Membangun Kebiasaan Anak, Dimulai dari Komitmen Orang Tua

“Aa sudah shubuh, ayok bangun. Jamaah di masjid sama abi”

Kalimat itu belakangan hadir di antara cerita keluarga kami. Kebiasaan anak bangun sebelum shubuh terkubur oleh kebiasaan orang tua menyuruhnya tidur lagi. Iya, kami akui kesalahan yang secara tak sengaja dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya anak memiliki kebiasaan baru dengan kehilangan kebiasaan lamanya yang baik.

Sederhana saja alasannya: masih pagi. Nanti takut ngantuk di sekolah. Atau, daripada nanti ga bisa ngerjain kerjaan rumah karena kalau anak sudah bangun pasti minta main ini itu.

Sifat Bawaan Anak itu Mudah Bangun Shubuh

Fitrah anak untuk mudah bangun di sepertiga malam. Jadi, jika ada anak sulit bangun shubuh, bisa dibilang ada sesuatu yang terjadi pada anak tersebut.

Mungkin saja fitrahnya rusak oleh ulah orang tua yang menutupi kebiasaan itu karena alasan SAYANG. Atau malah untuk urusan sepele: GA MAU TERGANGGU.

Ah, teh Esa mah becanda. Masa anak terbiasa bangun di sepertiga terakhir malam?

Ih, masa ga percaya. Coba, bayi suka bangun minta nyusu jam berapa? Selama bayi sampai usia 1 tahunan deh, anak masih suka bangun malem ga?

Pengalaman saya dengan anak-anak, apalagi memperhatikan Hasna (usianya baru menjelang 3 bulan) biasanya mereka pasti bangun antara jam 2-4. Ritme itu pula yang membantu saya memulai kembali kebiasaan qiyamullail meskipun harus meninggalkan Hasna sejenak untuk keperluan ke toilet, wudhu dan shalat. Selebihnya, ia akan tidur lagi menjelang shubuh. Ini yang kemudian perlu diperbaiki juga setelah ia nanti agak besar. Jangan sampai ia tidur lagi setelah shubuh.

Jadi sebetulnya anak mudah bangun shubuh. Syaratnya, jaga fitrah itu.

Sepertinya semua orang tua setuju kalau bayi PASTI akan bangun di jam-jam menjelang shubuh. Bahkan hingga usia balita. Setidaknya sampe usia 2 tahunan lah ya. Saat yang sama dimana anak juga mulai INGIN IKUT SHALAT DI MASJID.

Nah lho. Apalagi anak laki, ayahnya nih yang kudu ekstra turun tangan supaya keinginannya ikut ke masjid kelak menjadi kebiasaan untuk memakmurkan masjid dan shalat di awal waktu berjamaan di masjid. Jangan sampai saat anak semangat ke mesjid, kita larang. Giliran kita ajak trus mereka ga mau, kita marah-marah. Padahal kita yang “mengajarkan”nya pada anak. Na’udzubillah.

Membangun (Kembali) Kebiasaan Anak Dimulai dari Komitmen Orang Tua

Membangun kebiasaan maupun mengembalikan kebiasaan baik pada anak sangat membutuhkan komitmen orang tua. Bagaimana tidak, jika komitmennya kendor tentu pengawasan untuk membiasakan sesuatu menjadi turut melemah. Anak yang masih masa pembentukan itu pun kehilangan pijakan untuk membangun kebiasaan baiknya.

Terkait shalat, diperintahkan di usia 7 tahun. Akan tetapi tak ada larangan untuk mengajak atau mengizinkan ia turut serta shalat. Sambil dibiasakan, kita nasihatkan terus adab tentang shalat, tentang adab di masjid, adab shalat berjamaan dsb.

Membangun kebiasaan baik seperti makan sambil duduk, makan menggunakan tangan kanan, membuang sampah di tempatnya, pipis di jamban, cebok setelah buang air, menyimpan piring kotor di tempat cuci piring, menyimpan baju kotor di wadahnya, memilih jajanan, dsb. Semua itu butuh kesungguhan dari orang tua. Sebab kita yang akan membantu dia mengontrol dan mencontohkan hal tersebut.

Terkadang jadi capek sendiri ya rasanya. Apalagi jika lingkungan kita termasuk yang kurang mendukung kebiasaan baik yang kita coba tanamkan pada anak. Tapi perjuangan dalam proses membangun kebiasaan anak itu akan kita rasakan manis buahnya, cepat atau lambat tergantung kebiasaan apa yang kita ajarkan.

Sebagai contoh, kebiasaan menyimpan piring kotor di tempat cuci piring meringankan beban ibu untuk membereskan wadah bekas makan anak-anak. Kita tinggal cuci saja piringnya karena wadah kotor itu sudah berada di tempatnya. Tak perlu lagi beberes mengumpulkan piring kotor yang berserak. Mengurangi 1 kerjaan. Apalagi jika ibu tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Kalaupun menggunakan jasa ART, tetap saja hal ini baik sebab kita telah membantu meringankan tugas ART sehingga ia dapat mengerjakan hal lain.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pun menjadi sebuah nilai yang akan sangat berguna bagi lingkungan. Kalaupun kita tidak turut serta aktif dalam pengelolaan limbah sampah, setidaknya kita tidak membiarkan anak-anak menjadi pelaku aktif dalam mengotori lingkungan dengan sampah berserakan.

Bagaimana Menguatkan Komitmen Orang Tua?

Kesepakatan paham antara pasangan suami dan istri sangat diperlukan. Hal ini menjadi pondasi utama dalam menjalankan komitmen membangun kebiasaan anak.

Selain menjadi contoh nyata dalam kebiasaan baik itu, komitmen ayah dan ibu juga menguatkan serta memudahkan proses pembentukan kebiasaan baik dalam keluarga. Jika ayah dan ibu sepaham, maka tak ada istilah “gontok-gontokan” karena yang satu berpendapat “piring kotor taruh di tempatnya” yang lain berpendapat “itu kan tugas ibu/ayah”. Akhirnya anak memilih yang paling enak dong: biarkan saja piring kotor berserakan dimana pun.

Kesepahaman antara suami-istri juga akan menjadi banteng menghadapi perbedaan pendapat dari pihak luar. Pihak luar disini maksudnya pihak-pihak di luar ayah-ibu-anak. Penting untuk suami-istri sepaham agar dapat memahamkan sekitar terutama keluarga besar tentang kebiasaan yang sedang coba dibangun berikut cara yang ditempuh.

Guna menguatkan komitmen ini, masing-masing suami istri mesti menguatkan diri terhadap apa yang disepakati. Siap lahir batin menjalankan semua prosesnya meskipun “berdarah-darah”. Siap mengubah diri menjadi lebih baik agar dapat menjadi contoh terbaik sebagai pengejawantahan komitmen keluarga.

Iringi Tawakal Sejak Awal

Jauh sebelum mengusahakan atau berikhtiar membentuk kebiasaan baik pada anak, kita sudah harus mengiringinya dengan tawakal. Upaya kita membiasakan kebaikan bukan untuk pamer atau dipuji orang, melainkan upaya kita memenuhi amanah untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Maka niat yang lurus itu dibarengi tawakal bahwa ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar terbaik yang bisa kita berikan. Dan hasilnya kita serahkan pada Allah saja.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Bayi Sungsang

Pagi ini sebuah pesan whatsapp masuk. Seorang teman menanyakan mengenai pengalaman yang saya alami di kehamilan ketiga kemarin terkait posisi bayi yang sungsang. Alhamdulillah, jadi diingatkan lagi tentang pengalaman kemarin yang rencananya ingin ditulis tapi belum jadi aja. Nah, terkait proses kehamilan dan persalinan sepertinya akan saya tulis dalam artikel berbeda. Kali ini kita fokus membahas mengenai posisi bayi sungsang. Bayi ketiga kami posisinya sungsang hingga usia kandungan 38-39 minggu 😀

Kami bertemu dengan bidan -yang kemudian menangani saya hingga proses persalinan- di usia kandungan 35-36 minggu. Sebelumnya selalu periksa di RS yang ga memungkinkan konsultasi banyak sepuasnya. Di pertemuan pertama itu posisi bayi sungsang dengan kepala masih di daerah bawah dada alias tegak kali ya. Pekan berikutnya periksa sudah bergeser ga di atas banget tapi ke arah kiri apa kanan ya lupa. Nah, dari situ ibu bidan menyarankan “berarti ajak anak muter sesuai pergerakannya ini“. Alhamdulillah usia 38-39 dicek sudah posisi di bawah kepalanya tapi belum masuk jalan lahir. Usia 39-40week dicek sudah masuk panggul tapi baru dikit, belum “mantep”. Sampai lahiran masih agak jauh. Alhamdulillah ketika pembukaan lengkap, perlahan kepala bayi turun dan lahir dengan lancar.

Apa Saja yang Disarankan Untuk Mengajak Bayi Posisi Sungsang Memutar?

Pertama yang diminta bu bidan justru “ikhlaskan hati” siapa tahu ini karena masih ada emosi terpendam baik ke pasangan, orang tua atau semacamnya. Duh ngaruh ya? hihi.

Kedua ajak komunikasi sang bayi. Pada beberapa kasus sungsang, bayi memutar saat diajak komunikasi oleh ayahnya. Jadi jika posisi bayi tak kunjung berubah setelah kita (ibu) yang ngajak ngobrol, coba minta ayahnya yang ngajak ngobrol bayi supaya muter. Di saya, alhamdulillah berhasil dengan cara kedua meskipun suami baru beberapa kali ngajak “dede ayok muter”.

Ketiga bisa jadi karena memang bayi susah memutar karena air ketuban kurang. Saat itu memang air ketuban saya menurut hasil USG kurang mencukupi. Maka bu bidan menyarankan untuk memperbanyak asupan cairan diutamakan air putih minimal 3 liter per hari. Ga susah sih sebetulnya tapi seringnya tak terpenuhi karena lupa. heuheu. Padahal dulu termasuk yang suka banget minum air bening.

Keempat disarankan untuk posisi sujud dengan kepala jauh lebih rendah. Jadi bukan sujud yang biasa di waktu shalat meskipun itu juga tetap membantu. Sujud yang dilakukan, lututnya ditahan bantal atau di kasur (yang ga terlalu tinggi tentunya) sehingga posisi perut dan panggul lebih tinggi. Hal ini membantu bayi memutar.

Kelima adalah saran dari pelatih yoga (iya, saya ikut yoga prenatal buat bantu melatih pernafasan dan fisik tentunya. Ikhtiar demi bisa lahiran dengan lebih baik dari sebelumnya). Ada beberapa gerakan yang dapat membantu bayi memutar posisi (saya hafal gerakannya tapi ga hafal namanya. Nanti insyaallah di-update kalau saya sudah menanyakannya ke beliau ya)

Keenam diberikan rangsangan suara (misal diputar musik, murattal atau semacamnya), cahaya atau perbedaan suhu (diberikan suhu hangat) di bagian bawah perut untuk membantu bayi memutar. Pastikan kondisi sekitarnya berkebalikan, maksudnya saat diberi rangsangan suara, sekitarnya senyap. Saat diberi rangsangan cahaya, sekitarnya gelap atau redup. Saat diberikan rangsangan suhu (diolesi kayu putih di perut bawah) perut atas dan sekitarnya tidak dalam kondisi sama panas/hangat. Makanya diminta bu bidan mengurangi pedas juga supaya ga ketuker mulesnya nanti dan ga bikin perut atas hangat.

Ketujuh belajar mempercayai fitrah anak dan naluri ibu. Yang tak kalah penting adalah meyakini bahwa ibu dan bayi sudah dibekali Allah naluri dan bayi akan mengikuti fitrahnya. Doa dibanyakin pasti, perbaiki hubungan dengan Allah, perbaiki komunikasi dengan suami, dan perbaikan hablumminannas lainnya.

Alhamdulillah bidannya termasuk yang enak diajak ngobrol dan biasanya sering minta konsul bareng suami karena beliau akan memberikan penjelasan yang perlu dilaksnakan kedua belah pihak juga pihak-pihak terkait yang nantinya akan terlibat selama proses kehamilan, persalinan hingga pasca bayi lahir. Jadi memang kehamilan kali ini kami berdua belajar langsung bareng-bareng 😀

Pelajaran dari Pengalaman Bayi Sungsang

Kehamilan ketiga menjadi sebuah pelajaran berharga bagi saya dan suami. Meskipun telah mengalami 2 kali hamil dan melahirkan, nyatanya pengalaman setiap anak berbeda. Tidak sama antara satu dan lainnya. Maka pelajaran pertama yang kami ambil adalah “setiap anak hadir dengan cara uniknya meskipun orang tuanya sama, akan tetapi pengalamannya berbeda antara satu anak dan lainnya. Maka, tak perlu membandingkan diri dan orang lain karena beda anak satu orang tua saja sudah berbeda, apalagi beda anak beda orang tua, sudah pasti tidak akan sama persis.”

Yup, pengalaman hamil anak pertama sampai anak ketiga saja berbeda, apalagi dengan kehamilan orang lain. Akan tetapi tentu bukan berarti kita tidak peduli dengan kehamilan yang lain melainkan ambillah pelajaran yang baik dan hal yang membuatmu jadi khawatir setelah membaca atau mendengar pengalaman orang lain maka berpikirlah positif dan berlindunglah pada Allah dari pengalaman yang tidak mengenakkan. Adapun jika ternyata serupa atau mengalami hal yang sama, maka itu sudah takdir.

Pengalaman sungsang kehamilan ketiga ini sempat membuat khawatir karena salah satu kerabat melahirkan putranya dalam kondisi sungsang dan sempat dirujuk ke 2 rumah sakit. Alhamdulillah sang anak lahir melalui proses normal meskipun menurut sang ibu, rasanya lebih sakit. Saya agak takut dengan rasa sakit karena sepertinya ambang sakit saya tipis. Heuheu. Padahal 2 anak lahir dengan cara induksi yang menurut orang sakitnya lebih dari yang normal alami. Tapi tetep aja denger pengalaman orang lain, ada rasa khawatir tersendiri.

Meski anak kedua pernah berada di posisi sungsang saat usia kehamilan seharusnya bayi sudah berada di bawah, rasa khawatir tak lantas hilang. Alhamdulillah bidan yang menangani selalu mengajak untuk berpikir positif dan menguatkan kembali tentang pemahaman mengenai takdir.

Ya, ikhtiar agar lahir normal lancar dan posisi baik tetap dilakukan secara maksimal. Jika kemudian pada akhirnya lahir sungsang atau bahkan dirujuk untuk dilakukan tindakan operasi sesar, maka itu sudah menjadi takdir yang harus kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Memang ga mudah menyiapkannya tapi dengan terus dikuatkan, alhamdulillah akhirnya lebih bisa berpikir positif.

Maka pelajaran kedua yang kami ambil adalah, sebisa mungkin carilah lingkungan dan bidan/nakes yang mampu membantu kita berpikir positif tapi tetap rasional. Maksudnya seperti apa? Maksudnya, mereka mengajak kita untuk ikhtiar maksimal akan tetapi tetap memberitahukan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi namun tak lantas menakut-nakuti melainkan menguatkan kembali untuk “yuk, kita maksimalkan doa, keyakinan dan ikhtiar”. Sehingga kita lebih siap dengan semua kemungkinan tapi tidak terlampau khawatir dengan opsi terburuk.

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)

Saya “menemukan” ayat ini saat mempelajari kembali tentang bagaimana seharusnya menyikapi takdir. Pengalaman “dadakan” saat menjelang HPL yang menimpa keluarga besar, semakin membuat saya kala itu merasa “kok begini?” hingga diingatkan lagi oleh bidannya, “bismillah. Bukan kebetulan. Teteh pasti bisa melewatinya” dan alhamdulillah terlewati.

Dan pelajaran ketiga yang kami ambil adalah setiap anak akan lahir pada waktu yang telah ditetapkan terlepas dari bagaimana, siapa yang mendampingi, dimana dan dibantu oleh siapa. Maka yang perlu diyakini adalah setiap anak pasti lahir jika memang Allah menghendakinya. Setiap kali rasa khawatir muncul, ajak bayi ngobrol lalu pasrahkan bagaimana cara yang ditempuh untuk ia kelak akan terlahir.

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj:5)

Pelajaran keempat yang kami ambil adalah, selalu komunikasikan kekhawatiran pada pasangan. Alhamdulillah bidan tempat kami periksa kandungan termasuk yang komunikatif juga jadi terkadang justru suami yang mengkomunikasikan kekhawatiran saya ke bu bidan (seringnya saya malah lupa apa yang mau dibicarakan kalau pas konsul atau memang ga bisa cerita karena beberapa hal termasuk menjaga kehormatan keluarga #eaaa) 😀 Ujungnya ya bu bidan menguatkan lagi, sekaligus mengajak suami untuk bekerja sama menjaga saya dan janin untuk tidak stres. hihi.

Maksimalkan Ikhtiar Agar Tidak Lagi Sungsang, Lalu Tawakkal

So, teman. Jika masih ada waktu untuk mengikhtiarkan lahir sesuai “harapan kita”, ikhtiarkanlah secara maksimal. Tapi beri ruang pada hati untuk ridha pada ketetapan jika ternyata nanti berbeda dari keinginan kita.

Selamat menikmati kehamilan bagi teman-teman yang sedang melalui fase ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan keselamatan untuk ibu, bayi, ayah dan keluarga. Barakallahu fik..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Birth Plan Pertama Kami

Beberapa waktu lalu, update status mengenai birth plan di akun facebook. Hihi lebay ya, biarin aja deh. Sebab memang excited aja. Meskipun memang ini kehamilan ketiga, tapi ini pengalaman kami berdua memiliki pendamping yang duluuu banget sempat ingin punya nakes seperti itu guna mendampingi proses kehamilan dan persalinan anak kami.

Dan karena ada beberapa yang minta contohnya, saya tuliskan disini saja supaya mudah untuk dicari. Kalo status FB kan kadang ga gampang ditelusuri ulang.

Nah, terkait birth plan ini, saya teringat akan sebuah istilah lama bernama Gentle Birth. Dan sekarang ada Amani Birth juga. Makanya ada sekilas tentang bahasan GB ini yang membuat saya senang sekali ketika tahu ada bidan dekat rumah mamah yang oke oce sejalur tentang ini.

Perkenalan dengan Gentle Birth

Saya mengenal istilah Gentle Birth itu setelah kelahiran anak pertama. Ya, sempat dibuat menyesal mengingat hal-hal yang seharusnya saya sudah aware sedari awal. Tapi ga bikin saya jadi down apa gimana gitu. Hanya kemudian mengumpulkan ilmu agar di kehamilan berikutnya kami lebih siap.

Eits, jangan salah. Gentle Birth atau disingkat GB, bukan semata bahas tentang lahiran normal ya. Salah kalo nangkepnya begitu. Memang sih GB mengusahakan agar sebisa mungkin lahiran normal aman nyaman. Tapi, jika memang indikasi medis tidak memungkinkan untuk itu, maka boleh dilakukan tindakan maupun intervensi. Yang membedakan adalah, prosesnya, edukasinya. Ga ujug-ujug ambil tindakan tanpa diberi tahu dengan baik ini apa itu bagaimana, dst.

Itu kenapa saya menganggap lahiran anak kedua kami sudah cukup gentle karena kami mengusahakan semaksimal yang kami bisa untuk lahiran normal tanpa intervensi. Namun nyatanya saat itu tidak memungkinkan sehingga tetap diambil opsi induksi dengan catatan jika hingga batas waktu tertentu tidak lahir, kami bersiap untuk operasi sc.

Yap. Kuncinya di pemberdayaan sih. Meskipun di kehamilan kali ini kami evaluasi juga agar lebih baik lagi. Alhamdulillah bertemu dengan nakes yang membantu memfasilitasi dan mengedukasi mengenai hal tersebut. Apalagi setelah kami melakukan tes terhadap pemiliknya, beliau seorang Si yang memang runut, detail dan based on experience alias sudah terbukti dipercaya banyak pihak.

Apa sih Birth Plan itu?

Birth plan ini adalah salah satu anjuran dari beliau. Apa sih birth plan itu? Bisa dikatakan birth plan merupakan daftar rencana persalinan yang diinginkan oleh pasangan suami istri guna menjadi rujukan atau catatan baik bagi tenaga kesehatan yang mendampingi prosesnya, pihak rumah sakit/klinik/bidan maupun bagi keluarga agar tidak simpang siur.

Apa fungsinya? Menjadi catatan tertulis untuk pendamping persalinan nantinya. Salinan dari birth plan ini diberikan kepada tenaga pendamping persalinan (bidan/dokter/perawat/rumah sakit/klinik), dipegang sendiri (oleh suami) dan diberikan pada keluarga terutama yang nantinya akan bantu ngurusin (misal orang tua).

Dengan adanya rencana tertulis, seluruh pihak bisa saling memantau dan mengingatkan jika ada yang tidak sesuai. Termasuk jika ada indikasi medis yang membuat birth plan ini mungkin akan diubah, pihak nakes sudah tahu bahwa mereka harus mengkonfirmasikan tindakannya terlebih dahulu.

Tidak akan ada lagi simpang siur tindakan, begini begitunya jelas. Tidak khawatir akan “berantem” karena pada salah tangkap 😀

Bagaimana Contoh Birth Plan?

Saya ga tahu birth plan yang baik itu seperti apa. Dari penjelasan bu bidan, pokoknya itu rencana lahiran di setiap kala persalinan. Apa sih kala persalinan? Teman-teman bisa cek mengenai catatan Kala Persalinan disini [klik].

Setelah mencari tahu di internet mengenai contohnya, saya buat dan setorkan ke bu bidan. Yang ini sudah direview dan insyaallah jadi birth plan fix untuk kelahiran anak ketiga kami.


Birth Plan Bayi Esa-Chalim

Berikut adalah rencana persalinan dan perawatan bayi baru lahir yang kami inginkan. Kami sadar bahwa proses kelahiran yang kami inginkan ini hanya dapat dilaksanakan apabila bayi dalam kondisi berikut:

  • bayi baru lahir cukup bulan atau hampir cukup bulan (>35 minggu),
  • berat lahir lebih dari 2000 gram
  • bayi didiagnosa Normal
    • langsung menangis saat lahir
    • seluruh tubuhnya tampak kemerahan, tidak pucat dan tidak biru
    • gerakannya aktif
    • refleks hisap menyusu kuat
  • tidak ada tanda-tanda patologi, sejak kelahiran sampai dipulangkan ke rumah.

Nama ibu: Esa Puspita (Esa)

Tanggal perkiraan lahir: 22 Juli 2017

Nama dan no telpon suami: Abdul Chalim (Chalim) – 0852-2079-5095

Pendamping persalinan: hanya suami

Proses persalinan: normal spontan, alami, aktif

Tempat persalinan: Bidan Farida Agustiani

Penolong persalinan: bidan Farida dan asisten

Kala I

  1. Tetap aktif mobile/bergerak
  2. Didampingi suami
  3. Makan minum cukup, dan tersedia camilan (kurma, madu)
  4. Membiarkan ketuban pecah secara spontan
  5. Posisi persalinan disepakati bersama
  6. Penggunaan aromaterapi jasmine
  7. Memutar murattal (Yusuf Mansur atau Mishary Rasyid)
  8. Pijat selama proses persalinan
  9. Menggunakan birthing ball atau gerakan yang dapat membantu
  10. Tidak dilakukan induksi kecuali urgen. Induksi alami dengan nanas atau endorphine massage
  11. VT dilakukan sesuai kebutuhan tapi tidak terlalu sering

Kala II

  1. Sebisa mungkin tidak dilakukan episiotomi
  2. Penundaan pemotongan tali pusar hingga denyutnya berhenti (delay cord)
  3. Suami mendampingi pemotongan tali pusar jika sudah saatnya
  4. IMD secara penuh segera setelah bayi lahir
  5. Dibantu untuk posisi paling nyaman untuk mengejan.
  6. Bayi tidak perlu langsung dibersihkan
  7. Suami mengazani bayi
  8. Suami melakukan tahnik pada bayi
  9. Suami tetap mendampingi
  10. Room-in

Kala III

  1. Penimbangan bayi (pemeriksaan dkk) didampingi ayah bayi atau jika memungkinkan, dilakukan di ruangan yang sama tempat saya berada
  2. Menyusui kapanpun bayi inginkan
  3. Menunggu plasenta lahir alami, tidak diberikan suntik oxytocin (kecuali jika berdasarkan pertimbangan medis, perlu urgen dilakukan)
  4. Bayi diberikan vit K dan HB0

Mohon tidak memberikan kosmetik apapun seperti bedak, lotion dsb pada bayi. Kami bersedia menjalani induksi ataupun sc hanya jika jelas indikasi medisnya. Jika bayi perlu mendapat perawatan di unit khusus, saya ingin tetap memberinya ASI eksklusif. Jika bayi memiliki kelainan, mohon diberi penjelasan dan alternatif penanganannya.

Kami sangat berharap petugas-petugas kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) di tempat yang kami rencanakan untuk melahirkan bisa membantu dan bekerjasama dengan kami agar segala proses persalinan dan perawatan bayi di awal kelahirannya ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapan kita semua.

Demikian rencana persalinan kami, semoga berkenan di hati petugas sekalian dan kita dapat bekerjasama dengan baik. Atas perhatian dan bantuan yang diberikan, kami mengucapkan terima kasih.

 

Hormat kami,

Calon Ibu                                                                     Calon Ayah

 

Esa Puspita                                                                Abdul Chalim


Kenapa tetap ada sebutan dokter, perawat dkk. Jaga-jaga aja kalo dirujuk ke RS, semoga tetap bisa menyerahkan birth plan ini dan menjalankan dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan.

Jika butuh file-nya, bisa coba teman-teman unduh dengan mengklik link => Birth Plan Bayi Esa-Chalim.

Semoga bermanfaat yaa.. 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Fitrah Anak Lelaki: Menjadi Pahlawan

Sepertinya benar apa yang dikatakan trainer Gender Intelligence yang menyebutkan bahwa anak lelaki secara alami memiliki keinginan untuk menjadi pahlawan. Fitrah bawaan yang memang akan membuat seorang anak lelaki belajar mengenai tanggung jawab, melindungi dan mengayomi. Dalam Islam mungkin itu yang disebut fitrah qawwam

 Hal ini menjadi perhatian saya lagi ketika kemarin Danisy, sulung kami membuat cerita versi dirinya. Semula saya tidak paham, baru mengerti gambarnya setelah ia bercerita.

=== Cerita Hari Ini ===

Ummi lagi ikutan #tesPsikologi

Nah, setelah tesnya selesai, ada yang pengen bikin juga. Emang #MDanisyFI seneng kalo udah berhubungan sama kertas kosong dan pulpen 😅

Hasilnya?
Taraaa.. Jadilah cerita.

=====
Ini adalah cerita Danisy.
Ceritanya adalah:
Azam adik Danisy sedang menangkap ikan. Tiba-tiba ada ular. Lalu Azam ketakutan.

Lalu Danisy pun mendengar suara teriakan Azam. Lalu Danisy mengambil tongkat kayu untuk memukul ular.

Lalu saat Azam melihat ular, Azam mau masuk ke rumah. Tapi tidak bisa karena terlalu takut.

Habis ceritanya. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

*emaknya didikte dong sama dia suruh ngetik ini 😤😂

=====
*mi, upload ke pesbuk biar ibu guru bisa liat
*IG juga bisa
*ya udah IG aja
Anak #Sensing banget yak 😂

Di belakang ada bekson Azam nambahin cerita dan sesekali protes isi ceritanya 😆

#DuoSensing #AnakMain #ImajinasiGambar #BelajarMembuatCerita #AnakBercerita

Dari cerita di atas, nampak sisi hero Danisy. Dalam kesehariannya pun, memang melindungi adiknya. Sang adik, sesekali juga pasang badan untuk kakaknya saat ada yang menjahili. Saling melindungi.

Fitrah anak lelaki melindungi saudara dan orang yang disayanginya. Tugas kita menjaga dan mengarahkan fitrah itu agar senantiasa dalam kebaikan dan koridor syariat.

Maka, apresiasi sisi pahlawannya tersebut dengan pujian atau tantangan naik level perlindungan. Beritahukan value yang menjadi pijakan keluarga sehingga sisi pahlawan tersebut dibalut dengan nilai dan norma yang tepat. 

Selamat mendidik anak lelaki 😊

Mendidiknya menjadi pemimpin, lelaki sejati, suami dan ayah.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menyapih Dengan Cinta (Weaning with Love) 

Kehamilan ketiga ini memang agak jauh dibandingkan sebelumnya. Anak pertama dan kedua selisih 2,5 tahun sehingga masih rada inget apa aja ilmu yang dibutuhkan. Nah, kalo yang ini kami belajar lagi. Hihi. Termasuk catatan soal sapih yang harus diingat-ingat lagi. Apalagi setelah baca postingan beberapa teman terkait sapih.

Banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari proses kehamilan, lahiran, menyusui, MPASI dan sapih. Makanya mau coba ingat-ingat dan catat lagi. Semoga bisa bantu jadi jawaban juga untuk teman-teman yang sedang proses sapih ya.

Apa sih Weaning with Love itu?

Istilah menyapih dengan cinta alias Weaning with Love ini saya peroleh sejak anak pertama. Dipadupadankan dengan Baby Led Weaning  yang juga sedang “booming” saat proses MPASI Danisy. Apa sih itu?

Weaning With Love yang sering disingkat dengan WWL merupakan salah satu metode penyapihan dengan bersandar pada teori bahwa setiap anak akan berhenti menyusu di saat yang tepat dan cara yang nyaman. Ini pengertian yang saya buat sendiri berdasarkan pemahaman dan pengalaman saya. Sedangkan Baby-led Weaning (BLW) merupakan metode pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) dengan berpatokan pada keyakinan bahwa anak saat sudah siap makan sesungguhnya dapat diajari makan sendiri sejak dini.

Kedua metode itu saya terapkan betul-betul pada Danisy. Tapi kali ini kita bahas WWLnya aja dulu ya. BLW mah nanti aja deh insyaallah, meskipun dengan penerapan BLW ini lebih mempermudah untuk WWL menurut saya.

Jika selama ini kita mengenal di masyarakat metode penyapihan dengan diberi sesuatu pada payudara ibu, diberi pengertian dengan “sedikit kebohongan”, mendatangi “orang pintar” atau hal-hal serupa lainnya, maka WWL berfokus pada kesiapan 3 pihak dalam menyelesaikan “tugas” menyusui yang Allah berikan. Siapa saja 3 pihak itu? Coba deh teman-teman perhatikan ayat yang menyebutkan tentang menyusui di surah al-Baqarah ayat 233:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Terjawab sudah ya. Pihak penting lain yang kadang dilupakan dalam proses menyusui dan menyapih itu adalah ayah. Pengalaman saya (dan saya yakin teman-teman juga mengalaminya) peran suami alias ayah sang anak ini penting banget. Setidaknya untuk urusan pemenuhan kebutuhan ibu dan anak. Selain itu, dukungan ayah sangat penting dalam keberhasilan proses menyusui. Pun demikian, perannya tak kalah penting dalam fase penyapihan.

Sebelumnya saya sempat mencatat tentang proses menyapih Azam disini, maka tulisan ini akan saya buat umum mengenai tips trik yang kami alami dalam proses penyapihan dua putra kami. Alhamdulillah keduanya berhenti menyusui dengan metode WWL di usia 27 bulan.

Apa sih keuntungan dari WWL ini?

Secara pribadi, menyapih dengan menggunakan metode ini memiliki keuntungan sebagai berikut:

  • Ga perlu ngalamin yang namanya payudara bengkak.
    Sebab proses berhenti menyusunya perlahan jadi enak ke anak, enak ke tubuh karena tubuh sudah menyesuaikan dengan proses menyusui yang perlahan diturunkan frekuensinya. Anak dan tubuh kita pinter banget loh.
  • Mengajarkan kami (saya dan suami) untuk sabar melewati sebuah proses.
    Dalam perjalanannya, suami yang paling banyak berperan: ngingetin. Faktanya, saya sering ga tega pengen ngasih ASI lagi. Biasa kalo sakit, rewel dkk itu jurusnya ngasih ASI, ini udah ga bisa begitu lagi kan. Maka suami yang selalu reminder, mengingatkan tujuan penyapihan, prosesnya dan ke depannya. Belajar tegas ke anak sebagai bagian dari ekspresi kasih sayang.
  • Mengajarkan anak untuk mengenali perpindahan fase.
    Dalam perjalanan kehidupan, perpindahan fase itu kalo saya bilang mah udah sunnatullah. Sudah menjadi sebuah keniscayaan. Jika saat memasuki fase kelahiran dan fase MPASI anak belum terlalu sepenuhnya paham, maka di perpindahan fase menuju sapih ini anak sudah mulai mengerti, apalagi berhenti menyusu bisa jadi dianggap sebagai sebuah ancaman dimana kenyamanan yang selama ini dirasakan akan dihentikan. Padahal, kasih sayang kita ga akan berhenti dengan sapih. Maka salah satu bagian sounding yang kami ucapkan pada anak sejak usia sekitar 1,5 tahun itu: “nanti kalau sudah 2 tahun, udah ga nenen lagi ya. kalau lapar, makan aja. kalau haus, minum. Ummi sama abi tetep sayang kok sama dede. Dede masih boleh peluk ummi, ummi abi juga masih mau main sama dede.”
    Meyakinkan anak bahwa semua akan baik-baik saja pasca sapih masuk ke dalam kalimat sounding dan dibuktikan dengan tindakan agar anak makin percaya bahwa sapih bukan berarti menjauhkan dia dari ibunya. Pelukan nyaman ibu tetap akan dia dapatkan.
  • Mengajarkan anak untuk mengambil keputusan, berdiskusi, dan mengajarkan orang tua untuk meyakini keputusan diri dan anak.
  • Kerjasama suami, istri dan anak makin solid.
  • Jujur pada diri, jujur pada anak. Menanamkan kejujuran sejak dini.
  • Belajar bersikap pada lingkungan untuk suatu hal yang insyaallah baik, hanya berbeda cara.

Bagaimana tips sukses WWL?

Lagi-lagi catatan ini murni berdasarkan yang saya alami. Tips lain sepertinya sudah banyak ya di luaran sana. Ini yang kami alami selama 2x penyapihan.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kuncinya cuma: kesiapan ayah, ibu dan anak. Bagaimana tahu kita bertiga siap? Saat orang tua (terutama ibu) benar-benar yakin sudah saatnya sapih dan anak sudah sering diperkenalkan dengan usia 2 tahunnya. Anak mulai berkurang juga frekuensi menyusunya. Jika menggunakan ASIP (ASI Perah) bakalan terlihat dari seberapa banyak ASIP yang ia minum.

Umumnya menjelang 2 tahun anak sudah mulai banyak mengalihkan rasa laparnya pada makanan dan rasa hausnya pada air putih. Kami tidak mengharuskan anak berlanjut ke susu UHT ataupun susu formula karena yang dipahami, nutrisi anak dapat dipenuhi dengan berbagai cara. Tidak harus “nyusu”. Ini yang kadang jadi kegalauan para ibu: “abis sapih ganti susu apa ya?” Kalo saya mah mikir gini: di quran setelah sapih ga ada perintah suruh minum susu sapi (atau yang semacamnya) jadi ya sebetulnya sudah bisa distop betul-betul tanpa lanjut ngedot 😀

Kenali Periode anak di usia 2 tahun untuk memudahkan WWL

Anak usia 2 tahun Anak di usia 2 tahun ingin selalu melakukan apapun. Mereka ingin tahu dan lebih aktif, mulai semakin mengenal lingkungannya. Kemampuan verbal meningkat dan kosakata yang dikuasai semakin banyak sehingga sudah akan terlibat dalam banyak percakapan bahkan dengan orang dewasa. Jadi, sudah semakin bisa diajak ngobrol juga nih tentang sapih menyapih setelah sebelumnya hanya “sekadar” sounding.

Di usia ini anak juga sudah mulai mengenal dan belajar tentang perasaan dan kasih sayang. Maka itu yang bisa jadi membuat anak enggan disapih sebab menyusui adalah kegiatan yang nyaman dan menenangkan bagi perasaannya.

Tapi ketika bonding selama menyusui (dan fase sebelum sapih) bagus, insyaallah anak akan paham bahwa ekspresi kasih sayang kita bukanlah sebatas menyusui. Ada banyak hal lain yang akan dia nikmati.

Berikan limpahan kasih sayang yang cukup di usia 2 tahun ini. Pastikan ia menyadari bahwa kasih sayang kita tak terbatas menyusui

Memang proses meyakini hal tersebut pada anak akan butuh proses. Itu kenapa sebaiknya sudah ditanamkan pada anak sejak dini bahwa ketika usianya menginjak 2 tahun maka kita akan memulai proses sapih.

Peran ibu, ayah dan anak dalam proses WWL

Peran ibu dalam proses WWL kami hanya: meyakinkan diri bahwa ini memang sudah saatnya sapih. Simpel ya. Haha. Karena kadang anaknya sebenernya udah siap sapih, tapi emaknya ga tega atau masih mudah luluh.

Peran ayah: membantu dan mengevaluasi proses WWL. Bantuan ini meliputi:

  • Mengajak anak main menjelang tidur supaya fokusnya teralihkan dari pengen nenen ke main. Setelah lelah, ia akan tertidur dengan dielus-elus. Kadang anak minta saya menemani saat akan tidur. Ketika anak minta nenen, saya berikan penjelasan “dede sudah 2 tahun, udah ga nenen. Ummi elus-elus aja ya” sambil elus-elus pantat atau kaki, sambil dipeluk.
  • Mengingatkan saya untuk kuat. Menegur saat mulai kelihatan kendor.

Peran anak: anak merupakan bagian penting karena dia yang “terkesan” jadi korban. Tapi umumnya mereka bisa diajak kerjasama kok. Asalkan kita bisa memperlihatkan kasih sayang yang cukup untuk dia meyakinkan dirinya dan mempercayai orang tuanya bahwa fase ini akan dilewati dengan cara yang baik. Tidak ada tangisan menjerit-jerit. Rewel sesekali masih oke lah karena memang butuh waktu.

Menyikapi lingkungan sekitar terkait WWL

Tak jarang lingkungan menjadi pengaruh yang cukup besar terutama pada diri sang ibu dan anak. Melihat proses yang tidak instan, biasanya muncul ide dan nasihat ala orang tua jaman dulu. Disini kesiapan kita diuji. Bagaimana meyakinkan sekitar bahwa semua baik-baik saja. Dia akan berhenti nyusu saat dia memutuskan sendiri. Beberapa menganggap aneh, mana mungkin anak bisa memutuskan sendiri. Nyatanya, saat mereka melihat anak tidak terlalu rewel, saya tidak mengalami ringisan karena penghentian mendadak, kebiasaan jujur meski pahit sejak kecil, dsb membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar. Mereka melihat sendiri hasilnya dan bahkan jadi support di penyapihan anak kedua.

Para tetua hanya perlu bukti tanpa ekspresi kasar demi mempertahankan idealisme kita. Ada saatnya kita cukup perlu meng-iya-kan masukan dari beliau-beliau ini, dan menolak dengan cara yang halus. Ketika “kecolongan” mendapati mereka menakut-nakuti anak supaya mau berhenti menyusu atau mitos-mitos jaman dulu terkait usia penyapihan, cukup sabar dan doa minta petunjuk dan bantuan Allah. Setelah itu berikan pengertian bahwa yang kita lakukan insyaallah baik untuk semua pihak. Jangan tergesa.

Menikmati fase yang tidak akan terulang, nikmati dengan sempurna

Fase yang kita lewati bersama anak sebagian besar tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Kalaupun terulang, belum tentu sama persis. Maka nikmatilah semua proses ini dengan baik dan akhiri prosesnya dengan cara yang baik pula.

Jangan nodai proses yang baik dengan akhir yang buruk. Jadi su-ul khatimah atuh. Berikanlah kenangan baik di akhir proses menyusui. Jangan sampai anak mengingat kenangan buruk ditakut-takuti saat akan mengakhiri sesuatu yang indah itu.

Selamat berproses. Selamat menyapih. Selamat belajar menjadi orang tua, terus meneur 🙂

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mengajarkan Kemandirian Pada Anak Usia 4 Tahun

Semua anak dapat diajak komunikasi dan kompromi. Apalagi pada anak-anak yang memiliki eksitasi tinggi. Maknanya, seseorang yang memiliki mesin kecerdasan Sensing dan Feeling akan lebih mudah menerima input (dan pengaruh) dibanding mesin lainnya. Pun demikian dengan Insting yang tak punya eksitasi.

Terkait hal ini pula lah saya menyimpulkan kenapa anak-anak kami mudah diberi pengertian (biidznillah tentunya). Apalagi keduanya memiliki drive mesin kecerdasan extrovert sehingga stimulus dari luar mudah sekali diterima.

Mengajarkan Kemandirian Pada Anak Usia 4 Tahun

Pada dasarnya setiap anak (setiap orang) akan melewati fase belajar mandiri. Ketika fase ini terpenuhi dengan baik (ga harus sempurna) maka akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak berikutnya. Menjadi bekal sekaligus pondasi karakter seseorang.

Sayangnya, terkadang para orang dewasa tidak semua mengenali fase ini (untuk fase 9 tahun pertama, bisa cek tulisan ini). Diantara mereka ada yang mampu melewatinya dengan bijak meski hanya berbekal naluri sebagai orang tua, ada pula yang melewatkannya begitu saja sehingga anak tumbuh menjadi sosok manja nan egois.

Tak sedikit pula orang tua muda terjebak pada teori parenting yang ditelan mentah-mentah sehingga bukannya efektif malah menjadikan kita membiarkan anak apa adanya. Padahal, sejatinya sebagai orang tua kita perlu mendesain jalan hidup anak dengan tetap berpegang pada tali tawakal sejak awal prosesnya.

Fitrah setiap manusia itu kelak akan mengikuti lingkungannya. Fujur dan taqwa sudah Allah tuliskan dalam alquran, bahwa ia senantiasa ada pada diri seseorang. Sifat yang semula netral, bisa jadi positif maupun negatif tergantung penyikapan lingkungan.

Maka dengan mengenali fase tumbuh kembang anak, kita lebih mudah merancang blueprint masa depannya. Apa yang mesti diprioritaskan dari proses yang dijalankan. Dan tentu hal ini menjadikan orang tua yang memiliki anak lebih dari satu, perlu menyesuaikan dengan baik.

Usia 4 tahun kami menyepakati anak harus sudah mulai paham tentang auratnya, siapa saja yang boleh melihat dan memegang, termasuk mengenalkan lebih jauh tentang hubungan orang tua dan anak juga peran suami-istri.

Usia ini pula -yang berdasarkan pengalaman kami dengan 2 anak- adalah usia yang tepat untuk mengajarinya salah satu bagian kemandirian: cebok eek (pup) dan cuci piring sendiri. Sebab di usia 4, secara kemampuan motorik sudah lebih terasah. Lebih mudah mengajarinya tentang dua hal tadi karena anak mulai bisa membedakan dengan baik tentang bersih dan kotor.

Bagaimana dengan cebok pipis? Kapan diajarinya? 

Kami mengajari anak-anak cebok sendiri untuk pipisnya sejak mereka bisa ngangkat gayung atau ngocorin keran sendiri. Biasanya di usia 2-3 tahun, bebarengan dengan belajar buka celana dan ke jamban sendiri kalo mau pipis.

Kenapa Anak Baru Diajari Kemandirian (Keterampilan Cebok dan Cuci Piring) di Usia 4 tahun?

Kenapa 4 tahun? Supaya masih ada toleransi waktu selama 3 tahun (hingga usia 7th). Kenapa ada toleransi segala? Yep, saat anak belajar, kan ga langsung semuanya bisa dia lakukan dengan baik. Dan tentu saja, mengajarinya pun butuh tahapan tertentu untuk sampai di titik benar-benar bisa sendiri.

Trus, kenapa ada angka 7 tahun sebagai patokan usia berikutnya? Karena 7th nanti belajar shalat, dengan target berikutnya: di usia 10 tahun sudah mengerti dan mandiri untuk shalat. Ga pake disuruh-suruh yang sedemikian rupa. Sedangkan syarat sah shalat kan terbebas dari najis dan kotoran. Masa di fase persiapannya (7 tahun) masih belum bisa membersihkan najis sendiri 😁

Tahapan yang kami lakukan di rumah yakni:

  1. Cebok eek sendiri: usia 4 baru diminta cebok tapi untuk ngucurin airnya tetep sama ayah, ibu atau mahram terdekat (misal, kakek, nenek, paman, bibi). Itu berlaku pada anak sulung. Pada anak kedua, ada bantuan mahram lainnya untuk ngucurin air: kakak.
    Mereka belajar banjur bekas eeknya juga. Agak boros di awal, tapi telateni aja terus. Lama-lama ga boros air lagi kok.
    Fyi, kami pake kloset jongkok biasa, tanpa flush.
  2. Cuci piring sendiri: tangannya masih dipegangi, gosok piringnya masih dibantu dan diajari, sabun cuci piringnya masih bantu disiapkan dan bilasnya masih dibantu menyalakan keran dan bersihkan.

Meski dalam prakteknya, ga mesti butuh waktu 3 tahun juga sih. Beberapa anak sangat mungkin sudah bisa melaksanakan hal tersebut dengan baik sebelum “batas” 3 tahun itu.

Tinggal sabar menjalankan prosesnya. Apalagi saat muncul sifat manja. Ga apa deh, kan masih belajar. Sesekali dicebokin atau dicuciin piringnya masih oke. Kan ada batas toleransi. Orang tua jadi ga akan terlalu “spaneng” ketika prosesnya butuh waktu yang agak lebih lama.

Oh ya satu lagi, jangan bandingkan dengan anak lain (termasuk kakaknya) ya. Karena kemampuan dan kesanggupan tiap anak kan ga sama. Bersabar melewati proses yang berbeda antara satu anak dan anak lainnya.

Selamat mendampingi putra-putrinya  ya ayah bunda 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Fase Atau Urutan (Kala) dalam Proses Persalinan (Lahiran)

Kehamilan ketiga konon katanya sudah ga ada yang perlu dikhawatirkan karena sudah “berpengalaman”. Padahal ya, sama saja seperti “pengulangan” pada umumnya dalam kehidupan, seringkali tidak sama persis antara pengalaman satu dan yang lainnya. Setidaknya itu yang saya alami.

Lagipula, pengalamannya pasti berbeda karena jika anak pertama murni memikirkan 3 orang: diri sendiri, suami dan bayi, maka di kehamilan kedua dst tidak mungkin hanya 3 orang itu yang dipikirkan kan 😁

Di kehamilan pertama memang tanpa ilmu yang mumpuni tentang bagaimana proses kelahiran. Selama proses kehamilan dan fase menyusui hingga MPASI dan pertumbuhan anak sih masih oke, tapi proses melahirkan tidak kami persiapkan dengan sebaik-baiknya karena berpikir: melahirkan adalah proses alami. Semua perempuan hamil sangat mungkin akan melewati fase itu. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan atau apa gitu.

Dan ternyata saya salah.

Proses melahirkan memang sebuah sunnatullah. Tapi itupun harus dijalankan dengan keilmuan yang mumpuni. Setidaknya keputusan yang diambil bukan berdasarkan prasangka atau masukan melainkan sudah melewati filter dari kitanya sendiri. Keputusan yang disadari.

Maka di kehamilan ketiga ini saya dan suami seperti belajar lagi dari awal tentang bagaimana proses kehamilan, bagaimana proses melahirkan yang minim trauma (sejujurnya, suami sih yang trauma terutama di kelahiran anak pertama. Sampe ga mau lagi lahiran di tempat yang sama. hihi). Trauma pun ga yang gimana-gimana banget sih, cuma ya membuat kami agak jaga jarak. Ibaratnya, kalo bisa ga harus dirujuk ke RS, jangan sampe dirujuk. Gitu deh.

Dan di catatan kali ini, mau nyatet tentang fase atau kala dalam proses melahirkan untuk lebih mengenali diri dan bagaimana proses alamiah ini terjadi. Sehingga saat ada indikasi medis pun, sudah lebih paham ilmunya dan mempersiapkan dengan lebih baik. Itu juga kenapa penting sekali mencari tenaga kesehatan medis yang mendukung agar penjelasan “kenapa dirujuk” atau bisa menjawab dengan baik kenapa begini begitu. Jadi keputusan yang diambil lebih matang.

Tahapan atau Kala dalam Proses Persalinan (Melahirkan)

Ada setidaknya 4 kala dalam persalinan yang perlu kita tahu. Ah, ibu-ibu jaman dulu juga ga perlu tahu yang beginian lancar-lancar aja. Iya sih, tapi kalo buat saya mah penting tahu supaya lebih mantep lagi.

Kala I

Fase kala I merupakan kala pembukaan antara pembukaan 0 hingga 10 (atau biasa kita kenal dengan pembukaan lengkap). Fase ini ternyata yang saya kenal selama ini dengan istilah pembukaan. Saya pikir kala I akan dimulai sejak kapan 😛

Lama berlangsungnya fase kala I ini tidak sama bagi setiap orang sehingga jangan dibandingkan ya. Hanya saja umumnya pada perempuan yang baru pertama kali mengalami kehamilan (atau istilahnya primigravida) kala I terjadi selama sekitar 12 jam. Sedangkan pada perempuan hamil yang telah hamil lebih dari 1x (multigravida), kala I berlangsung selama kurang lebih 8 jam.

Ada 2 fase dalam kala I ini yaitu fase laten dan fase aktif.

Fase Laten
  • Dimulai sejak awal kontraksi dirasakan dimana penipisan dan pembukaan serviks mulai terjadi secara bertahap.
  • Masih dihitung fase laten hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
  • Umumnya berlangsung hampir 8 jam.
Fase Aktif
  • Terjadi kontraksi uterus dengan frekuensi dan lama kontraksi yang terus bertambah secara bertahap. Kontraksi dianggap memadai jika dalam 10 menit terjadi setidaknya 3x atau lebih dan lamanya kontraksi selama 40 detik atau lebih.
    Ini yang saya ga sempat perhatikan dan alami di 2 proses kelahiran sebelumnya karena keduanya lahir dengan proses induksi tanpa merasakan kontraksi “normal” sebelumnya. Meskipun pada kelahiran anak kedua, sempat merasakan dan saat periksa ke bidan sudah ada pembukaan 1.
  • Dari fase laten pembukaan 4 (yang berarti sudah terbuka sekitar 4cm) hingga pembukaan lengkap 10 cm terjadi kecepatan pertambahan pembukaan rata-rata 1 cm per jam pada primigravida atau nulipara (pernah hamil dan melahirkan tapi anaknya meninggal di dalam kandungan). Sedangkan pada multigravida kecepatan pertambahannya bisa 1-2 cm atau lebih per jam.
  • Terjadi penurunan bagian terbawah janin

Yang Akan Dilakukan Nakes (dan mungkin akan kita terima) Saat Kala I

Sebagai seorang ibu, naluri pasti jalan. Tapi tidak ada salahnya mengetahui ini sebagai acuan mengenali proses diri.

  1. Pastikan kita sebagai parturien (pasien alias yang akan melahirkan) menjaga kesabaran melewati prosesnya.
  2. Pihak nakes akan melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, temperatur pernafasan secara berkala sekitar 2-3 jam sekali.
  3. Setiap 30 menit atau 1 jam sekali akan dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin.
  4. Pastikan kandung kemih selalu kosong. Pihak nakes akan memastikan ini kok.
    Pengalaman lahiran anak kedua, ada proses dimana dimasukkan selang untuk mengeluarkan air kencing setelah ditanya “udah sempet pipis belum” dan saya jawab “belum” karena memang lebih fokus pada kontraksi yang dialami. Sebelumnya ga paham, setelah mencari tahu ternyata kandung kemih yang penuh bisa menghambat proses kelahiran.
  5. Nakes akan memperhatikan kondisi patologis kita
  6. Jangan dulu mengejan ya buuu kecuali sudah diinstruksikan sama asisten kelahiran.
    Pengalaman saya di proses sebelumnya: ujian terberat adalah mules semakin kuat tapi tidak boleh mengejan dulu (biasanya di pembukaan 7-8). Memang perasaan ingin mengejan rasanya udah di ubun-ubun, tapi dokter/bidan ga memperbolehkan mengejan.
    Tipsnya adalah atur nafas. Di kelahiran pertama mah boro-boro ngerti soal pernafasan, mengenali mules aja dibantu suster. Haha.
    Di kelahiran anak kedua baru deh saat ingin mengejan dengan kuat tapi belum lengkap pembukaannya, belajar atur nafas. Dibantu suami juga untuk elus-elus punggung, pijat relaksasi, lari-lari kecil di seputar tempat lahiran dan tentu saja pelukan hangat yang mengeluarkan hormon oksitosin membantu menenangkan melewati fase “terberat” (versi saya) itu.

Kala II

Fase ini dimulai ketika pembukaan sudah lengkap hingga bayinya lahir. Umumnya berlangsung selama 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Adapun tanda dan gejala pada kala II persalinan adalah sebagai berikut:

  1. Terasa ingin meneran (menahan nafas dengan tenaga dan menekan, seperti akan mengejan saat hendak BAB). Hal ini terjadi bersamaan dengan terjadinya kontraksi (atau mulas, yang merupakan respon dari tubuh dan bayi).
  2. Kita merasakan adanya peningkatan tekanan pada bagian kemaluan dan/atau rektum (daerah pinggul gitu)
  3. Nakes akan mengecek, biasanya perineum sudah nampak menonjol
  4. Vulva vagina dan sfingter ani nampak membuka (ini mah nakes yang ngerti)
  5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala II bisa diketahui lewat “pemeriksaan dalam” oleh tim nakes dimana pembukaan sudah lengkap atau terlihat bagian kepala bayi.

Kala III

Fase Kala III merupakan proses yang terjadi segera setelah bayi lahir hingga plasenta terlahir pula. Berlangsung kurang lebih 30 menit. Tanda lepasnya plasenta terjadi saat ada perubahan bentuk dan tinggi uterus, tali pusat memanjang dan ada semburan darah mendadak dan singkat. Ini mah nakes yang paham kali ya. Kita mah kan ga akan merhatiin 😀

Pihak nakes akan melakukan yang disebut manajemen aktif. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kontraksi yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu berlangsungnya, mencegah pendarahan dan mengurangi kehilangan darah.

Manfaat manajemen aktif kala III adalah persalinan kala tiga menjadi lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, mengurangi kejadian retensio plasenta (tidak lahirnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah bayi dilahirkan). Tiga langkah yang biasanya dilakukan dalam manajemen aktif ini adalah:

  1. pemberian suntik oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi terlahir
  2. penegangan tali pusat secara terkendali
  3. masase fundus uteri (semacam pemijatan pada bagian fundus uteri)

IMD (Inisiasi menyusui dini) dilakukan di kala ini karena dapat membantu kontraksi sehingga memudahkan plasenta keluar (lahir) atau oleh beberapa penelitian disebut IMD dapat mempercepat kala III.

Kala IV

Fase ini dimulai sejak plasenta terlahir hingga 2 jam setelah kelahiran (post partum istilahnya). Kala IV dimaksudkan untuk pelaksanaan observasi karena umumnya pendarahan setelah melahirkan (yang tentu saja dapat membahayakan jika tidak ditangani dengan baik) paling sering terjadi pada 2 jam pertama setelah kelahiran. Adapun observasi yang dilakukan oleh pihak nakes meliputi  hal yang perlu diperhatikan berikut:

  1. Kondisi kita apakah bahagia dan sadar. Sebab tugas beratnya sudah selesai dan bayi lahir dengan selamat.
  2. Dicek tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu tubuh.
  3. Kontraksi uterus baik
  4. tidak ada pendarahan per vaginam (di area alat reproduksi) atau dari alat genital lainnya
  5. plasenta dan selaput ketuban semua harus sudah terlahir dengan lengkap
  6. kandung kemih harus kosong
  7. luka-luka pada perineum (jika ada) akan dirawat dan dipastikan tidak ada hematoma (kumpulan darah tak normal di luar pembuluh darah)
  8. resume umum keadaan ibu dan bayi
  9. bayi yang telah dibersihkan akan diletakkan di samping kita untuk pemberian ASI
  10. Observasi dilakukan setiap 2 jam
  11. Bila kondisi kita membaik, akan dipindah ke ruang rawat inap bersama bayinya.
    Ini saya baru paham, kenapa dulu pas di RS agak lama dari ruang vk ke ruang biasa.

Wah, jadi panjang ya tulisannya. Gapapa deh. Alhamdulillah, jadi paham juga kenapa bidan yang sekarang menangani meminta saya mengingat dan mempelajari kembali kala dalam persalinan. Semoga bermanfaat untuk teman-teman juga.

Sumber-sumber:

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.