Anak Ketagihan Gadget Atau Ortu yang Keranjingan Gadget?

Setelah seringkali memperhatikan anak-anak baik Danisy-Azam maupun yang lain, fitrah anak itu sebenarnya SENANG alias SUKA sama ILMU. Termasuk di dalamnya, suka sama buku -salah satu sumber ilmu. Eatlah, makanlah dengan lahap semua ilmu.

Selama ibu dan ayahnya bersedia MELUANGKAN  WAKTU  untuk MEMBACAKAN buku atau berkomunikasi hal-hal terkait ilmu maupun pengetahuan, anak biasanya akan tertarik.

Hanya saja kadang kita terlalu sibuk pada urusan lain. Saya pribadi menyadari, kadang sering terlalu sibuk dengan pekerjaan atau hp. Dan ga jarang ternyata kegiatan itu ga ada gunanya karena “cuma” haha hihi di grup ngomongin eatlah, ngomongin chatime lah, misalnya. Waktu habis untuk scroll timeline fb contohnya, dan masih banyak contoh lain. Mungkin teman-teman mau menambahkan? 😀

Sudah sebulan ini asyik dan senang melihat Azam ketagihan dibacakan buku -meskipun emaknya ini sempet keder karena minta dibacain dari pagi ampe malem. Apalagi ada bayi #halesan

Jadi, benar adanya apa yang dikatakan di berbagai artikel parenting bahwa anak yang ketagihan gadget bisa jadi memang anak yang kurang perhatian. Ibu bapaknya ada, tapi tidak sepenuhnya hadir. Jasadnya ada, tapi hati tidak saling terpaut. Fisiknya terlihat tapi hatinya tidak turut serta.

Sedangkan jiwa akan saling bertemu dengan yang frekuensinya sama. Jiwa anak yang masih bersih dan sensitif terhadap resonansi sekitar tentu akan sangat sadar kapan orang tuanya betul-betul HADIR dengan saat dimana orang tuanya HANYA ada disana. Tidak sepenuhnya memperhatikan dirinya.

Pada ANAK, jiwa mereka masih sangat DEKAT dengan FITRAH sehingga kita sebagai ORANG TUA yang perlu terus MEMPERBAIKI DIRI agar semakin mendekati fitrah kebaikan.

Maka diperlukan komitmen yang luar biasa besar untuk bisa membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, hobi (diri sendiri juga berhak dong dapet pemanjaan sesaat), keluarga, pasangan, dan hal lainnya yang mampir dalam kehidupan kita. Sebab melepaskan anak dari gadget itu harus diawali dengan niat dan diperkuat contoh dari kita.

Coba ingat-ingat, berapa kali kita melarang anak main hp terus tapi ternyata justru kita sedang asyik browsing resep, chit chat, main game, atau sekadar update status facebook? Sehingga anak yang cenderung lebih mudah diarahkan itu akhirnya protes “kok ummi pegang hp aja?” nah lho..

Pengalaman saya melepaskan Azam anak kedua kami dari ketergantungan sama gadget, yang kudu pertama kali melepas ketergantungan gadget adalah emak bapaknya. Meskipun anak-anak paham ada saat dimana saya pegang hp untuk kerja. Maklum ya emak-emak eksis, yang konsultasi hasil tes STIFIn-nya pan seringkali via whatsapp. Tapi mereka bisa lihat kok. Kalau yang dibuka WA memang artinya ummi sedang ada konsul, sedang ngisi kelas atau sedang ada kerjaan lain. Ya sesekali lirik grup haha hihi yang bahasannya selalu berakhir dengan eatlah 😛

So, sebelum menghakimi anakku seneng gadget (dan meminta bantuan ahli), coba dulu aja tips sederhananya: perbanyak bercengkrama, kurangi pegang hp saat acara keluarga, jadilah contoh pengguna gadget yang bijak. Karena pada akhirnya tanpa disadari sesungguhnya anak meniru kita orang tuanya.

Saya sadar mulai ketagihan gadget itu ya saat tiba-tiba.. sedikit-sedikit pegang hp, dikit-dikit lirik hp, buka tutup kunci hp, buka-buka wa, facebook dll tanpa ada tujuan sama sekali. See? Jadi yang ketagihan gadget itu anaknya apa emak bapaknya?

Catat: yang saya bahas ketagihan ya. Kalo masih bisa ditolerir ngikuti aturan mah berarti bukan ketagihan kan? Sebab bagaimana pun kelak mereka akan terbiasa. Kita yang perlu memberitahu mereka mana yang perlu, kapan diperbolehkan menggunakan gadget, dsb.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjalin Komunikasi

We cannot not communicate – Paul Watzlawik

Quote ini banyak beredar dan disebutkan di berbagai kesempatan terkait komunikasi. Menarik memang sebab quote sederhana ini nyatanya tidaklah sederhana. “Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi”. Meluruskan kembali bahwa berkomunikasi bukanlah sekadar berbicara, ngobrol atau berbincang saja. Ada banyak faktor dalam sebuah kata bernama komunikasi.

Komunikasi adalah sebuah skill yang perlu terus diasah guna membangun hubungan yang sehat dengan siapapun. Berbicara hanyalah salah satu seni berkomunikasi. Lebih dari 50% masalah dalam rumah tangga maupun kehidupan secara umum diakibatkan komunikasi yang buruk. Memang terkesan klise tapi faktanya belum banyak yang menyengajakan belajar cara komunikasi yang berkualitas.

Seperti saat jalan-jalan di luar, suami memutuskan mampir di warung nasi gudeg sementara anak-anak tidak terlalu suka (nampak dari gerak mimik muka maupun tubuh mereka). Itu adalah bagian dari komunikasi juga. Maka kami mengkomunikasikan dengan memberi beberapa pilihan, akhirnya anak-anak membeli ayam goreng.

Menjalin Komunikasi Dengan Anak Sejak Dini

Sejak kecil semua manusia (bahkan hewan) sudah mampu berkomunikasi meski dengan cara yang paling sederhana: menangis, tersenyum, rewel, ceria. Semua bagian dari komunikasi.

Sejak saat itu pula kita sudah menjalin komunikasi dengan bayi, bahkan sejak ia berada dalam kandungan. Di usia janin yang sudah cukup besar, ia membalas komunikasi kita dengan tendangan di perut ibu, atau respon lainnya.

Di hampir setiap kesempatan, selalu ada komunikasi yang terjalin meski dalam kondisi diam sekalipun. Begitu pula dengan anak-anak. Mereka mampu menjalin komunikasi dengan para orang dewasa dengan caranya sendiri.

Namun pada beberapa situasi setelah anak memasuki fase balita, ada momen bernama tantrum. Momen dimana anak menginginkan sesuatu atau merasakan ketidaknyamanan, namun belum mampu mengutarakan dengan baik sementara orang dewasa tidak mengerti keinginannya.

Anak hadir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, maka menjalin komunikasi ini penting dilakukan sejak dini agar ia terbiasa untuk belajar berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Mengajak ia belajar mengutarakan perasaan maupun hal lainnya.

Anak yang lingkungannya memiliki gaya komunikasi yang baik cenderung akan tumbuh memiliki emotional intelligence yang baik.

Masih ingat cerita mampir di warung nasi gudeg? Anak-anak yang sedang lapar mencari-cari tempat yang mereka inginkan tapi tak juga menemukannya dan ketika terlihat, tempatnya sudah kadung terlewat. Sementara kami pun sudah sangat lapar pula setelah melewati perjalanan cukup melelahkan. Suami yang nyetir akhirnya memutuskan untuk mencari warung makan terdekat.

Setelah melaju kembali beberapa saat, tempat makan yang klop di selera suami ya paling warung nasi gudeg itu. Kami pun mampir. Anak-anak tentu agak malas turun. Tapi kami mengajak mereka berbicara. Memberikan beberapa pertimbangan dan kemungkinan. Bagaimanapun karena menyetir, suami yang paling butuh asupan makanan.

Akhirnya dengan lunglai mereka turun dari kendaraan menuju warung nasi gudeg yang dimaksud abinya. Setelah melihat-lihat, akhirnya wajah mereka agak sumringah karena ternyata ada menu lain disana: ayam goreng. Syukurlah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali mampir, 4 orang bisa makan di tempat yang sama meski seleranya berbeda.

Tips Menjalin Komunikasi

Dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak maupun keluarga secara umum, maka perhatikan 5 poin berikut:

  1. Jadilah pendengar yang baik
  2. Hati-hati dengan asumsi
  3. Perhatikan intonasi
  4. Sensitive memahami Bahasa tubuh
  5. Nyalakan rada terhadap sekecil apapun perubahan

Kelima poin di atas saya dapati dalam buku Menikah Untuk Bahagia. Saat mencoba menjalin komunikasi dengan anak, salah satu tipsnya adalah: sejajarkan diri entah dengan berlutut, duduk atau membungkuk. Hadirkan hati dan pikiran: mindfulness.

Saat anak mengucapkan atau melakukan sesuatu, konfirmasikan padanya apakah asumsi kita benar atau salah. Jangan berasumsi sembarangan. Bisa jadi bukan seperti itu maksud si anak.

Anak sangat sensitive dengan intonasi. Apalagi mereka jago sekali mengenali pola bicara dan gerak tubuh orang tuanya. Maka saat berbicara perhatikan intonasi kita. Agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

Sebagai orang tua, kita setidaknya paham lebih banyak tentang Bahasa tubuh anak kita. Maka ketika ia tiba-tiba tidak Nampak seperti biasanya, ayah bunda patut waspada. Dekati dengan hati-hati, buat dia nyaman. Setelah itu jika ia tak ingin bercerita, biarkanlah dulu. Jika kemudian ia ingin bercerita, maka jadilah pendengar yang baik. Dengarkan hingga selesai, baru beri masukan atau pendapat.

Selamat belajar komunikasi. Mari menjalin komunikasi yang baik dengan anak, pasangan dan manusia secara umum.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Dukungan Bagi Seorang Ibu, Bahan Bakar Cinta Baginya

Demi menjaga mood, seorang ibu terkadang harus belajar mendelegasikan pekerjaan yang sekiranya bisa diserahkan atau memilih prioritas mana yang perlu dan urgent diselesaikan dan mana yang bisa ditunda terlebih dahulu. Memiliki bayi dengan kakak usia 7 tahun dan 4 tahun cukup menjadi sebuah situasi dimana emak kudu waras. Heuheu.

Membaca berbagai status para ibu yang berseliweran di timeline alias linimasa akun facebook, terkadang saya menangkap ada dilema yang dialami oleh beberapa ibu. Biasanya terkait pekerjaan rumah, mencari penghasilan tambahan (entah karena nafkah dari suami kurang atau apapun itu, saya kurang paham), memasak atau beli makanan jadi di luar, sifat perfeksionis, dan lain sebagainya.

Saya sendiri paham bahwa tidak mudah untuk seseorang yang perfeksionis menurunkan standarnya sebab suami termasuk yang perfeksionis. Awal-awal nikah beliau sering uring-uringan jika melihat cara saya bekerja.

Rumah yang bagi saya sudah rapi, menurut standar beliau masih jauh dari kata “bagus”. Akhirnya bisa ditebak, kami berselisih bahwa saya sudah berusaha merapikan serapi mungkin dan itu sudah di atas standar.

Setelah melakukan tes STIFIn barulah kami sadar bahwa ada perbedaan yang memang sangat bertolak belakang antara saya dan suami. Suami yang Thinking sangat peka penglihatannya sedangkan saya yang Feeling cenderung tidak terlalu peka dengan kerapian seperti itu.

Meskipun pada beberapa kasus, saya lebih rapi dari beliau. Tapi secara keseluruhan, beliau lebih peka. Akhirnya kami sepakat mengambil jalan tengah. Saya memperbaiki, suami menurunkan standarnya.

Kembali pada sifat perfeksionis, setelah menjadi ibu -lebih tepatnya setelah berkeluarga, dan tak hanya berlaku pada seorang istri sebetulnya- kita akan dihadapkan pada realitas untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan baru dengan keluarga baru. Apalagi adaptasi memiliki anak, bertambahlah tugas dan kewajiban sebagai seorang individu.

Bentuk Dukungan untuk Seorang Ibu

Dengan semakin maraknya sosial media dan terbukanya akses internet di berbagai kalangan, bermacam informasi dengan sangat mudah kita dapatkan. Termasuk berbagai komentar pun akan dengan mudah masuk ke kehidupan kita. Maka kontrol dalam diri perlu diperkuat.

Tak jarang saat ada seorang ibu membuat status yang kurang lebih isinya seperti keluhan atau curhat, berbagai komentar baik berupa dukungan maupun yang kontra akan masuk. Maka jika tidak kuat dengan hal tersebut, disarankan untuk para ibu agar tidak mengumbar urusan internal ke luar.

Dukungan bagi seorang ibu terkadang sederhana. Suami mengizinkan istri mencuci dengan mesin, memasak nasi menggunakan magicom, sesekali jajan di luar. Dan tentu akan sangat membahagiakan jika suami memfasilitasi itu semua. Seperti saat jalan-jalan di Jakarta lalu berinisiatif mencari tempat makan di blok M saat makan siang tiba. Hehe.

Sebagai seorang istri, yang saya rasakan memang dukungan suami terhadap mood istri itu memiliki persentase yang luar biasa. Meskipun dukungan lingkungan secara menyeluruh juga diperlukan, akan tetapi dukungan suami itu menjadi peran kunci menurut saya mah.

Sebab jika suami sudah sejalan, rintangan dan tantangan dari pihak luar entah itu keluarga besar, tetangga, teman, kerabat dsb, tidak akan terlalu membuat seorang ibu tertekan. Ia memiliki tempat bercerita, bersandar dan berbagi kekuatan.

Suami perlu sadar bahwa dirinya dapat menjadi sumber energi besar bagi seorang istri. Dan sebaliknya, istri pun adalah sumber energi besar bagi seorang suami.

Teringat saat ada acara kopdar di Jakarta beberapa tahun lalu. Suami tahu bahwa saya butuh refreshing, bertemu langsung dengan teman yang sudah kenal lama di dunia maya akan membahagiakan sekali. Sayangnya ia tak dapat menemani saya pergi sementara saat itu kami sudah memiliki 2 putra, satu bayi dan satu balita. Terbayang jika berangkat sendiri.

Akhirnya suami mengizinkan saya berangkat dengan mengajak mamah turut serta. Semata memastikan saya tidak pergi sendiri dan ada teman untuk bantu jaga anak-anak.

Pertemuan seharian dengan teman dunia maya di area tempat makan di blok M itu cukup menjadi mood booster saya selama berhari-hari. Suami paham saya sedang jenuh karena kondisi saat itu saya yang terbiasa bekerja di luar dan kuliah, akhirnya tinggal di rumah.

Ibu, Tetaplah Menjadi Dirimu

Menjadi ibu artinya kita menjadi tumpuan perhatian dalam keluarga. Suami dan anak-anak membutuhkan ibu hadir untuk memenuhi hati mereka dengan kasih sayang. Ya, sebetulnya kebutuhan anak dan suami adalah ibu hadir dengan kasih sayangnya.

Akan tetapi, karena tumbuh di budaya timur kita terbiasa mengerti bahwa ibu melakukan segala pekerjaan rumah tanpa harus memikirkan diri sendiri. Istilahnya, berkorban untuk anak dan suami. Berada di balik kesuksesan mereka.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu. Hanya saja terkadang hal tersebut membuat seorang ibu kehilangan dirinya.

Meskipun berdasarkan pengalaman saya pribadi, memang setelah menjadi istri dan ibu rasanya panggilan jiwa lebih fokus pada mendahulukan mereka dibanding diri sendiri. Akan tetapi suami sering mengingatkan bahwa saya berhak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri. Agar tetap perform sebagai pribadi dan mampu menghadirkan nyala api cinta dari dalam diri.

Saat acara kopdar seperti saya sebutkan sebelumnya, suami nitip pesan: “ade nikmati waktu disana” dan saya yang mengajak mamah turut serta jadi teringat untuk membuat mamah menikmati waktu juga. Mengajak mamah mengitari tempat makan di blok M bukanlah hal mudah.

Dengan berbagai alasan menolak makan. Mungkin khawatir uang yang dikeluarkan banyak dan lain sebagainya. Setelah agak dipaksa barulah mamah bersedia memilih-milih menu makan disana. Ya, ternyata begitu kalau sudah jadi ibu ya. Memikirkan banyak hal dan lebih baik menahan keinginan.

Maka saya dan suami sepakat, jika ada yang saya inginkan maka harus dikomunikasikan meskipun tidak semuanya dapat dipenuhi. Setidaknya saya sudah mengeluarkan “uneg-uneg” dan suami tahu isi hati istrinya.

Bicarakan dengan suami untuk saat-saat kita menikmati waktu. Tidak harus bepergian. Sekadar menikmati camilan kesukaan, menyisihkan uang untuk jajan di sekolah anak-anak meskipun jajanan murah meriah tapi memang kita suka, atau hal-hal kecil yang kita bahagia melakukannya dan dapat menjadi salah satu bahan bakar nyala api cinta dan semangat dalam diri kita.

Jadi bu, tetaplah menjadi dirimu dan teruslah menjadi lebih baik. Berbuat baiklah pada orang lain tapi jangan lupa berbuat baik pada dirimu sendiri.

Selamat menyalakan api cinta dan menyebarkannya. Be a loving care mom ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Membangun Kebiasaan Anak, Dimulai dari Komitmen Orang Tua

“Aa sudah shubuh, ayok bangun. Jamaah di masjid sama abi”

Kalimat itu belakangan hadir di antara cerita keluarga kami. Kebiasaan anak bangun sebelum shubuh terkubur oleh kebiasaan orang tua menyuruhnya tidur lagi. Iya, kami akui kesalahan yang secara tak sengaja dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya anak memiliki kebiasaan baru dengan kehilangan kebiasaan lamanya yang baik.

Sederhana saja alasannya: masih pagi. Nanti takut ngantuk di sekolah. Atau, daripada nanti ga bisa ngerjain kerjaan rumah karena kalau anak sudah bangun pasti minta main ini itu.

Sifat Bawaan Anak itu Mudah Bangun Shubuh

Fitrah anak untuk mudah bangun di sepertiga malam. Jadi, jika ada anak sulit bangun shubuh, bisa dibilang ada sesuatu yang terjadi pada anak tersebut.

Mungkin saja fitrahnya rusak oleh ulah orang tua yang menutupi kebiasaan itu karena alasan SAYANG. Atau malah untuk urusan sepele: GA MAU TERGANGGU.

Ah, teh Esa mah becanda. Masa anak terbiasa bangun di sepertiga terakhir malam?

Ih, masa ga percaya. Coba, bayi suka bangun minta nyusu jam berapa? Selama bayi sampai usia 1 tahunan deh, anak masih suka bangun malem ga?

Pengalaman saya dengan anak-anak, apalagi memperhatikan Hasna (usianya baru menjelang 3 bulan) biasanya mereka pasti bangun antara jam 2-4. Ritme itu pula yang membantu saya memulai kembali kebiasaan qiyamullail meskipun harus meninggalkan Hasna sejenak untuk keperluan ke toilet, wudhu dan shalat. Selebihnya, ia akan tidur lagi menjelang shubuh. Ini yang kemudian perlu diperbaiki juga setelah ia nanti agak besar. Jangan sampai ia tidur lagi setelah shubuh.

Jadi sebetulnya anak mudah bangun shubuh. Syaratnya, jaga fitrah itu.

Sepertinya semua orang tua setuju kalau bayi PASTI akan bangun di jam-jam menjelang shubuh. Bahkan hingga usia balita. Setidaknya sampe usia 2 tahunan lah ya. Saat yang sama dimana anak juga mulai INGIN IKUT SHALAT DI MASJID.

Nah lho. Apalagi anak laki, ayahnya nih yang kudu ekstra turun tangan supaya keinginannya ikut ke masjid kelak menjadi kebiasaan untuk memakmurkan masjid dan shalat di awal waktu berjamaan di masjid. Jangan sampai saat anak semangat ke mesjid, kita larang. Giliran kita ajak trus mereka ga mau, kita marah-marah. Padahal kita yang “mengajarkan”nya pada anak. Na’udzubillah.

Membangun (Kembali) Kebiasaan Anak Dimulai dari Komitmen Orang Tua

Membangun kebiasaan maupun mengembalikan kebiasaan baik pada anak sangat membutuhkan komitmen orang tua. Bagaimana tidak, jika komitmennya kendor tentu pengawasan untuk membiasakan sesuatu menjadi turut melemah. Anak yang masih masa pembentukan itu pun kehilangan pijakan untuk membangun kebiasaan baiknya.

Terkait shalat, diperintahkan di usia 7 tahun. Akan tetapi tak ada larangan untuk mengajak atau mengizinkan ia turut serta shalat. Sambil dibiasakan, kita nasihatkan terus adab tentang shalat, tentang adab di masjid, adab shalat berjamaan dsb.

Membangun kebiasaan baik seperti makan sambil duduk, makan menggunakan tangan kanan, membuang sampah di tempatnya, pipis di jamban, cebok setelah buang air, menyimpan piring kotor di tempat cuci piring, menyimpan baju kotor di wadahnya, memilih jajanan, dsb. Semua itu butuh kesungguhan dari orang tua. Sebab kita yang akan membantu dia mengontrol dan mencontohkan hal tersebut.

Terkadang jadi capek sendiri ya rasanya. Apalagi jika lingkungan kita termasuk yang kurang mendukung kebiasaan baik yang kita coba tanamkan pada anak. Tapi perjuangan dalam proses membangun kebiasaan anak itu akan kita rasakan manis buahnya, cepat atau lambat tergantung kebiasaan apa yang kita ajarkan.

Sebagai contoh, kebiasaan menyimpan piring kotor di tempat cuci piring meringankan beban ibu untuk membereskan wadah bekas makan anak-anak. Kita tinggal cuci saja piringnya karena wadah kotor itu sudah berada di tempatnya. Tak perlu lagi beberes mengumpulkan piring kotor yang berserak. Mengurangi 1 kerjaan. Apalagi jika ibu tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Kalaupun menggunakan jasa ART, tetap saja hal ini baik sebab kita telah membantu meringankan tugas ART sehingga ia dapat mengerjakan hal lain.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pun menjadi sebuah nilai yang akan sangat berguna bagi lingkungan. Kalaupun kita tidak turut serta aktif dalam pengelolaan limbah sampah, setidaknya kita tidak membiarkan anak-anak menjadi pelaku aktif dalam mengotori lingkungan dengan sampah berserakan.

Bagaimana Menguatkan Komitmen Orang Tua?

Kesepakatan paham antara pasangan suami dan istri sangat diperlukan. Hal ini menjadi pondasi utama dalam menjalankan komitmen membangun kebiasaan anak.

Selain menjadi contoh nyata dalam kebiasaan baik itu, komitmen ayah dan ibu juga menguatkan serta memudahkan proses pembentukan kebiasaan baik dalam keluarga. Jika ayah dan ibu sepaham, maka tak ada istilah “gontok-gontokan” karena yang satu berpendapat “piring kotor taruh di tempatnya” yang lain berpendapat “itu kan tugas ibu/ayah”. Akhirnya anak memilih yang paling enak dong: biarkan saja piring kotor berserakan dimana pun.

Kesepahaman antara suami-istri juga akan menjadi banteng menghadapi perbedaan pendapat dari pihak luar. Pihak luar disini maksudnya pihak-pihak di luar ayah-ibu-anak. Penting untuk suami-istri sepaham agar dapat memahamkan sekitar terutama keluarga besar tentang kebiasaan yang sedang coba dibangun berikut cara yang ditempuh.

Guna menguatkan komitmen ini, masing-masing suami istri mesti menguatkan diri terhadap apa yang disepakati. Siap lahir batin menjalankan semua prosesnya meskipun “berdarah-darah”. Siap mengubah diri menjadi lebih baik agar dapat menjadi contoh terbaik sebagai pengejawantahan komitmen keluarga.

Iringi Tawakal Sejak Awal

Jauh sebelum mengusahakan atau berikhtiar membentuk kebiasaan baik pada anak, kita sudah harus mengiringinya dengan tawakal. Upaya kita membiasakan kebaikan bukan untuk pamer atau dipuji orang, melainkan upaya kita memenuhi amanah untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Maka niat yang lurus itu dibarengi tawakal bahwa ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar terbaik yang bisa kita berikan. Dan hasilnya kita serahkan pada Allah saja.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Bayi Sungsang

Pagi ini sebuah pesan whatsapp masuk. Seorang teman menanyakan mengenai pengalaman yang saya alami di kehamilan ketiga kemarin terkait posisi bayi yang sungsang. Alhamdulillah, jadi diingatkan lagi tentang pengalaman kemarin yang rencananya ingin ditulis tapi belum jadi aja. Nah, terkait proses kehamilan dan persalinan sepertinya akan saya tulis dalam artikel berbeda. Kali ini kita fokus membahas mengenai posisi bayi sungsang. Bayi ketiga kami posisinya sungsang hingga usia kandungan 38-39 minggu 😀

Kami bertemu dengan bidan -yang kemudian menangani saya hingga proses persalinan- di usia kandungan 35-36 minggu. Sebelumnya selalu periksa di RS yang ga memungkinkan konsultasi banyak sepuasnya. Di pertemuan pertama itu posisi bayi sungsang dengan kepala masih di daerah bawah dada alias tegak kali ya. Pekan berikutnya periksa sudah bergeser ga di atas banget tapi ke arah kiri apa kanan ya lupa. Nah, dari situ ibu bidan menyarankan “berarti ajak anak muter sesuai pergerakannya ini“. Alhamdulillah usia 38-39 dicek sudah posisi di bawah kepalanya tapi belum masuk jalan lahir. Usia 39-40week dicek sudah masuk panggul tapi baru dikit, belum “mantep”. Sampai lahiran masih agak jauh. Alhamdulillah ketika pembukaan lengkap, perlahan kepala bayi turun dan lahir dengan lancar.

Apa Saja yang Disarankan Untuk Mengajak Bayi Posisi Sungsang Memutar?

Pertama yang diminta bu bidan justru “ikhlaskan hati” siapa tahu ini karena masih ada emosi terpendam baik ke pasangan, orang tua atau semacamnya. Duh ngaruh ya? hihi.

Kedua ajak komunikasi sang bayi. Pada beberapa kasus sungsang, bayi memutar saat diajak komunikasi oleh ayahnya. Jadi jika posisi bayi tak kunjung berubah setelah kita (ibu) yang ngajak ngobrol, coba minta ayahnya yang ngajak ngobrol bayi supaya muter. Di saya, alhamdulillah berhasil dengan cara kedua meskipun suami baru beberapa kali ngajak “dede ayok muter”.

Ketiga bisa jadi karena memang bayi susah memutar karena air ketuban kurang. Saat itu memang air ketuban saya menurut hasil USG kurang mencukupi. Maka bu bidan menyarankan untuk memperbanyak asupan cairan diutamakan air putih minimal 3 liter per hari. Ga susah sih sebetulnya tapi seringnya tak terpenuhi karena lupa. heuheu. Padahal dulu termasuk yang suka banget minum air bening.

Keempat disarankan untuk posisi sujud dengan kepala jauh lebih rendah. Jadi bukan sujud yang biasa di waktu shalat meskipun itu juga tetap membantu. Sujud yang dilakukan, lututnya ditahan bantal atau di kasur (yang ga terlalu tinggi tentunya) sehingga posisi perut dan panggul lebih tinggi. Hal ini membantu bayi memutar.

Kelima adalah saran dari pelatih yoga (iya, saya ikut yoga prenatal buat bantu melatih pernafasan dan fisik tentunya. Ikhtiar demi bisa lahiran dengan lebih baik dari sebelumnya). Ada beberapa gerakan yang dapat membantu bayi memutar posisi (saya hafal gerakannya tapi ga hafal namanya. Nanti insyaallah di-update kalau saya sudah menanyakannya ke beliau ya)

Keenam diberikan rangsangan suara (misal diputar musik, murattal atau semacamnya), cahaya atau perbedaan suhu (diberikan suhu hangat) di bagian bawah perut untuk membantu bayi memutar. Pastikan kondisi sekitarnya berkebalikan, maksudnya saat diberi rangsangan suara, sekitarnya senyap. Saat diberi rangsangan cahaya, sekitarnya gelap atau redup. Saat diberikan rangsangan suhu (diolesi kayu putih di perut bawah) perut atas dan sekitarnya tidak dalam kondisi sama panas/hangat. Makanya diminta bu bidan mengurangi pedas juga supaya ga ketuker mulesnya nanti dan ga bikin perut atas hangat.

Ketujuh belajar mempercayai fitrah anak dan naluri ibu. Yang tak kalah penting adalah meyakini bahwa ibu dan bayi sudah dibekali Allah naluri dan bayi akan mengikuti fitrahnya. Doa dibanyakin pasti, perbaiki hubungan dengan Allah, perbaiki komunikasi dengan suami, dan perbaikan hablumminannas lainnya.

Alhamdulillah bidannya termasuk yang enak diajak ngobrol dan biasanya sering minta konsul bareng suami karena beliau akan memberikan penjelasan yang perlu dilaksnakan kedua belah pihak juga pihak-pihak terkait yang nantinya akan terlibat selama proses kehamilan, persalinan hingga pasca bayi lahir. Jadi memang kehamilan kali ini kami berdua belajar langsung bareng-bareng 😀

Pelajaran dari Pengalaman Bayi Sungsang

Kehamilan ketiga menjadi sebuah pelajaran berharga bagi saya dan suami. Meskipun telah mengalami 2 kali hamil dan melahirkan, nyatanya pengalaman setiap anak berbeda. Tidak sama antara satu dan lainnya. Maka pelajaran pertama yang kami ambil adalah “setiap anak hadir dengan cara uniknya meskipun orang tuanya sama, akan tetapi pengalamannya berbeda antara satu anak dan lainnya. Maka, tak perlu membandingkan diri dan orang lain karena beda anak satu orang tua saja sudah berbeda, apalagi beda anak beda orang tua, sudah pasti tidak akan sama persis.”

Yup, pengalaman hamil anak pertama sampai anak ketiga saja berbeda, apalagi dengan kehamilan orang lain. Akan tetapi tentu bukan berarti kita tidak peduli dengan kehamilan yang lain melainkan ambillah pelajaran yang baik dan hal yang membuatmu jadi khawatir setelah membaca atau mendengar pengalaman orang lain maka berpikirlah positif dan berlindunglah pada Allah dari pengalaman yang tidak mengenakkan. Adapun jika ternyata serupa atau mengalami hal yang sama, maka itu sudah takdir.

Pengalaman sungsang kehamilan ketiga ini sempat membuat khawatir karena salah satu kerabat melahirkan putranya dalam kondisi sungsang dan sempat dirujuk ke 2 rumah sakit. Alhamdulillah sang anak lahir melalui proses normal meskipun menurut sang ibu, rasanya lebih sakit. Saya agak takut dengan rasa sakit karena sepertinya ambang sakit saya tipis. Heuheu. Padahal 2 anak lahir dengan cara induksi yang menurut orang sakitnya lebih dari yang normal alami. Tapi tetep aja denger pengalaman orang lain, ada rasa khawatir tersendiri.

Meski anak kedua pernah berada di posisi sungsang saat usia kehamilan seharusnya bayi sudah berada di bawah, rasa khawatir tak lantas hilang. Alhamdulillah bidan yang menangani selalu mengajak untuk berpikir positif dan menguatkan kembali tentang pemahaman mengenai takdir.

Ya, ikhtiar agar lahir normal lancar dan posisi baik tetap dilakukan secara maksimal. Jika kemudian pada akhirnya lahir sungsang atau bahkan dirujuk untuk dilakukan tindakan operasi sesar, maka itu sudah menjadi takdir yang harus kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Memang ga mudah menyiapkannya tapi dengan terus dikuatkan, alhamdulillah akhirnya lebih bisa berpikir positif.

Maka pelajaran kedua yang kami ambil adalah, sebisa mungkin carilah lingkungan dan bidan/nakes yang mampu membantu kita berpikir positif tapi tetap rasional. Maksudnya seperti apa? Maksudnya, mereka mengajak kita untuk ikhtiar maksimal akan tetapi tetap memberitahukan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi namun tak lantas menakut-nakuti melainkan menguatkan kembali untuk “yuk, kita maksimalkan doa, keyakinan dan ikhtiar”. Sehingga kita lebih siap dengan semua kemungkinan tapi tidak terlampau khawatir dengan opsi terburuk.

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)

Saya “menemukan” ayat ini saat mempelajari kembali tentang bagaimana seharusnya menyikapi takdir. Pengalaman “dadakan” saat menjelang HPL yang menimpa keluarga besar, semakin membuat saya kala itu merasa “kok begini?” hingga diingatkan lagi oleh bidannya, “bismillah. Bukan kebetulan. Teteh pasti bisa melewatinya” dan alhamdulillah terlewati.

Dan pelajaran ketiga yang kami ambil adalah setiap anak akan lahir pada waktu yang telah ditetapkan terlepas dari bagaimana, siapa yang mendampingi, dimana dan dibantu oleh siapa. Maka yang perlu diyakini adalah setiap anak pasti lahir jika memang Allah menghendakinya. Setiap kali rasa khawatir muncul, ajak bayi ngobrol lalu pasrahkan bagaimana cara yang ditempuh untuk ia kelak akan terlahir.

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj:5)

Pelajaran keempat yang kami ambil adalah, selalu komunikasikan kekhawatiran pada pasangan. Alhamdulillah bidan tempat kami periksa kandungan termasuk yang komunikatif juga jadi terkadang justru suami yang mengkomunikasikan kekhawatiran saya ke bu bidan (seringnya saya malah lupa apa yang mau dibicarakan kalau pas konsul atau memang ga bisa cerita karena beberapa hal termasuk menjaga kehormatan keluarga #eaaa) 😀 Ujungnya ya bu bidan menguatkan lagi, sekaligus mengajak suami untuk bekerja sama menjaga saya dan janin untuk tidak stres. hihi.

Maksimalkan Ikhtiar Agar Tidak Lagi Sungsang, Lalu Tawakkal

So, teman. Jika masih ada waktu untuk mengikhtiarkan lahir sesuai “harapan kita”, ikhtiarkanlah secara maksimal. Tapi beri ruang pada hati untuk ridha pada ketetapan jika ternyata nanti berbeda dari keinginan kita.

Selamat menikmati kehamilan bagi teman-teman yang sedang melalui fase ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan keselamatan untuk ibu, bayi, ayah dan keluarga. Barakallahu fik..

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Birth Plan Pertama Kami

Beberapa waktu lalu, update status mengenai birth plan di akun facebook. Hihi lebay ya, biarin aja deh. Sebab memang excited aja. Meskipun memang ini kehamilan ketiga, tapi ini pengalaman kami berdua memiliki pendamping yang duluuu banget sempat ingin punya nakes seperti itu guna mendampingi proses kehamilan dan persalinan anak kami.

Dan karena ada beberapa yang minta contohnya, saya tuliskan disini saja supaya mudah untuk dicari. Kalo status FB kan kadang ga gampang ditelusuri ulang.

Nah, terkait birth plan ini, saya teringat akan sebuah istilah lama bernama Gentle Birth. Dan sekarang ada Amani Birth juga. Makanya ada sekilas tentang bahasan GB ini yang membuat saya senang sekali ketika tahu ada bidan dekat rumah mamah yang oke oce sejalur tentang ini.

Perkenalan dengan Gentle Birth

Saya mengenal istilah Gentle Birth itu setelah kelahiran anak pertama. Ya, sempat dibuat menyesal mengingat hal-hal yang seharusnya saya sudah aware sedari awal. Tapi ga bikin saya jadi down apa gimana gitu. Hanya kemudian mengumpulkan ilmu agar di kehamilan berikutnya kami lebih siap.

Eits, jangan salah. Gentle Birth atau disingkat GB, bukan semata bahas tentang lahiran normal ya. Salah kalo nangkepnya begitu. Memang sih GB mengusahakan agar sebisa mungkin lahiran normal aman nyaman. Tapi, jika memang indikasi medis tidak memungkinkan untuk itu, maka boleh dilakukan tindakan maupun intervensi. Yang membedakan adalah, prosesnya, edukasinya. Ga ujug-ujug ambil tindakan tanpa diberi tahu dengan baik ini apa itu bagaimana, dst.

Itu kenapa saya menganggap lahiran anak kedua kami sudah cukup gentle karena kami mengusahakan semaksimal yang kami bisa untuk lahiran normal tanpa intervensi. Namun nyatanya saat itu tidak memungkinkan sehingga tetap diambil opsi induksi dengan catatan jika hingga batas waktu tertentu tidak lahir, kami bersiap untuk operasi sc.

Yap. Kuncinya di pemberdayaan sih. Meskipun di kehamilan kali ini kami evaluasi juga agar lebih baik lagi. Alhamdulillah bertemu dengan nakes yang membantu memfasilitasi dan mengedukasi mengenai hal tersebut. Apalagi setelah kami melakukan tes terhadap pemiliknya, beliau seorang Si yang memang runut, detail dan based on experience alias sudah terbukti dipercaya banyak pihak.

Apa sih Birth Plan itu?

Birth plan ini adalah salah satu anjuran dari beliau. Apa sih birth plan itu? Bisa dikatakan birth plan merupakan daftar rencana persalinan yang diinginkan oleh pasangan suami istri guna menjadi rujukan atau catatan baik bagi tenaga kesehatan yang mendampingi prosesnya, pihak rumah sakit/klinik/bidan maupun bagi keluarga agar tidak simpang siur.

Apa fungsinya? Menjadi catatan tertulis untuk pendamping persalinan nantinya. Salinan dari birth plan ini diberikan kepada tenaga pendamping persalinan (bidan/dokter/perawat/rumah sakit/klinik), dipegang sendiri (oleh suami) dan diberikan pada keluarga terutama yang nantinya akan bantu ngurusin (misal orang tua).

Dengan adanya rencana tertulis, seluruh pihak bisa saling memantau dan mengingatkan jika ada yang tidak sesuai. Termasuk jika ada indikasi medis yang membuat birth plan ini mungkin akan diubah, pihak nakes sudah tahu bahwa mereka harus mengkonfirmasikan tindakannya terlebih dahulu.

Tidak akan ada lagi simpang siur tindakan, begini begitunya jelas. Tidak khawatir akan “berantem” karena pada salah tangkap 😀

Bagaimana Contoh Birth Plan?

Saya ga tahu birth plan yang baik itu seperti apa. Dari penjelasan bu bidan, pokoknya itu rencana lahiran di setiap kala persalinan. Apa sih kala persalinan? Teman-teman bisa cek mengenai catatan Kala Persalinan disini [klik].

Setelah mencari tahu di internet mengenai contohnya, saya buat dan setorkan ke bu bidan. Yang ini sudah direview dan insyaallah jadi birth plan fix untuk kelahiran anak ketiga kami.


Birth Plan Bayi Esa-Chalim

Berikut adalah rencana persalinan dan perawatan bayi baru lahir yang kami inginkan. Kami sadar bahwa proses kelahiran yang kami inginkan ini hanya dapat dilaksanakan apabila bayi dalam kondisi berikut:

  • bayi baru lahir cukup bulan atau hampir cukup bulan (>35 minggu),
  • berat lahir lebih dari 2000 gram
  • bayi didiagnosa Normal
    • langsung menangis saat lahir
    • seluruh tubuhnya tampak kemerahan, tidak pucat dan tidak biru
    • gerakannya aktif
    • refleks hisap menyusu kuat
  • tidak ada tanda-tanda patologi, sejak kelahiran sampai dipulangkan ke rumah.

Nama ibu: Esa Puspita (Esa)

Tanggal perkiraan lahir: 22 Juli 2017

Nama dan no telpon suami: Abdul Chalim (Chalim) – 0852-2079-5095

Pendamping persalinan: hanya suami

Proses persalinan: normal spontan, alami, aktif

Tempat persalinan: Bidan Farida Agustiani

Penolong persalinan: bidan Farida dan asisten

Kala I

  1. Tetap aktif mobile/bergerak
  2. Didampingi suami
  3. Makan minum cukup, dan tersedia camilan (kurma, madu)
  4. Membiarkan ketuban pecah secara spontan
  5. Posisi persalinan disepakati bersama
  6. Penggunaan aromaterapi jasmine
  7. Memutar murattal (Yusuf Mansur atau Mishary Rasyid)
  8. Pijat selama proses persalinan
  9. Menggunakan birthing ball atau gerakan yang dapat membantu
  10. Tidak dilakukan induksi kecuali urgen. Induksi alami dengan nanas atau endorphine massage
  11. VT dilakukan sesuai kebutuhan tapi tidak terlalu sering

Kala II

  1. Sebisa mungkin tidak dilakukan episiotomi
  2. Penundaan pemotongan tali pusar hingga denyutnya berhenti (delay cord)
  3. Suami mendampingi pemotongan tali pusar jika sudah saatnya
  4. IMD secara penuh segera setelah bayi lahir
  5. Dibantu untuk posisi paling nyaman untuk mengejan.
  6. Bayi tidak perlu langsung dibersihkan
  7. Suami mengazani bayi
  8. Suami melakukan tahnik pada bayi
  9. Suami tetap mendampingi
  10. Room-in

Kala III

  1. Penimbangan bayi (pemeriksaan dkk) didampingi ayah bayi atau jika memungkinkan, dilakukan di ruangan yang sama tempat saya berada
  2. Menyusui kapanpun bayi inginkan
  3. Menunggu plasenta lahir alami, tidak diberikan suntik oxytocin (kecuali jika berdasarkan pertimbangan medis, perlu urgen dilakukan)
  4. Bayi diberikan vit K dan HB0

Mohon tidak memberikan kosmetik apapun seperti bedak, lotion dsb pada bayi. Kami bersedia menjalani induksi ataupun sc hanya jika jelas indikasi medisnya. Jika bayi perlu mendapat perawatan di unit khusus, saya ingin tetap memberinya ASI eksklusif. Jika bayi memiliki kelainan, mohon diberi penjelasan dan alternatif penanganannya.

Kami sangat berharap petugas-petugas kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) di tempat yang kami rencanakan untuk melahirkan bisa membantu dan bekerjasama dengan kami agar segala proses persalinan dan perawatan bayi di awal kelahirannya ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapan kita semua.

Demikian rencana persalinan kami, semoga berkenan di hati petugas sekalian dan kita dapat bekerjasama dengan baik. Atas perhatian dan bantuan yang diberikan, kami mengucapkan terima kasih.

 

Hormat kami,

Calon Ibu                                                                     Calon Ayah

 

Esa Puspita                                                                Abdul Chalim


Kenapa tetap ada sebutan dokter, perawat dkk. Jaga-jaga aja kalo dirujuk ke RS, semoga tetap bisa menyerahkan birth plan ini dan menjalankan dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan.

Jika butuh file-nya, bisa coba teman-teman unduh dengan mengklik link => Birth Plan Bayi Esa-Chalim.

Semoga bermanfaat yaa.. 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Fitrah Anak Lelaki: Menjadi Pahlawan

Sepertinya benar apa yang dikatakan trainer Gender Intelligence yang menyebutkan bahwa anak lelaki secara alami memiliki keinginan untuk menjadi pahlawan. Fitrah bawaan yang memang akan membuat seorang anak lelaki belajar mengenai tanggung jawab, melindungi dan mengayomi. Dalam Islam mungkin itu yang disebut fitrah qawwam

 Hal ini menjadi perhatian saya lagi ketika kemarin Danisy, sulung kami membuat cerita versi dirinya. Semula saya tidak paham, baru mengerti gambarnya setelah ia bercerita.

=== Cerita Hari Ini ===

Ummi lagi ikutan #tesPsikologi

Nah, setelah tesnya selesai, ada yang pengen bikin juga. Emang #MDanisyFI seneng kalo udah berhubungan sama kertas kosong dan pulpen 😅

Hasilnya?
Taraaa.. Jadilah cerita.

=====
Ini adalah cerita Danisy.
Ceritanya adalah:
Azam adik Danisy sedang menangkap ikan. Tiba-tiba ada ular. Lalu Azam ketakutan.

Lalu Danisy pun mendengar suara teriakan Azam. Lalu Danisy mengambil tongkat kayu untuk memukul ular.

Lalu saat Azam melihat ular, Azam mau masuk ke rumah. Tapi tidak bisa karena terlalu takut.

Habis ceritanya. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

*emaknya didikte dong sama dia suruh ngetik ini 😤😂

=====
*mi, upload ke pesbuk biar ibu guru bisa liat
*IG juga bisa
*ya udah IG aja
Anak #Sensing banget yak 😂

Di belakang ada bekson Azam nambahin cerita dan sesekali protes isi ceritanya 😆

#DuoSensing #AnakMain #ImajinasiGambar #BelajarMembuatCerita #AnakBercerita

Dari cerita di atas, nampak sisi hero Danisy. Dalam kesehariannya pun, memang melindungi adiknya. Sang adik, sesekali juga pasang badan untuk kakaknya saat ada yang menjahili. Saling melindungi.

Fitrah anak lelaki melindungi saudara dan orang yang disayanginya. Tugas kita menjaga dan mengarahkan fitrah itu agar senantiasa dalam kebaikan dan koridor syariat.

Maka, apresiasi sisi pahlawannya tersebut dengan pujian atau tantangan naik level perlindungan. Beritahukan value yang menjadi pijakan keluarga sehingga sisi pahlawan tersebut dibalut dengan nilai dan norma yang tepat. 

Selamat mendidik anak lelaki 😊

Mendidiknya menjadi pemimpin, lelaki sejati, suami dan ayah.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.