baru beri masukan atau pendapat.

Selamat belajar komunikasi. Mari menjalin komunikasi yang baik dengan anak, pasangan dan manusia secara umum.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Dukungan Bagi Seorang Ibu, Bahan Bakar Cinta Baginya

Demi menjaga mood, seorang ibu terkadang harus belajar mendelegasikan pekerjaan yang sekiranya bisa diserahkan atau memilih prioritas mana yang perlu dan urgent diselesaikan dan mana yang bisa ditunda terlebih dahulu. Memiliki bayi dengan kakak usia 7 tahun dan 4 tahun cukup menjadi sebuah situasi dimana emak kudu waras. Heuheu.

Membaca berbagai status para ibu yang berseliweran di timeline alias linimasa akun facebook, terkadang saya menangkap ada dilema yang dialami oleh beberapa ibu. Biasanya terkait pekerjaan rumah, mencari penghasilan tambahan (entah karena nafkah dari suami kurang atau apapun itu, saya kurang paham), memasak atau beli makanan jadi di luar, sifat perfeksionis, dan lain sebagainya.

Saya sendiri paham bahwa tidak mudah untuk seseorang yang perfeksionis menurunkan standarnya sebab suami termasuk yang perfeksionis. Awal-awal nikah beliau sering uring-uringan jika melihat cara saya bekerja.

Rumah yang bagi saya sudah rapi, menurut standar beliau masih jauh dari kata “bagus”. Akhirnya bisa ditebak, kami berselisih bahwa saya sudah berusaha merapikan serapi mungkin dan itu sudah di atas standar.

Setelah melakukan tes STIFIn barulah kami sadar bahwa ada perbedaan yang memang sangat bertolak belakang antara saya dan suami. Suami yang Thinking sangat peka penglihatannya sedangkan saya yang Feeling cenderung tidak terlalu peka dengan kerapian seperti itu.

Meskipun pada beberapa kasus, saya lebih rapi dari beliau. Tapi secara keseluruhan, beliau lebih peka. Akhirnya kami sepakat mengambil jalan tengah. Saya memperbaiki, suami menurunkan standarnya.

Kembali pada sifat perfeksionis, setelah menjadi ibu -lebih tepatnya setelah berkeluarga, dan tak hanya berlaku pada seorang istri sebetulnya- kita akan dihadapkan pada realitas untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan baru dengan keluarga baru. Apalagi adaptasi memiliki anak, bertambahlah tugas dan kewajiban sebagai seorang individu.

Bentuk Dukungan untuk Seorang Ibu

Dengan semakin maraknya sosial media dan terbukanya akses internet di berbagai kalangan, bermacam informasi dengan sangat mudah kita dapatkan. Termasuk berbagai komentar pun akan dengan mudah masuk ke kehidupan kita. Maka kontrol dalam diri perlu diperkuat.

Tak jarang saat ada seorang ibu membuat status yang kurang lebih isinya seperti keluhan atau curhat, berbagai komentar baik berupa dukungan maupun yang kontra akan masuk. Maka jika tidak kuat dengan hal tersebut, disarankan untuk para ibu agar tidak mengumbar urusan internal ke luar.

Dukungan bagi seorang ibu terkadang sederhana. Suami mengizinkan istri mencuci dengan mesin, memasak nasi menggunakan magicom, sesekali jajan di luar. Dan tentu akan sangat membahagiakan jika suami memfasilitasi itu semua. Seperti saat jalan-jalan di Jakarta lalu berinisiatif mencari tempat makan di blok M saat makan siang tiba. Hehe.

Sebagai seorang istri, yang saya rasakan memang dukungan suami terhadap mood istri itu memiliki persentase yang luar biasa. Meskipun dukungan lingkungan secara menyeluruh juga diperlukan, akan tetapi dukungan suami itu menjadi peran kunci menurut saya mah.

Sebab jika suami sudah sejalan, rintangan dan tantangan dari pihak luar entah itu keluarga besar, tetangga, teman, kerabat dsb, tidak akan terlalu membuat seorang ibu tertekan. Ia memiliki tempat bercerita, bersandar dan berbagi kekuatan.

Suami perlu sadar bahwa dirinya dapat menjadi sumber energi besar bagi seorang istri. Dan sebaliknya, istri pun adalah sumber energi besar bagi seorang suami.

Teringat saat ada acara kopdar di Jakarta beberapa tahun lalu. Suami tahu bahwa saya butuh refreshing, bertemu langsung dengan teman yang sudah kenal lama di dunia maya akan membahagiakan sekali. Sayangnya ia tak dapat menemani saya pergi sementara saat itu kami sudah memiliki 2 putra, satu bayi dan satu balita. Terbayang jika berangkat sendiri.

Akhirnya suami mengizinkan saya berangkat dengan mengajak mamah turut serta. Semata memastikan saya tidak pergi sendiri dan ada teman untuk bantu jaga anak-anak.

Pertemuan seharian dengan teman dunia maya di area tempat makan di blok M itu cukup menjadi mood booster saya selama berhari-hari. Suami paham saya sedang jenuh karena kondisi saat itu saya yang terbiasa bekerja di luar dan kuliah, akhirnya tinggal di rumah.

Ibu, Tetaplah Menjadi Dirimu

Menjadi ibu artinya kita menjadi tumpuan perhatian dalam keluarga. Suami dan anak-anak membutuhkan ibu hadir untuk memenuhi hati mereka dengan kasih sayang. Ya, sebetulnya kebutuhan anak dan suami adalah ibu hadir dengan kasih sayangnya.

Akan tetapi, karena tumbuh di budaya timur kita terbiasa mengerti bahwa ibu melakukan segala pekerjaan rumah tanpa harus memikirkan diri sendiri. Istilahnya, berkorban untuk anak dan suami. Berada di balik kesuksesan mereka.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu. Hanya saja terkadang hal tersebut membuat seorang ibu kehilangan dirinya.

Meskipun berdasarkan pengalaman saya pribadi, memang setelah menjadi istri dan ibu rasanya panggilan jiwa lebih fokus pada mendahulukan mereka dibanding diri sendiri. Akan tetapi suami sering mengingatkan bahwa saya berhak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri. Agar tetap perform sebagai pribadi dan mampu menghadirkan nyala api cinta dari dalam diri.

Saat acara kopdar seperti saya sebutkan sebelumnya, suami nitip pesan: “ade nikmati waktu disana” dan saya yang mengajak mamah turut serta jadi teringat untuk membuat mamah menikmati waktu juga. Mengajak mamah mengitari tempat makan di blok M bukanlah hal mudah.

Dengan berbagai alasan menolak makan. Mungkin khawatir uang yang dikeluarkan banyak dan lain sebagainya. Setelah agak dipaksa barulah mamah bersedia memilih-milih menu makan disana. Ya, ternyata begitu kalau sudah jadi ibu ya. Memikirkan banyak hal dan lebih baik menahan keinginan.

Maka saya dan suami sepakat, jika ada yang saya inginkan maka harus dikomunikasikan meskipun tidak semuanya dapat dipenuhi. Setidaknya saya sudah mengeluarkan “uneg-uneg” dan suami tahu isi hati istrinya.

Bicarakan dengan suami untuk saat-saat kita menikmati waktu. Tidak harus bepergian. Sekadar menikmati camilan kesukaan, menyisihkan uang untuk jajan di sekolah anak-anak meskipun jajanan murah meriah tapi memang kita suka, atau hal-hal kecil yang kita bahagia melakukannya dan dapat menjadi salah satu bahan bakar nyala api cinta dan semangat dalam diri kita.

Jadi bu, tetaplah menjadi dirimu dan teruslah menjadi lebih baik. Berbuat baiklah pada orang lain tapi jangan lupa berbuat baik pada dirimu sendiri.

Selamat menyalakan api cinta dan menyebarkannya. Be a loving care mom ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.